Untuk Salmafina Sunan

Samafina Sunan

 

Dear Salmafina Sunan,

Saya tidak mengenalmu, melainkan berita tentang dirimu yang viral karena melepas hijab. Sebagai seorang penyintas autoimun yang kerap bergumul dengan masalah kulit, sebagai seorang yang pernah melalui suka duka rumah tangga selama kurang lebih 10 tahun, sebagai orang yang pernah berhijab selama lebih dari 17 tahun dan kemudian mengalami defisiensi vitamin D: saya mendukungmu sepenuh hati.

Pesan saya, semoga keputusanmu tidak lagi berhijab memiliki dampak positif bagi kemanusiaan dan lingkungan hidup. Pesan ini bukan hanya untukmu, tetapi juga untuk siapa saja yang bermaksud membuka hijabnya demi alasan apapun, terutama demi berbahagia, sehat dan nyaman.  Saya bersyukur bahwa engkau cukup muda sebelum engkau mengalami apa yang saya alami…

Saya telah hidup menjauh dan merusak alam habitat saya selama saya mengenakan hijab karena tunduk pada teks-teks, dan bukan tunduk pada Allah dengan sesungguhnya. Saya telah mengkonsumsi AC secara melampaui batas, saya mengkonsumsi produk-produk kesehatan dan kosmetik yang berbahaya, dst… Saya pun telah melecehkan kearifan para leluhur saya ketika mereka tetap memelihara pemakaian kemben di istana-istana mereka. Saya juga telah mengabaikan derita mereka yang tidak mampu secara ekonomi karena harus mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan alam tempat mereka harus hidup dan bekerja dengan nyaman, sehat dan bahagia. Saya telah mengingkari kebaikan matahari yang bermanfaat bagi kulit saya yang bermelanin (bukan kulit putih).

Ketika Nabi Muhammad saw berbicara sebagaimana direkam dalam Alquran mengenai hijab, dan para sahabat serta ahlulbait penerusnya menyampaikannya, mereka berbicara dalam keadaan dan situasi yang sama sekali berbeda, serta alam habitat yang tak sama dengan sebagian besar penduduk Indonesia saat ini hidup… Perintah Allah akan hijab bukanlah perintah universal untuk semua perempuan baik beriman maupun tak beriman, sebab Allah menciptakan begitu banyak keberagaman di alam raya, termasuk warna kulit, iklim dan cara kita melihat satu sama lain. Jika di dunia sebelah barat mereka memandang aurat sebagai menutupi sebagian tubuh, atau berfokus pada seksualitas, tubuh, bahkan kemudian kemerdekaan individu, kita di wilayah khatulistiwa ini diajarkan oleh para leluhur agar tunduk kepada alam tempat kita untuk kita kelola, rawat, dan syukuri. Inilah cara kita beriman, cara kita bertauhid, yang berusaha senantiasa berharmoni dengan alam dan memeliharanya, merawat kesehatan dan kekuatan tubuh kita dengan berkolaborasi dan berkompromi dengan alam habitat kita, serta mengasihi sesama manusia apapun kasta mereka dalam setiap pelayanan kemanusiaan kita.

 

Salam hangat dari saya.

Rahayu,
RA Gayatri WM

 

Penjajahan Busana Quote21

Advertisements

Panduan Rasis Berpakaian

Kolase Kemben

Dunia Barat dari alam habitat kita di Nusantara selalu menilai bagaimana perempuan berbusana dari sudut pandang tubuh dan seksualitas. Itu sebabnya baik Eropa maupun Persia dan Arab selalu menilai kesopanan dari cara berpakaian serba tertutup dan perempuan yang berbusana terbuka sebagai menarik secara seksualitas. Di kalangan mereka kini ada perang terbuka antara kebebasan individu dengan merayakan cara berbusana versus kebebasan beriman dengan menunjukkan identitas cara berbusana atau membuktikan kesalehan.

Kita di Nusantara terseret-seret oleh mereka semua. Perubahan cara berbusana kita telah terbukti menjauh dari alam tempat kita, dengan peningkatan konsumsi listrik oleh karena air-conditioner, produksi tekstil yang melampaui batas dengan limbahnya yang merusak lingkungan kita, konsumsi kosmetik dan berbagai produk suplemen yang berpotensi berbahaya bagi kesehatan, serta berbagai masalah dermatologis, termasuk bahkan menyebabkan meningkatnya defisiensi vitamin D di negeri tropis selalu berlimpah sinar mentari ini!

Saya berkemben bukan untuk memikat siapa pun secara seksualitas. Saya memiliki banyak luka bekas masalah kulit saya. Saya tidak seksi dan saya demiseksual. Saya penyintas SLE yang kerap menyerang mulut dan kulit saya sejak 2013. Saya tak peduli apa itu kebebasan individu merayakan bagaimana berbusana. Saya pun tak peduli apakah saya saleh atau tidak. Saya bukan tunduk pada teks-teks kitab suci yang merekam perintah Allah untuk situasi dan kondisi dan masa yang berbeda dengan alam, situasi, kondisi dan zaman saya hidup. Syariat bukanlah teks. Syariat adalah Instruksi Agung, yang karenanya dapat siapapun simak di kedalaman batinnya sendiri maupun di alam habitatnya hidup.

Tubuh saya telah dianugrahkan Allah bagi saya untuk saya rawat, sampai ajal memanggil, dan karenanya saya harus menyesuaikannya dengan segenap kebutuhannya berkolaborasi dengan alam tempat saya hidup. Betapa selama 18 tahun mungkin saya telah menyia-nyiakannya sehingga saya menderita sakit kronis berkepanjangan. Ini karena saya lebih tunduk pada teks-teks, dan bukan Instruksi Agung yang sejatinya mampu saya simak sendiri.

Dunia sebelah Barat itu memandang perempuan menari dalam kacamata seksualitas belaka, dan tubuh untuk dinikmati belaka. Tapi, kita di Nusantara menari untuk berbahagia, untuk beribadah, untuk bergerak olah tubuh maupun olah batin. Kita biasa bertelanjang dada, baik lelaki maupun perempuan, menikmati cahaya gratis dari Allah untuk vitamin D yang diperlukan sesuai warna kulit kita yang penuh melanin. Lalu, mereka bilang kita primitif, padahal saat bertelanjang dada satu sama lain leluhur kita tak khawatir akan pelecehan seksual. Betapa rasisnya mereka! Betapa rasisnya panduan-panduan berpakaian dari sebelah Barat dunia kita itu!

Sementara itu, karena perubahan cara busana kitalah, kita akhirnya menderita berbagai penyakit, baik sakit tubuh, maupun sakit mental, sosial, dan sakit nurani: kehilangan empati kepada yang tak mampu, dan tak peduli pada alam tempat kita hidup.

Apakah ini yang diinginkan Allah? Yang menganugrahi tubuh kepada kita dan alam apa adanya seperti ini? Yang mengharapkan kita mengasihi sesama makhluk hidup-Nya dan memberi amanah kepada kita sebagai manajer-Nya di muka bumi ini?

Rahayu,
RA Gayatri WM

Tentang Fenomena Artis “Hijrah”

Dunia selebritis kita hari-hari belakangan ini diramaikan oleh berita yang disebut sebagai para artis yang “berhijrah”. Mulai dari Teuku Wisnu, Arie Untung sampai Dude Herlino. Sementara itu, para perempuannya mulai berhijab. Mulai dari Melly Goeslaw, Dewi Sandra, sampai Tantri Kotak.
—-

Ibu saya mempekerjakan kembali pembantunya, hampir seusia dengannya, setelah perempuan ini kembali dari umrah dan pembantu penggantinya cuti melahirkan. Hasil menabung 20 tahun lebih. Sebut saja namanya Mpok Yanti. Ia perempuan buta huruf. Namun, ia sangat bersemangat belajar mengaji. Setiap hari ia selalu mengikuti pengajian.

Saya selalu mengandalkannya dalam hal memijat dan membuatkan ramuan herbal. Ya, ia memang tukang urut juga.

Awal mula ia pulang dari umrah, Mpok Yanti yang semula hanya mengenakan penutup kepala seperti ciput, selalu mengenakan pakaian seperti Mamah Dedeh.

Saya sebenarnya merasa kasihan dengan cara berpakaiannya bilamana harus bekerja. Jika ayah kami di kamar, dia baru membuka kerudungnya, hanya mengenakan ciput, dengan kaos berlengan pendek.

Mpok Yanti bukan pembantu kami satu-satunya yang begitu. Dulu pembantu ibu kami juga hanya berkerudung jika keluar. Pembantu yang biasa merawat saya, Mbak Mita, hanya terpaksa berhijab jika mengantar putri kecilnya ke TPA. Rumahnya hanya seluas sepetak, sangat sesak dan sempit. Dia tak pernah tahan berhijab dan bergamis. Di mobil pun dilepaskannya. Dia memang cukup gemuk.


Apakah itu sebenarnya “hijrah”?

Jikalau mengacu pada riwayat Muhammad SAW, secara sederhana hijrah ialah mengungsi meninggalkan negeri yang tidak nyaman, negeri yang melakukan persekusi dan semacamnya, atau negeri yang mengalami bencana, ke negeri baru untuk hidup di tempat yang lebih nyaman, damai, dan baik, demi bekerja dan hidup lebih baik, bahagia dan lebih sehat.

Jika para artis yang saya sebut itu harus hidup seperti Mpok Yanti atau Mbak Mita, saya tidak yakin mereka akan tahan harus hidup dan bekerja tanpa kenyamanan semacam AC, kain yang nyaman di kulit, serta produk-produk kosmetik dan kesehatan yang dapat membantu aktivitas mereka.
Saya tidak yakin Melly Goeslaw, Inneke Koesherawati, Shireen Sungkar, Dewi Sandra, bahkan Mamah Dedeh, Umi Pipik, Oki Setiana Dewi, dan masih banyak lagi perempuan dengan hijab dan gaun yang indah, bahkan mungkin berlapis-lapis, sanggup hidup dalam gaya busana mereka bilamana harus hidup dan bekerja dan tinggal di rumah seadanya, seperti Mpok Yanti dan Mbak Mita.

Pun, saya tak yakin mereka akan sanggup mempertahankannya bilamana mereka menderita berbagai penyakit kulit, apalagi sakit kulit seperti saya.
—-

Keistimewaan dari para pendakwah ajaran Muhammad pada masa lalu ialah mereka paham benar apa itu makna ikhlas dan tunduk kepada Allah. Yaitu, termasuk ikhlas dan tunduk kepada Alam, yang diciptakan Allah. Itu sebabnya, di keraton-keraton Islam, kemben masih digunakan.

