(9) Jalan Yunus Emre

Cinta dalah mazhab dan agamaku.
Saat mataku melihat wajah Sang Sahabat,
semua derita menjadi riang.

Ini, Rajaku,
kupersembahkan diriku pada-Mu.
Sejak mula hingga akhirnya
segala harta kekayaanku hanya diri-Mu.Awal akal dan jiwa ini,
ketika jarak bermula
adalah bersama-Mu.
Engkaulah ujungnya, dan segala diantaranya
Aku hanya bisa maju ke arah-Mu.

Jalanku adalah dari-Mu, menuju-Mu.
Lidahku bicara tentang-Mu, dalam diri-Mu.
Walau begitu, tanganku tak bisa menyentuh-Mu.
Pemahaman ini mempesonakan daku.

Tak bisa lagi kusebut diriku “aku”.
Tak bisa lagi kusebut siapapun “engkau”.
Tak bisa kubilang ini hamba dan itu raja.
Itu takkan masuk akal.

Sejak kudapatkan cinta dari Sang Sahabat
alam ini dan alam berikutnya menyatu.
Kalau kau bertanya tentang awal yang tak berpangkal
dan akhir yang tak berujung,
itu hanya siang dan malam bagiku.

Tak bisa lagi aku berduka
atau hatiku bermuram durja,
karena suara kebenaran telah didengar,
dan aku kini dalam pesta pernikahanku.

Jangan biarkan aku mengembara dari cinta-Mu,
jangan biarkan aku meninggalkan pintu-Mu,
dan jika aku kehilangan diriku,
biarlah kutemukan dia sedang bersama-Mu.

Sang Sahabat menyuruhku kemari.
Pergi dan lihatlah dunia, katanya.
Aku telah datang dan menyaksikan
alangkah indahnya ia ditata.
Tapi mereka yang mencintai-Mu tak berhenti disini.

Dia katakan pada para hamba-Nya,
Esok kan Kuberi kalian surga.
Esok yang itu adalah hari-ini ku.

Siapa lagi yang mengerti kebenaran dan penderitaan ini?
Dan andai pun terpahami,
itu takkan terkatakan.
Maka kuhadapkan wajahku pada-Mu.

Engkaulah kehidupan dan alam semesta,
harta yang dirahasiakan.
Segala raih dan lepas adalah dari-Mu.
Tindakanku tak lagi jadi milikku.

Yunus menghadapkan wajahnya pada-Mu
melupakan dirinya.
Dia sebut setiap kata bagi-Mu.
Engkaulah yang menjadikannya bicara.

Oleh: Yunus Emre
Diterjemahkan oleh Herry Mardian dari 

“The Drop That Became The Sea”

Oleh:  Kabir Helminski (terjemahan Inggris)

 


Yunus Emre diperkirakan hidup sekitar tahun 1240–1321 M di sekitar Anatolia, Turki. Beliau merupakan salah seorang Bapa Penyair bangsa dan bahasa Turki. Hidup sezaman dengan Maulana Jalaluddin Rumi dan dalam legenda-legenda sering diceritakan pertemuan mereka, menunjukkan sohbet-sohbet yang akrab walaupun keduanya berasal dari tarekat yang berbeda. Diksi-diksi yang digunakan Yunus Emre dalam karya-karyanya masih populer di wilayah Barat dan Tengah Anatolia, dan masyhur digunakan dalam karya-karya sastera rakyat seperti pantun dan syair, serta pepatah, dan lagu-lagu rakyatnya.

Dikisahkan mengabdi selama empat puluh tahun sebagai murid Tapduk Emre, murid dari Haji Bektash Wali, dari seorang petani menjadi seorang penyair yang mampu mengungkapkan pengalaman-pengalaman mistis dengan gaya bahasa atau ungkapan-ungkapan yang sederhana, terang dan mudah difahami oleh pendengar/pembacanya sehingga dengan mudah dilisankan dan juga dinyanyikan sebagai lagu rakyat/pedesaan.

Sementara Rumi telah dikenal dan masyhur di kalangan cendekiawan dan bangsawan yang menggunakan bahasa Persia, Yunus Emre justru masyhur di kalangan lapisan rakyat jelata yang tidak terpelajar dan biasa menggunakan bahasa Turki sehari-harinya. Bagaimanapun keterkaitannya dengan Bektashiyyah tidak pernah selalu diterima dengan sepenuh hati, tetapi melalui puisi-puisinya yang menunjukkan pengaruh ajaran-ajaran Bektashiyyah mengenai Empat Gerbang dan Empat Kitab Suci sulit disangkal lagi.

Amatlah menarik karena selalu-nya di dalam Tarekat Bektashiyyah banyak tokoh-tokoh panutan yang merintis kembali Jalan yang tertutup kabut dan debu, bukanlah mereka yang berasal dari kalangan cendekiawan seperti filsuf yang ahli dalam retorika dan canggih melahirkan konsep filosofis atau bangsawan yang memiliki kesempatan untuk menuntut ilmu secara eksklusif. Yunus Emre telah menjadi salah satu contohnya.

Jalan Menuju Keabadian

Telah kupasrahkan diriku di hadapanMu
duhai Kekasih yang membimbingku
menuntunku menempuh Jalan Keabadian
mengikut jejak mereka yang mendahului di hadapan
Haji Bektash yang menebar batu-batu penunjuk jalan
Yunus Emre yang mengukir tanda panahnya
putranya yang menyapu debu-debu yang menyelimutinya
Bunda Eva yang membersihkan jalan yang menutupinya
Ali Haydar yang memberikan petanya
Kini aku sendirian hanya untuk memenuhi panggilan-Mu
dalam kerinduan yang teramat kepada putra-putra-Mu
dan keresahan betapa Kau tak menerima ku kembali
kegalauan yang menyelimuti saat ketiadaanku
terlampau menyakitkan dan perihnya….
Debu pasir dan cacing belatung jualah
akhir dari tubuh materiku, lenyap segala elok jasmaniku
dan di Jalan Keabadian inilah
aku berjalan dalam onak duri yang Kau lemparkan
karena kasih sayang-Mu
batu batu kerikil yang Kau tebarkan
untuk mengikis keakuanku
dalam rangkulan-Mu
semua itu belum seberapa dan tiada sebanding
dengan penderitaan yang kualami
karena aku merindukan-Mu.

Jalan Yunus Emre

Semoga Allah mencucuri rahmat atas Yunus Emre

Dan meletakkan beliau bersama kekasih-kekasih Allah

Di Taman Surga nan abadi dalam kasih-sayang-Nya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s