Ketika Tuan Yesus Membuatku Patah Hati

#Je_Suis_Jesus
~Aku tidak membutuhkan Tuhan seperti omong kosongmu ~

Radio Facebook, sekali lagi, aku request lagu “Asmara” yang dipopulerkan Novia Kolopaking si Nyonya Emha Ainun Najid ya. Aku request lagu ini untuk kukirimkan kepada Yesus. Tuan Yesus yang sudah membuatku patah hati. Tuan Yesus yang katanya sudah menderita di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia dan kemarin sudah bangkit. Tuan Yesus yang katanya akan datang kembali…Tuan Yesus yang katanya saat ini berduet dengan Imam Mahdi untuk membimbing umat manusia…dan mereka berdua akan kembali visible bareng-bareng kembali memimpin dunia..Tuan Yesus dan Imam Zaman yang membiarkan manusia-manusia celaka saling membunuh, yang membiarkan umat Islam dan Kristen saling berantem, yang membiarkan anak-anak mati dan menderita di pengungsian, dalam perang dan kezaliman seperti kemiskinan.. Tuan Yesus yang membiarkan ibu-ibu mati karena melahirkan karena akses kesehatan, yang membiarkan manusia-manusia saling membom rumah ibadah, sesama umat beragama saling berperang sampai sekarang. Tuan Yesus yang bikin aku patah hati karena cintanya mungkin telah terbagi untuk kejahatan dan kezaliman merajalela….Yang merejam gairah keberagamaanku…Bukankah mereka berdua ada untukku? Ada untuk kami? Mengapa mereka membuatku patah hati? Seperti RMPG yang membuatku patah hati, seperti lupus yang ingin membunuhku, seperti semua obat yang kuminum yang malah meracuniku, seperti cinta sebagai satu-satunya yang hanya boleh kumiliki saat ini? Iya, Radio Facebook ini untuk Tuan Yesus dan Imam Zaman, mengapa mereka membiarkan aku patah hati seperti ini?????!!!!

download6
AKU TIDAK MEMBUTUHKAN TUHAN SEPERTI OMONG KOSONGMU

Aku ingin berpesta pora, menari, dan bersenandung
dan tak ingin mengakhirinya
sampai seluruh anggur, bir, vodka, whiskey, tuak,
sake, brandy dan cuka ini kutenggak dan aku tak lagi mabuk.
Jangan berdusta, jangan bohongi aku lagi,
“Yesus sudah bangkit! Sungguh ia sudah bangkit!”
Sudah bangkit bagaimana? Di mana dia? Ke mana dia?
Tak kuperlukan hiburan, tak usah motivasi aku lagi,
Jika “Hati yang gembira adalah obat yang manjur,
tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”
Lalu ke mana aku mesti menemukan obat untuk hati yang sedih?
Di apotek manakah engkau menjualnya?
Dokter manakah gerangan yang bisa menulis resep untukku,
untuk hati yang sedih ini? Hati yang sakit ini? Hati yang lelah ini?
“Tuhan!” Jawabmu.
Ah, Tuhan, lagi-lagi Tuhan!
Aku tidak membutuhkan Tuhan seperti omong-kosongmu.
Aku butuh Tuhan yang menjelma dalam wujud manusia itu.
Aku tidak butuh obat pereda rasa sakit.
Aku tidak butuh steroid.
Aku sudah cukup menimbun kortikosteroid untuk mengendalikan deritaku.
Tubuhku sudah penuh oleh racun,
begitu juga hati dan pikiranku,
telah ternoda dan rusak olehmu.
Aku sudah punya cukup obat pereda rasa sakit untuk sejenak melupakan deritaku.
Aku sudah terlalu banyak minum obat-obatan untuk membuatku terlelap
melupakan rasa pedih ini, membuang sekejap rasa lelah ini.

Aku tidak membutuhkan Tuhan seperti omong-kosongmu.
Aku butuh Tuhan yang menjelma dalam wujud manusia itu.
Tulang-belulangku telah mengering karena steroid,
Dan sendi-sendinya telah menggigitku sepanjang hari,
Tapi hati yang hancur berkeping-keping ini?
Rasa sedih yang menghantuiku ini?
Aku ingin merayakan hatiku yang patah berserakan ini,
hatiku yang sedih pedih senyeri semua percikan yang senantiasa kualami
hatiku yang sakit semembakar peradangan yang selalu kualami.
Aku ingin merayakan dan tak peduli lagi omong kosongmu.
Aku ingin membisu selama seribu tahun.
Aku ingin tak ingin bercakap-cakap lagi denganmu
selama perayaan ini belum berakhir,
selama rasa sakit ini belum hilang,
selama serigala-serigala ini
dan kau
masih begitu kejam padaku.

28.3.2016

  1. </div>
    “>

    (21)When I say love you, I see the cross that you carry, it breaks my heart, & please don’t break it again, I’m exhausted.

  2. </div>
    “>

     

    (20)If love is so beautiful, please don’t act like my lupus.

  3. </div>
    “>

     

    (19)If one must be brave for life, please let me live, for this heavy love that is burdening me from walking like a human….

  4. </div>
    “>

     

    (18)If death is so sweet, please let me die, for this exhausting love I can no longer bear like you do…

  5. </div>
    “>

     

    (17)Breaking my heart is your excellent drug, your depressed world wastes my bones like the steroid for my lupus.

  6. </div>
    “>

     

    (16)Thanks for the wounds, my pains & my weep, Jesus! Enough with this breaking my heart into pieces, please.I’m too tired.

  7. </div>
    “>

     

    (15)Thanks for breaking my heart, Mas RMPG. Thanks for breaking my heart, O Life! Thanks for breaking my heart, Jesus!

  8. </div>
    “>

     

    (14) When my Mennonite preacher Cousin breaks my heart, it feels like Jesus breaks my heart

  9. </div>
    “>

     

    (13)When there is any discrimination, that people are suffering & dying because of it it feels like Jesus breaks my heart

  10. </div>
    “>

     

    (12)When any bomb explodes and any war starts, it feels like Jesus breaks my heart

  11. </div>
    “>

     

    (11) When Muslims & Christians hurt each other, it feels like Jesus breaks my heart

  12. </div>
    “>

     

    (10) When any Christian killed Muslim because of their faith, it feels like Jesus breaks my heart

  13. </div>
    “>

     

    (9)When any Muslim killed Christian because of their faith, it feels like Jesus breaks my heart

  14. </div>
    “>

     

    (8)When people differ victims in Lahore, Brussels, Turkey, & Paris by numbers, it feels like Jesus breaks my heart

  15. </div>
    “>

     

    (7)When Indonesian Muslims are against Christian churches, it feels like Jesus breaks my heart

  16. </div>
    “>

     

    (6)When my HMI friends offends the Muslim Shias and Ahmadiyyas, it feels like Jesus breaks my heart

  17. </div>
    “>

     

    (5)When Indonesian Muslims hurt Indonesian Christians it feels like Jesus breaks my heart

  18. </div>
    “>

     

    (4)When millions of Muslim refugees break Europe, it feels like Jesus breaks my heart

  19. </div>
    “>

     

    (3)When Pope Francis washed Muslims’ feet on ThursdayMaundy, not the Ayatullah on mine, it feels like Jesus breaks my heart

  20. </div>
    “>

     

    (2)When the war in Yemen killed at least 700 children until Good Friday, it feels like Jesus breaks my heart

  21. </div>
    “>

     

    (1)When the bombs killed Christians who celebrate Easter, it feels like Jesus breaks my heart

    je suis jesus

Kristen Telah Berkembang Karena Islam

(DAN, PROTESTAN LAHIR KARENA ISLAM?)

 

foto1

Menjelang ibadah Jum’at Agung di GKA-RB


Pada hari Sabat Hening ini biarlah saya menulis sesuatu yang sifatnya sedikit provokatif. Tulisan ini saya tulis sebagai seorang sejarawan amatir (hanya karena saya lulusan atau sarjana sejarah abal-abal dari Universitas Padjadjaran, yang sejak SD memang menyukai mata pelajaran berkaitan Sejarah).

Sebagai seorang yang mendaku sebagai pengikut aliran sufistik Daudiyah, yaitu seorang Muslim-Kristen, yaitu seorang mengklaim sebagai penganut Agama Ibrahim sesungguhnya (ya, boleh dong, mengklaim, kan hanya mengklaim ini), pada hari raya Jum’at Agung  (24/3) lalu saya berencana untuk ikut hadir dalam perayaan tersebut yang diselenggarakan oleh gereja saya (GKA-Reformed Baptist) dan ikut ibadah di suatu gereja Katholik Roma (GKR). 

Ketika saya mendengar khotbah Pendeta Suar Budaya di GKA-Reformed Baptis hari ini, ingatan saya tentu saja melayang jauh, membenak kepada hal-hal lain di antaranya adalah sejarah aliran atau gereja Baptis, dan berita kekinian dari GKR, tentang Paus Fransiskus. 

Pada waktu Subuh, sebelum berangkat ke gereja, saya membaca tentang Paus Fransiskus membasuh kaki tiga imigran Muslim dengan juga mencium kakinya sebagai bagian dari tradisi Kamis Putih, yaitu menjelang Jum’at Agung yang semula sebelum masa kepausannya, tradisinya hanya 12 laki-laki Katholik yang terpilih dicuci kakinya, tetapi kini perempuan, dan juga yang berbeda agama pun terpilih dalam ritual seremonial itu. Dalam kitab kecil yang ditulis Sufi yang terkenal di Barat, Idries Shah, mengenai Sufisme untuk para pemula, ada disebutkan secara singkat bahwa ada tradisi juga oleh para darwis Sufi di masa lalu untuk mencuci kaki sesama darwis, murid, atau tamu yang singgah di khanaqah, zawiyah, tekke atau pondok mereka. 

 

Saya bercanda dengan teman di samping saya bahwa saya berharap bahwa pendeta di gereja kami akan melakukan hal itu kepada kami semua. Saya berpikir, kemungkinan besar kami bukan menangis terharu, tetapi akan terjadi banyak gurauan atau keluar sisi humor kami, karena jemaat di gereja kami memiliki kecenderungan karakter untuk menggumuli penderitaan dengan narasi-narasi humor daripada tangisan atau keseriusan ala gereja-gereja ortodoks lain. 

Sebagai seorang yang mengklaim sebagai Ana*, karena mendapat ijazah dari Daudiyah untuk mendirikan pondok Daudiyah sendiri, saya yang dengan gembira ingin belajar untuk membuka hati saya kepada semua orang, tentu akan senang juga melakukannya untuk siapapun, apalagi orang-orang berbeda agama dengan saya (terutama sih ya untuk Raden Mas Pendeta Ganteng tercinta [RMPG], untuk membuktikan apapun itu, tidak perlu menunggu kakinya menginjak telor, lalu saya bersimpuh membersihkannya gitu [ oiiii…, eling, eling, nduk, memangnya adat perkawinan Jawa opo😛 ] ) 

Pada waktu Subuh, sebelum berangkat ke gereja juga, saya sedang mempelajari kembali sejarah gereja-gereja Baptis, termasuk Reformed-Baptist, aliran dari GKA yang akan saya datangi pada Jum’at Agung ini. Saya kemudian membaca kembali sebuah tulisan dalam blog seorang yang menyebut namanya sebagai Harper McAlpine Black,* yang berjudul “A Battle Raging in a Single System-discussion.”

Harper McAlpine Black menyebutkan bahwa  (berdasarkan gaya psikologi Freudian) dalam alam bawah sadar bangsa Eropa (baca: dunia Kristen) pada abad pertengahan dulu, mereka memandang Islam sebagai “The Other“, yang meskipun ada pada masanya atau pada titik tertentu dibenci, bahkan mungkin berusaha dihindari atau dilepaskan, tetapi ternyata tetap begitu berpengaruh kuat, sehingga secara tidak sadar “The Other” itu memicu perubahan, merespon hal-hal yang mungkin tampaknya untuk self-critic, atau self-content, dan seterusnya, akan tetapi sebenarnya merupakan suatu tindakan meng-counter sang “The Other” itu sendiri. 

Ya, you know, seperti kalau saya melihat RMPG sebagai “The Other” yang sebenarnya nggak ganteng-ganteng amat dibandingkan Engin Akyurek, Ali Syariati atau bahkan romo Matteo, tetapi alam bawah sadar saya berhadap-hadapan dan bergumul dengan pikiran dimana saya mau menyangkal eksistensinya dan perasaan saya untuknya, namun ia (pikiran saya) tak mampu mematahkannya. Setiap kali saya berhasil tidak mengingatnya, saya justru bertubi-tubi mendapat mimpi tentang dia. Oke, mungkin terdengar analogi ini terkesan personal. Menurut sohib saya, Mariana Amiruddin dari Komnas Perempuan, beginilah cara umumnya perempuan berbicara, selalu merelasikannya dengan sesuatu yang bersifat personal dan domestik. Namun, kembali ke persoalan “The Other” itu, Barat atau Kristen itu diam-diam terpesona oleh Islam, dalam pengertian apapun itu, ingin menolaknya, bahkan kalau perlu bersikap (amat) galak, kejam dan membenci Islam, akan tetapi jauh di lubuk hatinya dia penasaran sekali dengan Islam, yaitu ingin merengkuh, memiliki, mempelajari Islam. Bahwa Kristen tak hanya ingin hidup damai, bahkan kalau perlu kawin dan bercinta di balik selimut dengan Islam.

snape loves lily.jpg

Sebuah foto sederhana dari teman facebook saya bernama Simon Chen, hari ini telah membantu saya untuk menerangkan analogi ini. Foto ini memuat meme dengan ungkapan “I love you like Snape loves Lily” yaitu dua tokoh yang ada dalam serial novel Harry Potter karya JK Rowling. Kata sastrawan Perancis Guy De Maupassant, “Hanya perempuan yang tahu caranya mencintai” lewat cerpen tragisnya tentang cinta seorang perempuan miskin yang tak pernah ditanggapi oleh seorang kaya yang justru memanfaatkan cintanya dan ia malah beruntung dapat warisan dari harta tabungan perempuan itu setelah mati. Namun, pengarang perempuan JK Rowling justru mematahkan ungkapan itu lewat kisah Snape yang mencintai Lily, yang meskipun tidak berbalas, ia tetap mencintai Lily dengan diam-diam melindungi Harry, putra Lily. JK Rowling justru memberikan gambaran real tentang cara lain perempuan dalam mencintai, yaitu Hermione kepada Ron. Hermione si gadis jenius, cantik, dan kelihatannya angkuh itu justru diam-diam mencintai Ron, yang tampaknya bodoh, naif dan pemalas, tetapi sebenarnya pemberani dan setiakawan, sehingga dapat diandalkan. Cara mencintainya adalah dengan bersikap “kejam” yaitu, nyinyir, suka mengkritik, “meneror dengan contoh ideal tertentu”, dan penuh ekspektasi (penuh tuntutan) kepada Ron. Jadi, dalam kaitan dengan artikel ini, Barat atau Kristen ternyata tanpa sadar mencintai Islam dengan paling tidak tiga cara, yaitu sebagaimana yang diungkapkan Guy de Maupassant dalam cerpen tragis itu, dan juga sebagaimana Snapes mencintai Lily (suatu bentuk cinta yang menurut saya unik dan aneh), dan juga sebagaimana Hermione mencintai Ron (bahkan, juga sebaliknya, dimana Ron pura-pura membenci Hermione, selalu menyindir atau mengejeknya, tapi ternyata sangat mencintai Hermione dan sempat cemburu dengan kedekatan Hermione dengan Harry). 

Ketika saya membaca tulisan Harper McAlpine Black itu yang terkesan over-acting banget membaca sejarah Barat itu, saya teringat catatan sejarah mengenai Andalusia ketika kesultanan Islam berkuasa. INI SESUNGGUHNYA SUATU PEMERINTAHAN YANG SEKULER NAMUN TAMPAK RELIGIUS…, seperti yang pernah disitir Ulil Absar dalam diskusi Reboan Komunitas Pengajian Djohan Effendy di PGI pada Rabu (23/3) lalu. Orang Kristen terbelalak menemukan praktek homoseksualitas secara permisif di kalangan sultan dan bangsawan, sepanjang ia dilakukan di bilik-bilik privat, sedangkan Gereja Katholik Roma (GKR) yang waktu itu masih merupakan kekuasaan singular, satu-satunya di Eropa, mengecam praktek ini secara terang-terangan.

Islam sejak awal (pada masa itu, bukan masa ini ya) telah begitu cerdas memisahkan ruang publik dengan ruang privat. Polisi syariah tidak punya hak atau tidak boleh menghukum karena menggebrek ke ruang-ruang privat, seperti menggerebek saya  kalau sekamar dengan RMPG, menanyakan akta nikah kami, atau langsung menggiring kami ke gelanggang untuk dirajam ataupun dicambuk karena zina, karena syarat-syarat jatuhnya hukuman zina itu hampir mustahil diterapkan sehingga dapat terjadi vonis hukuman. Tidak hanya hukum nikah mut’ah (temprorer) pada beberapa sub-mazhab fikih Ja’fari, malah hukum nikah daim (permanen) menurut Maliki saja konon tak mensyaratkan adanya saksi dan wali. Jadi, kalaulah saya berdua-duaan dengan RMPG di kamar tanpa akta nikah, atau apapun yang sifatnya formal-yuridis, bisa saja kami bersumpah kami sudah melakukan akad dengan menggunakan sandaran mazhab fikih itu. Nah, di Andalusia, KARENA SIFAT ISLAM YANG SEKULER DAN LIBERAL untuk ukuran masa itu, ia malah menarik minat orang-orang untuk berkeinginan masuk Islam. Apatah lagi pada zaman itu gairah keilmuan demikian meningkat, sedangkan suasana Eropa dengan GKR-nya tampak lesu dalam bidang keilmuan, seperti adanya tim-tim proyek penterjemahan buku-buku keilmuan, dan diskusk-diskusi kaum inteletual lintas agama yang marak pada masa itu. Ini benar-benar membuat ketar-ketir GKR yang khawatir akan kehilangan kuasa, pengaruh dan jemaat-jemaat tajir pemberi uang perpuluhan dan jemaat-jemaat dari kalangan penguasa-penguasa digdaya.

Harper McAlpine Black malah bilang kalau lahirnya tarekat Fransiskan yang mistik sekali itu, [dan jangan lupa St Francis itu “korban” dari Perang Salib, dimana ia yang dari Barat akhirnya berjumpa dengan Islam di Yerusalem, yaitu Timur, berikut Kristenitas Timur yang berbeda dari Kristenitas Barat] adalah counter terhadap sufisme Islam, atau para-Islam… Pernyataan dia ini terkesan romantisme Islam ya, tetapi baru-baru ini saya membaca buku tentang Abu Said al-Khayr yang lahir 200 tahun sebelum Francis itu merupakan pendiri mazhab Sufi Khurasan yang untuk kali pertama mengembangkan etika khanaqah yang menjadi dasar bagi etika zawiyah, tekke, atau pondok-pondok Sufi selanjutnya. Misalnya, etika khanaqah ini ialah darwis-darwis dilarang menanyakan keadaan-keadaan yang sifatnya privasi dari para sufi atau musafir yang mampir dan bermalam, tidak boleh kepo urusan pribadi melainkan hanya boleh bertanya keadaan para guru suci dan tarekat-tarekat secara umum. Mereka harus melayani manusia dan menciptakan surga bagi satu sama lain sebagai esensi dari segala peribadatan. Mazhab sufi ini gabungan dari metode malamatiyah (jalan menyalahkan diri atau menganggap diri salah dan memberi citra diri sebagai pendosa), tetapi mazhab ini sekaligus merupakan pendorong lahirnya organisasi-organisasi dagang dari para perajin seni.

Dalam tulisan tersebut, Harper McAlpine Black menyatakan, REFORMASI GEREJA TAK AKAN ADA TANPA ISLAM.

Mtt19

Aku Haus, salah satu ucapan Yesus yang terkenal di kayu salib

Apakah Anda pernah mendengar ungkapan, “Tanpa Muhammad, tak’kan ada Charlemagne?” Islam yang berkembang luas mempengaruhi Eropa sejak kejayaan Andalusia dan Ottoman, adalah “The Other” bagi Kristen untuk memperbaiki dan mengubah dirinya — ia (Islam) itu gelap, misterius, sekaligus ternyata membebaskan dari satu sistem yang singular….Dalam Sunni Islam atau juga Syiah dalam pengertian luas untuk “Ahlusunnah wal jamaah“, bahwa Rasulullah Muhammad adalah contoh manusia sejati (ingat ungkapan terkenal Ibn Arabi, Insan Kamil atau Manusia Sempurna?). Kesalehan Islam selama ini selalu berdasarkan pada menirukan contoh teladan Nabi Muhammad (saw).  Maka, Kristen merespon untuk meng-counter ini. [Mungkin, kalau kita juga ingat bahwa St Thomas Aquinas konon dipengaruhi juga filsuf-filsuf Muslim dan St John of the Cross pendiri tarekat Karmelit yang juga dipengaruhi para darwis Muslim, melahirkan karya “The Darkness of the Soul” yang sangat bernilai tauhid ala Sufisme bagi saya]. Harper mengatakan bahwa counter Kristen terhadap konsep Islam ini antara lain bahwa umat Kristen diharapkan untuk: Mengimitasi Kristus. Kristus menjadi contoh manusia sejati. Spiritualitas Fransiskan adalah “counter” bagi popularitas Sufi. Kristenitas diciptakan kembali sebagai “counter” terhadap Islam. Secara langsung maupun tak langsung, Islam telah mentransformasi Kristen. Kita tak dapat memahami Barat tanpa Islam.

Harper mengatakan, bahkan, meskipun tak pernah disebutkan sebagai faktor terjadinya Reformasi dalam Sejarah Eropa (Kekristenan), bahwa sesungguhnya ada peranan tersembunyi pengaruh eksistensi Turki (Muslim) di dalamnya. Sebagaimana halnya perubahan-perubahan dalam diri saya ketika misalnya jatuh cinta kepada RMPG, ada peranan tersembunyi terhadap eksistensi RMPG yang mengubah saya dalam banyak hal, counter-counter saya terhadap Kristenitas, Trinitas, Alkitab, dll, misalnya.
Jadi,  menurut Harper, PROTESTANISME ADALAH RESPON KRISTEN TERHADAP ISLAM. atau bahkan kita bisa mengatakan bahwa PROTESTANISME ADALAH KRISTENITAS YANG DIISLAMISASI SEDEMIKIAN RUPA.

Harper yang mengaku sebagai pengamat yang unfashionable dalam menganalisis sejarah, filsafat dan studi keagamaan tidak sedang mengada-ada dalam hal ini. Mari kita mengingat-ingat doktrin kaum Protestan yang dirangkum dalam tiga ekspresi populer: sola fide, sola scriptura dan sola gracia…  Kaum Protestan yang awalnya amat menolak apa yang disebut sebagai tradisi Bapa-bapa atau konsensus ulama awal (ijma’ dan jumhur pendapat yang ditradisikan oleh bapa-bapa Kristiani perdana) mengkampanyekan untuk sepenuhnya beriman kepada Yesus Kristus sebagai basis atau fondasi segala keyakinan dan kebenaran, untuk kembali kepada Alkitab (Alkitabiah saja), dan sepenuhnya meyakini anugrah Ilahi (ridho Allah dan rahmat-Nya).

Untitled999

 

Saya kemudian ingat mengenai soteriology Calvin yang oleh mentor saya (Thomas Mcelwain*) katakan “Muhammad (saw) adalah seorang Calvinis” dalam salah satu volume The Beloved and I: New Jubilees Version maha karyanya. Yang dimaksud McElwain adalah pandangan-pandangan dalam al-Qur’an yang disampaikan Muhammad (saw) dalam beberapa isu keagamaan atau keimanan sebenarnya adalah pandangan Calvinis. 

Saya juga teringat Pdt Joas, rektor STT Jakarta,  ketika membaca tulisan Harper ini dalam bagian bahwa Islam tidak mempunyai satu kekuasaan terpusat, seperti halnya GKR dan dunia Kristen berubah drastis begitu Reformasi berlangsung. Joas pernah mengatakan bahwa dosa terbesar Protestan adalah menyebabkan Kristen menjadi pecah kepada teramat banyak gereja. Jadi, tampaknya, para waliullah Protestan seperti Martin Luther, John Calvin, John Weasley, John Smyth, Menno Simmons, kaum pelopor Baptis, bahkan mungkin juga kaum Unitarian, Puritan, Dissenters, Nonconformists itu — melalui akta-akta atau kesepakatan-kesepakatan untuk menghendaki kebebasan beribadah atau bergereja, toleransi dan kerukunan antar umat gereja dan lain-lain semacam itu – tampaknya bukan hanya bergolak karena faktor internal kegerejaan, melainkan merupakan rentetan panjang dari memandang Islam sang “The Other” itu. Sebab, dalam Islam tidak ada “komando di bawah satu gereja” (bahkan meskipun dalam Syiah Imamiyah, kecuali versi Iran kontemporer yang dikenal hierarkis seperti GKR, dengan sistem taklid marjaiyah sekaligus wilayatul faqih. Sistem marjaiyah dalam taklid merujuk kepada para ayatullah ini sepertinya baru beberapa abad belakangan ini populer, dan wilayatul faqih juga baru-baru saja ketika akhirnya Revolusi Iran 1979 berhasil menggulingkan suatu dinasti Islam Syiah, sedangkan sebelumnya model keIslaman Syiah itu pun Akhbarian yang tidak mempercayai ulama-ulama sebagai wakil-wakil tunggal Imam Mahdi untuk menjadi rujukan spiritual dan keagamaan, apalagi politik).

kangen.jpg

Menurut Harper McAlpine Black, dalam PROTESTANISME ada beberapa hal yang akan mengingatkan kita kepada ajaran-ajaran Muhammad (saw) atau Islam, misalnya:
Pertama, bahwa setiap orang adalah pendeta (utusan Yesus), misalnya dalam bagian akhir kebaktian Protestan, seperti dalam gereja Baptis, semua jemaat diutus oleh Tuhan Yesus untuk berdakwah (ingat hadis bahwa Muslim diminta untuk mendakwahkan setidaknya satu bait saja dari kitab suci?), jadi posisi pendeta-pendeta Protestan pada dasarnya atau sejatinya tidaklah sama dengan pastor-pastor Katholik, yaitu mereka punya hak dan tanggungjawab setara dengan para diaken, panatua, dan jemaat-jemaat mereka. — semua ini akan mengingatkan kita kepada Islam yang tak punya “Satu Uskup Agung Yang Di Roma” itu.

Kedua, menolak monastisisme, yaitu menolak kehidupan kebiaraan dan kerahiban. Kita  tahu bahwa secara umum Islam tidak mengenal monastisme. Tetapi, dunia Sufi memberikan wajah lain monastisisme dalam Islam, yang bisa jadi membuat iri atau mempesonakan kaum Kristiani, dilihat dari banyaknya Kristen yang kemudian konon masuk Islam dengan menjadi darwis-darwis Sufi. Misalnya, kita bisa melihat bahwa pada zaman Ottoman, mazhab Sufi Bektashiyah telah mengadopsi bentuk monastik Kristen dengan caranya sendiri, yang sedemikian longgar, dengan meneruskan etika khanaqah mazhab Sufi Khorasan (jangan lupa Haji Bektash Wali berasal dari Khorasan), dimana ada model gabungan untuk merangkul kaum urban pedagang maupun penduduk desa yang agraris, darwis-darwis yang boleh memilih selibat tetapi boleh berubah pikiran dengan seizin mursyid-mursyidnya tanpa mengubah posisi mereka dalam biara (bandingkan dengan GKR dan gereja-gereja Ortodoks di sekitarnya baik pada masa itu maupun pada masa kini dimana hanya gereja-gereja Timur membenarkan pernikahan para pastornya sebelum pentahbisan), gabungan antara kehidupan asketik dan duniawi, serta memberikan hak-hak keistimewaan (privilege) kepada para baba dan atau dede (pemuka Bektashi) namun mereka punya kedudukan hak dan tanggungjawab yang setara dengan para darwis, ashik, atau masyarakat  yang bersama dengan mereka. Dalam hal ini, kita bisa melihat bagaimana Martin Luther yang semula adalah seorang rahib Augustinian dan Menno Simmons, salah satu tokoh utama dari Anabaptis (versi kaum Baptis dari negara-negara dalam wilayah yang kini adalah Jerman, Belanda, Swiss, Austria, dll, sedangkan Baptis itu dari Inggris dan sekitarnya), yang tadinya seorang pastor GKR, bagaimana keduanya kemudian menikah dan memperbaharui model kegerejaan yang tadinya monastik itu. Menurut Harper, Kristenitas klasik adalah agama monastik kaum agraris.

Ketiga, menolak ikon-ikon. Tentu saja, hal ini amat mengingatkan kita pada khususnya Islam Sunni yang menentang gambar-gambar dari ahlulbayt dan nabi-nabi, khususnya Muhammad (saw).  Pada mulanya di gereja-gereja Protestan tak ada lagi ikon-ikon Yesus, Bunda Maria, dan para bapa Perdana serta santo-santo, kemudian salib-salib tak lagi ada corpus christi-nya, dan seterusnya. Kendati kini gereja-gereja Protestan tidak lagi alergi dengan foto-foto Yesus dan ikon-ikon itu, tetapi mereka tetap tidak menganggap penting, sebagai simbol, maupun untuk dekorasi yang bersifat sakral di dalam arsitektur gereja-gereja dan kapel-kapel mereka. Malahan, kita bisa melihat bagaimana gereja-gereja Protestan itu barangkali semacam mengadaptasi gaya Muslim dalam membuat gereja mereka dengan dekorasi yang kadangkala berkesan minimalis, tetapi ada kalanya berkaligrafi atau pun bergaya arabesque dengan melukis tanpa ikon-ikon suci itu lagi. Jika ada lukisan-lukisan, yang tampak sakral, mereka berusaha memberikan kesan-kesan yang real, yang humanis, sebagaimana citra awal itu, imaji Kristus yang manusia sempurna itu harus diimitasi, yang fully human itu… Ini, lagi-lagi, kok ya malah mengingatkan saya pada lukisan-lukisan Persia-Mongol tempo dulu maupun lukisan Persia kontemporer.