Para raja menetapkan bahwa perempuan harus berkemben di tempat-tempat tertentu. Ini bukan berarti bertentangan dengan ayat Alquran tentang hijab. Perintah itu ada bukan untuk semua keadaan, semua tempat dan semua waktu.
Kita tidak membutuhkan kipas listrik maupun AC jika berkemben atau menggunakan daster.

Bilamana lelaki maupun perempuan di tengah-tengah suasana sangat hangat dan sangat lembab mengenakan kain seperlunya, mereka akan memperoleh kekuatan yang dibutuhkan untuk bekerja dan beraktivitas. Mereka menyatu dengan alam ciptaan Allah dengan cara ini.

Nenek moyang kita juga tentu mengerti pentingnya sinar mentari bagi tubuh kita, selain juga air yang bersih dan makanan yang baik.

Tak hanya itu. Sebenarnya kita telah diajarkan cara menghadapi nyamuk, kutu, jamur, ketombe, keringat dan berbagai masalah sehari-hari yang harus kita hadapi di negeri tropis ini dengan cara-cara alami oleh para leluhur kita. Bukan dengan produk-produk impor yang bahan bakunya tak tersedia di alam kita, maupun dengan teknologi yang dapat merusak alam itu sendiri.

—-
Saya menulis ini karena saya sendiri sejak kecil tidak pernah tahan kepanasan. Saya juga mengalami bertahun-tahun sebagai hijaber dari kelas menengah yang cukup mampu, bilamana tak berkipas listrik, ya menggunakan AC.

Saya telah menjauh dari alam ketika saya mengira saya telah memenuhi syariat Allah dengan berhijab setiap waktu di publik di depan non-mahram. Tapi, jika di rumah, mana tahan, saya selalu berdaster atau berkaos jika harus bekerja. Jika listrik mati, saya bisa mengeluh tiada habisnya.

Namun, sekarang saya sudah insyaf.

Saya sudah menerima hidayah dari Allah, bahwa kesembuhan saya hanya dapat diperoleh dengan perantara kebaikan alam dan perantara kebaikan sesama manusia.

Bagi orang-orang Arab, Iran, dan Eropa, misalnya, mengenakan pakaian terbuka selalu dikaitkan dengan seksualitas. Ada pula yang mengaitkan dengan identitas, kemerdekaan tubuh, dan status.

Namun, di Nusantara, sebenarnya hal ini justru semata-mata terkait dengan kepasrahan dan ketundukan kita kepada Alam ciptaan Allah kepada kita. Kita terbiasa mengenakan pakaian terbuka saat cuaca panas, dan menutup tubuh kita saat kedinginan. Kita tidak mengenakan kerudung sepanjang waktu karena resiko ketombe dan kutu, yang mungkin tak ada di negeri-negeri dengan suhu panas dan kering.

Bagaimana nenek moyang kita dalam memandang kecantikan dan seksualitas sebenarnya sangat sederhana, sebelum Hinduisme-Buddhisme, Islam dan Kekristenan menjadi bagian dari kita.

Tradisi yang ada bukanlah untuk dibenturkan dengan agama apapun, sebab agama pun berasal dari tradisi, dan tradisi pula yang mewarnai suatu agama, dan tradisi selalu terkait dengan habitat atau alam tempat seseorang tinggal. Para darwis Sufi di Turki menggenakan baju wol, karena sesuai dengan habitat mereka, tetapi di sini itu justru membahayakan kesehatan bilamana berbaju wol dalam cuaca hangat dan lembab.

Jika Bunda Maria, Bunda Khadijah dan Bunda Fatimah hidup di Nusantara 2000-1400 tahun lalu, demi Allah, saya yakin mereka akan berkemben, dan pada saat ini, mereka akan berdaster tanpa hijab, saat cuaca sangat hangat dan sangat lembab. InsyaAllah, mereka akan melakukan hal yang sama dengan saya saat berjemur matahari pagi, mengenakan kemben, daster atau pakaian seterbuka mungkin, demi bersyukur pada Allah, untuk tetap sehat dan dapat beraktivitas bagi kehidupan sehari-hari (dan bagi kemanusiaan).

Apakah Alquran dan ajaran Muhammad hanya untuk kaum kelas menengah (ke atas)?

Bukankah Islam adalah tentang kepasrahan dan ketundukan sepenuhnya kepada Allah?

Rahayu,
RA Gayatri WM.

TENTANG PENJAJAHAN BUSANA OLEH MUSLIM

Tidak sedikit Muslim pada hari ini yang mempertentangkan tradisi atau budaya dengan agama Islam. Dalam hal ini, khususnya mempertentangkan cara berbusana antara tradisi versus agama.

Cara pandang semacam ini amatlah menyedihkan sebab ISLAM sebagai “din” bukanlah suatu Jalan Hidup untuk orang-orang Arab dan Persia saja, bukan untuk orang-orang kelas menengah saja, dan bukan untuk orang-orang dengan keadaan tubuh normal saja.

Tradisi berbusana ada di suatu tempat berkaitan dengan ketersediaan bahan produksi sandang, keadaan geografis, iklim maupun cuaca, serta keperluan pekerjaan, dan lain sebagainya yang terkait dengan bagaimana kita dapat menjalani kehidupan kita sehari-hari. Bilamana ia kemudian menjadi suatu penanda status, alat politik, simbol agama, dan lain-lain semacamnya, bukanlah hal yang akan saya bahas.

Saya akan berfokus pada fakta kehidupan sehari-hari manusia yang perlu bekerja dan hidup dengan sehat, nyaman, dan bahagia.

Banyak dari kita lupa bahwa begitu tradisi kita berubah oleh karena imperialisme atau penjajahan, maka mulailah timbul banyak masalah (kesehatan).

Sebagai contoh, kita memiliki kebiasaan makan sagu, ubi, lalu nasi oleh karena kita bisa menanamnya di tempat kita. Semula kita tidak memiliki kebiasaan minum susu sapi dan kita tidak mungkin mengenakan pakaian dari wol di tempat yang sangat hangat dan lembab. Negeri kita memiliki sungai yang melimpah, sementara di pulau-pulau yang gersang mereka memiliki caranya sendiri menampung sumber air. Tebu adalah tanaman asli kita. Kemudian, era penjajahan memperkenalkan kita pada makanan seperti roti dari gandum, susu sapi, dan pakaian berbahan tebal.

Pada satu periode kemudian, kita baru menyadari akhirnya ada banyak orang mengalami berbagai jenis alergi. Oleh karena gaya hidup yang berubah pula, kita mengkonsumsi nasi dan tebu dengan cara yang keliru, tidak seperti nenek moyang kita, sehingga berimbas bagi kesehatan kita.

Dalam hal berbusana, adalah fakta bahwa dalam kehidupan sehari-hari bagi mereka yang bekerja dan hidup di ruang-ruang tertutup tanpa bermesin pendingin maupun tanpa kipas listrik, busana “impor” bergaya Arab, Persia maupun Eropa tidaklah nyaman dikenakan sepanjang waktu. Keringat, bau, dan berbagai penyakit kulit pun menghampiri.

Jika Muhammad datang ke tengah-tengah kita hari ini, saya tidak yakin beliau akan menyarankan semua perempuan Indonesia mengenakan hijab apalagi berbaju gamis, berkaos kaki dan bahkan berniqab — sepanjang waktu, dan setiap berjumpa non-mahram.

Muhammad akan terenyuh sedih melihat gubuk-gubuk dan rumah-rumah petak yang pengap, panas dan lembab dimana para perempuan hidup dan bertungkus lumus bekerja entah mengurus anak, memasak, atau yang lainnya. Atau, beliau kehilangan kata-kata manakala melihat bagaimana mereka bekerja sebagai pembantu, buruh, dan lain sebagainya sementara kepanasan, dan seterusnya, malah menderita berbagai masalah kulit….

Muhammad akan terkejut mengetahui tingginya tingkat defisiensi vitamin D di negeri tropis ini. Hal yang seharusnya tidak terjadi di negeri berlimpah sinar mentari dari Allah Yang Maha Pemurah. Akhir-akhir ini bukan hanya terjadi karena hidup harus mengharuskan lebih banyak di rumah, tetapi juga saat beraktivitas di luar, kulit selalu terbungkus rapat (baik lelaki maupun perempuan). Entah karena berbusana sesuai yang diyakininya, karena takut hitam, takut radiasi, takut kanker kulit, dan lain-lain. Tapi, beliau pasti sedih jika namanya dan ajarannya menjadi sebab peningkatan defisiensi vitamin D di negeri ini.

Muhammad akan miris melihat para perempuan dari kelas menengah mengenakan pakaian yang konon beliau sampaikan dalam Alquran, sementara rumah, kantor dan mobil mereka tersedia lengkap AC atau kipas listrik yang nyaman. Jika listrik mati, atau segala kenyamanan itu tidak tersedia, para perempuan tersebut akankah mampu bertahan hidup, bekerja dan beraktivitas dengan pakaian yang ia pandang sesuai ajaran beliau sepanjang waktu, tanpa mengeluh?

Muhammad akan menyaksikan betapa bahagianya para perempuan dengan daster mereka, atau para nenek dengan kemben mereka, bekerja dan beraktivitas meski tanpa AC, kipas atau listrik tersedia di dalam ruangan.

Muhammad akan miris mengetahui penjualan berbagai jenis kosmetik mulai dari shampo, sabun, pelembab, sampai suplemen dan obat kesehatan kulit demi agar perempuan-perempuan (kelas menengah) itu mampu bertahan dengan pakaian yang mereka pandang diperintahkan oleh Allah melalui kata-kata beliau.

Muhammad tentu saja akan memeluk saya, dan meneteskan airmata, melihat kulit saya yang beberapa bulan terakhir sangat menderita. Jangankan mengenakan pakaian yang seperti mereka itu, mengenakan pakaian sehari-hari saja, amat menyakitkan buat saya. Muhammad pasti akan membelikan saya rok pendek yang nyaman dari kain batik supaya jika saya bepergian tidak akan menyulitkan gerak saya terutama saat masuk toilet. Muhammad akan meminta Khadijah menyanggul rambut saya, dan menyalepi kepala serta kulit leher saya. Mereka akan meminta saya untuk tekun berjemur matahari pagi tanpa menutup rambut maupun lengan dan betis saya, supaya tidak jatuh sakit terpuruk lagi. Khadijah akan memakaikan kemben nyaman untuk saya, dan berkata, “Kamu cantik, Gayatri.”

Muhammad dan Khadijah yang saya kenal dari Alquran maupun hadis-hadis bukanlah penjajah budaya, bukanlah pengingkar kebaikan alam yang menyediakan air, matahari, udara, dan keanekaragaman hayati yang berbeda-beda di tiap negara.

