(10) Jalan Para Ibu

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang.

Salam sejahtera kepada Ibu kami Hawa, Manusia Sejati, sebab tercipta dari anak manusia, bukan dari lempung tanah, melainkan untuk menyempurnakan, melengkapi kemanusiaan Adam, Bapa kami.

Telah begitu jauh jarak sejak Ibu kami Hawa kembali ke Taman Illahi, sehingga anak-anak Adam mesti juga mengenal sosok ibu sejati sepanjang zaman. Betapa Jalan Tauhid tidak mengistimewakan laki-laki daripada perempuan, dan juga sebaliknya.

Sebutlah ia wali atau nabi atau imam.  Aku tidak peduli. Ibu-ibu kami juga menerima Wahyu Suci. Sebab, Tuhan Maha Adil dan bukan laki-laki atau pun perempuan. Dan karena itulah aku mengenal jati diriku, ditetapkan-Nya terlahir sebagai perempuan bukan laki-laki. Mengapa mesti meratapi dan menyesali takdir? Jika Empat Kitab Suci berada di hadapanku kini, semua untuk membuka kepicikan dan penderitaan yang mesti dihadapi. Tidaklah perlu basa-basi kesetaraan gender dan emansipasi feminisme, juga tidak perlu dogma keagungan perempuan dan doktrin kesejatian ibu. Bacalah Kitab Suci, bacalah,  tanpa mengerat tiang teologi atau mengunyah kubah filsafat dan  biarlah Hati saja yang membaca dan merenungi betapa Tuhan telah membuktikan keMahaAdilan-Nya akan kesetaraan di antara setiap makhluk-Nya.

Salam sejahtera kepada Ibu kami Hajar. Sesungguhnya ia bukanlah hamba-Mu yang berdosa, sebab bukanlah kehendaknya menjadi perempuan kedua setelah Ibu kami Sarah. Terpujilah ia yang telah menerima Takdir Tuhan,  dan  Tuhan telah mengaruniai putera pertama bagi Ayah kami Ibrahim dengan segala penderitaan yang mesti dilalui Ibu kami Hajar. Kendati tersingkir ia dari kediaman yang hangat dan teduh dalam naungan Ayah kami Ibrahim, telah ditunjukkan kepada kami kasih sayang-Mu oh Tuhan, saat Engkau sendiri yang berseru kepadanya dan kemudian menolongnya di tengah padang pasir.

Salam sejahtera kepada Miriam, saudara perempuan Musa, guru kami, terpujilah ia yang mendampingi Musa menyusuri air sungai yang deras, dan terpujilah ia  yang menyanyi riang memuja syukur kepada-Mu saat Laut Merah telah diseberangi, dan demikianlah seorang Ibu bagi kami para perempuan yang tidak pernah menyanyi kecuali memuja dunia fana.

Salam sejahtera kepada Deborah, Ibu bagi Samuel, kekasih Allah dari kerajaan-Nya yang baru terserlah. Terpujilah ia yang tak pernah berhenti bersembahyang dan tidak berputusasa mengharap, memohon hanya kepada-Mu sebab telah bertahun-tahun tiada dikaruniai anak, sedangkan madunya dikaruniai anak. Maka, tatkala Tuhan mendengar doanya, dipenuhilah nazarnya saat memberikan Samuel berbakti di dalam Bait Allah, di bawah bimbingan imam bernama Ali (Eli). Demikianlah seorang ibu yang menyerahkan hidupnya hanya bagi Allah.

Salam sejahtera kepada Huldah, yang kata-katanya didengarkan oleh para imam bani Israil. Terpujilah ia seorang perempuan biasa yang menerima firman Tuhan dan menjalankan kehidupan dengan kehendak-Mu sahaja yang pada masanya para imam dan para raja mesti mendengar bimbingannya. Demikianlah Engkau telah menempatkan seorang Ibu setara dengan para Bapa dalam menerima firman-firman-Mu.

Salam sejahtera kepada Nyonya Yesaya, yang melahirkan Maher-Shalal-Hash-Baz, yang namanya bahkan tak tersebutkan selama berabad-abad, tetapi biarlah saja Tuhan yang menjadi saksi dan menetapkan kemuliaannya cemerlang sepanjang zaman. Terpujilah ia yang mendampingi seorang pembimbing Illahi  (Yesaya) dan melahirkan seorang utusan-Mu yang berikutnya. Begitulah  Tuhan Yang Maha Adil hendak memberitahu seorang ibu dan seorang isteri bukanlah peran yang terhijab dari rahasia-Nya.

Salam sejahtera kepada Elizabeth ~ Isabella ~ yang setia menanti janji Allah, dialah isteri Zakaria dan ibu yang melahirkan Yahya dalam usia yang sangat uzur. Bukankah beliau yang berkata kepada Maria, “duhai dalam rahim engkau, itulah seorang nabi, Utusan Allah?”  Terpujilah ia yang sabar dengan segala ujian Tuhan, terpujilah ia yang berserah pada kehendak-Mu sahaja. Demikianlah sejarah harus berulang supaya kita mengerti. Tugas Suci Illahi tidaklah memandang jenis kelamin.

