(11) Jalan Nenek Moyang

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang.

Teriring doaku kepada seluruh nenek moyangku sehingga kepada kedua nenek dan kakekku yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia ini.

Teriring doaku kepada nenek moyangku dari Negeri China. Dari semua marga yang telah memberikan sumbanngsih atas kelahiranku ke dunia – sebab garis keturunan laki-laki maupun perempuan adalah ketetapan manusia, Allah Yang Maha Adil telah memberikan kedudukan setara bagi ibu dan ayah (“Hormatilah ayah dan ibumu” – dharma kelima dalam 10 Perintah Allah). Jauh di dalam hati kuyakini mereka mengikuti jejak Laksmana Cheng Ho, keluarga besar Muslim Tionghoa yang biasa mengembara ke seluruh penjuru dunia, kalau tidak merupakan kerabat Cheng Ho. Namun, Laksamana Cheng Ho namanya selalu di hati.

Kepada mereka nenek moyang dari Negeri China, bukanlah mereka muallaf atau serombongan orang pagan yang baru menapaki Jalan Tauhid. Tetapi jauh di dalam hati kupercaya mereka adalah bangsa yang telah mengenal Jalan Tauhid dengan cara mereka sendiri saat memandang langit dan bumi. Demikianlah saat mereka mengetahui Jalan Muhammad, dengan seketika diterima jualah jalan terang itu. Dari Lao Tzu kumengerti ontologi dan harmoni alam semesta, dan dari Konfucius kumengerti etos nenek moyangku yang luhur dan dari murid-murid Siddharta kumengerti makna kehidupan yang dalam.

Jalan Sutera dan Sungai Huangho dan Tembok Agung telah memanggilku diam-diam sepanjang waktu. Jauh di dalam hatiku kerinduanku menyatu dalam kenangan nenek moyangku. Apakah Rasulullah yang mengatakan “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina” ataukah mereka yang mencintai ajarannya, tidaklah penting bagiku. Telah disuluh oleh nenek moyangku cahaya terang menuju Jalan Tauhid.

“Jiwa cerdas dan pandai sudah ada sejak lahir; kegelapan mungkin tidaklah nyata. Iri hati sering disebabkan kepicikan; perang bisa terjadi karena kelakar ringan. Seperti Sungai Kuning dengan 9 kelokan, jiwa pun berliku-liku; di bawah perisai, tampak wajah-wajah ketakutan. Arak dan nafsu menghancurkan keluarga dan negara; puisi dan buku tak pernah melukai mereka yang berbudi baik. (Tao, via Hannna Fransisca)”

“Hormatilah ayah dan ibumu” Itulah dharma kelima dalam 10 Perintah Allah, dan itulah mengapa kumembungkuk di hadapan mereka, nenek moyangku dari Negeri China, terpujilah mereka yang membangun kapal, yang membangun masjid dan gedung-gedung berukir indah di seluruh ceruk bumi, yang membangun kampung halaman di pesisir pantai pulau dan di kaki bukit-bukit yang rimbun oleh hutan berbunga. Terpujilah mereka para saudagar yang menempuh bahaya di padang pasir dan laut bergelombang, demi menghantar benda-benda dari kota ke kota. Terpujilah nenek moyangku yang menyusun kitab beribu-ribu, mengukir huruf dalam lengkung khat dari kuas yang lentur, kata-kata yang elok yang mengetuk pintu dan jendela-jendela dalam kalbu, Maha Suci Tuhan yang membimbing mereka dalam rahmat-Nya.

 

Teriring doaku kepada nenek moyangku bangsa-bangsa di Negeri Melayu. Kepada Wali Songo yang membuka kembali pintu gerbang kembali ke Jalan Tauhid, kepada para pujangga seperti Hamzah Fansuri dan Ranggawarsita yang mengirimkan pesan abadi tentang Jalan Tauhid, Jalan Sejati yang terbuka lebar dan terbentang luas untuk kutempuh dengan sepenuh hati.

Terpujilah nenek moyangku yang menerima putra-putri Fatimah Az-Zahra di bumi Melayu, mengikat tali silahturahmi dengan mereka dalam cincin perkawinan dan kasih sayang hakiki. Terpujilah mereka sebab walau hanya setetes saja darah itu menitik di dalam tempayan mungil bernama tubuhku, biarlah itu menjadi tanggungjawab yang mesti kupikul untuk meneruskan cahaya yang mereka genggam dan kini pada zamanku supaya kuteruskan kepada generasi berikutnya. Lihatlah duhai putra-putriku tentang Jalan Tauhid nan indah lagi damai yang nampak terang dari tempat aku berdiri dan berjalan sekarang!