Mereka tidak mungkin akan menganjurkan orang merusak alam dengan konsumsi listrik dan AC berlebihan; membiarkan orang-orang kekurangan bahkan defisiensi vitamin D; dan membiarkan orang-orang kelas menengah ke bawah menderita berbagai penyakit kulit karena harus berjuang dengan peluh, kutu, jamur, ketombe, bau busuk, dan sebagainya, dalam busana yang disebut “menutup aurat sesuai Alquran dan sunnah” itu.

Penjajahan busana dari orang-orang Eropa adalah masalah global di seluruh dunia sejak era kolonialisme. Tetapi, sekarang yang menjadi makin mengerikan buat saya dan banyak lainnya, adalah penjajahan busana oleh orang-orang yang mengatakan, “Inilah ajaran agama Islam yang benar.”

Berbusana apa pun tentu saja merupakan hak kebebasan individu. Setiap individu juga punya hak untuk memahami bagaimana Allah bermaksud dalam setiap firman-firman-Nya.

Oleh karena itu, memaksakan individu lain, baik dengan cara halus dan terselubung, maupun dengan cara terang-terangan, untuk mengenakan busana sesuai apa yang kita yakini benar dan layak, justru bertentangan dengan bagaimana Allah telah menciptakan dunia ini dalam segala keanekaragamannya.

Oleh karena itu, siapa pun yang menerima ajaran Muhammad, baik mengenakan kemben atau gamis, daster tanpa hijab atau abaya dengan chador, berniqab maupun bersanggul, ke sawah memakai baju lengan panjang dan bertopi tapi betis terbuka, naik motor bermasker maupun naik mobil tanpa AC dengan menggerai rambut sebab kegerahan, dan lain sebagainya, mereka semua tidak layak untuk dibeda-bedakan dalam hal keimanan dan ketakwaan hanya karena selembar kain. Keimanan dan ketakwaan ialah tentang BERBUAT BAIK bagi KEMANUSIAAN, tanpa memandang agama, suku, ras, warna kulit, bangsa, gender, ideologi politik, dan lain-lainnya.

ISLAM yang diajarkan Muhammad bukanlah Jalan Hidup tekstil, garmen dan fashion. Bahkan meskipun Alquran menganjurkan melabuhkan jilbab pada masa dan saat itu, ia tidak dimaksudkan untuk membuat para perempuan di belahan lain dunia Arab jadi harus menderita dengan cara apapun.

Insyaflah dari mengingkari ketetapan Allah di muka bumi akan keragaman cuaca, iklim, suhu, flora, fauna, mineral, dan lain-lainnya!

Hijrah adalah mengungsi meninggalkan negeri yang penuh derita, siksa dan persekusi, ke negeri yang lebih damai, nyaman dan membahagiakan untuk hidup, bekerja dan beraktivitas. Hijrah bukanlah untuk menambah derita, menyiksa bahkan mempersekusi yang lainnya – dalam bentuk apa pun.

Saya, Gayatri Wedotami Muthari, dalam nama Muhammad, Khadijah, Ali dan Fatimah, bersama siapapun Anda yang memutuskan berhijrah membuka hijab Anda, baik karena sakit, disabilitas, tidak punya uang untuk hidup dalam ruangan berAC, tinggal di gubuk atau rumah tanpa listrik, ingin merasa nyaman dan bahagia saat bekerja dan beraktivitas, maupun hal-hal lain sebagainya.

Allah, Muhammad, Khadijah, Ali, Fatimah dan segenap ahlulbait mencintai kita semua bukan karena busana kita.

Rahayu,
RA Gayatri WM

Berlogika Tentang Hijab dan Tidak Berhijab

Manfaat dan Tidak Bermanfaatnya Menggunakan Hijab: Mengolah Akal Budi, serta Menjadi Pohon Mangga dan Terumbu Karang.

Berikut ialah beberapa alasan memakai hijab (Jilbab/Niqab/Burqa/Chador/Kerudung/dan sejenis).
1. Merupakan perintah Allah yang tidak bisa diubah-ubah atau ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu, wajib pula bagi menaatinya.

Jawab: Yang menyampaikan perintah Allah adalah manusia dan dicatat di atas kertas oleh manusia, serta penerima perintahnya 1400 tahun lalu. Bahasa yang dituturkan oleh penerimanya sudah punah. Yang tercatat dan sampai kepada kita hari ini, di tangan kita hari ini, bukan bahasa sang penerima wahyu. Jadi, semua catatan itu bisa memiliki makna yang berbeda dengan makna kata-kata yang disampaikan sang penerima wahyu saat itu, dan segala tafsir tentang kata-kata itu merupakan spekulasi manusia sesudah beliau wafat — terutama kita hari ini yang sudah hidup 1400 tahun sesudah beliau, tak pernah bertemu beliau, dan tak bisa membuktikan maksud kata-kata yang tercatat dalam Alquran ialah sama seperti makna dan tafsir yang kita pahami selama ini.

Oleh karena hanya spekulasi kita, jika dimaknai X, dan ditafsirkan ABC, maka menerimanya atau tidak menerimanya ialah pada posisi yang sama dan setara. Bisa jadi yang menerimanya menaati perintah Allah, dan bisa pula tidak menaati perintah Allah melainkan hanya menaati makna X dan tafsir ABC yang diyakininya benar (will of believe). Begitu pun sebaliknya.

2. Menutupi bagian tubuh yang memikat lelaki. Entah payudara yang sebesar payudara Dolly Parton, paha semulus selebritis Korea Black Pink, bibir seseksi Angelina Jolie, rambut emas seindah Julia Robert, tubuh seelok seperti Gal Gadot, rupa secantik Raisa, atau penampilan seeksotis Anggun,

Jawab: Anda boleh menutupi rumah mewah Anda rapat-rapat. Pasanglah CCTV di mana-mana. Buatlah gembok yang canggih, letakkan harta di bawah bunker dan dalam lemari besi. Tetapi, maling akan selalu mencari cara untuk memperoleh harta benda Anda. Malah, bisa jadi maling ialah satpam atau pengawal di rumah Anda sendiri.

Bagaimana Anda bersikap di hadapan pria, biarlah meletakkan diri Anda sejajar dan setara dengannya. Bagaimana pun pria melecehkan atau melakukan kekerasan pada Anda, karena Anda tak mampu mencegah atau melawannya, itu bukan salah Anda. Ingatlah, Anda tak akan pernah mampu mengendalikan pikiran mesum lelaki (atau perempuan lesbian) yang tertarik pada Anda. Kehormatan Anda ada pada diri Anda sendiri sebagai seorang manusia yang merdeka, berakal budi dan sama-sama dapat mengambil keputusan bagi menjalani hidup Anda.

3. Memuliakan Perempuan.
Jawab: Memuliakan dengan selembar kain? Memuliakan perempuan ialah dengan memberikan kesetaraan kepadanya dengan lelaki, yaitu kesempatan dan akses dalam pelbagai bidang dan aspek. Baik itu akses pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, keagamaan, olahraga, seni, budaya, pertahanan dan keamanan, sains, teknologi maupun dalam ruang lingkup domestik, atau keluarga dan seksualitas.

Jika ingin memuliakan perempuan dengan selembar kain, baiklah berikan pakaian yang sehat dan nyaman bagi kulitnya. Bagi para pengusaha garmen dan tekstil baiklah menghasilkan produk secara aman bagi lingkungan dan pemakainya serta menyejahterakan buruhnya dan tidak mempekerjakan anak-anak,. Baiklah jika ingin bergaya dan bergengsi, berikan hasil kain produksi tangan para pengrajin seperti para penenun di pedalaman, pembatik atau pembuat songket yang hidup memberi makan anak-anaknya dengan pembelian Anda. Dalam industri busana, ingatlah, baik pengrajin tradisional maupun perusahaan modern, buruh-buruh perempuan hidup bertungkus lumus demi selembar kain yang Anda atau istri Anda atau kekasih atau anak perempuan Anda kenakan.

—–
Berikut ialah beberapa alasan konkret memakai hijab.
1. Saat musim dingin;
2. Saat terik matahari menyengat.;
3. Menutupi kekurangan / bekas luka / cacat pada tubuh;
4. Mengikuti fashion / supaya dibilang dan dianggap cantik.
5. Supaya tidak dibuli / dihujat / dikritik / didakwahi teman atau tetangga atau keluarga / menyenangkan orang lain atau teman dan keluarga
6. Supaya dianggap solehah / perempuan baik-baik / dianggap menaati perintah Tuhan;
7. Karena berjualan busana “Muslim”.
8. Mencegah dari kotor karena debu di jalan atau debu di gurun, atau supaya tidak digigit nyamuk, dan semacamnya.
9. Sebagai busana kekinian (fashion masa kini).atau gaya busana sesuai selera/minat pribadi, atau memelihara adat istiadat (misalnya orang Arab dan Persia).
10. Untuk menyamar (baik dengan hijab labuh, chador, niqab maupun burqa).

——
Berikut ialah beberapa hal tentang hijab dan niqab.
1. Pada masa Yehuda bin Yakub, para pelacur mengenakan niqab atau chador sebagai penanda dirinya seorang pelacur.

2. Sudah terdapat banyak kasus perkosaan dimana korbannya mengenakan hijab lengkap tertutup, dan pelakunya ialah ayah, kakek, suami, saudara, bos, induk semang, guru, teman, pacar, atau orang-orang terdekat korban,.Jumlah pelecehan seksual jauh lebih banyak lagi. Saya masih kerap diraba-raba payudara saya oleh pria asing saat naik angkutan umum meski hijab saya sangat panjang!

3. Pada masa sesudah Musa, perempuan menikah secara umum dianjurkan berhijab. Bilamana ia dituduh berzinah dari suaminya, ia harus melalui suatu ritual, dimana ritual itu termasuk membuka hijabnya.

4. Menutup kepala ialah warisan adat dari Hukum Musaik, sedangkan melabuhkan pakaian kepala (seperti hijab dan chador) merupakan warisan Persia dan Kekristenan. Dalam hal ini, pada adat istiadat Persia, oleh karena antara lain kain ialah simbol kemakmuran, sedangkan dalam Kekristenan perdana, penggunaan hijab atau chador ialah dalam peribadatan sebagai sunnah Paulus.

5. Gaya busana apapun dapat menunjukkan kelas sosial. Mengenakan busana Muslim yang dibeli dari butik semacam butik Anisa Hasibuan yang mahal hanya karena label atau merknya, sesungguhnya hanya menunjukkan bahwa busana “Muslim” juga suatu fashion atau gaya busana, karenanya merupakan komoditas atau pasar yang menarik oleh karena adanya permintaan. Baik busana yang dituduh tidak religius dan kebarat-baratan, maupun busana yang dianggap religius dan sesuai budaya Timur, dua-duanya memiliki pangsa pasar yang menggiurkan.
—–

Berikut ialah beberapa alasan mengapa hijab tidak untuk setiap waktu pada setiap pertemuan dengan non-mahram dan di ruang publik.