Keempat, dalam banyak varian gereja-gereja Protestan: Menolak alkohol, baik yang bersifat seluruhnya, atau hanya ada alkohol dalam liturgi perjamuan kudus. Dalam sejarah Protestanisme, kita mengenal teetotalisme dan gerakan-gerakan Temperance yang populer di Amerika Serikat, terutama banyak digerakkan oleh perempuan-perempuan saleh Kristen yang  sebagian adalah janda-janda dari pria-pria yang mati karena alkoholik. Gereja milenaristik (akan dibahas nanti) semacam Adven Hari Ketujuh bahkan mengharamkan alkohol sama sekali. Gerakan-gerakan Temperance ini bahkan sangat politis, yaitu berusaha memberlakukan undang-undang untuk melarang penggunaan alkohol atau peredarannya dalam masyarakat.

Kelima, Kristen kini menjadi agama bagi kaum pedagang kota, merespon Islam yang populer juga bukan hanya kepada kaum agraris juga karena perdagangannya, karena gilda-gilda para Sufi yang mempunyai organisasi-organisasi dagang berjejaring luas yang mendunia (bayangkan dari Andalusia dan Tatar sampai ke Jalur Sutera dan Nusantara), bahkan termasuk bank-bank atau sistem perbankan teramat awal. Bahkan, menurut saya, teologi kemakmuran ala kaum Kharismatik (evangelikal Kristen yang separalel dengan aliran Wahabi dalam Islam) akan mengingatkan kita pada hal ini, dimana dalam beberapa organisasi dagang Islam ada keyakinan bahwa semakin banyak memberi maka kita akan semakin makmur. (Memberi di sini entah itu khumus – semacam perpuluhan atau tithe dalam Syiah khususnya — atau zakat atau infaq dan sedekah – yang akan ingatkan saya kepada kata tzedeq, dalam bahasa Ibrani, dimana Imam Ja’far as-Shodiq, yang dikenal sebagai sang tzedeq karena contoh dari righteousness dan bapak keadilan sebab banyak menyumbang baik materi maupun ilmu pengetahuan, serta dikenal sebagai imam yang berpakaian bagus atau mewah untuk ukuran masanya). Di sisi lain, beberapa gereja menolak tithe atau perpuluhan (seperti orang-orang Sunni yang tak lagi membayar khumus yaitu duapuluh persen penghasilan menjadi serupa pajak kepada para ayatullah dan selain didistribusikan kepada umat, juga untuk sayyid-sayyid dan syarifah-syarifah yang tak boleh menerima zakat dan sumbangan). Etos Calvinis misalnya konon telah dikenal telah membuat Swiss menjadi makmur dengan inovasi dan perdagangan jam, dan Etos Protestan dikenal dengan disiplin “Mengejar kekayaan dunia” dalam menghayati Kristus, penderitaan Yesus, Kristologi, dan seterusnya. Lagi-lagi ini akan mengingatkan saya pada para Sufi yang tetap bekerja menumpuk kekayaan, meskipun tidak melekat kepadanya.

Harper tidak memberikan tiga hal atau tiga poin dari saya ini: Keenam, mengenai bertumbuhnya gereja-gereja milenaristik, termasuk karena pembacaan Kitab Wahyu, atau hal-hal yang apokaliptik, seperti Mormon, Advent Hari Ketujuh, dan Kesaksian Yehova (KY), dimana ini mirip banyak gerakan dalam Islam seperti beberapa tarekat Sufi yang kemudian memisahkan diri dari agama Islam kaarena percaya bahwa gurunya adalah nabi atau imam Mahdi itu, atau terpecahnya Islam Syiah menjadi berbagai sekte. Gereja-gereja ini pada awalnya, dan bahkan masih sampai hari ini, dianggap tidak Kristen sama sekali, sesat, bidat, dan lain-lain. Mereka misalnya punya banyak kemiripan juga dengan beberapa hal dari dunia Islam, seperti Mormon yang membolehkan poligami, KY yang menolak Trinitas ala Konsili Nikea, dan Adven yang menerapkan kashrut atau konsep diet halal ala Yahudi yang mirip juga dengan Syiah, dan bahkan Adven awal konon, Ellen White salah satu pendirinya atau nebiahnya itu pengikut Neo-Arianisme, yaitu menolak Trinitas ala Konsili Nikea yang mengikat baik GKR maupun mayoritas Protestan.

Ketujuh, berkenaan paham Tritunggal atau Trinitas, dimana ada bentuk-bentuk Neo-Arianisme, atau Arianisme, atau paham-paham serupa itu, muncul dan populer lagi, penggalian kembali atas doktrin-doktrin Trinitas, dan hal-hal semacam itu, termasuk lahirnya Unitarianisme dalam berbagai versi. RMPG pernah cukup lama untuk menjawab saya ketika saya bilang bahwa ada kecenderungan bahwa Menno pendiri mazhab gerejanya itu”Unitarian” yang menurut saya sih nggak khas Menno doang, sebab menurut pembacaan historis saya, ya sebetulnya tidak sedikit tokoh Baptis yang “Trinitariannya” itu “Unitarian” — kalau boleh saya bilang, abu-abu, tidak seperti Trinitarian-nya orang-orang Ortodoks atau GKR pada zamannya – meskipun kaum Yesuit masa kini dan para teolog GKR cukup canggih membahasakan kembali Trinitas — dan ini pun lagi-lagi antara lain juga untuk merespon populeritas tauhid Islam. Edward Elwall si Jew Elwall yang merupakan jemaat gereja Yard Mill Sabbatarian Baptist di Inggris, yang juga kami percaya sebagai salah satu darwis Daudiyah awal, pada abad ke-18 telah menulis surat kepada raja Inggris mengenai paham Unitarian-nya, yang mengakui ketaklidan kepada Yesus Kristus tetapi menolaknya sebagai oknum dari tiga dalam Trinitas itu.

Kedelapan, Protestanisme bergerak menuju kesetaraan gender kendati mereduksi kesakralan peranan kaum santo perempuan, terutama Bunda Maria (as). Perempuan-perempuan di berbagai gereja Protestan boleh bahkan digalakkan menjadi pendeta dan pemimpin-pemimpin atau pemuka-pemuka gereja. Hal ini hanya bisa kita lihat dalam tarekat-tarekat Sufi dimana sesungguhnya para perempuan bisa mejadi mursyid-mursyid, menjadi para pengkotbah, ikut dalam pertemuan tanpa segregasi, menari atau menyanyikan lagu-lagu elahi (nasyid), ikut mengambil keputusan polutik maupun  sosial lainnya, bahkan mengimami sholat jama’ah — sesuatu yang kerap sengaja dilupakan untuk disampaikan oleh para sejarawan Muslim, apalagi para ulama Muslim yang teramat fikihis atau yurisprudensial.

museum vatikan1.jpg

“Aku menemukan Aku Pada kayu salib yang kupanggul, dari aku menuju Aku, melaui aku dan bersama Aku.” penggalan puisi saya, dan foto sebuah patung yang menggambarkan Yesus yang menderita di Museum Vatikan

Maka, menurut Harper McAlpine Black  PROTESTAN MEMBENTUK KEMBALI KRISTENITAS DENGAN CITRA ISLAM. Sehingga ia kemudian bisa bersaing dengan Islam. Dapat dengan angkuh dikatakan bahwa, Islam telah memicu kebangkitan Kristen dan lahirnya Reformasi atau Protestanisme.

 

Kalau kita berkaca pada masa kini, yakni bahwa Kristen tetap menjadi agama yang paling unggul secara kuantitas (sekitar 2,2 milyar, sedangkan Islam hanya nomer kedua dan belum mencapai angka milyar), ia tetap berusaha terus merespon Islam meskipun Islam tampaknya mencuekkan dia, atau bahkan menyerang dia bertubi-tubi dan enggan menjadi kekasihnya.

Masa-masa kolonial dan pasca kolonial juga paling tidak juga sedikit banyak membuktikan itu. Kita akan ingat bagaimana upaya-upaya Barat merebut hati mereka yang dijajahnya. Kasus Snoeck van Hurgonje, atau bagaimana mereka mempengaruhi Kartini, atau sekolah-sekolah modern pertama di Penang dan di Nusantara, dengan kebijakan politik etis mereka, dan sebagainya. Ratu Elizabeth I sebagai pionir penjajahan sudah pasti, bukan sekedar mengikuti jejak Ratu Spanyol yang geram dan ingin balas dendam terhadap  Ottoman, tapi  juga iri dengan kekuasaan dan monopoli dagang kaum Muslim (baca: termasuk para Sufi) di wilayah-wilayah yang mampu memberikan kebutuhannya, dan kemudian Revolusi Industri untuk menjadi pangsa pasar utamanya. Ini termasuk pelayaran kaum penjelajah Portugis dan Spanyol awal.

Gagasan-gagasan Barat seperti sosialisme, komunisme, kapitalisme, liberalisme, atau paham filsafat-filsafat semacam positivistik, eksistensialisme, dan lain-lain itu, bahkan pada akhirnya ketika Kristen mencoba mengungkit humanisme, dalam bahasa HAM, Dunia Islam memberi respon melalui kaum Muslim inteleknya dengan gagasan yang dalam bahasa kekinian kita mengatakan, “Woi ntar dulu, gue juga puya sendiri neh…” atau dengan kata lain: Kami punya juga, seperti Averroes, Avicenna, al-Biruni, Ibn Arabi, Suhrawardi, Sadra,  dan bahkan kami punya Iqbal, Ali Syariati, juga Soekarno dan Tan Malaka. Kaum Inteletual Muslim kontemporer telah berhasil baik menentang atau malah mengawinkannya dengan nilai-nilai Islam atau filsafat-filsafat buah karya filsuf-filsuf Muslim pendahulunya, sehingga ada gairah tak tertahankan dari Barat untuk terpukau, dan menjerit: “Aih, alamak, sialan, apa lagi yang bisa gue lakukan untuk menaklukkan hatimu, wahai Muslim? Aku sungguh-sungguh kepengen merebut hatimu, hai Muslim!” Ketika imigran Muslim membanjiri Eropa, dunia Kristen pun tahu inilah saatnya untuk bangkit kembali, baik GKR maupun Protestan. Sesuatu yang mungkin tak disadari oleh kaum Muslim bigot yang memuja kemurnian ala mengArabkan segalanya sebagai murni mengimitasi Muhammad menjadi sedemikian dangkalnya, sebagai yang historis belaka. 

Sementara orang-orang Islam, termasuk yang terpelajar dan kaum mantan aktivis semacam di grup-grup whatsapp alumni HMI saya sibuk menjelekkan, mengkafirkan, menghina dan memfitnah Syiah, Ahmadiyah, Sufi, dan lain-lain, dunia Kristen sedang menyerukan kehidupan ekumenikal yang luarbiasa, lebih dari upaya kaum ulama Muslim dalam slogan ukhuwah Islamiyah mereka… Orang-orang Protestan sibuk meggalakkan kegiatan-kegiatan ekumenikal, termasuk merayakan kembali liturgi-liturgi khas GKR yang sempat mereka tinggalkan tetapi dengan versi mereka sendiri, tentunya… Bahkan, mereka  bersukacita merangkul kaum evangelikal atau kharismatik yang bisa saya katakan paralel atau serupa wahabi-nya Islam dalam beberapa narasi utama mereka. Gerakan-gerakan Kristen seperti Focolare dan Tai Ze, bahkan tak lagi sekedar bersifat ekumenikal, tapi mampu merangkul yang non-Kristen, termasuk dan terutama  Muslim. Lalu, GKR dengan Paus Fransiskus melakukan ritual yang ultra-ekumenikal dalam Kamis Putih kemarin (23/3) mencuci kaki Muslim dan Hindu, suatu lompatan yang nggak bakalan kayaknya dilakukan Ayatullah Khamenei kepada saya. (Please dech, Chen, kamu itu bukan mahrom-nya). Dunia Kristen hari ini menawarkan dengan begitu indah sekali  konsep cinta kasih sayang, seperti teologi cinta radikal-nya Romo Matteo, yang misalnya, tidak  akan mengasingkan atau menyerang (umat) gereja-gereja semacam Advent, Mormon dan Kesaksian Yehovhah sekalipun. Atau seperti GKA-Reformed Baptist, gereja yang saya anggap kini juga adalah gereja saya, yang mengadakan “open communion” dalam setiap perjamuan kudusnya tanpa memandang apakah seseorang sudah dibaptis atau belum secara Kristiani, tanpa diskriminasi gender dan SOGIE, ideologi politik, dan lain sebagainya.

shahadah.jpg

SEDANGKAN ISLAM?
Dapat dipastikan Kristen akan terus berjaya, umatnya akan bertambah, KALAU TIDAK KARENA UMAT MEREKA MAU DIBAPTIS (murtad dari klub agama Islam) masuk jadi jemaat gereja (seperti saya yang mau dibaptis jadi Mennonit demi cinta saya kepada RMPG :P  ) ATAU KARENA ISLAM-ISLAM LAIN ITU NGGAK DIANGGAP ISLAM LAGI oleh Muslim-Muslim yang hobi mengklaim sebagai paling kaffah dan paling murni Islam itu… YA KAN, AKHIRNYA JADI TERMASUK KRISTEN, TOH? Mengapa? Karena mainstream Muslim itu juga kepada PERCAYA YESUS KRISTUS sebagaimana yang ada dalam al-Qur’an, PERCAYA BAGINDA AKAN DATANG KEMBALI DI AKHIR ZAMAN sebagaimana yang ada dalam hadis-hadis, dan PERCAYA BAGINDA BISA MEMBERI SYAFAAT…Jangan-jangan Islam yang sesungguhnya hari ini ya ditemukan di kalangan kaum Kristen, sesuai hadis bahwa Islam pada akhir zaman bagaimkan buih di lautan tetapi yang sejati hanya sedikit sekali, yaitu mungkin ya kaum Muslim dan Kristen yang sama-sama mengamalkan menghayati 10 Perintah Allah dalam bahasa/amal ibadah masing-masing, mengamalkan agama cinta yaitu bahwa melayani seluruh umat manusia merupakan intisari dari segala peribadatan kita kepada Allah SWT.

Seperti kata Sa’di, sang Sufi dari Shirazi, yang mungkin terinspirasi atau senada dengan ayat-ayat dari 1 Korintus 12: mengenai umat manusia itu bagaikan satu tubuh, jika tangan merasa sakit, maka anggota lain juga akan ikut merasakan sakit.

Shahadah itu artinya kesaksian. Witnessing. Menyaksikan. Apakah kita benar-benar menyaksikan ketika kita bersyahadat? Ketika bersyahadat kita secara tidak langsung berbaiat kepada Muhammad (saw). Pada zaman itu, ketika zaman Muhammad (saw) itu, menurut saya bukanlah berarti sama seperti kita bersyahadat sekarang, yang menunjukkan kita menerima diinisiasi ke dalam agama besar bernama Islam. Tetapi, kita menerima untuk bertaklid sepenuhnya kepada seorang bernama Muhammad (saw), seorang utusan, imam agung, wali, dan wakil Allah di muka bumi ini. Berbaiat menjadi “convenant of Muhammad” yang juga memiliki makna dan dampak-dampak politis, kendati ia sebenarnya bersifat spiritual.

Kalau saya membaca al-Qur’an, terlalu banyak ayat yang meminta kaum beriman dan ahlulkitab untuk membuka kembali kitab-kitab suci sebelum al-Qur’an dan wahyu-wahyu dari-Nya sebelum Muhammad. Itu artinya “convenant of Muhammad” tidak dimaksudkan untuk meninggalkan kitab-kitab suci itu (Alkitab) sebaliknya kembali bergabung dan menyatu dalam ajaran-ajaran Ilahi bersama ahlulkitab dan orang beriman yang lurus.

Pada hari ini, umat Kristiani merayakan Paskah, suatu pemaknaan baru dari Pesakh-nya umat Yahudi kepada pemaknaan dari kisah seputar haul, penyaliban atau penderitaan dan kebangkitan Yesus Kristus.

Pada hari-hari ini juga (27 atau 28 Maret) umat Muslim Syiah memperingati Wiladah Fatimah az-Zahra (as). Muhammad (saw) mengatakan bahwa “Barangsiapa menyakiti Fatimah, maka ia juga menyakiti aku.” Bagi saya, ia memiliki makna zahir dan makna batini yang sangat luas. Secara historis sendiri, telah terdapat “overshadow” atau kisah pendahulu untuk mengingatkan kita akan kasus Tanah Fadak, yaitu dalam Kitab Bilangan 27, bahwa sesungguhnya hukum Allah yang sejati, yang asas, bersifat adil dan memberikan kesetaraan kepada perempuan maupun laki-laki.

Penderitaan Fatimah az-Zahra tidaklah kurang ataupun tidak lebih pula daripada penderitaan Maria binti Imran, ibunda Yesus Kristus. KEDUANYA MENGAJARKAN KEPADA KITA UNTUK SUNGGUH-SUNGGUH MENYAKSIKAN Allah SWT dalam wujud “manusia-manusia maksum” (manusia-manusia yang disucikan).

Bhagavad Gita bab 2:12, berbunyi, “Tidak pernah ada saat-saat di mana Aku, engkau dan para raja manusia tidak pernah ada, ataupun akan senantiasa ada nantinya, manakala kita semua berhenti adanya.

Bagian dari ayat ini diberi penjelasan yang menarik oleh I Wayan Maswinara (dari Sanata Dharma Surabaya):
“Tuhan berpribadi sebagai Pencipta Ilahi, sejajar dengan alam semesta empiris ini; dalam pengertian Ia merupakan totalitas dari keberadaan empisis. ‘Tuhan sebagai penguasa makhluk-makhluk berkelana dalam kandungan. Walaupun tak terlahirkan, Ia lahir dalam banyak cara.’

“Sankara berkata, ‘Dari kebenaran Tuhan-lah satu-satunya yang menjalani transmigrasi.’ Bandingkan dengan pernyataan Paschal bahwa KRISTUS AKAN SELALU MENDERITA HINGGA AKHIR DUNIA INI. Ia sendiri akan memikul tanggung jawab penderitaan yang menimpa umat manusia. Ia menderita kondisi dari keberadaan yang diciptakan. Roh-roh bebas menderita pada waktunya dan memasuki kedamaian pada akhir waktu, walaupun mereka ikut serta dalam kehidupan Ilahi hinga kini. Hanya apabila Tuhan Berpribadi secara bebas dibatasi, kita tanpa daya juga terbatasi. Bila Dia merupakan penguasa dari permainan prakirti (ibu yang melahirkan dan bapak/Tuhan dari wujud yang hidup), kita akan menjadi sasaran dari permainannya. Kebodohan akan mempengaruhi roh-roh pribadi, tetapi tidak terhadap Roh Universal.
Kejamakan pribadi-pribadi dengan sifat-sifat khusus mereka tetap ada sehingga proses kosmis ini berakhir. Dengan demikian kejamakan ini tak terpisahkan dari kosmos. Sementara roh-roh bebas mengetahui kebenaran dan tinggal di dalamnya, roh-roh yang belum terbebaskan tetap berkelana dari kelahiran yang satu ke kelahiran berikutnya, yang terikat oleh belenggu karma (kerja).

Nah, ayat-ayat dari Alkitab (Perjanjian Baru) yang senada dengan Sa’di Shirzai bisa ditemukan dalam 1 Korintus 12: 1-31 — dimana kita pun akan mengingat ajaran Protestanisme serta semangat ekumenikal yang kuat yang termotivasi juga darinya:

 

a dry leaf78

Sudah Selesai, salah satu kata-kata Yesus di kayu salib.

Sekarang tentang karunia-karunia Roh. Aku mau, saudara-saudara, supaya kamu mengetahui kebenarannya. Kamu tahu, bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu.
Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus. Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. 

Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.
Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.
Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.
Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.
Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.
Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.

Andaikata kaki berkata: “Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?
Dan andaikata telinga berkata: “Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?
Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman?

Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh.
Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.”

Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.

Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.

Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?

Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.*** (Terjemahan LAI)

SELAMAT MEMPERINGATI JUM’AT AGUNG DAN MERAYAKAN PASKAH SERTA WILADAH FATIMAH AZ-ZAHRA kepada semua saudara dan saudariku yang merayakan dan memperingatinya.
Amitabha, om svasti asthu. Rahayu,
Sr Gayatri WM.

*Ana: sebutan Ibu, atau semacam Nyai dalam pesantren, dalam mazhab Sufi Bektashiyah.
*Lihat artikel Harper Mcalpine Black dalam: http://harpermcalpineblack.blogspot.co.id/2016/01/a-battle-raging-in-single-system.html
*Haji Thomas McElwain atau Syaikh Ali Haydar (nama pemberian kaum darwis Qizilbash dari mazhab sufi Bektashiyah juga), merupakan pensiunan pendeta Strict and Particular Sabbatarian Baptist yang mengklaim meneruskan jejak gereja Sabbatarian Baptist ala Francis Bampfield dan juga penerus Edward Elwall. Ia pun keturunan kaum Quaker, dan memiliki koneksi dengan Eckerlin Brothers yang dikenal membuka Virginia (AS) sebagai wilayah kediaman yang damai bersama kaum etnis pribumi (India-Amerika), yang juga dikenal beraliran Baptis, serta ia seorang etnis Melungeon [seperti Abraham Lincoln dari garis ibunya, yaitu etnis campuran tiga ras]. Selama menjadi pendeta, ia tetap melakukan amalan-amalan mainstream Muslim, seperti sholat, mengaji, sembahyang jama’ah dan naik haji, dsb, serta juga mewakili gerejanya dalam konfrensi sedunia World Alliance Baptists di Zagreb, 1989.

matteo.jpg

 

 

KEMATIAN, WASIAT TERAKHIR, dan AGAMA

“Apakah Punya KTP berkolom Islam Benar-benar Penting?”

 IMG00159-20140610-0903.jpg

Aku dan ibuku — yang baru dioperasi lututnya tahun lalu — akhir-akhir ini karena kami penyakitan, sering sekali bercanda tentang kematian. Ibuku bercerita, pernah dulu adiknya (adik angkat yang juga sepupunya) berkata kepada ibunya yang sedang sakit dan memberi wasiat (bapaknya syahid dalam perang revolusi),
“Ibu tenang saja, lagipula ibu mau dimakamkan di mana, semua itu kan bergantung kepada yang hidup, karena ibu toh sudah tidak bisa ngapain-ngapain lagi.”
Adik ibuku ini memang senang sekali bergurau, sehingga ibunya pun malah menjadi tertawa. Lha iya dong, bagaimana orang mati bisa protes mau dimakamkan bagaimana, kan? Hahaha.

Aku juga, karena aku tahu penyakitku yang mematikan ini, bisa membuat daftar panjang wasiat seperti berikut ini:

(1) Jangan makamkan aku pada hari Sabat, yaitu jatuh sejak Jum’at maghrib sampai Sabtu maghrib — maghribnya terserah mau versi Sunni atau Syiah, wkwkwk, [😛 ]
(Ini karena aku darwis Daudiyah fanatik, yeah, wkwkwk).

(2) Aku ingin dikafani dengan kain kafan jausyan kabir, terserah yang made in Iran atau made in Indonesia, wkwkwk, di alam kubur emang penting nasionalisme atau emang imam-imam ahlulbayt nasionalis getu?
(Ini karena aku masih percaya kalau siapa tau aku dapat syafaat dari para imam ahlubayt dengan kain kafan ini, lho, ya ampun, biarin deh terkesan ndeso dan Syiah bingit.]

(3) Tak usah ribut menyolati aku dengan fikih Ja’fari atau fikih Syafii, pokoknya mah semua orang Sunni, Syiah, Ahmadiyah, Kristen, Yahudi, Buddha, Hindu, Sikh, agama lokal, atheis, cewek, cowok, transgender, kalau mau menyolati aku silahkan…
(Maklum, aku’kan pluralis sejati wkwkwk.]

(4) Aku sudah punya surat wasiat dan pesan-pesan untuk anak-anakku dan sahabat-sahabatku dan siapa yang mau melanjutkan pemikiran-pemikiranku serta pondokku.
 
(5) kalau bisa aku ingin dimakamkan di tempat dimakamkannya orang-orang yang tidak asing bagiku. Nah, ini tercetus gara-gara kemarin ikut memakamkan mbak Tya di TPU Karet Bivak, meskipun sejak dulu berkhayal kalau bisa sih ya dimakamkan di Astana Bibis Luhur, Tjitrosoman Tuban atau di Pasongsongan di samping eyang dan engkongku.
Aku bilang pada ibuku, “Mom, lumayan rek Mbak Tya, bapaknya dimakamkan cuma beberapa batu nisan dari situ, lha yang lainnya kan orang asing. Gimana kalau aku ya, ogah dimakamkan di TPU orang asing semua gitu.”
Jawab ibuku, “Yo nanti kenalan dulu tho, bisa jadi temen-temen (baru)mu.”

Lha, terus aku pikir-pikir juga itu nomer (1), (2) dan (3) itu ya pasti terserah dengan orang yang masih hidup. Aku sudah nggak bisa protes kalau sudah terbujur kaku. Kalau aku disemayamkan di gereja, terus diberi gaun pengantin dan didandani cantik sekali seakan-akan seperti masih hidup, juga aku nggak akan rugi thoh, lalu setelah dimasukkan ke dalam peti aku malah dikremasi, terus abuku disebar di laut, juga bukan aku yang rugi, keles, toh jiwaku kan sudah nggak bergantung lagi dengannya, apa iya bisa merasa panas kena bakaran api dan apa perlu berenang di lautan getu?
(Aku jadi teringat sahabatku seorang Katholik HongKong yang percaya kebangkitan setelah mati, mengeluh karena di HongKong hampir semua mayat sekarang digalakkan pemerintahnya untuk dikremasi karena lahan kuburan sudah habis).

Hari ini salah satu pamanku dari kekerabatan Mangkunegaran (RM Daradjadi) menulis status yang menurutku juga lucu:
“AGAMA DAN MAKAM …… hari ini saya melayat teman yang akan dimakamkan di suatu pemakaman umum di Jakarta. Aku datang duluan sebelum jenazah tiba. Karena aku tidak tahu di blok apa ia akan dikubur, aku bertanya pada petugas kantor makam :”Pak dimana nanti jenazah ibu S dari Manggarai mau dimakamkan ?” Dijawab:” Apa agamanya?”
Ganti aku jawab::”Wah gak tahu aku gak pernah tanya.”
Aku tersadar bahwa makam di sini lain dengan makam keluargaku, makam Kerabat Mangkunegaran ” Astana Bibis Luhur” Surakarta. Di situ semua jenazah berdampingan tanpa batas menurut agama mereka ….”

Nah, ini kan seperti wasiatku no (1), (2), (3) dan (5), kalaupun aku dimakamkan di blok Kristen, tetapi pas ditanya malaikat yang agamanya Islam, ya pasti aku tetap dapat rumah baru sebagai orang Islam di alam kubur’kan? Emangnya malaikat kubur bisa disuap/menerima korupsi?

Misalnya, seperti kuburan yang aku kunjungi di foto ini. Ini adalah Asta Panaongan (*Asta adalah bahasa halus orang Madura untuk taman pemakaman) yang terletak di tanah warisan leluhurku di suatu hutan jati dan tepi laut Pasongsongan. Asta ini baru ditemukan beberapa tahun lalu, dengan berbagai versi cerita. Dan,karena diyakini penduduk setempat di situ ada makam seorang syaikh yang juga santo, eh waliullah, ya jadi tempat perziarahan. (Maklum, orang Madura yang Sunni ini mirip orang-orang Syiah yang hobi ziarah kubur).
Lha, kuburan saja bisa hilang terkubur selama ratusan tahun baru ketahuan lagi… Kok yao kita pusing-pusing amat soal makam blok Islam, Kristen, Hindu atau Buddha ya? Emang kalo diriku dimakamkan di blok orang Islam, sahabatku yang pastor ganteng, pacarku yang pendeta ganteng, atau guruku yang biksu ganteng, nggak boleh datang untuk melayat, menziarahi dan mendoakanku?

Hmm.. malaikat kubur juga mungkin pas menanyakan, “Siapa nabimu?”, nanti akan kujawab semua nabi yang kuingat di Alkitab dan Al-Qur’an, itu juga kalau aku ingat dan nggak kena brain fog (wkwk, emang pas aku mati aku masih punya lupus yak)…
Pas mereka bertanya apa kitabku, ya kujawab saja Taurat, Zabur, Injil, alQur’an juga semua mushaf yang terserak dalam kitab-kitab lain…
Malaikat kubur mungkin akan bingung akan kasih aku KTP dengan status agama apa ya…
Tetapi, kalau aku ditanyai “Siapa Tuhanmu” aku maunya sih menjawab,
“Di sini sudah nggak ada aku, yang ada cuma Tuhan.”

***

BAGAIMANA KALAU ANAK, SUAMI, ISTRI, IBU, AYAH ATAU SAUDARA KANDUNG SAYA ITU NON-MUSLIM?

“Nggak Semua Orang Seberuntung Kamu, Beib.”

41-45

But in my heart submit my will to You, And leave the rest to sing in their own pew. I do not care if Torah or the Psalms Or Gospel or Qur’an bring me Your calms.

