(3) Jalan Musa

AKU  Tuhanmu.

Tiada-lah aku di dalam AKU.

Lenyap-lah aku di dalam AKU.

Lihatlah Gurumu, Musa

Ratusan tahun telah berlalu sehingga aku merajalela

Sejak Yusuf Pamanmu duduk di atas singgahsana

Dan mengusir duka bencana di negeri Mesir

Melupakan AKU dalam keangkuhan aku sang firaun

Tetapi Gurumu Musa mengenal AKU

Maka ingatlah saat aku merasa paling hebat

Saat aku merasa telah sempurna merencanakan

Saat aku mengira aku sahaja yang nyata

Biarpun penyakit merenggut dan alam berseru lantang,

Katak-katak pun melompat berseru, aku ilusi! aku ilusi!

Tapi aku tetap lari mengejar AKU, enyahlah AKU, kata aku

Dan AKU membuktikan bahwa aku-lah yang tenggelam

Tetapi, mengapa aku masih menyangkal AKU?

Ingatlah Gurumu Musa yang merindukan AKU setengah mati

Hendaklah ia membunuh aku seketika itu juga

Sebab rindunya Gurumu Musa mendaki dan mencari AKU

Sementara bapak-bapakmu terlena oleh aku

Dan mulai meragukan AKU

Walau Pamanmu Harun telah membuka jendela,

Tapi hijab aku terus menutupi AKU dari bapak-bapakmu

Demikianlah di Sinai AKU menerima hancurnya aku

Dan ingatlah ketika  Gurumu Musa kembali

Tetapi bapak-bapakmu tersesat di jalan mencari AKU dalam aku

Bagaimana dapat menemukan AKU

sedangkan aku tak hendak lenyap?

Maka AKU pun berikan petunjuk pada peta

Jalan Pulang, Jalan Pergi, Jalan Pertama dan Terakhir

Jalan untuk menemui AKU,

Jalan mengikis habis aku

Sepuluh Rambu, itulah petunjuk, kurang jelas apa lagi?

Hancurkanlah aku di dalam setiap kelokan,

lika-liku, onak-duri, ombak, badai, batu kerikil, aspal mulus…

AKU tidak kemana-mana, hanya aku yang kaubiarkan tumbuh

Sehingga AKU tiada nampak lagi

Begitulah Gurumu Musa telah mengajarkan, menjadi teladan

Ribuan tahun telah berlalu bahkan aku semakin merajalela

Silih berganti mati satu tumbuhlah seribu

Tetapi Sepuluh Petunjuk dari AKU abadi di sepanjang Jalan

Nama, warna dan motif papan serta aroma-nya mungkin telah berubah-ubah

Berapa banyak belokan untuk menyusul

Gurumu Musa, tetapi aku harus mendaki dan juga

Harus tenggelam untuk mengenal AKU dan

Biarkan AKU sahaja yang menguasai sampai

Segala apa pun dan segala aku hilang,

sungguh-sungguh-lah (bukan hanya berucap)

sungguh-sungguhlah

bersaksi: AKU-lah Tuhanmu

[Teriring salam sejahtera kepada Musa, juga Harun beserta keluarga mereka yang adil. Duhai Tuhan, perkenankanlah hamba ini menapaki setiap Jalan Tauhid yang telah Musa ingatkan kembali kepada kami, perkenankanlah hamba mengambil setiap hikmah dalam kisah Musa dan Harun, guru-guru kami, bimbinglah kami kembali kepada-Mu sebagaimana Engkau telah merangkul kembali umat Musa, dan bimbinglah kami sebagaimana Engkau telah membimbing guru kami Harun dalam menaati setiap Wahyu-Mu, dan bimbinglah kami dalam setiap ujian sebagaimana Engkau membimbing guru kami Musa, juga bimbinglah kami menerima Harun lain bagi Musa lain yang telah Engkau tetapkan untuk membimbing kami. Duhai Tuhan, segerakanlah putra terakhir-Mu yang juga berasal dari keluarga Harun dan Musa untuk mengembalikan dunia dalam satu kepemimpinan yang adil dan sentosa sebagai penutup zaman di dunia kami hidup saat ini. Tiadalah kuragukan janji-Mu akan akhir bahagia dunia sebagaimana tiada luput janji-Mu kepada Guru kami dan bapak-bapak kami, Musa, Harun, dan bani Israil. Amin Ya Rabbal Alamiin]

Jalan Musa adalah Jalan Tauhid.

 

Jalan Musa adalah Jalan Tauhid. Jalan bagi mereka yang berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Tidak ada kekuatan lain dan kekuasaan lain selain dari-NYA.  Diri ini pun hilang dan lenyap dalam Diri-NYA. Berserah sepenuhnya kepada kehendak-NYA. Karena itu berserah sepenuh-NYA kepada petunjuk-NYA, petunjuk antara yang benar dan salah, yang benar dan yang salah bukan menurut ukuran manusia, kira-kira, atau hasil kesepakatan bersama para cendekiawan, pemimpin, atau pemuka agama manapun. SEPULUH PERINTAH ALLAH, itulah tes litmus sederhana, logika Tuhan, bukan rumusan filosofi dari manusia manapun, tes litmus sederhana untuk menunjukkan Jalan yang mana sesat dan Jalan Yang Lurus menuju Tuhan. Telah dianugrahkan kepada umat manusia untuk pertama kalinya apa yang disebut Kitab Suci, yang tertulis dengan jelas. Itulah TAURAT. Maka, Jalan Musa adalah Jalan Tauhid. Yang disebut tauhid adalah berserah sepenuhnya  kepada Tuhan. Berserah sepenuhnya kepada kehendak Tuhan. Seperti halnya kisah Harun yang telah mengajarkan kepada kita,  peringatan dari Tuhan sendiri: bahwa kepemimpinan dalam bimbingan Illahiyah bukanlah demokrasi, undian, kesepakatan atau mufakat manusia, melainkan kebebasan mutlak Tuhan untuk menentukan siapa yang akan menjadi pembimbing bagi kita umat manusia.[]






Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s