1. Fotosintesis! Hampir 90 persen vitamin D, yang sebenarnya sejenis hormon, diperoleh dari paparan sinar matahari yang cukup sesuai warna kulit, untuk diproduksi oleh kulit dan diolah tubuh dan didistribusikan sebagai vitamin D3. Hanya sekitar 10 persen diperoleh melalui makanan, minuman, dan konsumsi lainnya. Pada umumnya, sejak lahir manusia telah kekurangan vitamin D, apalagi dilahirkan dari ibu yang telah kekurangan vitamin D.

2. Mencermati nomer 1.
Tidak semua perempuan hidup dengan situasi, kondisi dan kebutuhan hidup yang sama.

a) Ada yang harus bekerja sepanjang hari di ruangan seperti para tenaga medis, PRT, atau ibu rumah tangga sehingga jarang mendapat sinar matahari. Jadi, bila demikian, saat memiliki kesempatan di ruang terbuka, berikan sebanyak mungkin area kulit untuk menyimpan vitamin D. Warna kulit amat menentukan. Tipe 4-5 (semakin gelap/bermelanin) harus lebih lama daripada tipe 1-3, misalnya.

(b) Tidak semua orang memiliki rumah dengan halaman terbuka privat. Adalah tidak praktis atau “merendahkan wanita” bilamana untuk mengatur kewajiban hijab di ruang publik kemudian diatur adanya kolam renang, pantai, halaman, alun-alun dan sungai khusus untuk perempuan agar mereka bisa berjemur secukupnya.

3. Beberapa pekerjaan atau profesi tidak cocok berhijab dengan gaya busana syari’e sebagaimana masa kini. Misalnya, petani yang bekerja di lumpur bercocok tanam harus bergamis, berkaos kaki, bahkan bersarung tangan.

4. Tidak semua habitat cukup nyaman berhijab terutama bergamis syar’i apalagi yang berlapis-lapis. Misalnya, habitat dengan iklim hangat dan lembab.

Mencermati no 4:
(a) Tidak semua orang tinggal di rumah yang nyaman.
(b) Tidak semua orang mampu membeli AC atau kipas angin listrik.

5. Terkait no 4. Tidak semua orang memiliki kulit yang nyaman mengenakan pakaian panjang. Bahkan beberapa orang mengenakan busana saja sudah kesakitan. Jadi, ada banyak orang dengan keterbatasan fisik yang tak memungkinkan baginya berhijab.

6. Tidak semua orang mampu membeli pakaian gamis dan hijab syar’i yang nyaman dan aman bagi kesehatan kulitnya dan yang sesuai dengan habitatnya.

7. Mencermati no 6. Pakaian “Muslim” jauh lebih banyak membutuhkan tenaga dan deterjen saat mencucinya. Dibutuhkan banyak pakaian untuk diganti saat berkeringat banyak. Tidak semua orang mampu membeli mesin cuci (yang baik) dan memiliki cukup waktu untuk melakukannya sendiri (karena ia bekerja atau punya banyak anak dan semacamnya). Tidak semua orang mampu membeli deterjen yang aman pula. Atau, mampu menggunakan jasa binatu. Dst.

Jika tidak cukup banyak, cukup diganti, dan cukup bersih pakaian kita, yang serba tertutup, dan dalam keadaan lembab, maka dapat menyebabkan berbagai masalah kulit. Bau busuk dapat memberikan rasa tidak nyaman bagi orang lain, apalagi jika sengaja karena dianggap haram berparfum. Beberapa orang menderita penyakit dalam yang menyebabkan tubuhnya mudah berbau busuk, Apakah ini rahmat bagi sesama?

8. Bagi orang yang harus bepergian, dan memiliki keterbatasan fisik, pakaian Muslim syar’i bukan hanya akan mempersulitnya. (Misalnya, saat harus masuk ke WC jongkok di pedesaan pedalaman). Ini juga memberatkan koper atau tas ranselnya. Model hijab teringkas ialah model para biarawati Katholik yang tidak terlalu panjang gaunnya dan lengannya, juga tudungnya cukup ringkas.

9. Penggunaan niqab dan burqa tidak memberi rasa nyaman bagi orang-orang asing di sekitarnya di ruang publik khususnya di ruang publik sepi, karena ia tidak dapat dikenali dan diidentifikasi.

10. Jika di Iran atau di Arab Saudi perempuan diwajibkan berkerudung di ruang publik, dan kita membenarkan apa yang mereka atur sebagai hukum di negara mereka, mengapa jika di negara-negara lain mengatur perempuan di ruang publik tidak boleh berhijab apalagi tidak boleh bercadar kita murka dan menentangnya? Bukankah seharusnya semua bangsa, semua negara, semua penganut agama, semua agama, semua etnis dan semua gender duduk dan berdiri setara dan sejajar. Jika Iran dan Arab Saudi boleh melakukannya, maka mestinya negara sekuler atau Buddhis jika ada dan mengaturnya, Muslim tak boleh protes, dong.

11. Jika semua perempuan diwajibkan berjilbab di ruang publik dan semua perempuan beriman dianggap beriman karena berjilbab, maka ini akan menyebabkan punahnya jutaan busana tradisional dari jutaaan sukubangsa di dunia.

Bukankah Allah mengutus setiap hamba-Nya untuk membimbing setiap komunitas adat di berbagai dunia? Bukankah Allah sendiri yang mengilhami manusia untuk menciptakan seni dan teknologi, termasuk busana, sesuai
(a) keanekaragaman hayati yang tersedia bagi menghasilkan tekstilnya (2) kebutuhan, (3) keadaan iklim dan geografinya?

Berdasarkan no.10, maka setiap sukubangsa di dunia berhak memelihara adat istiadatnya dalam berbusana sebagai bagian dari yang mereka yakini juga sebagai petunjuk Allah bagi kaumnya. Bangsa Arab tidak lebih tinggi dan lebih mulia daripada bangsa Jawa, dan bangsa Eropa tidak lebih rendah dan lebih hina daripada bangsa Semit.

Kehinaan dan kerendahan manusia ialah pada perilakunya bukan pada adat busananya. Apakah membunuh sesama manusia? Apakah mencuri? Merusak alam? Memperkosa wanita? Begitu pula kemuliaannya ada pada pelayanan dan pengabdiannya pada satu kemanusiaan, pada sesama manusia dengan cinta kasih dan welas asihnya.

12. Tidak pernah dapat dipastikan busana yang dikenakan oleh para perempuan semasa Muhammad sebagaimana terekam dalam Alquran. Apa yang ada pada kita: pemahaman kita, pemaknaan kita dan kisah yang sampai kepada kita, masih merupakan spekulasi sampai kita bisa membuktikannya sendiri dengan melihatnya sendiri. Baik yang percaya maupun tidak percaya sedang berspekulasi dan menerima atau tidaknya karena kehendak untuk mempercayai/tidak.

Riwayat versi Sunni dalam Ensiklopedia Islam Brill menunjukkan pernah ada anggota keluarga Muhammad yang tidak berhijab. Salah satunya yang cantik dan brilian, yaitu Sukaynah bt Hussain, yang selamat dari Tragedi Karbala, yang tidak berhijab.

—–

AKU SEBATANG POHON MANGGA; AKU SEBONGKAH TERUMBU KARANG!

Kalau ada yang bersikukuh padaku soal menutup aurat ialah mengenakan busana tertentu, aku akan berkata bahwa aku adalah sebatang pohon mangga jikalau di darat, dan saat di lautan aku adalah sebongkah terumbu karang. Aku bukan manusia, bukan perempuan, bukan pula laki-laki, pun bukan interseks.

Bilamana engkau tertarik dan terpikat padaku, entah tubuhku, wajahku, atau lain-lainnya, engkaulah yang mesti menutup auratmu (baca: menundukkan pandangan, baik engkau pria heteroseksual maupun wanita lesbian dsb)

Bilamana di darat, aku sebatang pohon mangga yang butuh fotosintesis agar tetap bisa tumbuh dan berbuah lebat. Bilamana di laut, aku sebongkah terumbu karang yang bilamana lautan kotor ternoda, aku terhalang mendapat sinar matahari sehingga tak bisa tumbuh cantik, bahkan jadi mati.

Aku bukan manusia. Aku sudah bosan menjadi manusia. Manusia hanya ribut soal aturan agama yang belum tentu benar-benar disampaikan Allah untuk semua keadaan, situasi, ruang dan zaman! Agamaku agama rahmatan lil alamiin dan untuk semua strata dan makhluk.

Sebagai pohon mangga dan terumbu karang, agamaku ialah ketetapan Allah bagiku, yaitu helioterapi jika aku sakit, dan fotosintesis untuk tetap sehat. Jika aku di halaman rumah Gayatri dan berbuah lebat, lalu ada yang lewat dan birahi padaku sampai mencuri buahku, atau di laut pantai Gayatri lalu terpesona mengambil bagian dari diriku si terumbu karang yang memikat tentu itu bukan salahku dan bukan salah Gayatri pula.

Aku cuma bisa bilang bahwa untuk manusia ada dalam Alquran 2;53 yang jelas dan ajeg, universal dan esensial, pada segala zaman dan ruang, tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan MANUSIA, di antaranya: Mencuri, membunuh, merusak, dan melukai milik orang lain ialah dosa yang sesungguhnya. Adapun ketaatan pada Allah bagi manusia yang sesungguhnya ialah melindungi nyawa, jiwa, harta benda, kemuliaan dan kebahagiaan sesama manusia.

Tapi, aku’kan bukan manusia. Aku pohon mangga saat di daratan, dan terumbu karang saat di lautan!

Rahayu,
RA Gayatri WM

Kemben: Pakaian Muslimah Indonesia (2)

Mengapa Orang Indonesia Membenci Kemben?
Saya sering mengalami sendiri ketika perempuan-perempuan yang mengenakan hijab labuh dengan gamis panjang, tidak tahan dengan cuaca panas. Apalagi mereka yang mendobel-dobel pakaian mereka. Mereka biasanya buru-buru mengganti pakaian mereka dengan daster jika di dalam rumah atau ruangan. Mereka biasaya mengandalkan AC atau kipas angin. Sebenarnya ini pengalaman saya juga. Saya tidak tahan panas sejak kecil meski saya juga punya alergi dingin. Jadi, saya hanya tahan pada suhu moderat.