Gayatri Wedotami Muthari

Tidak jauh dari kampus Universitas Kepausan Laterano di Basilika Laterano, Roma, terdapat pula kampus kecil Universitas Kepausan Antonianum. Karena tidak jauh dari asrama saya, saya sering melewatinya kalau hendak hang-out ngopi di kafe-kafe tidak jauh dari Laterano. Ini adalah kampus kepausan yang dikelola oleh kaum Fransiskan (tarekat yang dipelopori Fransiskus dari Assisi).
Dari sanad silsilah tarekat ini kemudian ada seorang santo lain yang sangat terkenal, yang menurut saya ikon-ikon dan patung-patungnya dibuat sangat tampan, yaitu St Antonio dari Padua.

Hari ini, saya memahami salah satu ucapan waliullah Katholik tersebut sebagai suatu syafaat kepada siapapun yang beriman kepada Isa al-Masih. “Al-Masih berbuat bagai seorang ibu yang pengasih. Untuk membimbing kita agar mengikutinya. Dia memberikan dirinya sebagai contoh teladan dan berjanji kepada kita akan ganjaran dalam kerajaannya.”
Ibu yang ideal itu akan selalu menerima dan mengampuni bahkan lebih dulu merangkul serta memeluk anak-anaknya yang meninggalkannya dan mengabaikannya tetapi mau berlari atau berjalan kembali kepadanya.
Syafaat itu selalu bergantung kepada sang pemberi syafaat, bukan kepada sang penerima syafaat, meskipun dua penerima syafaat mungkin saja yang satunya lebih dulu banyak beribadah dan baru mengimaninya, dibandingkan yang lainnya. Siapa yang bisa menentukan dan memastikan kepada siapa saja gerangan syafaat Muhammad, Yesus, Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Maryam, Yahya, Musa, Daud, Sulaiman, Hasan, Husain dan seterusnya diberikan?

Dulu ada seorang ustadz habib Syiah terkenal di sebuah majlis Sunni dan Syiah-nya mengajarkan kepada kami bahwa kita semua kalau diridhoi Allah dan menerima surga, bisa memberi syafaat untuk orang-orang yang kita cintai dengan ridho dan izin Allah. Sejalan dengan spiritualitas Focolare yang percaya bahwa setiap orang bisa menjadi santo atau waliullah (bukan wali kelas apalagi wali murid dan wali kota ya). Jadi, ketika ada yang bertanya bagaimana kalau bapak saya Non-Muslim, suami saya masih Kristen, anak saya masuk Buddha, dst, bagaimana agar mereka bisa ikut ke surga dengan saya? Dijawab oleh ustadz itu, marilah kita jadi orang baik yang selalu minta ridho Allah dalam semua amal ibadah kita, sehingga nanti di alam akhir itu kita bisa memberi syafaat kepada mereka yang kita cintai dan kita bisa berkumpul dengan mereka di surga, “ngopi dan ngebakso” bareng. [Tentu jawaban semacam ini lebih memotivasi daripada jawaban ustad/ustadzah semacam Mamah Dedeh, bukan?]

1720

Ke Mana Kita Pergi Sekarang?

Yasin1.jpg

Sudah beberapa hari terakhir aku tidak bisa tertidur kendati sangat mengantuk dan badan telah dibaringkan di atas ranjang empuk, berselimut hangat dan lampu kamar telah dipadamkan. Mereka bilang, bukankah kadang-kadang engkau mendapat pencerahan justru dalam kegelapan? Ah, entahlah. Akhir-akhir ini terbenak akan suatu pertanyaan teologi, yang belum sanggup aku sampaikan di ruang bebas terbuka hijau ini (hehehe). Lalu, aku memutuskan menghubungi RMPG menceritakan masalah ini. kemarin dini hari setelah kembali dari rapat untuk persiapan acara Pantekosta di gerejaku (GKA-Reformed Baptis). Aku selalu berusaha melarikan diri dari pertanyaan itu dengan menulis isu-isu lain, terutama yang sedang kekinian.

Sekitar jam enam, sesudah keponakanku dijemput mobil sekolahnya, ibuku tiba-tiba membangunkanku. Aku sebetulnya agak malas karena masih begitu mengantuk dan kelelahan karena rapat semalam berlangsung pada malam hari sekali sampai tengah malam, dan ibuku juga biasanya tahu jadi membiarkan aku tidur pulas sampai siang atau sore kalau aku sudah berkegiatan begitu. Tapi, aku bangun juga, dan ibuku bilang dia membaca status facebook salah satu kerabat kami, tante saya, tentang wafatnya sepupuku. Aku tak percaya, sumpah, demi Rasulullah! Aku langsung menyambar telepon selulerku dan mencoba membuka akun facebooknya (bahkan malah sempat terpikir untuk menghubungi whatsapp-nya!).

Innalillahi wa inailaihi rojiun. Kupandangi buku tahlil eyang kami RA Soetarni Njoto Soemasoetargio yang selalu kuletakkan di samping bantalku. Eyang Tarni adalah bibi dari ibu sepupuku itu, yang wafat, Mbak Tya, dan adalah sepupu dari nenekku RA Soemartiyah Muthari Djojosoepadmo. Kami terhubung langsung dari garis kakek buyut yang sama, dan istrinya yang garwo ampil yang sama. Aku menangis, tentu saja. Dan, tetap, sampai saat kutulis status ini, masih belum percaya. Mbak Tya itu punya penyakit lupus yang cukup ringan, bahkan sudah remisi (tidak minum obat) beberapa tahun. Status FB-nya yang terakhir kubaca adalah bahwa dia berdoa dia ingin sehat, yaitu kira-kira minggu lalu.

RMPG menjawab pertanyaanku, tetapi aku sudah tidak sanggup membaca apapun, kecuali menelepon tanteku yang lain, yang tinggal di Jakarta, untuk pergi melayat. Rumah Mbak Tya begitu jauh dari rumahku, dan aku diberitahu kalau Mbak Tya dimakamkan di TPU Karet Bivak jam 10. Jadi, aku langsung meluncur ke sana, dan alhamdulillah karena ternyata tak macet, maka tiba jam 9, di saat tenda baru saja dipasang. Jadi, aku orang yang berada pertama kali di taman pemakaman.

Jujur, ini adalah pengalaman pertamaku melayat ke pemakaman sesama odapus, dan lebih-lebih lagi, dia masih sepupuku, yang selalu membangkitkan semangatku dan mengajakku bercanda kalau lupusku kambuh. Aku bilang pada diriku sendiri, kamu berani banget hari ini. TPU-nya pun luas sekali, bahkan mobil yang mengantarku diparkir terlalu jauh dari lubang kuburannya. Chen, kamu berani sekali mau melihat seseorang yang sama menderitanya denganmu dimakamkan, dan berusaha juga untuk tidak menangis. Mbak Tya pasti nggak mau melihatku menangis, iya kan Mbak? Melihat begitu banyak kuburan, aku lihat nisan-nisan orang lain, minta permisi kalau melangkahi, dan juga melihat di kiri kanan kuburan Mbak Tya nanti itu orang-orang asing, kecuali beberapa kuburan di dekatnya adalah kuburan ayahnya. Aku bilang pada diri sendiri, aku mungkin nggak mau di tempat penuh orang asing begini. Tetapi, aku ingat guyonanku dengan ibuku, orang mati tidak akan bisa protes akan dimakamkan di mana walaupun dia sudah wasiat begini dan begitu.

Ummi1.jpg

Iya, aku kok berani banget datang pada pagi yang antara hujan dan terik silih berganti begini. Tapi…Aku mau menabur bunga sambil bercanda dengannya. Mbak Tya kan senang bercanda. Bahkan, kemudian aku jadi cemburu karena Tuhan sudah mengabulkan doa Mbak Tya untuk jadi sehat. Iya, Mbak Tya sekarang sudah sembuh, sudah nggak merasa sakit lagi. I know that damn pain, how it hurts… Lalu, kupotret nisan sementara Mbak Tya yang terbuat dari kayu, ternyata aku baru ingat dia cuma setahun lebih tua daripada aku, aduhai… Tapi, aku nggak mau memotret jenazahnya dalam kain kafan (sambil teringat mantan pacarku berutang kain kafan jausyan kabir denganku) karena aku berpikir aku juga nggak akan mau dipotret dalam kain kafan, nggak akan mau dipotret saat masuk ke liang lahat.

Potretlah aku dalam keranda yang indah, dan cukup kenanglah wajahku yang cantik jelita! Jangan biarkan ada kenangan akan wajah burukku atau pun wajahku saat aku sudah terbujur kaku ya! Mbak Tya sangat-sangat cantik, selama hidupnya, sebagaimana yang kukenal dan kulihat, meski aku baru setahun terakhir ini kenal dengannya. Dia memakai baju berwarna-warni, rok yang manis, dan berambut panjang yang bikin aku iri setengah mati ingin punya rambut seindah itu (lagi). Aku mau kalian mengenangku dengan wajah cantikku juga jika takdirku seperti Mbak Tya, ya! No ugly picture! Eyang kami Lukito Asmoro yang jadi istri/garwo ampil/selir itu pasti yang menurunkan kecantikan kepada kami ini. Mbak Tya, aku nggak mau mengingat dirimu yang dalam keadaan jelek, atau yang seperti ini, cuma senyumanmu yang indah dan penuh kasih saja. Karena aku percaya, kita akan dibangkitkan kembali kalau sudah mati di alam ini, dan kita akan dibangkitkan dalam keadaan yang seindah hati kita, secantik jiwa kita.

Suaminya yang ganteng, yang baru menikahinya beberapa tahun terakhir setelah lama pacaran dan konon karena ia khawatir akan lupusnya, luar biasa sekali: dia menguburkan, mengazankan, dan seterusnya.

IMG_20150427_132820.jpg

Mbak Tya menjengukku di rumah sakit.

Lalu, aku jadi teringat pada film Libanon berjudul “Kemana Kita Akan Pergi Sekarang?” yang dalam akhir cerita, di mana setelah segala upaya resolusi konflik dilakukan para ibu rumah tangga di sebuah desa di Libanon agar perang bersaudara Muslim-Kristen nggak merembet ke desa mereka, akhirnya para ibu itu bertukar peran: yang Muslim jadi Kristen, dan yang Kristen jadi Muslim. Ini karena mereka sudah putus asa, dan kyai juga pastor satu-satunya di desa mereka juga putus asa, lalu pergi dari situ dengan mengizinkan para emak itu “berubah agama.” Film itu diawali dengan adegan para emak berpakaian serba hitam berok dan berhijab menepuk-nepuk dada seperti orang Arab atau Syiah yang berduka ke pemakaman; dan ditutup dengan rombongan pemakaman seorang Ibu Kristen yang anaknya terbunuh di desa sebelah dan Ibu itu “pindah agama” lalu memakai hijab, seperti semua emak Kristen lainnya yang ikut dalam rombongan. Di TPU, para bapak yang mengusung keranda pun jadi bingung: keranda ini mau dibawa ke blok Muslim atau blok Kristen, padahal TPU-nya kecil dan hanya dibelah jalan kecil antara kedua blok.

Maka, aku berpikir apakah pentingnya kelak aku dikafani atau dipakaikan baju pengantin, dikremasi atau dikuburkan dengan cara Islam, Yahudi, atau Kristen, dan kalau dikafani apakah berkain kafan seperti orang Sunni, seperti Syiah (jausyan kabir), atau kain kafan Turin ala Yesus dan atau tradisi umat samawi di Timur Tengah lainnya.

Aku bahkan cemburu melihat suami Mbak Tya begitu setia, dan begitu tulus serta begitu tangguh mengerjakan seluruh prosesi pemakaman untuk kekasih hatinya. Selalu ada pria-pria keren seperti ini untuk seorang perempuan seperti Mbak Tya!

Ketika pulang, tanteku dan aku lapar. Aku memutuskan makan McD karena aku ingin makan ikan dan tak ingin makan pedas. Aku juga ingin makan es krim. Lalu, sambil makan es krim, aku berimajinasi aku akan WA Mbak Tya, Eh…aku makan es krim, yuk makan es krim, Mbak! Haduh, di sana pasti kamu sudah bisa makan es krim rasa apapun ya Mbak, gratis dan enak, pun nggak merasakan sakit lagi seperti sekarang, aku makannya sambil lidahku merasa agak perih, dan gigiku semriwing. Jiwamu sudah merdeka dari tubuhmu. Seperti kata Haji Bektash Wali, “tubuh adalah sangkar bagi jiwa”

Mbak Tya juga wafat pada hari Jum’at dan dimakamkan pada hari Jum’at, duh indah sekali, itu’kan impian banyak Muslim. Aku apalagi, nggak mau kalau dimakamkan pada Sabat, tapi apa aku nanti bisa protes kalau dimakamkan pada Sabat karena cuma aku yang meyakini ini dalam keluargaku dan dalam masyarakatku? Hehehe. Kumembayangkan kalau dimakamkan pada Jum’at, lalu ikut perjamuan kudus di Surga pada Sabat!

Ah. Sudah, sudah. Airmataku sudah tumpah ruah. Ini karena aku sedih karena kehilangan teman curhat lupus. Padahal seharusnya aku ikut bahagia untuk Mbak Tya yang sudah kembali kepada Sahabat-nya, yang lebih tahu sejauh mana Dia sanggup berpisah dari Mbak Tya dan sanggup merasakan penderitaan Mbak Tya selama ini.

I love you, Cousin. I will miss you so much, Mbak.
Sabbath Shalom.
Seluruh rahmat Allah semoga berlimpah pada ruhmu yang cantik banget. Amin.


https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10209023311441668&set=rpd.1283854047&type=3&theater

~I curse and bless by my own name~

Gayatri damn it, 
Who had killed our cousin, today, 
Is this battle too hard, or our swords 
that were too weak, or that 
Life just being very generous to her? 
Bless those who die young, yet live forever!

Oh my Wedotami, 
Who is this angel pipping through pains, 
what is this kiss that smiles as death so sexy,
and why are those wolves cannot be friendly? 
Bless those who live eternally in every soul 
and every heart.

Our Beloved Friend had replied her prayers:
We have lupus, but lupus does not have us, 
And so I continue her path to hug life. 
An Ode to Ummi Setyaningsih
my brave, beautiful Lupus Warrior Cousin
who died yesterday, and alive, yet live forever..

 

irina6.jpg

Berfoto di McD, setelah melayat, dengan tante Irina

Berbagai Jenis Kerudung dari Berbagai Tradisi

~ dan sila ke-8 dekalog ~

I. Mengapa Kerudung Ada dalam Berbagai Tradisi?

Perempuan India

Mengenakan kerudung bukan hanya tradisi yang ada dalam tradisi keyakinan Islam. Aturan berbusana, aturan menutup aurat, anjuran mengenakan pakaian tertentu, perintah mengenakan kerudung atau penutup kepala, dan seterusnya terdapat dalam berbagai tradisi agama, keyakinan dan budaya.

Manusia memang dianugrahi kebebasan atau kemerdekaan. Akan tetapi, manusia yang hidup sebagai makhluk sosial, ketika berada dalam masyarakat, atau di ruang publik, dapat dikatakan “kehilangan kemerdekaan mutlaknya” oleh karena kemerdekaan yang juga dimiliki individu-individu lain. Termasuk dalam hal berpakaian,. Di negara-negara Barat sekali pun, orang yang bertelanjang dianggap mengganggu ketertiban umum.

Seluruh manusia dianugrahi kemerdekaan. Kemerdekaan adalah “ada” atau “eksistensi”, maka sesungguhnya batasan-batasan dari kemerdekaan adalah kemerdekaan itu sendiri. Dasasila atau Dekalog merupakan cahaya, lilin, bintang, dan atau matahari yang menyinari kita akan batasan-batasan dari kemerdekaan itu. Sebagian orang memandangnya sebagai Sepuluh Perintah Allah, sebagian yang lain memandangnya sebagai Sepuluh Komitmen Manusia,  sebagian yang lain memandangnya sebagai Sepuluh Janji Ilahi dan sebagian yang lain juga memandangnya sebagai Hukum Emas. Ia bukan eksklusif untuk Bani Israil, umat Nabi Musa, atau orang Yahudi dan Kristen hanya karena ia berada dalam Alkitab, atau diturunkan dan dibaiatkan kepada umat Musa. Orang-orang Islam mempunyai istilah al-Furqon, sang pembeda yang haqq dan yangbathil, yang bahkan bisa begitu beragam tafsirnya antara setiap mazhab dan sekte, padahal seharusnya ia sangat sederhana sekaligus universal. Dan, istilah al-Furqon ini terdapat dalam alQuran surah alBaqarah ayat 53.  Maka, jika kita mau dengan sangat seksama berjalan melintasi ruang dan waktu, pada seluruh tradisi agama, kepercayaan dan budaya, Dasasila telah terpatri ke dalam seluruh kelompok manusia dengan gradasinya masing-masing, dan bahkan telah terpatri pula ke dalam sanubari setiap individu sebagai potensi kesadaran alami untuk mengenal mana yang benar dan mana yang salah – meskipun potensi adakalanya harus dibangkitkan, dan untuk itulah terdapat utusan-utusan Ilahi, guru-guru agung, dan orang-orang bijak bistari, yang mereka diutus untuk mengingatkan kembali umat manusia.

Dalam tulisan terkenal “Surat untuk Flora” atau “Surat Ptolemius untuk Flora” terdapat ungkapan yang menarik:

Hukum Ilahi, (yang) murni dan tak tercampur oleh kerendahan kualitas (apapun), adalah sepuluh kata-kata yang diukir pada dua tablet (batu), melarang hal-hal yang tak boleh dilakukan dan menyuruh hal-hal yang harus dilakukan.

Petunjuk berbusana (menutup aurat) merupakan cara yang diajukan untuk melindungi seseorang dari melanggar “Jangan Berzina” baik kepada lelaki maupun perempuan. Tujuan dari petunjuk berbusana atau menutup aurat adalah untuk melindungi dirinya dari dirinya sendiri berbuat zina.

Perempuan Nepal

Akan tetapi, akhir-akhir ini kita makin sering melupakan hal-hal yang mendasar dan justru melupakan tujuannya. Kita menerapkan begitu banyak aturan dan begitu banyak sanksi dalam hal peraturan berbusana, baik secara formal maupun informal, seperti kewajiban berhijab, misalnya dengan perda-perda atau belakangan ini ada kesan perempuan (Muslim) yang tidak berhijab dianggap bukan perempuan baik-baik. Akan tetapi, perkosaan dan kekerasan seksual bukannya menurun. Semua perintah dalam rukun Islam dan semua perintah dan larangan lain dalam alQur’an termasuk petunjuk berbusana yang bunyinya sangat sederhana pada dasarnya bertujuan untuk melindungi dari melakukan hal-hal yang salah itu. Seperti yang pernah saya katakan, sekalipun saya sholat lima kali sehari, melakukan sedekah dan membayar zakat, serta pergi berziarah ke Mekkah, apabila saya melakukan korupsi (yang sama artinya dengan mencuri), maka perbuatan korupsi saya adalah salah, sekalipun saya korupsi untuk pengadaan naskah alQur’an atau untuk memberangkatkan haji orangtua saya. Jadi, sekalipun saya mengenakan hijab, niqab bahkan burqa, jika saya berzina, saya tetaplah salah. Begitupun jika Anda laki-laki mengenakan jubah dan berpeci, bahkan sekalipun bergelar sayyid dan bersurban hitam lalu memperkosa saya, maka Anda tetaplah salah.

Saya tidak percaya bahwa Islam adalah agama tekstil.  Saya yakin bahwa Islam bukan agama tekstil. Akan tetapi, saya percaya bahwa tekstil dapat menjadi sarana untuk meraih keridhoanNya. Sama seperti hal-hal lain — makanan, uang, pekerjaan, buku, dsb. Semua ini dapat menjadi sarana untuk mencapai keridhoanNya.

Suku Kuna, Panama

 Tetapi, jika peraturan tekstil itu kita maknai bahwa perempuan harus menutup auratnya karena untuk “menjaga diri dari gangguan birahi lawan jenis di tempatnya hidup” maka saya tidak bersetuju dengan hal ini. Ada seorang teman (laki-laki) mengatakan jika yang dimaksud adalah manfaat, maka ini benar, tetapi ini bukan tujuan dari menutup aurat. Peraturan berbusana atau peraturan menutup aurat memang memiliki banyak manfaat, akan tetapi manfaat itu adalah potensi yang manfaatnya baru terbukti ketika teraktualisasi, dan setiap orang meskipun mendapatkan potensi yang sama, belum tentu aktualisasi potensinya sama. Ini sama seperti obat untuk penyakit yang sama, belum tentu dua pasien akan mendapatkan manfaat yang sama. Yang satu bisa sembuh, yang satu bisa saja malah membutuhkan obat lain. Mengenakan jilbab atau hijab memang dapat bermanfaat untuk menghindari godaan dan atau gangguan dari para pria, tetapi tidak semua pria, tidak di semua ruang dan waktu. Melakukan solat dapat bermanfaat untuk kesehatan tubuh, tetapi belum tentu menyembuhkan semua orang yang sakit secara fisik. Tetapi, tentu tujuan solat bukanlah hal ini. Solat bertujuan untuk melindungi kita dalam menjaga tauhid kita sebagaimana yang ditekankan dalam sila pertama, kedua, dan ketiga dari Dasasila. 

Perempuan menutup auratnya (apapun batasan yang ia yakini) untuk menjaga dirinya sendiri (dari dirinya sendiri). Birahi dan nafsu sebagai laki-laki, LAKI-LAKI itu SENDIRILAH YANG HARUS MENGENDALIKANNYA. Karena, pada kenyataannya, perkosaan dan pelecehan tetap terjadi kendati pun perempuan berhijab, bahkan berhijab apa yang disebut syar’i, atau bahkan saat dia pakai niqab dan burqa. Bahkan dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya melindungi perempuan dan bahkan terbebas dari “hukum aurat” yang umum diterima (seperti dilakukan oleh ayah, paman, kakek, kakak dan adik sendiri, di dalam rumah!).

Begitu pun sebaliknya. Laki-laki juga sama, ia menutup auratnya (apapun batasan yang ia yakini) untuk menjaga dirinya sendiri (dari dirinya sendiri). Dan, perempuan sendirilah yang mengendalikan dirinya ketika melihat laki-laki.

Suku Naxi, China

Apakah pernyataan “memakai hijab untuk menjaga diri dari gangguan birahi lawan jenis di tempatnya hidup” tidak sama artinya dengan makna bahwa tugas atau kewajiban “mengendalikan, mengontrol atau menjaga” kelakuan laki-laki ada pada perempuan, padahal pada kenyataan siapa orang yang benar-benar bisa sepenuhnya mengendalikan perbuatan, pikiran dan nafsu birahi orang lain? (Perhatikan baik-baik pula penggunaan kata-kata dalam kalimat itu)
Fakta sains yang menunjukkan bahwa 2/3 otak laki-laki selalu berpikiran mengenai urusan seksual menunjukkan bahwa bagaimana mungkin kami kaum perempuan dapat mengontrol imajinasi liar kalian laki-laki dengan pakaian kami? Kami sering mengira dengan memanjangkan atau melebarkan pakaian kami, maka para pria tidak akan mengganggu, mencolek, atau melecehkan kami di tempat-tempat umum. Tetapi, itu tetap saja terjadi. Dan, lebih buruk lagi bahwa itu juga terjadi di dalam rumah di mana kami tidak lagi diwajibkan memakai apa yang lazim disebut wajib. Saya bahkan ingat saya dulu punya seorang sahabat laki-laki yang semakin tertarik dan penasaran kepada perempuan yang berhijab panjang dan bercadar.

Karena Sila ke-8 dalam Dasasila inilah, maka tradisi menutup aurat dan termasuk juga mengenakan kerudung ada dalam berbagai tradisi keyakinan, agama, dan budaya melintasi ruang dan waktu. Batasannya berbeda-beda antara berbagai sekte dan aliran dalam satu agama itu sendiri. Ada aliran Judaisme yang mewajibkan niqab, misalnya, dan ini jauh lebih-lebih beragam lagi dalam Dunia Islam.

alevi-wedding

Pengantin Perempuan Alevi-Bektashi

Jika semua orang menutup auratnya dengan tujuan untuk menjaga dirinya dari dirinya sendiri, maka hal-hal di atas tidak akan terjadi karena baik laki-laki maupun perempuan menyadari bahwa dirinya mengenakan pakaian tertentu adalah untuk melindungi dirinya dari melakukan perbuatan zina dan bahkan merampas hak orang lain dengan menzinahinya (perkosaan). Itulah sebabnya, aturan berpakaian atau menutup aurat dalam berbagai tradisi tidak hanya kepada perempuan tetapi juga pada lelaki. Kalau laki-laki umumnya memakai penutup kepala, dan kadang-kadang pula tudung; perempuan memakai kerudung dan atau penutup kepala tertentu. Pada tradisi masyarakat yang sangat sederhana atau dianggap kurang beradab, jika dibandingkan dengan masyarakat yang belum mengenal baca tulis atau lebih terbelakang dalam berbagai hal, kita bisa melihat perbedaannya ada pada pakaian laki-laki yang hanya menutup bagian kemaluannya, sedangkan pada kaum perempuannya menutup sampai ke perutnya tetapi membiarkan dadanya tetap tampak [Mungkin saja pandangan antropologis ini terkesan rasis]. Sedangkan pada tradisi masyarakat yang lebih kompleks, atau dianggap lebih beradab, kita melihat baik laki-laki maupun perempuan mengenakan pakaian yang lebih rumit, menutup dada dan kepala mereka, tak hanya bagian kemaluan mereka saja.

Kristen Ortodoks Sekte Doukhobors, Rusia.

Dalam alQuran, Allah memerintahkan untuk menjaga kemaluan baik kepada laki-laki maupun perempuan, dan kepada kaum perempuan untuk menutupi dada mereka serta untuk lelaki untuk menjaga pandangan mereka  — yang mendapat penafsiran berbeda-beda. Hal-hal ini bukan hanya ada dalam tradisi Islam saja. Perbuatan zina  adalah perbuatan tercela dalam berbagai tradisi, demikian pula dengan perkosaan — bahkan sebenarnya dalam Alkitab yaitu dalam Perjanjian Lama, kisah Dinah sudah menjadi overshadowing dan petunjuk penting beberapa hal berikut: Pertama, Dinah sebagai putri Yakub (as) pastilah mengenakan pakaian yang menutup aurat tetapi ia masih mengalami perkosaan disebabkan oleh pemerkosanya begitu tergila-gila padanya. Kedua,  “perkawinan yang dilakukan dengan pemerkosa” sama sekali tidak patut dan tidak layak dilakukan karena seperti halnya kisah Dinah yang dibebaskan oleh kakak-kakaknya sendiri yang mengatakan jika itu dilakukan maka akan membuatnya seperti seorang pelacur.

 

II. Berbagai Jenis Kerudung  dalam Berbagai Tradisi?

a. Mantilla

Mantilla adalah istilah yang biasa digunakan oleh kalangan Katholik Roma untuk kerudung mereka. Sebelum Konsili Vatikan II, perempuan-perempuan masih mengenakan mantilla gereja-gereja Katholik Roma. Saat ini hanya para perempuan tua yang masih mengenakannya. Namun, semua perempuan yang bertemu Sri Paus masih diwajibkan mengenakan kerudung/mantilla.

jackie kennedy in mantilla

Jackie Kennedy mengenakan mantilla

 

mantilla crochet-mantilla mantilla motiv Mantilla SM-903 424 Oct. 2005 mantilla1 mantillapurple

b. Ridas

Rida atau ridas adalah istilah untuk kerudung tradisional yang dikenakan para perempuan dalam sekte Dawoodi Bohra. Sekte ini merupakan salah satu sekte dalam mazhab Ismailiyah atau Syiah Tujuh dan banyak terdapat di India.

dawoodi- bohras dawoodi-bohra.3 dawoodi-bohra.wed dawoodi-bohra-muslims rida rida3

 

c. Tanduk

Suku Zhuang, China

yahudi aljazair

Perempuan Yahudi Aljazair

A1

Biarawati

suku voss norway

Suku Voss Norwegia

 

TandukEropaUtara

Perempuan dari Eropa Utara

tanduk-eropa-darek

Suku Darek, Eropa

Tanduk-Chinois

Cina

 

dua_wanita_minang_pakaian_adat

Suku Minangkabau

pakaian-wanita-minangkabau-abad-19masehi-abad-13hijrah

Suku Minangkabau

africa

Gele, penutup kepala perempuan Afrika (Nigeria)

Hijaz milayah large rectangular wrap worn to go out. It is made of two panels with decorative bands and tassels along the edge. The silk fabric was either imported from India or Indonesia

Salah satu pakaian adat Hijaz, Arab (milayah) yang berbahan sutera. Sutera diimpor dari India atau Indonesia.

