(2) Jalan Ibrahim


AKU  Tuhanmu.

Tiada-lah aku di dalam AKU.

Lenyap-lah aku di dalam AKU.

Lihatlah Ayahmu, Ibrahim.

Walau mengembara ke banyak negeri

Seperti bangsa-bangsa lain menyusuri gurun pasir dan salju

Langit, laut, gunung dan pohon-pohon tampak tidak sama

Roh-roh baik dan jahat bergentayangan menyambut

Bersaing menarik perhatian, memelihara dan menghancurkan

Mengira siapa yang paling melindungi di sini, siapa yang paling menaungi di sana

Tetapi, sesungguhnya, aku-lah yang selalu paling menguasai AKU

Karenanya, takutlah aku akan angin yang akan melahap,

Badai yang akan menelan, api yang akan membakar menghanguskan.

Lihatlah Ayahmu Ibrahim, telah lenyap aku sehingga hanya AKU

Maka Ayahmu Ibrahim berjalan mempersembahkan diri bagi-KU

Bukan karena air atau udara, sebab api tidaklah membakar AKU, tapi aku.

Maka, lihatlah Ayahmu Ibrahim, yang tidak meragukan-KU.

Walau seratus tahun aku tidak memiliki harta yang paling berharga di dunia

Tidaklah meragukan-KU sekali-kali walau Janji-KU seratus tahun

Harus menunggu dalam kesunyian padang yang gembur,

Ternak yang subur, alam yang makmur, tiada tawa anak-anak yang menghibur.

Dan ingatlah pada Ibumu Sarah yang jelita, ketika AKU menguji.

Jangan biarkan aku menguasai, lenyapkanlah aku, supaya tiada meragukan-KU.

Tetapi, AKU Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Walau aku muncul, naik dan turun hendak timbul untuk mengabaikan AKU

Tetapi, AKU memanggil, mengetuk, menyeru, berbisik, dan dengarlah!

Maka, Ibumu Sarah mempertemukan Ayahmu Ibrahim dengan Ibumu Hajar

Dan, AKU memperkenankan kehendak aku untuk sementara waktu

Wahai aku yang melupakan AKU, tidaklah sekali-kali AKU melupakanmu

Dan ingatlah pada Ibumu Hajar, walau manusia menghina dan merendahkan

Sebab aku mengira aku bebas menilai, bebas merencanakan, bebas menentukan

Tetapi AKU tidak pernah melupakan

Dan itulah Ibumu Hajar menemukan Jalan, sementara kebanyakan tidak

Malahan menganggap aku adalah segala-galanya lebih hebat daripada AKU

Begitu pula Ayahmu Ibrahim berapa kali harus KU-uji

Api, Raja Mesir, gurun-gurun penuh bahaya, juga penantian seoalah kekal

Begitu juga permata-permata hati paling bernilai, bukanlah milik aku

Karena itu-lah Ayahmu Ibrahim tiada meragukan-KU

Karena aku telah lenyap meniada, tinggal AKU, dan biarlah

Ismail dan Ishak juga bukanlah milik siapa-siapa kecuali AKU

Demikianlah  AKU genapi janji-KU dengan duabelas raja-raja

dari kedua Ayahmu, Ismail yang sulung, dan Ishak yang kedua

Berapa banyak batang pohon dan batang akar sebelum sampai

Kepada kedua Ayahmu, tetapi aku harus mendaki dan juga

Harus tenggelam untuk mengenal AKU dan

Biarkan AKU sahaja yang menguasai sampai

sungguh-sungguh-lah (bukan hanya berucap)

sungguh-sungguhlah

bersaksi: AKU-lah Tuhanmu

[Teriring salam sejahtera kepada Ibrahim beserta keluarganya. Duhai Tuhan, perkenankanlah hamba ini menapaki setiap Jalan Tauhid yang telah Ibrahim retaskan kepada kami, perkenankanlah hamba mengambil setiap hikmah dalam keluarga Ibrahim, ayah kami, bimbinglah kami kembali kepada-Mu sebagaimana Engkau telah merangkul kembali ibu kami Sarah, dan bimbinglah kami sebagaimana Engkau telah membimbing ibu kami Hajar dalam menaati setiap Wahyu-Mu, dan bimbinglah kami dalam setiap ujian sebagaimana Engkau membimbing ayah kami Ibrahim, juga bimbinglah kami dalam setiap perintah sebagaimana Engkau membimbing ayah-ayah kami Ismail dan Ishak. Duhai Tuhan, segerakanlah putra terakhir-MU yang berasal dari kedua ayah kami, untuk segera mempersatukan perpecahan putra-putri dan saudara-saudari dari kedua-nya.  Tiadalah kuragukan janji-MU akan akhir bahagia dunia sebagai mana tiada luput janji-MU kepada ayah kami dan ibu-ibu kami, Ibrahim, Sarah dan Hajar. Amin Ya Rabbal Alamiin]

Jalan Ibrahim adalah Jalan Tauhid.


Jalan Ibrahim adalah Jalan Tauhid. Jalan bagi mereka yang berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Tidak ada kekuatan lain dan kekuasaan lain selain dari-NYA.  Diri ini pun hilang dan lenyap dalam Diri-NYA. Walaupun diuji seratus tahun dalam menanti janji-NYA. Ingatlah Ibrahim yang juga mengembara dari satu negeri ke negeri. Tetapi beliau hanya mempersembahkan dirinya kepada Satu Kekuatan. Sementara bangsa-bangsa lain juga berpindah-randah. Kemudian mereka persembahkan diri kepada satu dewa kepada dewa yang lain. Itulah tugas Ibrahim untuk mengingatkan kita akan jalan ini. Sejak kapal Nuh berlabuh kembali di dunia yang terhampar bagi kita. Hanya Satu Kekuatan, hanya Yang Esa saja-lah yang menaungi kita. Dengan segenap rahmat dan kekuasaan-NYA, bahkan kendati kita hendak membangkang-NYA, mengingkari-NYA, tidak akan pernah kita dapat lari dari ketetapan-NYA dan kehendak-NYA. Tidaklah perlu kita memberikannya nama-nama teologis yang semu lagi kering, dan kaku. Bahkan, seorang buta huruf di pedalaman nun jauh pun akan mengerti Kekuatan Yang Maha Kuasa yang tak dapat dinafikannya. Jalan Ibrahim adalah Jalan Tauhid. Yang disebut tauhid adalah berserah sepenuhnya  kepada Tuhan. Berserah sepenuhnya kepada kehendak Tuhan. Seperti halnya Hajar yang telah mengajarkan kepada kita dari Tuhan sendiri: kesetaraan lelaki dan perempuan tanpa embel-embel feminisme, liberalisme, dan emansipasi. Kesetaraan antara anak manusia tanpa embel-embel pangkat, tahta, gelar, dan berapa banyak jumlah uang yang dimiliki. []

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s