Nenek-nenek leluhur saya biasa berkemben di rumah maupun istana mereka. Mereka adalah para permaisuri, putri, selir, petani, priyayi, nelayan, dan abdi dalem yang harus banyak bekerja di dalam rumah/dalam ruangan saat listrik belum tersedia atau amat terbatas. Saya heran mengapa orang Indonesia saat ini membenci kemben. Ini busana tradisional orang Jawa, dan Jawa ialah suku terbesar di Indonesia.

Sampai sekarang, karena masalah kulit saya, saya pun tidak tahan cuaca panas. Sekarang ternyata ketahuan bahwa kebiasaan saya lebih banyak di rumah lalu keluar berhijab hanya memperlihatkan wajah dan telapak tangan (bahkan sering berkaos kaki) telah menyebabkan defisiensi Vitamin D yang hampir membunuh saya. Defisiensi ini memperparah SLE saya bahkan mungkin itulah pemicu utama SLE saya.

Apakah saya harus marah kepada Allah? Saya rasa sayalah yang keliru memahami ayat-ayat Allah. Menurut sains, jenis dan warna kulit saya harus terpapar sinar matahari pagi/sore lebih banyak daripada orang kulit putih atau orang yang didesain terlahir di daerah seperti Siberia, Nordik atau Eskimo. Kalau memang saya harus berhijab labuh dan berpakaian sangat tertutup, saya akan mengenakan pakaian tertutup saat keluar di atas jam 9 pagi dan saat musim dingin. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!

AYUBIA DARI TANAH JAWI

Ada seorang putri di tanah Jawi,
Bernama Ayubia, dan hampir mati,
Karena Iblis datang menemui Langit,
Ketika orang-orang yang rajin ke masjid
Menutupi matahari sebagai perisai birahi.

Tiga orang sahabatnya berganti-ganti
Mengatakan ia menista ayat-ayat ilahi,
Mengumbar aurat dan melawan perintah suci.

Elifazia, Bildadia dan Zofarisari
Bertanya padanya dalam kemben ini:
Hai Ayubia putri dari Jawa asri,
Tidakkah engkau mengetahui
Siksa pedih dari nyala api
Manakala engkau bangkit dari mati,
Membakar rambut dan kulit suci
Yang semestinya kaujilbabi?
Tidakkah engkau mengerti
Batas dari aurat seorang saudari
Bukankah hijab untuk menghargai
Memuliakan perempuan sebagai hiasan murni
Maka, tubuhnya harus diselubungi
Karena memikat birahi bila dipandangi?

Ayubia mendengar suara Allah di dalam hati,
Berbisik tentang Iblis di balik daging,
Iblis meminta izin menandai genetik,
Bila saatnya nanti semua potensi teraktualisasi
Menjadi penyakit dan derita tak terperi.

Hai Elifazia, Bildadia dan Zofarisari
Jawabnya sambil mengusap kulit sendiri,
Penuh luka, bula, pucat dan menjerit sakit.
Seperempat abad aku telah menutupi,
Separuh hidupku telah pula kuimani,
Tidakkah engkau melihat warna kulit ini,
Melanin yang mengerudungi,
Dan tabir surya karena khawatir
Terbakar, kehilangan indah berseri?

Mengapa kalian melawan rahmat ilahi?
Cahaya gratis dari matahari pagi,
Seperti udara yang sepanjang hari
Kauhirup tanpa membeli?
Siapa yang mengingkari firman ilahi,
Aku atau engkau di sini,
Yang melawan cara-Nya memproduksi
Vitamin D dari rahmat sinar mentari
Lewat kulit yang melapisi daging ini?

Aku telah kehilangan gigi,
Tersandera serigala yang selalu menemani,
Oleh DNA yang kuwarisi
Dari leluhur trah-tumerah yang berevolusi,
Makanan tercemar yang kukonsumsi,
Minuman yang tak lagi jernih,
Dan udara dari gas penuh emisi.

Hai Elifazia, Bildadia dan Zofarisari
Perempuan dilahirkan dengan rahim,
Untuk mengandung, melahirkan, menyusui.
Jika tubuhnya dikubur oleh seluruh sisi,
Tugas domestik, tuntutan sebagai istri,
Harapan sebagai putri, hijab syar’i
Kecantikan untuk suami,
Dibatasi di ruang-ruang publik
Tapi mesti ikut membanting tulang tak meratapi
Meski tulangnya merapuh dan darah mengalir
Setiap sebulan sekali
Karena susu, suplemen, dan keju tak terbeli?

Mengapa para ulama dan dokter yang mengerti,
Ilmuwan-ilmuwan yang lebih memahami,
Terlibat mengubur para calon Kartini
Mendakwahkan dosa dan pahala imajinasi
Karangan manusia akan Tuhan fiksinya sendiri?
Kini para ibu mati muda seperti Kartini,
Atau tak berdaya, tak lagi mampu mandiri
Karena kanker, sakit kronis,
Tulang sendi remuk dan kehilangan energi.
Sementara kalian bersedih,
Hanya memintanya berdoa bertegar hati,
Tabahlah, atau menemui tabib sakti,
Mungkin ia diguna-guna oleh sihir,
Atau obat-obatan yang selalu kaukonsumsi,
Mengikis menggerogoti tubuhmu sendiri
Meski tanpanya kau akan segera mati.

Hai Elifazia, Bildadia dan Zofarisari
Biarkan Ayubia menegaskan di sini,
Bukalah hijabmu jika berjemur pagi,
Berkerudunglah jika terik datang menyambangi,
Jika gelap, sawo, warnanya, lebih sulit lagi,
Tapi cara-Nya mengatur alam kekal abadi,
Jadi biarkan jangan ada yang menghalangi
Rahmat ilahi pada cahaya matahari
Menembus pori-pori,
Seperti oksigen yang kita hirup setiap hari.
Biarkan kulit telanjang menghirup mentari
Untuk bersyukur sebagai merawat diri
Pemberian Tuhan Yang Maha Pengasih.

Semoga lebih banyak Kartini
Hidup lebih panjang untuk berbagi
Dan tak perlu kudengar lagi
Anak-anak menangis menyesali
Merindukan Ibu yang tak lagi di sisi
Karena kau kubur para Kartini
Sejak mereka lahir dalam dogma kain,
Demi mengimani agama tekstil.

Hai Elifazia, Bildadia dan Zofarisari
Maka Ayubia menegaskan sekali lagi,
Jika bukan kalian menentang tapi abai
Pada ayat-ayat-Nya di alam dan diri sendiri.
Segala sesuatu bergerak sesuai ketetapan ilahi:
Olahraga, air segar, makanan bernutrisi
Istirahat, sinar cahaya mentari,
Udara bersih, meyakini kekuatan ilahi,
Dan moderat dalam segala yang dilakoni,
Itulah nrimo ing pandum manusia sejati,
Ikhlas menghidupi tauhid.

—-
22 Des 2018

*Inang Nauli Basa*
Panggilan “Ibu” ialah panggilan hormat bagi setiap perempuan dewasa, baik ia sudah menikah maupun belum, sudah memiliki anak maupun belum dan tidak mempunyai anak. Begitu juga Hari Perempuan Indonesia disebut sebagai Hari Ibu. Hari ini ialah untuk memperingati gerakan perempuan, gerakan Ibu – gerakan perempuan yang menyadari panggilannya untuk berperan dan berpartisipasi dalam berbagai masalah kebangsaan dan kemanusiaan. Seorang inang memiliki rahim, meski tak pernah hamil dan melahirkan, rahim memanggilnya untuk mengandung, menyusui dan melahirkan kebaikan bagi kemanusiaan. Itulah inang nauli basa. Ibu yang baik hati.

Selamat Hari Ibu – Hari Perempuan Indonesia.

“Kristenisasi bisa menimbulkan perpecahan bangsa?”

Untuk Ustadz Abu Deedat
(Ketua Komisi Dakwah Khusus MUI Pusat)
Dan siapapun yang mendukungnya

Saya hendak menanggapi pernyataan Abu Deedat yang dilansir dalam Republika.co.id bahwa “Kristenisasi bisa menimbulkan perpecahan bangsa.”

Pertama, saya ingin menanggapi kutipan dari Republika dalam pernyataan Anda sebagai berikut.

<<< https://www.republika.co.id/amp_version/pjmuf5282. >>>

Islamisasi, Kristenisasi, Buddhanisasi, Syiahisasi, Sunninisasi, Wahabinisasi, Mormonisasi, SaksiYehovahinasi, Kejawenisasi, SundaWiwitanisasi, dan lain sebagainya memiliki hak yang setara di seluruh penjuru dunia ini untuk mendakwahkan ajaran-ajaran mereka mengenai keilahian, kebaikan dan kemanusiaan.

Tugas dari para mubaligh setiap agama dan aliran bukanlah untuk menghasut dan memprovokasi agar membenci dan mengarahkan jemaatnya memunahkan kelompok agama dan adat apapun yang menjalankan spiritualitas dan keseharian yang damai, manusiawi dan beradab. Namun, tugas mereka ialah untuk mengajarkan masing-masing jemaat mereka untuk menjalankan apa yang diyakini sebagai kebenaran mereka dan mampu hidup bertoleransi, bertepa slira dan bertenggang rasa serta hidup berdampingan dengan harmonis dan bergotong royong di bidang kemanusiaan dengan semua manusia yang beragam.

Kedua, saya ingin menyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak asasi untuk menganut suatu keyakinan maupun meninggalkan suatu keyakinan atau suatu agama atau suatu aliran.

Saya memiliki hak asasi untuk meninggalkan mazhab Sunni sebagaimana yang Anda anut dan tidak menganut mazhab Syiah Imamiyah sebagaimana yang dianut Ayatullah Khamenei maupun tidak menganut aliran Kristen sebagaimana Paus Fransiskus, Donald Trump, dan Ratu Elizabeth II, dan seterusnya.

Bagaimana Anda sebagaimana seorang ulama dapat menahan saya daripada mengimani apa yang saya yakini? Anda boleh mengatakan saya sesat dan tidak sesuai dengan akidah Islam yang Anda anut. Tetapi, saya juga setara haknya dengan Anda, dan semua Muslim lainnya, boleh mengatakan bahwa yang Anda imani tidak sesuai dengan akidah Islam yang saya anut.

Ketiga, dari mana seseorang memiliki hak untuk mengatakan suatu pernyataan dan suatu ajaran agama ialah penodaan agama? Apakah ajaran itu mengajarkan melukai orang lain, membunuh, mencuri, melakukan kekerasan, atau memperkosa perempuan? Jika ya, maka kita tentu saja harus melarang. Tetapi, jikalau tidak maka ini hanyalah karena supremasi suatu pemeluk agama dalam menetapkan undang-undang dalam pasal mengenai penodaan agama. Jika kita bersikeras bahwa kita harus memunahkan aliran lain dengan menyesatkan atau mengkafirkannya, maka semua agama dan aliran sebenarnya punya konsep atau ajaran yang menodai agama dan aliran lain, serta sesat bagi satu sama lain.