Hudheyl tribe

Pakaian adat suku Hudheyl, Arab

 

d. Batoola

Batoola adalah sejenis topeng atau kain yang menutup sebagian wajah yang digunakan para perempuan Arab.

niqab of hormozgan

Perempuan Arab di Hormozgan, Iran

 

batula hormoz

Perempuan Arab di Hormoz, Iran

hormozgan2

Perempuan Arab di Hormoz, Iran

batula saudi

Batula Saudi

batula batula12

Bandar_Abbas_Falafel_Veil

e. Habeesha Kemis (Eritrea)

habsehakemis

 

 

 

 

 

 

g. Perempuan-perempuan Yahudi, Kristen Ortodoks dan Katholik

tichel 44

Tichel yang dikenakan perempuan Yahudi

 

nun2

Biarawati Katholik

nun Fig_1.17

x

Perempuan Ortodoks

 

images (1)

Suster Katholik


barh pcc clothed

orthodox familY

Lukisan tentang keluarga Ortodoks

serbian-ortodoks

Biarawati Serbia Ortodoks

old-orthodoxjilbab

Perempuan-perempuan non- biarawati Gereja Old Orthodox

yahudi aljazair

Yahudi Aljazair

yahudi colomb-bechar di alrgeria

Yahudi di Aljazair

 

Jazirah Arab

Rashaidah tribe

hijazi style.1

Gaya Hijaz

 

Hatoon al-Fassi, Jeddah, Saudi

Hatoon al-Fassi, Jeddah, Saudi

ridayah - jahdaly tribe

 

i. Lain-lain

druze1

Perempuan agama Druze (atau sekte Druze)

druzestudent1

Perempuan agama Druze (atau sekte Druze)

Gilani1

Perempuan daerah Gilani, Pakistan

ghonella

Ghonella

ghonella.2

Ghonella

eskikeshir

Turki

Faldetta_1

Faldetta

dhivehi bavana

Perempuan Srilanka

azeri baku

PerempuanAzeri (Baku, Azerbaijan)

 

minhotaa

Perempuan Portugis berkerudung dengan minhotanya

moorish bandari

Perempuan Moor

palestine smadeh  and saffeh 1929

Perempuan Palestina 1929 dengan smadeh dan saffehnya

sholat pakistani

Perempuan sholat di Pakistan

turkish1

Gaya wanita Turki

Uzbek_Woman

Nenek dari Uzbek

zuria eriteria

Zuria, dan habeesha kemis

minhota

Perempuan Portugis dan mantilla dan minhotanya

zahra aga khan21

Pernikahan Zahra Aga Khan, putri Aga Khan, pemimpin Ismailiyah

1 (3)

Gaya Asia Tengah (Uzbek, Turkmenistan, dst)

zorastrian345

Perempuan agama Zoroaster

turkish333

Gaya Turki

turkish-girl-traditional-cloth-23329212

Gaya Turki

thr

Naima Taheri, cicit Ayatullah Khomeini

 

 

 

EVA MULLINS dan MURTAD

The void is a mirror; the creation is the image in it. Man is the eye of the image reflected in the mirror; the One who is reflected in the image is hidden in the pupil of that eye; thus He sees Himself. Then: ‘He is the One who sees: He is the eye. He is the One who is seen.’ (Shabistari). Only the one who has the eyes of his heart open will understand these words.” ~ Ibn Arabi.

Pada suatu malam, pernah karena saya tidak bisa tidur, saya berusaha untuk membaca alQur’an seperti membaca novel, dari halaman ke halaman, dan mencari perbedaan yang nyata daripada Alkitab. Jika saya tidak puas dengan satu terjemahan, saya pergi memeriksanya ke terjemahan-terjemahan lain. Walaupun tidak bisa berbahasa Arab seperti sahabat-sahabat saya para kyai muda dan ustadz dan ustadzah yang lulusan pondok pesantren, saya merasa beruntung bisa berbahasa Inggris untuk memeriksa dalam berbagai terjemahan bahasa Inggris.

095

Saya tidak tahu mengapa tidak bisa tidur, mungkin karena kesakitan, atau karena terlalu banyak tidur sebelumnya. Hari-hari itu saya sedang merindukan sahabat saya seorang pastor yang berada di Mentawai dan sedang ingin curhat sesuatu dengannya. Saya teringat dia pernah berkata kepada saya bahwa dia akan mengKristenkan saya, dan saya pun membalas saya akan mengIslamkan dia.

Sebetulnya hari-hari itu saya agak terganggu oleh ucapan sahabat saya, yang setelah sekian lama menjadi seorang pencari (seeker) akhirnya memutuskan untuk mengambil posisi tidak beragama dan tidak yakin apakah Tuhan ada ataupun tidak ada – mereka mungkin menyebutnya atheis. Tetapi, dia adalah salah satu sahabat terbaik saya, yang bahkan merawat saya ketika saya berada dalam keadaan terburuk saya sebagai odapus (orang dengan lupus) di rumah sakit. Kami sama-sama kuliah pascasarjana filsafat (Islam) dan mendalami konsep-konsep keren Mulla Sadra tentang asholatul wujud (realitas adalah eksistensi bukan mahiyah atau esensi), gradasi wujud (gradasi eksistensi), sampai kepada gerak substansi, yang kesemuanya merupakan konsep-konsep untuk mendukung Tauhid, serta konon untuk memecahkan berbagai persoalan terkait kenabian, keimaman, buruk-baik, dan lain-lain. Selain itu juga belajar konsep keren pendahulu Mulla Sadra, seperti Suhrawardi dan Ibn Arabi, serta filsuf-filsuf Muslim lain dan para Sufi. Saya ingin sombong sedikit di sini (eh banyak ding). Karena kampus kami dulu punya kebijakan untuk memberi beasiswa kepada mahasiswa dengan IPK terbaik di angkatan, dan karena saya anak salah satu dosen di kampus itu (atau ini), saya selalu belajar hidup-hidup sampai mendapat IPK terbaik dan tidak keluar uang sepeserpun untuk membayar SPP. Padahal, saya tidak fasih sama sekali bahasa Arab, apalagi bahasa Persia.

Jadi, sahabat saya itu mengatakan sesuatu tentang hal-hal yang dilanggar oleh orang-orang yang malah mengkhotbahkan atau mengajarkan kepada kami atau orang-orang lain sebagai sesuatu yang sesat, dosa, salah, dan atau tidak sebaiknya dilakukan. Persis dengan cerita ini. Pada suatu ketika, sewaktu saya masih di Roma, bruder di biara asrama kami mengantar saya keliling ke kampung tempat Paus biasa berlibur musim panas dengan seorang pastor pengajar STF yang sedang mengambil S3. Saat sorenya kami makan malam dengan seorang pastor yang lain, mereka bercanda tentang para pastor pengajar studi Moral yang malah berbuat amoral. Misalnya, ada yang ketahuan berselingkuh dari kaulnya dengan pacaran dengan seorang janda. Lalu, pastor pengajar yang sedang mengambil S3 dalam studi moral itu pun diguyoni dan mengguyoni dirinya sendiri. “Semoga ini tidak terjadi pada saya.”

Beberapa tahun lalu, ketika saya mengetahui berbagai kasus kekerasan seksual dan skandal-skandal amoral yang dilakukan oleh orang-orang yang saya anggap keren, karena ilmu pengetahuan mereka dan sederet gelar mereka, belum lagi jika mereka adalah apa yang orang-orang dan mereka klaim sebagai keturunan Nabi Muhammad, serta bagaimana semuanya ditutupi, kepercayaan saya terhadap para pemuka Islam hancur lebur. Tetapi, lucunya, saya tidak mau menjadi seperti sahabat saya itu, padahal saya sendiri kemudian mengalami masa-masa yang sangat kelam sampai saya menderita sakit berkepanjangan. Lucunya, saya malah menjadi semakin yakin dengan aliran yang saya anut dan semakin jauh mendalaminya, dan mungkin saya akan menjadi semacam penyebarnya yang paling bernafsu, lalu men-santa-kan atau me-wali-kan guru-guru saya. Karena biasanya justru guru-guru itu tidak bermaksud untuk mendirikan agama maupun aliran baru, melainkan untuk melakukan rekonsiliasi atau menyerukan kembali ke ajaran pendahulunya, tetapi ini, saya malah akan melakukan perpecahan baru.

Saya teringat ketika mantan pacar saya – yang juga sahabat saya sebelumnya – menjelek-jelekkan orang Kristen, mengkritik sahabat saya yang atheis, marah-marah tentang seorang selebritis yang murtad serta menjelek-jelekkan saudara-saudara se-trah saya yang Kristen, maka saya “kehilangan” kesabaran saya. Saya bilang padanya sebagian kira-kira begini, “Kamu dulu sahabat saya, tetapi selama empat kali saya dirawat di RS sampai berminggu-minggu kamu tidak pernah menjenguk saya. Sedangkan Fulanah (sahabat saya yang atheis) itu menjaga saya bahkan di saat saya nyaris mati. Dan, orang pertama yang selalu menanyakan kesehatan saya juga selalu menjenguk saya di RS adalah si Fulan (sahabat saya yang di Mentawai itu).  Dulu sebelum pulang ke rumah ibu saya, saya punya tetangga sebelah yang Islamnya sangat taat, dan selalu menjenguk tetangga-tetangga lain yang sakit, tetapi yang menjenguk saya malah tetangga dua rumah dari saya yang Katholik.  Jadi, kamu tidak perlu menghina-hina orang Kristen dan atheis seperti itu.”

Malam itu, malam ketika saya tidak bisa tidur itu, saya telah memutuskan bahwa saya tidak ingin menganut agama hanya karena orangtua dan kakek nenek saya menganutnya. Kalau saya mau, sudah sejak dulu saya memeluk agama Kristen, menganut agama Buddha, atau menjadi orang Hindu supaya sesuai dengan nama saya. Di rumah bapak saya, sejak dulu saya punya akses terbuka dan bebas untuk membaca Alkitab, Bhagawad Gita, buku-buku Buddhisme, Konghuchu, Taoisme, Kejawen, dan lain-lain karena ayah saya adalah dosen untuk studi Filsafat dan Mysticism Timur.

Saya mau sombong lagi. Ketika di Roma, di kampus Angelicum, saya mendapat nilai yang cukup bagus untuk mata kuliah “The Mystery of the Living God” yang berbicara tentang Trinitas (ujiannya ujian lisan dan tulisan lho) – 89. Padahal dosen-nya suka sekali menyinyiri agama Islam, dan agama-agama lain juga agama Hindu padahal dia orang India, serta menyinyiri pandangan-pandangan teolog lain di luar Katholik. Agak berbeda dari guru utama kami di Daudiyah, atau teman saya yang muallaf dari Katholik, saya tidak punya masalah serius dengan Trinitas, walaupun saat saya belajar saya pusing tujuh keliling dengan berbagai istilah yang baru bagi saya. Teman Muslim saya dari Mesir pada awal-awal perkuliahan biasa melakukan pertanyaan yang mungkin menyinggung bagi pak dosen, itu pun karena pada perkuliahan pertama dan kedua dia menyinggung konsep tauhid Islam dan menyinyiri Muslim di Eropa, tidak tahu bahwa ada dua mahasiswa Muslim di kelasnya (oh iya, penyamaran saya seakan saya suster Katholik sangat baik ya?) sehingga membuat kami berdua agak kesal, dan yang lucu yang lebih kesal adalah teman-teman sekelas kami yang Katholik sampai-sampai sahabat seasrama kami berdua yang sekelas dengan kami di situ menulis surat protes ke dekanat.

Sikap saya begitu Jawa di dalam kelas ketika itu, yaitu tidak banyak menyanggah atau protes. Satu-satunya masalah saya dengan Trinitas adalah saya tidak akan menerimanya sebagai satu-satunya konsep tentang Tuhan yang absolut, yang mutlak benar. Dan, ini juga masalah saya dengan konsep tentang Tuhan dalam semua agama yang lain, termasuk Islam. Semuanya adalah konsep buatan manusia saja, meskipun yang menyampaikannya begitu cangggih semacam Suhrawardi, Ibn Arabi dan Mulla Sadra. Ya, meskipun yang membuat konsep itu adalah para Sufi idola saya, atau pun konsep Trinitas itu disampaikan dengan begitu romantis dan indah oleh pastor sahabat saya itu atau oleh teolog Protestan ganteng seperti pendeta Anabaptis Mennonite itu. Bagi saya, konsep-konsep mereka dapat membantu saya mengantar saya ke pintu kebenaran, ke pintu hakikat, ke pintu realitas, tetapi yang harus masuk ke dalamnya ya saya sendiri, saya sendiri yang harus membuktikannya, bukan untuk siapapun, tapi untuk diri saya sendiri.

Pada malam itu saya tertidur dengan kitab-kitab berantakan di ranjang saya, laptop yang tak sempat saya matikan, dan segelas kopi yang belum saya habiskan, lalu saya tiba-tiba merasa diri saya seakan-akan adalah Eva Mullins. Beliau adalah nenek dari guru saya yang sepanjang hidupnya kemungkinan kalau di Indonesia akan disebut sebagai orang Kristen dari gereja Baptis – yang darinya kami memperoleh tradisi ini (Daudiyah). Iya, seolah-olah seperti Eva Mullins, yang pekerjaan terakhirnya adalah tukang cuci di rumah-rumah di sebuah kota. Pada suatu ketika di usia 80an beliau pernah mengajak menantunya (istri dari guru kami) mengelilingi kota sambil menunjukkan setiap rumah tempat ia pernah bekerja dan memberitahu di rumah mana saja telah terjadi skandal-skandal (seks) menjijikkan 50 tahun sebelumnya.

Kepada guru kami, dia pernah berkata untuk keduakalinya, “It does not matter what church you belong to, there is an invisible tabernacle made of the Psalms and we have the privilege of being a doorkeeper in the house of God. We need not aspire to religious leadership. The highest office is to guard the shoes of those who go in to pray. The dervish is a dog at the gate, and has the right to wag his tail at those who keep God’s commandments and bare his teeth at those who do not and yet presume to enter. There is no thanks or reward for the task, but only kicks and cuffs and a rare kind word.”

Saya menggarisbawahi kalimat terpenting dari instruksi Eva Mullins tersebut. Ketika bangun saya semakin yakin alQuran menyuruh saya mengaji Alkitab. Ketika bangun saya semakin yakin Alkitab menyuruh saya menerima Muhammad dan para maksumin (para imam dan Bunda Fatimah) – tapi bukan mencari pembenaran Islam dalam Alkitab, ataupun pembenaran Kristen dalam AlQuran. Ya… Ketika bangun, saya merasa saya sudah tidak lagi menganut agama seperti yang diwariskan orangtua saya atau pun kakek nenek buyut saya, yang saya mencarinya sendiri, yang jangkauannya begitu jauh dari saya – agama seperti yang dianut guru-guru saya dari Turki, Amerika Serikat, Finlandia dan Inggris, negeri-negeri yang belum pernah saya kunjungi! You know, sepertinya saya telah murtad!  Saya telah murtad sebab saya mempunyai keyakinan berbeda dari mainstream Muslim tentang Alkitab, dari mainstream Sunni tentang para ahlulbayt, dari Muhammadiyah tentang mazhab fikih Jafari, dari mainstream Syiah tentang para maksumin, dari babagan Bektashi tentang institusi tarekat, dan dari kaum perennial tentang “the common philosophy.”

Namun, saya tidak akan pernah punya tempat dalam gereja Katholik sekali pun saya sangat menikmati misa-nya, roti hosti-nya dan mencintai pastor-pastor-nya (juga suster-susternya, eaaa….). Iya, saya menikmati misa-misa Ortodoks yang indah itu, apalagi yang berbahasa Arab, apalagi karena jemaat-jemaat perempuannya juga berkerudung, (dan sstt…pastor-pastor Arabnya biasanya ganteng bingit!). Jika harus memilih antara ikut misa dengan ikut kebaktian gereja Protestan, saya pasti akan lebih memilih ikut misa (eaa…kecuali kalau yang memberi khotbah pendeta sekeren dan seganteng yang Anabaptis Mennonite itu), kalau perlu saya menyamar jadi seperti orang Katholik supaya diberi komuni  dan biarlah saya dimarahi oleh orang-orang Katholik apalagi oleh orang-orang Islam. Tapi, apa bedanya ketika saya berada di mushola kakek saya? Ketika rumah almarhum kakek saya di Surabaya sudah laku terjual beberapa bulan lalu untuk terakhir kalinya saya pergi menginap di sana. Rumah besar itu penuh dengan kenangan. Walaupun saya bisa sholat di kamar, apalagi saya sedang tidak bisa sujud naik bangkit seperti normal, saya memutuskan sholat di mushola. Mushola itu hanya muat untuk 2-3 orang dan sejak dulu di dinding menghadap kiblat dipasang kaligrafi “Alif” karena kakek saya adalah pengikut RMP Sosrokartono. Saya sangat suka tempat beribadah seperti ini! Saya menikmatinya. Sendirian. Saya melihat debu-debu pada buku-buku koleksi kakek saya. Saya ingat beliau bukan tipe Muslim seperti kakek sebelah bapak saya yang Muhammadiyah. Beliau seorang Javanolog, sesepuh Setia Hati Teratai dan saya ingat dalam kulkas di rumahnya dulu selalu ada botol bir atau anggur.

Ah, saya selalu punya tempat di rumah saya sendiri! Saya orang Jawa (walaupun kakek sebelah bapak saya adalah peranakan Tionghoa di Madura), betapa beruntungnya. Saya tidak harus menjadi Islam seperti kamu, menjadi Kristen seperti kamu, apalagi tidak mungkin menjadi Yahudi seperti kamu, karena saya orang Jawa. Sekali lagi saya menggarisbawahi kalimat terpenting dari instruksi Eva Mullins tersebut. Sejak 2009 saya telah aktif dalam berbagai dialog antar agama, pada masa-masa yang sama dengan saya diinisiasi dalam tarekat saya; saya les Alkitab privat pada seorang romo Katholik, saya bahkan belajar di fakultas ilmu dakwah di kampus kepausan terbaik di Roma, sementara itu pemuka-pemuka Islam dan orang-orang Islam religius telah begitu sering membuat saya patah hati, terluka dan hancur berkeping-keping (lebay sih, tapi biarin deh). Tetapi, walaupun begitu, sejak dari itu sampai hari ini, saya malah semakin yakin mengikuti agama-nya Eva Mullins: saya masih mencintai alQur’an, masih percaya kepada Imam Mahdi dan saya tidak malu punya Rasul bernama Muhammad yang setelah 25 tahun bermonogami ia berpoligami dengan banyak perempuan. Saya justru malu kalau kamu yang melakukannya, ya kamu yang bilang kamu mengikuti sunnahnya ditambah lagi kalau kamu mengaku sebagai zuriatnya.

Jadi, jangan cemburu dong kalau saya lebih suka datang ke gereja (Baptis) yang mengadakan diskusi tentang ekologi dan HAM, daripada datang ke mesjid-mu yang selalu menyalahkan umat agama lain dan mengajak perang atas nama agama. Mungkin kamu ustad ganteng keturunan Arab, Persia apalagi keturunan Nabi, dan kamu juga biasa mengkhotbahkan keindahan Islam memuja perempuan, tetapi kalau kelakuanmu ternyata merendahkan perempuan, terus salahnya saya di mana coba kalau saya naksir romo Katholik dan pendeta Protestan yang nggak pernah sekali pun bicara mesum dengan saya? Biarpun Omer dalam sinetron Cinta Elif itu menjadi pendeta Kristen dan mengajak saya nikah di gereja, lalu saya terima dengan segenap hati dan saya akan melayaninya dengan setia sebagai seorang istri, tetapi saya tidak akan ikut agama-nya – inikan pula diajak ikut agama kamu. Please dech.

Pada cermin, saat bercermin sendirian, saya tidak melihat siapa pun selain diri saya sendiri.  Tidak manusia lain, tidak jin, atau tidak pula hantu. Ya, diri saya sendiri. Eyvallah!

Desember, 2015

Kutipan-kutipan Terkenal Haji Bektash Wali (II)

pippi longstocking dervishSome of the famous quotes of Haji Bektash Veli.

  • Seek and find.
  • Carilah dan temukanlah. 
  • To search / investigate is an open exam.
  • Untuk mencari tahu/menyelidiki/mengkaji merupakan ujian terbuka
  • A path without knowledge will end in darkness.
  • Jalan apa pun yang tidak mengikuti sains, akan berakhir dalam kegelapan.
  • Be in control of your hands (actions), tongue (speech), and loins (desires).
  • Jagalah (Peliharalah) kedua tanganmu (perbuatanmu), lidahmu (perkataanmu) dan perut/pinggangmu (hasrat-hasratmu)
  • Whatever you do, do it for the Truth.
  • Apapun yang kaulakukan, lakukanlah demi Kebenaran.
  • There exists in you a “there is” to replace every “there isn’t.”
  • Ada pada dirimu “ada” untuk menggantikan setiap “tidak ada”
  • He who walks the Path never tires.
  • Dia yang melangkah di Jalan tak pernah kelelahan.
  • There is no rank or station higher than the Friend’s heart.
  • Tiada kedudukan maupun keadaan lebih tinggi daripada hati Sang Sahabat
  • The one who is wise but doesn’t share his wisdom is ignorant.
  • Seseorang yang bijaksana tetapi tidak berbagi kebijaksanaannya adalah (orang yang) jahil.
  • To the ignorant, abandoning what is no longer needed is death; to the wise it is birth.
  • Bagi orang yang jahil, mengabaikan yang tak lagi dibutuhkan merupakan kematian; sedangkan bagi yang bijaksana ia merupakan kelahiran.
  • There is no repentance of repentance.
  • Tiada penyesalan bagi penyesalan 
  • Let your heart, your hand, and your table be open to others.
  • Biarkanlah hatimu, tanganmu, dan mejamu terbuka bagi sesama. 
  • Look for the key to all within your deepest being.
  • Temukanlah kunci bagi seluruh yang terdapat dalam keberadaamu yang terdalam
  • Whatever you seek, look within.
  • Apapun yang engkau cari, carilah di dalam (batin).
  • Do not forget your enemy is also a human being
  • Janganlah lupa bahwa musuhmu juga manusia.
  • The beauty of human beings is the beauty of their words.
  • Keindahan manusia adalah pada keindahan kata-kata mereka.
  • If the Path appears dark, know that the veil is in your own eyes.
  • Jikalau Jalan tampak gelap, ketahuilah bahwa hijabnya adalah kedua matamu sendiri. 
  • All blessings upon the one who overlooks another’s shortcomings.
  • Segala rahmat bagi dia yang tidak memandang kelemahan orang lain. 
  • All blessings upon the one who makes a secret of secrets.
  • Segala rahmat bagi dia yang telah menciptakan suatu rahasia bagi rahasia-rahasia.
  • The Word (Quran) is Truth.
  • Firman (alQur’an) adalah Kebenaran.
  • Do not hurt others, even if you are hurt.
  • Janganlah menyakiti siapapun, kendati engkau sendiri disakiti.
  • Hand-in-hand, hand in Truth.
  • Saling menolong, saling menolong dalam Kebenaran. 
  • One hour of meditation is better than seventy years of piety.
  • Satu jam perenungan jauh lebih baik daripada tujuhpuluh tahun kesalehan. 

red-dervish

  • The greatest book to read is the human being.
  • Kitab teragung untuk dibaca adalah manusia.
  • Be connected to your religion with your heart, not with your knees.
  • Berhubunganlah dengan agamamu dengan hatimu, bukan dengan dengkulmu. 
  • Educate your women, a nation that doesn’t educate its women cannot progress.
  • Berikanlah pendidikan kepada kaum perempuanmu, sebuah bangsa yang tidak memberikan pendidikan kepada kaum perempuannya tidak akan maju.

“Woman is a delicate creature with strong emotions who has been created by the Almighty God to shoulder responsibility for educating society and moving toward perfection. God created woman as symbol of His own beauty and to give solace to her partner and her family.” – Ali ibn Abu Talib (kw)

“Perempuan adalah makhluk yang lembut dengan perasaan yang kuat yang telah diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk ikut bertanggungjawab untuk mendidik masyarakat dan bergerak menuju kesempurnaan. Tuhan menciptakan perempuan sebagai simbol keindahanNya sendiri dan untuk memberikan ketenteraman bagi pasangan dan keluarganya.” – Ali ibn Abu Thalib (kw.)

  • Prophets and saints are a gift from God to mankind.
  • Para nabi dan para waliullah adalah anugrah dari Allah kepada umat manusia.
  • Our Path is based on the akhlaq of Muhammad and the adab of Ali.
  • Jalan kita adalah berdasarkan akhlak Muhammad dan adab Ali. 
  • The basis of Islam is akhlaq, the basis of akhlaq is knowledge, the basis of knowledge is intellect.
  • Basis dari Islam adalah akhlak, basis dari akhlak adalah pengetahuan, dan basis dari pengetahuan adalah akal.
  • Whatever the language, religion or color of one might be, a good human being is a good human being.
  • Apapun bahasanya, agamanya, atau warna kulit seseorang itu, seorang manusia yang baik adalah manusia yang baik.
  • A man who wastes his time while his heart is full of love for God, is better than a man who reads the Qur’an day and night while his heart is filled with the desire of this world.
  • Seseorang yang membuang waktunya sedangkan hatinya dipenuhi kecintaan kepada Allah, itu jauh lebih baik daripada yang membaca alQuran setiap siang dan malam tetapi hatinya dipenuhi keinginan akan dunia ini.
  • For those who have Awareness, a hint is quite enough. For the multitudes of heedless, mere knowledge is useless.
  • Bagi mereka yang memiliki Kesadaran, suatu petunjuk saja sudah cukup. Bagi mereka yang penuh dengan ketidakpedulian, pengetahuan saja tidaklah berguna. 
  • The Quran is a letter from the Loving One to the beloved.
  • Al-Qur’an merupakan sepucuk surat dari Yang Tercinta kepada sang kekasih. 
  • O dervish, know that the Quran is the Word of God, and a book that is revealed to the Prophet to appoint him as a messenger to mankind.
  • Oh darwis, ketahuilah bahwa alQur’an adalah Firman Tuhan, dan sebuah kitab yang diwahyukan kepada Rasulullah untuk menunjuknya sebagai pembawa risalah bagi umat manusia.
  • A dervish should spend all his time with Allah, all his breath should be spent telling about Allah.
  • Seorang darwis haruslah menghabiskan seluruh waktunya dengan Allah, seluruh nafasnya harus dihabiskan untuk menyebutkan tentang Allah. 
  • Doing good in return for evil is essence of being human.
  • Melakukan kebaikan sebagai balasan bagi kejahatan merupakan esensi sebagai manusia. 

2 pic

  • Never desire fame, fame is disaster.
  • Jangan pernah berhasrat menjadi terkenal, kemasyhuran adalah bencana. 
  • He who cannot clean himself cannot clean others.
  • Dia yang tidak dapat membersihkan dirinya sendiri tidak dapat membersihkan orang lain.
  • First door of those with knowledge is decency.
  • Pintu pertama bagi mereka dengan pengetahuan adalah budi pekerti.
  • Haqq (Allah) is more visible than the sun.
  • Haqq (Allah) lebih jelas terlihat daripada matahari 
  • Honesty is the door of a friend.
  • Kejujuran adalah pintu bagi seorang sahabat.
  • Being a teacher is to give, not to take.
  • Menjadi seorang guru adalah untuk memberi, bukan untuk mengambil.
  • The universe is for man, and man for the universe.
  • Alam semesta adalah untuk manusia, dan manusia adalah untuk alam semesta.
  • Science illuminates the paths of truth.
  • Sains menerangi jalan-jalan kebenaran.
  • We travel in the way of science/knowledge, comprehension and human love.
  • Kita mengembara di jalan sains, pemahaman dan cinta kasih sesama.
  • Let’s be one, be big and energetic.
  • Marilah menjadi satu,menjadi besar, menjadi energik!
  • In the language of friendly conversation, you can’t discriminate between man and woman.
  • Dalam bahasa percakapan yang hangat bersahabat, engkau tidak boleh mendiskriminasi antara lelaki dan perempuan.
  • Everything God has created is in order.
  • Segala sesuatunya telah Allah ciptakan dalam keteraturan. 
  • There is no need to discriminate between religions. Religions cause disputes among people. In fact, all religions aim to provide peace and brotherhood on earth.
  • Tidaklah perlu mendiskriminasi antara agama-agama. Agama-agama menyebabkan perpecahan di antara manusia. Padahal, seluruh agama bertujuan untuk menyediakan kedamaian dan persaudaraan di muka bumi.

daun cinta

Terjemahan bebas Gayatri WM dari

https://en.wikipedia.org/wiki/Haji_Bektash_Veli

Lihat juga

“Kutipan-kutipan Terkenal Haji Bektash Wali (I)”

Berbagi Suami

Status-status saya di facebook mengenai poligami

1234
I.

BERBAGI SUAMI. Saya tertarik menulis ini karena membaca status sahabat saya yang gendeng bin edan Muhammad Amin tentang para petinggi suatu partai Islam yang kata si Amin pada waktu muda culun dan beristri dengan wajah standar, lalu begitu jadi kaya dan pejabat mereka kawin lagi dengan perempuan-perempuan yang lebih muda dan lebih cantik. Ah, pokoknya, baca saja deh statusnya si Amin.
Ada teman saya perempuan yang beragama Katholik dulu kaget dan bingung mengetahui bahwa saya tidak anti-poligami. Dia masih terus protes walau sudah saya jelaskan panjang lebar. Kemudian, teman saya perempuan seorang Protestan membela saya dan mengatakan bahwa menerima saya sama artinya dengan menerima keberagaman dan merayakan keberagaman itu sendiri.
Bagi saya yang terpenting itu bukan poligami atau monogami, menikah atau bercerai atau selibat, tetapi yang pertama adalah keadilan dan kebahagiaan, dan kedua adalah sikap saya sebagai seorang Dekalog yaitu tidak berzina.
Saya membela beberapa bentuk poligami seperti yang dilakukan oleh para darwis perempuan yang memilihkan istri untuk suaminya atau menyuruh (kata yang digunakan “menyuruh” pula hehehe) suami mereka mencari istri lagi sebagai bentuk kesadaran sepenuhnya mereka sendiri dan suatu jalan spiritual pilihannya yang mungkin tidak mudah dipahami oleh orang lainnya. Atau, bentuk poligami seperti dua orang sahabat yang mencintai satu pria dan pria itu pun mencintai keduanya karena agaknya mereka justru bahagia kalau hidup bersama-sama. Jadi saya harus bersikap “fair”, kalau memang ada orang yang bahagia dalam perkawinan poligami (semuanya dalam perkawinan itu, bukan hanya si suami atau si istri kedua) mengapa saya harus menentang dan melawan mereka? Akan tetapi bentuk-bentuk poligami yang seperti ini agaknya hanya 1% saja dari 100% yang ada.
Biasanya para suami seperti yang diceritakan Si Amin mengalami puber lagi di usia ketika mapan sehingga merasa bangga jika bisa mendapatkan perempuan yang lebih muda atau lebih cantik, atau membiarkan dirinya direbut oleh perempuan lain, dan lain sebagainya, yang pada intinya melakukannya di belakang istrinya atau tanpa sepengetahuan istrinya, kemudian menghamili perempuan itu supaya bisa kawin lagi, atau kawin lagi diam-diam, atau hal-hal lain yang membuat sang istri terkejut, sakit hati, menderita, dst dst.
Perkawinan itu adalah antara keduabelah pihak, jadi bukan soal setuju atau tidak setuju, tapi katanya kan dalam perkawinan itu harus bisa saling membahagiakan satu sama lain, jadi kalau model poligaminya sudah berselingkuh, menyakiti dan tidak melibatkan pihak yang lain (istri pertama) sejak awal, itu sudah bentuk ketidakadilan sejak awal.
Haji Bektash Wali bilang kejujuran adalah pintu bagi persahabatan, sedangkan perkawinan itu konon kata para pakar bukan hanya soal cinta atau romantisme, tapi juga persahabatan.