Terpujilah nenek moyangku di Bumi Melayu yang telah mewariskan khazanah kasih sayang yang berlimpah, di manakah di belahan dunia dapat kutemukan darah yang mengalir pada tubuh dari warna dan rupa yang beraneka rupa, Barat dan Timur benar-benarlah hanya kepunyaan Tuhan sahaja, dan di sini-lah di bumi gemah ripah loh jinawi ini dipersatukan-lah oleh Tuhan dalam tubuh kami, kulit yang gelap dan kulit yang terang, kuning langsat dan merah, mata yang coklat tua tajam bagai elang dan biru cemerlang bagai safir mulia, rambut lurus yang bergoyang ditiup semilir angin dan yang keriting berombak bak gulungan ombak di samudra raya?

Terpujilah sebab mereka yang telah mewariskan sebatang lilin sebagai bekal di Jalan Tauhid yang berkabut dan terkadang mendung berselimut kegelapan, tetapi betapa pun redup lilin itu, mata yang telah tersingkap dapat melihat terang wajah-Nya, demikianlah mereka seluruh nenek moyangku yang mempertemukan KeTunggalan pada aliran sungai penuh cabang dalam tubuhku. Bukankah kami semua adalah putra-putra Nuh yang dahulu diselamatkan Tuhan sendiri lewat Bahtera-Nya yang luas dan penuh kasih sayang-Nya?

SERAT KALATIDA

…….

Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada

…..

Sageda sabar santosa
Mati sajroning ngaurip
Kalis ing reh aruraha
Murka angkara sumingkir
Tarlen meleng malat sih
Sanityaseng tyas mematuh
Badharing sapudhendha
Antuk mayar sawetawis
BoRONG angGA saWARga meSI marTAya


Terpujilah nenek moyangku yang diam-diam mengenal mereka para pembimbing rahasia, melalui pena dan kertas Tuhan membimbing bersama para pembimbing rahasia – tertulislah nama-nama mereka para pembimbing Illahi – dan terbukalah dengan lebar pintu gerbang ke dalam Jalan Tauhid itu semakin pasti!

 

Duhai para pembimbing rahasia,

Duhai empat pembimbing rahasia….

Itukah kalian yang bersembunyi di balik nama

Dan kata-kata yang mengalir

Menyusupi benak nenek moyangku?

 

Itukah engkau Duhai Al-Muntazhar

Punakawan yang adil bijaksana?

Sebab aku bodoh dan hanya mengenal engkau

Dalam nama dan sifatmu yang

Melindungi bumi?

 

Itukah engkau Duhai Al-Masih?

Punakawan yang berlimpah cinta kasih?

Sebab aku bodoh dan hanya mengenal engkau

Dalam nama dan sifatmu yang hanya hidup demi Allah,

Selalu menolong umat-Nya?

 

Itukah engkau Duhai Sang Guntur?

Punakawan yang suka mengingatkan

Sebab aku bodoh dan hanya mengenal engkau

Dalam nama dan sifatmu yang bergemuruh

Selalu mengembalikan ingatakan akan keEsaan Allah?

 

Itukah engkau Duhai Sang Hijau?

Punakawan yang penuh rahasia

Sebab aku bodoh dan hanya mengenal engkau

Dalam nama dan sifatmu yang rimbun lagi rendang,

Tempat bernaung sebab engkau melawan kezaliman?

 

Oh, Duhai para pembimbing rahasia,

Siapa pun engkau dalam nama apapun

Engkau berempat terhijab di balik jubah

Keagungan dari Allah Yang Maha Agung

 

Inilah aku manusia bodoh, hanya mengenal

Sifat dari kitab-kitab yang telah silam

Bukankah nama boleh banyak tetapi hakikat

Tetaplah satu jua?

Oh, ayahandaku, putera sejati Jawa negeri nan

Gemah ripah loh jinawi, oh engkau yang

Mengarang serat demi serat untuk generasi

Penerus, oh engkaukah yang dibimbing

Selalu dalam suluh terang para pembimbing

Rahasia seperti semua wali di negeri

Seberang nun jauh di sana?

 

Bukankah Jawa akhirnya seluas Majapahit Raya,

Bukankah Majapahit Raya akhirnya

Tiada lagi berbatas, dunia tiada lagi

Bersempadan, dan lenyaplah

Bangsa-bangsa menjadi Satu umat-Nya?