Keempat, bagaimana Anda bisa memaksa orang-orang seperti saya untuk tetap mengimani apa yang Anda imani sebagai akidah yang benar, dan memaksa orang-orang seperti saya untuk tidak menyampaikan apa yang kami imani? Atas dasar apa Anda melarang orang-orang tidak menyampaikan apa yang ia imani dan tidak boleh berkumpul untuk beribadah jikalau ternyata berbagi iman dan akidah yang sama? Mengapa harus sama dengan Anda?

Apakah jika saya dan orang-orang yang seakidah dengan saya tidak bersetuju harus dihukum oleh karena keimanan yang kami anut? Apakah kami harus dibunuh? Namun, Anda bebas mengkafirkan dan menyesatkan kami? Atas dasar apakah iman Anda saja yang benar dan iman saya yang salah?

Maka dari itulah, mari kita belajar menundukkan ego sektarian kita masing-masing demi kedamaian dan kebahagiaan seluruh umat manusia.

Kelima, oleh karena itu, saya berharap Anda lebih bersikap arif bijaksana. Saya tidak merasa perlu untuk mengkafirkan maupun menyesatkan iman Anda. Tetapi, saya punya hak untuk menganut keyakinan saya yang berbeda dengan Anda maupun bersama-sama dengan yang sejalan dengan saya untuk beribadah.

Sebagai orang yang dibesarkan dalam Sunni, saya tidak menemukan kecocokan dengan hati nurani dan akal budi saya dengan sebagian besar akidah, doktrin dan dogma Sunni ketika saya tumbuh dewasa. Namun, saya menemukan bahwa jalan spiritual Haji Bektash Wali dalam tarekat Daudiyah sejalan dengan apa yang selama ini saya cari dan saya imani. Apa saya harus dihukum karena ini? Apa saya harus dibunuh karena ini? Apa orang-orang yang menemukan sepemikiran dan sehati dengan saya juga harus dihukum karena ini? Apakah iman saya harus direhabilitasi untuk mengikuti keyakinan Anda, tetapi fisik dan batin saya menderita karenanya?

*HIJABISASI BERPOTENSI MENIMBULKAN AUTOIMUNITAS*

Sebagai contoh: salah satu hal yang tidak akan mungkin saya sanggup lakukan jika saya mengikuti aliran Anda ialah tentang hijab dan batasan aurat. Hijabisasi kini mewabah di mana-mana, sedangkan hijabisasi berpotensi membunuh orang-orang seperti saya. Sebagai orang yang banyak bekerja di rumah dan tidak tinggal di rumah dengan halaman terbuka, saya telah mengalami defisiensi vitamin D karena mengenakan hijab selama lebih dari 17 tahun demi menaati batasan aurat menurut fikih mazhab Sunni.

Namun, saya bersyukur bahwa saya telah menjadi darwis Daudiyah (dalam mazhab Bektashiyah) sejak tahun 2010 sehingga saya dapat terus berusaha untuk hidup sehat dan bahagia sesuai akidah dan spiritualitas yang saya anut. Apakah Anda ingin menghukum saya karena ini? Apakah Anda ingin saya dilarang menjalani iman saya agar saya menderita dan sakit-sakitan? Apakah Anda bisa menggantikan gigi saya yang rontok, membayar biaya pengobatan saya, membiayai operasi katarak saya, dan bisa menggantikan kulit saya sehingga tidak luka-luka lagi? Jika saya harus dihukum karena ini, saya memilih dihukum mati. Dengan kematian, saya meyakini bahwa ini mempermudah kehidupan banyak orang yang terbebani oleh penyakit saya selama ini.

Jadi, saudara Abu Deedat yang terhormat, maupun siapapun yang mendukung Anda, sekali lagi saya bertanya apakah karena saya, dan orang-orang yang sejalan dengan saya, ingin hidup sehat dan bahagia maka kami harus dihukum atau tidak boleh menjalani hidup sesuai spiritualitas dan iman kami?

Dengan ini, saya menyerukan kepada Anda dan siapapun yang mendukung Anda, agar kita selalu berusaha untuk hidup rukun berdampingan. Kita harus belajar menjalani keyakinan masing-masing dengan menghormati keyakinan yang lain sekalipun kita menganggap mereka sesat dan kafir. Jikalau tidak, maka yang akan terjadi ialah suatu ego sektarian akan dibalas dengan ego sektarian yang lain, lalu terjadi konflik, kemudian perang, yang akan hanya menghancurkan kita semua. Padahal, kita berada dalam negara Pancasila, bukan negara Islam atau negara Kristen atau negara mazhab Sunni atau negara mazhab Katholik. Saya tidak mau hanya karena saya ingin tetap hidup sehat dan bahagia serta tidak merepotkan keluarga saya, saya harus mengungsi dari negara Indonesia yang saya cintai ini.

Rahayu,
RA Gayatri WM
Syaikha Daudiyah-Indonesia,
mentor Sibghah/Strict and Particular Sabbatarian Baptist,
pendiri Komunitas Adisti-Taslima.

Surat Terbuka untuk Maimon Herawati dan kawan-kawan serta siapa pun pendukungnya.

Salam Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Saya telah membaca alasan-alasan keberatan Anda dan para pendukung Anda mengenai tayangan yang dipandang tidak sesuai norma-norma kesusilaan.

Dalam surat ini saya ingin mengetuk pintu hati Anda sebagai MANUSIA. Saya ialah ibu tunggal dua orang anak perempuan dan tinggal bersama seorang keponakan perempuan. Mereka berumur 11-14 tahun.

Saya juga ialah darwis Daudiyah yang telah diinisiasi pada 2010 dan telah diangkat sebagai syaikha oleh mentor saya sejak 2015. Saya mengerti bahwa kita memiliki perbedaan tajam dalam hal keagamaan. Namun, jika kalian berhak menuntut hak-hak keyakinan kalian diterapkan sesuai Undang-undang di negara ini, demikian pula halnya dengan saya walaupun darwis Daudiyah hanya lima orang di negara ini.

Ada tiga hal utama yang ingin saya sampaikan kepada kalian.

Pertama, mengenai batasan berpakaian di ruang publik termasuk dalam tayangan di media apapun.

Saya tinggal di sebuah rumah sederhana yang tidak memiliki halaman privat dengan langit terbuka. Saya telah mengalami SLE yang sangat parah karena defisiensi vitamin D karena sangat jarang terpapar sinar matahari pagi (maupun sore) sebab saya lebih banyak bekerja di rumah dan mengenakan hijab lebih dari 17 tahun.

Ketika saya mulai menjalani terapi berjemur matahari pagi, saya mengalami masalah dengan nilai-nilai kesusilaan yang dianut sebagian Muslim seperti Anda dan kawan-kawan.

Jadi saya menyerukan kepada Anda dan kawan-kawan untuk berhenti mengatur orang lain yang tidak sekeyakinan dan tidak senasib dalam cara berpakaian. Jika hari ini kalian melarang iklan Shopee yang kalian anggap seronok dan tak bermoral sehingga dapat merusak moral anak-anak Anda apa lagi besok yang kalian tuntut? Kelak kalian akan melarang saya menjadi sehat karena saya berpakaian minim di ruang publik maupun saat saya mengabadikan momen saya berjemur pagi dalam pakaian yang kalian anggap seronok.

INI TIDAK ADIL. Kalian boleh berfoto dalam pakaian hijab kalian, sedangkan nanti saya tidak boleh mengabadikan foto saya berpakaian minim meski itu saat saya berjemur untuk menunjukkan gaya hidup sesuai keyakinan saya?

Kedua, mengenai kekhawatiran kalian akan moral anak-anak kalian. Ini juga merupakan hak atas keyakinan kalian melindungi anak-anak kalian.

Sebaliknya, sebagai darwis Daudiyah yang menerima sanad spiritual Haji Bektash Wali, saya juga punya HAK untuk melindungi anak-anak saya terbiasa melihat segala sesuatu apa adanya. Kami harus mengajarkan mereka berinteraksi dengan lawan jenis tanpa segregasi dan saling menghormati antar manusia tak melihat pakaian, gender, etnis, ras, dan lain sebagainya.

Kami harus melindungi mereka untuk menerima keberagaman di dunia, dan terbiasa melihat berbagai etnis pedalaman di Nusantara maupun di seluruh dunia yang berpakaian sangat minim, maupun berbagai orang saat musim panas atau berlibur seperti para turis yang berbikini. Kami juga punya hak untuk melindungi anak-anak kami agar tidak mengalami “culture shock”, menghormati cara berbusana jutaan etnis lain di dunia dan menghormati kebhinekaan manusia. Jadi, mereka harus terbiasa melihat pula yang berpakaian minim bahkan yang kulitnya penuh bekas luka seperti kulit saya, maupun mereka yang berkondisi istimewa seperti memiliki kelainan atau kehilangan organ tubuh.

Jika anak-anak kami tidak dibiasakan melihat segala sesuatu apa adanya, maka kami berkeyakinan bahwa mereka kelak tidak akan terampil untuk menghadapi berbagai situasi dan kondisi termasuk konflik dan keberagaman. Agama saya mengajarkan saya untuk tidak menyembunyikan realitas berbagai masyarakat di dunia karena agama saya ialah agama para musafir dan para imigran. Agama saya mengajarkan saya untuk tidak membuat anak-anak kami seperti katak dalam tempurung.

Saya pikir Pancasila dan UUD 1945 melindungi hak-hak saya ini dan bukan hanya hak-hak kalian saja. Bukan begitu?

Ketiga, poin pertama maupun poin kedua yang saya sampaikan juga dianut oleh banyak orang lain di Indonesia yang dalam keyakinannya menganut prinsip-prinsip yang sama pada dua poin tersebut.

Berbagai masyarakat adat dan agama di negara ini berhak berpakaian terbuka sesuai busana agama dan adat masing-masing. Demikian pula anak-anaknya berhak memperoleh pendidikan kebhinekaan untuk dapat bertoleransi dan hidup berdampingan dengan yang berbeda dengan rukun bahkan bekerja sama dalam berbagai masalah kemanusiaan.

Konstitusi negara kita menjamin hak-hak mereka juga, bukan hak-hak Anda dan kawan-kawan saja.

Oleh karena itu, saran saya kepada kalian ialah mari kita hidup berdampingan saja dan berusaha saling menerima perbedaan kita. Bukankah Anda tidak punya televisi? Lalu, mengapa Anda mendikte kami yang punya televisi dan punya keyakinan berbeda dalam hal sopan santun berbusana? Jika tak ingin anak-anak kalian terpengaruh, maka laranglah mereka menonton televisi maupun menggunakan gawai mereka.

