Tentang Kejayaan Nusantara

Saya terinspirasi untuk menulis topik ini setelah menyaksikan obrolan Gita Wiryawan (di kanal Youtubenya) baru-baru ini dengan Fransiskus Assisi Suhariyanto (pengasuh kanal Asisi). Tanyanya, “Bagaimana Nusantara dapat meraih kejayaannya lagi?”
  
***

Saya akan memulai tulisan ini dengan pendapat Margaret Mead, seorang antropolog terkenal, mengenai awal mula peradaban manusia. Menurutnya, peradaban bukanlah dimulai dengan ditemukannya api, atau dihasilkannya teknologi dari batu sehingga melahirkan bangunan megalitik. Namun, peradaban dimulai dari evolusi homo sapien menjadi spesies yang saling merawat satu sama lain.


Salah satu dari “tujuh puluh wajah” pada Kisah Taman Eden maupun pada Kisah Abel-Kain adalah evolusi spesies manusia menjadi makhluk ber-nakhwa. Saya menemukan istilah “nakhwa” ini tidak sengaja saat membaca postingan sahabat saya mengenai salah satu khotbah Khaled Abu Al-Fadl.


Di dalam khotbah tersebut, Khaled Abu Al-Fadl mendefinisikan “nakhwa” sebagai rasa mulia dan bangga dalam membela hak-hak orang lain mendahului membela hak-hak diri sendiri.


Maka, di sini, secara nafsiologi, makhluk ber-nakhwa berarti makhluk yang menciptakan atau menghadirkan dirinya, yang mempraktekkan, dan yang selalu mengembangkan dirinya, sebagai sistem penopang bagi sesamanya.


Mula-mula di dalam Kisah Taman Eden itu terlihat pada kegelisahan Adam sebagai simbol manusia secara umum dan simbol spesies yang telah menemukan peradaban seperti dikatakan Margaret Mead itu.


Adam tidak menemukan sistem penopang kecuali pada Hawa yang biasa diartikan sebagai ibu dari segala yang hidup. Mengingatkan kita pada zikir Hu, Sang Maha Hidup, dan kata “Haya” adalah hidup. Hawa adalah simbol para shaman/wali yang mengelola sistem penopang mereka, sehingga disebut “penolong yang sepadan” (ezer kenojdow) dalam Taurat.


Kemudian, Tuhan melarang Adam dan Hawa untuk mengkonsumsi Pohon Hadaat, simbol hasrat manusia untuk memfokuskan hidupnya kepada mengejar pengetahuan, sehingga hidupnya diarahkan kepada memenangkan pengetahuan baik-buruk, memberi makan egonya untuk segala hal, seperti kebenaran, spiritualitas, kekuasaan, dan ilmu pengetahuan.


Di sisi lain, Tuhan membebaskan mereka menikmati dari Pohon Hayat, yaitu simbol hasrat manusia untuk selalu hidup, menghidupi, dan menghidupkan dunia. Agak berbeda dengan berbagai mitologi lain, Pohon Hayat di dalam Kisah Taman Eden ini juga adalah Pohon Keabadian, yang memberikan nafas kepada ruh manusia sehingga kekal abadi.


Dengan kata lain, Pohon Hayat adalah juga simbol sumber bagi manusia agar terus dapat menjadi makhluk ber-nakhwa. Si Ular Tua sebagai simbol dunia yang berlimpah kesuburan, keindahan, dan kesejahteraan itu menjadi tantangan agung bagi manusia untuk setia hanya mengkonsumsi dari Pohon Hayat, dan bukan dari Pohon Hadaat.


Si Ular Tua dalam gambaran masa modern adalah negara-negara yang serba maju, kehidupan yang serba mewah, kenyamanan hidup di dalam bangunan pencakar langit, menara-menara yang megah, teknologi yang luar biasa canggih, dan seterusnya.

Selanjutnya, dalam Kisah Abel-Kain, kita diberitahu mengenai sumber kejatuhan peradaban manusia. Tuhan bertanya kepada Kain, “Di mana Abel?” Kain menjawab, “Memangnya aku adalah mbok embannya Abel?” Bumi yang bersimbah darah Abel, menjerit kepada Tuhan dengan murka, sebagai simbol ruh “sistem penopang di alam kemanusiaan” yang menuntut pemulihan keadilan ilahi. 


Kisah Abel-Kain ditutup dengan tiga petunjuk yang sangat menarik, mengenai kosmologi Al-Islam adalah dauran (cyclical) sebagai berikut.


Pertama, Abel adalah kelompok manusia yang tidak memiliki mekanisme pertahanan diri, yaitu yang tidak memiliki nakhwa dengan menerima sistem yang menindas, akan segera punah atau lebur ke dalam kelompok yang mensabotase dan menaklukkan mereka.


Iman Abel dijelaskan kembali antara lain dalam Kisah Ayub. Elihu menghadirkan koan kepada kita dalam argumentasinya bahwa manusia itu tidaklah seharusnya mengeluh kepada Tuhan melainkan menerima ketidakadilan dan penindasan yang mereka alami untuk bersabar.


Koannya adalah argumentasi itu berimplikasi “Tuhan mengizinkan ketidakadilan dan penindasan”. Padahal, natur manusia mengharapkan keadilan ilahi dapat selalu dirasakannya. Batin manusia sesungguhnya menjerit mendamba kebahagiaan dan kemerdekaan. Nabi Ayub menggugah kita dengan koan itu, memaknai kesabaran bukanlah kehilangan nakhwa, dan tetap bersikap jujur kepada Tuhan bagaimana untuk menghadapi penindasan dan ketidakadilan.


Kedua, Kain adalah kelompok manusia yang menindas dan despotik. Mereka tidaklah memiliki nakhwa, tapi sukses karena semangat mereka berasal dari mengkonsumsi buah-buahan Pohon Hadaat. Sebab, Iman Kain adalah percaya melenyapkan manusia lain untuk dunia yang lebih baik. Inilah pengetahuan baik-buruk menurutnya yang paling benar dan terbaik. Ambisi inilah yang mendorong daya hidupnya.


Walau demikian, kelompok berarketipe Kain hanyalah memiliki masa tujuh generasi. Entah itu tujuh puluh tahun atau tujuh ratus tahun atau tujuh raja-raja, dan seterusnya.


Ketiga, sebagai pengganti Abel, Tuhan menghadirkan Seth bagi Adam dan Hawa. Inilah kelompok manusia yang memiliki nakhwa. Iman Seth adalah iman berdoa untuk menghadapi penindasan dan ketidakadilan,  berupaya memulihkan keadilan ilahi.

***

Ada satu hal yang saya setujui dari khotbah Khaled Abu Al-Fadl mengenai nakhwa, yang akan saya adopsi dalam tulisan saya di sini perihal kejayaan Nusantara.


Secara intuitif, sebagai sarjana sejarah, saya melihat bahwa ribuan tahun sebelum tarekat Al-Islam didirikan dan atau dimapankan oleh Nabi Idris (Enokh atau Khidr) pada 3760 SM di seluas peradaban Mesopotamia, mereka yang diceritakan di dalam Kisah Taman Eden dan Kisah Abel-Kain adalah para imigran dari Nusantara ketika terjadi perubahan iklim dahsyat. Perubahan in dikenal sebagai Era Driyas Muda, sekitar 12,000-13,000 tahun lalu.


Pengalaman berhijrah mereka melalui banjir besar dan atau naiknya level air laut dan tenggelamnya banyak daratan itu direproduksi dalam Kisah Bahtera Nuh untuk merenungi dan menghayati pengalaman yang kedua kalinya dalam menghadapi perubahan iklim. Banjir itu berlangsung di Mesopotamia, ketika di daratan Arabia terjadi penggurunan, dan di seluas Sumeria terjadi kerusakan alam akibat eksploitasi dengan pertanian yang serakah dan massif.


Sebelum peradaban Sumeria jatuh dan kini kita hanya dapat melihat sisa-sisa peninggalannya saja, Nabi Idris telah menemukan kembali “kearifan dari Nusantara” para leluhurnya, mengklaim sebagai penerus Nabi Seth, “menciptakan agama baru” yang berakidahkan tauhid dan keadilan ilahi, yang berarti meliputi tauhid adalah satu kemanusiaan. Imannya adalah Iman Seth. Iman yang ber-nakhwa itu.


Kata-kata “tauhid adalah satu kemanusiaan” berasal dari sabda Imam Ali Murtaza ibn Abi Talib, “Sesungguhnya kita semua bersaudara dalam satu kemanusiaan.”


***


Mengadopsi pandangan Khaled Abu Al-Fadl mengenai “Arab memperoleh Islam saat itu karena nakhwa yang mereka miliki”,  maka kalau kita memerhatikan dengan seksama di dalam Alkitab-Alquran, kita akan temukan bahwa menang karena kenakhwaan seseorang/sekelompok orang sehingga mereka dapat memperoleh buah-buahan bergizi dari Pohon Hayat. Itulah yang terjadi di sepanjang sejarah umat manusia.


Baik itu kita memaknai Islam sebagai gerakan sosial yang dipelopori Nabi Muhammad pada abad ketujuh Masehi, maupun Islam sebagai gerakan sosial dari tarekat Al-Islam yang selalu dihidupkan atau dibangkitkan kembali oleh para nabi dan rasul dari garis silsilah parampara Nabi Idris.


Bahkan juga Islam sebagai karakter kejiwaan bagi seluruh gerakan sosial dari berbagai Pohon Hayat di peradaban selain Mesopotamia. Misalnya, Buddhisme, Shivais Kashmiri, Advaita, Sikhisme, Taoisme, Konfucianisme, Mohisme, dan lain-lain.


Sekali lagi, saya setuju bahwa karena kenakhwaan itulah seseorang/sekelompok orang memperoleh buah-buahan bergizi dari Pohon Hayat. Dan, itulah yang terjadi di sepanjang sejarah umat manusia.  


Kita ingat bahwa dalam Kisah Taman Eden, setelah Adam dan Hawa mengkonsumsi dari Pohon Hadaat, mereka terlempar dari Eden, simbol dunia yang dibentengi nafs-Nya, terlindung dari kematian dan kerusakan. Kemudian, Pohon Hayat pun dilindungi dengan pedang api bernyala, simbol kesukaran untuk memperoleh buah-buahan Pohon Hayat.


Mari kita lihat beberapa parampara yang merupakan mata rantai silsilah parampara Nabi Enokh.


Yang dilakukan Nabi Nuh adalah dengan rasa bangga dan mulia bersemangat membela hak-hak manusia dan makhluk kendati dihujat di sana-sini dengan membangun bahtera. Bahtera Nuh adalah simbol sistem berkehidupan yang dibangun bersifat sebagai sistem penopang, yang dalam bahasa kekinian bersifat berkelanjutan.


Begitu pun Nabi Ibrahim dengan nakhwanya membela hak-hak manusia lain, dengan mengangkat senjata (membebaskan Nabi Luth). Lalu, melakukan ikonoklasme, yang secara gegabah dipahami sebagai intoleransi terhadap keberagamaan umat lain.


Ikonoklasme yang dilakukan Nabi Ibrahim adalah menghancurkan konsep-konsep, nilai-nilai, dan model-model yang dijadikan adidaya saat itu untuk menindas dan melakukan ketidakadilan. Karena itulah disebut berhala, dan penganutnya disebut musyrik (pagan).


Apa yang sesungguhnya membuat Nabi Ibrahim menjadi bapak bagi bangsa-bangsa?


Nabiah Miryam, Nabi Musa, dan Nabi Harun telah membangkitkan nakhwa dalam diri Bani Israel, yaitu sekelompok manusia yang menerima dan mengakui para otoritas Transmisi dari Pohon Hayat Nabi Enokh. Mereka melawan Firaun, simbol pelaku sistem yang menindas dan tidak adil, meski tampak membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi dunia. 


Dengan nakhwa itulah, ribuan Bani Israel menerima wahyu di Sinai, dan menjadi “putra-putra Tuhan”. Sejak itulah yang disebut Bani Israel adalah siapapun yang menerima, mengakui, dan menjalani Wahyu di Sinai itu. Yang disebut Alfurqan di dalam Alquran.


Jadi, Bani Israel bukanlah penganut Yudaisme, bukan suku bangsa (tribe), dan bukan pula bangsa (nation-state) maupun umat keagamaan tertentu. Bani Israel adalah siapa pun dari silsilah barokah Nabi Idris/Enokh yang menempuh lelaku Dekalog/Alfurqan.


Nabi Daud menjadi nabi dan raja, juga karena nakhwanya. Begitu pula nabi dan raja Sulaiman kemudian berhak menjadi parampara berikutnya. Pada saat itu, mereka memerintah kerajaan yang tidak lebih luas daripada kotamadya Jakarta Pusat di dalam kepungan adidaya-adidaya. Tetapi, mereka teguh tidak menjadi imperialis-konsensus yang Manifest Destiny seperti adidaya-adidaya tetangga mereka.


Hal penting lain adalah Khaled Abu Al-Fadl mengatakan, sayangnya nakhwa mudah takluk ke dalam penindasan dan despotisme.


Menurut saya, hal itu terjadi ketika kenakhwaan suatu kelompok dan atau seseorang tidak dijalani secara shamanis, yaitu, memelihara diri dengan Pohon Hayat. Untuk memelihara kenakhwaan kita mesti menerima dan mengakui otoritas Pohon Hayat, pengasuhan Pohon Hayat, dan pembimbingan Pohon Hayat. Bahasa lainnya adalah “leluhur” — yang luhur, yang sidha. Ini sebabnya dalam bahasa kita, “tree” adalah pohon, yang melahirkan kata memohon.


Pudarnya nakhwa itulah yang terjadi kepada bangsa Yehuda dan Israel Utara, meski para nabi dan rasul hadir sebagai Pohon Hayat yang nyata terlihat (visible) di hadapan mereka. Namun, mereka enggan menerima pengasuhan Pohon Hayat yang hadir di tengah-tengah mereka. Sampai akhirnya mereka dijajah Neo-Asyur, Neo-Babilonia, Persia, Yunani, dan Romawi.
***


Jika Nabi Ibrahim adalah orang Ur-Asyur, dan Nabi Musa adalah orang Mesir, maka Nabi Daniel dan Nabi Ezra (Uzair) adalah orang Persia, sedangkan Makabe adalah orang-orang Yunani. Kemudian, Nabiah Maria, Nabi Yahya atau Yohanes Pembaptis serta Yesus Kristus atau Nabi Isa Almasih adalah orang Romawi. Di sini, yang saya sebut itu berdasarkan “negara” tempat mereka tinggal (entah atas dasar penguasanya atau bahasanya atau toponimnya), seperti kita menyebut Arab dan Nusantara.


Setelah mengatakan “Islam berada di tangan Arab yang saat itu memiliki nakhwa”, Khaled Abu Al-Fadl mengatakan kejatuhan Islam adalah ketika mereka takluk kepada penindasan dan despotisme, dan menanggalkan kenakhwaan mereka. Yang saya lihat, kenakhwaan itu bergelora sejak setidak-tidaknya pada diri Qusai, atau pada diri Hashem (Hushim). Dan, puncaknya adalah pada Nabi Muhammad, Fatimah Az-Zahra, dan Imam Ali Murtaza.


Mereka mengklaim Maad ibn Adnan (murid dan abdal Nabi Yeremiyah) untuk menyalakan nakhwa pada diri mereka, di negeri mereka sebagai orang Arab. Sementara saudara-saudara Yahudi dan Kristen mereka takluk di dalam imperialisme Romawi dan Persia.


Pada abad ketujuh Masehi, gerakan sosial mereka berani melawan Quraish, konfederasi yang merupakan simbol oligarki saat itu, kumpulan oportunis yang kadang-kadang menjadi antek kolonial Romawi, dan kadang-kadang menjadi antek kolonial Persia.      
 

Namun, begitu mereka mengabaikan Pohon Hayat, perlahan demi perlahan mereka terseret jatuh ke dalam penindasan dan despotisme dengan dibunuhnya Imam Ali Murtaza: faksi Umayyah berhasil menguasai gerakan Islam dan bahkan menciptakan agama imperialis-konsensus darinya — di tangan Abdul Malik dan Yusuf Al-Hajjaj. 


Demikianlah nasib mereka yang tidak belajar dari sejarah. Belajar sejarah saja tidaklah cukup. Tetapi, belajar dari sejarah, itu jauh lebih penting. Padahal, sebelumnya itulah yang terjadi kepada murid-murid Yesus Kristus.


Gerakan sosial Islam yang telah berhasil dibangkitkan Yesus Kristus pada abad pertama Masehi dipercayakan di tangannya dan para muridnya karena kenakhwaan mereka.


Ajaran dan kearifan Al-Islam yang disampaikan Yesus Kristus menjadi semakin populer selama abad kedua Masehi sampai masa Wabah Antonia banyak yang menerima dan mengakui otoritas Beliau karena para mursyid, murid, dan abdal Sang Mesias bernakhwa.


Konsep jihad dan mati syahid sebagai kemuliaan dipopulerkan mula-mula oleh para mursyid, murid, dan abdal Sang Mesias dalam semangat kenakhwaan mereka. Ini bukan perjuangan untuk memberi makan ego spiritual pribadi maupun golongan seperti yang dipahami arus utama Kristen saat ini.


Jadi, para mursyid, murid, dan abdal Sang Nabi SAW hanyalah mewarisinya dan melanjutkannya sebagai suksesor Sang Mesias dan ahlulbaitnya (baca: mursyid, murid, dan abdal Pohon Hayat).


Tetapi, begitu para mursyid, murid, dan abdal Sang Mesias itu memilih berkonsensus dan mengabaikan Pohon Hayat, akhirnya Kekaisaran Romawi sukseslah mencaplok Kekristenan ke dalam penindasan dan despotismenya.


Bagaimana pun juga, Kekristenan setelah konsili-konsili jatuh ke tangan imperialisme adalah “agama-agama misteri Hellenis yang mengadopsi Sang Mesias, Yudaisme, dan Alkitab ke dalam struktur, sistem, dan dogma mereka.”


Kehadiran kembali gerakan sosial Islam pada abad keenam dan ketujuh Masehi sesungguhnya “dimaksudkan Tuhan” untuk menghadapi penindasan dan ketidakadilan dari Kekristenan imperialis-konsensus tersebut, walau akhirnya disabotase oleh Umayyah pada awal abad kedelapan Masehi.


Namun, penting pula diingat, bahwa Revolusi Abbasiyah berhasil karena membangkitkan kenakhwaan itu di antara Non-Arab yang ditindas dan didiskriminasi selama masa penjajahan Umayyah. Meski, lagi-lagi, kembali jatuh ke dalam imperialis Abbasiyah.  

***



Kitab TBAI menyiratkan kosmologi yang dianut Al-Islam adalah dauran, dan sejak 3760 SM itu, sejak 1 Anno Mundi, itulah awal mula daur generasi Nabi Idris, yang lamanya kira-kira tujuh ribu tahun (solar maupun lunar).


Ketika Gita Wiryawan menyebut suatu titik penting dalam abad-abad kemanusiaan daur Nabi Idris ini, yaitu abad ke-13 M, maka ini menjadi titik renungan penting mengenai al-nakhwa ketika membahas kejayaan Nusantara.


Kemenangan Ottoman (yaitu orang-orang Turk Oghuz) ke atas Islam pada abad ke-16 M adalah penggenapan nubuatan Yesus Kristus kepada musahipnya Yohanes Patmos.


Sekitar tiga abad setelah kerajaan Ottoman berdiri, Mongol menaklukkan Abbasiyah, merosotnya Majapahit dan Yuan serta Buddhisme imperialis-konsensus, dan hadirnya Sayyid Bektash Wali yang diyakini oleh para muhibnya sebagai reinkarnasi Imam Ali Murtaza.


Di benua Amerika, seakan-akan melalui abad-abad kejayaan terakhir sebelum Eropa menjajah mereka, sementara berbagai kerajaan Islam yang cukup besar mulai muncul di India, Afrika, dan Nusantara (Samudra Pasai).


Orang-orang Mongol dan Turk itu tampaknya memiliki semangat nakhwa, sehingga Islam jatuh ke tangan mereka — menjadi Rum Seljuk (Turk), Mughal (Mongol), Ottoman (Turk), dan lain-lain Dan, mungkin juga orang-orang Melayu di Pasai itu, serta sebagian Persia yang melahirkan Safawiyah pada abad ke-16 M.


Namun, begitu semangat itu tidak dibarengi dengan bersampradaya-parampara kepada Pohon Hayat, sebagian dari mereka menjadi adidaya yang menindas dan despotik. Yang lainnya menjadi seperti Abel, menerima penindasan dan ketidakadilan sebagai diizinkan Tuhan.


Tampaknya, dari obrolan Gita Wiryawan dengan FA Suhariyanto, memandang merosotnya peradaban Nusantara sejak abad ke-13. Pertanyaan pentingnya, apakah kejayaan yang dimaksud Gita Wiryawan? Gita menyebut kejayaan secara budaya, secara intelektual. Yang juga terserlah pada berbagai arsitektur yang mengagumkan.


Tentu saja, saya keberatan dengan pengertian kejayaan yang bersifat jasmaniah, bukan bersifat kebudayaan adiluhur, yang memancarkan satu kemanusiaan atau humanisme imparsial. Saya juga keberatan jika kekalahan atau kemerosotan hanyalah yang bersifat jasmaniah seperti tiadanya bangunan-bangunan megah seperti di dalam kompleks masyarakat adat Lebak Kanekes.


Jika kita ingin mengembalikan kejayaan Nusantara, kita perlu bertanya, adakah kita masih bernakhwa. Bahasa kita menunjukkan hal ini. Hanya sedikit bahasa yang memiliki perbedaan antara “kita” dan “kami”.  “Kita membela hak-hak mereka, dan kami membela hak-hak kalian.”


Kita perlu tetap memelihara gotong-royong yang merupakan salah satu wujud sistem penopang yang khas nakhwa itu. Kita perlu memelihara budaya komunal yang guyub, alih-alih tergerus dalam tren individualisme dan egoisme khas kapitalisme saat ini.


Yang perlu bangkitkan mula-mula sekali bukanlah pencapaian sains dan teknologi maupun ekonomi untuk menyaingi negara-negara maju. Tetapi, menguatkan kembali rasa bangga dan rasa mulia untuk membela hak-hak kehidupan mendahului hak diri sendiri, di dalam setiap sistem kehidupan kita, seperti sistem ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.


Dalam ungkapan Jawa, “Urip iku urup”, inila suatu nakhwa khas Jawa.


Baru kemudian, ketika kenakhwaan itu bergelora, kita memiliki fondasi yang kokoh dalam menggali dan mengembangkan ilmu pengetahun untuk menginovasi dan mengembangkan sistem-sistem penopang itu.


Keberhasilan para pejuang pendiri NKRI pada 1945-1949 justru karena kenakhwaan mereka. Mereka merasa bangga dan mulia jika harus berjuang sampai mati untuk dapat membebaskan negeri ini dari cengkraman penjajah agar tetangga, saudara, dan sahabat mereka tidak lagi menderita di bawah belenggu penjajah.


Di samping tidak lagi bersampradaya seperti para leluhur, ada satu masalah lagi. Seperti yang dikatakan Gita Wiryawan bahwa sifat dasar orang-orang di Asia Tenggara lebih menyukai perdamaian daripada perang. Maka, ini juga menjadi masalah lainnya.


Apabila terlalu pasrah dan terlalu gentar sehingga tidak mau membela hak-hak orang lain yang dirampas, akhirnya kita mengalami hal-hal seperti pada masa Orde Baru, dan kolonialisme Eropa pun sukses karena kita enggan berkonflik dengan saudara kita yang menjadi antek Kompeni dan pemerintah Hindia-Belanda.


Antek-antek itu, adalah mereka yang tidak bersampradaya kepada Pohon Hayat (apapun) dan lebih memilih berdamai dengan penjajah demi keuntungan pribadi dan keluarganya. Inilah yang masih terus terjadi di Indonesia sampai sekarang.


Seperti yang dialami para muhib Al-Islam sejak masa jatuhnya Israel Utara dan Yehuda ke tangan Neo-Asyur dan Neo-Babilonia, mereka yang memilih memberi makan ego mereka daripada bersampradaya-parampara, lambat-laun kenakhwaan mereka memudar, dan akhirnya mengalami penjajahan.


Karena, penjajah telah memilih mengaplikasikan kekuasaan Tuhan pada diri mereka untuk memenangkan pengetahuan baik-buruk di dunia, dan “hukum alam” memberi kesempatan kepada mereka selama tujuh generasi untuk bertaubat, atau terus berbuat zalim untuk lenyap selama-lamanya.


Takdir kita tampaknya bergerak di dalam pola yang kita pilih, apakah menjadi Abel, Kain, atau Seth. Sebagian orang dari negara yang dikatakan maju itu telah berupaya untuk bertaubat dengan kenakhwaan yang bertumbuh dalam diri mereka, meski pada masa yang sama mereka harus melawan raksasa-raksasa di antara mereka sendiri yang sangat Kain.  


Kejayaan yang terserlah secara spiritual dan intelektual, di dalam kebudayaan kita, yang tidak hanya mimikri (seperti yang dikeluhkan Gita Wiryawan mengenai kecendrungan kita menggemari dan mengimitasi kebudayaan asing mentah-mentah, tidak seperti pada masa lalu). Adakah ini mungkin dicapai tanpa memohon bimbingan dari Pohon Hayat, tanpa menerima pengasuhan dari Pohon Hayat, dan tanpa memiliki jati diri?


Seseorang tidaklah mungkin memiliki jati diri tanpa memiliki empati dan nakhwa, karena ia membentuk dan mengasah dirinya sedemikian rupa untuk menjadi sistem penopang bagi kehidupan. Sistem penopang selalu membutuhkan karakter yang kuat, tangguh dan bersedia dhirti (fortitude). Dan, semua ini adalah keterampilan yang harus selalu dilatih.  Begitu juga halnya suatu kelompok manusia.


Seperti halnya kejayaan seorang manusia sejatinya menjadi manusia seutuhnya. Begitu pun kejayaan suatu bangsa. Sejatinya jelaslah berarti kejayaan menjadi bangsa yang Manusia, yang memanusiakan sesama, dan menghadirkan kemanusiaannya di alam kehidupan seluas-luasnya.


Namun, dengan riuh rendah politik identitas, ujaran kebencian dan pemlintiran kebencian, perampasan tanah masyarakat adat dan hak hidup mereka, kemiskinan struktural di mana-mana, sistem kesehatan yang masih belum sepenuhnya “keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia”, dan sebagainya… Adakah tanpa humanisme imparsial melalui berbagai gerakan nakhwa, bangsa Indonesia akan mencapai kejayaan seperti yang didambakan banyak orang?


Sidhamastu,
Grandsheikha Hefzibah Gayatri Wedotami Muthari.

========

Siapakah Pembunuh Nabi Muhammad? (2)

Pada era media sosial ini, ada setidaknya dua keterampilan yang semestinya dilatih. Pertama, keberanian mengungkapkan narasi yang berbeda daripada arus utama, mayoritas dan populer, tanpa harus berarti memaksakan orang lain menerima narasi tersebut. Kedua, kemampuan bersikap terbuka secara hati dan pikiran terhadap narasi yang lain, tanpa mengambil sikap takfiri, yaitu mengkafir-kafirkan dan menyesat-nyesatkan pihak lain hanya secara egosektarian, chauvinistik, rasis, seksis dan bentuk egoisme-egoisme lainnya.

Dalam konteks ini, sebagai sarjana sejarah, saya ingin mengatakan bahwa suatu peristiwa selalu dapat dilihat dalam berbagai perspektif, ditelusuri menurut berbagai sumber, dan dinamis. Artinya, suatu peristiwa sudah biasa ditulis dalam berbagai versi, dianalisis dalam berbagai perspektif, dan bahkan dengan adanya berbagai penemuan terbaru, peristiwa itu ternyata memiliki makna baru dan bahkan detail yang sama sekali baru.

Adagium terkenal, sejarah ditulis oleh pemenang, selalu memiliki tempat dalam memahami sejarah suatu unit, seperti peristiwa,  bangsa, bahasa, pemikiran, dsb. Tetapi, secara teologis ada maksim yang saya yakini, yaitu konspirasi Semesta memberikan jalan-jalan tak terduga bagi mereka yang kalah dan tertindas dan dibungkam dalam sejarah untuk tetap hidup dan menyintas.

Itu sebabnya, para murid dan darwis Proto-Bektashi, yaitu para praktisi Bektashi dan akhirnya Daudiyah masih eksis sampai hari ini, meski kekaisaran Ottoman dan pemerintah sekuler Republik Turki hendak memunahkan eksistensi mereka. Begitu pula dengan keturunan Imam Ali (Ali ibn Imran; Ali ibn Abu Thalib; Ali ibn Fatimah bt Assad ibn Hashem), yang saya sebut sebagai Wangsa Ali. Demikian pula dengan para murid dan para muntasib pengikut Imam Ali, yang saya sebut sebagai Faksi Ali.

Dalam Dunia Muslim, Wangsa Ali biasa disebut sebagai Ahlulbait, meski dalam konteks lain, Ahlulbait memiliki definisi yang lebih sempit daripada Wangsa Ali. Wangsa ini terbagi dalam banyak cabang, dengan kekancingan masing-masing, yang lazim menjadi semacam kasta bangsawan dalam Dunia Muslim. Meski Islam tidak mengenal sistem kasta, pada faktanya di banyak tempat kita menemukan kasta sayyid dan syarif memiliki privelese, dan para sayyid diglorifikasi.

Adapun Faksi Ali lazim dikenal sebagai Syiah. Dalam sejarah Islam pula, eks-Faksi Ali yang terkenal ialah Khawarij, yang berevolusi menjadi Ibadi (yang mendominasi Oman saat ini), dan dalam wujud barunya dikenal sebagai Neo-Khawarij yang dilekatkan kepada berbagai kelompok Wahabisme dan Deobandi.

Sementara itu, dilihat berdasarkan tradisi parampara mereka, Syiah sendiri ada lima cabang utamanya yang masih eksis yaitu Syiah Lima, Syiah Tujuh, Syiah Sebelas, dan Syiah Duabelas. Adapun secara spiritualitas, ada berbagai bentuk Syiah Gnostik yang masih hidup menurut cabang parampara masing-masing itu.

Keseluruhan cabang Syiah ini memiliki satu titik temu yaitu Imam Ali dianggap sebagai pemangku wewenang religius dan spiritual yang sah setelah Nabi Muhammad SAW, dan karenanya dialah pula yang berhak secara eklesiologis (baca: politik) untuk memimpin Muslim.

Pengakuan terhadap wewenang religius dan spiritual Imam Ali maupun hak politiknya memiliki level yang sama sekali berbeda dalam kelompok Sunni, meski secara kesejarahan saya melihat bahwa diversifikasi Sunni-Syiah baru benar-benar mapan setelah pada 750 M, Revolusi Abbasiyah memenangkan negeri-negeri Muslim yang semula dikuasai Kekaisaran Umayyah. Diversifikasi ini tentu saja merupakan hasil politik pecah belah (divide et impera) yang sukses dijalankan Abbasiyah.

Semua ini saya sampaikan untuk memberikan gambaran, mengapa narasi yang lebih populer, arus utama dan mayoritas adalah (1) Nabi Muhammad SAW tidak mati dibunuh, atau (2) Beliau dibunuh oleh seorang perempuan Yahudi.

Pada kenyataannya, meski Al-Saffah mengklaim tahtanya dari tradisi parampara Hashem ibn Muhammad ibn Ali (Muhammad Al-Hanafiyyah), salah satu cabang  Syiah yang saat itu memiliki jaringan bawah tanah dan gilda dagang yang kuat, dinasti Abbasiyah ialah dinasti Sunni. Cabang Syiah ini sendiri separuhnya telah punah (Kaisaniyah) meski telah berusaha berhijrah ke India dan Nusantara, dan separuhnya lagi telah teraneksasi ke dalam berbagai kelompok Syiah Gnostik.

Tentu saja punahnya Kaisaniyah dan tradisi parampara Muhammad Al-Hanafiyyah lainnya terjadi karena pengkhianatan terhadap seluruh faksi Ali saat itu, yang mendukung Revolusi Abbasiyah. Sebagai kelompok yang diklaim dan dicatut demi legitimasi Wangsa Abbas di kekaisaran NeoIslam-nya, ia harus yang lebih dulu direpresi maupun diambil alih.

***

Setelah kita melihat gambaran tersebut, maka dapat dipahami kecenderungan saya untuk memberikan porsi lebih kepada tradisi Syiah daripada tradisi Sunni dalam hal kesejarahan,  bahkan melihat bahwa dalam banyak tradisi Sunni sendiri yang mendukung tradisi Syiah. Namun, bagian-bagian tersebutlah yang tidak banyak diungkap. Yang saya maksud tradisi di sini ialah hadis, dan dalam ilmu sejarah kita mengenal adanya tradisi tulisan dan tradisi lisan.

Pada masa-masa represi dan diskriminasi, tradisi lisan tentu saja lebih masuk akal apabila lebih mampu bertahan dan menyintas melampaui banyak generasi, daripada tradisi tulisan. Pada masa yang sama, memelihara dan merestorasi tradisi lisan dengan jalan skripturalisasi, juga tetap dilakukan.

Di sisi inilah, tradisi Syiah dalam berbagai kejadian yang berlangsung dalam keberlanjutan tradisi parampara dan sampradaya Nabi Muhammad SAW biasanya dianggap lebih dapat diandalkan karena sanadnya disampaikan oleh para guru parampara langsung, yaitu para imam, yang merupakan Wangsa Ali. Terutama jejak utamanya berujung kepada para Ahlulbait dalam konteks sempit yang saya sampaikan sebelum ini, yaitu Wangsa Ali yang meliputi anak-anak Imam Ali dengan Fatimah Az-Zahra dan istri-istrinya yang lain. 

Lebih jauh lagi, saya secara pribadi (bukan pandangan Daudiyah) meyakini bahwa kitab Alquran merupakan skripturalisasi tradisi sampradaya yang disampaikan Nabi Muhammad SAW dalam genre syair ilahiah dan midrash, yang juga memuat tradisi sampradaya dari para imam parampara sebelum kanonisasi kedua Alquran sekitar tahun 685-705 M.

Dengan demikian, kita dapat mengerti berbagai bentuk ayat yang menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai kata ganti ketiga (dia), dan dapat pula mengerti jika riset arkeologis menemukan ada sebagian naskah Alquran yang jauh lebih tua dari 570 M.  Jawaban sederhananya adalah pada skripturalisasi tradisi sampradaya ini.

Tulisan ini diadaptasi seperlunya dari Zain Abiya dan Neo Quisling (Ahmad Hisnurobi) dengan mengutip dari Buyruk Alfurqan.

***

Menurut tradisi Syiah, salah satu ayat Alquran yang menubuatkan sekaligus merekam mengenai kematian Nabi Muhammad SAW adalah Ali Imran 144.

Muhammad hanyalah seorang rasulullah,
Telah ada sebelumnya para rasulullah,
Maka jika dia mati atau bahkan dia ditebang,
adakah engkau akan berbalik ke belakang?
Barangsiapa yang berpaling meninggalkannya,
Tidaklah ia akan mencelakai Allah walau sedikit jua.
(Ali Imran 144 dalam Buyruk Alfurqan)

Dalam bahasa Arab, menurut yang saya baca, kata “atau” dalam ayat ini berarti “malahan” atau “bahkan”. Sama seperti dalam kasus As-Saffat 147 berikut ini.

Kami mengutusnya kepada kaumnya
yang berjumlah seratus ribu banyaknya
bahkan lebih daripada itu.
(As-Saffat 147 dalam Buyruk Alfurqan)

Di antara hadis Sunni yang mengkonfirmasi bahwa Nabi Muhammad SAW telah dibunuh antara lain diskripturalisasi oleh Ahmad ibn Hanbal, Al-Tabarani dan Al-Sanaani.

“Disampaikan oleh Abdullah ibn Massoud, sahabat Rasulullah SAW, ‘Aku bersedia mengambil sumpah sebanyak sembilan kali bahwa Sang Nabi telah dibunuh, tetapi aku tidak bersedia mengambil sumpah walau sekali saja untuk mengatakan bahwa dia tidak dibunuh. Ini karena Allah mengutusnya sebagai Nabiullah dan sekaligus martir.’” (antara lain dalam Masnad Ahmed, Vol I, hal 408; Mojam Al-Tabrani, Vol X, hal 109; Musannaf Al-Sanaani, Vol V, hal 268).

Konon, Abu Said Al-Khudria, seorang sahabat, bersumpah sebanyak tujuh kali bahwa Rasulullah SAW telah dibunuh, dan hal ini ditemukan 16 sumber rujukan tradisi Sunni.

Salah satu versi terkenal mengatakan Nabi Muhammad SAW telah dibunuh oleh seorang perempuan Yahudi (baca: kelompok Israil yang menolak wewenang religius dan spiritual Yesus Kristus).