Denny's

II.
Bung Denny Siregar,
Semakin alim seorang pria itu maka ia akan semakin jauh memikirkan dari memiliki istri kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.
Terutama sekali untuk zaman sekarang.
Walaupun saya bukan anti-poligami, saya juga bukan pro-poligami.
Hidup pada zaman sekarang itu jangankan untuk menafkahi dua istri, menafkahi satu istri saja para pria sudah kehabisan banyak sekali waktu sehingga sering tidak sempat memperhatikan satu istrinya dengan anak(-anaknya).
Belum lagi waktu kemudian akan habis untuk beristirahat, bersosial/bergaul di media sosial, dll selain beribadah ritual.
Kenapa sih umat Islam ini yang para prianya sepertinya hanya sibuk memikirkan bagaimana bisa mendapatkan istri kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya? Kalau skenarionya persis seperti kisah Nabi Muhammad sih dapat dimengerti, yaitu mengawini istri-istri yang benar-benar janda, miskin, dan lebih tua bahkan sudah menopause.
Semakin alim seorang pria maka dia akan fokus membina kehidupannya bersama istri pertama dan anak-anaknya.
Dalam hikmah perkawinan poligami para nabi, Sarah yang meminta Ibrahim menikahi Hajar, Yakub tertipu mengira akan menikah dengan Rachel lalu baik Leah maupun Rachel-lah yang memberikan pelayan mereka kepada Yakub, baik Daud maupun Sulaiman adalah raja-raja yang melakukan perkawinan politik demi kekaisaran, dan Muhammad baru berpoligami setelah Khadijah partner selevel dengannya meninggal dunia.
Kecuali pria-pria Muslim yang menggebu-gebu mau menikah lagi itu menganggap istri pertamanya tidak selevel dengannya, maka pantas jika istri pertamanya menolak dipoligami. Sedangkan dalam kasus Ibrahim dan Yakub justru para istrinya yang menyodorkan istri lain untuk suaminya.
Selain itu hanya kaum bangsawan yang melakukan poligami karena itu tuntutan pewarisan tahta dan aturan zaman dulu yang misalnya kalau istri pertama atau kedua bukan putri bangsawan maka dia tidak akan dapat posisi dalam istana atau negara, jadi disebut garwo ampil.
Apakah zaman sekarang semua pria Muslim mendadak jadi pria bangsawan semua yang bakalan punya peluang untuk mendapatkan tahta kerajaan seperti dalam cerita Abad Kejayaan atau Jodha Akbar ya, karena itu bernafsu sekali dengan poligami?

3 gadis cantik

III.

(Jawaban untuk https://www.facebook.com/denny.siregar.50/posts/10154035368784256)

Dear Bung Denny Siregar,
Ketika saya menulis status yang lebih kurang bernada, “Semakin alim seorang pria, maka dia akan semakin jauh memikirkan untuk berpoligami,” maka tentu saja saya melakukannya atas reaksi (bukan respon) atas status yang Anda tulis. Pada umumnya pria seperti Anda (muballigh-fesbukiyah) akan memberikan hujah atau argumentasi sebagaimana yang Anda tandai baru-baru ini. Padahal, alangkah lebih pantas jika Anda sebagai seorang muballigh-fesbukiyah lebih banyak menasehati sesama pria tentang keutamaan mereka sebagai seorang kepala rumah tangga, hamba Allah, dan seorang manusia.Saya menggarisbawahi kata “semakin jauh memikirkan” dan saya tidak menulis “tidak melakukan” karena keduanya adalah hal yang berbeda.

Untuk hal ini, saya pikir saya tidak perlu mengutip-ngutip sabda Imam Ali yang indah. Saya bisa saja mengutip sabda Imam Musa Kazim tentang keutamaan mengurus keluarga setara dengan berkali-kali naik haji. Atau, saya bisa saja memberi link tentang kisah dan humor Sufi-Bektashi yang telah saya adaptasi sedemikian rupa dalam salah satu blog saya.(https://gayatriwedotami.wordpress.com/2015/07/07/kashkul-and-the-ben-i/)

Berbeda dengan pada umumnya pria yang menulis dengan sedapat mungkin memisahkan antara domain privat dengan domain publik, lazimnya perempuan menulis apa yang terjadi dalam ranah domestik dan dalam beberapa aliran feminisme hal ini karena ranah domestik sebenarnya sangat berpengaruh bagi ranah publik. Saya ingin mengambil contoh jika seorang pejabat memiliki tiga istri dengan sembilan orang anak, kita sebagai rakyat tentu harus tahu apakah pejabat itu menggunakan uang negara dengan jujur dan bersih, sama seperti rekannya sesama pejabat yang selevel dan bergaji sama tapi hanya memiliki seorang istri dengan tiga orang anak. Jadi, masalah poligami bisa sangat berpengaruh kepada urusan negara dan kepentingan rakyat.
Seperti yang sudah saya tulis, saya menggarisbawahi kata “semakin jauh memikirkan” dan saya tidak menulis “tidak melakukan” karena keduanya adalah hal yang berbeda. Hal ini karena banyak contoh kasus poligami yang baik adalah justru ketika para pria merasa khawatir untuk melakukannya, tetapi oleh karena berbagai sebab dia akhirnya harus melakukannya.

Poligami bukan hanya dipraktekkan orang Islam saja, misalnya orang Cina juga melakukannya, tetapi yang menyedihkan adalah bagaimana ia sekarang dikampanyekan sebagai bentuk perkawinan yang membawa para pelakunya ke Surga. Hal ini antara lain dengan mendoktrin kaum perempuan untuk bisa bersikap ikhlas, rela, pasrah, dsb sedangkan para pria tidak pernah didoktrin tentang berbagai efek buruk poligami.
Saya ingin mengatakan, karena saya tidak akan menutupi ranah privat saya dalam konteks ini. Saya tidak anti poligami, sebab saya pernah mengizinkan suami pertama saya menikah lagi. Sekarang, setelah bercerai, dan saya sudah punya pacar lagi, prinsip saya belum berubah, bahwa saya sudah memberikan lampu hijau mengizinkan dia berpoligami. Akan tetapi, saya tidak merasa diri saya alim sedikit pun, dan ini bukan soal rela atau tidak rela, bagi saya. Maqam kesiapan manusia dalam ketidakmelekatan itu sangatlah berbeda-beda. Saya pernah mengalami masa ketika saya begitu takut kehilangan suami pertama saya itu karena kematian atau kecelakaan (pesawat). Saya pernah mengalami banyak pelecehan seksual, “perkosaan”, melahirkan normal, keguguran, penderitaan sakit karena haid sejak masa remaja, dan kemudian sekarang saya hidup dengan lupus (odapus – orang dengan lupus), yaitu suatu jenis penyakit yang 9 dari 10 penderitanya adalah perempuan. (Saya sudah sering menulis tentang penderitaan para odapus).

Maka, jika Anda berbicara tentang kehilangan dan penderitaan, belajarlah dari perempuan. Pada umumnya lelaki hanya mampu menelan dan menyimpan rasa sakitnya sendiri, lalu merasa kuat dan gagah, tetapi jiwa mereka hancur sehingga berakibat menghancurkan orang-orang di sekeliling mereka. Sedangkan para perempuan ketika menghadapi penderitaan, sebenarnya mereka lebih kuat daripada laki-laki. Jadi, sungguh keliru mengajarkan perempuan untuk menjadi ikhlas atau rela atau pasrah dengan penderitaan. Dalam banyak kasus bunuh diri, lelaki lebih cenderung berpotensi melakukannya, dan mereka pun melakukannya dengan cara-cara yang paling mengerikan seperti lompat dari gedung, menikam tubuh, dll, sedangkan perempuan biasanya minum racun.

Saya sering melukiskan penderitaan saya sebagai odapus sebagai “Auschwitz” yang saya bawa dalam diri saya dan saya ada di dalamnya. Ini saya ambil dari konsep psikologi Viktor Frankl dari bukunya “Man’s Search for Meaning.” Dalam Kristen, analoginya adalah setiap orang memikul salib mereka sendiri-sendiri. Jika mau memakai term Syiah, karena Anda orang Syiah, maka setiap orang menghadapi Karbala-nya masing-masing dalam dirinya – pergumulan-pergumulannya.

Perkawinan adalah hubungan antara dua individu dan bahkan dua pihak (dua keluarga). Jika pria melakukan poligami, yang berarti menambah individu lain dalam perkawinan itu, maka yang ideal itu adalah seluruh individu yang berhubungan harus bisa menjalin hubungan yang baik. Kalau Anda menyaksikan sinetron Abad Kejayaan atau Jodha Akbar, Anda bisa melihat betapa rumitnya jika perkawinan berisi individu-individu yang saling berhasad dengki, dendam, dan saling menyakiti. Sekarang, Anda, para pria, di zaman kebebasan memilih dan berpendapat ini, apakah sudi menikah dengan perempuan yang tidak Anda cintai? Saya kira tentu saja tidak. Anda menginginkan suatu “chemistry” dengan istri Anda itu, tidak hanya sekedar seks karena itu bisa kalian dapatkan dengan para pekerja seks komersial. Begitu juga ketika Anda membawa seorang perempuan “asing” dalam kehidupan perkawinan Anda. Sepasang sahabat perempuan saja bisa saling bermusuhan jika salah satu sahabatnya merebut pacarnya, atau tunangannya, apalagi suaminya. Ini karena belum tentu dua perempuan itu walaupun sama-sama Anda cintai memiliki “koneksi” yang sama dalam satu hal, walaupun mereka bersahabat. Rasa cemburu, iri hati, dll itu masih ada, bahkan terutama dengan saudara kandung kita sendiri juga demikian.

Kalaupun saya berbaik hati menyetujui suami saya nanti menikah lagi, belum tentu madu saya kelak tidak akan menyingkirkan saya sebab siapa yang dapat mengendalikan perbuatan orang lain? Jika suatu saat Anda mati, istri pertama Anda dan istri kedua Anda akan tetap ada hubungan jika di antara mereka terlahir anak-anak. Oleh sebab itu, selama Anda hidup, bagaimana Anda bisa membina sebuah keluarga sebagaimana yang disabdakan Imam Musa Kazim, sedangkan Anda sebagai kepala keluarga justru yang menanam benih kerusakan itu sendiri ketika Anda yang awalnya tidak pernah berkomitmen apapun dengan istri pertama Anda tentang poligami, lalu berpoligami; atau ketika Anda diam-diam menikah lagi di belakang (bukan masalah benar atau salah); atau Anda menikah lagi dengan seorang perempuan yang sama sekali tidak akan cocok bersahabat dengan istri pertama Anda meskipun dia telah siap berpoligami? Itulah sebabnya dalam Empat Kitab Suci terdapat banyak sekali riwayat tentang poligami, maupun monogami, dan mengapa ia harus diceritakan, bukan masalah detail historisnya, tetapi hikmahnya apa bagi kita masa kini.

Kembali ke status saya di atas, dimana saya menggarisbawahi kata “semakin jauh memikirkan” dan saya tidak menulis “tidak melakukan” karena keduanya adalah hal yang berbeda, maka itu tidak ada bedanya dengan status yang Anda tandai saya itu sebagai konsep tauhid dan ketidakmelekatan juga. Kecuali Anda terlalu mencintai istri Anda sampai Anda lupa kepada Tuhan, maka apa salahnya dengan memandang dia sebagai “tajalli”Nya yang sangat agung, yang telah melahirkan anak-anak Anda dengan segala penderitaannya, dan menjadi tugas Anda untuk menjaga serta memperlakukannya sebaik-baiknya sementara Anda tahu bahwa jangankan memperhatikan dua perempuan, memperhatikan satu perempuan saja Anda harus berani menghabiskan seluruh perhatian dan hati Anda untuknya ketika dia berduka, kesakitan dan bersedih. Bukankah ini konsep tauhid? Tentu saya berulangkali menulis kata “Anda” bukan bermaksud ad hominem, tetapi untuk semua pria lain yang membaca ini. Jika seorang pria mampu bermonogami, memelihara dirinya dari menanam sperma ke rahim para perempuan selain istrinya, walaupun matanya masih tetap melihat yang seksi, hatinya masih berdesir dengan perempuan lain yang cantik, dan masih memiliki imajinasi-imajinasi tentang 72 bidadari seelok para Miss Universe, bukankah itu juga latihan ketidakmelekatan, latihan tauhid?

Jangan lupa, ketika seorang perempuan mengandung, dia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Apakah dia akan selamat sesudah mengejan mengeluarkan bayinya? Apakah dia tahu dia akan begitu kelelahan dan atau mengidam yang aneh-aneh? Tetapi, betapa anehnya, kebanyakan perempuan meskipun hamil adalah sangat berat dan melahirkan adalah proses yang sangat menyakitkan, mereka masih saja ingin tetap punya anak, hamil dan melahirkan lagi. Bahkan, bagi para perempuan odapus seperti saya. Nah, renungkanlah hal ini, Bung.

Baju lebaran3

IV.
Jilid ketiga ini saya tulis sebagai pembukaan untuk jilid keempat, karena mungkin saya yang menulis ini dianggap bersikap emosional anti-poligami, feminis ala Barat, dan bla-bla lainnya.

#CeritaPertama
Beberapa tahun lalu sewaktu saya masih menjadi seorang istri, saya mempersilakan suami saya untuk menikah lagi karena saya ingin memenuhi undangan tak terduga kepada saya untuk studi di luar negeri. Mantan suami saya ini mengenal saya bertahun-tahun lalu di HMI, dimana umumnya kami kaum perempuannya cenderung menjadi feminis dan anti-poligami. Dia tidak mau melakukannya, bahkan ketika saya kembali ke Indonesia, saya lagi-lagi menawarkan padanya untuk berpoligami ketika kondisi perkawinan kami sedang berada di ujung tanduk. Dia lagi-lagi menolak.
Dan, puji Tuhan bahwa kami bercerai bukan karena poligami.

#CeritaKedua
Beberapa hari lalu, ketika saya dan seorang pria membuat komitmen untuk berhubungan, karena kami sudah agak lama bersahabat jadi saya sudah cukup kenal dia yang biasa punya banyak pacar sekaligus, maka saya katakan padanya bahwa saya tidak keberatan jika dia punya pacar lagi. Dia tahu bahwa saya pribadi tidak keberatan dipoligami. [Anggaplah karena saya orang yang anti-maintream, bukan karena saya hijaber alim, salehah, ikhlas, bla-bla…]. Beberapa hari kemudian, ketika kami sedang membahas cerita-cerita tentang nenek moyangnya, tiba-tiba dia melihat saya dan mengkhawatirkan saya. “Apa benar kamu nggak apa-apa kalau aku punya pacar lagi?” Bukannya menanggapi dengan serius, saya malah tertawa kecil menggodanya. “Wah, jangan-jangan kamu sudah punya pacar ya?”

#Bangsawan_Noblemen (Nobility)

Kalau ada orang yang mengkritik eyang putri RA Kartini karena mau dipoligami, padahal dia pahlawan emansipasi bla bla bla… saya mungkin akan menjadi salah satu orang yang paling keras membela beliau.
Kalian tak tahu apa rasanya menjadi Mehidevran, Hurrem, Gulfem, Jodha, Rukayyah, Salima, Nurbanu, bahkan apa rasanya menjadi Mumtaz Mahal yang dibuatkan Taj Mahal yang indah, tak tahu apa rasanya hidup sebagai para perempuan di harem dan putri-putri yang dilahirkan di harem yang dipersiapkan sebagai garwo-garwo padmi itu… Bahkan, sekalipun hidupnya telah dikondisikan dan dilatih dalam harem, dimana seorang putri dilahirkan di dalamnya, tidaklah semua putri sanggup menerima nasibnya untuk kelak dipoligami seperti tidaklah semua pangeran sanggup berpoligami ((Karena itu kami putri-putri Jawa berterimakasih pada RA Kartini karena isu poligami ini.))

Saya punya ungkapan yang perlu dipahami secara tidak letterlijk, meskipun ia berasal dari perenungan saya terhadap kisah kakek-kakek buyut saya yang berpoligami di balik tembok istana:
“Poligami itu bukan untuk rakyat jelata, tapi untuk kaum bangsawan.”
Jadi, tak perlulah mengkampanyekan atau memasyarakatkannya, karena tak semua orang dilahirkan sebagai ningrat, dan tak semua orang juga ditakdirkan sebagai bangsawan sekalipun ia terlahir sebagai bangsawan


big love

V.

BERBAGI SUAMI (jilid IV)
Ada sebuah fenomena baru tentang poligami yang sedikit mengagetkan buat saya ketika mendengarnya. Tetapi, sebelum saya ceritakan fenomena ini, saya ingin menulis beberapa fenomena lain sebagai pengantarnya.
 
(1) MAN-MOBILE-MONEY. Dalam buku Baby Jim Aditya “Dari Pampis Cakalang sampai Cabe-cabean” yang mengupas banyak hal mengenai masalah seksualitas dalam masyarakat ada salah satu fenomena yang dikupasnya yang sangat menjijikkan dan mengerikan buat saya. Jauh sebelum facebook ada, jauh sebelum telepon seluler ada, para pria yang memang berbakat untuk poligamus sudah melakukan berbagai cara lihai untuk mengelabui istri mereka tentang perselingkuhan maupun perkawinan kedua mereka. Jadi, please, jangan salahkan Mark Zuckerberg yang menciptakan facebook, jangan salahkan telepon seluler berSIM 3, sebab semua itu cuma alat dan teknologi baru yang kalau pun tak ada di zaman kita, para pria ini tetap saja punya cara untuk berselingkuh dan atau kawin lagi. Pernah dengar cerita ketika seorang pria mati tiba-tiba istri keduanya muncul dengan membawa anak/anak-anaknya? Itu cerita yang tidak aneh bukan? Menurut Baby Jim, pria-pria ini semakin “mobile” dan semakin punya duit, maka pasti mereka pasti akan menggunakan segala cara dan kesempatan untuk melakukan aksinya, lalu ditutupi sebaik-baiknya supaya tidak ketahuan istrinya seperti contoh-contoh yang ditulisnya dalam buku tersebut. Taktik-taktik dan tipuan-tipuan mereka.
 
(2) APAKAH HARUS MENIKAH? Baru-baru ini saya menulis komentar di status KH Husein Muhammad, kira-kira intinya sebenarnya adalah apakah memang seorang Muslim harus menikah? Saya menulisnya sebagai komentar untuk buku tentang beberapa Muslim terkenal yang memilih menjomlo. Ya, apakah salah memilih membujang/melajang? Apakah salah bila seorang janda memilih tidak menikah lagi? Kalau masih menjaga kesucian diri dari berzina saya kira tidak. Tetapi, apa nyana masyarakat kita masih suka kepo dengan pertanyaan “Kapan nikah?” Sehingga tak jarang perkawinan hanyalah untuk status dan pernyataan, “Woi, saya sudah laku!” Stigma buruk lebih-lebih lagi kepada perempuan yang menjadi perawan sampai tua atau janda yang masih muda, cantik pula (seperti saya😛 ) tapi tak mau menikah lagi, dibilang tidak laku, dibilang kasihan, dan lain-lain yang membuatnya akhirnya risih atau stress, dll, sehingga bertambah stress karena demi tuntutan itu akhirnya mencari pasangan juga. Menurut saya, memang ada orang-orang yang tidak cocok menikah dan hidup berumahtangga, ada yang tidak akan pernah bisa menjadi istri atau suami yang baik. Tuntutan masyarakat yang seperti inilah yang menimbulkan fenomena perempuan-perempuan yang akhirnya mau menjadi istri kedua, ketiga, keempat dst tanpa mempertimbangkan perasaan perempuan lain – sama seperti ketika Hurrem berusaha merebut hati Sulaiman demi sebuah status dalam harem tanpa mempertimbangkan perasaan Mehidevran.
 
(3) Darimana datangnya istilah suami-suami takut istri?
 
Saya punya beberapa cerita yang mungkin lucu. Saya pernah berkencan dengan seorang pria yang ternyata sudah punya tunangan, yang saya tidak tahu sampai saya menyelidikinya secara tak sengaja. Lalu, sampai terjadi sesuatu entah kenapa dia tidak pernah lagi menghubungi saya padahal saya tahu pasti kencan kami sudah ketahuan tunangannya itu. Saya pernah mengujinya, tapi saya rasa dia (takut?) dan tetap berusaha menjaga perasaan tunangannya ini, tidak lagi mengajak saya bicara. Kejadian ini mengingatkan saya pada pria yang sekarang menjalin hubungan dengan saya, ketika dia dulu masih bertunangan dan fotonya sedang bersama salah satu kawan kami, seorang janda, di kampus kami terlihat oleh tunangannya. Tunangannya itu marah besar dan entah berapa lama kemudian teman pria saya putus dengannya (lalu berbalikan, lalu putus lagi). Ada juga seorang pria yang tak pernah menghubungi saya lebih dulu sama sekali, tiba-tiba menghubungi saya dan melarang saya mengobrol lagi dengannya, karena dia sudah mau menikah kira-kira beberapa hari atau beberapa minggu dari waktu itu. Ini juga tipe pria yang sama brengseknya, jadi mau berapa banyak mengkoleksi “cadangan” sampai hari-H perkawinan tiba, sedangkan para perempuan selalu dituntut setia sejak hari pertama dilamar atau bahkan dipacari? Dengan caranya itu seolah-olah mengasihani saya. Saya bilang saja, memang kita pernah punya hubungan apa selain berteman, walaupun saya mencintai kamu, tapi saya tahu etika berteman (ah apakah dia pikir saya macam akhwat-akhwat itu ya?) toh kan selama ini saya sudah menanyakan apakah saya mengganggu, dsb… Kok jadi semacam menyalahkan saya ya? Sambil saya tertawa dalam hati, bahwa don juan seperti dia pun bisa ketakutan seperti ini, padahal saya kira dia tidak pernah menyukai saya lho.
 
Sebenarnya saya mendapatkan suatu ajaran dari kakek saya, kakek lho, bukan nenek, yang marah besar ketika tahu tunangan almarhumah bude saya yang marinir berselingkuh. Kakek saya bilang, baru bertunangan saya bisa begitu, bagaimana nanti kalau sudah menikah? Bude saya pun tak jadi menikah dengannya. Bahkan dia selibat sampai akhir hayatnya walaupun pernah menjalin beberapa hubungan yang serius. Kakek dan nenek saya pun seingat saya tak pernah lagi terlalu memusingkan status lajangnya. Gara-gara ini, ayah saya pun terpaksa menyembunyikan kisah poligami ayahnya dari ibu saya sewaktu mereka pacaran, sampai beberapa tahun setelah menikah dibongkar oleh paman saya. Lalu, terdengar oleh nenek saya dari sebelah ibu, yang bilang, “Kok, Jeng Martiyah secantik itu masih dipoligami?” Lalu, ibu saya cerita, paman menunjukkan istri kedua kakek saya, seorang janda nelayan, berkulit gelap, gemuk dan intinya menurut mereka tidak cantik. Nenek saya yang Raden Ayu itu, bukan hanya trah Mangkunegaran III, tapi juga berkerabat dengan RA Kartini sampai pernah “purik” pulang ke “istana” ayahnya di Solo karena dimadu begitu.
 
Beberapa perempuan tidak bersikap seperti nenek saya yang akhirnya “ikhlas”, dan malah merawat kakek saya di akhir hidupnya bersama istri keduanya. Ada salah satu pakde saya yang seorang seniman terkenal, terkenal pula banyak fans perempuannya, lalu selingkuh, dan bude saya hanya bilang, pilih dia atau saya. Inilah juga yang dialami oleh salah satu teman saya, seorang akhwat, dan janda, yang dikejar-kejar oleh seorang pria beristri, dan mereka akhirnya menikah setelah si suami minta ijin dari istrinya. Tapi, hanya dalam beberapa hari, istri pertamanya merasa sangat cemburu, atau tak sanggup “berbagi jadwal”, lalu dalam beberapa minggu memberi ultimatum, pilih dia atau saya. Kedua pria dalam cerita ini memilih istri pertama mereka, tentu saja.😉
 
Penyakit Menular Seksual?
 
Selain karena tuntutan pertanyaan kepo “Kapan nikah?” bagi para lajang, fenomena yang di awal tulisan ini saya ingin sampaikan adalah terkait dengan fenomena (1). Dan, yang menceritakan pun adalah seorang kyai muda (mungkin karena dia sering didekati para akhwat atau para ibu untuk diangkat jadi menantu). Para akhwat dan para perempuan yang aktif di pengajian dan biasanya mandiri, punya penghasilan sendiri, dan secara finansial sebenarnya cukup mampu, justru mencari pria-pria para ustadz (atau yang soleh-soleh semacam di partai Islam) walaupun mereka sudah beristri, karena mereka takut jika menikah dengan sembarang pria, ternyata mereka adalah pelanggan lokalisasi, tidak bersih secara seksualitas, dan semacamnya. Hello, Mbak, hello ukhtiy, apakah ada jaminan pria yang kelihatan soleh itu tidak hidung belang? Apakah ada jaminan bahwa penyakit menular seksual bisa tidak terjadi dalam hubungan seksual poligamus – meskipun sah?
 
Kepada sesama perempuan, saudariku, ya ukhtiy, sebelum mau dijadikan sebagai istri kedua, ketiga, dst, coba posisikanlah dirimu dulu sebagai istri pertama, apakah mau diperlakukan sama, bertahun-tahun berkorban dan menghabiskan hidup bersama suami dalam suka duka lalu datang perempuan lain apalagi ketika sudah sukses, kaya, dll? Kedua, apakah awalnya yang mendatangimu adalah si suami untuk melamarmu atau si istri itu sendiri yang mengajakmu sebagai saudarinya? Karena keduanya akan menimbulkan efek yang berbeda dan biasanya pun konteksnya berbeda sekali… Tapi…. Jangan lupa, sekalipun Sarah yang memberikan Hajar untuk Ibrahim, dia tetap cemburu dan meminta Ibrahim mengirimnya jauh-jauh. Jangan lupa, sekalipun Leah dan Rachel kakak-beradik tetapi keduanya tetap saling cemburu dan saling merebut hati Ya’kub. Ini’kan pula diam-diam dinikahi di belakang, atau tiba-tiba muncul di hadapan seorang perempuan yang di awal pernikahan mereka sang suami mengatakan “hatiku hanya untukmu” ternyata oh ternyata… Apakah “anti” mau diperlakukan begitu juga?
 
Foto: Serial HBO, “Big Love” tentang pria LDS (sekte Mormon) yang melakukan poligami. Sekte Kristen ini memang membolehkan, bahkan agaknya menganjurkan, poligami. Dalam serial ini, setiap istri punya peran berbeda untuk suaminya yang politikus: istri pertama sebagai pendamping dalam setiap kegiatan politik, kampanye, filantropi dll; istri kedua sebagai ibu rumah tangga pengasuh para anak dll (pakaiannya sangat tradisional); istri ketiga, yang paling asyik, menjadi mata-mata bagi suaminya jadi dia biasa berpakaian seksi, menggoda, dll. Bob sebenarnya selingkuh lagi, tapi ketika istri pertamanya mendatangi si perempuan untuk dijadikan istri keempat, demi alasan religius, perempuan itu tak mau. Hehehe.

***

TANGAN FATIMAH dan FOCOLARE

Simbol "Tangan Fatimah" merupakan oleh-oleh adik spiritual saya dari Afrika.

Simbol “Tangan Fatimah” ini merupakan oleh-oleh adik spiritual saya dari Afrika.