 

Siapakah sesungguhnya ksatria dari

Langit, kinunjoro, senantiasa dipenjara, dan

Akhirnya, murwo kuncoro, namanya masyhur

Di seluruh jagad, sebagai Bapak dari

Para ahli fiqh dan kaum ilmuwan

Oh, Itukah Imam Ja’far al-Sadiq?

 

Siapakah sesungguhnya ksatria dari

Langit, mukti wibawa, disegani sebab

Wibawanya, namun dipersalahkan, tersandung

Takdir perpecahan, kesandung kesampar

Sebab mereka yang hendak membelok

Dari ketetapan-Nya? Oh,

Itukah Imam Musa al-Kazim?

 

Siapakah sesungguhnya ksatria dari

Langit, jinumput, yang dipungut Raja

Al-Ma’mun sebagai pengganti raja demi

Tipudaya politis, yang akhirnya,

Sumela atur, membimbing di sela antara

Zaman yang memisahkan antara

Negeri yang kelak membela Ahlulbayt

Dengan sepenuh hati, dan negeri

Yang kelak terus meneror pengikut

Para imam kami, Duhai,

Itukah Imam Ali Reza?

 

Siapakah sesungguhnya ksatria dari

Langit, demikian lelono, yang digiring

Mengelana oleh Al-Ma’mun, dan

Seolah tampaklah ia hidup dalam

Keramaian, tapa ngrame, berlimpah

Kemewahan istana, akhirnya

Hidup begitu singkat, Duhai

Itukah Imam Taqi al-Jawad?

 

Siapakah sesungguhnya ksatria dari

Langit, hatta piningit, dipingit oleh

Sultan supaya membenci nenek

Moyang sendiri, tapi rupanya

Itulah ksatria hamong tuwuh, sebab

Menyerlah darinya kharisma

Para imam para bapanya, dan para

Nabi para kakeknya, Oh,

Itukah dia, Imam Naqi al-Hadi?

 

Siapakah sesungguhnya ksatria dari

Langit, katanya boyong, sebab hidupnya

Dikurung dalam kota nun jauh

Di Samarra, dan sebab abangnya

Lebih dahulu meninggalkan dirinya,

Kini tinggallah ia sebagai pambukaning gapura,

Demikianlah sebagaimana Tafsir Qur’an

Dari genggamannya kini terserlah,

Terbukalah zaman keemasan Dunia yang dinantikan

Duhai, itukah Imam Hasan Al-Askari?

 

Siapakah sesungguhnya ksatria dari

Langit, demikianlah pinandito sifatnya

Sebab senantiasa membimbing mereka

Dengan diam-diam di Jalan Tauhid, mereka

Yang hendak mengenal-Nya secara hakiki,

Dan demikianlah sinisihan wahyu dirinya

Sebab dari Kitab Wahyu namanya telah

Pun terukir abadi, untuk menjadi peringatan

Bagi masa seterusnya, kelak dia-lah yang

Selalu dinanti karena selalu memimpin

Lagi memerintah sesuai Petunjuk Illahi,

Duhai, itukah Imam al-Mahdi al-Muntazhar?

 

Maka biarlah kini kuserahkan kepada-Mu

Duhai Pemilik seluruh Alam Semesta

Dan Engkau yang menganugrahi para

Pembimbing rahasia kepada kami

Itulah kami yang bodoh dan tak mampu

Mengenal, kecuali dengan cahaya

Dan kasih-sayang-Mu jua, di sinilah

Jalan Tauhid, yang Kautuntun bersama

Mereka, biarlah kami pasrahkan diri

Hanya tunduk dalam Jalan-Mu ini saja.

Salam Sejahtera kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya yang Suci ~ Wahai Ayahanda-ayahanda dan Ibunda-ibunda kami yang Suci doakanlah nenek moyang kami dari jalur mana pun mereka berasal, perkenankanlah mereka berada di sisi kalian sekeluarga di dalam Surga Firdaus, dalam rahmat Allah.  Jadikanlah hamba ini bersyukur sebab tanpa usaha dan doa mereka tiadalah mungkin hamba terlahir di sini seperti sekarang.

 

(A) Terpujilah Nenek Moyang kami dari Selatan China

(B) Terpujilah Nenek Moyang kami dari Jalur Sutera

(C) Terpujilah Nenek Moyang kami di Bumi Melayu

(D) Terpujilah para pujangga di Bumi Melayu yang menerangkan Jalan Tauhid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s