Dalam suatu kejadian setelah Perang Khaibar, yaitu perang yang mengalahkan sekelompok Yahudi yang menentang koalisi kelompok Israil dan Peranakan Israil pimpinan Rasulullah SAW, seorang perempuan Yahudi bernama Zainab bat Haris mengundangnya bersama para sahabatnya untuk perjamuan. Konon, ia bersedia meracun Rasulullah dkk dalam perjamuan itu karena saudaranya Murhab ben Haris telah dibunuh Imam Ali.  

Walau demikian, Perang Khaibar sendiri berlangsung pada 7 H atau 629 M, sedangkan Rasulullah SAW wafat pada 11 H atau 632 M. Jadi, ada jarak empat tahun dari peristiwa itu, dan selama masa itu tidak ditemukan ada masalah kesehatan yang dialami Rasulullah SAW – jika memang ia diracun Zainab bat Haris.

Selain itu, sebagai seorang resi Israil yang telah mencapai maqam tertinggi sebagai Kinasih, yang dalam Maqalat Bektash Wali disebut sebagai Maqam Hakikat (disimbolkan dengan Tanah), Rasulullah telah memperoleh ilmu kewaskitaan sebagaimana diriwayatkan dalam hadis berikut.

Al-Bukhari dan Al-Darami di antaranya merekam hadis berikut.

“Ketika Muslim memenangkan perang Khaibar, sekelompok Yahudi mengundang Rasulullah ke suatu perjamuan dimana mereka menghidangkan domba yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah meminta para pengikutnya untuk memanggil orang-orang Yahudi itu agar dapat berbicara kepada mereka semua. Ketika mereka semua telah hadir, Rasulullah pun berkata, ‘Jika aku bertanya pada kalian, maukah menjawab dengan jujur?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah pun bertanya ‘Adakah kalian membubuhkan racun dalam domba ini?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Dan, bertanyalah Rasulullah, ‘Mengapa?’ Jawab mereka, ‘Kami ingin tahu apakah engkau sungguh seorang nabiullah. Jika benar kiranya engkau seorang nabiullah, maka ini tidak akan melukaimu. Jikalau ya, maka kami akan menyingkirkanmu.’”  (Sahih Al-Bukhari, Vol IV, hal 66; Sunan Al-Darmi, Vol I, hal 33).

Neo Quisling lebih jauh mengutip ini.

20. TAHUKAH ANDA ?

A. BAHWA RACUN TIDAK AKAN BERPENGARUH KEPADA NABI,

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﻳُﻮﺳُﻒَ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺍﻟﻠَّﻴْﺚُ، ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ ﺳَﻌِﻴﺪٌ،
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ـ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ـ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻤَّﺎ ﻓُﺘِﺤَﺖْ ﺧَﻴْﺒَﺮُ ﺃُﻫْﺪِﻳَﺖْ
ﻟِﻠﻨَّﺒِﻲِّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺷَﺎﺓٌ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺳُﻢٌّ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ” ﺍﺟْﻤَﻌُﻮﺍ ﺇِﻟَﻰَّ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻫَﺎ ﻫُﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻳَﻬُﻮﺩَ .”
ﻓَﺠُﻤِﻌُﻮﺍ ﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ ” ﺇِﻧِّﻲ ﺳَﺎﺋِﻠُﻜُﻢْ ﻋَﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ ﻓَﻬَﻞْ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻲَّ
ﻋَﻨْﻪُ .” ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻧَﻌَﻢْ. ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ” ﻣَﻦْ
ﺃَﺑُﻮﻛُﻢْ .” ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻓُﻼَﻥٌ. ﻓَﻘَﺎﻝَ ” ﻛَﺬَﺑْﺘُﻢْ، ﺑَﻞْ ﺃَﺑُﻮﻛُﻢْ ﻓُﻼَﻥٌ .” ﻗَﺎﻟُﻮﺍ
ﺻَﺪَﻗْﺖَ . ﻗَﺎﻝَ ” ﻓَﻬَﻞْ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻲَّ ﻋَﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ ﺇِﻥْ ﺳَﺄَﻟْﺖُ ﻋَﻨْﻪُ “
ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻧَﻌَﻢْ ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺎ ﺍﻟْﻘَﺎﺳِﻢِ، ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺬَﺑْﻨَﺎ ﻋَﺮَﻓْﺖَ ﻛَﺬِﺑَﻨَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﻋَﺮَﻓْﺘَﻪُ
ﻓِﻲ ﺃَﺑِﻴﻨَﺎ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻬُﻢْ ” ﻣَﻦْ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ .” ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻧَﻜُﻮﻥُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻳَﺴِﻴﺮًﺍ
ﺛُﻢَّ ﺗَﺨْﻠُﻔُﻮﻧَﺎ ﻓِﻴﻬَﺎ. ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ” ﺍﺧْﺴَﺌُﻮﺍ
ﻓِﻴﻬَﺎ، ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻻَ ﻧَﺨْﻠُﻔُﻜُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺃَﺑَﺪًﺍ ـ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ـ ﻫَﻞْ ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗِﻲَّ ﻋَﻦْ
ﺷَﻰْﺀٍ ﺇِﻥْ ﺳَﺄَﻟْﺘُﻜُﻢْ ﻋَﻨْﻪُ .” ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻧَﻌَﻢْ ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺎ ﺍﻟْﻘَﺎﺳِﻢِ. ﻗَﺎﻝَ ” ﻫَﻞْ
ﺟَﻌَﻠْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟﺸَّﺎﺓِ ﺳُﻤًّﺎ .” ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻧَﻌَﻢْ . ﻗَﺎﻝَ ” ﻣَﺎ ﺣَﻤَﻠَﻜُﻢْ ﻋَﻠَﻰ
ﺫَﻟِﻚَ .” ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺃَﺭَﺩْﻧَﺎ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺖَ ﻛَﺎﺫِﺑًﺎ ﻧَﺴْﺘَﺮِﻳﺢُ، ﻭَﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺖَ ﻧَﺒِﻴًّﺎ ﻟَﻢْ
ﻳَﻀُﺮَّﻙَ

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah bercerita kepada kami Al Laits berkata telah bercerita kepadaku Sa’id bin Abu Sa’id Al Maqbariy dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; “Ketika Khaibar ditaklukkkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diberi hadiah seekor kambing yang di dalamnya ditaruh racun.

Maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam berkata: “Kumpulkan di hadapanku orang-orang yang ada disini dari kalangan Yahudi”. Maka mereka berkumpul di hadapan Beliau lalu Beliau berkata: “Aku bertanya satu hal kepada kalian, apakah kalian akan membenarkan aku tentang suatu masalah?”. Mereka menjawab; “Ya”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada mereka: “Siapa orang tua kalian”.

Mereka menjawab; “Si fulan”. Beliau berkata: “Kalian berdusta. Yang sebenarnya orang tua kalian adalah si anu”. Mereka berkata; “Anda benar”. Lalu Beliau bertanya lagi: “Apakah kalian akan membenarkan aku tentang suatu masalah yang akan aku tanyakan?”.

Mereka menjawab; “Ya, wahai Abu Al Qasim. Seandainya kami berdusta, Anda pasti mengetahui kedustaan kami sebagaimana Anda mengetahui orangtua kami”. Beliau bertanya: “Siapakah yang menjadi penduduk neraka?”.

Mereka menjawab; “Kami akan berada di dalamnya sebentar lalu kalian (kaum Muslimin) akan mengiringi masuk ke dalamnya”. Nabi shallallahu’alaihi wasallam berkata: “Tinggallah kalian dengan hina di dalamnya. Demi Allah, sungguh kami tidak akan mengikuti kalian ke dalamnya selama-lamanya”.

Kemudian Beliau bertanya lagi: “Apakah kalian akan membenarkan aku tentang suatu masalah yang akan aku tanyakan?”. Mereka menjawab; “Ya, wahai Abu Al Qasim”. Beliau bertanya: “Apakah kalian telah memasukkan racun ke dalam kambing ini?”. Mereka menjawab; “Ya”. Beliau bertanya lagi: “Apa yang mendorong lkalian berbuat begitu?”. Mereka menjawab; “Kami hanya ingin menguji Seandainya anda berdusta (mengaku sebagai Nabi) kami dapat beristirahat dari anda. Dan seandainya benar Anda seorang Nabiullah maka racun itu tidak akan dapat mendatangkan bahaya untuk Anda. “.

Reference : Sahih al-Bukhari 3169
In-book reference : Book 58, Hadith 11
USC-MSA web (English) reference : Vol. 4, Book 53, Hadith 394

B. TAPI, TAHUKAH ANDA BAHWA RACUN BERPENGARUH KEPADA NABI

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻳُﻮﻧُﺲُ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺰُّﻫْﺮِﻱِّ، ﻗَﺎﻝَ ﻋُﺮْﻭَﺓُ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔُ ـ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻨﻬﺎ ـ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻓِﻲ ﻣَﺮَﺿِﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ
ﻣَﺎﺕَ ﻓِﻴﻪِ ” ﻳَﺎ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔُ ﻣَﺎ ﺃَﺯَﺍﻝُ ﺃَﺟِﺪُ ﺃَﻟَﻢَ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﻛَﻠْﺖُ
ﺑِﺨَﻴْﺒَﺮَ، ﻓَﻬَﺬَﺍ ﺃَﻭَﺍﻥُ ﻭَﺟَﺪْﺕُ ﺍﻧْﻘِﻄَﺎﻉَ ﺃَﺑْﻬَﺮِﻱ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺴَّﻢِّ

“Oh, ‘Aisyah..!!! Aku masih merasakan sakit yang disebabkan makanan yang kumakan di Khaibar, dan saat ini, saya merasa seolah-olah urat nadiku dipotong karena racun itu. “

Reference : Sahih al-Bukhari 4428
In-book reference : Book 64, Hadith 450
USC-MSA web (English) reference : Vol. 5, Book 59, Hadith 713 

Al-Khatib menyampaikan hal senada dalam versi lain, sebagai berikut.

“Seorang wanita Yahudi memasak domba dan membubuhi racun lalu memberikannya kepada Rasulullah dan kawan-kawannya. Lalu,  Rasulullah berkata kepada para muntasib dan muridnya itu agar mereka tidak memakannya karena telah dibubuhi racun. Rasulullah kemudian bertanya kepada wanita tersebut mengapa dia melakukan hal itu. Jawab, ‘Supaya aku dapat mengetahui apakah engkau sungguh-sungguh seorang nabiullah. Jikalau benar, Allah akan memberitahu padamu bahwa makanan ini beracun, sehingga tidak akan engkau konsumsi, sedangkan bila engkau berdusta, engkau akan memakannya dan mati….” (History of Baghdad, Vol VII, hal 384).

Dalam hadis yang dicatat Al-Baihaqi dan Abu Daud, dalam peristiwa ini Rasulullah tidak terbunuh maupun tidak menghukum Zainab bat Haris (Sunan Al-Baihiqi Vol VIII, hal 46; Sunan Abu Daud, Vol II, hal 369).

Al-Zuhri mengkonfirmasi bahwa Zainab bat Haris tidak dihukum bahkan akhirnya menerima tradisi Islam dan membenarkan Rasulullah SAW setelah dimaafkan oleh beliau (Musannaf Al-Sanaani, Vol XI, hal 29, Biografi Rasulullah oleh Ibn Katser, Vol III, hal 389).

Diceritakan pula oleh Imam Bukhari dari Aisyah istri Sang Nabi.

“Nabi Allah berkata kepadaku di atas ranjangnya, ‘Aisyah, sejak aku mengkonsumsi racun dari perjamuan setelah Perang Khaibar itu, aku telah berada dalam kesakitan. Sekarang rasanya jantungku berhenti berdetak karena racun itu.” (Sahih Al-Bukhari, Vol V, hal 137).

Namun, kelompok Syiah tidak menerima hadis dari Aisyah ini karena berbagai alasan.  Di antaranya berdasarkan kisah berikut ini.

Rasulullah kembali dari rumah Zainab bt Jahasy, salah seorang sepupunya dan istrinya, dan baru saja makan madu di rumah Zainab Al-Jahasy. Namun, Aisyah dan Hafsha yang cemburu mengatakan kepadanya bahwa ia beraroma Maghafir, yaitu sejenis ekstraksi dari sebuah pohon yang berasa manis tetapi berbau tidak enak (Mungkin baunya seperti jengkol, petai, durian atau terasi?) Ia mungkin melakukannya agar Rasulullah tak lagi mendatangi Zainab Al-Jahasy (Sahih Al-Bukhari, Vol 6, hal 68).

Menurut kelompok Syiah, Aisyah adalah perawi yang tidak dapat dipercaya, dan bahkan Alquran merekam bahwa Aisyah dan Hafsha telah melakukan dosa.

(4) If you both turn back to Him, then
Your hearts will be inclined again,

But if you both back up each other
Against him, the God like a brother

Will be his protector, and so
Gabriel and the better show

Among believers will help too,
And angels back him in his pew.

(10) God sets forth a likeness to those
Who disbelieve, in wife that chose

Noah, and wife of Lot: they were
Both under two of Our good fere,

But they both were unfaithful and
They did not help them then to stand

Against God, and it was told them,

“Go both of you into the fire

Along with those gone under ire.”

.
(At-Tahrim: 4 dan 10)

Dalam tradisi Sunni dicatat pula sebagai berikut oleh Ahmad ibn Hanbal (imam mazhab Hanbali) dan lain-lain.

“Nabi SAW keluar dari kamar Aisyah dan berkata bahwa, ‘Inilah pembuka jalan bagi kesesatan. Dari sinilah tanduk Setan muncul!’” (Masnad Ahmad, Vol II, hal 23).

Di samping itu, terdapat versi lain yang bertentangan dengan hadis bahwa Rasulullah SAW mati karena racun Zainab bat Haris.

“Menurut Abu Yualla, Aisyah juga berkata, ‘Nabi Allah SAW meninggal dunia akibat Dhatul Janb”.  (Masnad Abu Yoalla, Vol. VIII, hal 258). Dhatul Janb adalah tumor di jaringan dalam tubuh yang akan menyebabkan kematian apabila ia meledak.

Rasulullah berkata mengenai tumor tersebut, “Ini perbuatan Setan, dan aku tak akan dapat memperolehnya karena Allah telah mengeluarkanku dari segala kekuatan Setan.” (The Beginning and the End, Ibn Katsir, Vol. V, hal 245).

Dalam narasi sejarah versi Syiah, berakhirnya hidup Rasulullah SAW adalah dalam upaya Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Aisyah bt Abu Bakar dan Hafsha bt Umar, untuk berkuasa.

Ali ibn Ibrahim Al-Qummi (seorang ulama Syiah pada masa Imam Al-Hasan Al-Askari, pada abad ke-9 M) menyampaikan suatu hadis sebagai berikut.

Sang Nabi berkata kepada Hafsha, “Aku hendak menyampaikan suatu rahasia kepadamu. Abu Bakar akan mendapat kekuasaan dan memimpin setelahku. Kemudian, akan dilanjutkan oleh ayahmu, Umar.”….. Namun, Hafsha menyampaikan rahasia ini kepada sahabatnya Aisyah, dan karena itulah Aisyah menyampaikannya kepada ayahnya. Lalu, Abu Bakar mengkonfirmasinya kepada Umar, “Putriku Aisyah memberitahu padaku suatu rahasia. Tetapi, aku tak dapat selalu mempercayainya. Coba tanya putrimu Hafsha, dan beritahu aku.” Lalu, Umar mendatangi Hafsha yang mula-mula menyangkal, tetapi kemudian Umar berkata, “Kalau memang benar kami yang akan mendapat kekuasaan itu, beritahu pada kami, supaya kita segera dapat menyingkirkan Muhammad.” Maka, akhirnya Hafsha pun memberitahu ayahnya.  Kemudian, mereka pun berkonspirasi untuk meracun Rasulullah SAW (Tafsir al-Qummi, Vol II, hal 367, Bihar-ul-Anwar oleh Allama al-Majlisi, Vol XXII, hal 239).

Ali ibn Ibrahim Al-Qummi kemudian menafsirkan dari Al-Ayashi yang mencatat riwayat dari Imam Jafar Sadik ibn Muhammad Baqir (as) ketika ia duduk bersama para murid dan muntasibnya.

“Tahukah engkau apakah benar Nabiullah meninggal secara natural atau karena dibunuh? Allah SWT mengatakan, jikalau ia mati atau dibunuh (Ali Imran 144). Yang sebenarnya terjadi adalah Nabiullah telah diracun pada hari-hari terakhir hidupnya sebelum ia meninggal dunia. Aisyah dan Hafsha telah mengatur agar racun dibubuhkan ke dalam makanannya….(Tafsir  al-Ayashi, Vol I, hal 200; Bihar-ul-Anwar, by Allama Al-Majlisi, Vol XXII, hal 516)

Al-Ayashi (seorang ulama yang semula Sunni dan kemudian Syiah) mencatat hadis lain dari Jafar Sadik ibn Muhammad Baqir (as).

“Al-Husain ibn Munzir bertanya kepada Imam Al-Sadik mengenai firman Allah (dalam Ali Imran 144)…. Apakah berarti Nabiullah meninggal secara natural atau dibunuh? Imam Al-Sadik menjawab, ‘Dalam ayat ini Allah menubuatkan sahabat-sahabat Rasulullah yang melakukan perbuatan terlarang.’(Tafsir Al Ayashi, Vol I, hal 200; Bihar-ul-Anwar, By Allama Al-Majlisi, Vol XX, hal  91)

Untuk memahami ayat Alquran tersebut, para mufassir Syiah mengatakan bahwa audiens bagi ayat tersebut bukanlah musuh Rasulullah melainkan dari murid dan muntasibnya sendiri yang berpaling darinya dan melakukan kesesatan. Pada 632 M, tidak ada lagi ancaman dari kelompok Yahudi yang menentang koalisi Islam di Madinah.

Secara kesejarahan, saya dapat mengatakan bahwa koalisi politik Yehudanatan Madinah di Yathrib bukan hanya telah kuat, tetapi juga telah utuh dengan dianeksasinya kekuatan Quraish di Mekkah dan bahkan kekuatan Taif dan Yamamah, ke dalam koalisi politik ini. Banyak kelompok Yahudi dan Peranakan Yahudi tentu saja merasa ini merupakan kesempatan untuk berdaulat dan independen dari Bizantin (Romawi) dan Sassan (Persia), terutama setelah berakhirnya perang regional di antara dua adidaya itu pada 628 M.

Secara eksegesis, penafsiran versi Syiah jauh lebih selaras dengan ayat-ayat Alquran sendiri.

Ada suatu hadis dari Bukhari, Muslim, Ahmad ibn Hanbali dan Ibn Katsir menceritakan sebagai berikut. Aisyah mengakui bahwa ketika Rasulullah SAW sedang tidur saat sakit, ia meletakkan suatu ramuan aneh ke dalam mulutnya dengan bantuan istri-istri lainnya. Aisyah melakukan secara sengaja meski dilarang Rasulullah. Ketika Rasulullah bangun, dia melihat residu ramuan itu, dan dengan marah bertanya kepada mereka apakah residu itu (meski telah mengetahuinya) dan murka karena mereka tidak menaatinya.

Namun, Aisyah mengelak bahwa itu hanya pengobatan. Lalu, mereka menyalahkan paman Rasulullah, Al-Abbas ibn Abdul Muthalib (Abbas ibn Sheba), “Itu karena pamanmu Al-Abbas menganggap engkau terinfeksi Dhatul Janb itu.”  Lalu, Rasulullah berkata, “Penyakit itu diakibatkan santet. Aku tidak mungkin mengalaminya.” Kemudian, Rasulullah meminta setiap orang di dalam kamarnya untuk mengkonsumsinya, kecuali Al-Abbas pamannya (Sahih Al-Bukhari, Vol VIII, hal 42; Sahih Muslim, Vol VII, hal 42; Masnad Ahmed Ibn Hanbal, Vol VI, hal 53; Biografi Muhammad oleh Ibn Katsir, Vol. IV, hal 446).

Cerita tersebut juga dapat ditemukan dalam buku karya Muhammad Husain Haekal.

“…Melihat keadaan yg demikian keluarganya berpendapat hendak membantunya dengan  

pengobatan. Asma’ – salah seorang kerabat Maimunah – telah menyediakan semacam ramuan yang pernah dipelajari cara pembuatannya selama ia tinggal di Abisinia. Tatkala Nabi sedang berada dalam keadaan pingsan karena demamnya, mereka mengambil kesempatan menegukkan ramuan itu ke dalam mulutnya.

Manakala sadar, Rasulullah bertanya, “Siapa yang membuatkan ini? Mengapa kamu melakukan itu?”

“Kami khuatir Rasulullah menderita sakit radang selaput dada,” kata Abbas pamannya.

“Allah tidak akan menimpakan penyakit demikian itu kepadaku.”

Kemudian disuruhnya semua yang hadir di dalam rumah supaya meminum ramuan itu. Tidak terkecuali Maemunah meski ia sedang berpuasa.

(Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan Ali Audah, penerbit Tinta mas, Jakarta, 1984, cet. ke 9, hal.624-625 – kredit untuk Neo Quisling)

Kelompok Sunni tentu saja tidak dapat menerima apabila Abu Bakar atau pun Umar melakukan konspirasi tersebut.

Ada suatu dongeng menarik dalam Sahih Bukhari mengenai sekelompok murid dan muntassib Rasulullah yang tidak diperkenankan meneguk Air Kehidupan (selaras dengan Wahyu 22:1) dan kemudian pengikut Rasulullah itu dibawa oleh para malaikat ke neraka. Rasulullah berkata kepada Allah bahwa mereka adalah para sahabatnya. Tetapi, Allah berfirman bahwa mereka berpaling dari Rasulullah dan mengambil jalan sesat sepeninggal Rasulullah (Sahih Al-Bukhari, Vol VII, hal 206).

Dongeng ini tidak menunjukkan bahwa para sahabat Rasulullah SAW, termasuk Abu Bakar dan Umar, maupun istri-istrinya tidak melakukan kesesatan dan kesalahan.

Rasullah diberi kewaskitaan akan pengkhianatan dan kemurtadan para murid, muntasib dan abdal-abdalnya (baca: sahabat-sahabatnya), tetapi dia mengatakan dengan cara yang demikian, sebagaimana diriwayatkan oleh Malik ibn Anas (imam mazhab Maliki).

“Rasulullah SAW bersabda bahwa para martir Muslim dalam Perang Uhud akan masuk Surga. Lalu Abu Bakar bertanya-tanya, ‘Bukankah kami adalah saudara-saudara mereka yang memeluk Islam seperti mereka, dan berjihad sebagaimana mereka, mengapa engkau tidak memberi kami kabar baik bahwa kami juga akan masuk Surga?’ Lalu, Rasulullah menjawab, ‘Memang beanr engkau adalah saudara mereka, tetapi aku tidak tahu apa yang akan kaulakukan sepeninggalku.” (Al-Muatta dari Malik Ibn Anas, Vol II, hal 642).

Hadis lain dalam Al-Muhalla koleksi Ibn Hazm Al-Andalus (seorang Sunni) mengindikasikan ada percobaan pembunuhan oleh Abu Bakar dan Umar setelah Rasulullah kembali dari kota Tabuk, dengan membuat seolah-olah ada kecelakaan terjadi di Jalanan Al-Aqaba yang berbahaya. Hadis ini dicatat oleh Al-Walid ibn Jamia yang seorang Sunni, tetapi Ibn Hazm mengatakannya sebagai pembohong. Katanya, “Dia berbohong karena meriwayatkan hadis yang mengatakan Abu Bakar, Usman, Talha, dan Saad ibn Abi Waqqas hendak membunuh Rasulullah dan memastikan agar ia mengalami kecelakaan di Tabuk”  (Al-Muhalla dari Ibn Hazm, Vol. IX, hal 224).

Walau demikian, Ibn Habban selalu mengatakan mengenai Al-Walid ibn Jamia, semoga Allah ridha kepadanya, kepada. Selain itu ulama klasik Al-Thahabi juga memujinya, dan banyak hadisnya direkam dalam Sahih Muslim, Al-Baihaqi, Ahmad Ibn Hanbal and Ibn Shabba.

***

Dari cerita-cerita tersebut dapat dipahami mengapa tradisi Syiah menyebut bahwa Rasulullah SAW dibunuh oleh dua istrinya dan dua sahabatnya, dan akhirnya membentuk karakter mereka yang menolak seluruh hadis dari Syiah dan bahkan sebagian Syiah garis keras memiliki ritual mengutuk mereka.

Secara kesejarahan, dapat dipahami motif dari Abu Bakar dan Umar sesuai latar belakang mereka (yang sebenarnya Pro-Bizantin), apabila menggunakan versi tradisi Syiah ini.

Pertanyaan sejarawan yang menggelitik kritis tentu saja adalah, bagaimana mungkin menafsirkan versi Sunni sebagai bertolak belakang dengan alasan “Rasulullah tidak dapat dibunuh dengan racun karena memiliki kewaskitaan” maupun “tidak dapat dibunuh oleh santet yang menyebabkan sejenis tumor atau radang selaput dada”, tetapi dalam kasus versi Syiah, Rasulullah dapat diracun dan dibunuh oleh para istri dan muridnya sendiri?

Dari cerita-cerita menurut tradisi Syiah, dapat dikesankan bahwa Rasulullah SAW mengetahui bahwa dirinya diberi racun oleh para istrinya melalui ramuan aneh itu, maupun melalui makanan yang dikonsumsinya. Namun, Rasulullah tampaknya justru bersikap lemah di hadapan mereka. Ini mengingatkan saya pada kisah Siddharta Gautama yang mengetahui bahwa ia menerima minuman beracun sehingga ia mati karena racun itu, dan dalam kisah lain bahwa minuman beracun itu tidak sengaja diberikan kepadanya tetapi Sang Buddha tetap meminumnya.

Di lain pihak, ada juga hal yang menarik, bahwa kewaskitaan seorang resi dapat dihijabi oleh dirinya sendiri. Maka, meski ia mengetahui orang-orang terdekatnya adalah yang paling mungkin membunuhnya, dan mengetahui dia menerima racun atau makanan yang akan membahayakan dirinya, dia tetap akan mengkonsumsinya. Berbeda apabila disediakan oleh pihak asing maupun musuh dan bekas musuh.

Pembahasan mengenai hal ini bukanlah pembahasan kesejarahan, melainkan pembahasan Nafsiologi, yang berkaitan dengan Ego dalam diri setiap orang, Ego yang terdapat pada setiap Nafs.

Tetapi, apakah Rasulullah diracun sehingga mati oleh dua istri dan dua ayah mertuanya sendiri? Ini adalah hal yang sangat mungkin terjadi, mengingat bagaimana Sejarah Islam kemudian berlangsung, dengan Konsili Saqifah yang berlangsung saat jenazahnya masih belum dimakamkan (sampai tiga hari), dan kemudian dalam Sejarah Islam kita lebih banyak mengenal kisah para istri Rasulullah pasca Hijrah (622-632 M), daripada kisah Khadijah bt Khuwailid (menikah 595 M dan wafat 620 M) berbagai riwayat hadis justru bukan berasal dari Imam Ali, Fatimah Az-Zahra dan keluarga Rasulullah sendiri – kecuali dalam tradisi Syiah.

Pandangan pribadi saya ialah memang Rasulullah SAW dibunuh oleh mereka, dan bahwa tantangan teragung Rasulullah SAW ialah untuk berkompromi dengan orang-orang terdekatnya (istri-istrinya, murid-muridnya, abdal-abdalnya dan para muntassibnya) demi mewariskan sampradaya yang diterimanya menurut silsilah dari sejak Adam dan Hawa sampai kepada dirinya. Pandangan Daudiyah ialah untuk berkonsultasi langsung dalam tawassul dan tabaruk kepada Imam Mahdi, Yesus Kristus, Nabi Elia, dan Nabi Enokh. InsyaAllah mereka akan memberi jawaban kepada kita melalui intuisi, mimpi, dan hal-hal lainnya yang tak terduga.

Siddhmastu,

SH~RAGWM

Latar Belakang untuk Memahami Alquran

(1) Secara genre sastra, Alquran adalah puisi. Sementara itu, hampir seluruh alih bahasa Alquran yang tersedia biasanya dilakukan dalam genre non-puisi. Ini adalah suatu distorsi yang amat bermasalah bagi memahami teks-teks Alquran.

(2) Saya berpandangan bahwa Alquran adalah karya sastra (transmisi kearifan dalam bentuk bahasa) yang diilhami Allah – bahasa umat Islam adalah wahyu, sedangkan bahasa modernnya adalah, “inspired by God”. Bagaimana pun, puisi yang amat indah dan mendalam, dengan struktur yang kuat dan unik, serta kosakata dan diksi yang terpilih, dan seterusnya, adalah wahyu ilahi yang membuat kualitas penyair berbeda-beda, apakah syair yang dihasilkannya adalah mahakarya atau bukan.

(3) Selain alih bahasa dalam genre non-puisi, penerjemahan genre puisi ke dalam bahasa asing tetap akan menghasilkan distorsi, apalagi jika terdapat struktur dan kode seperti akrostik, rima, penekanan bunyi, matra, dan seterusnya.

(4) Alquran merupakan karya sastra ilahi yang sangat luar biasa karena hampir sukar ditandingi estetika dan kedalamannyanya menurut bahasa Arab purba saat itu, sama seperti ketika beberapa ribu tahun sebelumnya muncul puisi yang kita kenal sebagai kitab Ayub, dalam bahasa yang bisa saya sebut sebagai paleo-Arab purba.

(5) Dalam hal estetika, pola medrasse dalam Alquran yang dapat disenandungkan, merupakan keunggulannya sebagaimana halnya Mazmur yang diwahyukan dalam bahasa Ibrani dan kemudian memiliki kode not musik dalam Teks Masoretik. Sementara itu dalam hal kedalaman, gaya midrash dalam Alquran dalam bentuk puisi adalah di antara gaya kontemplatif yang membuatnya semakin sukar ditandingi.

(6) Telah terjadi kanonisasi sebanyak dua kali ke atas teks-teks Alquran yang mana setiap murid yang menerima sampradaya Muhammad SAW memiliki salinannya, terutama yang disalin oleh murid utamanya Imam Ali (yang kelak meneruskannya sebagai guru dalam suksesi guru, atau tradisi parampara), Fatimah Az-Zahra, putrinya dan istri Imam Ali, serta Zaid ibn Tobit, juru tulis Muhammad SAW sejak di Madinah.

(7) Kanonisasi pertama pada masa khalifah Usman, tidak mengindikasikan pengharaman total salinan-salinan lain, melainkan hanya upaya untuk menerbitkan antologi resmi, yang tampaknya berkaitan dengan penyeragaman aksara yang digunakan. Perlu diingat bahwa perkembangan bahasa-bahasa rumpun Semit (dan bahasa-bahasa secara umum) amatlah rumit. Ada kalanya suatu bahasa menggunakan aksara bahasa asing, seperti terjadi di Yaman, ada teks-teks Alkitab dalam bahasa Ibrani ditulis dalam aksara Arab. Ini seperti juga bahasa Melayu dan bahasa Jawa ditulis dalam sistem aksara Arab-Persia dikenal sebagai aksara Jawi dan Pegon.

(8) Namun, kanonisasi kedua pada masa khalifah Abdul Malik, di bawah kepanitiaan Al-Hajjaj, mengindikasikan pengharaman terhadap salinan-salinan lain. Kanonisasi kedua ini merupakan bentuk unifikasi atau penyeragaman, dalam hal pemberian diakritik, dan kemudian pelafalan dalam menyenandungkan. Ia mulai dilakukan 5-7 tahun setelah peristiwa Karbala (680 M), untuk memulihkan citra dinasti Umayyah.

(9) Mengetahui pembentukan komite kanonisasi ini, Muhammad Al-Hanafiyyah sebagai pemuka klan Hashimiyah (klan Muhammad SAW dan Imam Ali) saat itu berusaha meletakkan kader-kader terbaiknya (yang menerima sampradaya Imam Ali, Hasan, dan Husein) ke dalam komite. Sementara itu ia sendiri bernegoisasi dengan Abdul Malik demi menyintaskan sampradaya Muhammad SAW, karena menyadari Abdul Malik dan Al-Hajjaj sedang menciptakan agama baru: Neo-Islam yang akan melahirkan Pseudo-Islam. Sejarawan Fred M. Donner menegaskan syarahan menurut sampradaya Daudiyah-Bektashiyah, bahwa Islam yang kita kenal hari ini, yang memisahkan diri dari Kekristenan dan Yudaisme, telah diciptakan Abdul Malik dan mitra terbaiknya Al-Hajjaj.

(10) Namun, sekitar tahun 700 M, Muhammad Al-Hanafiyyah (putra satu-satunya Imam Ali dengan Khawla Al-Hanafiyyah ini) menghilang – [saya mengambil versi sejarah minoritas dari kalangan Kaisaniyah yang juga tersimpan dalam sastra Melayu klasik]. Muqatta’at yang tetap dapat kita temukan dalam naskah kanonisasi meski ada satu naskah yang diabaikan, menunjukkan intervensi murid-murid Muhammad Al-Hanafiyyah yang terlibat dalam komite.

(11) Selain karena tidak mempelajarinya sebagai mahapuisi yang indah, yang perlu dibaca juga dengan pendekatan batin tak hanya logika, distorsi yang terjadi dalam Dunia Muslim saat ini dalam mempelajari Alquran adalah karena pada umumnya mempelajarinya melalui tradisi skolastik (sekolah) dan tradisi majlis akbar (massal) saja. Bukan melalui tradisi sampradaya (transmisi personal dari guru kepada murid) melalui tradisi parampara.

(12) Dua tradisi tersebut (sampradaya-parampara) membantu seorang murid memahami Alquran menurut level intelektual dan spiritualnya; memahami substansi dan esensinya berdasarkan level-level dan kondisi dirinya sebagai murid yang unik. Sementara itu, tradisi skolastik (madrasah; pesantren; hawza, dan seterusnya) membantu dengan pendekatan kontekstual untuk mengatasi distorsi pendekatan tekstual.

(13) Tradisi Daudiyah-Bektashiyah sebagaimana dalam Buyruk Alfurqan, menggunakan tiga tradisi tersebut, dimana dalam pendekatan kontekstual maupun tekstualnya ialah menekankan titik temu interteks Alquran dalam menemukan esensi dan substansinya adalah pada Albaqarah 53, yang menyebut Dekalog sebagai Alfurqan. Alfurqan merupakan tes litmus untuk memahami konteks dari setiap teks Alquran.

(14) Perlu diingat bahwa tidak semua pengikut Muhammad SAW menerima sampradaya Muhammad SAW atau dikadernya, melainkan menerima transmisi dari tradisi massal. Karena itu mereka disebut sahabat Muhammad SAW. Semua murid Muhammad SAW yang menerima sampradaya, tentu adalah sahabat beliau, tetapi tidak semua sahabat Muhammad SAW adalah murid beliau yang menerima sampradaya.

(15) Dari no (11), itu sebabnya, ketika dulu ada pertanyaan kepada saya mengapa dalam tradisi Daudiyah menafsirkan teks kitab Wahyu 5 bahwa yang dapat mengajarkan Alquran adalah Imam Ali, bukan Muhammad SAW sendiri, sebenarnya yang dimaksud karena setelah Muhammad SAW wafat, barulah seluruh syair-syair wahyu ilahi itu dapat selesai dikodifikasi, dan Muhammad SAW telah mengkader Imam Ali dan putrinya Fatimah untuk mengajarkan setiap karya dan pemikirannya. Kemudian, Imam Ali mengkader anak-anaknya mulai dari Hasan, lalu Husein, dan Muhammad Al-Hanafiyyah, dan putri-putrinya, yang kemudian dilanjutkan dalam tradisi sampradaya dan parampara yang lurus sampai seterusnya, ke hari ini.

*AKAR KEKERASAN DALAM ISLAM (1): MENILIK AL-ANFAL:1-20 & HADIS MEMOTONG LIDAH PENGHINA NABI MUHAMMAD*

Ayat-ayat 1-20 dalam surah Al-Anfal adalah di antara teks dalam Alquran yang dianggap sebagai rujukan dan akar dalam kekerasan dalam Islam. Judul surah tersebut sendiri berarti hal-hal yang terkait dengan perang, seperti harta rampasan, hal-hal yang diperoleh dari perang, dan hukum perang.

Dalam tulisan serial pertama kali ini saya ingin membandingkannya dengan suatu hadis yang diriwayatkan dari Imam Jafar Sadiq (leluhur para habib di Indonesia), mengenai perintah Muhammad SAW kepada Imam Ali ibn Abu Thalib untuk memotong lidah seorang penyair yang telah membuat syair untuk menghina Muhammad SAW.

[A] Latar Belakang Perang yang Dilakukan Muhammad SAW

(1) Hal pertama yang harus dipahami dari riwayat peperangan yang harus dilakukan Muhammad SAW terjadi di antara 8 tahun terakhir sisa hidupnya.

(2) Dua tahun sebelum perang pertama yang berlangsung pada Maret, 624 M, ialah Muhammad SAW harus mengungsi ke Yathrib pada 622 M, dan baru pada 623 M itu Muhammad SAW dan klan-klan yang mendukung kelompok Islam-nya mengadakan pakta bersama klan-klan setempat (yang sebagian besar adalah elit Yahudi yang menerima kepemimpinan dan nubuatnya) untuk mendirikan Haram di Yathrib yang disebut Madinah (dari konsep senada Yehuda Medinatun).