Pada suatu malam, ketika saya membaca legenda ini, saya teringat ketika saya begitu kesakitan di rumah sakit: ketika saya mengalami keguguran putra ketiga saya yang saya beri nama Kesatria Cahaya, ketika saya menjerit-jerit karena salah satu kaki saya kemudian kedua kaki saya bagai ditarik-tarik dari ujung jempol ke pangkal paha jauh selama hampir enam jam dan betapa lebih menyakitkan daripada ketika saya mengejan melahirkan putri-putri saya. Saya hanya menggenggam turbah, berzikir dan saya bertawassul memanggil nama Sang Bunda. Saya menangis dan menjerit sejadi-jadinya, bahkan saat melahirkan saya tidak menjerit seperti ini. Saya menderita lupus, suatu penyakit autoimun yang kebanyakan penderitanya adalah perempuan (9 dari 10 penderita) dalam usia produktif mereka (15-45 tahun). Karena itu, saya sering tergoda untuk mempersoalkan kepada Tuhan, mengapa penyakit seperti ini justru ditimpakan kepada kami kaum perempuan yang telah cukup menderita oleh karena haid, kehamilan, melahirkan, dan menyusui? Saya begitu ketakutan berprasangka buruk pada Tuhan. Saya hanya ingat Az-Zahra, berulang kali mengingat Sang Bunda, dan menyadari apalah saya ini, siapalah saya ini dalam rasa sakit ini. Saya hanya ingat bagaimana mungkin saya tidak diuji sejak saya mengambil kaul saya sebagai seorang kalendar dalam tekke Daudiyah, dengan pelecehan seksual, perkosaan, keguguran, kesakitan menjelang dan saat haid, serta kesakitan sebagai odapus ini?

Guru-guru kami saat ini adalah para dede, dan seperti semua kalendar Daudiyah, kami dibebaskan membentuk model tekke kami sendiri sesuai tradisi kami. Maka, saya merasa terpanggil memberikan corak “para ibu” pada tekke yang saya jalani dan jalankan, dan ini bukanlah tanpa alasan. Salah satu guru utama yang mewariskan kepada para dede kami tak lain hanyalah seorang pegawai kebersihan di sebuah hotel, yang seorang perempuan; mata rantai yang hampir saja putus pada tekke rahasia yang dijalani dan dijalankannya. Patron kami adalah Haji Bektash Wali, yang sebenarnya tak pernah mendirikan tarekat, tetapi ajaran-ajarannya disebarluaskan oleh murid satu-satunya (yang kemungkinan besar adalah istrinya) yaitu Fatma Nuriyah yang mendapat panggilan Kadincik Ana yang mempunyai murid-murid yang kemudian melahirkan mazhab sufi Bektashi. Selain itu, saya juga seorang Focolarini, pengikut Focolare, sebuah organisasi spiritual yang dilahirkan dalam Gereja Katholik, yang arti harafiahnya adalah “perapian” atau “pendiangan” tempat berkumpulnya keluarga dalam rumah pada musim dingin. Focolare dilahirkan oleh seorang perempuan bernama Chiara Lubich dengan spiritualitas Maria dengan maksud seluruh anggotanya menyatu sebagai keluarga yang menghidupi ajaran Sayyidina Isa al-Masih yaitu cinta kasih. Focolare yakni perapian atau pendiangan merupakan poin fokus spiritual dalam tradisi berbagai tarekat sufi di Turki. Tidak terkecuali dalam Daudiya, yaitu Dekalog yang tertera dalam Qur’an surah 2 ayat 53.

Legenda ini merupakan asal-muasal tradisi pengobatan dari orang-orang yang mengelilingi perapian atau api unggun. Mereka adalah para dukun dari suku Islam-Shaman di Asia Tengah dan Turki. Mereka memusatkan ritual pengobatan di sekeliling api, melelehkan dan menggunakan abu untuk pengobatan. Dan di sekeliling Bunda Fatimah azZahra, putri Nabi Muhammad. (Para pengikut mazhab Sufi Bektashi, seperti orang-orang Alevi misalnya, juga adalah termasuk suka-suku Shaman di pedesaan yang memeluk Islam dengan tetap menjaga tradisi Shaman mereka dalam berbagai hal, seperti ritual menari spiritual mengelilingi api menyebut nama Allah, Muhammad, dan Ali).

Tentu saja ini merupakan legenda, bukan riwayat yang sesungguhnya terjadi, tetapi di balik legenda ini terdapat hikmah yang sangat penting.

Konon, Rasulullah membuat api, dan dari abu api tersebut dengan air, Baginda dapat menyembuhkan yang sakit. Maka, Rasulullah mulai menyembuhkan yang sakit, akan tetapi, karena kelelahan setelah bertahun-tahun berlalu, Rasulullah mewariskan seni pengobatan ini kepada putrinya Fatimah, memberikan ijazah kepadanya untuk mempraktekkan seni pengobatan ini. Maka, Fatimah pun mengambil tangannya, lalu mulai mengobati. Lalu, karena Fatimah pun merasa kelelahan, beliau pun mengajarkan seni pengobatan ini kepada tetangga dan sahabatnya Lukman (tokoh terkenal yang namanya menjadi judul Surah 31 dalam alQuran). Lalu, Lukman mengajarkan seni pengobatan ini kepada orang-orang di berbagai tempat, membangun tradisi “focolare” atau “pendiangan” (sebagai pusat fokus spiritual).

Salah satu hikmah dalam legenda ini adalah bahwa sesungguhnya terdapat “rahasia” atau sejarah yang dilupakan tentang transmisi atau pewarisan seni pengobatan dalam silsilah Sufi dari Sang Bunda, Fatimah az-Zahra kepada seluruh dukun atau tabib Sufi Muslim perempuan. Fatimah Ana, mereka memanggilnya demikian, sebagai tawassul dalam proses pengobatan yang dijalankan. Mereka akan mengatakan,

“Ini bukan tanganku yang mengobati, tetapi tangan Fatimah Ana.”

Banyak legenda-legenda lain berkembang di wilayah-wilayah sekitar Turki dan Asia Tengah mengenai seni pengobatan ini, yang menyebutkan tentang tawassul dan atau melalui tangan Sang Bunda Fatimah.

Sebenarnya ada salah satu hadis Bukhari yang menyebutkan tentang pengobatan yang dilakukan oleh Fatimah dan Ali bin Abi Thalib suaminya ketika mereka merawat luka-luka Rasulullah akibat perang Uhud. “Fatimah biasanya mencuci luka-luka tersebut dan Ali bin Abi Thalib biasanya menuangkan air dari sebuah perisai. Ketika Fatimah melihat betapa air tersebut malah memperparah pendarahan, ia mengambil secabik tikar, membakarnya, dan memasukkan abunya ke dalam luka-luka (Rasulullah) supaya lukanya tergumpal (dan pendarahannya berhenti). [Bukhari 5, 277-8].

Tradisi tawassul ini dapat ditemukan di seluruh Asia Tengah dan bekas wilayah kekuaasaan Ottoman Turki. Di mesjid dan tekke Elmala Baba, Bulgaria, misalnya, yang setiap bulan September diadakan pekan perayaan kaum Alevi di seluruh Bulgaria, terdapat bagian untuk lelaki dan untuk perempuan. Pada bagian perempuan didekasikan untuk Fatimah (atau Fatma dalam bahasa setempat) yang dianggap sebagai matron bagi para ibu dan anak-anak. Di situ terdapat imitasi makam Fatimah yang ditutup kain hijau yang terdapat gambar Tangan Fatimah dengan mata yang diyakini sebagai simbol yang menatap mengusir setan atau keburukan. Para peziarah yang datang percaya bahwa tempat ini merupakan tempat pengobatan dan terdapat kebiasaan pada hari libur para penderita sakit dan perempuan-perempuan yang belum melahirkan anak duduk di sini untuk bertawassul agar mereka didoakan oleh Bunda Fatimah az-Zahra untuk memperoleh kesembuhan atau memperoleh keturunan.

Ya Maria, Ya Fatimah Az-Zahra,

Yang terkandung tanpa noda dan terpelihara dari dosa,

Doakanlah kami putri-putrimu.

Salam bagi engkau para penghulu perempuan di Surga,

Asiah, Khadijah, Maria dan Fatimah.

Salam bagimu para ibu kaum mukminin dan ibu kami:

Hawa, Miryam, Sarah, Hajar, Hulda, Deborah,

Hannah, Elizabeth, Anna, Aminah, Fatimah bt Assad,

Zainab, Shahrabanu, Fatimah bt Hassan,

Farwah, Hamidah, Sabikah, Najmah,

Sumanah, Salil dan Malika Nargis,

Serta seluruh ummul mukminin.

Semoga Allah meridhoi guru dari guru-guru kami

Fatma Nuriyah dan Eva Mullins.

Semoga Allah mencucuri rahmat dan kasihnya

Kepada seluruh ibu dari ibu kami

Semoga Allah membimbing putri-putri kami.

(halaman awal novel Tarian Kabut)

wha_camalti2

Catatan Kaki:

Chiara Lubich merupakan perempuan Katholik pertama di dunia yang memasuki masjid di AS dalam rangka dialog antar-iman dan memberikan pandangannya tentang cinta kasih.

Ana – Ibu.  Dalam tradisi Bektashi merupakan gelar kehormatan untuk perempuan yang merupakan mursyid, istri dari mursyid/pemimpin komunitas, dan keturunan dari syaikh/terkait Sayyidina Ali kw. Gelar ini diletakkan di belakang nama.  

Dede – Kakek. Dalam tradisi Bektashi merupakan gelar bagi pemimpin spiritual kelompok Alevi-Bektashi, yang memimpin semah atau majlis pertemuan spiritual.

Kalendar – sebutan untuk darwis pengelana sendiri (lone-dervish), atau darwis tarekat Qalandariyah, dalam sejarah memiliki kaitan dengan para darwis Bektashi dan Dawoodiyyah; secara harafiah berarti orang yang merapikan alas kaki di depan mesjid; disebut kalendar karena Daudiyah menerapkan lone-dervish system.

Turbah – (batu dari) tanah tempat sujud dalam sholat

Tekke – pondok sufi

Rujukan:

Syaikha Roya Azal dalam:  http://www.theartofislamichealing.com/

“La Vita è Bella, Bella Ciao!”

“Urip iku urup.”

(Hidup itu nyala)

89 - CopyMinggu pertama ketika saya berada di Italia, saya diajak jalan-jalan ke Cremona, Milan, dan kota-kota kecil di sebelah utara sampai ke perbatasan dengan Swiss. Saya ingat pernah dibawa ke depan sebuah rumah tempat para pejuang revolusi Italia bersembunyi dari kaum fasis para pengikut Mussolini. Di Roma, tempat favorit saya adalah jembatan dan sungai di depan kastil penuh dengan patung malaikat, serta gang-gang kecil di antara bangunan-bangunan tua menuju ke sana, yang akan mengingatkan saya pada kisah Guido (yang diperankan Roberto Benigni) dalam film “Hidup itu Indah.” Kalau mengingat semuanya kembali, saya juga mendengar sayup-sayup lagu perjuangan “Bella Ciao.”

Bayangkanlah diri saya sebagai seorang Yahudi seperti Guido. Saya dikirim ke kamp konsentransi yang bentuknya adalah tubuh saya sebagai perempuan, hatinya selalu ingin mencintai, jiwanya selalu rindu kepada kebebasan, dan pikiran-pikirannya sering kali tidak seirama dengan pandangan-pandangan arus utama.

“Sebagai perempuan, saya pernah merasakan sakitnya karena haid, karena malam pertama, karena hamil, karena melahirkan, karena keguguran, karena menyusui, dan karena Lupus SLE. Sebagai perempuan, saya pernah merasakan sakitnya karena ‘perkosaan’, karena pelecehan seksual, karena kehamilan yang tak diinginkan. Sebagai perempuan, saya pernah jatuh cinta, saya pernah mencintai, saya pernah dicintai, patah hati dan terluka karena cinta. Sebagai perempuan, saya pernah disingkirkan, diabaikan, dan diremehkan. Sebagai manusia, saya berpikir. Saya berpikir tentang kehidupan, kata-kata, penderitaan, kebahagiaan, makna-makna, mengapa dan bagaimana, manusia, alam semesta dan sang aku di dalam diri. Tubuh yang lemah, hati yang penuh cinta, jiwa yang perindu, dan pikiran-pikiran yang tak sesuai arus utama, adalah Auschwitz saya.”

Sebagai perempuan, saya pernah merasakan sakitnya karena haid, karena malam pertama, karena hamil, karena melahirkan, karena keguguran, karena menyusui, dan karena Lupus SLE*. – Saya tentu sering bergumul, mengapa saya diciptakan sebagai perempuan, adakalanya saya juga bergumul bahwa saya ingin menjadi laki-laki, dan ingin terbebas dari semua penderitaan akibat dilahirkan dengan tubuh sebagai “perempuan.” Akan tetapi, di lain waktu saya juga merasa bahagia menjadi perempuan dan pernah merasakan semua penderitaan itu.

Sebagai perempuan, saya pernah merasakan sakitnya karena ‘perkosaan’, karena pelecehan seksual, karena kehamilan yang tak diinginkan. – Untuk Tuan Dul yang sering menyurati saya di dunia maya ini mengurusi soal hijab saya, dan Tuan-tuan Puan-puan Dul lainnya yang merasa cukup religius, memenuhi kewajiban amar makruf nahyi mungkar dan mengamalkan ayat “Al-Ashr”, saya malah sering mengalami pelecehan seksual ketika saya berhijab. Ketika saya tidak berhijab sebelumnya, saya hanya sekali mengalami pelecehan seksual, dan ketika saya tidak lagi berhijab sesuai dengan definisi dan pemahaman hijab kalian, saya justru tidak pernah lagi mengalami pelecehan seksual [1]. Saya pernah mengalami pergumulan batin yang berat karena “perkosaan” dan “kehamilan yang tidak diinginkan” karena doktrin-doktrin agama yang saya anut, karena saya berusaha tetap menjadi seorang yang religius, yang beriman sebagaimana orang-orang seperti kalian. Akan tetapi, satu-satunya hal yang saya sangat takutkan adalah bahwa bukan saya menolak dan menafikan Tuhan, melainkan bahwa saya meyakini bahwa “Tuhan itu kejam dan jahat.”

Sebagai perempuan, saya pernah jatuh cinta, saya pernah mencintai, saya pernah dicintai, patah hati dan terluka karena cinta. – Dalam konteks ini, saya jatuh cinta, mencintai, dicintai dan dilukai karena cinta saya kepada laki-laki. Satu, dua atau tiga orang, berapa pun banyaknya, dan sedikit apa pun tetapi saya tetap bisa mencintai laki-laki meskipun saya pernah disakiti, disingkirkan, diabaikan dan dihancurkan. Apakah bagi saya ini mudah ketika saya memandang laki-laki yang saya cintai sebagai bayang-bayang, “tajalli” atau manifestasi-Nya di hadapan saya? Sebab, ini melibatkan seluruh keyakinan saya, “sang aku dalam diri” dan kesadaran saya tentang Dia.

Sebagai perempuan, saya pernah disingkirkan, diabaikan, dan diremehkan. – Bukan hanya laki-laki yang pernah menyingkirkan, mengabaikan dan atau meremehkan saya karena saya tidak sama dengan mereka. Saya bisa memasak dan menjahit, berdandan dan mendalami segala sesuatu tentang fesyen, mengasuh anak-anak dan membereskan rumah sangat rapi dan teratur, tetapi saya juga bisa memimpin organisasi, menjadi filsuf, mengembara dari kota ke kota, dan mempelajari semua hal yang menarik bagi saya selain duduk menggosip tentang tetangga sebelah, membicarakan resep masakan atau tas bermerek terbaru, dan mengeluh tentang kehidupan. Dengan semua keterbatasan saya, saya sering duduk memandang ke luar jendela, melihat awan, melihat jalanan, kerumunan manusia dan mereka yang sedang berjalan kaki, kendaraan lalu-lalang, bunga-bunga di pinggir jalan, daun-daun hijau di pohon; kemudian saya merasa begitu asing, begitu terasing dan merasa diasingkan padahal saya begitu akrab, kadang-kala bahkan begitu intim, dengan semuanya.

Sebagai manusia, saya berpikir. Saya berpikir tentang kehidupan, kata-kata, penderitaan, kebahagiaan, makna-makna, mengapa dan bagaimana, manusia, alam semesta dan sang aku di dalam diri. – 90 persen orang yang hidup dengan Lupus SLE itu adalah perempuan, tetapi mengapa saya harus mengalaminya, bagaimana saya bisa mendapatkannya, untuk apa saya harus menjalaninya, semuanya terus bergulir dalam pergumulan saya.

Saya “berada dalam Auschwitz”, dengan guncangan-guncangan yang memukul saya setiap saya mengalami tugas-tugas baru saya dengan tubuh saya sebagai perempuan dan sebagai odapus; dengan para “kapo”** (dan “kepo”) yang menginginkan saya tetap menjalankan atau mengimani hal yang sama seperti mereka seperti mengenakan pakaian sesuai yang mereka anggap benar; dengan sang aku dalam diri yang harus terus-menerus menilai, memilih dan memutuskan, apakah layak dan berguna, apakah saya mampu menyintas dan apakah menjadi penyintas itu memang perlu.

Mungkin saya bisa merekayasa (seperti Guido untuk anaknya di kamp konsentrasi) bagi “sang aku dalam diri”, tetapi mungkin saya juga tidak perlu melakukannya karena pada kedua-duanya yang terpenting adalah memilih akan hidup dan akan mati seperti apa.

Saya sering membatin, “Saya menginginkan kesembuhan menginginkan saya, saya menginginkan kehidupan menginginkan saya, saya menginginkan pria itu menginginkan saya, saya menginginkan Tuhan menginginkan saya.” Saya tidak menginginkan apa yang tidak diinginkan “mereka” karena saya sadar bahwa saya “berada dalam Auschwitz” – yang saya tidak tahu apakah saya bisa keluar, dan apakah perlu atau harus keluar itu juga tidak penting, tetapi saat ini, pada momen ini, saya masih “berada dalam Auschwitz” saya.

Kalau saya harus mati sebagai perempuan, sebagai odapus, atau sebagai manusia yang berpikir tidak sesuai arus utama, maka saya mau memilih mati seperti Guido dengan iringan lagu “Bella Ciao.” Begitu pun kalau saya harus tetap hidup, maka saya juga mau hidup seperti Guido, “dalam Auschwitz”, sambil menyanyikan lagu “Bella Ciao” dan menari.

“Hidup itu indah, wahai Nona Cantik!

Yang memberikan terang harus menanggung terbakar,

Cahaya matahari bahkan membaur dengan hujan.”

— Sabat pertama Juli 2015 —

*kapo: orang-orang di kamp konsenstrasi yang ditunjuk para tentara SS untuk mengawasi sesama tahanan/para pekerja di kamp atau melakukan tugas-tugas lain seperti tugas administrasi untuk sesama penghuni penjara ini.

Everything on the earth has a purpose,

every disease an herb to cure it,

and every person a mission.

This is the Indian theory of existence.

~Mourning Dove ~

[2] Versi panjang:

Untuk Tuan Dul yang sering menyurati saya di dunia maya ini mengurusi soal hijab saya, serta Tuan-tuan dan Puan-puan Dul lainnya yang merasa cukup religius, memenuhi kewajiban amar makruf nahyi mungkar dan mengamalkan ayat-ayat “Al-Ashr” dalam urusan pakaian saya dan mengkaitkannya dengan pelecehan seksual yang saya alami maupun feminisme:
Saya malah sering mengalami pelecehan seksual ketika saya berhijab (dengan model-model sebagaimana yang Anda sekalian yakini. Saya pernah memakai hijab yang panjang lebar, yang pendek, pernah memakai cadar, bergamis, maupun bercelana, dan dalam semua situasi itu saya pernah mengalami pelecehan seksual.)
Padahal, ketika saya tidak berhijab sebelumnya, saya hanya sekali mengalami pelecehan seksual.
Dan, ketika saya tidak lagi berhijab sesuai dengan definisi dan pemahaman hijab kalian, saya justru tidak pernah lagi mengalami pelecehan seksual.
Saya adalah seorang biarawati Islam, yang bahkan kata “biarawati” tidak ada dalam kamus Anda sekalian. Bagaimana pun saya sangat suka mengenakan “habit”.
Pemahaman, keyakinan dan bagaimana saya mengenakan “habit” saya sebagai biarawati Islam tidak akan pernah mengikuti kehendak populer dan atau konformis terhadap mazhab-mazhab yang populer hanya karena Anda sekalian memiliki institusi-institusi mapan (established), pemangku kebijakan mayoritas dan mainstream.
Kalau memang saya berdosa, dan kalau memang saya dianggap tidak dekat dengan Tuhan, pada kenyataannya Tuhan tetap mendekati saya dan Tuhan sendiri yang bilang bahwa Dia Maha Pengampun.

What is life? It is the flash of a firefly in the night. It is the breath of a buffalo in the wintertime. It is the little shadow which runs across the grass and loses itself in the sunset.
(Crowfoot)

When it comes time to die, be not like those whose hearts are filled with the fear of death, so when their time comes they weep and pray for a little more time to live their lives over again in a different way. Sing your death song, and die like a hero going home.
(Chief Apumut)

Gayatri Wedotami Muthari's photo.

SAUJANA KITAB KEJADIAN 19* PADA RUANG DAN MASA KITA

 (Catatan Ketiga**)

(tulisan-tulisan saya mengenai seks dan seksualitas)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Saya dan seorang pastor Xaverian di Cremona, 2011

Juni, 2015. Malam itu, saya duduk makan malam dengan seorang pria yang sangat tampan di sebuah restoran Amerika. Kami hanya berdua saja. Saya seorang perempuan. Pernah menikah dan punya dua anak. Saya tidak mengatakan ini untuk menyombongkan diri atau sebaliknya berusaha rendah hati: sejak kecil hampir semua orang mengatakan bahwa saya cantik. Sedangkan di depan saya adalah seorang pria keturunan Italia. Saya suka menonton sepakbola untuk melihat pria-pria yang tampan terutama dari negara-negara seperti Italia, Spanyol, dan Portugis, sama seperti ketika saya suka sekali menonton dansa ice-skating dengan atlet perempuan mereka yang begitu anggun dan molek di atas arena salju. Banyak teman perempuan saya yang bilang pria-pria Italia itu banyak yang tampan. Saya tidak meragukannya, jika itu yang dimaksud adalah ketampanan secara badani. Ke mana pun saya pergi ketika saya berada di Italia, saya selalu menemukan pria yang tampan, yang secara seksual sangat menarik. Mungkin tidak semuanya pria Italia, sebab untuk membedakan antara pria Rumania, yang banyak sekali, dengan pria-pria Balkan dan atau keturunan lainnya, tidaklah begitu mudah jika saya hanya melihat dan melintas di jalanan dan kerumunan. Ya, menurut saya memang pria-pria Italia tidak sedikit yang tampan – menurut selera saya tentunya –  termasuk pria yang ada di depan saya sekarang. Jadi, ini adalah kencan yang sempurna. Kami sudah lama kenal, bahkan saya mengenal akrab ibunya, adiknya, kakaknya, dan pernah tidur di rumahnya, bahkan tidur di dalam kamarnya – tentu saja sendirian, karena di kamarnya hanya terdapat satu tempat tidur berbentuk dipan sebesar ranjang di rumah sakit. Saya mengaguminya sejak pertama kali bertemu dan saya kira juga sebaliknya.

Kami berdua bicara tentang banyak hal. Dari mulai hal-hal yang begitu ringan sampai yang begitu berat, dari hal-hal yang sangat personal sampai kepada hal-hal yang sedang mendunia. Imigran. Itu salah satu topik pembahasan kami. Negaranya dan negara saya punya satu kesamaan, yaitu menghadapi gelombang imigran gelap yang menjadikan negara kami sebagai wilayah yang harus dilewati untuk sampai ke negara tujuan. Imigran-imigran gelap yang ditampung di Italia umumnya ingin menuju ke Perancis, sedangkan yang di Indonesia umumnya ingin menyeberang ke Australia. Sejak saya bertemu dengannya, serta mengenal keluarga serta kaum kerabatnya, lalu tinggal selama beberapa bulan di jantung kota Roma, saya mendapati bahwa karakter bangsa Indonesia dengan bangsa Italia punya banyak kemiripan, kalau tidak bisa dianggap sebagai kesamaan atau persamaan. Pada waktu itu, saya adalah seorang musafir di negaranya, dan saat ini dia adalah musafir di negara saya.  

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Paus Benekditus XVII dalam Hari Imigran Sedunia, 2011, koleksi pribadi

Sambil menikmati pizza ala Amerika, ia menceritakan tentang puluhan demonstran di wilayah Sisilia yang menyatakan, “Kami bukan rasis, tapi jangan menambah masalah kami” menghadapi ribuan imigran gelap. Saya lalu teringat bahwa saya dicap rasis karena saya mengatakan, “Saya membenci hampir semua habib,” sebagai suatu pernyataan saya yang amat personal, kendati saya tak sedikit pun menyinggung atau mengatakan keburukan para habib, yang saya harus pula menambahkan dengan keterangan yang sangat personal bahwa jika pun saya memang rasis, lalu mengapa saya saat ini mencintai seorang habib? Rasisme, adalah masalah besar yang kembali mencuat di “belahan dunia” yang lain, di negara-negara tetangga Italia maupun Indonesia dan di Amerika Serikat. Paus akan langsung memberi sikap terhadap pelecehan atas Nabi Muhammad, sama seperti ulama NU dan Muhammadiyah di Indonesia akan memberi sikap terhadap pelecehan atas simbol-simbol Kristen (Catatan: Paus juga adalah Uskup Agung Roma. Dan, sesekuler apapun Italia, masyarakatnya ternyata tak pernah bisa melepaskan akar dan ketergantungannya terhadap nilai-nilai dan pandangan-dunia Kristen sama seperti di Indonesia dengan Islam).     

Kalau saya menulis paragraf pertama saya tentang cerita itu tanpa saya lanjutkan lagi, tentu setiap orang akan memiliki persepsi yang begitu berbeda tentang hubungan saya dengan pria tersebut, tentang kencan kami malam itu, dan tentang kekaguman-kekaguman kami terhadap satu sama lain. Tetapi, mengapa kemudian saya malah melanjutkannya dengan membahas topik yang seakan-akan tidak ada hubungannya dengan “seks dan seksualitas”?

Dari diskusi bedah buku “Cakalang Pampis sampai Cabe-cabean” karya Baby Jim Aditya, saya mendapati pelajaran yang bisa saya ringkaskan dalam satu kalimat. “Kita hidup dalam ruang dan zaman yang dapat kita temukan jejak bayang-bayangnya dalam Kitab Kejadian 19.”

Ketika kami berdua kencan, topik yang sedang hangat di Indonesia adalah “Angeline” gadis kecil yang sejak bayi diadopsi lalu dibunuh, kemungkinan besar oleh ibu angkatnya sendiri. Mengapa dia harus diadopsi? Mengapa ibubapaknya tidak merawatnya sendiri? Apakah murni karena kemiskinan? Apakah murni karena ketidakmampuan membayar biaya rumahsakit? Bertahun-tahun lalu, saya mempunyai kerabat yang membayar biaya persalinan seorang ibu di sebuah klinik bidan demi mengadopsi seorang anak. Mengadopsi atau mengangkat anak di Indonesia, menurut saya, tidak harus sama seperti di negara-negara maju. Tetapi, yang terpenting, apapun prosedurnya, adalah bagaimana merawat dan dapat mengasihi anak itu. Kakek dan nenek saya mempunyai delapan orang anak, dan mengadopsi keponakannya yang menjadi yatim karena Revolusi 1945. Kakek dan nenek saya bukan orang kaya raya, sudah punya anak banyak pula, tetapi mereka dapat membesarkan keponakannya tersebut.

Saya mengeluh kepada pria itu, “Sekarang saya melakukan semua hal begitu lamban karena penyakit saya.” Saya ingat dia pernah cerita tentang “penderitaan” ibunya ketika ayahnya, yang seorang arsitek terkemuka, mendadak sakit sehingga tak mampu melakukan apapun sehingga segalanya harus dibantu, dan ibunya dengan setia merawatnya. Ini berlangsung selama bertahun-tahun. Bagi seorang ibu, apa yang saya alami saat ini, adalah suatu perjuangan dimana saya tidak bisa lagi mengasuh dan merawat anak-anak saya seperti ibu-ibu lainnya. Saya sering menangis dan terluka melihat status ibu-ibu lain yang menceritakan, hari ini saya mengantar anak saya ke sekolah, atau hari ini saya memasakkan untuk anak saya makanan favorit mereka, atau saya sakit hati jika ada yang menulis, bagaimana sih ibu itu yang menelantarkan anak-anak mereka diasuh pembantu? Di lain pihak, saya sangat suka menyendiri. Saya tidak bisa menulis atau membaca atau bekerja dengan kehadiran anak-anak saya, atau siapa pun, di ruangan saya. Dulu, waktu masih tinggal bersama mereka, saya biasa  menunggu mereka pergi ke sekolah, atau menidurkan mereka dulu, baru mulai bekerja (menulis, dll di rumah). Ibu saya adalah ibu rumah tangga “murni” tapi saya juga dibesarkan oleh para pembantu. Seperti yang pernah ditulis oleh Komnas Perempuan dalam salah satu laporannya, perempuan itu tidak homogen, bisa dari kelas yang berbeda-beda, berpendidikan tinggi atau rendah, bangsawan atau pelayan, kaya atau miskin, dsb. Begitu pula ibu saya, walaupun bukan berasal keluarga kaya, tetapi berasal dari keluarga priyayi. Dalam keluarga priyayi, saya kira adalah lazim seorang anak diasuh oleh seorang pembantu, inang atau “mbok mben” semacam itu. Tetapi apakah itu mengurangi kasih sayangnya, mereduksi keibuannya atau semacam itu? Tidak sama sekali.

