(6) Jalan Muhammad

AKU  Tuhanmu.

Tiada-lah aku di dalam AKU.

Lenyap-lah aku di dalam AKU.

Lihat-lah Pembimbingmu

Penerangmu, Cahayamu,

Bapamu Muhammad

Salam sejahtera seru sekalian alam,

Bagi Bapamu Muhammad!

Katakan-lah bagaimana tangan seorang hamba biasa

Dapat menulis tentang Bapamu Muhammad?

Jikalau tangannya tidak tersentuh AKU

Dan membiarkan akunya lebur dalam Diri-KU?

Celaka-lah para aku yang menulis

Noda dan cela dalam kisah Bapamu Muhammad

Sebagaimana mereka telah mencatat

Dengan pongah cacat cela para utusan-KU

Sebelum KU-genapi janji-KU pada Ayahmu Ibrahim:

Katakan-lah kepada para aku

Apakah AKU tiada adil dan tiada pemurah?

Telah KU-ciptakan Hajar setara dengan Sarah

Sebagaimana KU-ciptakan Hawa setara dengan Adam

Duhai anak manusia celaka,

Maka telah KU-ciptakan pula Bani Ismail

Setara sebagaimana adiknya Bani Ishak

Setara sebagaimana kemenakannya Bani Israel

Bagaimana dapat para aku memangkas sekenanya,

Sedangkan AKU telah menciptakan setiap

Anak manusia bersaudara sebagai putra-putra-KU!

Buka-lah hati yang keras dan membatu wahai

Para aku, yang membaca ayat-ayat-KU

Tanpa memejamkan mata dan merenung barang

Sejenak dan membiarkan AKU sahaja

Yang memimpin dan memutuskan kehendak-KU

Biar-lah KU-ingatkan dan KU-ingatkan,

Bapamu Muhammad adalah janji-KU

Kepada Ayahmu Ibrahim, sebab bukan hanya

Ishak saja-lah putra-KU tetapi juga Ismail

Yang lebih dulu lahir dan telah pula KU-cobai

Bersama Ibumu Hajar di padang gersang itu

Dan tiada-lah membiarkan aku menguasai

Walau penderitaan harus menerus menghampiri

Dan AKU-lah yang terus dipanggil, sampai

Lenyap dan habis segala aku di

Antara bukit dan pasir kering berdebu itu

Dan apakah AKU akan membiarkan Ibumu Hajar

Serta Datukmu Ismail tiada memiliki

Penerus bagi menyebarkan firman-firman-KU?

Demikian-lah para aku yang tertutup hati-nya

Akan menghina dan mencela Bapamu Muhammad

Hanya karena Bapamu Muhammad berasal dari

Ibumu Hajar yang hina di mata manusia

Sama seperti para aku yang mengatakan

Tentang ayah dan ibu dari Bapamu Muhammad,

Tidakkah para aku ingat siapa yang melindungi

Ka’bah, sedangkan Abdul Muthalib dan putra-

Putranya adalah penerus Jalan Tauhid yang

Telah diwariskan Datukmu Ismail dari

Ayahmu Ibrahim, dan tiada-lah

Berbeda dari Gurumu Musa, Rajamu Daud,

Atau pun Tuanmu Yesus

Melainkan AKU menguji para aku

Apakah para aku sungguh-sungguh

Hendak menghapus dan melenyapkan aku

Dan membiarkan AKU memutuskan

Dan memahami kehendak AKU

Dan supaya para aku

mengingat Janji-janji-KU yang Maha Adil

Demikianlah ibu dan bapak dari Bapamu Muhammad

Adalah orang-orang yang mengikuti Jalan

Tauhid yang diajarkan Ayahmu Ibrahim

Demikian-lah pula kakek dari Bapamu Muhammad

Itulah kakek dari 12 pangeran yang

Telah KU-Janjikan bagi Ayahmu Ibrahim

Dari Datukmu Ismail

Sedangkan 12 Pangeran dari

Datukmu Ishak sebagaimana yang

Telah KU-Janjikan bagi Ayahmu Ibrahim

Telah pula KU-Genapi

Dan Jangan-lah membiarkan para aku

Menggoda dan menghasut bahwa AKU

Bertindak memihak sebelah hanya karena

Ibumu Hajar bukan isteri pertama,

Terlahir sebagai hamba sahaya, juga

Itulah rahasia yang para aku tutupi

Supaya para aku tidak mau menerima AKU

Dengan sepenuh hati, dengan serela hatinya

Maka itulah kemudian tidak diterima pula

Ketetapan-KU atas Bapamu Muhammad

Sebagai pembawa Bacaan Mulia

Karena itu-lah KU-katakan “Bacalah”

Dan bukan-lah sebab Bapamu Muhammad

Buta huruf, bukan duhai bukan!

Apa yang KU-berikan kepada Gurumu Musa,

Kepada Rajamu Daud, Kepada Tuanmu Yesus,

Hukum. Nyanyian. Kabar Gembira.

Jangan-lah dipikir bahwa Bapamu Muhammad

Tidak mengenal dan tidak KU-ajarkan

Tetapi sekarang ini-lah Bacaan Mulia

Di mana Hukum, Nyanyian dan Kabar Gembira

Menjadi lengkap sebab anak-anak Adam

Juga harus membaca dan membaca

Supaya aku demi aku terkikis dan lenyap

Akhirnya hanya tinggal AKU yang

Menguasai dan tiada keraguan lagi

KU-lengkapi semuanya.