(3) Ahmad ibn Abdullah berasal dari tarekat atau kelompok keagamaan yang disebut Hanif, dan dari klan Quraish. Tarekat ini tidak mengidentifikasi dirinya dengan nama tertentu sebagaimana tarekat-tarekat pada masa purbakala, melainkan nama panggilan yang biasa diberikan orang lain kepada mereka. Salah satu yang paling masuk akal secara organik (secara antropologi-sosial), mereka disebut Hanif karena kebanyakan para pengikutnya berasal dari klan Hanafiyyah.

(4) Pada 612 M, dua tahun setelah Ahmad menerima panggilan untuk berdakwah meneruskan para mentornya, Ahmad mendeklarasikan bahwa jalan spiritual atau sampradaya para mentornya adalah Islam. Gerakan keagamaannya berfokus pada masalah-masalah keadilan sosial, intoleransi akibat takfirisme, dan kesadaran mengenai satu realitas mengenai kemanusiaan dan kehidupan bersama-sama di bumi (yang ini kerap diterjemahkan ke dalam teologi yang artifisial).

(5) Ahmad kemudian digelar Muhammad, yang diambil antara lain dari Kidung Sulaiman (5:16), “Segala padanya adalah Muhammad.” Tradisi memberi nama baru kepada seseorang yang menerima suksesi sebagai guru dan dengan peran dan fungsi baru adalah hal yang lazim ada dalam berbagai tradisi parampara di seluruh dunia.

(6) Klan-klan yang banyak disebut dalam riwayat-riwayat sejarah Islam adalah masyarakat adat merkantil yang hidup sebagai di wilayah urban. Artinya, mereka tinggal di perkotaan, dan memiliki kebiasaan melakukan perdagangan antar kota, melewati gurun pasir, melakukan pelayaran dari kota-kota pelabuhan purba, dan seterusnya, setelah sebelumnya mereka biasanya hanya membangun tenda-tenda dan membangun kota-kota nekropolis untuk melakukan ritual nyadran (ziarah leluhur).

(7) Wilayah di mana Muhammad SAW dan mentor-mentor sebelumnya berdakwah ialah di wilayah seluas Arabia yang meliputi wilayah urban seperti Nabatea di barat daya dan utara, ujung wilayah Nabatea ialah Dekapolis (sepuluh kota berbudaya Hellenis), wilayah pedesaan dan oasis seperti Arabia Tengah, sampai ke wilayah yang selatan dan sekitarnya yang merupakan wilayah-wilayah kerajaan.

(8) Geopolitik pada no (6) itu menunjukkan masyarakat adat merkantil ini diapit dua raksasa saat itu yaitu kekaisaran Romawi (pada masa Muhammad SAW, kaisarnya ialah Heraklius), dan kekaisaran Persia (pada masa Muhammad SAW, kaisarnya ialah Khusraw II). Sementara itu, Haram Madinah yang baru didirikan dengan mengangkat Muhammad SAW hanyalah suatu wilayah seujung kuku.

(9) Identifikasi Yahudi dan Kristen pada masa Muhammad dalam riwayat-riwayat awal Islam sesungguhnya merujuk kepada dua hal sederhana yang kerap diabaikan para sejarawan dan teolog. Yahudi adalah Bani Israil yang menolak otoritas spiritual dan religius Yesus Kristus, sedangkan Kristen adalah Bani Israil yang menerima otoritas tersebut pada Yesus Kristus, termasuk yang konversi (Israil Baru) karena menerima otoritas tersebut.

(10) Islam yang dideklarasikan Muhammad pada 612 mengakui klaim Kristen, tetapi menolak monopoli kebenaran dan takfirisme gereja-gereja Barat dan Timur, termasuk menolak “Manifest Destiny” yang gencar dilakukan kekaisaran Romawi ke wilayah-wilayah Arabia.

(11) Kekaisaran Persia sedang mengalami kemerosotan, antara lain karena Khusraw II digulingkan salah satu anaknya, sedangkan anak yang digadang-gadang sebagai penggantinya meninggal dunia karena Wabah Yustinian (wabah yang sempat menginfeksi Yustinus I, beberapa dekade sebelum Ahmad lahir). Kekaisaran Persia di bawah Khusraw II mengakomodasi Kekristenan, terutama Nestorian, dan salah satu permaisurinya sendiri adalah seorang Kristen. Sebelumnya, Persia adalah pendukung Lakhmid di Arabia yang Kristiani sampai dibubarkan sekitar tahun 600an M.

(12) Kekaisaran Romawi juga sedang mengalami kemerosotan semenjak Pandemi Yustinian pada 520an M. Mereka disokong oleh Ghassan di wilayah Muhammad SAW tersebut, tetapi secara wilayah teologis, wilayah Arabia termasuk sebagai wilayah Kekristenan Oriental yang didominasi oleh Monofisit. Berbeda dengan Romawi yang merupakan Kekristenan Barat.

(13) Karena berada di antara kedua raksasa tersebut, maka geopolitik regional itu turut mempengaruhi geopolitik di wilayah Muhammad SAW, terutama terkait Mekkah sebagai kota sekaligus nekropolis terpenting tempat ziarah leluhur – suatu haram yang amat signifikan saat itu.

(14) Pada 614 M, karena telah mendeklarasikan dan membuka dirinya, para pengikutnya mulai mengalami persekusi. Sebagian dari mereka kemudian mengungsi ke Abissinia, wilayah Kekristenan Oriental lain yang dikenal “tak ingin dikangkangi Romawi”.

(15) Pada 617-619 M, akibat memiliki semakin banyak pengikut dan semakin aktif, Muhammad SAW dan kelompoknya mengalami boikot, bertujuan untuk membungkam dan menghentikan mereka aktifitas mereka sebagai para SJW. Setelah boikot dicabut, dua pendukung utama Muhammad (dua mentornya: Khadijah dan Abu Thalib) meninggal dunia.

(16) Keadaan no (13) menyebabkan Muhammad SAW menerima tawaran para pemuka adat Yathrib – yang Yahudi – untuk memimpin pembangunan Yathrib sebagai Madinah. Mereka bertemu di Taif pada 620 M.

(17) Selama 8 tahun itu Muhammad SAW harus terlibat dalam 6 perang yaitu Badr, Uhud, Khandaq, Khaibar, Mut’ah dan Hunain, serta Ekspedisi Tabuk. Semua perang dan satu ekspedisi tersebut berkaitan dengan upaya menyintas dari rongrongan klan Quraish dan para sekutunya, serta klan-klan yang memihak kekuatan Romawi menguasai Arabia. Analoginya adalah Muhammad SAW dan kelompoknya adalah kaum priyayi dan bangsawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, melawan bangsawan-bangsawan Nusantara yang ingin tetap mempertahankan berada dalam pemerintahan Hindia Belanda.

(18) Surah Anfal merupakan surah yang disampaikan dalam periode Madinah, yang disampaikan sesudah Perang Badr – perang untuk menyintas dari rongrongan Quraish dan koalisinya.

[B] Latar Belakang untuk Memahami Alquran

(1) Secara genre sastra, Alquran adalah puisi. Sementara itu, hampir seluruh alih bahasa Alquran yang tersedia biasanya dilakukan dalam genre non-puisi. Ini adalah suatu distorsi yang amat bermasalah bagi memahami teks-teks Alquran.

(2) Saya berpandangan bahwa Alquran adalah karya sastra (transmisi kearifan dalam bentuk bahasa) yang diilhami Allah – bahasa umat Islam adalah wahyu, sedangkan bahasa modernnya adalah, “inspired by God”. Bagaimana pun, puisi yang amat indah dan mendalam, dengan struktur yang kuat dan unik, serta kosakata dan diksi yang terpilih, dan seterusnya, adalah wahyu ilahi yang membuat kualitas penyair berbeda-beda, apakah syair yang dihasilkannya adalah mahakarya atau bukan.

(3) Selain alih bahasa dalam genre non-puisi, penerjemahan genre puisi ke dalam bahasa asing tetap akan menghasilkan distorsi, apalagi jika terdapat struktur dan kode seperti akrostik, rima, penekanan bunyi, matra, dan seterusnya.

(4) Alquran merupakan karya sastra ilahi yang sangat luar biasa karena hampir sukar ditandingi estetika dan kedalamannyanya menurut bahasa Arab purba saat itu, sama seperti ketika beberapa ribu tahun sebelumnya muncul puisi yang kita kenal sebagai kitab Ayub, dalam bahasa yang bisa saya sebut sebagai paleo-Arab purba.

(5) Dalam hal estetika, pola medrasse dalam Alquran yang dapat disenandungkan, merupakan keunggulannya sebagaimana halnya Mazmur yang diwahyukan dalam bahasa Ibrani dan kemudian memiliki kode not musik dalam Teks Masoretik. Sementara itu dalam hal kedalaman, gaya midrash dalam Alquran dalam bentuk puisi adalah di antara gaya kontemplatif yang membuatnya semakin sukar ditandingi.

(6) Telah terjadi kanonisasi sebanyak dua kali ke atas teks-teks Alquran yang mana setiap murid yang menerima sampradaya Muhammad SAW memiliki salinannya, terutama yang disalin oleh murid utamanya Imam Ali (yang kelak meneruskannya sebagai guru dalam suksesi guru, atau tradisi parampara), Fatimah Az-Zahra, putrinya dan istri Imam Ali, serta Zaid ibn Tobit, juru tulis Muhammad SAW sejak di Madinah.

(7) Kanonisasi pertama pada masa khalifah Usman, tidak mengindikasikan pengharaman total salinan-salinan lain, melainkan hanya upaya untuk menerbitkan antologi resmi, yang tampaknya berkaitan dengan penyeragaman aksara yang digunakan. Perlu diingat bahwa perkembangan bahasa-bahasa rumpun Semit (dan bahasa-bahasa secara umum) amatlah rumit. Ada kalanya suatu bahasa menggunakan aksara bahasa asing, seperti terjadi di Yaman, ada teks-teks Alkitab dalam bahasa Ibrani ditulis dalam aksara Arab. Ini seperti juga bahasa Melayu dan bahasa Jawa ditulis dalam sistem aksara Arab-Persia dikenal sebagai aksara Jawi dan Pegon.

(8) Namun, kanonisasi kedua pada masa khalifah Abdul Malik, di bawah kepanitiaan Al-Hajjaj, mengindikasikan pengharaman terhadap salinan-salinan lain. Kanonisasi kedua ini merupakan bentuk unifikasi atau penyeragaman, dalam hal pemberian diakritik, dan kemudian pelafalan dalam menyenandungkan. Ia mulai dilakukan 5-7 tahun setelah peristiwa Karbala (680 M), untuk memulihkan citra dinasti Umayyah.

(9) Mengetahui pembentukan komite kanonisasi ini, Muhammad Al-Hanafiyyah sebagai pemuka klan Hashimiyah (klan Muhammad SAW dan Imam Ali) saat itu berusaha meletakkan kader-kader terbaiknya (yang menerima sampradaya Imam Ali, Hasan, dan Husein) ke dalam komite. Sementara itu ia sendiri bernegoisasi dengan Abdul Malik demi menyintaskan sampradaya Muhammad SAW, karena menyadari Abdul Malik dan Al-Hajjaj sedang menciptakan agama baru: Neo-Islam yang akan melahirkan Pseudo-Islam. Sejarawan Fred M. Donner menegaskan syarahan menurut sampradaya Daudiyah-Bektashiyah, bahwa Islam yang kita kenal hari ini, yang memisahkan diri dari Kekristenan dan Yudaisme, telah diciptakan Abdul Malik dan mitra terbaiknya Al-Hajjaj.

(10) Namun, sekitar tahun 700 M, Muhammad Al-Hanafiyyah (putra satu-satunya Imam Ali dengan Khawla Al-Hanafiyyah ini) menghilang – [saya mengambil versi sejarah minoritas dari kalangan Kaisaniyah yang juga tersimpan dalam sastra Melayu klasik]. Muqatta’at yang tetap dapat kita temukan dalam naskah kanonisasi meski ada satu naskah yang diabaikan, menunjukkan intervensi murid-murid Muhammad Al-Hanafiyyah yang terlibat dalam komite.

(11) Selain karena tidak mempelajarinya sebagai mahapuisi yang indah, yang perlu dibaca juga dengan pendekatan batin tak hanya logika, distorsi yang terjadi dalam Dunia Muslim saat ini dalam mempelajari Alquran adalah karena pada umumnya mempelajarinya melalui tradisi skolastik (sekolah) dan tradisi majlis akbar (massal) saja. Bukan melalui tradisi sampradaya (transmisi personal dari guru kepada murid) melalui tradisi parampara.

(12) Dua tradisi tersebut (sampradaya-parampara) membantu seorang murid memahami Alquran menurut level intelektual dan spiritualnya; memahami substansi dan esensinya berdasarkan level-level dan kondisi dirinya sebagai murid yang unik. Sementara itu, tradisi skolastik (madrasah; pesantren; hawza, dan seterusnya) membantu dengan pendekatan kontekstual untuk mengatasi distorsi pendekatan tekstual.

(13) Tradisi Daudiyah-Bektashiyah sebagaimana dalam Buyruk Alfurqan, menggunakan tiga tradisi tersebut, dimana dalam pendekatan kontekstual maupun tekstualnya ialah menekankan titik temu interteks Alquran dalam menemukan esensi dan substansinya adalah pada Albaqarah 53, yang menyebut Dekalog sebagai Alfurqan. Alfurqan merupakan tes litmus untuk memahami konteks dari setiap teks Alquran.

(14) Perlu diingat bahwa tidak semua pengikut Muhammad SAW menerima sampradaya Muhammad SAW atau dikadernya, melainkan menerima transmisi dari tradisi massal. Karena itu mereka disebut sahabat Muhammad SAW. Semua murid Muhammad SAW yang menerima sampradaya, tentu adalah sahabat beliau, tetapi tidak semua sahabat Muhammad SAW adalah murid beliau yang menerima sampradaya.

(15) Dari no (11), itu sebabnya, ketika dulu ada pertanyaan kepada saya mengapa dalam tradisi Daudiyah menafsirkan teks kitab Wahyu 5 bahwa yang dapat mengajarkan Alquran adalah Imam Ali, bukan Muhammad SAW sendiri, sebenarnya yang dimaksud karena setelah Muhammad SAW wafat, barulah seluruh syair-syair wahyu ilahi itu dapat selesai dikodifikasi, dan Muhammad SAW telah mengkader Imam Ali dan putrinya Fatimah untuk mengajarkan setiap karya dan pemikirannya. Kemudian, Imam Ali mengkader anak-anaknya mulai dari Hasan, lalu Husein, dan Muhammad Al-Hanafiyyah, dan putri-putrinya, yang kemudian dilanjutkan dalam tradisi sampradaya dan parampara yang lurus sampai seterusnya, ke hari ini.

[C] Hadis tentang Memotong Lidah Penghina Muhammad SAW

Terdapat suatu hadis yang diriwayatkan dari Imam Jafar Sadiq (leluhur para habib di Indonesia), mengenai perintah Muhammad SAW kepada Imam Ali ibn Abu Thalib untuk memotong lidah seorang penyair yang telah membuat syair untuk menghina Muhammad SAW.

Diriwayatkan dari Imam Jafar Sadiq ibn Muhammad Baqir ibn Ali Zainal Abidin ibn Husain ibn Ali:

“Disampaikan bahwa pada masa Muhammad SAW memerintah Madinah, seorang penyair Non-Muslim telah memutuskan mengarang syair untuk menghina Muhammad SAW. Tatkala para Sahabat mendengarnya, mereka menangkap penyair tersebut dan membawanya kepada Muhammad SAW. Sang Nabi kemudian menatap pria tersebut dan bertanya, ‘Di mana saudaraku Ali?’ Terdengar Ali menjawab, ‘Saya di sini, Tuan Guru.’

“Sang Nabi kemudian berkata kepada Ali, ‘Pergilah dan potonglah lidah pria ini.’ Mendengar itu, Ali kemudian membawa pria tersebut dan pergi meninggalkan mereka. Sejumlah Sahabat kemudian mengikuti Ali untuk melihat di mana Ali membawa penyair itu dan memotong lidahnya. Kemudian, pada suatu titik, Ali berhenti dan berkata kepada si penyair, ‘Duduklah.’ Kemudian Ali meminta pembantunya Kamber untuk menghidangkan makanan kepadanya. Ali meminta penyair itu makan sebab mengetahui bahwa si penyair itu lapar.

“Ali kemudian menelisik keadaan rumah penyair itu dan menemukan bahwa penyair itu sedang berada dalam masalah finansial dan memiliki sejumlah anak, yang salah satu sedang sakit keras. Ali kemudian memerintahkan kepada Kamber untuk membawakan kepadanya seekor unta dan sekantong dirham. Ali kemudian memberikan unta dan kantong dirham itu kepada si penyair.

“Para Sahabat melihat hal tersebut dan bergegas menemui Sang Nabi. Mereka memberitahu bahwa Ali telah tidak mematuhi perintah Sang Nabi dengan membiarkannya pergi, tidak memotong lidahnya. Sang Nabi tersenyum dan berkata, ‘Besok siang saat salat zuhur, akan kujelaskan kepada kalian.’

“Keesokan siang saat salat zuhur, si penyair datang ke masjid. Pada tangannya terdapat suatu gulungan. Dia menemui Sang Nabi dengan berlinangan air mata dan meminta maaf. Dia meminta Sang Nabi agar membacakan syair yang semalam telah dirangkainya, yang memuji Sang Nabi. Sang Nabi berterimakasih kepadanya dan berkata, “Sahabat-sahabatku, ketika kusuruh Ali untuk memotong lidah lelaki ini, Ali mengetahui dengan pasti apa yang kumaksud. Ali telah memenuhi perintahku dan memotong lidah fitnah* penyair ini.”

Hadis tersebut dinarasikan dalam “Daim al-Islam” dan berbagai sumber lain, di antaranya dalam varian “Cerita Abbas ibn Mardas.”

Membaca bagian terakhir dari hadis tersebut, maka saya langsung menemukan bagaimana Muhammad SAW mengatasi pelanggaran sila ke-9 dalam Dekalog atau 10 Perintah Allah yang dalam Alquran disebut sebagai Alfurqan. Sila itu adalah, “Jangan bersaksi dusta tentang saudaramu.” Bersaksi dusta dengan kata lain adalah fitnah, hoaks dan berita bohong tentang seseorang untuk mendiskreditkan, mensetankan (demonisasi), merendahkan, menistakan dan menghujatnya.

[D] Mengambil Sepotong-sepotong Ayat Alquran

(1) Jadi ada sekitar empat pendekatan terhadap Alquran yang menghasilkan distorsi yang telah saya jelaskan (5 kata kuncinya adalah tidak membacanya sebagai puisi, karena alih bahasa, adanya kanonisasi, tidak melalui tradisi sampradaya-parampara, dan masalah kontekstual-tekstual).

(2) Sementara itu ada dua kelompok yang saya ingin cermati yaitu [a] mereka yang menggunakan teks-teks Alquran seperti Al-Anfal itu untuk melakukan kekerasan atas nama agama, Allah dan Rasulullah, maupun (b) mereka yang menggunakannya untuk mendiskreditkan dan mensetankan Islam, karena melihat perilaku, doktrin dan ideologi [a] maupun kezaliman yang dilakukan Neo-Islam yang mengklaim Pseudo-Islam mereka sebagai Islam.

(3) Masalahnya bukan hanya pada no (1), tetapi juga bahwa dua kelompok tersebut memenggal ayat yang ingin mereka manfaatkan saja, dan dimanfaatkan dengan pendekatan no (1). Padahal masih banyak ayat-ayat Alquran yang secara tekstual dapat dibaca sebagai syair-syair yang bertolak belakang dengan klaim-klaim mereka, lihat no (4) dan (7) di bawah ini.

(4) No (3) dapat juga terjadi karena kedua pihak tidak menggunakan titik temu interteks yang ajeg sebagaimana tradisi Daudiyah-Bektashiyah, yaitu nilai-nilai luhur Dekalog/Alfurqan.

Contoh-contoh yang dapat diambil secara tekstual adalah sebagai berikut:

(a) Hamba-hamba Allah haruslah rendah hati ketika diolok-olok dan harus merespon dengan “Damai” (Alfurqan: 63)

(b) Mengabaikan mereka yang terlibat dengan wacana yang saling melecehkan sampai membahas wacana lain (Yunus: 65)

(c) Ketika dirundung dan diolok-olok, untuk mengabaikan mereka dan berkata, “Damai” (Alzukhruf: 88-89)

(d) Almaidah 32

(5) Hadis-hadis yang dimanufaktur selama masa Abbasiyah, setelah bahan bakunya ditambang pada masa Umayyah (dan tiga khalifah sebelum Ali membuka jalan bagi eksplorasi tambang itu) kemudian diskripturalisasi dan distempel sahih, memang banyak yang memuat pembunuhan karakter terhadap Sang Nabi.

Tujuannya antara lain adalah untuk melegitimasi sejumlah karakter zalim para khalifah (sejak era Umayyah) dan para sekutunya. Sebagian besar dari hadis-hadis itu adalah fabrikasi mengada-ada karena begitu mendetail menceritakan ranah privat Sang Nabi. (Dan, saya juga sudah menjelaskan panjang lebar mengenai penindasan dan persekusi terhadap para guru dalam parampara Muhammad SAW semasa Umayyah dan Abbasiyah, bahkan sampai masa Ottoman dan hari ini).

(6) Itu sebabnya, prinsip dasar dari menerima hadis-hadis adalah nilai-nilainya mesti selaras dengan nilai-nilai Alquran, sementara dalam tradisi Daudiyah-Bektashiyah sendiri sudah disebut bahwa untuk memahami nilai-nilai fundamental, esensial dan substansial Alquran ialah dalam cahaya Dekalog/Alfurqan.

(7) Namun, kita masih dapat menemukan banyak hadis yang selaras dengan nilai-nilai Alquran sesuai no (6) itu. Contoh-contohnya adalah:

(a) La Taghdab: Seorang lelaki mendatangi Rasulullah dan meminta, “Berilah aku suatu nasehat yang bagus.” Rasulullah menjawab, “Jangan marah.” Lelaki itu datang meminta untuk kali kedua, “Berilah aku suatu nasehat yang bagus.” Rasulullah menjawab lagi, “Jangan marah.” Lelaki itu datang untuk kali ketiga, meminta hal yang sama. Rasulullah menjawab untuk kali ketiga, “Jangan marah (la taghdab).” (Sahih Bukhari; Muwatta Malik; Kulaini dalam Al-Kafi).

(b) Rasulullah bersabda: “Tiga perkara jika dimiliki (seseorang) maka lengkaplah sifat-sifat keimanan pada dirinya: 1. Jika senang atas sesuatu, kesenangan itu tidak menjerumuskannya ke dalam kebatilan; 2. Jika marah, kemarahan itu tidak membuatnya keluar dari jalan kebenaran; dan 3. Jika kuat tidak menjadi rakus atas apa yang bukan haknya.”(Tuhaf Al-‘Uqul halaman 43).

(c) Rasulullah bersabda, “Seorang yang kuat bukanlah yang menjatuhkan musuhnya ke tanah. Seorang yang kuat ialah yang seseorang yang mengendalikan dirinya ketika ia marah.” (Sahih Bukhari; Sahih Muslim; Riwayat Imam Ali ditemukan dalam Mizan Al-Hikmah).

(d) Imam Jafar Sadiq bersabda, “Kemarahan adalah kunci untuk segala angkara kejahatan.”

[E] Kesimpulan

Maka, untuk memahami teks surah Al-Anfal yang menjadi salah satu rujukan bagi doktrin-doktrin Pseudo-Islam dan pemahaman dari mereka itu menjadi salah satu akar kekerasan yang merusak Islam, pada bagian [C] kita telah membandingkannya dengan suatu hadis dari Imam Jafar Sadiq. Ini menunjukkan pentingnya pengajaran Alquran melalui guru yang lurus dalam tradisi sampradaya-parampara, selain tradisi skolastik dan tradisi massal. Dan, baru satu teks ini saja sudah sepanjang dan semelelahkan ini! Hehehe.

Saya harap sahabat-sahabat saya seperti…. dan terutama sahabat-sahabat dari latar belakang Non-Muslim tidak lagi membuat saya harus mengulang-ulang penjelasan saya ini. Terutama saya berharap untuk berhenti menyebarluaskan ajaran-ajaran Pseudo-Islam dari Neo-Islam yang telah menindas leluhur kami para guru dan Muslim yang mengajarkan ajaran-ajaran luhur dari Muhammad SAW. Agar kita tidak membesarkan mereka yang jahat dan zalim, karena titik temu kita adalah sama-sama satu kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, perdamaian dan cinta kasih.

Billahi fisabilil haq fastabiqul khairat.

Siddhamastu,

Syekhah Hefzibah ~ R.A Gayatri W. Muthari

1 November 2020.

Sumber rujukan utama:

Buyruk Alfurqan,

Bibliografi yang panjang dalam buku yang sedang saya rapikan.

Ali sebagai Tunas Daud dan Singa Yehuda




Dalam sejumlah tulisan saya sebelum ini yang saya kutip dan ringkas dari buku yang saya kerjakan “Petualangan Yohanes Patmos: Historisiografi Nubuat Injil Wahyu mengenai Islam menurut Buyruk Alfurqan”, saya telah banyak membahas mengenai Ahmad ibn Abdullah sebagai seorang Yahudi.

Tulisan ini khusus saya kutip dan ringkas terkait argumentasi saya mengenai Injil Wahyu Pasal 5 dari naskah tersebut untuk merunut sanad para mursyid atau parampara Muhammad bahwa sampradaya mereka berasal dari Yesus Kristus dan Bani Israil. Sebagaimana yang telah saya bahas, sampradaya adalah tradisi transmisi kearifan dan ilmu secara personal dari seorang kepada seorang lainnya, sedangkan parampara adalah suksesi dari guru kepada guru berikutnya.

Dengan kata lain, parampara adalah silsilah para mursyid, baik mursyid tersebut adalah mata rantai utama maupun bukan, sehingga terkadang ada mursyid yang tidak disebutkan (biasanya juga berkaitan dengan lelaku spiritualnya yang tidak ingin dikenal). Oleh karena itu, istilah-istilah yang saya gunakan di sini adalah istilah-istilah Sanskrit maupun istilah-istilah khas Bektashi. Sanskrit, untuk menunjukkan rantai silsilah yang tak terputus, dan Bektashiologi, untuk menunjukkan Bektashi menitiktemukan jutaan cabang Islam, Yahudi dan Kristen yang berserakan dari keagamaan Israil ini. ***

Ali ibn Abi Thalib merupakan mursyid generasi ketujuh tarekat Hanif dari dergah Ahmad ibn Abdullah. Nama Ali antara lain diambil dari nama mursyid bagi Samuel ibn Hannah yang merupakan seorang dede baba di Shiloh (1 Sam 1-3). Ahmad (Kej 3:6; Ams 21:20) bergelar Muhammad (Kidung 5:16; Enokh 89:40; Enokh 91:20; Maz 106:24) merupakan suami, kekasih dan murid Khadijah (qadima; qadama). Albaqarah 187 merekam ritus pernikahan Khadijah dengan Muhammad sesuai tradisi Israil (Kidung 3:11; Rut 3:9; Mal 2:16) yaitu nostrifikasi (simbol permaklumatan sahnya pernikahan mereka).

Ali ibn Abi Thalib adalah murid dan musahip Muhammad (Enokh 89:40). Muhammad adalah mursyid generasi keenam dan parapatparaguru bagi Islam karena mendeklarasikan dergahnya sebagai Islam secara publik pada 612 M.

Abu Thalib atau Imran (Kel 6:18) adalah ayah kandung Ali ibn Abi Thalib. Imran adalah mursyid generasi kelima. Di antara mursyid generasi kelima yang terkenal adalah Waraqah ibn Naufal.

Abdul Muthalib atau Sheba (Kej 10:7; 1 Taw 1:9) adalah mursyid generasi keempat. Abdul Muthalib adalah kakek paternal Ali ibn Abi Thalib.

Hashem (Im 24:11) adalah mursyid generasi ketiga. Hashem ibn Abdul Manaf adalah kakek buyut paternal maupun maternal Ali ibn Abi Thalib. Abdul Manaf atau Al-Mughira (Gad; gadad; Kej 49:19) adalah murid dalam generasi kedua tarekat Hanif.

Abdul Manaf adalah canggah Ali ibn Thalib maupun kakek Umayyah – seorang elit Quraish pendukung Bizantin Romawi. Qusai ibn Kilab atau Zaid (zalakh; Kej 24:40) adalah murid dalam generasi pertama tarekat Hanif dari dergah yang didirikan Khalid (olam; Kej 3:22; Kel 15:18).

Khalid ibn Sinan adalah parapatparaguru Hanif karena dergahnya memapankan tradisi Yudeo-Kekristenan yang berbeda dari komunitas-komunitas Yahudi dan Kristen lain di wilayah Nabatea, Ghassan, dan Lakhmid itu, dari sanad yang diperolehnya.

Berikut adalah antara lain para perempuan Yahudi dalam keluarga Ali ibn Abi Thalib.

Ibunya bernama Fatimah bt Asad ibn Hashem. Fatimah adalah nama istri kedua Ismail yang dibawa Hajar [midrash “Pirkei de-Rabbi Eliezer” ed. Higger, bab 29]. Ibu Fatimah bt Asad adalah Zahna bt Hofni. Zahna adalah nama Yunani yang biasa digunakan Yahudi semenjak penjajahan Yunani dan Romawi. Kafna atau Hofni (1 Sam 2) adalah rosh galut atau kapitan komunitas Yahudi di Baghdad. Nama ini berarti Allah Maha Rahayu.

Neneknya Fatimah bt Amr adalah putri dari wangsa Hawazin, wangsa Yahudi, dari wangsa Mudar. Nenek buyut Ali ibn Abi Thalib, yaitu istri Hashem, bernama Salma bt Amri. Salma (1 Taw 2:11) berasal dari klan Adi banu Najjar. Bibinya Aminah bt Wahab bt Abdul Manaf dari wangsa Zuhrah.

Aminah (1 Taw 2:10) adalah ibu kandung Muhammad. Wangsa Zuhrah (zohar; Yeh 8:2) adalah komunitas Yahudi di Nabatea. Bibinya Adiah bt Asad (saudari kandung Fatimah bt Asad) menikah dengan Bustanai, rosh galut di Baghdad.

Adiah melahirkan Hananiah [Haninai al-Nehar Pekkod ben Bustanai bar Adai] yang kemudian menjadi rosh galut dan gaon di Sura, Suriah. Seorang cucu Hananiah bernama Anan ibn Daud adalah salah satu pendiri mazhab Karaite Yahudi, dan dikenal pernah satu tahanan dengan Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafi, sehingga mereka bersahabat di situ.

Jadi, sekarang kita telah melihat bahwa Ahmad ibn Abdullah adalah guru paling cemerlang dari abad ke-6 dan 7 M dalam parampara ini. Adapun guru-guru sebelumnya yaitu pada abad ke-5 dan 4 M adalah Imran, Hashem, Waraqa ibn Naufal, dan Zaid ibn Amr. Antara lain dalam kitab karya Baqir Al-Majlisi diceritakan mengenai seorang nabi bernama Khalid ibn Sinan. Parapatparaguru bagi Hanif ini hidup pada akhir abad ke-3 M hingga abad ke-4 M, meski sejumlah dongeng mengatakan ia ada sejak setelah kematian Yahya ibn Hannah dan Isa ibn Maria.

Khalid ibn Sinan adalah salah seorang murid cemerlang Lukman Sang Arif, mursyid yang nama dan kearifannya diabadikan dalam Alquran, bersama-sama Rahib Musa (wafat sekitar 380 M).

Rahib Musa dikenal sebagai dede baba pertama Arab bagi dergah-dergah Isa ibn Maria di Arabia. Rahib Musa ditakdiskan oleh Ratu Mawiyya – pemimpin orang-orang Ghassan yang terkenal dari abad ke-4 M. Meski Rahib Musa seorang dede baba, tetapi dia tetap menjalankan lelaku kalandariyah-nya. Kemasyhuran Rahib Musa sepadan dengan kemasyhuran Rabbi Yoshua (abad ke-3 M) oleh karena legenda karomah mereka dikenal luas pada akhir abad ke-4 M. Inilah mengapa nitisastra dalam Al-Kahfi 65-82 memiliki parallel dengan nitisastra Rabbi Yoshua dengan Elia.

Lukman Sang Arif adalah murid Polikarpus, dede baba pertama di Smirna, Anatolia. Kita mengetahui murid Yohanes Sang Murid Terkasih. Dergah-dergah di Smirna telah dinubuatkan dalam Injil Wahyu (2:9-10). Dergah-dergah ini mengalami fitnah dari Pseudo-Yahudi (yaitu yang tidak mengakui dan tidak menerima otoritas religius Yesus ibn Maria).

Meski mereka adalah dergah-dergah yang susah dan miskin, mereka sesungguhnya kaya, dan bilamana istiqomah dalam iman akan dikaruniai taj kehidupan. Taj kehidupan masih menjadi lambang penting ke-darwis-an bagi para darwis Bektashi setelah mereka diinisiasi, selain batu “taslim tasi” (Wah 2:17). Selain itu, Lukman Sang Arif juga murid Addai, dede baba di Edessa, murid Thomas Sang Peragu. Khalid ibn Sinan berasal dari wangsa Hanafiyah dari wangsa Rabiah, sedangkan Qusai berasal dari wangsa Quraish dari wangsa Mudar. Baik Mudar maupun Rabiah adalah wangsa Nizar (Bil 6). Dua di antara cabang wangsa Nizar adalah Mudar (orang asing; yang berhasil menyelamatkan diri; Maz 69: 8) dan Rabiah (keempat; Kel 20:5).

Wangsa Nizar adalah cabang wangsa Maad (malat; Kej 19:17) dari wangsa Adnan (berkemah; Bil 10:31). Maad ibn Adnan adalah darwis Rekhabiyah yang ikut bersama Yeremia ibn Hilkhiah dan Barukh ibn Neriya ke Mesir. Ketika Gedaliah dibunuh oleh Ismail ibn Nathanian, Yohanan (Yohanes; Yahya) putra Raja Yosiah membawa Yeremia dan Barukh ke Mesir untuk menghindari penjajahan Babilonia.

Di antara mereka terdapat sejumlah wangsa Dan yang kemudian ikut bersama kabilah Maad saat ia kembali ke Arabia. Di Yaman dan Abissinia, sejumlah suku masih mengklaim sebagai Rekhabiyah dan wangsa Dan, menurut sejumlah pengembara pada abad ke-20 M.

Wangsa-wangsa Adnan terkenal sebagai para penguasa padang pasir dengan budaya merkantil mereka yang canggih – sesuai nama leluhur mitologis mereka, yang berkemah, dan tidak memiliki batas-batas geografis kebangsaan mereka sebagaimana kekaisaran Persia dan Romawi. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai bangsa Nabatea, dan cikal bakal bagi orang-orang Ghassan dan Salehi. Dialek wangsa Mudar merupakan bahasa darwis-darwis Hanif. Sepertinya adalah kreol Aram Barat dan Timur (Suryani dan Nabatea) dengan Semit Baratdaya (Arab).

Oleh karena budaya merkantil tersebut, dan tradisi nyadran (ziarah ke makam leluhur) yang disebut haji dan umrah, mereka adalah bangsa yang sesungguhnya majmuk dan berupaya memelihara “bhinneka tunggal ika” dalam kehidupan berbangsa dan tradisi itu. Jadi, misalnya, meski Hashem ialah seorang pejabat Mekkah (tempat ziarah), ia harus bertoleransi dengan agama-agama saudara-saudara wangsa Adnan-nya yang lain. Agama bukanlah pemersatu mereka, tetapi tradisi nyadran itu untuk mengingat leluhur mereka.

Jadi, ada di antara wangsa Maad yang masih memelihara tradisi yang diajarkan mursyid Maad ibn Adnan, yaitu Yeremia ibn Hilkiah. Di antara tradisi itu masih dapat kita lihat dalam berbagai komunitas Muslim saat ini, yaitu berpuasa pada bulan kesembilan (Yer 36:9), azadari oleh umat Syiah (Yer 9), dan skripturalisasi, yang secara khusus oleh Zaid ibn Tobit.

Nama Islam sebagai gerakan baru bagi Hanif sejak 612 M itu juga antara lain di ambil dari Yeremia, selain Mazmur, Yesaya dan Yehezkiel (Yer 6:14; Yer 8:11; Maz 120; Yes 26:3; Yeh 13:10; Yeh 13:16). Di samping itu, kita melihat kitab Yeremia merupakan rujukan penting bagi kitab Enokh. Selain kitab Yubileum, kitab Enokh merupakan salah satu kanon umat Yahudi dan Kristen Oriental.