Saya menulis gambaran tersebut untuk mengantarkan ke cerita-cerita berikutnya: saya pernah mendampingi seorang gadis yang memutuskan melahirkan bayi di luar pernikahan dan merawatnya betapapun tertekannya dia; saya pernah mempunyai pembantu yang begitu miskinnya karena suaminya tidak bekerja tetapi hampir setiap tahun dia melahirkan anak bahkan yang terakhir saat dia masih bekerja melahirkan di kamar mandinya lalu tiga hari kemudian langsung datang bekerja karena takut kehilangan pekerjaannya; saya pernah mempunyai tetangga yang menikah tapi karena KB-nya gagal akhirnya hamil lalu menggugurkan kandungannya; saya pernah mendatangi sebuah panti asuhan yang di dalamnya tinggal dua kakak beradik berbeda ayah (dan mereka berbeda kebangsaan pula), yang untuk pertama kalinya membuat saya tercenung. Saya pernah punya sahabat pria yang tak kalah tampannya dari pria Italia di hadapan saya itu, seorang pria Cheko dan juga atlet yang memberikan nilai tambah bagi aspek ketampanannya. “Di negara kami, semua rumah sakit menyediakan ruang kosong yang terbuka lebar yang isinya adalah ranjang-ranjang untuk para bayi.” Pada waktu itu kami semua di asrama, di ruang makan, terlibat percakapan serius tentang “Apakah punya anak itu adalah hak atau hak istimewa (privilege)?” Seperti memberikan kondom gratis, mengusulkan ide ini pasti akan ditentang oleh kaum religius sebagai memberikan ruang kepada perzinahan. Namun, persetan dengan semua itu, toh perzinahan tetap terjadi di mana-mana, dan akan dikemanakan bayi-bayi hasil perzinahan atau bayi-bayi yang tidak diinginkan sekalipun dari perkawinan yang sah? Apakah ke tong sampah?  

Bahkan, kita belum membicarakan tentang bayi hasil perkosaan maupun berbagai hubungan seks yang tidak diinginkan. Saya pernah mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, walaupun bukan di luar perkawinan, jadi setidak-tidaknya saya mengetahui pergumulan batin yang harus dialami para perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.

Hamil dan melahirkan anak adalah satu hal, tetapi merawat dan membesarkan mereka adalah lain hal pula. Dalam catatan saya yang sebelumnya, saya menceritakan kembali bagaimana Emon sang pelaku sodomi sekian puluh anak itu justru didukung oleh anak-anak yang menjadi korbannya. Anak-anak itu yang merasa mendapat kasih sayang dari Emon yang tidak mereka dapatkan dari orangtua mereka dan orang lain. Jadi, bagi mereka, Emon pantas mendapatkan “upah” atau “ganjaran” dalam bentuk seks sebagaimana yang Emon inginkan karena Emon telah memberikan apa yang tidak mereka dapatkan; lebih kurang mirip dengan para perempuan yang hidup dengan para pria sebagai gundik-gundik atau istri-istri gelap mereka dan hidup bergelimang kemewahan. Sebaliknya Emon mungkin tidak merasa bersalah karena telah memberikan “segalanya” kepada anak-anak itu; lebih kurang mirip dengan para pria dalam tradisi-tradisi tertentu yang merasa telah berhak “melakukan apapun” terhadap istri-istri mereka karena telah memberikan mahar yang besar.

Bukan hanya masalah kehamilan. Namun, juga penyakit menular seksual (PMS). Dari diskusi bedah buku itu, saya diberitahu bahwa justru para ibu rumah tangga baik-baik yang lebih banyak menderita HIV/AIDS dan PMS karena mereka tidak tahu cara melindungi diri mereka – sedangkan para pekerja seks yang melayani suami-suami mereka dalam keadaan baik-baik saja karena lebih tahu melindungi diri mereka. Misalnya, mereka tidak mau berhubungan seks tanpa memakai kondom. Seorang guru, misalnya, mengatakan sudah rahasia umum bahwa hubungan seks biasa dilakukan oleh murid-murid di rumah atau di sekolah, bahkan murid-murid sekolah agama termasuk aliyah ataupun tsanawiyah. Jika saya menonton film porno pertama kali pada usia 20 tahun saat di bangku kuliah, maka usia generasi di bawah saya pasti lebih muda lagi saat mereka pertama kali terdedah oleh film porno. Anda mungkin ingat kasus “Bandung lautan asmara” yang mana saudara saya adalah teman baik dari “pemain” film porno itu. Film porno itu begitu fenomenal, karena diburu oleh banyak teman kampus saya ketika itu, termasuk teman-teman aktivis Islam saya (karena kami kuliah di Unpad). Apakah saya kemudian terkejut mendengar berita tentang tokoh HMI dan anggota DPR dalam video seks dengan seorang artis? Tidak sama sekali. Sebelum menikah dengan seorang aktivis HMI dan waktu itu ia hendak terjun di bidang politik, saya bertanya kepadanya, “Apa yang akan kamu lakukan jika kamu ditawari perempuan dan ia dibawa ke dalam kamar hotelmu, lalu kamu terjebak di dalamnya?”

Saya dan keluarga teman kencan saya

Saya dan keluarga teman kencan saya

Kembali ke Juni 2015. Di akhir kencan, kami sedikit berdebat, karena dia cukup konservatif dalam masalah “perkawinan”, sementara saya bersikeras, “tidak semua perkawinan itu baik” sama seperti “tidak semua perceraian itu buruk”. Ada banyak kasus yang menunjukkan perkawinan kedua lebih berhasil (maksud saya tentu lebih awet sampai ajal memisahkan keduanya). Artinya, sebagai Muslim, saya bersyukur bahwa dalam tradisi Islam secara umum membolehkan perceraian dan membolehkan terjadinya perkawinan lagi. Misalnya, ini dicontohkan dalam perkawinan Zainab al-Jahisy, yang walaupun ditentukan Nabi Muhammad, tetapi akhirnya tidak berhasil dan Nabi mengizinkan perceraian mereka, lalu ia menikah lagi dengan Nabi. Satu-satunya hal yang kami sepakati, paling tidak dalam tema “matrimonial” atau “rumah-tangga” adalah apapun yang kita tolak dan kita anggap salah dalam keyakinan kita, dunia tetap berjalan demikian adanya. Kita mau menolak atau mendukung hal-hal yang secara tradisi kita dipandang keliru, tetapi perzinahan tetap terjadi di mana-mana, orang-orang bercerai (termasuk saya, bukan?), kontrasepsi digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan bukan untuk menjaga jarak kelahiran (persis seperti yang saya lakukan!), dan kaum homoseksual tetap akan ada. “Gereja ditinggalkan karena menghukum dengan ekskomunikasi, dan mereka menganut agama-agama yang lain.” Sementara itu, “Islam lambat laun juga akan kehilangan dayatariknya jika terus-menerus sibuk mengkafirkan dan menyesatkan jemaat mereka sendiri, walaupun para muallaf juga bertambah.”

Beberapa hari lalu, jagad maya dipenuhi oleh bendera pelangi, dan dunia dengan segera terbelah antara kubu yang menentang dan mendukung perkawinan LGBTIQ. Penentangan dan pendukungan sering kali tidak menjadi jelas antara menolak atau menerima perilaku seks, orientasi seks, perkawinan, dan atau individu/kelompok dengan orientasi seks LGBT.

Menurut saya, akar atau asal-muasal dari pertentangan ini antara lain karena ada dua kubu penafsiran dan pemahaman yang berbeda terhadap kisah kaum Nabi Luth sejak dulu kala.

Pertama, kita yang menganut agama-agama yang disebut agama samawi ini, dalam hal ini, tidak lain sebenarnya hanya mewarisi apa-apa yang datang dari nenek-moyang kita saja, apakah itu yang mainstream, yang mayoritas, yang minoritas atau yang paling minoritas dalam minoritas – tak peduli apakah yang paling minoritas itu 2000 tahun lalu diakui atau tidak oleh otoritas agama pada masa itu.

“Agama” Islam yang mapan (established) sebagai agama telah meletakkan “AlQur’an” sebagai yang menyinari kitab-kitab sebelumnya, sebagai yang sudah sempurna, dan hanya sedikit sekali komunitas Islam yang menerima Al-Quran adalah pelengkap, penyempurna, dan bukan satu-satunya kitab suci yang dapat diterima dan diakui sebagai petunjuk Ilahi. Sementara “Agama” Kristen yang mapan juga pada umumnya meletakkan “Injil” sebagai yang menyinari Perjanjian Lama, sebagai yang sudah sempurna, dan hanya sedikit sekali komunitas Kristiani yang menerima Injil dengan memahaminya sebagai kelanjutan tradisi dari Perjanjian Lama. Kedua komunitas tradisi ini sama-sama menolak yang sebelumnya, tapi tanpa sadar melanjutkan apa yang berasal dari sebelumnya – yaitu yang diceritakan dan disampaikan dalam Taurat dan Zabur. Misalnya ada kubu mayoritas atau kubu penguasa dan kubu minoritas. Kubu mayoritas atau kubu yang berkuasa ini tentu telah menanamkan makna-makna dan maksud-maksud atau tafsir ayat-ayat Kitab Suci sebagai yang baku dan mapan kepada jemaat mereka, sedangkan yang minoritas acapkali ditindas jika memberikan alternatif makna atau pengertian yang lain, sehingga mereka bersembunyi dan bertaqiyah (menyembunyikan iman). Jika dalam ayat-ayat lain ini terjadi, bukan tidak mungkin terjadi pada ayat-ayat tentang Sodom dan Gomorah ini. Itulah sebabnya orang-orang Yahudi menolak Injil dan orang-orang Kristen menolak alQur’an, lalu orang-orang Islam menolak yang sebelumnya karena dianggap terkorupsi atau telah diubahsuai. Tapi, apakah firman Allah, Allah yang Maha Digdaya, bisa begitu mudah diubahsuai dan dikorupsi?

Penafsiran dan pemahaman yang berkembang terhadap kisah kaum Nabi Luth (Sambil saya juga membuka-buka Kitab Yobel dan Kitab Enokh yang tidak diakui hampir semua Gereja, kecuali Gereja Ethiopia) secara arus utama menyatakan bahwa kaum Luth diazab karena mereka homoseks. Tetapi, tunggu dulu. Apakah yang dimaksud adalah mereka berorientasi homoseks, atau berprilaku homoseks? Sebab, jelas-jelas jika memang demikian, yang terdapat dalam ayat-ayat itu adalah bentuk perbuatan, bukan sifat (orientasi) mereka. Selanjutnya, saya terpaksa mengulang-ulang apa yang sudah banyak ditulis orang lain, apakah mereka diazab karena perbuatan homoseks itu berbentuk pemaksaan (sodomi/perkosaan) atau karena menolak tawaran Nabi Luth yaitu menikahi putri-putrinya?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

— Koleksi pribadi —

Dalam kisah Nabi Luth, dalam Alkitab, yang menarik, bahwa ada digunakan majaz seperti istrinya yang menoleh kembali dan menjadi garam. Apakah ini harus dipahami secara harafiah? Dan, orang-orang Kristen maupun Yahudi menafsirkan dan memahami surah-surah berikutnya bahwa Nabi Luth meniduri putri-putrinya sendiri (inses), padahal dalam keyakinan Islam, dan terkhusus dalam keyakinan saya yang minoritas, seorang nabi dilindungi dari perbuatan dosa (maksum), sementara hukum “inses” antara ayah dan anak atau ibu dan anak sudah berlaku sejak Adam dan Hawa. Sementara dalam tradisi saya, yang sangat minoritas (ya, saya harus berulang-ulang menegaskannya), meyakini bahwa yang dimaksud “dua putri” Luth adalah dua jemaat perempuan Luth yang dengan sengaja menawarkan diri atau mendatangi Luth untuk memperbesar kongregasi mereka, memabukkan Luth dengan kekuasaan dan kebesaran jemaat, kemudian mereka melakukan pernikahan mut’ah. Saya harus bisa “berimajinasi” untuk menyadari bahwa baik Ibrahim maupun Luth bukanlah hidup dalam tenda berdua-duaan atau berempat-empatan saja seperti kita dalam rumah-rumah sempit kita dengan keluarga inti di zaman kita, padahal Ibrahim disebut sebagai bapaknya bangsa ini, dan Luth juga bapaknya bangsa itu. Pastilah dalam kompleks tenda mereka terdapat pembantu-pembantu dan pengikut-pengikut, walaupun sangat sedikit, yang tak perlu diceritakan semuanya dalam ayat-ayat. Dan, sudah seharusnya saya yang mengikuti suatu tarekat dan hidup dalam keluarga besar mengerti bahwa ada panggilan-panggilan seperti Bapak, Ibu, Paman, Bibi, Putra-putri, dll yang tidak harus selalu berarti memiliki hubungan darah langsung dan atau begitu dekat secara pertautan darah (seperti dalam tradisi Jawa ada istilah dulur katut).

Kedua, perkembangan zaman telah menunjukkan penemuan-penemuan sains, yang bagi para penganut agama sains telah menunjukkan kekeliruan Alkitab maupun AlQur’an. Misalnya, dalam kasus ini, bagaimana kita bisa menyatakan keharmonisan keyakinan bahwa orientasi seks kaum homoseksual itu penyakit atau kelainan sedangkan penemuan sains terbaru menunjukkan bahwa orientasi homoseksual terdapat dalam 1500 spesies makhluk hidup lain?

Di sini muncul pertanyaan tentang, jadi sebenarnya homoseksualitas itu nature atau nurture? Bukankah manusia begitu kompleks? Alamiah atau rekayasa kultur-sosial sepertinya sangat sulit dipisahkan. Jika dari 1000 orang homoseks, sepuluh di antaranya melakukan pernikahan dengan lawan jenis seperti kaum heteroseks, lalu mempunyai anak dan bahagia, apakah itu dapat memberikan jaminan yang sama kepada 90 persen yang lain? Pertanyaan ini benar-benar keluar dari rasa penasaran saya, karena dunia kaum homoseks masih cukup asing bagi saya. Sementara itu, saya sendiri yang dianggap sebagai kaum heteroseks, tidak bahagia dengan perkawinan, tidak menganggap seks itu penting, dan merasa khawatir jika terjadi kehamilan bukan hanya akan menyebabkan penyakit saya memburuk tetapi juga  bahwa penyakit saya akan diwarisi oleh anak saya. Walaupun sebagai orang yang mengimani takdir, saya tahu tidak dapat melawan takdir, saya cukup “mainstream” dalam hal, saya tidak ingin anak-anak saya juga menderita Lupus SLE seperti saya, dan ini pula saya harus menambah populasi dunia dengan penderita Lupus SLE. [Catatan, Lupus SLE bukan penyakit keturunan, tetapi sekitar 5% dapat diwarisi secara genetik, atau bahwa sesama saudara dapat sama-sama mengalaminya, dan siapa saja yang anggota keluarganya adalah odapus harus lebih waspada agar potensi Lupus SLE yang ada pada dirinya tidak teraktualisasi].

Jadi, semua ini kan masih spekulasi saja. Seperti ketika saya menyatakan diri saya bahwa bisa jadi, setelah sekian puluh tahun ini mengira saya adalah heteroseks, ternyata saya adalah seorang aseksual. Seseorang yang aseksual juga bisa dianggap sebagai “bentuk yang tidak seimbang.” Padahal, aseksualitas dalam diri saya dengan kondisi saya yang sekarang justru sangat bermanfaat bagi saya. Jadi, dalam masyarakat kita hari ini, tak peduli Muslim atau Kristen, seolah-olah menikah itu selalu menjadi sumber dari segala kebahagiaan dan seks adalah satu-satunya cara untuk mendapat kebahagiaan itu. Sama seperti kebanyakan Muslim, Yahudi dan Protestan yang mengatakan bahwa selibat itu melawan fitrah. Oh, well, fitrah yang macam apa? Untuk situasi dan kondisi seperti yang sekarang saya alami, selibat adalah solusi dan jalan keluar untuk berbagai kerumitan dan kehirukpikukan masalah seks. Selibat atau berpuasa seks itu tidak mudah dilakukan bahkan bagi mereka yang aseksual, karena yang aseksual juga memiliki dorongan seksual dalam dirinya sekalipun dia tidak pernah tertarik kepada siapapun dan apapun secara seksual (saya tulis apapun karena bisa diplesetkan kepada tertarik secara seksual kepada hewan atau tumbuhan atau batu akik, misalnya). Itu sebabnya orang-orang seperti saya mengatakan, ada apa dengan melarang pemberian kondom gratis? Apakah kita ingin membiarkan suami-suami yang telah terpapar HIV/AIDS dan PMS menularkannya kepada istri-istri mereka? Baik keduanya itu, suami dan istri, yang heteroseksual dan aktif secara seks, apakah mungkin menjadi selibat atau berpuasa seks?

Bisa jadi saya ini seorang aseksual secara alamiah, lalu saya direkayasa menjadi seseorang yang seksual, lalu muncul lagi sebagai alam bawah sadar saya karena ternyata saya juga dibesarkan menjadi aseksual: Saya ingat bagaimana guru agama saya melarang saya mendekati zina dengan menakuti-nakuti saya jangan memandang pria begini, jangan berpakaian begitu, dst; ketika kecil ibubapak saya menyuruh saya menutup mata jika melihat dua orang berciuman dalam film; dan saya dibesarkan dengan “kualitas seseorang tidak dilihat dari fisiknya, melainkan dari intelektualitas dan spiritualitasnya.” Sehingga, dari kecil, saya terbiasa melihat orang yang cantik atau tampan sebagai pakaian mereka, dengan kata lain mengagumi kecantikan dan ketampanan mereka sebagai pakaian mereka. Bagi saya semua orang di dunia ini cantik dan tampan dengan gradasi masing-masing, jadi apakah saya tiba-tiba jadi hiperseksual karena mengagumi mereka semua? Dalam hal ini, lagi-lagi hanya spekulasi saya. 

Ketiga, Alkitab maupun AlQur’an, jika memang sesuai dengan pandangan umum melarang homoseksualitas, sepertinya sama-sama tidak memberikan solusi kepada mereka yang mempunyai orientasi seks homoseksual, kecuali perkawinan, yang pada kisah ini Nabi Luth hanya mempunyai anak perempuan (yang belum menikah).

Iran, sebuah negara republik Islam, konon memfasilitasi kaum transgender untuk mengubah jenis kelamin setelah melalui prosedur yang ketat dan semacamnya untuk menjadi solusi atau jawaban bagi persoalan homoseksualitas. Akan tetapi, Iran adalah negara dengan mayoritas penganut mazhab Syiah, dan sebagian, kalau tidak semua, atau tidak sebagian besar, penganut Sunni menolak operasi jenis kelamin. Suatu sikap yang juga dianut sebagian penganut Kristen dari berbagai gereja. (Saya lupa posisi Gereja Katholik dalam hal ini).

Saya mempunyai seorang sahabat, yang saya tidak terlalu yakin apakah dia gay, biseks atau queer (Dan, saya tidak peduli, sebab saya sangat menyayanginya). Yang saya tahu dia mempunyai pacar seorang transgender. Siapapun yang pernah mengenalnya tidak akan menyangka dia seorang gay, jika memang dia disebut demikian. Karena kita mempunyai konstruksi-kontruksi pemikiran tentang feminin dan maskulin, dan persoalan patriarki, pria-pria gay acap digeneralisasi dari penampilan yang feminin, sedangkan ada yang mengatakan bahwa dalam komunitas homoseksual, pria-pria gay yang menjadi “suami” bagi para “istri” mereka, harus menjadi se-maskulin mungkin sehingga akan bersikap lebih kasar, misalnya. Tetapi, sahabat pria saya ini jauh sekali dari sifat-sifat feminin dan maskulin semacam itu.  Dia sama sekali tidak pernah bersikap kasar, atau juga tidak pernah “melambai” dan dia juga bukan berasal dari “tipologi” umum yang biasa disematkan kepada kaum gay, seperti dari keluarga berantakan, pernah disodomi, atau hidup di lingkungan yang juga gay, dsb.

Jika langkah Iran yang baik itu saya tawarkan kepadanya, sekalipun dia bukan Muslim, apanya yang mau dioperasi? Saya sebetulnya bingung. Alih-alih, saya memang pernah bilang, apakah pacarmu mau dioperasi? Tapi itu kan pacarnya. Dan, mereka baru pacaran. Bisa jadi, sahabat saya itu kemudian putus, lalu pacaran dengan yang lainnya, gay lain, bukan transgender. Jawabannya juga menarik: pacarnya itu benar-benar ingin memastikan bahwa melakukan operasi memang merupakan merupakan hal yang tidak akan disesalinya di kemudian hari.

Dalam pandangan Dekalogisme-Daudiyyah (yang saya anut), perkawinan adalah salah satu solusi bagi melindungi diri dari melangggar dharma atau sila “Jangan Berzina.” Bagi Dekalogisme-Daudiyyah, bukan AlQuran yang menyinari tiga kitab sebelumnya, bukan Injil yang menyinari dua kitab sebelumnya, sehingga segala sesuatu untuk melihat Taurat dan Zabur dilihat dari Injil atau AlQuran belaka. Yang menjadi penyinarnya adalah apa yang terdapat dalam Taurat, yaitu 10 Perintah Allah, yang bahkan dikukuhkan kembali oleh AlQuran dan Injil dengan terang, yang satu bahkan mengatakannya sebagai AlFurqon, pembeda antara yang haq dan yang bathil. Dan, ternyata, di luar dugaan saya, pembeda itu sangat sederhana, sangat ringkas dan tidak rumit bertele-tele sehingga orang sendableg, sebodoh dan seliar saya mampu tunduk menerima dan memahaminya.  Dari sinilah saya dengan percaya diri mengajukan Dekalogisme sebagai landasan filsafat saya, di luar saya sebagai seorang Dawoodiyya.

Solusi lain agar tidak melanggar dharma “Jangan Berzina” adalah selibat dan atau berpuasa seks. Solusi ini bukan hal yang mudah, tapi banyak yang telah berhasil melakukannya. Semua orang bisa menikah kalau mereka mau. Semua orang juga bisa selibat kalau mereka mau. Banyak janda dan duda yang tetap bahagia walau tidak menikah lagi (baca: tidak pernah berhubungan seks lagi). Tapi, banyak juga yang tetap bahagia ketika menikah lagi. Apa bedanya?

Kalau memang semua orang LGBTIQ dianggap berdosa baik karena orientasi seks mereka ataupun perilaku seks mereka, maka mereka hanya punya dua pilihan untuk tidak berdosa yaitu selibat/puasa seks, karena mereka berdosa jika menyalurkan orientasi seks mereka,  atau melakukan operasi ganti kelamin – suatu pilihan yang tidak ada pada masa dahulu karena teknologi operasi yang canggih baru ditemukan saat ini.

Jika semua orang LGBTIQ dianggap berdosa dan atau mengalami kelainan, maka saat mereka diwajibkan terapi, saya membayangkan mereka harus berselibat atau berpuasa seks, sebab “seks dan seksualitas” mereka itulah yang menjadi masalah mereka. Tetapi apakah jika demikian ada terapinya, apakah obat-obatan yang mereka konsumsi mengurangi dorongan seksual mereka? Ini benar-benar membingungkan untuk saya, karena jika yang satu pihak mengkonsumsi viagra untuk menjadi kuat dalam “seks”, yang satu pihak lagi harus diberikan “penekan seks.” Ini persis seperti orang-orang sakit umumnya diberikan obat, vitamin dan herbal penambah daya tahan/imunitas tubuh, sebaliknya saya dkk yang odapus justru diberikan obat, vitamin dan herbal untuk menekan imunitas tubuh kami. Itu pun, obat-obatan yang diberikan kepada kami bukan hanya tak selalu berhasil, karena lupus dalam diri kami tetap bisa kapan pun menggila dan membunuh, tetapi juga memberi efek samping yang melemahkan tubuh kami.

Kaum LGBTIQ merupakaan kenyataan historis tidak hanya pada zaman Luth. Maksud saya, kita berada pada zaman ini, ruang ini, dan kita menciptakan sejarah ruang dan zaman kita sendiri. Jadi, tak peduli apakah isu LGBTIQ adalah upaya Zionis dan Tatanan Dunia Baru seperti beberapa orang menggulirkannya, toh ia ada di sekeliling kita dari sejak dahulu kala sampai hari ini di depan mata kita. Kalau tidak begitu, untuk apa KamaSutra menyebutkan tatacara berhubungan seks dengan sesama jenis kelamin, yang itu menunjukkan gay sudah ada sejak zaman dulu, bukan hanya isu ini budaya Barat atau ini bukan budaya Timur. Jadi, sungguh-sungguh dibutuhkan kearifan untuk siapapun yang waras dalam menyikapinya.

Sebagai Dekalogis yang berusaha menarik benang merah, tentu Dekalogisme bisa menawarkan solusi lain, jika bukan orientasi seks kaum homoseksual yang dianggap dosa, dan jika mereka mau melindungi diri mereka dari melanggar dharma “Jangan Berzina” (sebab mereka tidak bisa selibat) maka mereka masih ada pilihan lain yaitu menikah. Tentu saja saya mengerti dan sangat menghormati seluruh orang dan seluruh pihak yang menentang pernikahan sejenis, sebab bagi mereka ini dianggap perzinahan. Dan, ini antara lain timbul karena berasal dari penafsiran dan pemahaman ayat yang sudah saya tulis itu. Bagi golongan penentang, pernikahan sejenis adalah sama dengan perzinahan. Hanya saja Dekalogisme tidak berpihak kepada keduanya, dan bukan untuk mendefiniskan perkawinan, perzinahan dan selibat secara mendetail sehingga seperti mazhab fikih, atau ketentuan gereja-gereja. Dekalogisme sebagai filsafat yang saya ajukan memberikan ruang bagi setiap tradisi, agama, budaya, aliran, sekte, dan individu-individu dalam memahami dan meyakini apa itu tauhid, apa itu kekudusan Sabat, apa itu ibubapak, apa itu pembunuhan, apa itu pencurian, apa itu dusta, apa itu zina, apa itu mengambil hak orang lain. Sedangkan “definisi semua itu” dalam Dekalogisme-Dawoodiyya sebagai aliran “agama” yang saya anut tidak akan saya paksakan kepada siapapun dan biarlah hanya mereka yang menerima dan diinisiasi di dalam Dawoodiyya yang menjalaninya.

pantirome2012

— koleksi pribadi —

Pertanyaan saya bagi yang menolak perkawinan sesama jenis kelamin sebagai dapat menimbulkan masalah budaya dan sosial adalah bukankah perkawinan berbeda jenis kelamin juga sama, telah menimbulkan masalah yang tidak kurang buruknya pada hari ini? Seperti kata teman saya, kaum heteroseks melakukan perzinahan di mana-mana, membuang sperma merata-rata, dan membuang bayi-bayi juga…Dan, apakah perkawinan hanya berarti reproduksi? Bahkan, bagi seorang yang sedang belajar spiritualitas seperti saya, apakah perkawinan itu hanya berarti rekreasi? Apakah seks sebegitu penting? Apakah seks harus selalu bermakna salah satu atau di antara keduanya, yaitu untuk reproduksi dan untuk rekreasi? Apakah tidak ada makna artifisial selain yang itu?

Saya jijik kepada beberapa  kaum LGBTIQ yang melecehkan kaum religius yang menentang mereka, dan saya jijik kepada sikap beberapa kaum LGBITQ yang melakukan pelecehan dan kekerasan seksual. Tapi, saya juga jijik kepada beberapa kaum religius yang menentang LGBTIQ yang mereka itu – saya tahu – mengakomodasi, menerima atau bahkan merayakan pelecehan dan kekerasan seksual dalam kelompok mereka. Azab siapa kepada siapa yang sedang kalian semua bicarakan? Sementara dunia terus berjalan demikian adanya, kezaliman dan ketidakadilan terus berlangsung, dan orang-orang yang berseberangan dengan keyakinan kita terus akan tetap ada seumur hidup kita.

Saya, misalnya, sudah cukup kenyang dianggap mendapatkan kutukan karena penyakit Lupus SLE saya ini, tetapi bagaimana mungkin saya bisa menganggap Tuhan sedang mengazab saya, sedangkan melalui penyakit saya ini saya bisa merasakan sakit dan penderitaan yang luarbiasa, berlatih banyak hal seperti sabar, disiplin, detachment/ketidakmelekatan, mencari makna hidup dan hal-hal lain yang malah mendekatkan saya kepadaNya, yang tidak akan saya dapatkan ketika saya masih dianggap  dalam situasi “sehat” dan “normal.”   

Betapa semua dari kita hari ini berfokus pada masalah seksualitas dalam kisah Nabi Luth. Memang terdapat benang merah antara keyakinan mayoritas dengan keyakinan minoritas tentang seksualitas itu, yaitu hikmah tentang kekerasan seksual yang terjadi pada zaman Nabi Luth. Isu yang harus sama-sama menjadi perhatian kita hari ini. Kekerasan seksual yang terjadi kepada semua jenis kelamin dan semua usia. Tetapi, lucunya, kita semua gagal bekerjasama karena dibatasi oleh tembok-tembok faham akan seksualitas kita dan semuanya bicara tentang melawan kezaliman, sambil menzalimi satu sama lain.   

