(4) Jalan Daud

AKU  Tuhanmu.

Tiada-lah aku di dalam AKU.

Lenyap-lah aku di dalam AKU.

Lihatlah Rajamu, Daud.

Berapa banyakkah raja, ratu, yang dikenal

Kepala negara, kepala pemerintahan,

Kepala rumah tangga, kepala desa, kepala sekolah,

Berapa banyakkah pemimpin seperti Rajamu Daud?

Ratusan tahun telah berlalu dari sejak Gurumu Musa

Meninggalkan Mesir menuju Tanah Yang Dijanjikan

Dan kini raja-raja mengagungkan aku lebih daripada AKU

Ke mana pun menunduk, menunduk kepada aku

Ke mana pun berpaling, berpaling dari AKU

Tetapi tidaklah demikian bagi Rajamu Daud

Meski cerca dan hina seribu tahun kemudian coba menafsir

Mengapa Rajamu Daud berlimpah dunia

Dikelilingi isteri-isteri dalam istana yang gemilang?

Katakanlah bahwa aku telah pun lenyap,

Sekarang hanya AKU yang tak pernah meninggalkan

Rajamu Daud dalam pedang dan juga nyanyian cinta

Nyanyian yang dua ribu tahun akan terus dinyanyikan

Di gereja, di mesjid, di kuil, di rumah, di hati yang lapang

Yang lapang menyambut AKU sahaja

Sementara sejuta orang sibuk menyangsikan Rajamu Daud

Sedangkan Rajamu Daud tidak menyangsikan AKU

Sebab kehendak-KU adalah menguji

Mengapa sekarang segala aku merasa paling berhak menilai?

Kerajaan Daud adalah Kerajaan-KU

Bukan bendera, batas-batas negeri, lagu kebangsaan,

Bukan bahasa nasional, semboyan, juga simbol rakyat

Kerajaan Sulaiman adalah Kerajaan-KU

Bukanlah sebarang kuil yang megah, kubah yang cemerlang

Seperti ketika seorang ratu membiarkan aku

Meninggalkan gemerlapnya istana dan gemilangnya bangsa

AKU-lah yang merangkul dan menyambut

Kikis-lah dan padam-lah dalam AKU

Maka, tidakkah terdengar nyanyian Rajamu Daud

Menyeru nama-KU? Merindukan-KU?

Sementara begitu banyak menyanyikan kehendak aku,

Menari, memetik senar, menekan tuts, menabuh gendang,

Meniup seruling, Mendayu-dayu mencari kekasih

Kekasih selain AKU,

Tari dan musik telah menghapus nama-KU

Selain seruling Pamanmu Rumi

Dan Tuanmu Hunkar melingkar sema memuja-KU?

Itulah Kerajaan Daud, kerajaan-KU

Penuh kegembiraan, sukacita dan keriaan

Sebab AKU, bukan aku, bukan aku!

Jikalau aku menghamba, rendahlah aku, hilanglah aku

Lenyaplah aku dalam tipu daya aku

Dan hanya ada AKU

Maka, menyanyilah dan menarilah seperti Rajamu Daud

Nyanyian ratapan ataukah tarian keriangan

Di mana pun berada adalah Kerajaan-KU

Berapa banyak airmata, berapa banyak peluh mesti mengalir

Rajamu Daud, tetapi aku harus membumbung dan juga

Harus hanyut untuk mengenal AKU dan

Biarkan AKU sahaja yang menguasai sampai

Segala apa pun dan segala aku hilang,

sungguh-sungguh-lah (bukan hanya berucap)

sungguh-sungguhlah

bersaksi: AKU-lah Tuhanmu

[Teriring salam sejahtera kepada Daud, juga Sulaiman,  Bilqis, beserta keluarga mereka yang adil. Duhai Tuhan, perkenankanlah hamba ini menapaki setiap Jalan Tauhid yang telah Daud ingatkan kembali kepada kami, perkenankanlah hamba mengambil setiap hikmah dalam kisah Daud dan Sulaiman, guru-guru kami, bimbinglah kami kembali kepada-Mu sebagaimana Engkau telah merangkul kembali banyak negeri dan banyak raja semasa Daud dan Sulaiman, dan bimbinglah kami sebagaimana Engkau telah membimbing guru kami Sulaiman dalam menaati setiap Wahyu-Mu, dan bimbinglah kami dalam setiap ujian sebagaimana Engkau membimbing guru kami Daud, juga bimbinglah kami sebagaimana Engkau membimbing ratu Sheba untuk kembali mengenal-Mu dan mencintai-Mu. Duhai Tuhan, segerakanlah putra terakhir-Mu yang juga berasal dari keluarga Daud dan Sulaiman untuk mengembalikan dunia dalam satu kerajaan yang adil dan sentosa sebagai penutup zaman di dunia kami hidup saat ini. Kerajaan Engkau. Tiadalah kuragukan janji-Mu akan akhir bahagia dunia sebagaimana tiada luput janji-Mu kepada raja-raja kami dan ratu kami, Daud, Sulaiman, Bilqis dan bangsa-bangsa yang tertindas lagi terzalimi. Amin Ya Rabbal Alamiin]

 

 

JALAN DAUD ADALAH JALAN TAUHID.


Jalan Daud adalah Jalan Tauhid. Jalan bagi mereka yang berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Tidak ada kekuatan lain dan kekuasaan lain selain dari-NYA.  Diri ini pun hilang dan lenyap dalam Diri-NYA. Berserah sepenuhnya kepada kehendak-NYA. Karena itu berserah sepenuh-NYA kepada penilaian-NYA, penilaian  yang bukanlah menurut ukuran manusia, kira-kira, atau hasil kesepakatan bersama para cendekiawan, pemimpin, atau pemuka agama manapun. Telah dikaruniai mazmur, ZABUR, kitab untuk memuja dan mengingat Yang Maha Esa, untuk mengembalikan kita kepada Jalan Tauhid, menyingkapkan kepada kita tabir-tabir dari rahasia-rahasia-Nya. Sementara sejauh ini perjalanan tauhid kita, masih-lah kita mengekori akal sempit kita untuk menyangsikan kemuliaan Ibrahim, Musa juga Daud dengan membesarkan sesuatu yang gelap dari sejarah menjadi skandal-skandal murahan. Sementara itu Nyanyian Daud terus abadi sepanjang zaman, meninggalkan irama, not, dan ritme yang langsung bersumber dari-Nya. Maka, Jalan Daud adalah Jalan Tauhid. Yang disebut tauhid adalah berserah sepenuhnya  kepada Tuhan. Berserah sepenuhnya kepada kehendak Tuhan. Seperti halnya kisah Sulaiman, juga Ratu Balqis, yang telah mengajarkan kepada kita,  penyingkapan dari Tuhan akan rahasia-rahasia-NYA: Kuil yang megah untuk memuja-Nya bagaimana mungkin terlarang untuk dibangun dan dijadikan peringatan bagi mereka yang sering lupa dan bebal dari mengingat-Nya? Namun, apalah guna kita membangun kuil yang megah sementara hati kita tidak mampu membiarkan Tuhan masuk, mengalir dan menenggelamkan kita dalam keluasan samudra dan kerajaan-Nya?[]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s