Tema-tema dalam tiga kitab ini dapat Anda dapat temukan dalam ayat-ayat Alquran antara lain yang surah-surahnya dimulai dengan muqataat kaf, ha, dan ya. Sebelum konfederasi wangsa-wangsa Ismail dan Esau (Edom; Ad), separuh leluhur mereka dikenal sebagai orang-orang Keni, Kenizzi dan Kadmon (Kej 15) dan nama Keni digunakan untuk menyebut wangsa Yethro, mursyid Musa ibn Imran. Dalam Kejadian 15 kita melihat Keni, Kenizzi dan Kadmon diletakkan dalam satu susunan, menunjukkan wilayah rumpun bahasa mereka, yaitu yang bertutur bahasa-bahasa Aram (Semit Barat) dan Semit Baratdaya. Mereka adalah leluhur para penutur bahasa Aram (Nabatea, Suryani) dan Semit Baratdaya (Arab dan Saba).

Dari sini, kita dapat melihat silsilah keagamaan Hanif adalah tradisi Rekhabiyah dan tradisi Yeremiani, sebagaimana ada lelaku kalandariyah, malamatiyah, dan lain-lain, yang dapat menjadi opsi bagi para darwis Bektashi. Rekhabiyah merupakan cikal bakal sufisme Israil sejak masa solidnya konfederasi wangsa Israil. Yohanadab ibn Rekhab merupakan parapatparaguru bagi tradisi Rekhabiyah yang merupakan dimensi spiritual sebagian orang-orang yang dulunya disebut Keni. Jika lelaku Nazariyah merupakan lelaku yang dapat dilakukan seorang awam Israil secara temporer maupun permanen, maka Rekhabiyah merupakan suatu tarekat yang berkembang dari antara orang-orang Keni. Dapat dikatakan bahwa tidak semua orang Keni mengikuti tarekat Rekhabiyah. Asal usulnya dari Kisah Sinai.

Orang-orang Keni ikut dalam konfederasi Israil di bawah pimpinan dede baba mereka Yethro yang juga disebut Hobab dan Reuel. Kita mengetahui Yethro ialah dede baba di Midian dan ayah dari Zipporah. Jadi, Reuel ialah ayah mertua Musa ibn Imran. Nama ini muncul sekali dalam Alkitab karena merupakan kunya. Dengan demikian, kita melihat bahwa Yethro ialah keturunan Esau ibn Ishak dengan istri ketiganya Basmath atau Mahalath, putri Ismail ibn Ibrahim (Kej 36). Tujuannya, sebenarnya, untuk menunjukkan konfederasi wangsa Esau dengan wangsa Ismail. Di antara orang-orang Keni terdapat wangsa Hamath.

Wangsa Hamath adalah wangsa Rekhab di Yabes (1 Taw 2:55). Di pembahasan yang lalu saya telah membahas mengenai konsep abdi dalem anggota keluarga dalam budaya Israil. Jadi, seseorang dapat menjadi anggota keluarga (ocak; ndalem; kawula) Ali meskipun bukan keturunan biologis.

Maka dalam kasus ini, baik wangsa Hamath merupakan keturunan Rekhab secara spiritual maupun bukan, dia adalah ocak Rekhab. Padanannya dapat dilihat dalam Bektashi. Yang disebut orang-orang Bektashi antara lain termasuk (1) wangsa Kizildeli, putra kandung Bektash Wali, (2) orang-orang Alevi yang merupakan kelompok etnoreligius karena memilih ajaran Bektashi dimana para dede mereka biasanya berasal dari wangsa Kizildeli, (3) kemudian orang-orang sekitar mereka yang memilih diinisiasi sebagai Bektashi, (4) dari nomer ke-(3) terdapat kelompok Babagan dan kelompok Baba Ismail (leluhur Daudiyah) yang para mursyidnya bisa saja seorang Kizildeli, Alevi maupun orang asing. Oleh sebab itu, ada orang-orang Rekhabiyah seperti dalam kasus Elia dan Elisha sebagaimana yang ke-(3).

Ada pula yang merupakan kelompok etnoreligius sebagaimana no (2) seperti Yehonadab dalam teks Yeremia 35. Di sisi lain, Rekhabiyah tampaknya berfungsi sebagai jejaring gilda bagi orang-orang Keni, Nabatea, Kedar, Edom, atau Arab – nama-nama yang merujuk kepada satu rumpun tradisi nyadran yang sama – tetapi nama-nama ini berubah karena penguasa konfederasi mereka telah berubah dan masyarakat merkantil mereka pun telah berkembang.

Dari sini kita akan mengerti bagaimana sufisme Islam juga menjadi jejaring gilda dan turut mensukseskan Islamisasi. Wangsa Kedar antara lain adalah wangsa Hamal, yang menurunkan wangsa Nabat (nama yang digunakan untuk mengidentifikasi nama konfederasi berikutnya), yang menurunkan wangsa Salaman (nama yang dikenal pada masa Sulaiman), menurunkan wangsa Humaiz, menurunkan wangsa Al-yaffa, menurunkan wangsa Udad, dan akhirnya menurunkan wangsa Udd yang menurunkan wangsa Adnan.

Lelaku Rekhabiyah (Yer 35) mencirikan lelaku tertentu seperti lelaku zuhud atau asketik yaitu tidak boleh melakukan budidaya tanaman (baca: berfokus dengan pekerjaan yang ditugaskan secara turun-temurun kepada mereka yaitu pengrajin logam), lelaku teetotaler yaitu tidak boleh minum alkohol (baca: agar selalu eling) bahkan tidak boleh memiliki perkebunan anggur, dan lelaku nomadik yaitu harus hidup dalam kemah-kemah (baca: tidak boleh menguasai properti atau perumahan dalam kehidupan urban). Lelaku-lelaku tersebut berkaitan erat dengan mata pencaharian utama bangsa mereka sejak awal lahirnya, yang merupakan bangsa pedagang dan pengrajin.

Lelaku zuhud dan nomadik berkaitan dengan budaya merkantil mereka, sedangkan lelaku teetotaler berkaitan dengan kehidupan mereka di padang pasir. Wangsa Hamath disebut mempunyai tiga klan yang bekerja sebagai para carik di Yabes (1 Taw 2:55). Maka, tidaklah mengherankan bilamana orang-orang Rakhabiyah telah ikut menjadi abdi dalem istana-istana Daud sejak awal sekali karena leluhur mereka sudah menjadi para carik di Yabes.

Sekarang kita mengerti bagaimana tradisi Yeremiani yaitu skripturalisasi juga berakar dari Rakhabiyah. Dengan kata lain, dapat kita katakan Barukh ibn Neriyah (Yer 32:12; 51:59) ialah Rakhabiyah sebagaimana Yaazanya (Yer 35:3). Saudaranya Seraya ibn Neriyah bekerja sebagai pejabat urusan rumah tangga di kerajaan Yehuda. Sekarang kita telah melihat parampara yang jelas dimana terdapat Yaazanya, Barukh dan yang disebut sebagai orang-orang Rakhab dalam Yeremia 35, di dalamnya terdapat wangsa Maad. Ini artinya sekitar 600 SM.

Salah satu wangsa Mudar adalah wangsa Elia, dan wangsa inilah yang menurunkan wangsa Quraish. Hal ini menunjukkan tradisi Rakhabiyah yang dipertahankan, karena Elia merupakan parapatparaguru sekaligus paramestiguru yang penting bagi Rakhabiyah.

Sekarang kita tahu bahwa Rakhabiyah memang dimapankan oleh Yehonadab (2 Raja 10), sebagaimana Bektashiyah dimapankan oleh Balim Sultan pada abad ke-16 M. Tetapi, sebelumnya kita mengenal proto-Bektashi yang antara lain adalah Tapduk Emre dan muridnya Yunus Emre, maka begitu pula proto-Rekhabiyah yang disebut sebagai para carik sebelum Daud menjadi raja.

Di antara proto-Rekhabiyah pada sekitar 900 SM dikenal sebagai “Nabiullahiyah” (tarekat nabi-nabi Allah). Parapatparaguru bagi Nabiullahiyah ini adalah Elia Tishbi (Eliyahu; Ilyas) dan paramaguru utamanya adalah Elisha ibn Shafat (Ilyasa), yang dalam dongeng mengenai parampara atau suksesi keduanya terdapat kisah mengenai “rekhab” (kereta perang; Sanskrit: ratha). Salah seorang mursyid yang merupakan murid Elisha kemudian mengurapi Yehu sebagai raja Israil, dan kemudian dari kisah Yehu ini kita menemukan sosok Yehonadab yang mendukungnya sebagai raja oleh karena nubuat Elia untuknya. Seperti halnya proto-Bektashiyah yang dikenal dengan nama bermacam-macam, begitu pula proto-Rekhabiyah.

Saya meloncati silsilah antara Elia Tishbi kepada Yesus ibn Imran untuk mempersingkat tulisan ini karena silsilah tersebut sudah sangat terkenal. Sekarang kita sudah mengetahui bahwa Elia dan Elisha ibn Shafat mengembangkan model Rekhabiyah sebagai mana kelompok Babagan dan kelompok Baba Ismail dalam Bektashiyah. Ini sebenarnya dapat mempermudah melihat bagaimana Kekristenan dan Sabianisme kemudian berkembang, yakni Kekristenan menjadi seperti kelompok Babagan dan Baba Ismail ini, dan Sabianisme seperti kelompok Alevi.

Kita melihat bagaimana Nabiullahiyah tidak menekankan “wangsa genetik” sehingga tidak disebutkan wangsa Elia, dan tidak diketahui wangsa Shafat. Tetapi, kita dapat memeriksanya dalam Alquran. Parapatparaguru yang bergelar Lukman Sang Arif memiliki nama-nama lain seperti Nathan dan Jadur (Gad), sebagai nama-nama leluhurnya, yang kisah keduanya diabadikan dalam Alquran surah Shad mengenai Daud, resi dan raja Israil (Shad: 17-26).

Ini mengapa namanya disebut dalam kisah-kisah terkait Daud dalam berbagai nitisastra Arabia purbakala, padahal ini anakronistik. Mengapa kisah mereka disebut tanpa nama? Ini karena sudah jelas muqattaatnya. Muqattaat shad sendiri menunjukkan surah itu merujuk seluruh teks Israil bertema Samuel ibn Hannah alias Samuel ibn Elkanah, yang dibimbing Imam Ali, dede baba di Shiloh itu. Nathan Sang Nabi dan Gad Sang Nabi merupakan mursyid-mursyid bagi proto-Rekhabiyah. Jika Nathan Sang Nabi (bukan Nathan anak Daud) adalah salah seorang leluhur Elia Tishbi sesuai karakter dalam sastra yang disampaikan, maka Dan adalah suku bangsa Elia. Mereka merekamnya dalam tradisi-tradisi lisan di beberapa tempat di Arabia mengenai keberadaan wangsa Dan di antara orang-orang Rekhabiyah dalam perkemahan mereka.

Elia sendiri sudah barang tentu semula adalah suatu gelar, sebagaimana Muhammad, kemudian menjadi nama personal dan nama marga.

Dari Mazmur 120, tradisi Daudiyah juga menyebut Daud ibn Issai menikah dengan seorang perempuan Kedar bernama Salma (Hagit). Hal ini berlangsung selama ia tinggal dalam perkemahan Kedar di Meshekh saat berkonflik dengan keluarga Saul. Meshekh ini bukan Meshekh tempat wangsa Meskheh dari wangsa Yafet, tapi Meshekh tempat wangsa Aram, dari wangsa Sham. Pernikahan ini pada mulanya tampaknya berlangsung temporer (pilegeshim) sebagaimana kebiasaan yang lazim di kalangan orang-orang Kedar (yang semi-nomadik).

Dari Kidung Agung, tradisi Daudiyah melanjutkan ini adalah alasan mengapa Sulaiman memuja dan mengagumi orang-orang Kedar dan jatuh cinta dengan seorang perempuan Kedar yang dalam kidungnya ia disebut sebagai perempuan Sulam atau Salma (keturunan Salaman ibn Nabat). Dalam sejarah, pada zaman ini bangsa Kedar dipimpin oleh para perempuan. Salah seorang mereka juga menikah secara temporer dengan Sulaiman sebagai suatu kesepakatan politik. Inilah alasan Sulaiman merindukannya, dalam kidungnya, dan merefleksikan pula kerinduan hamba dengan Tuhannya, seperti kisah cinta Qais dan Laila yang terkenal. Ini pula alasan mengapa surah An-Naml menyebut sang ratu sebagai Bilqis, yaitu seorang pilegesh Sulaiman atau garwo ampil Sulaiman.

Salah seorang putra Salma dari Daud (yang kemudian dikenal sebagai Hagit) yang lahir di Yerusalem adalah Nogah (Yunani: Naggai). Jikalau kita memperhatikan Injil Lukas, nama-nama Ma’ad dan Naggai dapat kita temukan sebagai di antara leluhur Yesus setelah Zerubabel dan Resha, yaitu setelah masa penjajahan Babilonia. Silsilah ini sebenarnya menunjukkan parampara Yesus menurut parampara yang diterima Lukas. Namun, dalam Alkitab kita tidak lagi menemukan cerita mengenai Nogah.

Sementara itu, dalam sejarah, pada masa yang sama, di wilayah Arabia, raja-raja perempuan berkuasa. Dengan kata lain, mereka sebenarnya mempraktekkan matriarkat. Ini merupakan petunjuk penting mengapa wangsa Daud dengan Salma bersama wangsa-wangsa Kedar. Jika kita memperhatikan dengan seksama, wangsa Humaiz (Ha-Amiz) menurunkan wangsa Al-Yaffa. Ini sepertinya nama wangsa berkenaan dengan tempatnya berkemah. Kota Yaffa tidak ditaklukkan wangsa Dan dan mereka tampaknya berupaya hidup berdampingan sampai Daud menguasainya. Konon, kota ini merupakan latar belakang nitisastra Yunus dalam Alkitab maupun Alquran.

Wangsa-wangsa berikutnya setelah Al-Yaffa disebut sebagai Udad, Udd dan Adnan, yang menunjukkan hubungan dengan Edom. Menurut berbagai tradisi lisan, diceritakan asal muasal hubungan Maad ibn Adnan dengan Yeremia ibn Hilkiah, yaitu agar bangsa Adnan tidak terjatuh dalam paganisme. Hal ini tentu saja direkam dalam Alquran mengenai leluhur Maad yang berusaha menasehati kesesatan orang-orang Edom saudaranya.

Dalam surah Hud, yang bermuqattaat alif, lam, ra, menunjukkan tema-tema penting Kisah Sinai dalam Taurat. Walau begitu, surah ini menceritakan pahlawan utama dari bangsa Adnan yaitu nabi Hud, yang diutus kepada saudaranya orang-orang Ad (konfederasi Edom) yang waktu itu dikenal sebagai orang-orang Kedar, sedangkan Thamud adalah konfederasi yang sama, tetapi setelah dikenal sebagai orang-orang Nabatea. Maka, sekarang telah menjadi jelas transmisi kearifan dan ilmu Israil secara sampradaya itu sampai kepada tarekat Hanif maupun asal muasal Buyruk Alfurqan menyebut Ali ibn Thalib adalah tunas atau akar Daud dan juga singa Yehuda. Namun, ada tradisi sufisme yang lebih tua daripada Rekhabiyah, yang menurunkan Rekhabiyah. Tradisi ini adalah tradisi Melkisedek (Maliksadik) sebagaimana Amsal (10:25) mengatakan, “Orang-orang sadik adalah fondasi dunia.”

Parapatparaguru bagi Melkisedek adalah Enokh (Khidr; Idris), yang merupakan paramestiguru pertama, sebelum Elia dan Yesus, yang suksesi utamanya justru dua generasi setelahnya yaitu Nuh, dan kemudian Sham atau Shem dengan istrinya Sedeqetelebeb (Sadiqutalabab). Dongeng Shem mendirikan kota dengan nama istrinya menunjukkan keduanya memapankan tradisi Melkisedek.

Fokus-fokus tradisi-tradisi tersebut diceritakan dalam dongeng-dongeng atau mitologi yang menggambarkan upaya monisme menggunakan nama-nama tuhan politeis dan monoteis yang monolatri maupun henoteis. Misalnya, perkembangan dari nama Elohim (monisme), menjadi Sadiq (righteousness) dari dewa Sidik, lalu kepada YHWH (kekuatan spiritual; berkaitan dengan nefes) dari dewa Yahu. Masa-masa berfokus pada YHWH melawan Baal (tuan) yang menunjukkan perlawanan terhadap teologi yang menuhankan manusia dan sistem ciptaan manusia, bukan mengutamakan kemanusiaan.

Kemudian, kita menemukan kata-kata Abba (Bapa) yang berkaitan dengan keleluhuran atau kabuhun atau akar mereka, dan akhirnya kata Allah dari El, El Elion dan Elohim (Allahumma) dipergunakan kembali untuk mengokohkan tauhid (monisme). Nama Allah dan nama-nama Tuhan lain dalam Alquran seperti Rahman dan Rahim, dapat kita temukan dalam Alkitab.

Pelajaran mengenai teologi ini pertama kali disampaikan oleh Ali ibn Thalib, yang darinya skolastika maupun sufisme Islam berkembang, mendorong lahirnya skolastika Yahudi dan mempercepat kemapanan skolastika Kekristenan. Semuanya berakar dan bersumber dari lubuk yang sama. Tak ada Islam, Kristen dan Yahudi. Yang ada hanyalah #TauhidIalahSatuKemanusiaan – sebagaimana sabda Ali.

Allah bir Muhammad Ali. 5 September 2020, Sabat Muharram.

#PengantinElia, Syekhah Hefzibah, dalam bimbingan Sang Api Manis.

KETIKA UMAT ISRAIL TAK LAGI MEWARISKAN DNA MEREKA…

Apa yang membuat bangsa Israil dalam agama-agama yang kini menjadi agama-agama mayoritas dunia mengalami penyimpangan yang serius sehingga melakukan berbagai kejahatan kemanusiaan dan perusakan alam atas nama Tuhan dan agama?

Transmisi kearifan dan ilmu pengetahuan dalam bangsa Israil secara tradisional adalah berlaku secara personal, yaitu seorang mentransmisikannya secara personal kepada seorang yang lain.

Dalam kehidupan kita saat ini, dapat menggunakan sarana seperti telepon, video call, whatsapp, dan teknologi lainnya.

Para leluhur Israil yang telah mencapai maqam moksha, mereka akan mentransmisikannya kepada salah satu dari keturunan spiritual maupun biologis mereka dalam rantai silsilah. Mereka melakukannya melalui berbagai cara.

Perjumpaan langsung adalah hal yang paling jarang, tetapi berbagai kisah purbakala merekamnya, seperti kisah Saul didatangi Yesus, Rabbi Akiva didatangi Elia, Yesus didatangi Musa, Enokh, dan Elia, serta Muhammad SAW didatangi Musa, Enokh, Yesus, Elia, dan Ibrahim.

Yang paling sering adalah mendatangi dalam mimpi, yang lainnya mungkin tidak sadar diberi bimbingan melalui ilham, inspirasi maupun dipertemukan dengan suatu kejadian atau seseorang untuk memperoleh jawaban, menemukan suatu ide, dan sebagainya agar kearifan dan ilmu pengetahuan leluhur tetap dapat relevan dan berkembang mengikuti zaman. Ini termasuk dalam bidang sains dan teknologi.

Yang terpenting di sini, ybs yang mengklaim maupun tidak mengklaim itu memiliki silsilah, baik spiritual maupun genetik, bahkan kerap kali mereka yang meragukan justru yang didatangi, misalnya dalam kasus Saul (Paulus).

Dalam studi perbandingan agama dan antropologi agama, setiap orang melakukan klaim kebenaran menurut versinya masing-masing mengenai suatu ajaran keagamaan.

Dalam konteks ini, maka klaim kebenaran yang disampaikan oleh para keturunan tersebut sangat mudah diperiksa, apakah memiliki satu DNA spiritual yang sama, meskipun tampaknya saling berselisih satu sama lain.

Apakah satu DNA itu? DNA itu adalah Alfurqan atau Dekalog (10 Kalimat Allah).

Sepuluh Titah Allah adalah satu DNA yang dapat ditemukan dalam seluruh ajaran Musa, Yesus dan Muhammad, serta dalam seluruh Taurat, Zabur, Injil dan Alquran. Adakah dari Anda sekalian yang dapat membantah saya dalam hal ini?

“Taurat” yang disebut dalam Alquran adalah segala teks yang merujuk kepada Oraita dan Oktateukh. “Zabur” yang disebut dalam Alquran adalah segala teks yang merujuk kepada kitab-kitab Perjanjian Lama sejak masa Samuel sampai masa penjajahan Yunani. “Injil” yang disebut dalam Alquran adalah segala teks yang merujuk kepada teks-teks Perjanjian Baru.

Inilah fungsi “muqatta’at” pada 29 mukadimah surah Alquran, yaitu agar kita yang menerima transmisi tersebut merujuk kepada Taurat, Zabur dan Injil, dan bukan malah menghempaskan Alkitab lalu menggunakan hadis-hadis produksi satu dua abad setelah Muhammad wafat.

Untuk merujuk teks-teks dalam Alquran kepada teks-teks Taurat, Zabur dan Injil tersebut, maka rujukan terbaiknya adalah teks-teks dalam tradisi dan kanon Oriental. Bukan tradisi dan kanon Barat dan Timur. Tradisi dan kanon Oriental masih dilestarikan oleh Beta Israel atau Falasha dan komunitas Kristen Oriental seperti Gereja Tewahedo dan Gereja Ortodoks Suryani.

Ketika Alquran mengkritik atau menyebut Yahudi, maka Yahudi yang dimaksud adalah bangsa Israil yang menolak otoritas Yesus atau Isa Almasih dalam tradisi transmisi Israil ini. Sementara itu, pada faktanya, umat Israil dari kalangan musta’ribah seperti Muhammad, falasha lainnya, dan banyak suku Arab lainnya telah menerima otoritas Yesus jauh sebelum Muhammad lahir, tidak lama setelah Yudaisasi di seantero wilayah Oriental itu (Nabatea, Suriah, Dekapolis, Mesir, Ethiopia/Aksum, Yaman/Himyar, dst).

Maka, ketika Alquran mengkritik Kekristenan, yang dikritik antara lain adalah penggunaan konsep “tauhid” (Aksum: tewahedo) dalam Monofisit, dan takfirisme di antara umat yang telah menerima otoritas Yesus (antara Arianisme/Non-Konsubstansialis dengan Nikean/Konsubstansialis, antara Diofisit dengan Monofisit, dan takfiri kepada kelompok “Hanif” yaitu Non-Blok).

Beberapa dasawarsa sebelum Muhammad lahir, konflik akibat takfirisme antara Yahudi dengan Kristen telah menumpahkan darah satu sama lain. Fratrisida Kain-Abel pada masa itu di wilayah Oriental. Sesungguhnya, kelompok “Hanif” berupaya untuk merekonsiliasi dan mempersatukan di antara kebhinekaan itu (bukan agar mereka semua dalam satu aliran yang sama). Puncak dari kelompok “Hanif” adalah Muhammad SAW yang dikaruniai wahyu ilahi berupa puisi midrash yang amat indah.

Perjanjian Lama (Taurat dan Zabur) dipenuhi oleh teks yang amat beragam, ada yang bergenre prosa dan ada yang bergenre puisi, gaya prosa maupun gaya puisinya pun amatlah beragam. Misalnya, kitab Ayub merupakan genre puisi dan gaya puisinya saat itu mendobrak gaya puisi tradisional berbahasa Ibrani yang lazim pada masa itu. Sementara itu, Mazmur merupakan genre puisi, dan gaya puisinya merupakan gaya puisi tradisional yang lazim saat itu. Adapun Amsal merupakan kumpulan peribahasa khas bangsa Israil, sedangkan Sirakh merupakan prosa yang disalin dari bahasa Yunani karena saat itu bangsa Israil dijajah oleh bangsa Yunani.

Kompilasi Perjanjian Lama secara umum dilakukan dari menyalin teks-teks yang sebelumnya telah mencatatkan tradisi lisan dan teks-teks sebelumnya. Kita mengingatnya dalam kisah disusunnya Septuaginta. Namun, ini berbeda untuk kebanyakan teks dalam Injil atau Perjanjian Baru: yaitu dilakukan dari menyalin berbagai tradisi lisan. Seluruh genre dalam Injil atau Perjanjian Baru adalah dalam bentuk prosa.

Alkitab Teks Masoretik disusun pada zaman yang sama dengan munculnya kitab Alquran. Dan, yang sangat menarik, keduanya mengandung nada-nada sehingga dapat disenandungkan dengan indah.

Adalah perlu diingat bahwa dalam proses penerjemahan, penerjemahan yang paling sulit adalah menerjemahkan genre puisi daripada genre prosa. Pertama, sulit apabila ada rima, penekanan bunyi dan ada matra untuk dinyanyikan. Kedua, sulit apabila ada akrostik dan struktur khusus yang digunakan sang penyair. Penerjemahan kedua yang sulit adalah peribahasa, karena peribahasa membawa suatu konteks budaya tertentu. Misalnya, bagaimana menerjemahkan “Bagai katak di bawah tempurung” sedangkan di budaya lain tidak dikenal “tempurung kelapa” karena kelapa bukanlah tanaman pribumi setempat di habitat budaya itu?

Itu sebabnya, tradisi transmisi personal sebagaimana dalam bangsa Israil akan sangat membantu memahami Alkitab dan Alquran karena bangsa Israil kini ada di seluruh dunia dan agama-agama Israil pun telah dianut hampir 5 milyar umat manusia hari ini.

Secara kesusasteraan Alquran bergenre puisi. Gaya puisi Alquran jelas mendobrak gaya puisi tradisional saat itu, sebagaimana teks-teks Alquran sendiri menyanggah keberatan dari para penyair Arab dan bangsa Israil musta’ribah lainnya mengenai bahasa Arab dan ekspresi yang digunakannya.

Secara tipe eksegesis dan pensyarahan, Alquran adalah suatu midrash. Muqatta’at memiliki fungsi penting dalam kaitan tipenya sebagai midrash. Dan, karena itu kompilasi kitabnya disusun dalam bab-bab berdasarkan suatu tema kesatuan sebagaimana tampak dalam nama-nama surah. Apa itu midrash? Silakan google. Pendek kata, midrash memiliki gaya cepat, bertanya, rekonsiliasi atas teks-teks dan tradisi yang tampak berselisih, serta mendorong kita berpikir ulang, terinspirasi bahkan meragukan sesuatu yang semula tampak “plausible”.

Secara puisi, Alquran adalah suatu himne, serupa medrasse yang pernah dipopulerkan Efraim pada abad ke-4 M, yang disusun sedemikian rupa agar dapat disenandungkan dengan indah dan dihapal oleh para penyenandungnya dalam semah atau kebaktian atau persembahan puji-pujian kepada Allah.

Oleh sebab itu, Alquran mustahil untuk diterjemahkan dengan tepat. Terjemahan bahasa Indonesia yang tersedia hari ini adalah salah satu terjemahan terburuk menurut saya.

Mengapa? Saya pikir salah satunya karena para penerjemahnya menolak bahwa Alquran adalah suatu kitab puisi ilahiah yang indah dan memandangnya sebagai prosa. Alhasil, terjemahan tersebut sebenarnya adalah suatu tafsiran belaka.

Kanonisasi atau kodifikasi suatu kitab atau pun suatu teks bukanlah suatu masalah yang perlu diributkan.

Tidak ada masalah apabila menyeragamkan seluruh bentuk penyalinan teks-teks Alquran menjadi memiliki diakritik dan tanda bunyi yang mapan, maupun penyeragaman dalam menyenandungkan Alquran sehingga ada beberapa jenis cara menyanyikannya. Ini karena pada masa Muhammad memang ada banyak cara menulis dan ada banyak dialek Arab saat menyalin kembali Alquran dan menyanyikannya.

Pun, tidak ada masalah dengan perbedaan kanon Barat dengan Timur dan Oriental, karena DNA-nya masih dapat ditemukan yaitu Dekalog.

Yang menjadi masalah adalah bahwa kitab-kitab tersebut digunakan untuk hegemoni, dominasi dan sebagai alat tirani.

Di dunia akademik modern sejak abad pertengahan, kitab-kitab tersebut (telah dan selalu berpotensi) digunakan sebagai hegemoni, dominasi dan tirani, karena para penyokong dana kampus-kampus dan sekolah-sekolah adalah para raja dan penguasa yang memiliki kepentingan. Mereka mensponsori para ulama, pendeta, dan cendekiawan untuk menghasilkan karya dan karya-karya yang didukung pemerintah atau penguasa pastilah yang menguntungkan pemerintah atau penguasa itu.

Namun, dalam tradisi transmisi personal, yang lurus (yang bermodelkan “guru hanya mengantar ke pintu”) dan bukan yang bermodelkan “guru worship”, si penyampai transmisi hanya memberikan apa yang diminta oleh seorang penerima transmisi dan menyampaikan apa yang dipertanyakan oleh si penerima transmisi. Dia harus menyampaikan sesuai dengan kebutuhan, level, dan keadaan si penerima transmisi. Dia tidak boleh memiliki kepentingan untuk kekuasaan, melainkan kepentingan untuk mewariskan sebagaimana yang diwarisinya semata-mata. Karena jika itu yang terjadi, yaitu memiliki kepentingan kekuasaan, maka pada titik rantai silsilahnya, di situlah terjadi kecacatan.

Tetapi, haruslah dapat dibedakan antara kepentingan untuk kekuasaan dan kebutuhan untuk menyintas di antara tiran dan penguasa. Jika Abdul Malik I melakukan Islamisasi dan unifikasi Alquran untuk kekuasaan, maka Muhammad SAW menerima tawaran untuk memimpin Haram Yehuda Medinatun di Yathrib untuk menyintas di antara tiran dan penguasa pada masanya.

Seorang Israil yang hidup hanya demi kepentingan kekuasaan akan memutus tradisi transmisi ini sehingga umat suatu agama Israil tak akan lagi mengenal silsilahnya, dan tercerabut dari akarnya. Akhirnya, umat (dihalangi dari) tak lagi menerima kearifan dan ilmu berdasarkan transmisi personal melainkan berdasarkan konsensus yang berkuasa dan atau sekolah-sekolah yang disponsori para penguasa.

Inilah yang dilakukan Ahab dan Yezebel. Inilah yang dilakukan oleh raja-raja Romawi begitu mereka menjadi Israil yang menerima otoritas Yesus, dan dilanjutkan oleh semua penerus mereka di Barat, Timur dan Oriental, dan seterusnya. Dan, inilah pula yang dilakukan oleh raja-raja Umayyah terutama semenjak Marwan dan putranya Abdul Malik, dan dilanjutkan oleh semua penerus mereka di Andalusia, Abbasiyah, Ottoman dan seterusnya.

Untuk menyiasati hal itu, dalam upaya menyintas, maka banyak dari penyampai transmisi harus berada dalam sistem tersebut agar mereka dapat mewariskan kearifan dan ilmu pengetahuan, demi memelihara satu DNA itu tetap menyerlah di antara seluruh kepingan pecah-belah yang berserakan.

Apapun kebangsaan umat Israil saat ini, dan apapun identitas politik, agama dan gender mereka saat ini, bahkan disadari atau pun tidak, jika mereka mewarisi DNA itu untuk mereka pelihara dengan baik, dan mewariskan pula DNA tersebut kepada anak cucu mereka (anak cucu secara spiritual!), maka mereka tidak akan melakukan kejahatan kemanusiaan dan perusakan alam atas nama Tuhan dan agama.

Syekhah Hefzibah,
13 Juli 2020

AHMAD IBN ABDULLAH ADALAH SEORANG BANI ISRAIL

Karena begitu banyak sanggahan mengenai ke-Yahudi-an Muhammad SAW yang sering saya sampaikan. Berikut ini akan saya sampaikan hujjah saya secara lengkap.

[1] Kakek buyut paternal Ahmad bernama Hashim. “Hashim” adalah salah satu nama Allah dalam agama Israil, yaitu השם dalam bahasa Ibrani, “Ha-Shem”, berarti Sang Nama. Sang Nama dapat ditemukan dalam Imamat 24:11 dan Ulangan 28:58.

[2] Hashim menikah antara lain dengan Salma bt Amr, putri kepala suku Bani Najjar pada masanya. Bani Najjar adalah salah satu suku Yahudi di Yathrib. Salma adalah nama dengan berbagai variasi yaitu Salome, Salmon, Salama, Solomo/Sulaiman, dan seterusnya. Dalam 1 Tawarikh 2:11, Salma adalah ayah dari Boaz ibn Salma ibn Nahason yang kelak menikahi Ruth untuk memberi keturunan kepada Naomi (Ruth 4:17). Naomi adalah istri Elimelekh dan menurut midrash, Elimelekh juga adalah putra Nahason (Bava Batra 91a).

[3] Hashim memiliki dua anak dari Salma, yaitu (a) Sheba dan (b) Asad.

(a) Sheba adalah nama dari nama salah satu putra Kush (Kejadian 10:7; 1 Tawarikh 1:9). Dia kemudian dikenal sebagai Abdul Muthalib. Sheba kemudian menikah dengan Fatimah binti Amr – lihat no (8).

(b) Asad adalah nama Yahudi yang umum di Arabia karena “asad” adalah kata lokal untuk singa, sedangkan singa adalah hewan yang sangat sering disebut dalam Alkitab dalam berbagai versi kata lokal rumpun Semit untuk singa. Contohnya Ka’b ibn Asad, kepala suku Qurayza, wangsa Yahudi yang memimpin di Haram Yehud-Medinata Yathrib sampai 627 M.

Asad ibn Hashim menikah dengan Zahna, putri Kafna atau Hofni, seorang “rosh galut” di Baghdad. “Rosh galut” adalah seorang kapitan komunitas Yahudi diaspora – lihat no (20).

[4] Nama ayahnya Abdullah adalah dialek lokal untuk kata “Abd Eloah”, yang berarti Hamba Tuhan. Nama ini senada dengan nama “Abdiel” dalam Zabur, 1 Tawarikh 5:15. Kata “Eloah” adalah bentuk tunggal untuk “Tuhan” yang dalam dialek lokal menjadi “Allah”. Bentuk jamaknya adalah “Elohim” dan dalam dialek lokal menjadi “Allahummma”. Dalam Taurat dan Zabur setidaknya terdapat 57 kata “Eloah” dan sekitar 38 di antaranya terdapat dalam kitab Ayub.

[5] Nama ibunya adalah Amina. Dari kata “Amin” yang berarti sesungguhnya, sebenarnya, kebenaran. Lihat lexicon no 543, kata adverb. Lihat “Aman” dalam lexicon no. 539. אָמַן dalam bahasa Ibrani berarti mengkonfirmasi, mendukung. dalam bahasa Arab. אמן dalam bahasa Sabean. אֲמַן dalam bahasa Aram. dalam Haph`el dalam bahasa Ethiopia. עַמִּינָדָב [Aminadab] adalah nama kepala suku Aram pada Era Hyksos di Mesir, ayah dari Nahshon kepala suku Yehuda [1 Tawarikh 2:10] dan ayah dari Elisheba, yang kemudian menikah dengan Harun. Aminadab adalah salah satu leluhur Yesus.

Aminah bt Wahab bt Abdul Manaf dari wangsa Zuhrah. Aminah (1 Taw 2:10) adalah ibu kandung Muhammad. Wangsa Zuhrah (zohar; Yeh 8:2) adalah komunitas Yahudi di Nabatea.

[6] Nama “Ahmad” adalah dialek lokal untuk kata dasar “hamda”, berarti yang didambakan atau yang diharapkan, yang diambil dari sastra Israil. “Hamda” lihat leksikon Semit no.2530”. חָמַד dalam bahasa Ibrani adalah kata kerja berarti menghasrati, mendambakan atau menikmati. חֲמַד dalam bahasa Aram dan bukan Suryani. dalam bahasa Arab berarti memuji, memuliakan, mengakui, memperkenankan. חמדם dalam bahasa Sabean berarti untuk bersyukur dalam puji-pujian kepada. [delightful; hence, a delight, i.e. Object of affection or desire — beloved, desire, goodly, lovely, pleasant (thing)].

[7] Julukan atau gelar untuk Ahmad adalah Muhammad. Diambil dari Kidung Sulaiman 5:16 מַחֲמַדִּ֑ים [desirable; yang diidam-idamkan]. Dialek lokal untuk “Mah(a)mad”, lexicon 4261 [desirable (2), desire (3), pleasant (1), precious ones (1), precious things (2), precious treasures (1), treasures (1), valuable (1)].

[8] Nama nenek paternal Muhammad adalah Fatimah. Dengan kata lain, istri Sheba.

Dalam salah satu sastra Israil [midrash “Pirkei de-Rabbi Eliezer” ed. Higger, bab 29] diceritakan bahwa Ismail pertama kali menikah dengan seorang perempuan Moab [ingat Ruth, nenek buyut Daud, juga seorang Moab]. Tetapi, perempuan Moab ini tidak memiliki adab sehingga tidak disukai Ibrahim. Kemudian, Ismail menceraikannya dan meminta ibunya mencarinya seorang istri dari ahlulbait ayahnya. Perempuan itu bernama Fatimah. Dalam sastra versi lain, salah satu mishnah, mengatakan bahwa Fatimah adalah perempuan dari Mesir seperti halnya Hajar.