Selain itu, saya tidak pernah mengajak Anda untuk ikut dengan keyakinan saya, maupun tidak pernah membuat petisi dan semacamnya agar hijab maupun cadar dilarang serta mazhab agama kalian dilarang, atau meminta kalian menonton televisi dan gawai untuk menjalani sesuai keyakinan kami.

Maka, mohon hormati juga cara hidup dan keyakinan yang saya anut, dan mohon hargai hak asasi saya dan banyak orang lain yang sejalan dengan saya untuk hidup sehat dan bahagia dalam cara hidup dan keyakinan kami karena kami juga senantiasa berusaha dan belajar untuk menghormati cara hidup dan keyakinan kalian.

Dalam surat ini saya lampirkan foto-foto saya. Kalung yang saya kenakan ialah tanda saya sebagai darwis Daudiyah.

Rahayu,
RA Gayatri WM

Berhijab Bukan Satu-satunya Pakaian Syariat Islam

SELAMAT HARI HAK ASASI MANUSIA.
Perempuan berhak tidak memakai hijab. Perempuan berhak mengenakan pakaian terbuka. Perempuan berhak sehat memperoleh vitamin D yang cukup demi memenuhi kodratnya sebagai ibu yang mengandung, melahirkan, dan menyusui. “Peraturan Hijab di Ruang Publik” yang diberlakukan di Iran, Arab Saudi, berbagai negara, di Aceh, sebagian tempat di Sumatra Barat maupun tuntutan di berbagai rempat termasuk sekolah negeri telah terbukti berpotensi besar menyebabkan DEFISIENSI VITAMIN D yang menyebabkan, memicu maupun memperparah berbagai penyakit. Masihkah kita diam dan tak peduli?


Terima kasih kepada almarhum Habib Bektash Wali rahimullah, waliullah yang menjadi patron saya dalam ber-Islam. Ajaran utamanya: “Tauhid ialah Satu Kemanusiaan” dan kesetaraan gender. Terima kasih karena mengajarkan mengimani Yesus, Muhammad, Ali, juga ahlulbait mereka, maupun mengimani Alkitab dan Alquran dalam bahasa dan adat setempat.
Terima kasih juga kepada Habib Bektash Wali karena telah mendakwahkan “membuka hijab bagi para perempuan”.

“Jalan kita ialah Jalan cinta kasih, persaudaraan dan sains,” Sayyid Bektash Wali (abad ke-13 M).

Benarkah Kita telah BerIslam?

*Bukankah Islam mengajarkan kepada kita untuk berserah diri kepada Allah SWT?*

Maka, adalah aneh jika respon dan reaksi dari siapa pun Anda adalah penyangkalan atau penolakan ketika mengetahui bahwa ALAM MERUPAKAN SUMBER TERBAIK bagi kesehatan tubuh kita telah mengajarkan kepada kita, bagaimana selama ini kita telah keliru memahami konteks dan maksud perintah Allah mengenai menutup aurat dan hijab.

Bukankah Islam mengajarkan Allah SWT yang berkuasa dan mengatur segala sesuatu di muka bumi melalui segenap ketetapan-Nya yang rapi?

Saya memang bicara berdasarkan pengalaman pribadi saya. Mungkin Anda merasa ini bukan masalah Anda. Mengapa? Sebab, mungkin Anda belum sampai mengalami hal yang sama seperti saya. Jadi, tentu Anda tidak akan peduli. Tetapi, saya kemudian menemukan semakin banyak jurnal kesehatan mengenai penemuan dari pengalaman pribadi saya. Dan, jika Anda juga mengalami masalah yang sama seperti saya, cobalah perhatikan kembali bagaimana gaya hidup Anda selama ini, dan bagaimana para dokter meresepkan suplemen vitamin D bersama immunosupressan Anda (seperti kortikosteroid).

Saya telah didiagnosis SLE sejak tahun 2014, dan telah mengalami gejalanya sejak 2013, ketika hamil dan keguguran anak ketiga saya. Sejak 2008 saya hidup di rumah yang tak punya halaman privat sama sekali, sampai tahun 2013 ketika saya memutuskan berpisah dari suami saya. Oleh karena terbiasa mengenakan hijab sejak usia 17 tahun (1996), saya hanya terbiasa tidak memakai kerudung di teras, yang terlindungi atap. Jadi, sama sekali sulit mengubah mentalitas saya untuk terlihat dengan pakaian terbuka kecuali di tengah keluarga saya.

Semenjak saya didiagnosis SLE dan MCTD, saya sudah mempelajari dengan tekun tentang penyakit saya. Saya sudah mencoba berbagai jenis diet seperti food combining. Saya sudah mencoba berbagai pengobatan alternatif. Saya selalu berusaha untuk mencaritahu apakah immunosupressan yang alami, yang teraman dan terbaik untuk saya?

Beberapa bulan lalu, saya benar-benar shock mengetahui bahwa kadar vitamin D saya sangat rendah. Sepertinya dalam satu langkah lagi nilai itu lebih rendah, maka saya akan mati. Tetapi, saya benar-benar tidak tahu apa artinya ketika membaca hasil tes saya. Mengapa? Karena saya bukan sarjana kedokteran atau MIPA! Jadi, karena saya sudah menyelesaikan semua semester S2 filsafat saya dengan baik, tugas seorang filsuf ialah untuk mencari tahu apa artinya “kekurangan vitamin D”!

Ketetapan Allah di alam ialah bagaimana sebagian besar makhluk yang hidup di darat menghasilkan karbohidrat melalui hubungannya dengan paparan sinar matahari. Demikian pula fakta bahwa 7-dehidrokolestrol dihasilkan melalui kulit yang terpapar sinar matahari untuk menghasilkan Vitamin D3. Ini adalah hukum Allah di alam. Bagaimana mungkin Anda mengubah ketetapan agung ini?

Jadi, definisi “kekurangan vitamin D” itu berarti selama 24 tahun hidup saya, saya tidak cukup terpapar sinar matahari pada waktu-waktu yang tepat. Sejauh yang saya cari, tidak saya temukan fakta yang menentang bahwa vitamin D bukanlah kunci penting untuk kesehatan dan memulihkan berbagai penyakit. Sejauh yang saya cari, suplemen vitamin D bukanlah sumber alami dan tidak menghasilkan proses sebaik cara alam memprosesnya pada kulit kita.

Yang paling mengagumkan bagi saya seorang yang hidup dengan SLE ialah bahwa vitamin D ialah salah satu immunosupressan alami. Bagaimana pun saya sudah sangat lelah mengkonsumsi kortikosteroid. Dan, saya tidak menemukan cara lain untuk mempercepat kadar vitamin D yang saya perlukan untuk kembali sehat kecuali dengan mengenakan bikini setiap pagi dan setiap sore selama setidaknya setengah atau satu jam di bawah sinar matahari. Tetapi, sayangnya itu mustahil karena saya tidak tinggal di Bali, dan rumah keluarga saya saat ini juga tidak punya halaman pribadi untuk saya bisa melakukannya.

Sayangnya, itu mustahil karena saya hidup di tengah mayoritas Muslim yang menganggap hijab dan menutup aurat ialah perintah wajib Allah bagi seluruh perempuan beriman. Paling tidak saya bersyukur bahwa saya tidak tinggal di Aceh, Padang, Iran atau Arab Saudi. Sebab, saya masih bisa mengenakan daster tanpa lengan, youcansee, celana pendek, dan rok pendek saat berjemur di trotoar dan pembatas jalan di seberang rumah saya.

Saya amat tidak mengerti mengapa pemahaman mengenai pentingnya vitamin D ini baru belakangan saya ketahui. Tetapi, itu sebabnya pula saya “marah” kepada siapa saja yang memandang remeh atau tidak peduli dengan masalah ini.

Sebab, saya meyakini bahwa ini akan menjadi masalah banyak orang pula dengan gaya hidup lama saya, dan atau dengan mereka yang punya potensi genetik seperti saya (misalnya, seorang keturunan campuran, seorang ningrat Jawa, seorang peranakan Cina, atau HLA pada tubuh kita) dan atau mereka yang hidup di rumah yang keadaannya seperti rumah saya.
Bukankah perempuan didesain oleh Allah untuk mengandung, melahirkan dan menyusui? Bukankah ini menguras banyak hal darinya? Bukankah karena itu pula perempuan akhirnya mengasuh anak-anaknya? Bukankah tugas mengurus anak-anak memerlukan kesehatan prima?

Mengapa tak ada yang merasa cemas dengan apa yang saya suarakan?

Apakah mesti menunggu jatuhnya korban-korban seperti saya untuk akhirnya mengerti? Terjadi peningkatan serius jumlah penderita SLE usia dini di berbagai belahan dunia. Memang kekurangan vitamin D tidak bisa dikatakan sebagai penyebab, tetapi kekurangan vitamin D akan memperparah keadaan berbagai macam autoimunitas, kanker, dan berbagai sakit kronis lainnya, termasuk berbagai keadaan depresi dan penyakit jiwa.

Saya tidak sedang bicara tentang konsep feminisme yang rumit ketika saya menantang kita untuk mau tampil terbuka berjemur di bawah matahari pagi. Saya tidak sedang bicara untuk menentang ayat Alquran, tetapi untuk menantang (challenge) cara pandang kita tentang firman-firman Allah, benarkah kita benar-benar telah ikhlas dengan segala ketentuan Allah di alam semesta ini, termasuk bagaimana cara tubuh kita sebagai makrokosmos bekerja?

Saya curiga, jika Anda buru-buru membantah saya, maka sebenarnya tidak cukup ikhlas menerima kenyataan ini. Anda boleh mengeluarkan ide seperti membangun padang khusus untuk perempuan berhijab berbikini demi vitamin D. Anda mungkin tak peduli sebab rumah Anda punya cukup halaman pribadi untuk Anda atau anggota keluarga perempuan Anda mengenakan bikini. Tetapi, saya dan mungkin banyak orang lain yang mengalami defisiensi vitamin D harus segera mengatasi kekurangan vitamin D kami sebelum terlambat, dengan segala keterbatasan yang kami punya.

Allah menyediakan cahaya matahari, air, dan sumber makanan di alam, serta mengatur siang dengan malam, yang kesemuanya memiliki fungsi dan peran penting bagi tubuh kita. Allah menyediakan obat di alam dan di dalam tubuh kita sendiri. Menikmati dan mengelola segala sesuatu secara moderat atau secara proporsional, dan mensyukuri semua anugrah-Nya itu, bukankah itu cara kita ikhlas menerima ketetapan-Nya dan beribadah kepada-Nya?