Salam sejahtera kepada Maria binti Imran, Maryam ibunda Isa alaihissalam.  Keajaiban dari Tuhan yang tak masuk akal bagi mereka yang tiada beriman dan mengenal Jalan Tauhid. Demikianlah Tuhan telah mempersiapkan Maria sebagai imam di Bait Allah sebab kedua orangtuanya sulit memiliki anak dan bernazar dengan sepenuh hati. Biarlah Tuhan saja yang pantas engkau keluhkan, mengapa mesti Maria yang terselubung hijab sejak dari lahirnya hingga masa akil balighnya? Terselimuti ia oleh Zikir kepada Allah sahaja, Suci dari segala dosa, dan Tubuh murni yang dibesarkan sendiri oleh-Nya lewat makanan yang turun langsung dari-Nya? Itulah sebab Maria akan mengandungy Kalimat Allah sendiri, dari Roh Allah tanpa perantara laki-laki, supaya kita mau mengenal kesetaraan sejati tentang Tugas Suci Illahi, dan Kalimat Allah itu sendiri yang akan memberikan Kabar Gembira akan kedatangan Utusan Terakhir dan Bacaan Mulia yang menyempurnakan Janji-Nya kepada Ibrahim, Bapa kami.

Terpujilah engkau Maria, yang dilimpahi rahmat
Tuhan bersama denganmu
Terberkati di antara para wanita
Dan terberkatilah buah dari rahimmu, Yesus
Ya Maria binti Imran, ibu dari Ruhullah. Doakanlah kami para pendosa.
Saat ini dan pada saat kami mati.

Salam sejahtera bagi mereka para ibu, para isteri,  dan anak perempuan dari para nabi dan para imam suci dari keluarga Ibrahim dan dari keturunan Sarah yang menolong dan mendampingi mereka yang menyuluh cahaya di Jalan Tauhid dan yang mengenggam lilin bagi kita meneruskan jejaknya. Terpujilah mereka semua yang namanya belum dapat kucatat di sini.

Demikanlah, wahai Saudaraku, wahai Saudariku terkasih. Terpujilah juga Ibu kami Hajar sebab janji Tuhan juga berlaku kepada putranya Ismail. (Sebab keledai liar pun adalah ciptaan Tuhan, manifestasi-Nya, yang dengan sengaja mereka hina setiap orang dengan ungkapan keledai agar orang memandang hina siapa saja yang kelak disebut-Nya demikian. Padahal ia-lah keledai yang memikul beban berat sewaktu kereta mesin belum tercipta, sementara tubuhnya kurus dan mungil, sanggup ia menanggung beban menjelajah padang gersang tanpa makan dan minum juga tanpa mengeluh. Mengapa kita menghina makhluk ciptaan Tuhan yang banyak berjasa?).

Salam sejahtera kepada para ibu kami: Aminah binti Wahb ibu nabi kami Muhammad SAW, dan Fatimah binti Asad ibu imam kami Ali AS. Terpujilah mereka sebab rahim mereka yang diberkati dan sebab darah yang mesti mengalir supaya kami mendapat bimbingan Illahi.

Salam sejahtera kepada Ibu kami Khadijah binti Khuwailid – sesungguhnya aku kehilangan kata-kata saat hendak memuji engkau duhai ibu kami! – sebab seluruh hidupmu adalah hanya untuk mengabdi kepada Tugas Suci Illahi, bukanlah sebab kebetulan engkaubersanding dengan Rasulullah SAW, melainkan sebab engkaulah Wanita Terpilih yang telah ditakdirkan untuk menuntun kami di Jalan Tauhid ini. Duhai ibu kaum mukminin! Tiada pernah engkau menolak atau membantah Perintah Suci, melainkan mendukung dan menjalani dengan sepenuh hati. Demikianlah engkau terus menjadi inspirasi dan penyuluh di hati yang kesepian dan penuh gundah gulana. Terpujilah engkau duhai Ibunda Khadijah, tiada perempuan yang dapat menandingi ketakwaanmu saat mendampingi Rasulullah.

Salam sejahtera kepada Ibu kami Fatimah Az-Zahra – ooh, tiada kata-kata yang layak untuk memuji dan menceritakan kemuliaanmu- sebab engkau adalah ibarat Elizabeth dan Maria dan Nyonya Yesaya di dalam satu jiwa, itulah puteri kesayangan Rasulullah, juga ummul mukminin sejati.

Terpujilah engkau Fatimah, yang dilimpahi rahmat
Tuhan bersama denganmu
Terberkati di antara para wanita
Dan terberkatilah buah dari rahimmu, Hasan dan Husein
Ya Fatimah Az-Zahra, ibu dari orang-orang suci. Doakanlah kami para pendosa.
Saat ini dan pada saat kami mati.

Salam sejahtera bagi para ibu dan para isteri dan para anak perempuan dan saudari yang sholehah dari para imam kami yang mulia – yang telah melahirkan, yang telah menyusui, yang telah mendampingi, yang telah ikut menderita, sejak Ibu kami Fatimah Az-Zahra syahidah, terutama yang menderita di masa Karbala, dan mereka yang terus-menerus diasingkan, dihina, dikucilkan, dan dizalimi oleh para penguasa yang hendak menenggelamkan ajaran-ajaran ahlul-bayt dan menutupi lorong panjang menuju pintu gerbang Jalan Tauhid yang sejati.

Terpujilah Ibu kami Melika, Narjis, ibu dari Imam Mahdi, yang pengabdiannya telah dinubuatkan dan diabadikan dalam Kitab Wahyu.  Terpujilah ia yang namanya diselubungkan dengan keagungan Ibu kami Maria, demikianlah ia yang terlahir dari Keluarga Daud, salam sejahtera untuknya yang telah mempersatukan kembali dua putra terkasih Ibrahim dalam diri  Pemimpin Terakhir umat manusia. Semoga Allah menyegerakan kembalinya putranya yang terkasih, Imam Zaman kami, supaya disegerakan pemerintah dunia yang adil dan akhir zaman (ini) yang bahagia.

Wahai Tuhan kami bimbinglah kami para gadis dan para ibu dan anak-anak perempuan kami supaya berjalan di Jalan Tauhid para ibu kami ini dan menyongsong dengan penuh syukur akan kembalinya Imam Zaman.

Amin Ya Rabbal Alamiin.