[9] Sistem Kekerabatan Israil yang kompleks.
Pandangan populer adalah Muhammad hanyalah Bani Ismail. Bukan Bani Israil. Ini karena propaganda Abdul Malik I untuk mencerabut akar Israil dari Islam-nya Muhammad.

Seluruh sastra Israil menunjukkan bahwa sistem patrilineal dan patriarkat Israil sangat kaya, dan tidak dapat dipadatkan menurut satu sekte Yudaisme saja. Kitab Yubileum, misalnya, menunjukkan garis matrilineal para patriark dan matriark Israil sampai era Ibrahim. Kita akan melihatnya contoh-contohnya yang lain sebentar lagi. Jadi, untuk menafikan Ke-Israil-an seseorang hanya karena sebab kelahiran seseorang secara maternal atau pun secara paternal, adalah fabrikasi sekte-sekte Yudaisme belakangan.

[10] Muhammad adalah keturunan Ismail dan Hajar.
Ismail bukanlah anak haram. Dia juga anak sulung dari salah satu istri Ibrahim. Awalnya Hajar adalah garwo ampil. Tetapi, dalam hukum adat Israil, anak garwo ampil memiliki kedudukan dan hak yang sama dengan anak garwo padmi. Ini masih dipraktekkan oleh keraton-keraton Jawa. Kesarjanaan modern Yudaisme, Kristen dan Islam hanya berfokus melihat status Hajar, perselisihan Hajar-Sarah, status Sarah, status kesulungan Ishak, konflik Ishak vs Ismail, dsb. Mereka lupa Ibrahim memberkati Ismail dan Ishak dengan peran dan fungsi masing-masing dan kedua putra tersebut menghabiskan akhir hidup bersama, dimakamkan di tempat yang sama.

[11] Hajar adalah (a) putri Firaun yang diberikan kepada Sarah ketika Firaun memperistrinya [Genesis Rabbah 45:1], (b) putri Firaun dari salah satu selirnya [midrash “Pirkei de-Rabbi Eliezer” ed. Higger, bab 26] yang diberikan kepada Sarah, (c) Keturah. Nama baru untuk Hajar setelah Sarah wafat, karena kemudian ia menjadi garwo padmi Ibrahim [Genesis Rabbah 60-61]. Keturah dapat berarti “wangi” karena ia seorang perempuan yang berakhlak baik dan berbuat baik sebagaimana wangi dupa.

[12] Sastra Israil seperti kitab Kejadian [Genesis; Bereshit] menunjukkan bahwa (a) Keturah memiliki enam orang anak lagi, (b) Ismail dikaruniai 12 putra, (c) keturunan Keturah dan 12 putra Ismail berkonfederasi, (d) Mahalath putri Ismail menikah dengan Esau dan karena itu Bani Esau berkonfederasi pula dengan bani Ismail. Esau adalah saudara kembar Ya’kub [Israil] dan putra sulung Ishak, leluhur suku Edom di selatan Moab. .

[13] Tradisi populer Islam mengatakan Muhammad adalah keturunan Nebayot dan Kedar, putra pertama dan putra kedua Ismail.

[14] Muhammad adalah keturunan Daud.

Daud ibn Isai, raja kedua Israil, yang merupakan buyut dari Ruth [perempuan Moab] dan Boaz, pernah mencari suaka di Meshekh dan tinggal di antara kemah Kedar. Menurut tradisi Daudiyah, hal ini berlangsung ketika Daud sedang berselisih dengan Saul, raja pertama Israil. Selama tinggal di perkemahan Kedar, yang hidup semi-nomaden seperti Abraham karena budaya merkantil mereka, Daud menikah dengan perempuan Kedar. [Midrash Mazmur 120:5].

Daud dikenal memiliki banyak istri, baik garwo padmi maupun garwo ampil, meski demikian yang disebut hanya 8 istri. [Seperti Khrisna, yang memiliki 16000 garwo ampil disebut gopi, 8 (astabarya) istri dan ditambah Radha kepala para gopi]. Sulaiman ibn Daud dan ibn Batsheba, memiliki 700 garwo padmi dan 300 garwo ampil.

[15] Muhammad adalah keturunan Isai ibn Obed ibn Boaz.

1 Tawarikh 2 adalah contoh yang bagus mengenai sistem kekerabatan Israil yang kompleks, selain kisah Ruth, dimana Obed juga dianggap sebagai keturunan Naomi karena putra Naomi meninggal dunia sebelum Ruth mengandung, dan Bilangan 27 mengenai putri-putri Zelofehad dan kitab Ayub mengenai 3 putrinya, dan kisah Luth dengan dua putrinya [Ammon dan Moab adalah dua suku dari Luth via dua putrinya. Ammon adalah kota Aman dan sekitarnya di Yordania sekarang, ada di timur wilayah suku Moab].

1 Tawarikh 2:31 menyebutkan Ahlai ibn Sesan, dan Sesan adalah keturunan dari Perez ibn Yehuda. Sesan kemudian disebutkan hanya mempunyai anak-anak perempuan, di sini berarti Ahlai putranya mungkin meninggal muda atau semacam itu. Namun, Sesan mempunyai budak Mesir bernama Yarha, dan Yarha memperistri anak perempuannya (1 Tawarikh 2:34).

Kemudian Yarha dan putri Sesan melahirkan Atai sebagai penerus Sesan (1 Tawarikh 2:35). Saya pernah membahas bahwa dalam hukum adat Yahudi, budak dibedakan dengan pekerja karena tidak digaji, tetapi ia mendapat privelese menjadi ahlulbait atau anggota rumah tangga majikannya sehingga ia memperoleh hak waris baik harta maupun sampradaya [silsilah spiritual]. Ini sebabnya dalam kisah Ibrahim dan Hannah istri Efraim, jika mereka tidak berketurunan, hak waris mereka jatuh ke tangan hamba mereka.

1 Tawarikh 2:15 menyebutkan bahwa Daud adalah anak ketujuh dari Isai ibn Obed ibn Boaz/ibn Ruth. Saudari-saudari mereka Zeruya dan Abigail. Yang menarik adalah Yether, suami Abigail disebutkan dalam 1 Tawarikh 2:17, sebagai bani Ismail dan putra mereka Amasa disebutkan pula. Sementara itu dalam 2 Samuel 17:25, disebutkan bahwa Ithra – nama lain Yether – adalah suami Abigail dan ia orang Israil. Mengapa ada dua versi berbeda? Ini karena dalam 1 Tawarikh 2:17 Yether disebutkan asal usulnya dari trah Ismail, sedangkan dalam 2 Samuel 17:25, Yether disebut sebagai orang Israil karena menjadi warga negara Israil, menikah dengan putri Israil dan hidup sebagai orang Israil. Suatu model matrilokal yang diadopsi Yether dan untuk memahami Yether juga seorang Israil dapat dipahami dalam no [16] berikut ini.

[16] Hukum Taurat mengenai Ger.
“Ger” adalah orang asing, imigran dan musafir yang hidup di negeri Yahudi/Israil, maupun muallaf Yahudi, dan mengikuti hukum adat atau adat istiadat Israil.

Menurut Imamat 19:33-34, orang Yahudi harus menganggap “ger” sebagai saudara mereka, tidak boleh mendiskriminasi mereka. Terutama kepada muallaf, selaras dengan Keluaran 23:9 dan Keluaran 22:20. Ajaran ini di-midrash lagi dalam Surah Dhuha, bahwa gerakan keagamaan Muhammad sendiri ibarat yatim piatu sebagaimana umat Israil adalah orang asing di Mesir.

Seluruh mazhab Yudaisme memandang “ger” sebagai Yahudi sepenuhnya.

[17] Di sini Israil berarti suatu agama yang berarti (a) cara berhubungan dengan realitas yang diimani, dimana realitas yang diimani adalah tauhid, dan cara berhubungannya adalah berupaya menjalankan Dekalog, (b) sampradaya atau sanad transmisi kearifan dan ilmu pengetahuan, dimana transmisi itu dimulai dari Adam kepada Nuh lalu Ibrahim kemudian Musa, dan seterusnya, dan (c) sastra atau transmisi kearifan tersebut yaitu berupa Taurat, Zabur, dan seterusnya. Nama lain dari Israil adalah Yahudi.

Lihat beda istilah samawi, Abrahamic faith dan Israil dalam:
https://gayatriwedotami.wordpress.com/2020/07/04/abrahamic-faith-yahudi-dan-israil/

[18] Muhammad keturunan Qusai ibn Kilab.

Arabia, terutama Nabatea, mengalami re-Yudaisasi yang massif pada abad ke-4 M, pada masa Qusai ibn Kilab, leluhur Muhammad atau pendiri wangsa Quraish. Qusai sendiri sebenarnya telah menjadi Yahudi. Kilab mempunyai dua putra dari istrinya Fatimah bt Sa’d yaitu Zuhrah dan Qusai. Setelah Kilab wafat, Fatimah menikah dengan Rabi’ah ibn Haram, dari banu Uzra di Damaskus dan melahirkan putra bernama Darraj. Tetapi, Qusai kembali ke Mekkah karena berselisih dengan saudara-saudara tirinya. Adapun Aminah bt Wahab adalah keturunan Zuhrah ibn Kilab secara paternal, dan keturunan Abdul Dar ibn Qusai secara maternal.

Damaskus adalah satu Dekapolis, yaitu liga sepuluh kota yang banyak didiami orang Yahudi. Ketika akhirnya Muhammad berhasil mendirikan Haram Yehud-Medinata di Yathrib, haram tersebut dan kenabian Muhammad memperoleh pengakuan dari suku-suku Yahudi dan Yahudi-Kristen seperti bani Hanafiyah dari Haram Yamamah dan bani Uzra dari Damaskus.

[19] Tentu saja ke-Yahudi-an wangsa-wangsa Ismail tersebut ada beberapa jenis. Ada (a) abangan atau sekuler, (b) religius atau mengikuti adat, yaitu terbagi lagi menjadi (i) Yudeo-Kristen, dan (ii) yang biasanya disebut bani-bani Yahudi adalah yang menolak otoritas Yesus sebagai seorang mesias atau resi Israil.
Oleh karena banyaknya orang Arab telah menjadi Yahudi dan kemudian menjadi Kristen, maka para “ger” ini telah menjadi Yahudi sepenuhnya. Begitu pula anak-anak mereka.

[20] Muhammad adalah keponakan Imran ibn Sheba ibn Hashim. Imran adalah dialek lokal untuk Amram, nama ayah dari Musa, Harun dan Miryam, dan suami dari Yokhebed. Imran menikah dengan sepupunya Fatimah binti Asad ibn Hashim.

[21] Muhammad adalah keponakan Adiah binti Asad ibn Hashim dan Fatimah binti Asad ibn Hashim, sedangkan Ali ibn Imran adalah putra dari Fatimah binti Asad ibn Hashim.

Adiah telah menikah dengan Bustanai, rosh galut pertama di Babilonia pada masa kekuasaan bangsa Arab. Pernikahannya dengan Adiah melahirkan Hananiah [Haninai al-Nehar Pekkod ben Bustanai bar Adai] yang kemudian menjadi rush galut dan gaon di Sura, Suriah. Salah satu pendiri Mazhab Karaite Yahudi adalah Anan ibn Daud yang merupakan cicit Bustanai dengan Adiah.

[22] Muhammad tidak mendirikan agama baru.

(a) Dia melakukan midrash dalam bentuk puisi medrasse (himne) sehingga dapat disenandungkan dan mudah dihapalkan untuk kebaktian; (b) dia bernubuat sebagaimana nabi-nabi Israil; (c) midrash-nya merupakan midrash aggadik dan midrash halakhik, tetapi ia mengokohkan otoritas Yesus [Alquran mengokohkan Dekalog, memuat banyak sekali Kisah Sinai, menyebut nama Yesus lebih banyak pertama, dan kemudian nama Musa. Nama Ya’kub sebanyak 16 kali dan banyak sekali disebut “Wahai Bani Israil” karena ia sendiri seorang Israil. Nama Muhammad hanya beberapa kali.

[Dalam postingan berikutnya saya akan membahas mengenai nama Isa dalam Alquran yang selalu diperselisihkan Kristen dan Muslim];

(d) dengan demikian ia mempraktekkan hukum adat dan adat istiadat Israil dengan melakukan berbagai ijtihad sesuai konteks masanya. Mulai dari minyan [salat berjamaah], mengokohkan Sabat, azan [hazan], puasa Yeremia (Yeremia 36) yaitu puasa bulan ke-9, puasa pada empat bulan, salat dalam tiga waktu sebagaimana salat Daniel [Alquran hanya menyebut tiga waktu salat yaitu al-fajr 24:58, al-isha 24:58, and al-wusta 2:238]; hukum mengenai perbudakan dan perkawinan, diet religius, khitan, penyucian dan taharah, dst;

(e) Muhammad menjalani periode pertama kenabiannya sebagai pendeta, beberapa tahun awal tanpa mendeklarasikan sebagai gerakan baru dan baru mendeklarasikannya sekitar tahun 612 M. Karena itu pada masa ini ia mengikuti adat yang lazim dipraktekkan para pendeta yaitu menjalani monogami selama lebih dari 30 tahun. Kemudian ia menjalani periode kedua kenabiannya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Karena itu ia juga mengikuti adat yang lazim dipraktekkan para raja yaitu berpoligami, tiga tahun setelah kematian Khadijah istri pertamanya. Ia mempraktekkan poligami hanya sekitar 8 tahun.

Sebagian orang Islam menerima propaganda Abdul Malik I bahwa Islam adalah agama baru, dan Muhammad bukan seorang Israil, maka orang-orang Yahudi dan Kristen akan memahami Islam dan Alquran sebagai meminjam dari Yudaisme atau bahkan mencontek dan melakukan plagiat.

Perselisihan-perselisihan untuk Alquran dan Alquran vs Alkitab, semua ini terjadi karena (a) gagal memahami Alquran sebagai midrash dalam bentuk medrasse (b), tidak dikenali lagi muqatta’at karena mempelajari Alquran bukan melalui sampradaya, dan (c) tidak mempelajari Alkitab melalui sampradaya pula.

[23] Ayat-ayat Alquran sendiri mengatakannya. Antara lain:

Ash Shaff ayat 6, “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata, Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, Ini adalah sihir yang nyata.”

[Perhatikan: Hai bani Israil — berarti untuk sesama umat Israil dan sesudah Yesus yang juga Israil].

[24] Pada awal imperialisme Islam, penaklukan negeri-negri di mana terdapat komunitas Yahudi diaspora berarti negeri tersebut diserahkan dalam asuhan komunitas Yahudi setempat sebagai persekutuan politik dengan “Yahudi-Kristen” yang bernama “Islam” ini.

Setelah Muhammad meninggal dunia, raja kedua setelah Muhammad memulai ekspansi dan imperialisme Islam. Ketika pasukan Umar berhasil merebut Yerusalem, dari tangan Romawi, pemimpin Yahudi setempat bersedia berbaiat hanya bilamana Umar menemuinya di Yerusalem. Setelah itu, pemerintahan Yerusalem diberikan kepada umat Yahudi kembali.

Mewarisi apa yang dilakukan raja kedua Umar ibn Khattab selama masa ekspansinya itu, Umayyah dikenal selalu memberikan pengasuhan suatu kota yang baru ditaklukkannya kepada komunitas Yahudi. Al-Makarri menceritakan bagaimana Saracen – panggilan untuk orang-orang Arab Muslim saat itu – setiap menaklukkan sebuah kota kemudian menyerahkannya kepada orang-orang Yahudi setempat sehingga mereka bertugas mengadministrasi kota dan akhirnya menjadi kota Yahudi. Demikianlah yang terjadi antara lain kepada Terragona menjadi kota Yahudi, Kordoba dipenuhi orang-orang Yahudi dan Granada dikenal sebagai Granada Yahudi.

[25] Oleh karena mengikuti hukum adat atau adat istiadat Yahudi mengenai sistem kekerabatan, maka karena Muhammad tidak memiliki keturunan laki-laki, sebagaimana diceritakan dalam Bilangan 27, dan kita telah melihat dalam 1 Tawarikh 2 dalam kasus Sesan, maka penerus Muhammad berasal dari Ali ibn Imran karena ia menikah dengan putrinya Fatimah. Ini karena (a) Ali ibn Imran adalah juga anak angkatnya, dan (b) Ali ibn Imran adalah masih satu klannya. Dengan demikian, menurut hukum adat ini pula, sebagaimana kita dapat membacanya dalam Alkitab, penerus Muhammad bukan hanya anak-anak Ali dari Fatimah tetapi juga semua anak-anak Ali dan ahlulbaitnya – termasuk para hambanya, jika ada – dan keturunan mereka yang mempraktekkan sampradaya dan mewariskan sampradaya mereka.

Oleh karena itu, seorang Israil atau seorang Yahudi tidak dapat dikatakan semata-mata karena DNA dan genetika, tetapi juga menerima transmisi tersebut dan menjadi ahlulbait. Seorang budak dalam bait Yahudi adalah seorang ahlubait tuannya.

Begitu pun sebagaimana dikatakan dalam kitab Imamat, mereka yang menjalankan hukum adat Yahudi dan menerima jalan hidup Yahudi adalah seorang Yahudi. Sementara itu, Ke-Yahudi-an ternyata bersifat “abadi” dan “diwariskan secara otomatis” meskipun seseorang tidak melakukan halakha [seperti memuja dewa-dewa pagan dan makan babi], sebagaimana halnya hukum keabsahan melaksanakan minyan [yaitu salat berjamaah]. Orang yang meskipun diam-diam ateis dan makan babi, apabila dia sudah wudhu’ dan melakukan minyan, maka minyan itu dianggap sah tanpa melihat si individu.

(26) Ali adalah Tunas Daud, Singa Yehuda.

Baca: https://gayatriwedotami.wordpress.com/2020/09/30/ali-sebagai-tunas-daud-dan-singa-yehuda/

Jadi, Muhammad SAW adalah seorang Yahudi. Begitu pun dengan Anda jika Anda bersyahadat menerima kenabian Muhammad, melaksanakan salat, berpuasa pada bulan ke-9, dan mempraktekkan diet religius sebagaimana Imamat [tidak makan babi misalnya].

Itu sebabnya, sebenarnya tidak ada istilah pindah agama. Bahkan meskipun Anda menganut agama-agama di luar agama Mesopotamia [Buddhisme atau Hinduisme, misalnya, atau bahkan menjadi ateis].

Benar bahwa, begitu Anda menjadi Yahudi, maka untuk selama-lamanya Anda dan segenap keturunan Anda, telah menjadi Yahudi (Yeremia 31:36-37).

Segala kebingungan dan perselisihan di antara mazhab fikih dan faksi-faksi Islam yang pernah ada beberapa generasi kemudian dan terutama pada hari ini, semua ini adalah akibat dari dicerabutnya akar Israil dari Muhammad dan Alquran. Termasuk menerima propaganda mengenai hadis-hadis Israiliyat. Padahal, memang Muhammad, Islam dan Alquran, adalah Israiliyat!

Syekhah Hefzibah – R.A Gayatri W.M – selengkapnya dalam Historisiografi Buyruk Alfurqan.

berber yahudi 1958
Yahudi Berber 1958

Abrahamic Faith, Yahudi dan Israil

MUSLIM & SELAMA-LAMANYA YAHUDI
Menurut saya istilah “Abrahamic Faith” yang biasa diterjemahkan sebagai “agama-agama Ibrahim” atau pun “Millah Ibrahim” untuk menyebut kesatuan Yahudi, Kristen, Islam, Sabian, Bahai dan lain-lain merupakan istilah yang dapat menghasilkan “misleading”. Tetapi, saya mempunyai proposal lain mengenai hal ini.

Menurut saya, ada empat nama yang cocok untuk menyebutkan kesatuan Yahudi, Kristen, Islam, Sabian, Bahai dan saudara-saudara serumpunnya. Hal ini saya rangkum berdasarkan pendekatan antropologis dan linguistik dalam membaca keseluruhan sastra dalam agama-agama tersebut, baik sastra lisan maupun sastra tulisan, termasuk yang disebut kitab-kitab suci.

SAMAWI/LANGIT
(1) Pertama, agama samawi atau agama langit. Nama ini TIDAK untuk menunjukkan suatu agama yang lebih baik dan lebih tinggi daripada agama bumi atau agama ardhi. Tetapi, nama ini diberikan kepada suatu agama yang lahir dari Peradaban Mesopotamia-Anatolia yaitu di Buaian Peradaban Bulan Sabit Subur. Nama ini menunjukkan topografi atau geografi, dimana lanskapnya memberikan pengaruh bagi pandangan dunia mereka dalam antropologi [kemanusiaan], teologi [ketuhanan] dan kosmologi [kealamsemestaan], sehingga mereka memahami, memaknai dan mengartikulasikan realitas – bahkan meyakini realitas – seolah-olah seperti seseorang yang memandang ke langit dan membayangkan dirinya bagaikan titik kecil di angkasa luas.

Agama samawi membedakan dirinya daripada saudara-saudara sekandung peradabannya dalam berbagai hal sebagaimana terlihat dalam ekspresi mitologi dan mitosnya karena pencapaian maqam spiritualitas dan intelektualitas mereka sejak zaman Adam dan Hawa [yaitu kisah mengenai generasi penggerak revolusi pertanian di wilayah peradaban mereka]. Mereka tidak melihat dirinya manusia sebagai budak-budak atau hamba-hamba para dewa, tetapi sebagai manusia adalah tuhan-tuhan atau manifestasi dari realitas kesatuan yang mereka temukan.

Ketika Muhammad SAW menyebutkan “bani Adam”, sebenarnya tidak dapat dikatakan ia sedang mengajak semua orang menganut agama yang sama dengannya dan bahwa semua orang percaya Adam merupakan nenek moyang seluruh manusia secara historis-antropologis. Namun, Muhammad SAW sedang menyampaikan pandangan dunianya yang khas dalam memandang dunia atau memandang realitas, dimana ia meyakini “seluruh manusia adalah bersaudara dalam satu kemanusiaan” dengan Adam-Hawa sebagai simbol pentingnya karena mereka berarti “kebumian”, “kemanusiaan” dan “ibu dari segala yang hidup” [kata “hidup” itu senada dengan “nafas” dan “ruh”].

Seluruh kisah Adam-Hawa sesungguhnya adalah terkait hal ini, hal-hal yang natural terkait revolusi pertanian dan kesadaran baru mereka mengenai “siapakah itu manusia”, bahkan juga kisah Iblis dan para malaikat di Taman Eden ketika Adam diciptakan.

MILLAH IBRAHIM
(2) Kedua, agama Ibrahim. Nama ini adalah untuk menunjukkan pandangan dunia yang disebut “tauhid” yang diyakini para penganutnya. Tauhid di sini adalah juga “misleading” bilamana diterjemahkan sebagai monoteisme, karena dapat diterjemahkan sebagai monolatri atau henoteisme sebagaimana fenomena masyarakat awam penganutnya dan bukan para resinya.

Tauhid di sini lebih tepat diterjemahkan sebagai monisme dan panenteisme dengan segala jalin kelindan yang rumit dengan panteisme, transteisme dan bahkan nonteisme dalam jutaan ekspresi para resi-nya [baca: nabi, rasul, imam, wali/santo, dll]. Tauhid di sini adalah realitas kesatuan yang mereka temukan, pahami, maknai, artikulasikan dan mereka imani.

Agama Ibrahim membedakan dirinya daripada agama-agama lainnya di Mesopotamia-Anatolia karena tidak meyakini adanya tuhan-tuhan yang mahakuasa maupun satu tuhan mahakuasa di antara tuhan-tuhan lainnya. Hal ini telah dipahami sejak generasi Enokh yang membangun kota-kota Sumeria terawal dan dipadatkan generasi Nuh yang mengembangkan kota-kota yang lebih terancang di wilayah peradaban tersebut untuk menghadapi tantangan bencana alam [sebagaimana maksud Kisah Banjir Bah].

Generasi Ibrahim mengokohkan dan memapankannya karena mereka mulai memantapkan budaya dispersi dan merkantil [yaitu budaya merantau dan berdagang] sebagai ciri khas kelompok mereka. Meskipun demikian, budaya dispersi telah mulai dikembangkan generasi Kain dan budaya merkantil telah mulai dikembangkan menjelang generasi Ibrahim [sebagaimana kisah “Jatuhnya Menara Babel” dan berkembangnya bahasa Semit].

Ketika dalam Alquran, Muhammad SAW mengatakan dirinya beragama Ibrahim, maka yang ia maksudkan adalah pandangan tauhid dari komunitasnya yang merupakan titik temu dari segala sekte yang saling mengklaim kebenaran sebagai penerus Musa dan Yesus yang benar.

ISRAIL/YAHUDI
(3) Ketiga, agama Israil atau agama Yahudi. Nama ini adalah untuk menunjukkan intisari iman dan pokok-pokok tradisi yang mereka rangkum dan mapankan untuk membedakan dirinya dari agama-agama sekerabatnya dari Peradaban Bulan Sabit Subur maupun dari agama-agama tetangga mereka seperti Mesir dan Indo-Eropa [di sepanjang Anatolia, Kaukasus, Laut Hitam, Laut Kaspia, pegunungan Taurus, dan sekitarnya].

Meskipun generasi Kain-Abel telah menyadari bahwa pembunuhan terhadap sesama manusia adalah fratrisida [yaitu membunuh saudara sendiri] dan generasi Adam telah menjalankan hari istirahat, sedangkan generasi Abraham telah memapankan “tauhid adalah satu kemanusiaan dan satu kealamsemestaan”, tetapi di tengah-tengah popularitas Hammurabi dan para firaun Mesir, dan pengalaman semenjak era Hyksos di Mesir, komunitas ini mempersatukan dirinya kembali [dan bersama-sama dengan yang lainnya yang sejalan, senasib dan sepemikiran] dalam suatu konfederasi baru.

Agama Israil membedakan dirinya daripada agama-agama lain di sekitarnya dengan merumuskan intisari iman dan pokok-pokok tauhid dalam Kisah Sinai, dimana Dekalog menjadi dasar-dasar bagi seluruh tradisi, adat istiadat dan hukum adatnya. Selama suatu kelompok atau komunitas memiliki sastra dan seni yang menceritakan Kisah Sinai sebagai dasar-dasar kearifannya, maka ia dapat dianggap sebagai agama Israil. Dekalog menjadi kriteria iman yang benar dalam kerangka aplikasi yang diekspresikan dalam berbagai cara dan dimanifestasikan dalam bentuk hukum adat dan segala tradisinya.

Rumusan tersebut menjelaskan apa yang dimaksud sebagai tauhid selain yang telah ditemukan dalam generasi Abraham. Yaitu, keyakinan kepada Allah yang memerdekakan manusia dari segala perbudakan, belenggu penderitaan dan delusi keagamaan yang oleh paganisme menjadi kebenaran mutlak. Rumusan tersebut juga memberi pokok-pokok panduan atau dharma untuk dapat menyintas dan hidup dengan selamat sebagai individual maupun terutama sebagai suatu komunitas dan di antara bangsa-bangsa lainnya sebagai umat manusia yang sejajar [setara; equal].

Itu sebabnya, dalam Dekalog atau 10 Dharma atau 10 Kata-kata Allah tidak ada dharma “jangan membenci” atau “mencintai”. Karena secara natural, hidup seorang manusia bukan lagi hanyalah makan, minum, buang air, istirahat dan tidur. Hidup juga hal-hal yang berasosiasi dengan kebaikan yaitu kenyamanan, kesejahteraan, kedamaian, keadilan, kebahagiaan, kesehatan, keindahan, kemuliaan, persaudaraan, persahabatan, kenikmatan, keabadian, dan seterusnya.

Secara natural, manusia mencintai hal-hal ini dan cinta kasih adalah mengenai hal-hal ini. Sementara itu, secara natural manusia membenci segala hal yang dapat membuatnya “tidak hidup” itu, maka dia membenci kepada hal-hal itu atau orang-orang yang dianggapnya (dapat) menghalangi atau merusaknya dari “hidup” dan orang-orang yang dianggapnya merusak hal-hal itu. Adapun kebenaran adalah hal-hal yang berasosiasi dengan dapat terwujudnya hal-hal yang berasosiasi dengan kebaikan itu, segala hal yang berasosiasi dengan dapat terpeliharanya “hidup” itu. Kemungkaran adalah sebaliknya.

Istilah “agama cinta” atau “agama kasih” dapat menghasilkan “misleading” karena tidak sedikit manusia yang tidak memahami atau keliru memaknai kebaikan dan kebenaran. Kata “cinta” dan “benci” juga terlalu abstrak dan sesungguhnya absurd.
Seseorang yang mencintai sesuatu atau seseorang dapat menyebabkan dirinya sendiri atau bahkan orang lain tidak dapat menyintas dan tidak hidup. Itu sebabnya tribalisme, sektarianisme dan nasionalisme yang melampaui batas tidak selaras dengan tauhid dan Dekalog. Begitu pula dalam mencintai anak-anak dan pasangan atau kekasih kita.

Dekalog/Alfurqan memberikan batasan yang tegas mengenai cinta dan benci absurd, yaitu panduan untuk menyintas [to survive], untuk hidup, untuk selamat dan untuk melindungi kehidupan. Dekalog/Alfurqan pun dapat dibahasakan dalam bahasa sangat sederhana tanpa filsafat rumit, misalnya, cukup ajari anak-anak “Jangan mencuri”, serta dapat dijelaskan dengan bahasa sederhana kepada orang awam, “Mencuri karena terpaksa tidak berdosa karena untuk hidup”. Ini karena kita sudah tahu apa itu Dekalog sesungguhnya.

Yesus Kristus mengokohkan Dekalog dan menegakkan kembali Kisah Sinai. Sezaman dengan Yesus Kristus, rabbi Philo dari Alexandria mengatakan Dekalog adalah intisari segala hukum dan hukum universal. Dalam Alquran, Dekalog disebut sebagai Alfurqan yang merupakan Kriteria Menentukan Haqq [benar] dan Bathil [salah].

Menggunakan bahasa Imam Al-Ghazali, maka rumusan sepuluh dharma Dekalog merupakan dasar-dasar seluruh hukum adat [halakha; fikih; yurisprudensi] yang bertujuan [untuk memastikan] (1) perlindungan bagi kehidupan atau “hifz al-nafs” [sila 4 s.d 10], (2) perlindungan bagi keturunan [generasi manusia] atau “hifz al-nasl”, (5) perlindungan bagi pemikiran atau “hifz al-aql” [sila 1-3], (4) perlindungan bagi kesejahteraan atau “hifz al-mal” [sila 4, 7, 10], (3) perlindungan bagi din, atau bagi menjalankan Dekalog, yang disebut “hifz al-din” [terutama sila 1-4], dan ditambahkan oleh sarjana modern dengan (6) perlindungan bagi kerahayuan alam atau “hifz al-biah” yang sebenarnya merupakan penemuan kembali dari sila ke-4 yang telah diabaikan banyak Muslim.

Sebagai catatan, istilah agama Yahudi dalam konteks ini bukanlah agama Yahudi yang muncul pasca Era Kuil Kedua [yang dihancurkan pada 70 SM] yaitu pada masa Yunani [Hellenisme].

ISLAM
(4) Keempat, agama Islam. Nama agama Islam di sini bukanlah sama dengan agama Islam yang ada dalam benak dan definisi mayoritas, populer dan arus utama saat ini, serta belum tentu sama dengan yang dianut apa yang dianut Muhammad SAW, yaitu agama Islam yang diciptakan oleh khalifan Umayyah Abdul Malik I dan kawan kawan pada masa pemerintahannya [685-705 M].

Nama agama Islam dalam konteks ini adalah untuk menunjukkan sifat-sifat atau karakter dari para penganut agama samawi, agama Ibrahim dan agama Israil sesuai dengan namanya yaitu keselamatan, keberserahan diri terhadap realitas tauhid yang diimaninya, keamanan, kedamaian, kesejahteraan, kerahayuan, dan kelunasan atau kesempurnaan dalam menjalani misi kemanusiaannya. Oleh karena itu, nama “Islam” sebenarnya telah ada dalam berbagai sastra Israil seperti dalam kitab Zabur, baik Mazmur maupun kitab nabi-nabi seperti Yeremia dan Yesaya, dan diucapkan oleh Yesus di salib menjelang kematiannya, dan seterusnya.

Agama Islam membedakan dirinya daripada agama-agama tauhid lainnya dan agama-agama pagan antara lain dengan:

(1) Dekalog atau Alfurqan sebagai kriteria iman yang benar, esensi iman dan dasar-dasar hukum maupun seluruh tradisinya.

Di sini berarti menegaskan bahwa agama yang dianut oleh Adam, Nuh, Musa, Ibrahim, Yesus dan Muhammad adalah agama yang berusaha menjalankan iman Adam, iman Nuh, iman Musa, iman Ibrahim, iman Yesus, dan iman Muhammad. Iman mereka adalah bagaimana mereka selama hidup telah berupaya menjalankan tauhid dan Dekalog. Jadi, yang dilihat adalah proses mereka selama menjadi manusia sehingga dapat menjadi Manusia Sejati. Bukan hal-hal supranatural dan keunggulan semata-mata. Menjalankan iman mereka adalah kriteria iman yang benar. Tidak diperlukan menyusun siapakah mereka seperti sifat-sifat keilahian mereka dan sifat-sifat kemanusiaan mereka, serta detail mengenai kehidupan historis mereka, kemudian menetapkan bahwa iman yang benar adalah menerima susunan mengenai mereka.

(2) Kasih sayang Allah.

Seorang Muslim atau seorang Israil meyakini bahwa Allah telah mengasihinya sejak lahir ke dunia, bahwa ia telah dipercayai sebagai manusia. [Lihat: (1) “rahum wehunum” dalam Keluaran 34:4-6 ketika Musa menulis Alfurqan dalam dua batu loh. (2) 114 mukadimah surah-surah Alquran yang berbunyi “bismillahirahmanirahiim”].

Maka, Islam/Israil sesungguhnya mengajarkan bahwa manusia tidak perlu mengejar keselamatan dari Allah, karena Allah telah mempercayakan keselamatannya ke dalam genggamannya sendiri begitu mereka terlahir sebagai manusia. Ini sebabnya dalam sila pertama Dekalog keimanannya adalah kepada YaHuWaHu [yang memiliki Nafs] yang membebaskan. Inilah kasih sayang Allah. Sebagai manusia ia dipercaya dapat mewujudnyatakannya pula.

Dengan kata lain, jika iman paganisme/ musyrik mewajibkan keyakinan kepada Allah atas dasar ketakutan, dan manusia adalah budak-budak Allah dan bahwa Allah memerintahkan manusia melakukan hal-hal tertentu dan melarang mereka melakukan hal-hal tertentu pula, maka iman tauhid Ibrahim, iman alfurqan Musa, iman israil Yesus dan iman islam Muhammad adalah kesadaran manusia sebagai “hamba-hamba tauhid” yaitu menjalankan misi kemanusiaan mereka.

Segala hal yang dilarang dan dianjurkan [yang disampaikan para resi Israil] selalu berkaitan erat dengan untuk menyintas dan untuk melindungi kehidupan, dimana Dekalog adalah dasar-dasarnya. Apapun yang seorang manusia lakukan menghasilkan efek karma, baik efeknya lamban atau cepat, baik itu pelanggaran maupun pemeliharaan Dekalog yang ia lakukan. Inilah intisari dari seluruh ekspresi para resi Israil/Islam mengenai surga, neraka, akhirat, hari pengadilan, kebangkitan kembali, dan seterusnya.

(3) Sampradaya atau sanad.

Meskipun tidak secara tersurat disebut, tetapi tersirat dalam Alfurqan/Dekalog sila kelima, “hormati ibumu dan bapamu”, sebagai dasar bahwa tradisi Islam/Israil adalah sampradaya dan bukan gotra. Yaitu, transmisi ilmu pengetahuan dan kearifan adalah pewarisan secara personal dari satu individu ke individu berikutnya, baik memiliki hubungan kekerabatan maupun tidak.

Oleh karena itu, seorang Israil atau seorang Yahudi tidak dapat dikatakan semata-mata karena DNA dan genetika, tetapi juga menerima transmisi tersebut dan menjadi ahlulbait. Seorang budak dalam bait Yahudi adalah seorang ahlubait tuannya.

Begitu pun sebagaimana dikatakan dalam kitab Imamat, mereka yang menjalankan hukum adat Yahudi dan menerima jalan hidup Yahudi adalah seorang Yahudi. Sementara itu, Ke-Yahudi-an ternyata bersifat “abadi” dan “diwariskan secara otomatis” meskipun seseorang tidak melakukan halakha [seperti memuja dewa-dewa pagan dan makan babi], sebagaimana halnya hukum keabsahan melaksanakan minyan [yaitu salat berjamaah]. Orang yang meskipun diam-diam ateis dan makan babi, apabila dia sudah wudhu’ dan melakukan minyan, maka minyan itu dianggap sah tanpa melihat si individu.