Namun, ada tema lain, tema lain yang banyak dilupakan orang yaitu tentang budi pekerti, tentang adab kesantunan yang tidak dimiliki umat Luth terhadap tamu-tamunya, tentang persaudaraan dan tentang cinta kasih yang tidak perlu dikaitkan dengan seks dan seksualitas. Cerita cinta yang diangkat dalam kisah Luth yang terlalu sering dilupakan. Apakah mereka malaikat yang menyamar, atau justru sebaliknya karena keindahan mereka bagaikan malaikat, sepertinya tidak penting. Yang terpenting, bahwa mereka orang asing, musafir, dan tamu di rumah Luth dan Luth berusaha menjamu mereka sebaik-baiknya serta melindungi mereka pun sebaik-baiknya dari segala bentuk kekerasan.  Tema atau cerita ini tidak pernah menjadi perhatian kita karena dunia kita sepertinya sedang penuh dengan gaung “seks, seks, seks.” Keanggunan kita dalam masalah seksualitas adalah kedok belaka. Lihatlah hari ini, bagaimana budi pekerti dan adab kita kepada satu sama lain terutama kepada yang asing, yang berbeda, yang mengunjungi kita?   Sepertinya ini mengingatkan saya pada arti harafiah nama Nabi Luth sendiri dalam bahasa Ibrani, yaitu hijab. Dan, tampaknya apa yang diceritakan dalam Kitab Kejadian 19 telah terjadi kembali di zaman kita.

kupu kupu

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa sangat sedih harus berpisah dengan teman kencan saya itu. Suatu level kesedihan yang berbeda dengan ketika saya dulu harus berpisah dengan teman-teman kencan saya yang lain. Saya tidak bisa menggambarkannya. Saya hanya tiba-tiba merasa saya tidak akan bisa bertemu lagi dengannya dan duduk berdua membicarakan semua hal sambil melompat keluar dari tembok-tembok agama yang menghalangi kami – tanpa gaung “seks, seks, seks” itu. Saya terus-menerus dibayang-bayangi alarm kematian dari penyakit saya. Saya sedang mencintai seorang pria lain, yang tinggal berbatu-batu di seberang pulau yang yang jauh, yang tak lagi mau bicara dengan saya seperti teman kencan saya ini. Apakah airmata mengandung garam? Saya tak ingin berakhir menjadi seperti istri Luth, tentu saja. Namun, saya pulang, merebahkan diri saya dengan kaki saya yang nyaris lumpuh, dan seluruh tubuh yang sakit luarbiasa, lalu menangis sejadi-jadinya. @30 Juni – 3 Juli 2015

* Syarahan untuk Kitab Kejadian 19: 1-8 (Tentang Kisah Nabi Luth)

“Dalam perenungan ayat-ayat ini  dengan cinta kasih, betapa hati yang jahat tidak akan membimbing diri terhadap syahwat sehingga syahwat mendorongnya untuk melakukan kekerasan, buah terakhir dari segala kekerasan (yaitu kekerasan seksual) yakni perkosaan. Betapa banyak hal-hal yang agung dan beradab direduksi ke dalam nafsu birahi dan kekerasan, menenggelamkan iman sebagai debu-debu yang hina. Hati (kita) selalu membayangkan bahwa iman yang bersinar terang adalah kualitas dasar dan utama yang membedakan daripada segala kualitas akhlak yang bobrok. Akan tetapi, kemurnian “aku” tetaplah wujud Ketuhanan (yang ada dalam diri yang) melewati segala bentuk cara (untuk) melanggar hukum sebagaimana kehendak dan kebiasaan (banyak orang atau orang-orang lain pada umumnya).  Hamba meninggalkan perenungan yang penuh cintakasih dariMu ini dan menemukan bagaimana ilusi yang tidak menarik perhatian orang banyak ini (karena membosankan/rumit/melelahkan/dll) memenuhi hati yang kosong tanpa mengingatnya lagi. 

(Betapapun), hukum-hukum mengenai perkawinan selalu tegak berdiri dan keharusan bagi keramahtamahan untuk menolong setiap musafir (orang/tamu/orang asing) dalam perjalanan mereka itu tetap ada.  Semua saudara harus berbudi pekerti sebagaimana mereka seharusnya, tak peduli  tingkat kekuasaan mereka, derajat kekayaan mereka atau jam (masa/zaman) atau  pandangan (ruangan) tentang kejayaan-Mu saat itu. Keadaan spiritual (mistik/batin)mu tidaklah membebaskanmu dari menjalankan hukum Ilahi. Sebagaimana seorang mahaguru aljabar (matematika) tidak akan melepaskan (dasar matematika) yang semudah penjumlahan dua ditambah dua. Hamba membungkuk kepada etika bahkan dalam bangku tarekat sufi (persaudaraan mistik). Kekasihku, atap (dariMu) menghamparkan bayang-bayang akan (yang mana) teman dan (yang mana untuk diberi) jarak.

~ Shaykh Ali Haydar dalam kitab The Beloved and I: New Jubilees Version ~

(** Catatan Kedua)

The Sunlight Even Mingles with the Rain.

O my Beloved, the things we find to deal
A wall of separation and to seal
One party from another are all vain.
The sunlight even mingles with the rain.
Give me the patience, Lord, to save the sum
Of differences of faith till that day come
When You judge all, not by the things they think,
But by the things they say and do and drink!
And let me not be certain that day’s now,
Nor try to tell the others what and how.
That day is like a lightning and a flash,
It bursts upon the heart with thunder crash.
When everyone removes the mask and role,
Then there is nothing to divide the soul.***


gayaParsi3
Ada begitu banyak pertanyaan yang mencuat di beranda saya. Ada begitu banyak pernyataan mengemuka di beranda saya. Beberapa hari terakhir ini penuh dengan pertanyaan dan pernyataan berkaitan dengan perkawinan. Perkawinan beda agama. Perkawinan sejenis kelamin. Dua topik yang sedang jadi tema yang menarik untuk saya cermati. “Apakah Anda setuju?” atau “Apakah Anda menolak?”

Sebagai seorang Dekalogis, ini mudah saja bagi saya untuk menjawabnya. Kalau Anda meyakini bahwa perkawinan yang anda lakukan itu bukan zina, saya akan mengucapkan selamat dan mendoakan Anda. Saya tidak peduli keyakinan Anda apa – agama Anda, aliran Anda, atau sekte Anda, juga dari tradisi budaya mana Anda berasal.

Kalau Anda tidak setuju dengan perkawinan beda agama, beda etnis, beda ras, atau perkawinan sejenis kelamin, dan menganggapnya sebagai zina, saya akan mengatakan saya akan mengucapkan hal yang sama. saya akan mengucapkan selamat dan mendoakan Anda. Saya tidak peduli keyakinan Anda apa – agama Anda, aliran Anda, atau sekte Anda, juga dari tradisi budaya mana Anda berasal.

 “Saya telah bersumpah untuk selibat” kata yang lain. Ya, saya akan mengatakan hal yang sama kepada Anda. saya akan mengucapkan selamat dan mendoakan Anda, semoga Anda setia kepada sumpah Anda. Saya tidak peduli keyakinan Anda apa – agama Anda, aliran Anda, atau sekte Anda, juga dari tradisi budaya mana Anda berasal.

Anda tidak perlu tahu apakah saya menolak atau mendukung perkawinan heteroseksual atau homoseksual, dan menolak atau mendukung selibat. Yang pasti, sebagai Dekalogis saya hanya akan mendukung keyakinan yang menolak “Jangan Berzina” karena berzina adalah salah bagi Dekalogisme. Apa itu zina, itu saya kembalikan kepada keyakinan Anda masing-masing, dan bagaimana ia diaplikasikan tanpa melanggar sila-sila yang lain seperti: Apakah Anda melakukan kekerasan di dalamnya? Mencuri? Membunuh? Mengambil hak orang lain? Sebab sila-sila itu berkaitan dengan kemanusiaan, berkaitan dengan hubungan kita dengan sesama manusia dan perwujudan yang paling bisa dilihat dari hubungan kita dengan Tuhan.

Sedangkan pertanyaan semacam “Apakah sudah menerima sepenuhnya sila tauhid/Ketuhanan?” biarlah masing-masing diri yang menilainya, sebab hanya Tuhan pula yang bisa menilai hubungan kita denganNya.

Dan, tentu saja bisa jadi walaupun saya mengatakan hal yang sama kepada tiga atau empat perkara itu, bisa jadi keyakinan saya sebenarnya bertentangan dengan apa yang diyakini oleh kelompok yang saya ucapkan selamat dan saya doakan. Tidak perlu sama‘kan? Tidak perlu jadi homoseksual untuk menerima dan mencintai mereka bukan? Tidak perlu jadi heteroseksual untuk menerima dan mencintai heteroseksual bukan? Tidak perlu selibat untuk menerima dan mencintai mereka bukan? Bahkan jika Anda mengatakan zina itu oke-oke saja kok, saya toh tidak perlu mengasingkan dan mengucilkan Anda, cuma perlu mengatakan bagi saya itu salah, sebagaimana orang-orang yang tidak mengakui kekudusan Sabat, yang juga salah bagi saya, tapi saya tetap bisa menerima dan mencintai mereka sebagai makhluk-Nya — sebab itulah cara-cara bagi saya untuk mengaplikasikan Dekalog bagi diri saya sendiri.

AKULAH TUHAN.

Mendadak sekarang semua orang menjadi Tuhan, termasuk saya. (Eh, sepertinya tidak mendadak, tetapi sejak dulu begitu).

Sejak dulu, udara adalah udara. Apakah Adam menghirup udara yang berbeda dengan udara yang sekarang kita hirup? Apakah ia menghirup nitrogen lebih banyak daripada oksigen, ataukah karbondioksida, untuk tetap bisa bernafas dan hidup? Sejak dulu air adalah air – laut adalah laut, dan sungai adalah sungai. Apakah yang disebut tanah pada zaman Nuh berbeda dengan tanah pada zaman Muhammad? Apakah yang disebut api berbeda pada zaman Musa dengan Zaman Pencerahan? Saya percaya tidak. Akan tetapi, kita sama-sama, entah bagaimana, sependapat bahwa di dalam udara, air, api, dan tanah terjadi perubahan-perubahan atau dinamika, pergerakan terus-menerus, sehingga tumbuhan-tumbuhan menjadi begitu bervariasi, demikian pula dengan makhluk hidup lainnya. Itulah sebabnya saya menerima Dekalog (yang dikukuhkan dalam Qur’an surah 2:53) sebagai penerang bagi benar dan salah, tes litmus sederhana kalau kata teman sealiran dengan saya, dan lilin bagi seorang filsuf seperti saya untuk berjalan dalam kegelapan dan kerumitan (aih keren banget). Keberadaan udara, air, api dan tanah yang semacam itu menunjukkan bahwa intisari wahyu serta fondasi syariat dari segala syariat memiliki sifat yang sama. Pohon zaitun tumbuh subur di Mediterania, sedangkan di Nusantara berlimpah pohon kelapa dan di Afrika tumbuh subur pohon argan – kedua-duanya sama-sama menghasilkan minyak yang berguna untuk melembabkan kulit saya (kulit Anda juga?).

Saya menulis panjang lebar begini sebagai kelanjutan dari status saya sebelumnya yang berjudul “Jangan Berzina.” Seseorang menasehati saya bahwa sebaiknya memperingatkan orang lain agar tidak melakukan perbuatan menyimpang kaum Luth daripada mendukungnya. Yang lain, menulis bahwa homoseksualitas adalah penyakit, sedangkan yang lain menulis homoseksualitas adalah alamiah karena manusia bukan spesies satu-satunya yang melakukannya. Ada yang mengatakan bahwa pelaku LGBTIQ adalah serupa pengguna narkoba sehingga jangan ajak-ajak yang lain untuk ikut, dan yang lain bilang tunggu sebentar lagi bahwa perkawinan inses dan perkawinan anak di bawah umur akan dilegalkan. Teman-teman aktivis HAM dan pembela hak minoritas pun saya kira terpecah dalam menanggapi isu ini.

 Sepertinya ini tidak mudah. Namun, kalau saya bisa melihat bahwa dalam Dekalog ada tiga sila utama yang berkenaan dengan tauhid, dan bagaimana dunia bisa begitu terpecah-belah dalam menafsirkannya sehingga melahirkan ribuan agama, mazhab, sekte dan aliran, lalu satu sama lain saling membunuh untuk membuktikan kebenaran masing-masing, karena menganggap satu sama lain saling merusak akidah, maka apa lagi yang tidak mengejutkan dalam menanggapi sila-sila di bawahnya? Sebagian besar umat Islam bahkan menganggap bahwa kekudusan Sabat telah digantikan kepada kekudusan Jumat, yang di mana-mana pun dalam alQuran tidak saya temukan landasannya, bahkan lima atau enam ayat mengunggulkan kekudusan Sabat, maka saya bisa dengan berani mengatakan bahwa pendapat ini salah dalam pandangan saya – bahwa kemuliaan hari Jumat tidaklah mengubah kekudusan Sabat itu sendiri.

Melanggar Sabat (yang arti sesungguhnya konon yang terikat kepadanya) tidaklah kalah menyebabkan kerusakan yang sangat-sangat nyata di muka bumi ini. Lihatlah bagaimana manusia begitu sibuk mengeksploitasi tanpa menyisakan waktu sehari untuk mencari rahmat Allah (dalam pengertian yang sangat spiritual) sesudah sembahyang Jumat sebagaimana bunyi ayat alQur’an yang menyebutnya. Budaya kapitalisme saat ini, misalnya, jelas-jelas telah menyebabkan pelanggaran Sabat dianggap baik-baik saja, yakni rahmat Allah berarti rezeki dalam bentuk uang dan semacamnya.  Bahwa mengkuduskan Sabat itu harus seperti orang Farisi, Samaritan dan Saduki dari bani Israil, sudah dibantah oleh Isa al-Masih sendiri. Rasulullah juga telah mencontohkan hal yang sangat sederhana untuk mengukuhkannya. 

Namun untuk memaksakan “Ketuhanan saya” dalam memahami Sabat kepada sekalian umat manusia, saya bersyukur dilindungi oleh lilin penerang sila-sila berikutnya yaitu jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berdusta,  jangan mengambil hak orang lain, dll. Setidaknya saya tidak punya jemaat, umat, dan tidak memimpin apapun untuk mengangkat senjata atau menyerang atau menindas siapapun kecuali menindas diri saya sendiri sebagai anggota pondok yang saya hanya sendirian sebagai sang Kalandar kesepian (dan kurang kerjaan pula menulis ini panjang lebar padahal pasti hanya dibaca sambil lalu).

Dan…belum lagi, banyak yang memahami atau menafsirkan dharma “menghormati ibubapa” adalah ansich menghormati ibu dan bapak saja, tanpa melibatkan makna yang lebih jauh seperti persaudaraan, menghormati leluhur, nenek-moyang, sejarah, bangsa, dan termasuk menghormati anak cucu kita. Dan, ini pula sila yang agaknya paling menonjol dari masa ke masa yaitu “Jangan berzina” di mana ada yang memahami “wajib menikah”, atau “menikah itu harus yang seperti ini”, belum lagi tidak memaknainya lebih jauh seperti saling menghormati antara pasangan suami istri, menghormati cinta kasih, menjaga pandangan dan hati, dan seterusnya. Jadi, kalau hanya memahami dharma-dharma yang sederhana dalam Dekalog yang hanya 10 sila itu manusia bisa begitu beragam dan bisa saling membunuh, apatah lagi ayat-ayat tentang peristiwa Sodom dan Gomorah dalam kitab-kitab  itu. Masalahnya, kita tidak mau mencari benang merahnya (sebentar, “kita” itu siapa ya?) dari semua keberagaman itu. Ada yang menyebutnya “cinta kasih”, seperti kaum perennial, tetapi saya kira itu harus diperkuat dan dipertegas lagi, dan untuk itulah saya menggunakan Dekalog.

(A): dosa kaum Luth karena hubungan seks homoseksualitas

(B): dosa kaum Luth karena terjadi pemaksaan kehendak (perkosaan/sodomi) alias kekerasan termasuk kekerasan seksual – kekerasan/kekasaran terhadap tamu/sesama makhluk.  

(A) maupun (B) sama-sama menerima dharma “Jangan berzina”, sama-sama meyakini bahwa pemerkosaan, sodomi dan kekerasan apa pun itu termasuk kekerasan seksual itu salah.

Nah, jika logika ini tidak dapat digunakan karena misalnya

  • Tidak masalah jika berzina
  • Berzina itu salah
  • (A) bukan Tuhan tapi makhluk Tuhan; (B) juga bukan Tuhan dan masih makhluk Tuhan
  • Maka bagi keduanya masih ada sila-sila lain yang harus diamalkan untuk melindungi diri sendiri daripada melanggar dharma-dharma lainnya menurut keyakinan, agama, aliran dan kepercayaan masing-masing

Dan, saya menggaris bawahi “melindungi diri sendiri” berarti harus siap menerima pihak lain yang mempunyai keyakinan, agama, aliran, paham dan kepercayaan yang berbeda – yang siapa tahu di mata atau pandangan yang lain adalah sebagai perusak akidah, atau bahkan sekaligus perusak alam semesta. Karena, kalau bagi saya, jika saya sudah bisa menerima keberadaan orang-orang yang tidak percaya tauhid sebagaimana tauhid yang saya yakini, sesama saudara saya yang tidak mengakui kekudusan Sabat walaupun sama-sama menerima rukun Islam dan rukun Iman, bagaimana mungkin saya tidak bisa menerima keberadaan orang-orang yang menafsirkan sila “Jangan berzina” yang berbeda dengan yang saya yakini?  Saya harus sekonsisten air, udara, api dan tanah, dong. Salah adalah tetap salah – menurut yang paling mendasar itu – begitupun benar, ya benar . Seperti, “Iya, itu air, benar itu air. Tapi air yang kauminum itu air dari pabrik Aqua, sedangkan yang air kuminum itu air yang sudah di-KanGen-isasi. Dan, air yang mereka minum adalah air dari sungai itu…” Lalu Anda dan saya berseru, “Itu air tak layak minum, karena sungai kalian kotor!” [Padahal mereka sudah berabad-abad minum dari air sungai itu… ]

Terimakasih Tuhan sudah menjadikan saya tuhan setidaknya hari ini – syukurlah Engkau tidak bilang dalam Dekalog, “Jangan jadi aseksual” atau “Jangan mengambil duren di kebun orang” atau “Berdaganglah sekalian pada saat Sabat sebagai mendapatkan rahmatNya.” Well, sebab orang bodoh seperti saya ini akan mengira tidak boleh melakukan selibat, padahal menjanda atau menduda bisa jadi termasuk selibat, atau saya mengira duren yang di kebun orang itu adalah duda keren yang sudah punya pacar atau tunangan, atau saya yang kurang bakat dagang itu jadi terpaksa jualan batu akik juga deh… Sudah susah sekali menerimaMu sebagai “Akulah Tuhanmu” masih disuruh pula jualan pada waktu akhir pekan enak-enak leyeh-leyeh  dan  dilarang pula mendapatkan duren yang janur kuningnya belum dipasang… @_@#

*** Syarahan untuk AlQuran surah 7: 80-87 tentang kisah kaum Luth; The Beloved and I: New Jubilees Version

(** Catatan Pertama)

CINTA DAN SEKSUALITAS

Parsi stylePada Malam Jumat dan Malam Sabat lalu, dua orang sahabat pria saya masing-masing mengucapkan kata “cinta” kepada saya. Tetapi, jangan salah sangka! Seorang arif bistari berkata, mencintai memberimu keberanian, sedangkan dicintai memberimu kekuatan. Dan, betapa itu selalu benar terjadi dalam pengalaman hidup saya. Dengan kata-kata yang diikuti oleh pertolongan mereka kepada saya, saya merasa mendapatkan kekuatan saya untuk hidup dan bersemangat menjadi berlipat-lipat. Betapa kikirnya kita mengucapkan kata “cinta”, “kasih”, “sayang” dan puji-pujian kepada orang-orang yang kita cintai, yang kita kasii dan sayangi seperti pasangan, saudara, sahabat, guru, dan terutama kepada anak dan orangtua kita. Meskipun kita telah merasa telah melakukan perbuatan dan tindakan mencintai kepada mereka, tetapi kata-kata juga adalah kekuatan apabila dibarengi dengan perbuatan yang konkrit. Karena adakalanya perbuatan tidaklah cukup. Karena adakalanya kita melakukan kekerasan verbal yang menyakitkan atau melukai. 

Mengapa kita begitu kikir mengucapkan kata, “Ya, Cinta!” atau “I love you?”   Marylin Monroe pernah menulis beberapa hari sebelum dia bunuh diri (dari buku Baby Jim Aditya), memberi pesan kepada orangtua bahwa jangan pernah pelit untuk memuji anak-anak kalian… Hal ini berdasarkan pengalaman hidupnya yang tak pernah dipuji oleh ayahibunya, terutama sebagai anak perempuan oleh ayahnya. Akibatnya, dia mengaku karena itulah dia pergi dari pelukan pria ke pria lain demi mendapatkan pujian mereka… 

Alkisah, ketika Anne Boleyn disingkirkan dari istana yang nyaman, lalu difitnah berselingkuh, dan dihukum mati oleh Henry VIII karena sedang tergila-gila pada Jane Seymour, dia berkata, “Putrimu akan menjadi maharaja yang lebih hebat daripada engkau!” Kata-katanya menjadi kenyataan karena kemudian Elizabeth I menjadi maharani yang berhasil menguasai dan menjajah separuh dunia, meskipun dia seorang perempuan dan Henry VIII begitu berambisi mempunyai anak laki-laki sebagai penerusnya. 

Kata-kata juga adalah doa. Kata-kata juga adalah mantra. Nenek-nenek kita pernah berkata, jangan pernah memaki anak “Bodoh” atau kata-kata buruk lain karena itu bisa menjadi doa. Memang kata-kata saja tidaklah cukup, bahkan tidak ada artinya tanpa perbuatan konkrit untuk membuktikannya. Tetapi, perbuatan tidak harus selalu yang rumit dan berat untuk menunjukkan cinta, kasih dan sayang kita. Tidak harus dengan membeli, mengeluarkan uang banyak atau tenaga yang besar. Sebuah pelukan. Sebuah senyum. Sebuah “like” pada status facebook sahabat kita. Sebuah “emoticon” atau “sticker” pada whatsapp saudara kita. Tatapan yang hangat dan ramah. 

Alkisah, ada seorang perempuan yang menikah dengan seorang pelaut. Dia selalu lebih dulu mengucapkan kata cinta kepada suaminya sebelum suaminya pergi berlayar atau sesudah dia kembali dari pelayarannya. Kata-kata yang sering diucapkannya adalah kata-kata sederhana saja seperti, “Aku mencintaimu” sambil menatap mata suaminya dalam-dalam. Akan tetapi, sang suami tidak pernah lebih dulu mengucapkannya. Dia hanya membalasnya dengan ucapan yang sama, lalu ketika malam tiba sesampainya di kamar mereka setelah anak-anak  mereka terlelap, sang suami mengucapkan satu-satunya kalimat romantis, “Aku merindukanmu” untuk memulai hubungan intim suami-istri. Begitulah yang terjadi selama bertahun-tahun, sampai terjadi suatu peristiwa di mana ketika sang suami pergi berlayar lebih lama daripada biasanya, dan terjadi kerusuhan di kota mereka tinggal. Perempuan yang baik hati ini menolong tetangga-tetangganya yang mendapatkan masalah dan sering tak sanggup melihat penderitaan mereka karena dia tidak bisa banyak membantu, kecuali sedikit uang, sedikit pakaian atau sedikit hiburan dan saran. Ketika suaminya pulang, tidak berapa lama kemudian terjadi keributan di antara mereka oleh karena suatu hal yang sangat sepele. “Carikanlah malam ini juga selendang yang dihilangkan Carol (anak bungsu mereka) yang kaupakaikan padanya tadi,” pinta istrinya. Akan tetapi, sang suami tidak bergeming.  Dia memilih duduk mengobrol dengan kawan-kawan dan tetangga-tetangga prianya seperti biasa jika kembali dari pelayaran. “Aku akan duduk menunggumu di depan gereja. Di tempat tadi kau dan Carol pergi misa dengan selendang merah itu.” Namun, sang suami sama sekali tidak peduli sampai akhirnya pecahlah tangis istrinya di depan gereja, di mana pastor, suster dan para jemaat sedang tidak ada di sana, sampai seseorang mendapatinya di sana dan memberitahu kepadanya. Maka, dari situlah dimulailah segala keributan. Dan, perempuan itu mendapatkan tak hanya kekerasan verbal tapi juga kekerasan fisik.  Pada pelayaran-pelayaran berikutnya, perempuan itu tak pernah lagi mengucapkan kata “Aku mencintaimu”. Tak pernah lagi menatap mata suaminya. Dia hanya melakukan tugas dan kewajibannya, sebagai rutinitas belaka selama beberapa waktu, sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang hermit (pertapa) yang tidak beralas kaki, yang sudah sangat tua.  Kepada pertapa itu, dia memberikan sedikit makanan dan minuman, juga tempat bermalam di peternakannya. Ketika pertapa itu hendak pulang, pertapa itu berkata, “Terimakasih Anak Perempuanku. Aku mencintaimu.” Mendengar kata-kata itu, mengalirlah airmata perempuan itu teringat akan ayahnya yang masih hidup, yang begitu mencintainya, yang menggendongnya setiap saat ketika dia masih kanak-kanak, yang sering memeluknya dan menciumnya, menatap matanya dalam-dalam, lalu membisikkan kata “Aku mencintaimu, Putriku.” Tidak lama kemudian, perempuan itu jatuh sakit, berbaring berbulan-bulan, selama beberapa kali pelayaran suaminya, sampai akhirnya kedengaran oleh ayahnya khabar akan sakit putrinya itu. Ayahnya lalu datang, dan pergi membawa putrinya yang tiba-tiba menjadi sehat saat melihat ayahnya datang. Ayahnya yang begitu mencintainya tidak sanggup melihat penderitaan putrinya di situ. Maka, sebelum kembali ke rumah ayahnya, perempuan itu menuliskan sebuah surat untuk suaminya yang masih berada dalam pelayaran,”Apakah kaulupa kaulah yang telah memberikan padaku selendang merah itu,yang kaubeli dari kota tempat kita berencana untuk pergi berdua saja pada musim panas berikutnya?Jika saja kaudatang dan memelukku di depan gereja, walaupun kautak mengucapkan apapun, dan tak pula menemukan selendang merah itu,aku akan berhenti menangis dan tidak beranjak dari sini.”Hatta, ketika suaminya memutuskan pergi menjemput istrinya di rumah ayah mertuanya itu, perempuan itu telah meninggal dunia karena penyakitnya. Namun, dia meninggal dengan bahagia pada pangkuan ayahnya, yang memeluknya, sambil menatapnya dalam-dalam berkata, “Aku mencintaimu, Putriku.”

Dalam buku “Dari Cakalang Pampis sampai Cabe-cabean” Baby Jim Aditya dengan gamblang, vulgar, dan terang-benderang menceritakan tentang prilaku para pria, para suami dan atau para ayah yang menjijikkan, yang memperlakukan istri mereka seperti boneka atau pajangan belaka, yang membuang hajat mereka di tempat-tempat sampah, lalu menularkan penyakit kepada anggota keluarga mereka, atau “mewariskan” penyakit-penyakit lain kepada anak-anaknya – kepermisifan dalam urusan seks, seks bebas, pornografi, pelecehan dan kekerasan seksual. Ini bukan fenomena 2000an saja ketika sudah ada berbagai jenis gadget. Atau tahun 1990an ketika televisi menjadi candu. Baby Jim Aditya turun sendiri ke tempat-tempat tergelap dan terkotor, selain mendapatkan berbagai pengetahuan dari berbagai konseling yang ia lakukan kepada anak-anak yang dikirim orangtuanya. 

Hubungan atau relasi yang timpang dan tidak adil antara lelaki dengan perempuan, baik antara suami dengan istri, antara ayah dengan anak perempuannya, antara ibu dengan anak lelakinya, antara golongan lelaki dan golongan perempuan dalam suatu masyarakat, bangsa, umat dan negara, dan seterusnya, melahirkan pula banyak ketimpangan dan ketidakadilan lainnya yang tidak hanya dirasakan oleh kaum perempuan. Relasi dan fenomena dalam satu lalu banyak keluarga, yang ternyata begitu massif, begitu banyak semacam wabah yang menular, akan menyebabkan seluruh komunitas menjadi rapuh dan lemah.   

Seorang ibu yang juga guru berkata dalam acara bedah buku itu, “Apa yang kita tidak tahu belum tentu tidak terjadi.”

Apakah sang suami yang pelaut itu seorang yang setia? Yang tidak meniduri perempuan-perempuan di tempat persinggahan pelayarannya? Apakah istrinya hanya pelayan di ranjang dan ruang makan saja? Apakah perkawinan hanyalah urusan reproduksi dan rekreasi seksual semata? Apakah perkawinan harus dipertahankan hanya demi anak-anak belaka, ataukah definisi kesetiaan tidak termasuk hubungan seksual tanpa cinta di luar perkawinan?

Perempuan dalam cerita itu beruntung mempunyai sosok seorang ayah yang begitu mencintainya, tulus dan begitu memperhatikannya. Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika justru para ayahlah yang melahirkan para Marylin Monroe baru — yang merasa tak dicintai dan berakhir bunuh diri — atau melahirkan para ayah baru yang menduplikasi diri ayahnya itu? Atau bahkan para ayah yang melakukan inses, sodomi, dan seterusnya??? 

Zaman berkembang dan berubah begitu cepat… Apakah kita sudah up-to-date dengan pengetahuan seksual anak-anak kita? Apakah kita tahu bahwa tempat paling rawan dalam merusak, menyakiti atau melukai anak-anak kita justru adalah sekolah mereka dan rumah kita sendiri? Bahwa kita sebagai orang terdekatlah yang paling lebih dulu dan terutama melukai dan merusak mereka? Bahwa kita menyalahkan televisi, radio, internet, komik, majalah, atau tetangga kita, dan tak mau bercermin? 

Mengapa Emon, sang pelaku sodomi, malah dicintai dan dibela oleh anak-anak yang telah disodominya????

***

WordPress Post