Ujian hidup kita bukanlah saat berusaha sabar dan diam menderita saat ditimpa penyakit. Namun, ujian hidup kita ialah memaknai penyakit kita, apakah yang bisa kita lakukan dengan penyakit kita? Apakah ia bisa diatasi, bisa disembuhkan, dan atau bisa dipulihkan? Jika ia hanya bisa diredakan, maka apakah yang perlu kita lakukan untuk tetap menjalani kehidupan dalam kualitas hidup yang baik?

Jika untuk beriman dengan kaffah menerima-Nya ialah justru dengan berbikini saat berjemur pagi/sore, demi memperoleh kembali kesehatan, sehingga bisa kembali bekerja melayani kemanusiaan dan mandiri mendukung segenap keperluan diri sendiri, maka lebih baik itulah yang akan saya lakukan dan itulah makna sesungguhnya menjadi Muslim dan Mukmin bagi saya.

Dokter (Muslim), ayatullah, ulama, ilmuwan (Muslim), dan atau siapa pun harus dapat memberikan solusi kepada saya jika berkeberatan, dimana solusi itu haruslah meningkatkan kadar vitamin D saya dari sumber dan proses alami dengan cukup segera dan signifikan. Jikalau tidak, lebih baik diamlah, sebelum saya merasa perlu untuk mengatakan “Bagaimana jika kita bertukar tempat saja, dan saya sehat bisa beraktivitas seperti Anda dan Anda mengalami apa yang saya harus jalani selama ini?”

Walau demikian, yang terpenting, ini bukanlah semata-mata tentang saya. Saya sudah siap untuk mati sejak lama, sejak begitu menderita dengan penyakit saya. Namun, yang terpenting, saya berharap pesan ini viral. Bukan agar saya menjadi terkenal. Lebih baik saya terkenal sebagai novelis seperti JK Rowling daripada karena menulis bidang yang sama sekali bukan bidang saya.

Tetapi, saya berharap pesan ini membuka lebih banyak ruang bagi studi, kajian dan penelitian ilmiah mengenai fenomena kekurangan vitamin D ini. Saya berharap para peneliti benar-benar jujur memperhatikan berapa banyak pasien hijaber di klinik-klinik autoimun dan kanker yang memburuk karena defisiensi vitamin D, dan juga memperhatikan mereka yang tidak berhijab apakah mereka juga cukup terpapar matahari selama ini?

Selanjutnya, para ulama dan pendakwah mau dengan jujur, jernih hati dan tulus ikhlas merenungkan fenomena ini. Apakah cara kita beragama selama ini telah benar khususnya dalam memahami fikih dan dosa? Adakah pantas seorang perempuan seperti saya hidup menderita akibat defisiensi vitamin D demi mempertahankan cara pandang yang selama ini ternyata keliru hanya karena ini adalah ketetapan atau jumhur ulama ratusan tahun lalu? Apakah kalian ingin kehilangan begitu banyak calon ibu dan begitu banyak ibu karena kekurangan vitamin D?

Inilah yang lebih penting.

“Dan pada bumi ada tanda-tanda (yang membuktikan keesaan dan kekuasaan Allah) bagi orang-orang (yang mau mencapai pengetahuan) yang yakin, Dan juga pada diri kamu sendiri. Maka mengapa kamu tidak mau melihat serta memikirkan (dalil-dalil dan bukti itu)? Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya (apa yang tersebut) itu tetap benar, (tidak patut diragukan) sebagaimana (tidak sepatutnya diragukan) benarnya kamu dapat berkata-kata.” (Alquran s.51.20-23)

Rahayu,
RA Gayatri WM

Bahaya Mengintai di Balik Busana Hijab?

*Bahaya Kanker dan Autoimun Mengintai Di Balik Norma Berbusana dan Keinginan Menjadi Putih*
Berbagai penyakit terjadi karena karma kita melawan Allah. Tapi, ini tak sama dengan melanggar aturan-aturan agama atau norma-norma agama yang kita pandang sahih dan baku benar adanya. Begitu banyak hal sebenarnya terjadi sebagai hasil dari karma (baca: perbuatan) melalui proses kausalitas yang rumit.

Sementara budaya masyarakat kita memuja kulit putih secantik bintang Korea sehingga para perempuan mendambakan kulit putih dengan berbagai krim kecantikan, di sisi lain tren hijabisasi terus meningkat bahkan menjadi tuntutan sosial oleh karena gempuran dakwah tentang dosa tidak berhijab terus-menerus.

Anda boleh memandang remeh masalah ini karena Anda mungkin memiliki cukup uang untuk membeli suplemen pro-vitamin D demi untuk tetap meyakini bahwa mengenakan hijab di hadapan non-muhrim ialah wajib sepanjang waktu. Atau, Anda mengira genetik Anda baik-baik saja, dan tidak berpotensi akan mengalami suatu penyakit kronis. Atau, lebih menyedihkan lagi bilamana Anda tidak merasa ini masalah karena tinggal di rumah dengan ruang terbuka privat untuk memperoleh paparan matahari pada kulit Anda.

Tetapi, kita hidup dalam zaman ketika makanan yang kita makan telah tercemar dan tubuh kita membutuhkan evolusi bertahun-tahun untuk terbiasa. Kita telah tumbuh dengan daya tahan tubuh yang direkayasa melalui berbagai macam vaksinasi. Ini serba salah, tentu saja, sebab vaksinasi membantu mencegah berbagai penyakit mematikan atau kelainan mengerikan, tetapi pada jangka panjang, gen kita juga harus berevolusi untuk menyesuaikan unsur asing pada sistem imunitasnya. Ini belum lagi polusi udara dan sumber air minum kita.

Dalam berbagai studi kekurangan apalagi defisiensi vitamin D ikut menyumbang tingginya resiko mengalami berbagai jenis kanker seperti kanker payudara, kanker usus, kanker paru-paru, kanker prostat, kanker serviks, bahkan kanker kulit. Kita tahu bahwa kanker payudara kini menghantui banyak perempuan dan jika memiliki anggota keluarga yang pernah mengalaminya akan semakin beresiko pula.
Bayangkan berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan jika sudah divonis mengalami kanker maupun penyakit autoimun yang menetap?

Kita sudah melakukan pola makan yang sehat, kita sudah minum suplemen untuk unsur-unsur lain yang kekurangan, misalnya kalsium, vitamin C, dan mineral serta vitamin lainnya. Kita juga sudah berolahraga – tetapi biasaya kita berolahraga di ruang tertutup. Norma agama telah mempersulit kita hari ini, terutama para perempuan untuk berpakaian terbuka saat berolahraga di ruang terbuka publik.

Namun, saat kita berada di ruang terbuka, bahkan sebelum jam 9 pagi, atau sisa dari olesan sebelum jam 3 sore, kita memakai tabir surya karena takut berkulit gelap atau ingin putih. Kita menelan mentah-mentah soal radikal bebas dan bahaya sinar matahari. Apakah kita tak pernah berpikir bahwa manusia-manusia purba yang ada di wilayah khatulistiwa pada umumnya telanjang; bahwa manusia terlahir telanjang; dan bahwa tidaklah mungkin kulit kita yang tidak berbulu seperti monyet dan adanya matahari serta beragamnya warna kulit manusia, telah didesain secara sempurna oleh Tuhan untuk tujuan tertentu?

Dalam kasus autoimun SLE, misalnya, penderita SLE dari kalangan Afro-Amerika yang berkulit gelap merupakan penderita yang paling parah dalam mengalami flares. Kita tahu bahwa autoimun SLE ialah salah satu jenis yang paling buas karena bisa menyerang organ maupun jaringan apa saja yang masih baik. Ini sudah pasti berkaitan dengan gen campuran mereka maupun warna kulit mereka yang memiliki melanin tinggi (dimana biasanya mereka akhirnya terpaksa mendekam lebih banyak di rumah sakit/rumah untuk dirawat), selain juga karena pada umumnya mereka dari kelas sosial ekonomi yang tidak memungkinkan kepada akses kesehatan dan makanan yang lebih baik.

Kita bisa membayangkan bahwa tubuh kita ialah suatu organisasi dengan sistem dan mekanisme yang membutuhkan segala yang ia butuhkan, yang jika satu hal saja kekurangan akan ada masalah atau ada disfungsi. Jika kita sudah mengatasi masalah kalsium, tetapi tetap kekurangan vitamin D, ini juga akan tetap bermasalah.

Diabetes Melitus dan alzheimer ialah di antara dari 10 pembunuh utama manusia sedunia pada 2016, juga suatu jenis autoimun. Keduanya dapat dipulihkan dengan vitamin D yang cukup.
Kita tahu bahwa jika kita cukup memiliki vitamin D (walau rasanya hampir mustahil) melalui paparan matahari, maka kita tidak membutuhkan suplemen pro vitamin D. Yang kita butuhkan hanyalah sumber makanan yang tepat. Tentu saja, mereka yang berkepentingan dengan penjualan suplemen tidak akan tertarik untuk mengiklankan, “Berjemurlah di bawah sinar mentari pagi yang diberi gratis oleh Allah.”

Pertanyaan pentingnya, ialah, bilamana orang yang selalu berpakaian tertutup harus mengambil suplemen dari farmasi untuk vitamin D, apakah ini benar-benar perintah Allah untuk seluruh keadaan? Ini aneh. Karena suplemen-suplemen ini baru ditemukan abad ini, dan tidak pula semua orang memiliki akses secara ekonomi untuk itu. Lalu, untuk apa sinar matahari dilimpahkan oleh Allah kepada kita?

Kita bisa mengerti bahwa pada musim tak bermatahari, khususnya para imigran berkulit gelap dan berwarna harus lebih berhati-hati, maka mereka mengambil suplemen atau memperoleh serum tambahan. Tapi, kita tinggal di alam tropis. Belum lagi kita meningkatkan munculnya industri tekstil yang belum tentu bersahabat dengan alam, oleh karena pemakaian garmen kita yang berlebihan tidak seperti leluhur kita. Kemudian, jangan lupakan bagaimana kita merawat pakaian-pakaian kita ini. Betapa budaya kita dalam memakai busana, dan dalam menggunakan kosmetik serta dalam konsumsi pangan sehari-hari, sangat jauh dari menghargai alam ciptaan Allah.

Duh, Gusti. Kita ribut soal beragama yang benar, ribut soal politik, juga ribut soal diskriminasi atau bahkan konflik mengerikan yang ada jauh dari tempat kita tinggal. Namun, kita sendiri sedang merusak diri sendiri, alam lingkungan kita dan masa depan anak cucu kita melalui cara-cara kita beragama yang jauh atau melawan cara Allah bekerja di alam semesta. Oleh karena kebebalan kita, kelak anak cucu kita harus bertungkus lumus untuk memulihkan semua kerusakan yang telah kita perbuat.

Rahayu,
RA Gayatri WM