Jadi, Muhammad SAW adalah seorang Yahudi. Begitu pun dengan Anda jika Anda bersyahadat menerima kenabian Muhammad, melaksanakan salat, berpuasa pada bulan ke-9, dan mempraktekkan diet religius sebagaimana Imamat [tidak makan babi misalnya].

Itu sebabnya, sebenarnya tidak ada istilah pindah agama. Bahkan meskipun Anda menganut agama-agama di luar agama Mesopotamia [Buddhisme atau Hinduisme, misalnya, atau bahkan menjadi ateis].

Benar bahwa, begitu Anda menjadi Yahudi, maka untuk selama-lamanya Anda dan segenap keturunan Anda, telah menjadi Yahudi (Yeremia 31:36-37).

Dengan demikian, maka kekafiran berarti menyangkal atau pun menolak tauhid atau kebenaran mengenai realitas kesatuan dan karenanya melakukan kerusakan terhadap satu kemanusiaan dan aatu kealamsemestaan.

Kemurtadan sendiri berarti dua hal, yaitu (1) mempraktekkan paganisme [baca: tidak meyakini Kasih Sayang Allah sebagaimana yang saya jelaskan] dan (2) membangkang kepada Dekalog atau membangkang kepada otoritas yang menjalankan Dekalog atau otoritas yang membimbing mengenai Dekalog.

Adapun bidat atau inovasi [bid’ah], yang berkonotasi negatif, adalah hal-hal inovatif yang dilakukan oleh mereka yang bukan pemangku otoritas sesuai pakem Israil/Islam maupun oleh raja-raja Israil/Islam yang bertujuan politik-ekonomi belaka.

(4) Keselamatan Allah ada dalam genggaman karma manusia sendiri yang dibahasakan dengan beragam ekspresi termasuk keselamatan Allah atau ridha-Nya adalah hak mutlak Allah.
Ini karena pandangan dunia tauhid yang dianut Israil/Islam, dimana segala sesuatu merupakan kesatuan yang tidak terpisah satu sama lain. Karena itulah, karma manusia bukan semata-mata berdasarkan keinginan sang manusia itu sendiri, atau suatu faktor tunggal, melainkan juga meliputi efek-efek segala perbuatan, perkataan dan pemikirannya selama ini kepada yang lainnya.

Oleh karena itu, keselamatan seseorang dan keselamatan umat manusia, tidak bergantung semata-mata kepada apa yang dianut oleh seseorang, melainkan ada dalam genggaman karma manusia secara tauhid.

YAHUDI, KRISTEN & ISLAM
Sekarang ini kita melihat bahwa dari agama ini telah lahir agama-agama yang menggunakan atau dinamakan menurut nama pendirinya atau pun nama cita-cita idealismenya. Antara lain:

(1) Nama Yahudi diberikan kepada umat Israil/samawi/Ibrahim oleh bangsa-bangsa lain karena mereka berasal dari kerajaan yang disebut Yehuda dan kemudian menjadi provinsi Yudea [Yehud Medinata].

(2) Murid-murid Yesus disebut Kristen karena Yesus disebut sebagai Kristus atau Mesias, yaitu seseorang yang diurapi – yang dengan kata lain diurapi adalah ditahbiskan atau diutus untuk menyelamatkan umat Israil yang kafir dan murtad. Dengan kata lain Kristen adalah pengikut Kristus, yang berarti juga diutus untuk menyelamatkan. Pada sekitar abad ke-4 M, Hellenisme telah mengadopsi Kekristenan, mengubah idealisme Kekristenan menjadi agama misionaris dan ekspansi dalam kerangka “Pax Evangelica”, dan sebagian Kristen telah mendoktrinkan EENS [extra ecclesiam nulla salus: tidak ada keselamatan di luar gereja].

(3) Segera setelah Muhammad SAW meninggal dunia, sebagian pemuka adat dalam Konsili Saqifah telah berhasil menghasilkan keputusan yang menjadi peletak dasar perubahan gerakan keagamaan Muhammad kepada gerakan politik regional. Raja keduanya berhasil mengubah nubuat Muhammad menjadi peletak dasar imperialisme dan ekspansi dan misionarisme Islam sebagaimana Kekristenan Pasca Abad ke-4 M. Puncaknya adalah raja kesepuluh dan kawan-kawannya yang mendirikan Islam.

Pandangan dunia dan tradisi agama-agama lain telah mempengaruhi bagaimana para penganut Israil [Yahudi, Kristen, dan Islam] dalam melihat agamanya sendiri.
Orang-orang Yahudi melihat dirinya sebagai umat terpilih yang membimbing umat manusia lain mengenal tauhid. Akan tetapi, mereka menganggap Dekalog hanya berlaku bagi dirinya, dan mengarang dari teks-teks mengenai (Tujuh) Hukum Nuh. Ini adalah pengaruh dari pandangan dunia Babilonia, Persia dan Yunani.

Tidak sedikit orang-orang Kristen misalnya diajarkan bahwa Tuhan dalam Perjanjian Lama adalah Tuhan yang pemurka, pendendam dan penghukum. Ini adalah pengaruh paganisme dari Hellenisme dalam membaca Taurat dan Zabur. Begitu pula EENS dan kriteria baru mengenai iman yang benar.

Tidak sedikit orang-orang Islam menerjemahkan kembali “Kristen” ke dalam dirinya sebagai umat terpilih, yang diurapi [dengan iman Islam] untuk menyelamatkan umat manusia lain, dan meyakini EENS [tidak ada keselamatan di luar agama Islam], meskipun Muhammad SAW dalam Alquran sendiri menentang EENS. Mereka selalu berargumentasi secara egosektarian bahwa teks-teks menolak EENS dan teks-teks mengenai Israil dan Alkitab [Taurat, Zabur dan Injil] telah dibatalkan atau dimansukhkan. Ini adalah pengaruh gabungan Kekristenan-Hellenisme serta Yudaisme yang dipengaruhi Babilonia, Persia, Yunani dan Romawi.

DARI EMPAT KITAB:
Mereka semua mungkin lupa bahwa para resi Israil telah menceritakan bahwa para penganut Rakhabiyah meskipun bukan Yahudi sebagaimana diri mereka, juga orang-orang yang benar dan dirahmati Allah.

Para resi Israil juga bercerita bahwa Zipporah adalah orang Midyan; bahwa Rahab adalah orang Kana’an;
bahwa Ruth nenek buyut Daud adalah orang Moab;
bahwa Daud pernah hidup cukup lama di kemah Kedar untuk memperoleh suaka;
bahwa ada hukum adat dalam Imamat mengenai mualaf dan hak istimewa hamba sahaya dalam rumah tangga Yahudi;
bahwa Esau adalah saudara kembar Yakub yang beranak-pinak dengan anak-anak Ismail dan Yusuf diselamatkan trah-tumerah Ismail;
bahwa Enokh dan Elia juga “hidup kembali” dan bukan hanya Yesus Kristus;
bahwa Yesus dan murid-murid Yesus adalah Yahudi dan sampai Yohanes Sang Murid Terkasih hidup pun orang-orang Kristen masih disebut Yahud.

Mereka lupa berapa banyak dalam Alquran disebut umat Israil, nama Musa dan kisah Sinai daripada nama Muhammad dan kisah Muhammad sendiri.

Mereka juga mungkin lupa Yeremia mengatakan umat Israil akan menjadi umat baru karena perjanjian baru, yaitu Alfurqan/Dekalog akan terpatri dalam sanubari setiap orang, dan bukan lagi pada loh-loh batu dan semua orang akan mengenal Allah secara langsung (Yeremia 31:31-34). Mereka lupa Yesus mengatakan umat Israil tidak lagi akan menyembah ke arah Gerizim ataupun Yerusalem melainkan kepada roh atau Nafs dan kebenaran atau memelihara dan memulihkan Dekalog (Yohanes 4:21). Ini semua terjadi karena perkembangan zaman yang pesat di berbagai bidang.

Mereka telah terkelirukan ketika Muhammad mengatakan, sekarang semua umat Israil/Islam akan menyembah ke arah tempat bersujud yang sakral, serta di mana pun dan ke mana pun adalah menyembah ke arah tempat bersujud yang sakral (Albaqarah 144). Mereka menetapkan tempat bersujud yang sakral hanya Ka’bah di Mekkah. Padahal, yang dimaksud tempat bersujud yang sakral [the holy prostration; masjidil haram] adalah roh dan kebenaran sebagaimana disampaikan Yesus, kembali kepada “Kisah Adam dan Iblis”.

TIDAK ADA HEILGESHICTE
Pandangan dunia asing yang pagan telah membuat mereka juga menentukan “heilgeshicte” yang sebenarnya tidak diperlukan, karena Israil/Islam adalah agama kasih sayang Allah dan bukan paganisme sebagaimana yang telah dijelaskan. “Heilgeshichte” adalah pandangan yang meyakini adanya rencana Allah untuk keselamatan manusia. Interpretasi-interprestasi dan doktrin-doktrin “heilgeshicte” telah menyebabkan doktrin dan dogma yang justru melanggar tauhid dan Dekalog/Alfurqan, akhirnya hukum dan perbuatan yang melanggarnya pula.

Contoh “heilgeshicte” adalah memahami Kisah Abraham-Ishak atau Etiologi Idul Adha bahwa Allah meminta Ibrahim mengurbankan putranya. Ini jelas-jelas interpretasi pengaruh pagan. Padahal teks Kejadian 22 adalah sastra mengenai ritus peralihan pada generasi Ibrahim. Yaitu, ritus peralihan dari masa kanak-kanak kepada usia dewasa sehingga diizinkan untuk meninggalkan rumah orangtua atau merantau dan boleh menikah.

Contoh “heilgeshicte” ini telah menjadi dasar bagi berbagai heilgeshicte” lainnya. Misalnya, doktrin penebusan dosa Yesus bahwa Bapa memberikan Yesus di salib untuk menebus dosa umat manusia. Ini jelas pengaruh Hellenisme. Padahal yang dimaksud Yohanes maupun Paulus mengenai kurban anak domba maupun penebusan dosa memiliki akar Yahudi, yaitu persembahan hidup bagi kemanusiaan bukan persembahan kematian dan Yesus merupakan wasilah untuk “hidup” dan “hidup kembali” – sebagaimana ciri khas “sampradaya” yang telah disampaikan.

Para medioker dan kebanyakan dari kita biasanya hanya melihat apa yang disebut sebagai agama Ibrahim, agama Yahudi, agama Israil, agama Kristen dan agama Islam dari satu atau dua babakan sejarahnya saja. Yang lain hanya menanggapi berdasarkan fenomena-fenomena saat ini, atau pada babakan tertentu saja, atau kepingan teks yang tercecer secara parsial, atau penafsiran populer dan teologis para pendakwahnya.

Yang lain lagi tidak dapat melihat dari keunikan tiap-tiap buaian peradaban dan melihat dengan memberi makan egosektarian entah mengunggulkan agamanya dari peradaban ini, mengunggulkan sektenya dari sekte-sekte lainnya, maupun mengunggulkan agama-agama dari peradaban lain. Padahal, setiap peradaban adalah unik, dan begitu pula dengan agama-agama dan budaya-budayanya.

Rahayu dan sampurasun,
Syekhah Hefzibah – R.A Gayatri W. Muthari

yahudi aljazair
Perempuan Yahudi Aljazair

AGAMAKU
Ketika memandang ke langit,
Manusia di Eden menyadari kebumiannya.
Agama Adam menyadari kebumiannya,
karena itu penganutnya sujud ke bumi,
dan membungkuk kepada sesama,
dan perempuan adalah ezer kenogdov –
penolong sepadan bagi kemanusiaan,
ibu bagi segala yang bernafas, yang hidup,
dan pada hari ketujuh manusia harus beristirahat
demi dirinya, kemanusiaan, dan alam semesta.

Revolusi Pertanian
jawaban dari kontemplasi,
agama Adam dan Hawa:
dunia bukanlah surga tanpa karma,
tanpa membajak, menyemai dan menanam.

Agama Kain menyadari karunia menciptanya,
dan hasratnya telah pula menyadari dosanya:
pembunuhan sesama manusia adalah fratrisida,
dan karma bagi pembunuhan demi dunia yang lebih baik
berasal dari darah yang tertumpah ke bumi –
bumi yang meratapinya, dan janganlah bertanya
“Apakah aku adalah penjaga saudaraku manusia?
Inilah tauhid dan bukan pagan
dengan dewa-dewa yang memiliki alam dan hukum
dan tatanan yang berbeda-beda satu sama lain.

Agama Seth menggantikan agama Abel yang rendah hati,
lugu dan sederhana tanpa hasrat kekuasaan,
agama yang menyadari kearifan adalah fondasi dunia,
dan agama Enokh menyadari yoga jnana
untuk menjadi manusia sejati dan keabadian.

Agama Nuh menyadari kenyamanannya untuk berehat
dan bilamana hamparan bumi adalah bahtera,
seluruh manusia hidup dalam bahtera yang sama.
Agama Nuh menyadari untuk merancang dunia,
bencana dan wabah adalah tantangan bersama,
bekerjasama bergotong-royong menghadapinya.

Agama Ibrahim menyadari realitas kesatuan,
ke mana pun ia merantau dan di mana pun
rombongannya berkemah dan beranak pinak,
bapak dari bangsa-bangsa adalah satu jua.
Tauhid bukanlah monoteisme sebagai monolatri,
sebab Ibrahim pun berdoa di depan pohon,
membangun kuil dengan batu sebagai simbol
bersujud di bumi mana pun kakinya memijak,
menari riang dalam lingkaran dengan rasa syukur.

Agama Musa menyadari untuk menyampaikan
diri telah dipercaya untuk menjadi manusia,
demikianlah sepuluh dharmanya untuk menyintas,
untuk selamat, dan untuk melindungi kehidupan.
Agama Yahudi menyadari untuk memanjatkan
zikir puji-pujian dalam puisi dan senandung,
agama Daud menyadari dirinya raja-raja
bermazmur sebagai kekasih Allah,
agama Sulaiman menyadari kerajaan luas
di bawah teduh tauhid adalah kedamaian.

Agama Yesus menyadari Allah begitu intim,
betapa Allah senantiasa bersama kehidupan
Allah senantiasa bersama kemanusiaan,
di dalam dirinya dan di dalam kemanusiaan
agama Yesus menyadari makna dan tujuan hidup
untuk saling menyelamatkan, begitulah
agama Kristus adalah agama yang diurapi,
agama Kristen adalah pengikut yang diurapi
untuk saling melindungi dan menyelamatkan.

Agama Muhammad menyadari kehidupan
betapa didambakan dan diharapkan menyerlah,
agama Islam menyadari cita-cita dan misi,
untuk menaruh harapan terwujudnya dharma
sepuluh alfurqan dari agama Musa,
damai sejahtera dalam agama Sulaiman,
keselamatan menurut agama Kristus,
menundukkan diri sebagai agama Adam,
dan setia menyadari realitas kesatuan
sebagai agama Ibrahim dan agama Nuh.

Agama Ali sebagaimana agama Elia,
menyadari pemangku wewenang hidupku
adalah dia yang bernafas dalam sukmaku,
dan agama Al-Mahdi menyadari sampradaya:
leluhur membimbing dalam berkat karunia Me.

Agama Omri dan agama dari Saqifah
mengubah agama Enokh dan agama Islam,
menjadikan dirinya sendiri fondasi dunia:
menaklukkan dunia dalam slogan damai sejahtera,
begitulah yang mengubah agama Kristen,
untuk mengurapi bangsa-bangsa dunia
dalam kolonialisme dan imperialisme-nya,
terwujudnya kembali agama Kain
yang berlumur darah agama Abel
yang dijajah dan dikebumikannya.

Aku memandang ke tiap-tiap masa,
kutemukan agama Daniel dari masa Axial,
agama Daniel menyadari hasil karma
dalam bahasanya sendiri yang unik,
Allah yang menghakimi dalam keadilan.
Agama Israil menyadari kemanusiaan
adalah untuk berjuang dan bergumul,
jatuh dan bangun memelihara alfurqan
demi menyintas, selamat dan hidup,
demi melindungi kehidupan dan nafasnya.

Aku menganut semua agama ini,
sebagai manusia kaya raya dan merdeka,
bukan medioker dan bukan dalam kejahilan,
berupaya tidak memberi makan egosektarian
seperti agama Jezebel dan agama Umayyah,
melainkan agama Ruth dan agama Naomi
menyadari persahabatan dan musahiplik:
betapa menyenangkan melihat Allah
dalam dirimu dan betapa indahnya
ibadahku adalah berbakti kepadamu,
Manusia.

Allah bir Muhammad Ali.
15-5-2020

Nabi Elia (1):

ORANGTUA TOKSIK & MINORITAS YANG DIPERSEKUSI

Para pembaca setia Alkitab sekalian tentu akrab dengan sosok Elia (Elijah; Eliyahu; Ilyas; Elias). Begitu pun pembaca Alquran yang tekun. Biasanya para seniman melukiskan sosok Elia sebagai sosok yang sudah tua, dengan janggut dan rambut yang beruban. Jarang sekali yang menggambarkannya dalam keadaan masih muda. Padahal, dalam cerita-cerita Alkitab tidaklah dituliskan usia Elia.

Dalam tradisi Yahudi sendiri, sosok Elia sama seperti sosok Yesus bagi orang Kristen, sosok Khidir bagi para Sufi dan sosok Imam Mahdi bagi orang Syiah. Mereka adalah sosok-sosok ajaib, lintas dimensi, omnisains, dan dapat dikatakan senada dengan tirtankara dan avatar, yang dapat berubah wujud dan muncul di mana saja. Dalam Alquran, kisah Musa dengan Khidr sesungguhnya merupakan rendition kisah Musa dengan Elia. Dua kisah itu hanya berbeda penuturan dalam membahas mengenai “takdir kematian yang harus dialami anak-anak”. Cerita ini memang kontroversial dan tentu saja harus dipahami sebagai nitisastra melalui sampradaya.

Banyak rabbi pada masa lalu diceritakan bersahabat dengan Elia. Di antara yang terkenal adalah Rabbi Akiva. Dalam berbagai hadis atau cerita lisan, Elia diceritakan muncul memberi pertolongan sebagai pengemis, pemuda, orang tua, malaikat, dan sebagainya. Dalam hari raya-hari raya umat Yahudi, ada paraphernalia yang disediakan khusus untuk Elia, seperti cawan anggur kelima, dan kursi untuk Elia. Paraphernalia seperti Kursi untuk Elia juga digunakan dalam ritus semah perayaan Idul Khidr-Ilyas (Hidirellez) dalam tradisi Bektashi.

Dalam Alkitab, beliau tidak diceritakan silsilah atau sampradaya beliau dengan jelas.  Hanya disebut bahwa beliau berasal dari Tishbi. Asal wilayah ini sendiri menunjukkan ia berasal dari suatu “kota santri”. Beberapa hadis Yahudi mencoba memecahkan misteri ini.

Dalam Alkitab ia ditulis menolong seorang janda di Zarefath dan menghidupkan kembali anak tersebut. Alkitab tidak menulis nama janda tersebut. Apa yang Elia lakukan kepada anak janda tersebut sebenarnya adalah hal yang natural dan sekarang kita kenal sebagai pertolongan nafas buatan.

Ada pula suatu folklore Yahudi menceritakan Elia menolong seorang perempuan bernama Rachel yang menanti suaminya yang diisukan telah meninggal dalam perang. Rachel adalah nama yang umum bagi wanita Yahudi. Istri Rabbi Akiva juga bernama Rachel. Beberapa hadis Yahudi mengatakan Elia adalah dari trah Benyamin, yang lain mengatakan dari Yusuf, ada juga yang bilang ia seorang Lewi, dan yang lain berkata ia seorang Gad. Di suatu hadis Yahudi, dikatakan bahwa Elia memberitahu ibunya adalah Rachel, bukan Leah. Ini suatu petunjuk. Tetapi, tak satupun hadis memberitahu mengapa silsilahnya ditiadakan.

Meski tidak diceritakan silsilahnya, bukan berarti Elia tidak memiliki sampradaya dan tidak mempraktekkannya. Kita tahu ia mewariskan sampradaya-nya kepada Elisha (Ilyasa). Dalam bab Al-An’am 85-86, sampradaya Muhammad dapat dipahami demikian: Zakaria, Yohanes Pembaptis, dan Yesus Kristus, menerima dari Elia, kemudian Muhammad menerima dari Ismail, Elisha, Yunus dan Luth. Lalu, dalam surah lain, disebut susunan sampradaya beliau adalah Ismail, Elisha dan Zulkifli. Dalam bab berjudul As-Safaat (peringkat), Elia disebut dalam ayat 123-132. Ayat-ayat ini adalah midrash mengenai kisahnya dalam Zabur. Elia mendapat salam spesial dalam ayat 130 sebagaimana halnya salam spesial diberikan kepada Nuh, Ibrahim, Musa, dan Yesus.

Mengapa Alkitab menghijabi silsilah Elia? Tradisi Daudiyah mengatakan ketiadaan silsilah antara lain bertujuan agar tidak berfokus kepada silsilah Elia. Salah satunya karena ada ancaman terhadap legitimasi sosok tersebut. Itu tidak hanya dialami Elia, begitu juga ketika dialami oleh keturunan biologisnya, maka silsilah penerusnya seperti siapa istrinya, anaknya, dan seterusnya, tidak akan disebut dalam Alkitab. Hanya yang benar-benar penting akan disingkap dalam Alkitab (dan Alquran). Rahasianya akan disampaikan dalam sampradaya (transmisi personal; tradisi lisan). Beberapa waktu kemudian mungkin saja sampradaya itu diskripturalisasi.

Elia sendiri bukanlah nama lahirnya. Ini adalah nama sesudah ia menjadi nabi atau diurapi sebagai imam. Ia memimpin tarekat minoritas yang tertindas pada masa kejayaan dinasti Omri yang telah berjaya membawa Israel sejajar dengan  kerajaan-kerajaan lain di kawasan tersebut. Bahkan, tarekatnya lebih minoritas daripada tarekat Yohanes Pembaptis pada zaman penjajahan Romawi. Mungkin seminoritas tarekat Bektashiyah, atau bahkan Daudiyah-Bektashiyah begitu (hehehe).

Banyak orang yang mempelajari tanpa sampradaya, atau mungkin ada yang salah pada sampradaya-nya, yang gagal memahami folklore atau kisah-kisah Elia dalam Zabur, dengan mengatakan Elia begitu brutal membunuh lawan-lawannya para pendeta aliran Ba’al ketika berhasil membuktikan argumentasinya. Dalam bahasa awam, pembuktian itu adalah mukjizat. Yang dimaksud mukjizat sesungguhnya adalah untuk membuktikan hujjahnya dan membungkam lawannya. Pada zaman se-savage itu, jika saya ada di posisi Elia, dan saya sudah lama dipersekusi Wahabi, jelas saya akan melakukan serangan balik bilamana saya tidak memperoleh jaminan apapun dari negara akan keberadaan umat dari tarekat yang saya pimpin sedangkan pada masa itu negara hanya akan memihak yang menang dan kuat.

Fragmen-fragmen Elia dan Elisha dalam Alkitab mungkin menggambarkan bukan hanya adegan-adegan kekerasan, tetapi juga kutukan-kutukan. Inilah yang menyebabkan sebagian Kekristenan memandang Tuhan dalam Perjanjian Lama adalah Tuhan yang Pemurka dan Penghukum, berbeda dengan Tuhan dalam Perjanjian Baru yang hadir dalam sosok Yesus Kristus.

Menurut saya, hal tersebut terjadi karena di luar sampradaya, pemahaman cerita-cerita tersebut dimaksudkan untuk menerima doktrin dan dogma gereja yang bersangkutan, atau demi pengkajian secara kesarjanaan modern. Bilamana membaca cerita-cerita ini secara folkloris, sebab begitulah sampradaya biasanya mengajak penerima transmisi membacanya, maka kami biasanya segera mengerti yang mana perumpamaan, yang mana dimaksudkan sebagai nitisastra, dan yang mana merupakan kejadian historis atau apa latar belakang historisnya sehingga folklore tersebut muncul.

Elia justru adalah imam tarekat yang mengajarkan ahimsa, sebagaimana maksud episode Kisah Sinai dalam Taurat dan pelaksanaan Dekalog. Tetapi, ahimsa dalam sampradaya Israil bukanlah “doktrin tanpa-kekerasan yang membiarkan diri dan orang lain mati sia-sia dianiaya. Mempertahankan diri atau menyelamatkan seseorang adalah tetap harus dilakukan.”

Dalam kasus Elisha dihina karena meyakini Elia masih membimbing secara gaib dengan mengolok-olok kebotakannya yang merupakan simbol lelaku malamatiyya-nya, ia menunjukkan perlawanan kepada perundungan terhadap dirinya dalam bentuk kutukan, dengan harapan agar mereka berhenti merecokinya. Kutukan-kutukan baik dalam Alkitab maupun Alquran bukanlah mengutuk individu, kecuali individu itu telah menjadi simbol kejahatan di cerita-cerita berikutnya. Kutukan yang disampaikan adalah terhadap perbuatan, yang bermaksud “mendoakan bahwa yang bersangkutan tidak mungkin bertaubat tanpa melalui pengalaman yang sama.” (Misalnya, bagaimana Anda tahu rasanya sakit pemfigus tanpa mengalami pemfigus seperti yang saya alami?) Jadi, kutukan-kutukan yang mereka lakukan sama sekali berbeda dengan kutukan atau laknat melaknati model saat ini yang bermaksud menghukum untuk balas dendam.

Tarekat Elia mengalami persekusi di bawah pemerintahan Ahab, tepatnya di bawah kekuasaan permaisurinya Yezebel. Dalam kitab Wahyu, ada ayat mengenai nabi palsu yang disimbolkan sebagai Yezebel, atau agama Yezebel, yang berarti di sini Yezebel digunakan sebagai simbol. Bukan lagi individu. Sama seperti firaun pada kisah-kisah setelah Kisah Sinai. Di antara ciri khas agama yang dianggap tersesat itu sebenarnya berkaitan erat dengan ciri khas masa pemerintahan Yezebel sendiri yang bersifat takfiri sehingga terjadi persekusi terhadap umat agama yang berbeda dalam berbagai level, dan klaim nubuatan-nubuatannya yang tidak terbukti yang telah memperdaya jemaatnya. Elia bernubuat akan kejatuhan Yezebel dan tidak diberkatinya dinasti Omri dalam kerajaan Daud. Sang permaisuri sendiri akhirnya mati secara defenestrasi, yaitu jatuh dari jendela. Ia terjungkal dari jendelanya karena didorong seorang sida-sida.

ELIJAH 00

Dalam salah satu folklore Yahudi itu, Rachel diceritakan mulanya tidak percaya kepada nubuat Elia mengenai suaminya yang masih hidup dari medan perang. Begitulah selama misi kenabiannya, Elia tidak diakui, tidak dipercaya, dirundung, dilecehkan, stress dan bahkan mengalami masa-masa depresi. Dalam Alkitab dan Alquran, seluruh nabi dan rasul yang memiliki misi serupa dalam menghadapi masyarakat yang bebal, dungu dan jahat, mengalami petualangan yang hampir serupa pula. Mereka tidak diakui, tidak dipercaya, dirundung, dilecehkan, dan mengalami stress maupun depresi, bahkan jatuh ke dalam titik nadir, entah ingin mati atau tidak merasa layak hidup lagi.

Salah satu adegan favorit saya dalam Alkitab mengenai Elia ialah ketika memberikan jubahnya kepada Elisha. Saya berpikir, J.K Rowling yang mengklaim sebagai Kristen yang masih ke gereja, terinspirasi hal ini dengan memunculkan paraphernalia jubah gaib Harry Potter (HP). Jubah merupakan tamsil penting dalam Sufisme atau spiritualitas. Dunia sihir dalam karangan J.K Rowling memiliki unsur-unsur folklore Israil selain folklore Inggris dan Celtic, seperti teleportasi dalam kisah-kisah ajaib Elia. Jika dalam HP disebut portal, dan dalam Jainisme maupun Hinduisme secara umum ada  tirtha (ford), maka pharapernalia seperti cawan kelima dan kursi untuk Elia senada dengan tirtha atau portal tersebut. Yang lain, misalnya, polyjus yang bila diminum dapat mengubah wujud, telepati, membaca pikiran (occlumency) dan menutup pikiran (legillimency), dan tongkat sihir. Tongkat Musa dan Harun konon merupakan pusaka yang disembunyikan dan ada pada Elia.

Pada masa sekarang, kita mengenal istilah-istilah seperti hubungan yang toksik, dan orangtua yang toksik. Pergumulan seorang Dekalogis yang sangat berat antara lain apabila memiliki orang tua yang hidup tidak selaras dengan Dekalog, hidup dengan mereka, dan mereka mengontrol hidupnya. Padahal, sila Dekalog yang kelima adalah menghormati ibu dan bapak.

Sepertinya Elia juga begitu. Ia telah meninggalkan orangtuanya yang toksik. Ini salah satu alasan mengapa tidak diceritakan nama orangtuanya. Di suatu hadis Yahudi, dikatakan bahwa ibunya adalah Rachel, bukan Leah – untuk menunjukkan trah-nya. Sebenarnya, Elia memiliki trah dari Leah secara maternal. Dalam sampradaya beliau itu terdapat Nathan Sang Nabi. Tetapi, yang mengejutkan sebenarnya, secara paternal ia adalah trah dari Bilhah. Tetapi, mengapa ia menyebut Rachel? Karena pada masa itu, Bilhah melahirkan anak-anak untuk Rachel, sebagai garwo padmi Yakub. Di samping itu, ini adalah untuk alasan yang kedua.

Nama suku bangsa Efraim dan Dan tidak disebutkan dalam kitab Wahyu dalam dua belas wangsa Israil yang memperoleh segel. Sebagai ulama Kristen dan Yahudi berpendapat ini karena Anti-Kristus akan muncul dari suku bangsa Efraim dan Dan. Mereka dikeluarkan dari daftar karena banyak keturunan dari dua wangsa tersebut yang menjadi musyrik. Kita tahu bahwa Efraim yang dimaksud adalah putra Yusuf dan istrinya Asnath, seorang putri Mesir. Sementara itu, Dan adalah putra pertama Bilhah. Setelah Rachel wafat, Bilhah menjadi ibu susu bagi Benyamin dan sangat dekat dengan Yusuf yang diasuhnya sejak kanak-kanak. Kerinduan Yakub kepada Rachel (yang kita tahu adalah cinta pertamanya), diluahkan kepada Bilhah, dan itu menimbulkan kecemburuan kepada anak-anak Yakub dari Leah. Ruben adalah salah satunya. Jadi, tidak masalah bilamana Rachel adalah ibu Elia atau diduga dari trah Benyamin, meskipun ia harus menyembunyikan wangsanya adalah Dan – salah satu dari sepuluh wangsa yang hilang, bahkan mungkin salah satu wangsa yang tercela.

Orang-orang Yahudi percaya bahwa Elia akan muncul pada akhir zaman sebagai mesias mereka, sebagaimana disebutkan dalam Zabur, antara lain dalam Mikah. Kepercayaan yang sama untuk Yesus Kristus bagi umat Kristen, sedangkan bagi umat Islam kepercayaan itu untuk Imam Mahdi dan Yesus Kristus. Dalam tradisi Daudiyah, ketiga-tiganya dan bersama dengan Enokh (yang muncul dalam nama Khidr maupun Idris), masih membimbing dalam kegaiban. Pada akhir zaman, ketiga-tiganya berperan sangat penting di tengah puncak egosektarian agama-agama Israil (Yahudi, Kristen dan Islam) dan di tengah puncak kegentingan polarisasi antara berbagai kelompok baik antar agama maupun antar mazhab pemikiran.

elijah-and-the-widow-william-gale-

Apapun itu, menarik bahwa dari sampradaya yang saya terima, hikmah dari kisah Elia yang tidak saya temukan dalam Alkitab dan hadis-hadis Yahudi adalah mengenai orangtua Elia yang telah melakukan kejahatan dan dapat dipandang sebagai orangtua yang toksik, dari sudut pandang kekinian. Ia juga berasal dari tarekat atau kelompok keagamaan yang sangat minoritas, yang tak hanya mengalami diskriminasi, tetapi bahkan juga persekusi. Di sini, dan saat ini, kita melihat bagaimana kebebasan beragama dan kesetaraan dalam menganut keyakinan yang berbeda-beda, masih merupakan tantangan di berbagai belahan dunia. Terutama di negeri-negeri dengan Muslim mayoritas yang Islamis, serta kaum Yahudi dan kaum Kristen yang fanatik dan radikal. Karena itulah, saya lebih menyukai doktrin skenario Daudiyah, daripada doktrin skenario dari mazhab, denominasi atau sekte lainnya yang egosektarian, atau dari kelompok ateis dan agnostik yang secara umum melahirkan polarisasi baru maupun tidak dapat merangkul realitas keberagamaan tiga umat tersebut yang saling berselisih itu.

Rahayu,

Syekhah Hefzibah — R.A Gayatri W. Muthari
#PengantinElia

Puisi tentang Wahyu 15-22

 

*Bersama Kampret, Cebong, Celeng dan Pengguling Aku Bersenandung*
I.
Bersama kampret, cebong, celeng dan pengguling aku bersenandung,
ke puncak-puncak Sinai kami menyanyikan kembali kidung agung
yang dinyanyikan Musa dan kawanannya dalam pengungsian.
Bagaikan Miryam aku turut menabuh gendang dan memimpin paduan:
Inilah kidung agung yang dilupakan para uskup dan para mullah
yang mengklaim dalam rombongan Yesus putra Maria dan Ahmad putra Aminah.

Di kota-kota berdebu sesak dan di desa-desa berkabut senja
mereka mengajarkan dosa-dosa adalah tidak sembahyang dan tidak puasa,
tidak mengikuti misa dan tidak menghadiri kebaktian,
tidak memakai jilbab dan tidak mengikuti ajaran-ajaran para tuan.
Mereka mengecam pengguguran dan kepada banyak anak bersorak girang,
tetapi jiwa-jiwa yang muram ditelantarkan dibiarkan menghilang.
Mereka sunyi senyap tatkala hutan demi hutan tumbang,
diam menengadahkan tangan demi kebun-kebun dan tambang-tambang.
Tapi dengarlah riuh rendah di tiap-tiap pesta pemilihan raja-raja,
dengarlah berisiknya khotbah-khotbah menetapkan yang lain sebagai penghuni neraka.
Aku meratapi sawah padi dan ladang gandum yang tak lagi dapat menanggung,
seribu satu kali ziarah ke Mekkah, Yerusalem, Roma dan Qum yang disanjung-sanjung,
anak-anak tetangga mereka busung lapar digerogoti cacing dan kutu,
saudara-saudari mereka mati tak dapat membayar kemoterapi, membeli baju dan batu.
“Doakanlah kami dari istana-istana berlantai marmer Carrara,
ingatlah kami dalam jubah-jubah linen nyaman dan sutra,”
permaidani ardabil masjid-masjid yang megah mendengar ratapan doa yang hampir mati,
pun jendela mosaik gereja-gereja yang menjulang merekam keluh-kesah yang patah hati.

[Wahyu 15]

 

II.

Bersama kampret, cebong, celeng dan pengguling aku bersenandung,
ke puncak-puncak Sinai kami menyanyikan kembali kidung agung
yang dinyanyikan Musa dan kawanannya dalam pengungsian.
Bagaikan Miryam aku turut menabuh gendang dan memimpin paduan:
Malaikat pertama mengajarkan kembali Kabar Gembira dari-Mu,
tak takut kepada siapa pun kecuali kepada-Mu
dalam kesatuan aku tak terpisahkan dan tidaklah jauh dalam bagian-Mu.
Setiap kupetik daun-daun binahong, kamboja dan kembang sepatu,
aku merunduk, bersyukur, membungkuk ke hadapan-Mu.
Pada hamparan bumi ini semuanya bersujud bagi-Mu,
darinya mekar dan bergelora jiwa-jiwa untuk menghidupkanku.

Ketakutanku bukanlah kematian dan bukan pula neraka
atau siksaan di alam kubur karena tidak salat dan tidak puasa.
Yama Sang Raja Keadilan dalam Garuda Purana
juga mengajarkan Kabar Gembira-Mu dan siksaan karma:
Yang merusak satu kemanusiaan dan melanggar kerahayuan dunia
tak peduli dia Muslim, Kristen, Yatiri, Yoruba, Buddhis atau brahmin India,
semua akan terjaring jala-jala Indra tak akan dapat melepaskan diri.
Aku berada dalam adidaya Sakra pada pikiran, perkataan, dan perbuatanku sendiri,
manakala aku ikut membunuh anak-anak Adam di Irak dan Suriah,
ikut berkata dusta tentang tetangga-tetanggaku kaum liyan dan pariah,
ikut mencuri gandum dan susu anak-anak Hawa di Nigeria dan Yaman,
ikut mengambil kebebasan saudari-saudariku di Afghanistan, Iran dan Pakistan.

Kini tak ada lagi kediaman yang tentram
bagi kampret, cebong, celeng dan pengguling di alam,
ketika malaikat kedua menyalakan alarm membangunkan Hunkar yang terlelap.
Lihatlah jemaat-jemaat dan barisan-barisan para raja yang menaungi gelap
setelah wangsa Abbas tergulung dan tanduk-tanduk Mongolia menjadi digdaya!
Kupandang hamparan China, Persia, India, Volga dan Anatolia yang ditaklukkannya.
Betapa hebat leluhurku di Jawa yang telah begitu gigih menumpasnya,
tetapi debog bosok-nya telah takluk di bawah salah satu tanduknya.
Setelah 36 sultan orang-orang Kayi Oghuz itu berakhir telak,
kekuatan-kekuatan yang sama masih bermain di lumpur emas dan minyak
dengan panji-panji baru yang masih berkibar saat puisi ini kurangkai,
bukalah jilbab warisan Ottoman-mu, hai Gayatri, kembang Mangkunegara setangkai!
Kutemukan kutukan malaikat ketiga dalam buku-buku sejarah di perpustakaan
dan masih dituliskan sampai sekarang oleh para sejarawan dan wartawan.
Bersama kampret, cebong, celeng dan pengguling aku membacanya:
Imanku meneladani iman Yesus dan bukan iman tentangnya,
dan perintah Allah terserlah dalam sepuluh firman alfurqan,
benarlah kulihat sang binatang dan patungnya terilhami oleh Alquran
dan mengatasnamakannya untuk melata dan berubah warna di gurun,
kadal-kadal dabb berhijrah berevolusi ke seluruh dunia membuat gerun.

 

Saudara-saudara kampret di Yunnan memicu penyakit di Guangdong yang mendunia
pada 2003 ketika Al-Mahdi kembali dengan kalamnya bagaikan Huldra.
Saudara-saudara celeng di Meksiko menyebarkan flu mematikan pada 2009,
ketika Ali Haydar Sadiqatulabab menghadiahkan setumpuk Buyruk Alfurqan:
kuterima kearifan Al-Mahdi di antara macapat-nya,
ketika yang lain berpaling dan tunduk kepada para marja’ karena gelar-gelarnya.
Dia telah kembali untuk menyampaikan Kabar Gembira,
bersama-sama Yesus dengan sabit tajam untuk menuai ladang mereka,
dan salah satu dari dua pir yang memegang obor kebijaksanaan.
Semoga aku sebulir Nyai Pohaci Asri yang dituai untuk kemanusiaan
dan bukan sebutir Dyonisus untuk dikilangkan karena kerusakan yang kulakukan.

[Wahyu 14]

III.
Bersama kampret, cebong, celeng dan pengguling aku bersenandung,
ke puncak-puncak Sinai kami menyanyikan kembali kidung agung
yang dinyanyikan Musa dan kawanannya dalam pengungsian.
Bagaikan Miryam aku turut menabuh gendang dan memimpin paduan:
Aku menerima alfurqan melampaui sinode-sinode gereja dan dewan para ulama,
meletakkan tanganku ke dada kepada mereka yang di singgahsana para bapa
di Vatikan, Kairo, Mekkah, Najaf, Qum dan jubah-jubah yang menjuntai.
Oh, butir-butir mikroplastik dan busa deterjen di samudra yang mengintai
dengan taring-taring maut mereka di antara rantai makanan
dan nanar mata mereka menatap trah tumerah kita begitu mengerikan!
Tujuh malapetaka disempurnakan oleh karma manusia sendiri,
bukan karena tujuh malaikat dengan mangkok emas yang diberi.
[Wahyu 15]

Simaklah Sabat yang diperselisihkan di antara kerumunan buruh yang berunjuk rasa.
Dengarlah Tauhid didiskusikan di hadapan antrian yang memerlukan donor darah segera.
Yang merajut benang di Cikarang dan yang menganyam sepatu di Brenta,
sama-sama mengharap rehat, menghirup segar udara, bercengkrama bersama keluarga.
Yang bersujud di atas turbah dan ruku’ di atas sajadah dengan rhesus negatif mereka
mengambil dan memberi di kumpulan bersama yang menerima komuni dan memuja Siwa.
Sekarang mereka menyebutkan nama Tuhan dengan sia-sia,
dengan congkak dan sembarangan di masjid-masjid dan gereja-gereja.
Sabda-sabda Maria dan Ali bagaikan desir angin di antara tilawah dan nyanyian,
mereka yang mendengarnya dan menyuarakannya dilemparkan jauh-jauh ke jalanan.
Inilah malapetaka pertama yang dituangkan ke bumi,
ketika alfurqan digantikan mereka yang berdiri di altar dan di mimbar suci
dengan aturan-aturan yang makin rumit dan makin panjang lebarnya.
Kutemukan dalil-dalil, saling berhujah dan ritual-ritual sebagai penggantinya.

Muara tempat bertemu lautan dengan Sungai Efrat belum melupakan sejarah,
ketika kejahatan memenangkan perang dengan menghalalkan pertumpahan darah
dan panji-panji mereka masih berkibar sampai sekarang.
Inilah malapetaka kedua dan ketiga yang berjumpa dalam setiap perang.
Di setiap singgahsana yang memenggal mereka yang menyaksikan kebenaran,
terjungkal dan tenggelam dalam kubangan darah yang mereka tumpahkan.
Tak cukup bagi Roma menumpahkan darah putra Yusuf dan Maria,
Yazid mengulanginya dan setiap yang jahat menikmati membunuh yang mulia.
Engkau telah menjahit polanya untuk aku membaca setiap kelimnya,
merajut dan menyulam nasibku sendiri pada tiap pertempuran di antaranya.

Babilonia yang megah telah jatuh ke tangan Cyrus yang gagah perkasa,
aku berjemur untuk memulihkan diri sambil memandang ke birunya angkasa:
Siapa mereka yang menghalangi kulit para perempuan dari sinar mentari?
Dari masa ke masa Babel telah berganti penguasa tapi matahari tetap menari
dan melihat semuanya telah memenuhi mangkok emas malaikat keempat
meski raja-rajanya berjubah kemenyan dan bersurban dupa menjunjung filsafat.
Aku beroleh hujat, dianggap gila dan dungu, lalu dibuang dari kumpulan mereka
karena kuceritakan murka yang menggelegak dalam mangkok emas malaikat kelima.
Aku tercekat oleh mendung yang dilukiskan para kaisarnya dalam nama-Mu
dan terhantuk oleh para pengikut mereka yang mengeluarkan batu-batu
dari hati mereka sedangkan yang kudengar mereka bertasbih memuji-Mu.
Meski bisul-bisul mereka lebih mengerikan dari pemphigus yang membunuhku,
jerit kesakitan yang kudengar tak membuat mereka berpaling ke alfurqan.
Al-Mahdi tinggallah nama di bibir kering dan mata basah yang kehilangan.

Di sungai kediaman cebong bersama kampret, celeng dan pengguling
kudengar dongeng tentang sungai atmosferik yang mengalir seperti maling,
mencuri kebahagiaan orang-orang di tepinya kala curah hujan tinggi.
Dari air mata derasnya kulihat perubahan iklim dan kering kerontang perigi
ketika sungai atmosferik pergi dan kemarau mengecam padang-padang di bumi.
Binatang bagai domba dengan dua tanduk telah datang menguasai negeri-negeri.
Kutemukan di Raqqa, di Fallujah, di sepanjang Efrat yang panjang sekali,
dongeng Yohanes Patmos tentang malaikat keenam telah menyayat hati ini.
Apakah yang kulihat ini jalan telah terhampar untuk raja-raja dari Timur bukan Barat,
tentulah bukan kereta kencana dari Istana Buckingham dan Gedung Putih yang kulihat.
Cebong-cebong akan menjadi kodok-kodok yang melompat-lompat riang,
tapi ada kodok-kodok yang racunnya diambil untuk membunuh orang-orang.
Racun dari panah-panah para panglima Umayah telah mencipta keraguan,
dan arak para kaisarnya telah mengaburkan intisari kearifan dan pembimbingan.
Racun dari wine para maharaja Abbassiyah telah merekayasa kebenaran
seakan-akan semua dalil-dalil yang kita pelajari diilhami oleh wahyu Tuhan.
Racun dari patung yang dipahat Usmaniyah telah menjadi berhala arus utama,
halusinasi dari aroma yang dihembuskan rempah-rempah narkotikanya
menyebabkan setiap yang menghisapnya ketagihan dan sakau tanpanya.
Naga yang terbang ke Andalusia, binatang yang mencengkeram Asia,
dan nabi palsu yang bergelora dari Anatolia telah menggoncang Gereja-gereja
sejak raja-raja abad pertengahan sampai revolusi industri kini merangkul kita.
Perebutan minyak dan emas ini belum berakhir saat Gayatri menulis sajaknya.

 

“Armageddon adalah tempat kerumunan, keramaian, orang-orang dalam kerubungan,”
kata celeng yang bersin saudaranya membunuh jutaan orang pada zaman penjajahan.
Dan, kusimak dongeng teman-teman pengguling telah membawa virus kejam
dari saudara-saudara kampret di pedalaman dan saat ini masih meremuk redam.
Bersama mereka, aku yang terkucil telah lama mengasingkan diri di dalam pertapaan,
agar setia kuamalkan  kalimat demi kalimat yang telah diabaikan dari alfurqan.
Kubah-kubah megah di Mesir telah menggantikan piramida firaun yang dikutuk mereka,
tapi tak kudengar dari sana yang menyanyikan senandung Musa dan rombongannya.
Malaikat ketujuh membawa mangkok malapetaka ketujuh yang merebak di udara,
setiap mangkok emasnya penuh maka kutemukan kota-kota telah jatuh sengsara.
Para pemeran utama sandiwara dunia yang paling gencar masih berasal dari ketiganya.
Puing-puing Babilonia, Roma dan Baghdad dalam jalin kelindan konflik politik dan agama,
Para pengamat politik dan ekonomi tak pernah menelusuri jejak DNA-nya,
golongan kanan dan golongan kiri telah terperosok ke dalam puting beliung-nya.
Kusadari Tursina adalah Mahameru dan Mahameru adalah Tursina
bilamana kami berlima berdiri di puncak Andes dan puncak Himalaya.
Begitulah pulau-pulau kediaman bangsa-bangsa Austronesia juga lenyap
bersama mereka yang dijajah, dipaksa menerima dan hidup dalam senyap.

[Wahyu 16]

 

 

IV.
Bersama kampret, cebong, celeng dan pengguling aku bersenandung,
ke puncak-puncak Sinai kami menyanyikan kembali kidung agung
yang dinyanyikan Musa dan kawanannya dalam pengungsian.
Bagaikan Miryam aku turut menabuh gendang dan memimpin paduan:
Tak ada yang lebih menyenangkan daripada dongeng dan penglipur lara,
menyanyikan atau menyimaknya diceritakan dalam gambar maupun suara.
Karena manusia tak tersentuh untuk belajar dari sejarah leluhurnya,
kecuali saat merangkai syair di kala mabuk asmara dan patah hatinya.

Kita semua telah bergantung kepada minyak kelapa sawit di meja makan kita
dan di kamar mandi kita sebelum keluar berkencan dan pergi berunjuk rasa.
Anak-anak kita bergantung kepada tambang gas dan minyak para maharaja,
dan rekening kita bergantung kepada saham-saham dan kurs di bursa mereka.
Penelitian-penelitian di laboratorium untuk pengobatanku dan pengobatanmu
bergantung kepada perputaran modal dan keuntungan di pasar sang pelacur itu.
Kita semua berhasrat menikmati foreplay dan orgasme di antara kedua payudaranya
dan mengambil viagra-viagra untuk memuaskan selangkangan dahsyatnya.

Dalam lembaran-lembaran kitab sejarah kutemukan tujuh negara dan raja
dan suburban-nya di Roma dan sepuluh tanduk kekuasaan mereka
menentang setiap kalimat dalam sepuluh titah alfurqan yang sederhana.
Setiap pemerintah di bawah radiasi sinar matahari yang dapat membunuhnya
telah menyilaukan setiap mata rakyat dengan radiasi kekuasaan mereka pula.
Penindasan dan pemiskinan dirayakan di lobi-lobi kaum bangsawan itu.
Godaan tahta, minyak, emas dan rempah-rempah, siapa yang mampu menahan nafsu? 

Satu jam lamanya kira-kira seabad untuk kita lewati bersama-sama.
Sepuluh sultan setelah Abdul Rahman telah berkuasa di singgahsana Kordoba,
meski wangsa Abbas telah merobohkan Damaskus dengan tipu dayanya,
separuh penduduk kota-kota anggun Iberia dan Asia menjadi Muslim karenanya.
Bagaikan duet biduan smule yang dilakukan dari dua ibukota berjauhan jaraknya,
nyanyian mereka sama-sama menentang wewenang Ali dan sebelas penerusnya.
Hulagu menghancurkan kepongahan mereka yang menguasai menara Islam,
dan Catalonia telah menjadi saksi kekuasaan sepuluh raja dalam masa satu jam.
Ekspansi dan keserakahan tak akan dapat memuaskan dan menyelamatkan,
tapi kitab yang menjadi pedoman terlanjur menjadi mudharat di tangan para sultan.

[Wahyu 17]

 

V.
Bersama kampret, cebong, celeng dan pengguling aku bersenandung,
ke puncak-puncak Sinai kami menyanyikan kembali kidung agung
yang dinyanyikan Musa dan kawanannya dalam pengungsian.
Bagaikan Miryam aku turut menabuh gendang dan memimpin paduan:
Kudengar syahdu Anna Maria melantunkan ayat mazmur pertama dan kedua
ketika kutelusuri jalanan Milan dan Roma sebagai orang asing tiada berpunya
kemiskinan dan pelarian di antara gemerlap tas mewah yang dipajang,
istri-istri pejabat dan sosialita memamerkan agar semua mata memandang.
Ziarah ke Lourdes dan Fatima, umrah ke Mekkah dan Madinah,
konser meriah dan mukjizat di gereja-gereja mega yang menjulang megah,
zikir dan tangis di masjid-masjid bersepuh emas dan kristal menyerlah,
Zildjian dan Tobit yang kusayang menerima obat seadanya dengan pasrah.
Iman palsu dalam agama dan perdagangan bebas tak peduli kepada mereka,
kecuali sedekah untuk mengejar surga dan pahala dan meningkatkan harta.
Terang benderang malaikat itu terlihat lebih jelas sekarang di kala korona.
Mereka tidak sungguh-sungguh mengimani tauhid, tetapi berhala! Berhala!

 

Apakah kini yang kulihat Babel yang rubuh di sisinya,
semua kota dan pelabuhan menutup gerbangnya?
Mutiara-mutiara terindah dari Nusantara kini tiada artinya,
pelacur itu telah menjelma umpama pertanian yang terluka.
Memandang Basilika Santo Petrus yang sunyi tanpa barisan mengular untuk roti,
tak ada tawaf di Ka’bah dan petilasan-petilasan di Mashad telah rapat dikunci,
kulihat betapa maut yang bergegas merampas tawa di Italia dan Iran
telah menundukkan manusia ke dalam Sabat dan satu kemanusiaan.
Angsa-angsa, burung-burung, dan lumba-lumba dapat bermain riang lagi
di air, di udara dan di darat kera-kera juga berlari dan riang menari:
Para resi telah dibunuh atau telah dibungkam sejak Gobekli berdiri,
sekarang siapa yang pergi berjemur dan dalam Sabat sepanjang hari?

Orang-orang ateis menertawakanmu, hai pagan-pagan baru
dan mereka mengira aku ikut bersembahyang di dalam jemaahmu!
Tetapi, di tepi jendela ini kuteguk ambrosiaku memandang samudra,
angkasa, dan hutan-hutan yang pepohonannya masih berharap kepada manusia.
Thomas telah melukis keajegan alfurqan dengan gaya ekspresionisnya,
aku terpana oleh realitas demi realitas yang tersembul pada avant-garde-nya.
Konser-konser musik telah ditunda dan jangan dulu bersenang-senang di diskotik.
Tetapi, tanpa segenap industrinya yang menciptakan kesenjangan dan rematik,
kita masih bisa bersenandung dan memetik gitar di balkon kita,
merekam tiktok dan menghibur yang merana dengan cuma-cuma.
Sudah lama dikatakan Bektash Wali tak perlu ziarah ke Yerusalem atau Mekkah,
bukanlah keajaiban pada mahkota, dan bukanlah salat pada sajadah.
Dia mengajak menari di hutan bersama pohon-pohon yang memberi kehidupan,
memangku rusa dan menyanyi bersama-sama keluar dari segala kepenatan.
Namun, sejak dia desersi dari ghazi menentang nabi palsu sang panglima jendral
sampai suara sumbangku menyenandungkan syair-syairnya di era musik digital,
Belum berubah, belum berubah penjaja obat yang selalu menarik kerumunan,
“Keajaiban! Keajaiban! Ini dapat mengobati! Ini dapat menyembuhkan!”
Darah para resi dihidangkan di cawan-cawan konfrensi, kebaktian dan pelatihan,
bagaimana agar sabda-sabdanya dapat menjadi wine memuaskan pelanggan?
[Wahyu 18]

 

VI.
Bersama kampret, cebong, celeng dan pengguling aku bersenandung,
ke puncak-puncak Sinai kami menyanyikan kembali kidung agung
yang dinyanyikan Musa dan kawanannya dalam pengungsian.
Bagaikan Miryam aku turut menabuh gendang dan memimpin paduan:
Nyepi hanya setahun sekali, Earth Hours hanya beberapa jam setahun sekali
tapi Sabat-ku berbaring dan diam saja setidak-tidaknya seminggu sekali.
Kalau semua pemimpin dunia sepakat melakukan setiap hari yang sama,
seperti hari-hari ketika air Venesia menjadi jernih dan udara bersih di China,
sehari saja dalam seminggu jalanan menjadi lengang dan listrik berkurang,
berpuasa beberapa jam dari makan berlebihan dan merenung di ranjang.
Tetapi kalian lebih mendengarkan fatwa-fatwa penerus Babilonia dan Roma
yang bergabung bersama tuhan-tuhan di Washington dan New York celaka,
merusak bumi kita dari Paris ke London dan salat berjamaah bersama mereka.
Bagaimana pun jua anak-anak Shiwa, Brahma dan Wishnu di bawah jajahannya
dan trah-tumerah Quetzalcoatl telah lama jatuh tertawan ditaklukkannya.

Dua puluh empat sesepuh – meski nama mereka telah diklaim para kaisar dunia,
kearifan mereka tersembunyi bagai batu katapel pembunuh rupanya intan permata.
Keajaiban bukan pada mahkota anak-anak Ismail dan anak-anak Ya’kub, kata darwis,
tetapi pada khirkah mereka yang ujung-ujungnya dipegang setiap sepuluh turis.
Mereka bersujud bersama empat pir yang membawa obor di jalan-jalan kegelapan,
banyak sekali orang mengklaim mengimani mereka tapi bukan dalam kehidupan.
Sang Rajawali yang telah merintis jalan membuka misteri kematian,
Sang Lembu yang telah merintis jalan membuka misteri kepalsuan,
Sang Singa yang telah merintis jalan membuka misteri kehidupan berikutnya,
dan tempat Hati Manusia disimpan yang malah dinanti-nantikan untuk berperang,
para pengklaim itu mengharap akhir zaman saling menumpahkan darah manusia
karena putus asa dalam keadilan memberikan pelitanya kepada yang meradang.
Sungguh kecil kawanan Haykal di antara mereka yang punya paus dan ayatullah,
walau tanpa Ali, Anna, Adam, Adam dan Ismail berjalan sendiran bagai tak bertuah:
biarlah aku bersujud bersama mereka dan ikut bersorak sorai!
Kampret, cebong, celeng dan pengguling berjingkrak-jingkrak diiringi serunai,
gong dipukul, saz dipetik, gamelan ditabuh, gendang bertalu-talu,
biola digesek, harpa dan sasando bersahut-sahutan, burung-burung berseru Huu!!

Dulu aku telah keliru melihat lautan luas seakan-akan kapalnya masih jauh sekali,
sekarang aku bergegas mengenakan gaun terindahku menjemput kekasihku Ngali,
kapalnya ternyata begitu dekat dan aku ingin juga menjadi pengantinnya,
oh bunga-bunga kamboja di kuburan dia yang telah disangka mati selama-lamanya
aku bertasbih dengan setiap kelopakmu kiranya Tuhan mengizinkan
aku hadir melihat gajah-gajah dan burung-burung pegar menerima serah-serahan
dan aku terhindar dari segala rupa Babilonia, kejahatannya dan nenek lampir itu.
Di kamar krobongan-Mu kulihat janur-janur sedang dianyam untuk menandai pintu.
Dua kali aku telah bermimpi dalam gaun pengantin putih bersih
setelah menjanda dan hidup dengan tiga serigala yang mencuciku agar jernih.
Kuberharap itu lenan dan bukan sutra sebab si pemphigus pengganggu desmoglein
pada kulitku dengan si lupus dan saudaranya mereka suka berguling-guling bermain.

Kampret, cebong, celeng dan pengguling juga mendengar dongeng terasing ini
menyimakku di depan pendiangan di musim korona mengunci negeri-negeri.
Domba Kemenangan dan Al-Mahdi telah digandeng sang penunggang kuda putih,
Yesus Kristus, aku tidak menyebutnya sebagai Muslim, Kristen atau mahapatih
yang mengklaim tahta suci di Teheran maupun di Vatikan.
Agama-agama bukanlah percakapan dalam sajak yang kurangkaikan,
tetapi sastra menyimpan kearifan bagi mereka yang mencari petunjuk
dan sejarah menjahit benang-benang merah pola-pola untuk dirujuk.
Aku percaya Kesadaran dan Kenangan para resi tidak lenyap oleh kematian,
tetap hidup bersama kesatuan dalam waktu, gelombang, dan daya dalam keabadian.

Betapa menyedihkan orang-orang yang belajar sampai ke perguruan tinggi,
tetapi mereka tidak mengerti apalagi tidak menyukai puisi.
Cukup belajar berhitung, membaca aksara dan memasak untuk bertahan hidup
tak perlu gelar untuk menyalakan lilin-lilin kecil di lorong-lorong redup.
Kitab-kitab dikarang para resi bukan sekedar fiksi bukan pula memberi solusi,
tetapi suatu petunjuk saja sudah cukup bagi yang mengosongkan wadah agar terisi.

Bersama kampret, cebong, celeng dan pengguling kulihat ia di cakrawala,
seumpama Raja Daud memporak-porandakan altar sesajen anak manusia
untuk Caesar dan Ba’al dan andai dapat menulisnya demikian di akhir cerita,
setelah ternganga teringat pesta Belshazzar di barat laut padang gurun Arabia.
Bukankah kemarin ribuan anak-anak mati karena busung lapar di Yaman?
Dan, di kota-kota manakah pedangnya sekarang telah membinasakan?
Hah, binatang itu mungkin sekarang telah mengenakan jubah mempesonakan,
dan nabi palsu itu masih beranak-pinak di masjid-masjid di kota dan pendalaman,
raja-raja di bumi telah membentangkan permaidani kesemakmuran dan persekutuan,
dan  tentara-tentara mereka telah dilatih untuk melawan di lebih 800 pangkalan.
Semua tampaknya bermusuhan dan perang dunia bagai akan berkobar sebentar lagi,
tapi sang penunggang kuda dan tentaranya ada di benteng-benteng tempat misteri
dan harapan, dan di lorong-lorong bawah tanah tempat menyembunyikan diri.
Tak satu pun agama, mazhab, dan aliran berada di dalam pasukan kudus ini,
melainkan orang-orang yang telah melampauinya di bawah cahaya alfurqan
dan kehidupannya telah dipersembahkan tanpa memberi makan egosektarian.
Jangan biarkan aku terperdaya silaunya glorifikasi di kubu sana dan di kubu sini,
lebih baik aku merebahkan diri bersama si lupus berpura-pura tak mengerti.

[Wahyu 19]

 
VII.

Sabat telah tiba tatkala kampret, cebong, celeng dan pengguling bersenandung,

bersamaku di puncak-puncak Sinai riang menyanyikan kidung agung

yang dulu dinyanyikan Musa dan kawanannya dalam pengungsian.

Bagaikan Miryam aku turut menabuh gendang dan memimpin paduan:

Menyanyikan himne yang sama yang dinyanyikan mereka yang mengamalkan yama,

yang memelihara niyama dan mo limo, dan mereka yang menjaga pancasila dharma.

Semenjak Iblis dilepaskan dari penjara seribu tahunnya, aku masih merenungkannya.

Sang legenda penentang bidat Monofisit dan segenap puitis sabdanya telah diklaim

sebelum pedang-pedang memenggal demi hasrat mereka menguasai Muslim.

Binatang itu masih dielu-elukan dalam tarikh Islam dan kitab karya para mullah,

dan kenangan bersama sang nabi palsu hendak dikembalikan mencatat sejarah:

dia yang telah merebut kekuasaan dan mengambil cawan Ali dan Domba Kemenangan,

dikatakannya hamparan permaidani begitu luas bagi dua darwis menari dalam lingkaran,

tapi seluruh dunia terlalu sempit bagi dua raja berbagi kekuasaan dalam bentangannya.

Kita pun telah melihat anak cucunya saling menumpas demi duduk di atas tahtanya.

 

Betapa menyenangkan tatkala cahaya matahari menembus pori-pori kulitku,

betapa Kematian dan Hades telah membuka pintu mereka lebar-lebar bagiku.

Manusia telah begitu lama berjalan di muka bumi dan bersujud bagi berhalanya sendiri,

tapi menikmati dedaunan, umbi-umbian, dan buah-buahan dari yang tumbuh di bumi.

Mereka menghisap ganja, menghirup nitrus oksida dan meneguk sup jamur gembira

lalu mencari-cari Tuhan pada yang jauh dan luar biasa di luar diri dan sesamanya.

Kepada siapa gerangan kita mensyukuri kehidupan dan anugrah udara,

karunia sinar matahari dan keindahan bunga-bunga kala musim semi menjelma?

Tak ada hujan yang merintik membasahi sawah padi tanpa angin yang menari,

dan adakah nasi lezat di piring dapat memberi kita kenyang tanpa para petani?

Lebah menghasilkan madu dan deras air juga membangkitkan energi listrik,

dan adakah kain yang membungkus aurat tanpa tangan pemintal benang yang lentik?

 

Aku lebih takut pada Tuhan daripada sembahyang jemaah di masjid seperti para ulama,

daripada duduk bersimpuh di hadapan salib setiap berdoa seperti para pendeta.

Aku lebih takut pada Tuhan daripada berpuasa sepanjang bulan Ramadhan,

daripada tak makan babi, kepiting, lobster, cumi-cumi, lele dan kelinci peternakan.

Aku lebih takut pada Tuhan daripada berjilbab, berchador dan berniqab di jalanan

daripada diam berselibat di dalam biara-biara hidup mengenakan jubah kesalehan.

Aku lebih takut pada Tuhan daripada taklid menaati para marja’ dan patriark

daripada bertanya di mana dalilnya dapat kutemukan di antara kitab yang berserak.

Aku lebih takut pada Tuhan daripada pertanyaan malaikat di alam kubur,

daripada memilih dibaptis selam atau percik, dan mayatku diperabukan atau dikubur.

Kuterima “Takut pada Tuhan adalah awal dari kebijaksanaan,”

tapi aku lebih takut pada Tuhan daripada api neraka yang mereka bualkan.

Karena kutahu Tuhan ada dalam kemanusiaan dan dalam kerahayuan bumi,

dalam diriku yang manis, dan dalam dirimu ada diriku, dan dalam kekasihku Ngali.

Oh kehidupan! Aku takut membunuhnya, takut melukainya, takut menyengsarakannya,

takut merampas kebahagiaannya, takut mencuri harta bendanya, menyebabkan derita.

[Wahyu 20]

 

VIII.

Sabat telah tiba tatkala kampret, cebong, celeng dan pengguling bersenandung,

bersamaku di puncak-puncak Sinai riang menyanyikan kidung agung

yang dulu dinyanyikan Musa dan kawanannya dalam pengungsian.

Bagaikan Miryam aku turut menabuh gendang dan memimpin paduan:

Di lorong-lorong kematian dan jalan-jalan maut aku pernah menempuhnya,

Kutinggalkan argumentasi dan spekulasi saat menghempaskan diri ke sana.

Kehidupan kedua adalah kesempatan untuk menebus hutang-hutangku

pada kerusakan yang telah kuciptakan dalam diriku, dirinya dan dirimu,

menyingkap tabir-tabir dari pandanganku agar selalu menemukan kemah-Mu

di setiap tikungan, perhentian, dusun, pesisir dan rimba dalam perjalananku.

Kuserahkan apa yang akan ke terjadi ke dalam genggaman harapan,

sepenuhnya percaya Engkau telah menyiapkan di akhir perjalananku: kemenangan,

dan Al-Kautsar di setiap aku dahaga, karena Engkau ar-Rahman dan ar-Rahim.

Kukenakan pakaian Kekristenan, Kejawen, Hinduis, Taois, Buddhis dan Muslim,

mengupayakan bakti di setiap kuil tersembunyi yang tersenyum lirih penuh harap.

Rasa sakit dan rasa senang tetap silih berganti di setiap terjaga dari terlelap,

rahasia dari segala rahasia dalam keabadian setiap aku digosok dan disucikan,

di keramaian, di ocak saat semah, dan di krobongan-Nya untuk menerima undangan.

 

Dua belas anak-anak Israil dari empat isterinya juga perlambang,

dua belas murid-murid Yesus ke empat penjuru juga siratan,

dua belas pangeran Ismail yang diberkati bukan sekedar kembang,

dua belas pembawa risalah Ali bukanlah sekedar hikayat kenangan.

Sejarawan yang mencatat bagai sastrawan bukan merekam bagai wartawan,

jika empat musim senantiasa bergerak dalam siklusnya dalam keteraturan,

demikian pula kemanusiaan dalam perjalanan peradaban lahir dan matinya.

Tujuh, sepuluh, dan dua belas bukanlah sekadar angka saat diceritakannya,

Empat penjuru, tiga hari dan empat lagi, seminggu tujuh hari berakhir dengan Sabat.

Tawassulku tidaklah mendiskriminasi semua set dua belas resi Israil dalam salat,

Ibrahim, Ismail, Ya’kub dan Muhammad dari kemah Kedar dan ocak Daud,

Untuk setiap ibu yang telah payah mengandung dan melahirkan, hatiku terpaut.

 

Kupandangi saujana langit dan hamparan bumi Maret 2019 ini

ketika Yerusalem menjadi sunyi dan Vatikan tak lagi memberi komuni,

ketika salat-salat berjamaah di masjid tiada dan Ka’bah benar-benar sepi,

ketika petilasan-petilasan di Najaf, Karbala, dan Qom tak dapat diziarahi,

tetapi ada imam-imam yang tetap mengumpulkan jemaat dan berdiri pongah

mengklaim kita harus lebih takut kepada Allah, betapa mereka telah lengah.

Kota itu, kota yang terpuji itu, dengan dua belas gerbangnya dihiasi mutiara,

Ya, mutiara, mutiara, 43 persennya berasal dari kepulauan Nusantara,

Tak ada bait suci di dalamnya, tak ada kenisah, semewi atau pun husainiyah,

tak ada pula kapel, musola, basilika atau pun masjid agung berdiri megah.

Seandainya korona tidak berjalan-jalan di antara cairan dan terbang di udara,

manusia tak dapat dihentikan dari melanjutkan ibadah pagan masa purbakala.

Izinkanlah iman yang sejati terserlah agar senantiasa eling dan waspada,

Ka’bah ada dalam sanubariku, begitu pun Ali dan Yesus di dalam lubuknya.

Tidaklah memerlukan lampu-lampu kristal, matahari dan bulan untuk menyinarinya,

demikianlah kota itu tetap bercahaya dan gemerlap karena Ali dan Yesus pelitanya.

Kearifan dua belas dan bukan dalil-dalil atau hukum-hukum agama sementara,

senantiasa tersedia dan tak pernah beristirahat dari memancarkan cahayanya.

Pada mutiara-mutiara yang diuntai Raden Mas Sudira dan Sosrokartono

kutemukan kemilau kearifan mereka agar tak lagi melangkah dengan sembrono.

Betapa raja-raja dari Nusantara juga menyerahkan khazanah dan tabik mereka,

maka kuikuti jalan-jalan yang disinari leluhur Jawa dan Cina-ku yang ada di kotanya,

mungkin leluhur India-ku juga ada di sana, diam-diam memanggil namaku.

Melampaui segala agama, hanya ada satu kemanusiaan, satu keluarga bumi yang rahayu.

 

[Wahyu 21]

 

IX.

Di puncak-puncak Sinai, Meru, dan Andes kita akan bernyanyi.

Lagu yang sama, lagu yang Ahad ini kami senandungkan sambil menari,

lagu yang dinyanyikan Musa, Harun, Miryam dan rombongannya

di pengungsian, betapa eraku dunia masih dijejali pengungsi dan pencari suaka.

Cebong menceritakan empat belas pohon yang senantiasa berbuah,

kampret mendongengkan dua belas buah yang senantiasa bertuah,

celeng mengisahkan telaga Al-Kautsar di setiap gurun tandus para penempuh Jalan,

dan pengguling si trenggiling mendaraskan pohon kehidupan yang menyembuhkan.

 

Berhala-berhala tak akan dapat kuhancurkan tapi biarlah sering kulupakan

dalam rasa sakit dan rasa senang yang berselang seling datang bergilir.

Mereka melecehkan setiap ceritaku tentang Al-Mahdi di setiap beliau terkilan,

betapa setiap diri bak permaisuri berhak untuk absurditasnya sendiri, yang lain hanya selir.

Sebentar lagi aku akan ke Persepolis saat musim semi mengenakan kemben Jawa,

dan mereka yang pernah menertawakanku sekarang juga pergi mengejar matahari.

Tak perlu kelak aku dimakamkan di tempat seperti Imogiri dan Taj Mahal India,

di tiap aksara ini Kesadaran dan Kenangan padamu, oh Diri, selalu dapat dijumpai.

Perkenankanlah doaku pada setiap harapanku untukmu dan setiap aku melangkah.

Perkenankanlah salatku pada setiap perkhidmatanku bagimu dan setiap aku bernafas.

Izinkan tiada kehendak untuk serakah, tidak pula takut pada tirani dan menyerah.

Izinkan tiada hasrat pahala bagi diri sendiri, ringan menanggung beban bagai kapas.

Tuhanku dan Tuhanmu ada seribu dan ada satu,

Muslim dan Buddhis sama-sama sembahyang untuk berbahagia,

Kristen dan Hindu sama-sama terjerat dalam Waktu,

Ateis dan Sufi sama-sama saling berdampak dalam karma.

 

 

Nowruz yang terbit pada 2020 bagai sembilu menusuk kalbu:

sungguh aku telah menemukan kedunguan di setiap mampir dan di setiap penjuru.

Tetapi biarlah kugenggam alfurqan agar tak terjerembab bersama mereka,

sepuluh kesederhanaan cukuplah sudah di atas segala jemaat masjid dan gereja.

Agama-agama hanya akan mereduksi jiwaku untuk menghamba dalam delusi,

setiap gereja, setiap mazhab dan setiap aliran punya lebih dari sepuluh instruksi

dan setiap kelompok itu memiliki dongeng akhir zaman yang egosektarian.

Islam yang akan jadi pemenangnya, atau Yahudi yang akan dikalahkan,

atau Kristen yang akan gilang-gemilang, atau Ateisme yang digdaya.

Namun tak seorang pun yang berakal budi akan menentang alfurqan dalam esensinya,

karena pembunuhan, pencurian dan perampokan menyebabkan penderitaan,

bumi yang rusak dan tubuh yang tercemar pastilah merampas kebahagiaan.

Akulah Tuhanmu, bukan Kami-lah, Mereka-lah, Kita-lah, Engkau-lah atau Dia-lah.

Tak satu pun dapat membuktikan kebenaran mutlak gambar dan konsep Allah,

teori-teori sains yang senantiasa berubah dan perasaan pun dapat menjadi hambar.

Meskipun dari Daud kutelusuri akarku dan kusebut Dekalog dalam setiap lembar,

namaku masih Gayatri dan Wedotami yang menyalakan dupa gaharu dan cendana.

Tak ada orang religius, mistikus, ateis atau agnostik yang cerdas di kala korona

akan meninggalkan Sabat untuk berada dalam kerumunan.

Tidak pula di antara mereka itu yang bernurani tak meratapi dalam penyesalan

orang-orang tua yang terpaksa diabaikan dari antrian yang harus diselamatkan,

rak-rak kosong di pertokoan karena mereka memborong dalam keserakahan,

apotek-apotek tak dapat menyediakan masker dan hand sanitisizer lagi,

dan harga obat apalagi alat penguji yang tidak sanggup untuk dilunasi.

Mereka pasti akan ikut bersama dalam paduan suaraku,

sama-sama menjerit jangan membunuh dan jangan mengambil milik tetanggamu,

sama-sama berteriak jangan mencuri dan jangan mengkhianati perjanjian kita,

dan jangan bersaksi dusta karena kita ternyata memerlukan hal-hal yang sama.

 

Hai cebong, kampret, celeng dan pengguling mari kita lihat

seratus tahun lagi dari syair Gayatri ini dirangkai menjelang Sabat!

Ketika anak keturunan kita mencari tahu tentang masa-masa korona ini,

perang dagang, wisata kuliner dan gegap gempita media sosial di masa kita ini.

Dari Buyruk Alfurqan aku merujuk tanpa bertelungkup,

maka harapan dan ramalanku sendiri telah tercakup.

Semoga impian kita yang berbeda-beda terwujud juga pada akhirnya,

kebahagiaan, kedamaian, kesejahteraan dan kerahayuan bagi seluruhnya.

Sampurasun katamu, dan rampes jawabku!

Biarlah saling kama hatimu dan hatimu selalu.

[Wahyu 22]

 

19-22 Maret 2020. Bojongkulur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

 

 

 

 
 

 
 

 

 

 

 

 

 

 
 

 

[Wahyu 14-22]

 

 

 

 

 

 

Surat Terbuka untuk Para Ulama dan Mubaligh Islam Terkemuka

Surat Terbuka

Kepada para ulama, ustadz, ustadzah, mubaligh  dan aktivis Islam terkemuka.
K.H Ma’ruf Amin, Prof. Dr. Quraish Shihab, Prof. Dr. Nasarudin Umar,
K.H Miftahul Akhyar, K.H Agil Siradj, K.H Yahya Cholil Staquf,
Prof.Dr.K.H Syafii Maarif, Prof.Dr.K.H Amin Rais, Dr. K.H Haedar Nasir,
Nyai Hj. Sinta Nuriyah Wahid, K.H Ahmad Mustofa Bisri, Drs. H Zainut Tauhid Saidi,
Dra. Hj. Siti Noordjannah Djohantini, Dra. Hj. Khofifah Indar Parawangsa,
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, K.H Husein Muhammad, K.H Abdul Syakur Husain,
Gus Baha, Gus Abdul Moqsith Ghazali, Prof. Dr. Musdah Mulia,
Gus Ulil Absar Abdallah, Prof.Dr. Haedar Baghir, Gus Nadirsyah Hosen,
Prof. Dr. Sumanto al-Qurtuby, K.H Dr. Din Syamsudin,
Mamah Dedeh, Ustadz Abdul Somad, Yusuf Mansyur,
Tengku Zulkarnaen, Irena Handoko, Neno Warisman,
Khalid Basalamah, Adi Hidayat, Firanda Adirja,  Ahmad Al-Habsyi,
Felix Siauw, Yahya Waloni, Ummi Pipik, dr Ferihana,
dan masih banyak lagi yang terlewat saya sebutkan karena saya tidak dapat menyebutkan semuanya.

Surat terbuka ini juga saya tujukan kepada para ulama internasional yang namanya tidak dapat saya sebut satu persatu, seperti
Syaikh Dr. Muhammad Ahmad al-Thayeb (Al-Azhar), Syaikh Abu Al Fadhl Ahmad bin Manshur Qartham (Palestina), Syaikh Muhammad Adnan Al Afyouni (Syiria/Mufti Damaskus), Dr. Riyadh Hasan Bazou (Libanon), Syaikh Mahmoud Yasin At Tuhami (Mesir), Syaikh Abubakar Ahmad (India), Syaikh Dr Khalid Sana (Burikna Faso), Syaikh Prof. Dr. Muhammad bin Braykah Al Hasani (Aljazair), Syaikh ‘Aun Mu’in Al Qaddumi (Yordania), Ayatullah Khamenei (Iran), Ayatullah Sistani (Irak), Habib Ali Jifri, dan masih banyak lagi.
Namun, maaf seribu maaf, atas nama kesetaraan (Alhujurat 13), saya tidak akan menuliskan surat ini dalam bahasa asing selain bahasa kebangsaan saya.

 

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Teriring salawat kepada baginda Rasul Muhammad SAW beserta para ahlulbait dan sahabat-sahabatnya. Semoga Allah merahmati Tuan dan Nyonya sekalian.

Izinkan saya memperkenalkan diri secara singkat – jika Tuan dan Nyonya belum mengenal saya. Nama saya adalah Gayatri Wedotami binti Abdul Hadi Wiji Muthari. Saya biasa dikenal sebagai Gayatri Muthari, atau Chen Chen. Saya dididik dalam institusi Muhammadiyah sejak TK sampai SD dan memperoleh pendidikan umum di Malaysia selama lima tahun dimana selama lima tahun berturut-turut saya selalu memperoleh hadiah untuk pelajar di bidang Studi Agama Islam. Saya pernah menjadi aktivis HMI saat menempuh S1 di Unpad dan pernah memimpin IMM Komisariat Unpad. Karena penyakit yang mendera saya pada 2014, saya memutuskan tidak menyelesaikan tesis saya di bidang Filsafat Islam di Islamic College for Advance Studies.

Pada tahun 2010, saya memutuskan untuk menjadi muhib dalam tarekat Daudiyah dan pada 2014 saya telah memantapkan hati saya untuk menjadi darwis.

 

Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan yang mulia,
Saya hanyalah darwis tanpa pondok dalam bentuk bangunan, tanpa jubah dan tanpa organisasi besar dengan pondok pesantren, sekolah, universitas atau semacamnya. Guru-guru kami memilih mengasingkan dan menyembunyikan diri dari keramaian dunia. Tetapi, keterlemparan takdir saya terlahir dan besar di kota dan aktivitas saya sejak 2010 dalam bidang dialog antar iman telah mendorong saya untuk menjalani kehidupan sebagai darwis secara urban, modern, dan kosmopolit. Saya tidak memilih jalan spiritual mengasingkan diri ke pedalaman atau mengucilkan diri ke pedesaan atau gunung. Di samping itu, tiga jenis autoimun yang hidup bersama saya telah membatasi aktivitas saya selama enam tahun terakhir, sehingga saya harus selalu terakses dengan rumah sakit dan dokter yang biasa menangani autoimun saya. Walau demikian, suri tauladan dari para kakek dan nenek saya yang telah mengabdikan hidup atau telah banyak bersumbangsih bagi kemanusiaan di lingkungan mereka, senantiasa mengilhami saya untuk melanjutkan teladan mereka.

 

Demikian perkenalan singkat mengenai saya. Saya menyadari bahwa ilmu pengetahuan saya di bidang studi Islam tidaklah sebagaimana Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan sekalian.  Saya hanya dapat mengakui bahwa saya dikaruniai semangat untuk selalu belajar berbagai macam ilmu pengetahuan sejak kanak-kanak. Sebagian besar saya pelajari secara otodidak karena minat saya yang demikian mendalam. Jadi, saya pikir bukanlah karena saya seorang darwis Daudiyah, maka saya berani menyampaikan surat ini secara terbuka, melainkan karena kegelisahan saya yang mendalam sebagai manusia. Adapun gelar “syekhah” yang disematkan oleh para guru saya kepada saya adalah semata-mata berfungsi sebagai seorang mentor dalam tradisi kami yang sangat minoritas, asing dan liyan. Jika saya menyematkannya di publik, maka itu untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya harus senantiasa belajar untuk melanjutkan ajaran para guru saya saat berbicara, dan terutama sekali agar sesuai dengan pilihan hidup saya sendiri sebagai darwis.

 

Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan yang saya kasihi,

Sebagai darwis Daudiyah, saya tidak begitu akrab dengan berbagai istilah Arab yang biasa digunakan dalam studi fikih dan sejenisnya. Saya hanya akrab dengan pesan-pesan kearifan dalam Empat Kitab Suci – yaitu Taurat, Zabur, Injil dan Alquran – dan istilah-istilah dalam tradisi spiritual kami yang mungkin asing. Fokus spiritual kami dapat ditemukan dalam Albaqarah 53, yang secara turun-temurun diwariskan sebagai pokok-pokok atau intisari iman. Oleh karena itu, apa yang akan saya sampaikan tidaklah lain akan berpijak dari intisari iman tersebut. Dalam agama-agama Ibrahim, intisari iman tersebut dikenal sebagai Sepuluh Perintah Allah. Salah satu perintah tersebut adalah, “Jangan membunuh.”

Oleh sebab itu, kami meyakini bahwa segala bentuk hukum agama pada dasarnya bertujuan terutama sekali untuk melindungi dan menyelamatkan kehidupan. Kami senantiasa berupaya untuk menemukan titik temu dari seluruh perselisihan antara teks maupun antara hukum agama yang berbeda-beda dari masa ke masa dan dari ruang ke ruang yang berbeda, dalam intisari iman tersebut. Tidak boleh membunuh dan membahayakan kehidupan, tidak boleh mengambil harta benda yang lain, tidak boleh memfitnah atau bersaksi dusta, tidak boleh mengkhianati perjanjian pernikahan, tidak boleh melampaui batas dalam bekerja maupun mengeksplorasi alam, menghormati orang tua maupun leluhur, dan berserah diri sepenuhnya hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya pikir, kita semua sepakat bahwa ini semua adalah pokok-pokok dari kehidupan beragama dan berketuhanan.

 

Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan yang baik,

Saya telah membaca berbagai tulisan, menyimak berbagai ceramah, maupun menyaksikan berbagai wawancara – di antaranya terdapat pandangan-pandangan Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan sekalian – tatkala membahas mengenai aurat, jilbab, hijab dan cadar. Saya telah mengakrabi wacana ini sejak 2010 ketika saya baru menjadi muhib.

Walau demikian, apa yang ingin saya sampaikan adalah sama sekali berbeda daripada semua yang populer dibahas dan didakwahkan. Saya tidak akan membahas dari sisi tubuh perempuan yang memikat, atau membahas mengenai kebhinekaan budaya, juga tidak akan membahas sejarah dan linguistik dari ayat-ayat Alquran mengenai wacana tersebut.

Dalam surat ini saya ingin mengetuk hati Nyonya/Tuan.

Saya berharap Nyonya/Tuan memejamkan mata sejenak untuk membayangkan apabila Nyonya/Tuan berada dalam situasi-situasi yang akan saya sampaikan:

(1) Jika Nyonya/Tuan hidup sebagai seorang perempuan yang tinggal di dalam rusun yang mungil atau rumah petak yang sempit, sehari-hari bekerja di pabrik, atau sebagai pembantu rumah tangga, atau berdagang di dalam pasar, atau sebagai ibu rumah tangga dengan beberapa anak.

(2) (2) Jika Nyonya/Tuan hidup sebagai imigran di negeri empat musim, atau di salah satu kota di Skandinavia di dalam rusun yang sangat sederhana lalu sehari-hari bekerja di pabrik, atau bekerja di suatu toko, atau sebagai ibu rumah tangga dengan beberapa anak..

(3) Jika Nyonya/Tuan memiliki genetik atau DNA atau HLA dengan potensi beresiko mengalami sakit kronis seperti kanker dan autoimun serta berbagai penyakit langka. Ada lebih dari 150 jenis autoimun di seluruh dunia.

(4) Jika Nyonya/Tuan memiliki fotosensitif, masalah alergi, berkulit gelap (seperti orang Melanesia atau keturunan Afrika), atau bertubuh gemuk/obesitas.

(5) Jika Nyonya/Tuan memiliki keterbatasan ekonomi, hidup di garis lintang dan ketinggian tertentu, atau hidup di habitat yang berpolusi.

 

Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan yang dikasihi Allah,

Saya telah mempelajari dan masih terus menerus mempelajari dengan serius masalah defisiensi vitamin D yang terjadi di dunia. Saya telah mengumpulkan begitu banyak data sejak 2018. Masalah ini sangat serius dan terjadi di berbagai belahan dunia,  termasuk di dunia Muslim. Keprihatinan dan ketertarikan saya pada wacana ini adalah karena saya sendiri adalah seorang penyintas defisiensi vitamin D yang bersaksi demi Allah bahwa dengan terapi berjemur secara alami dan secara khusus untuk kasus saya, saya dapat mengatasi berbagai penyakit saya. [Baca kesaksian saya dalam https://www.facebook.com/gayatriwmt/posts/10222307549979329 ].

Saya ingin menyerukan kepada Nyonya/Tuan tentang pentingnya merevisi pandangan Nyonya/Tuan mengenai aurat, jilbab, hijab dan cadar demi perbaikan dan peningkatan kualitas vitamin D kaum perempuan dan anak-anak Muslim.

Nyonya/Tuan tentu tidak ingin Muslim pada masa depan menjadi generasi dengan kualitas fisik yang buruk dan mudah berpenyakit, mudah depresi, mengalami berbagai gangguan mental, kecerdasan rendah dan berbagai masalah kesehatan lainnya hanya karena dihilangkannya satu faktor saja dari daftar kebutuhan kesehatan kaum perempuan dan kaum ibu Muslim. Mungkin kita pun tidak dapat mencegah mengalami suatu penyakit atau hidup dengan penyakit tertentu, tetapi bukankah kita pun berhak hidup dengan normal meskipun menderita penyakit tertentu? Tetapi, jika satu faktor saja dihalangi aksesnya, dapatkah kita mencapai kualitas hidup yang baik dalam keterbatasan fisik tersebut?

 

Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan yang baik,

Pertama, sumber vitamin D terbaik diperoleh melalui kulit yang cukup terpapar manfaat matahari yang memberikan vitamin D (UVB). Suplementasi dan makanan tidak memberikan manfaat sama seperti sumber alami tersebut, mungkin hanya sekitar 10-15% saja dan jenis yang agak berbeda pula.

Kedua, tabir surya dan kain menghalangi perolehan tersebut secara signifikan. Ada sejumlah produk tabir surya yang hanya menepis bahaya UVA, tetapi tetap dapat mengambil manfaat dari UVB yang diperlukan bagi diperolehnya vitamin D. Jika tabir surya saja dapat menghalangi, apalagi kain. Bayangkan jika pohon mangga, padi dan terumbu karang dikerudungi, dapatkah mencapai manfaat matahari yang diperlukannya?

Ketiga, secara umum masalah defisiensi vitamin D di negeri-negeri di mana terdapat mayoritas Muslim terjadi di negeri-negeri tropis dan sub-tropis yang berlimpah sinar matahari. Di sini saya akan berfokus pada efek samping yang mengerikan dari doktrin berbusana dalam Islam yang sedang populer terhadap masalah defisiensi vitamin D, tetapi tidak berarti bahwa saya tidak mengetahui faktor-faktor lain seperti mitos mengenai kanker kulit, kepopuleran penggunaan tabir surya dan gaya hidup kita yang kini jauh lebih banyak berada dalam ruangan. Bahkan, berolahraga pun di dalam ruangan.

Keempat, secara umum masalah defisiensi vitamin D di kalangan imigran Muslim di negeri empat musim, negeri seperti Skandinavia, maupun di kalangan Muslim sendiri, sangat sukar diatasi di kalangan mereka yang menerapkan doktrin-doktrin mengenai busana Islam dan aurat yang sedang populer. Yaitu, (1) perempuan adalah aurat dan (2) perempuan hanya boleh menampakkan wajah dan telapak tangannya saja di hadapan bukan muhrim, bahkan wajah dan telapak tangannya termasuk aurat.

Kelima, masalah defisiensi vitamin D dapat dicegah dan dapat diatasi jika seseorang terpapar cukup manfaat UVB pada jam-jam sesuai di mana ia hidup dan lamanya sesuai warna kulit, usia dan berat badan masing-masing. Bagian tubuh yang terbuka minimal adalah 20%, itu berarti wajah dan telapak tangan saja tidak cukup. Adapun berpakaian lebih terbuka lagi akan lebih efektif atau lebih efisien sehingga bagi mereka yang fotosensitif tidak diperlukan waktu lama yang dapat menyebabkan masalah alergi pada mataharinya, muncul, juga bagi mereka yang berkulit lebih gelap tidak perlu menghabiskan lebih banyak waktu terpapar.

Keenam, tidak pernah ada ruginya “menyimpan vitamin D” dari sumber alami ini dalam “gudang” tubuh kita karena cuaca tidak selalu mendukung atau hal-hal lain membuat kita tidak mungkin terpapar cukup matahari seperti saat sakit, dirawat inap atau saat udara kota kita berpolusi.

Ketujuh, di kelompok mereka yang menganut cara hidup “berbusana sesuai kebutuhan dan konteks” maka untuk mencegah kekurangan vitamin D maupun untuk mengatasi defisiensi vitamin D, mereka dapat melakukannya secara alamiah tanpa “dibebani” oleh doktrin apapun apabila habitat, iklim,  udara tanpa polusi, dan kesempatan (waktu) mereka memungkinkan untuk itu.

 

Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan yang dikasihi Allah,

Sekali lagi, saya menyerukan kepada Nyonya/Tuan tentang pentingnya merevisi pandangan Nyonya/Tuan mengenai aurat, jilbab, hijab dan cadar demi perbaikan dan peningkatan kualitas vitamin D kaum perempuan dan anak-anak Muslim.

Saya tidak melihat jalan keluar lain selain mengubah pandangan sehingga doktrin yang sebaiknya dianut adalah “berbusana sesuai kebutuhan dan konteks” masing-masing.

Saya tidak menemukan titik temu dari seluruh pandangan mengenai aurat dan busana dari ayat-ayat Alquran selain sebagai bertujuan untuk melindungi dan menyelamatkan kehidupan.

Jika Anda berpikir bahwa semua perempuan hidup di rumah dengan teras dan taman pribadi, bagaimana dengan yang tidak punya?
Jika Anda berpikir bahwa semua perempuan bisa naik ke genteng untuk sebentar saja berjemur, bagaimana dengan yang tidak mampu naik ke genteng?
Jika Anda berpikir semua perempuan punya halaman untuk menjemur pakaian sambil berjemur, bagaimana dengan yang tidak?
Jika Anda berpikir bahwa kondisi ini hanya berlaku bagi yang telah mengalami defisiensi sehingga mendapatkan keringanan (rukhsah), bukankah mencegah jauh lebih baik daripada mengobati?

Jika Anda berpikir semua perempuan mempunyai waktu berada di luar ruangan atau bekerja sebagai petani, atau banyak berada di lapangan, bagaimana dengan yang tidak?

Jika Anda berpikir mereka dapat berkumpul berjemur di klub khusus dengan taman berjemur khusus, bagaimana jika ada drone atau pesawat terbang lewat di atas mereka dan memotret mereka?

Jika Anda berpikir suplemen dan makanan dapat menolong mengatasi atau mencegah masalah ini, bagaimana dengan yang alergi susu, ikan dan daging? Bagaimana dengan yang tidak mampu membeli suplemen dan makanan berfortifikasi tersebut?

Jika Nyonya/Tuan berpikir semua orang memiliki kesamaan dalam kondisi kinerja liver yang bekerjasama dengan organ-organ lain dalam memproduksi vitamin D. Beberapa orang memang tidak memiliki kinerja prima organ-organ untuk memproduksi vitamin D dan yang lainnya sangat fotosensitif, jadi mereka sangat memerlukan suplemen. Tetapi, ini bukanlah kasus umum.  Kita juga tidak sedang membicarakan mereka yang sudah lanjut usia, tetapi pikirkanlah anak-anak perempuan yang sejak balita sudah dikerudungi oleh orangtua mereka karena doktrin busana yang sedang populer.

Apakah Nyonya/Tuan ingin mengusulkan penggunaan berbagai teknologi yang telah ditemukan di negara-negara Barat (yang bermusim empat atau di garis lintang seperti Skandinavia) seperti lampu yang mengandung UVB, suntikan UVB, dan hal-hal yang masih belum terjangkau oleh sebagian besar masyarakat Muslim kita, khususnya di Indonesia? Teknologi itu ada karena negeri-negeri mereka tidak selalu disinari matahari.

Ataukah Nyonya/Tuan hendak mengusulkan perempuan boleh berpakaian tipis menerawang, atau menciptakan busana dengan pori-pori terbuka agar mereka dapat memperoleh manfaat sinar matahari seperti mereka yang membiarkan kulitnya terbuka agar terpapar manfaat sinar matahari?

 

Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan yang saya hormati,

Saya sungguh-sungguh menyerukan kepada Nyonya/Tuan tentang pentingnya merevisi pandangan Nyonya/Tuan mengenai aurat, jilbab, hijab dan cadar demi perbaikan dan peningkatan kualitas vitamin D kaum perempuan dan anak-anak Muslim.

Doktrin yang terbaik adalah yang melindungi dan menyelamatkan kehidupan, dan karena itu doktrin yang tepat seharusnya adalah “berbusana sesuai kebutuhan dan konteks” masing-masing.

Jika seorang ibu rumah tangga hanya punya kesempatan 15 menit ke tukang sayur dengan daster tanpa jilbab pada jam ketika terdapat UVB, maka itulah busana Islami.

Jika seorang buruh pabrik hanya punya kesempatan 30 menit di jalanan dengan berbaju lengan pendek tanpa jilbab pada jam ketika terdapat UVB, maka itulah busana Islami.

Jika seorang perempuan hanya punya kesempatan beberapa hari berlibur mendapat manfaat UVB saat musim panas atau di pantai berudara bersih dengan berbikini, maka itulah busana Islami.

Kita sedang berbicara mengenai keberagaman umat manusia di dunia dimana mereka hidup di habitat yang berbeda-beda, bekerja, memiliki fisik dan mental, punya genetik serta berbagai kebutuhan lain yang berbeda-beda. Bagaimana mungkin kita memukul rata semua perempuan harus berbusana sebagaimana doktrin yang sedang populer ini?

Jika sepasang suami isteri tinggal di gubuk sempit tanpa teras pribadi, dan sama-sama mengalami defisiensi vitamin D, tetapi hanya suami yang diperkenankan keluar ke taman dengan berkaos dan bercelana pendek, sedangkan yang perempuan tetap harus berjilbab atau bahkan bercadar, sedangkan warna kulit mereka sama-sama sawo matang, apakah ini disebut keadilan dan kesetaraan bila mereka tidak dapat mengakses UVB dengan cara yang sama?

Statistik tidak berbicara mengenai halangan-halangan bagi Muslimah, tetapi sejumlah data telah cukup membuktikan keadaan pria Muslim jauh lebih baik dalam hal kecukupan vitamin D daripada perempuan Muslim karena mereka boleh berbusana lebih terbuka daripada wanita; dan jika datanya berbicara lain itu karena pria-pria tersebut tidak cukup keluar terpapar manfaat matahari.

Ini akan semakin buruk apabila doktrin yang populer adalah “perempuan adalah aurat” sehingga ia sama sekali tidak dapat keluar rumah. Apakah Nyonya/Tuan dapat menyediakan rumah dengan taman pribadi dan kehidupan finansial kepada mereka ini sehingga mereka yang hidup dalam doktrin-doktrin yang Nyonya/Tuan dakwahkan tidak perlu mengalami defisiensi vitamin D? Agar mereka tidak beresiko menderita sakit kanker, osteoporosis, atau sakit autoimun?

 

Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan yang dimuliakan Allah,

Jika seorang perempuan saja mengalami MS, RA, kanker payudara atau skizofrenia, atau keguguran, atau bayinya terlahir dengan penyakit langka, karena defisiensi vitamin D juga turut berkontribusi bagi masalah tersebut, apakah ini tidak cukup bagi Nyonya/Tuan merevisi pandangan mengenai aurat dan busana?

Kebanyakan artikel yang menyangkal persoalan defisiensi vitamin D juga terjadi karena doktrin berbusana yang sedang populer: artikel-artikel tersebut tidak memikirkan keberagaman keadaan dan kehidupan kaum perempuan di seluruh dunia. Apakah Islam hanya agama untuk kaum kelas menengah ke atas dan orang-orang dengan genetik sempurna? Kebanyakan orang menyangkal hujjah saya dengan argumentasi bahwa ini hanya dapat dibenarkan untuk kondisi keringanan seperti dalam salat.

Kekurangan maupun defisiensi vitamin D dapat dicegah jika Nyonya/Tuan menyampaikan solusi atau dakwah secara universal, sederhana dan murah meriah bagi seluruh keadaan yaitu, “berbusana sesuai kebutuhan dan konteks masing-masing.” Dengan demikian, kekurangan maupun defisiensi vitamin D dapat dicegah. Bahkan, idealnya jauh lebih mudah dicegah maupun lebih gampang diatasi di negeri-negeri tropis seperti kita yang hidup di Indonesia.

Mengapa kita harus menunggu jutaan perempuan dan milyaran anak-anak Muslim jatuh sakit dan sulit sembuh hanya karena doktrin yang tidak bisa direvisi?  Apakah Islam sungguh-sungguh sebagaimana dikatakan Almaidah 32 dan Al-Isra’ 82 jika begini adanya?

Apakah ada perintah Allah yang lebih agung daripada menyelamatkan dan melindungi kehidupan? Adakah perintah Allah yang melarang kita melindungi anak keturunan kita dari penderitaan?

Tidakkah Nyonya/Tuan dapat mengajarkan kepada umat Islam agar memuliakan dan menghormati setiap perempuan maupun setiap lelaki apapun busana yang mereka kenakan karena di dalam jiwa mereka terdapat nafs Allah Yang Maha Agung? Tidakkah Nyonya/Tuan dapat mendidik umat Islam apabila melihat seseorang berbusana terbuka di bawah sinar mentari agar tidak menghakimi dan menganggapnya berdosa, oleh karena dia memerlukan manfaat sinar dari-Nya (baik dia sadari atau tidak)? Dia berhak sehat dan tidak mengalami kekurangan vitamin D, apakah perkataan saya ini salah?

Saya mengetuk pintu hati Nyonya/Tuan, sekiranya di sana masih ada nurani dan empati kepada mereka yang diciptakan Allah dalam keadaan begitu beragam di dunia ini.

Jika saya harus bersimpuh di hadapan Nyonya/Tuan,

Dan, jika saya harus memikul dosa karena sehelai rambut dan leher perempuan terlihat bukan muhrim, agar keturunan saya tidak perlu mengalami berbagai penyakit akibat defisiensi vitamin D sebagaimana halnya saya,

Dan, jika saya harus memikul dosa karena sehelai rambut dan leher perempuan terlihat bukan muhrim, agar  perempuan-perempuan yang tampak sehat, yang sehat maupun yang perlu kembali sehat, dapat mengakses manfaat sinar matahari secara setara tanpa ditakut-takuti dosa dan dihakimi dengan laknat,

Saya akan melakukan semuanya dengan segenap kerendahan dan kehinaan saya.

Jika perlu membuktikan siapa di antara kita yang benar menurut Allah dalam memahami ajaran-ajaran Allah dalam Alquran mengenai aurat dan busana, dengan mubahalah bertema mukjizat jilbab/hijab,
Maka, saya pun siap melakukannya, siap menerima segala resikonya, karena saya sadar bahwa yang tepat bukanlah mencari pembenaran, melainkan menerima sepenuh hati Kebenaran.

Tidaklah ada kerugian bagi saya sama sekali untuk berjilbab kembali sebagaima doktrin yang populer, karena saya suka berkerudung, begitu pun jutaan perempuan Muslim lain yang senantiasa berupaya bertakwa kepada-Nya, sekiranya benar dengan senantiasa berjilbab di hadapan bukan muhrim dapat menghindari mereka dari kekurangan dan defisiensi vitamin D. Dan, sekiranya hanya dengan memperlihatkan wajah dan tangan saja di hadapan bukan muhrim, kami yang kekurangan dan defisiensi vitamin D dapat mengatasi masalah vitamin D kami apapun pekerjaan, tempat tinggal dan kami harus hidup sehari-hari.

 

Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan yang semoga selalu dirahmati Allah,

Demikianlah surat ini saya buat. Saya tidaklah memerlukan balasan, tetapi tentu tidak akan berkeberatan untuk menerimanya.

Saya hanya berharap Nyonya/Tuan sungguh-sungguh memikirkan, mengkaji dan merenungkan isi surat saya, serta mempelajari semua studi mengenai masalah defisiensi vitamin D ini dengan jujur dan dengan hati dan pikiran yang terbuka .

Saya sudah cukup menghadapi banyak hujatan, risakan, kecaman dan hinaan atas dakwah saya ini. Tetapi, saya tidak akan bergeming sampai kita dapat menggantikan manfaat sinar matahari secara alami, mudah dan gratis, yang bersifat umum bagi berbagai keadaan, baik untuk mencegah maupun untuk mengatasi masalah defisiensi vitamin D.

Jikalau hati Nyonya/Tuan tidak tersentuh, dan mengatakan bahwa kita dapat berjemur di teras masing-masing, atau membuka kerudung saat tidak ada orang di halaman, simpanlah argumentasi-argumentasi semacam itu untuk Nyonya/Tuan sendiri – yang dikaruniai segenap keberuntungan itu.

Jikalau Nyonya/Tuan tetap berpandangan bahwa seorang Muslimah dengan segala keterbatasan keadaannya tidak dapat mencegah atau tidak dapat mengatasi masalah vitamin D dengan membuka jilbabnya selama lima belas menit sehari saja,

Maka, sesungguhnya, saya pikir, di situlah  gugurnya semua kesempurnaan dalam Islam. Adakah Islam bertentangan dengan hukum alam, sains dan kemanusiaan? Apakah demi hukum agama mengenai secarik kain seorang perempuan boleh menderita, dan pelan-pelan mati?

Saya tidak menyakini Islam yang sedemikian. Saya tidak meyakini ajaran-ajaran Alquran maupun hukum agama yang disampaikan Rasulullah bertentangan dengan akal budi dan hati nurani dan tidak memiliki empati. Saya meyakini Islam, sesuai namanya, sebagai wahana untuk memberdayakan akal budi, menjernihkan hati nurani dan melatih empati agar manusia dapat menjadi rahmat karunia bagi alam semesta. Saya meyakini sebagai Muslim, sesuai namanya, kita menempuh Jalan Hidup untuk menyelamatkan dan melindungi kehidupan.

 

Semoga kiranya Allah SWT melalui para mursyid gaib membimbing pikiran dan tindakan kita,

Rahayu,

Gayatri Wedotami Muthari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Haji Bektash Wali: Pelopor #FreeFromHijab dari Abad ke-13 M.

Jauh sebelum sayyid-sayyid seperti Quraish Shihab dan Luthfi Yahya menyatakan bahwa jilbab tidak wajib, dan tokoh-tokoh seperti Shinta Nuriyah Wahid, Uju Zubaedi, Husein Muhammad, Nisa Alwis dan Miftahuddin mendukung pernyataan mereka, pada abad ke-13 M di Anatolia [Turki seorang waliullah berikut 40 abdalnya telah dikenal dengan ajaran perempuan tak harus berkerudung apalagi bercadar serta menolak segregasi [hijab].

Sayyid Bektash Wali atau Haji Muhammad Bektash Wali atau Hunkar merupakan waliullah yang menjadi patron Muslim bagi sekitar 7 juta orang Bektashi dan 25 juta orang Alevi di seluruh dunia. Tradisi mengklaim Hunkar sebagai keturunan Nabi Muhammad melalui Fatimah az-Zahra yang dilahirkan di Naishapur, Khurasan, wilayah Iran saat ini. [Silsilahnya lihat catatan kaki]. Oleh karena sebagian leluhurnya meninggalkan Khurasan, maka mereka telah berkawin campur dengan orang-orang Turk yang sama dengan para pendiri dinasti Usmaniyah [Ottoman].

Hunkar dikabarkan aktif berdakwah antara 1207-1271 M, setelah meletakkan pedang dan meninggalkan kehidupan sebagai ghazi [tentara yang dibayar kesultanan seperti dinasti Seljuk].

Pengalaman sebagai panglima perang yang traumatik dan pertemuannya dengan para guru Sufi telah meluluhkan hatinya untuk meninggalkan medan perang dan menjadi pejuang satu kemanusiaan sebagaimana datuknya Sayyidina Ali. Hunkar kemudian menikah dengan Fatimah Nuriyah [atau Kadincik Ana]  yang kelak menyebarkan ajaran-ajaran Bektash Wali melalui para murid perdananya.

Semah Alevi
Semah Alevi

Salah satu keunggulan ajaran Bektash Wali ialah keadilan dan kesetaraan gender. Di antara ajaran Bektash Wali mengenai keadilan dan kesetaraan gender ialah:

“Jika engkau mengira terdapat perbedaan antara laki-laki dengan perempuan, maka engkau keliru.”

“Dalam bahasa percakapan penuh persahabatan,
seseorang tak lagi mendiskriminasi lelaki-perempuan,
Segala sesuatu Al-Haq ciptakan sesuai tempatnya,
dalam pandangan kita tak ada beda perempuan-lelaki,
Salah dan kurang ada pada pandanganmu.”

 “Jika sebuah bangsa tidak mendidik kaum perempuan, maka bangsa itu tidak akan maju.”

“Berikanlah pendidikan kepada putri-putrimu.”

 

Pesta Pernikahan Alevi ke tmp keramat
Salah satu adat pernikahan orang Alevi di Munzur

Bektash Wali dan murid-murid perdananya [biasanya disebut 40 abdal] telah mempelopori berakhirnya hijab – dalam pengertian tabir atau pemisah – yang mensegregasi perempuan dengan lelaki dalam majlis-majlis taklim. Rumah-rumah orang Alevi memiliki denah yang menunjukkan keleluasaan yang setara bagi lelaki maupun perempuan dalam bertemu dan berinteraksi. Perempuan-perempuan terlibat sebagai penyanyi dan pemain musik dalam majlis-majlis zikir,  dan bersama suami-suami mereka menari dalam lingkaran.

Sejak dini, orang-orang Alevi melatih anak-anak mereka untuk berinteraksi tanpa segregasi dalam tarian Sufi melingkar, dan akhirnya belajar saling menghormati. Ini karena dalam majlis-majlis mereka, setiap orang dipandang sebagai “Can” [jiwa; kehidupan; esensi yang memberi hidup]. Di dalam majlis, tak ada lagi gender, jenis kelamin, kebangsaan, warna kulit atau identitas lain kemanusiaannya melainkan jiwanya.

Oleh karena itu, tidak ada kewajiban berjilbab atau berkerudung dalam majlis-majlis orang Alevi maupun Bektashi – mereka berkerudung hanya sebagai ekspresi budaya. Para murid perdana Bektash Wali dikenal meneruskan ajaran guru mereka dalam “unveiling women”. Pada musim panas, perempuan-perempuan Alevi maupun yang hadir ke tekke-tekke Bektashi [pondok] biasa mengenakan busana tidak berlengan dan pakaian pendek.

Orang-orang Bektashi maupun Alevi dididik dari kecil untuk menghormati, melindungi dan menyelamatkan jiwa maupun raga sesama manusia. Maqam spiritual tertinggi bagi seorang Bektashi maupun Alevi ialah apabila seseorang dapat menjumpai Allah pada diri orang lain. Oleh karena itu, tidak diajarkan bahwa busana menutup aurat adalah untuk menghormati wanita atau untuk melindungi mereka.

Sebaliknya, ajaran terkenal Bektash Wali ialah, “Jagalah lidahmu [ucapanmu], tanganmu [perbuatanmu], dan pinggangmu [hawa nafsumu].” Ajaran ini berasal dari hadis-hadis Rasulullah sendiri.  

Dengan kata lain, setiap orang harus menghormati, melindungi dan menyelamatkan sesama umat manusia apapun agama, keyakinan, gender, jenis kelamin, bangsa, maupun pakaian yang mereka kenakan. Hal ini karena dalam ajaran-ajaran Bektash Wali ditekankan ajaran Sayyidina Ali yang terkenal, “Seluruh manusia adalah saudara dalam satu kemanusiaan.” Oleh sebab itulah, Bektash Wali juga mengajarkan, “Bukalah tanganmu, hatimu, dan meja [makan]-mu untuk sesama.”

pesta pernikahan Alevi
Pesta pernikahan Alevi [menari bersama]
Penemuan terbaru mengenai vitamin D, misalnya, mengingatkan pada ajaran Sayyidina Ali, “Temukanlah perlindungan dalam sains,” yang dijabarkan oleh Bektash Wali, “Kita mengembara di jalan sains, pemahaman dan cinta kasih sesama.” dan “Jalan apapun yang tidak mengikuti sains, akan berakhir dalam kegelapan.”

Telah terbukti bahwa ajaran-ajaran Bektash Wali serta 40 abdalnya senantiasa relevan dan berkesesuaian dengan perkembangan zaman serta selalu selaras dengan habitat di mana pun seorang anak manusia hidup dan berdiam. Semoga Allah meridai Sayyid Bektash Wali, Fatimah Nuriyah beserta 40 abdalnya.

Selamat #NoHijabDay pada #1Februari !!!

***

bektashi dd
Seorang dede dengan latar belakang foto Sayyid Bektash Wali

Catatan Kaki

Sumber foto: http://www.munzurvalley.com/alevism#alevism9

Silsilah Haji Bektash Wali:

Hunkar bin Ibrahim al-Thani bin Musa bin Ishaq bin Muhammad bin Ibrahim bin Mahdi bin Muhammad bin Hassan al-Mujab bin Ibrahim al-Mujab al-Mukarram bin Musa al-Kazim bin Ja’far as-Sadiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Hussain bin Fatimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah [saw].

3 lukisan bektashi
Lukisan tiga orang Bektashi

Design a site like this with WordPress.com
Get started