Sebagaimana semua hamba-hamba-KU

Yang KU-utus untuk mengabarkan firman-KU

Demikian-lah semua diuji

Sebab para aku merajalela dan merasa

Bahwa aku-lah yang berhak menentukan,

Bahwa aku-lah yang paling hebat menganalisis

Bahwa aku-lah yang paling berkuasa atas kehidupan-ku

Sedang-kan juga sering para aku mengatasnamakan AKU

Padahal aku-lah yang menguasai hati

Serta hati ber-aku itu-lah yang menguasai akal

Sehingga tak tercerap dan tercerna-lah AKU

Dari dada dan jantung yang berdenyut yang

Sebenarnya merupakan panggilan-KU

Tetapi, bagaimana mungkin para aku

Hendak mendengar jika hati telah

Tertutup oleh debu-debu yang membatu?

Dan demikian-lah telah KU-gerakkan

Hati hamba-KU Khadijah untuk meminang Bapamu

Muhammad dan supaya para aku

Semakin mengerti bahwa tidak-lah AKU

Membedakan antara laki-laki maupun

Perempuan, Dan antara hamba sahaya ataupun

Orang merdeka, Dan bahwa Ibumu Khadijah

Adalah penerus ajaran Bundamu Maria

Yang karena itu Ibumu Khadijah mulia

Sebab dihancurkannya saat aku saat KU-uji

Dengan Mahkota yang KU-sematkan

Pada Bapamu Muhammad, Yang

Membawa penderitaan demi penderitaan

Baginya dan selama hidupnya menjadi

Isteri Bapamu Muhammad, telah

KU-tunjukkan tiada-lah wanita yang

Sebanding selain Ibumu Khadijah pada

Masanya dan tidak-lah Ibumu Khadijah

Pernah mengingkari AKU melainkan dihancurkan

Dan dilenyapkan aku demi aku untuk

Membiarkan AKU sahaja yang hadir

Begitu pun ketika KU-tiup roh ke dalam

Rahim Ibumu Khadijah sebagai putri

Kesayangan Bapamu Muhammad kelak

Dia-lah Bundamu Fatimah yang akan

Duduk di Singgahsana bersama Para

Puteri-puteri Kesayangan-KU

Hajar yang para aku cela, Hannah yang

Menjaga Gurumu Musa, dan

Maria yang Para aku ragukan

Duhai! Tidak-lah cukup bagi halaman kecil ini

Untuk memberitakan kemuliaan Bapamu Muhammad

Sebab jika para aku masih hendak berkuasa

Bagaimana mungkin dapat menerima AKU?

Dan bukan-kah dalam Nyanyian dan

Kabar Gembira AKU telah memberitakan

Tetapi para aku begitu banyak berdalih

Dan memberikan alasan untuk menutupi

Hati dan Akal dari kehendak AKU

Bahkan AKU uji pula setiap yang mengikuti

Bapamu Muhammad seperti yang

Mengikuti Gurumu Musa dan Tuanmu Yesus

Duhai! Lihat-lah di saat hidup pun

Para aku yang mengatakan mengikuti Bapamu Muhammad

Juga membiarkan aku demi aku menguasai

Sering-lah membantah dan berharap

AKU menuruti segala kehendak aku

Siapakah aku dan Siapalah aku di hadapan-KU?

Sampai pada hari Bapamu Muhammad

Masih terdengar suara aku yang meragukan AKU

AKU yang tak terpisah dari Kekasih-KU Muhammad

Dan demikian-lah AKU membiarkan

Kehendak para aku berpaling dari-KU sampai

Hari ini semua dapat melihat bagaimana AKU

Bermurah hati kepada para aku yang mengaku

Mengikuti Gurumu Musa tetapi bersikukuh dengan

Ke-aku-an bukan pada AKU, Mengaku pula

Menaati Tuanmu Yesus tetapi bersikukuh

Dengan ke-aku-an bukan pada AKU, juga

Sekarang, katakan-lah mengaku mencintai

Bapamu Muhammad, tetapi di mana

Para aku saat cucu-cucu kesayangan

Kekasih-KU Muhammad dibunuh dengan kejam?

Maka, berseru-lah sekalian alam memuji

Bapamu Muhammad yang tiada memilki aku

Dan demikian pula 12 Pangeran yang KU-janjikan

Berapa banyak hujjah, berapa banyak kata, berapa banyak lagi

Untuk menerima Kebenaran yang Bapamu Muhammad

Sampaikan, yang berasal dari-KU jua,

Tetapi aku harus menyangkal dan juga

Harus mengakui untuk mengenal AKU dan

Biarkan AKU sahaja yang menguasai sampai

Segala apa pun dan segala aku hilang,

sungguh-sungguh-lah (bukan hanya berucap)

sungguh-sungguhlah

bersaksi: AKU-lah Tuhanmu

[Teriring salam sejahtera kepada Muhammad, beserta keluarga/ahlul baitnya yang suci. Duhai Tuhan, perkenankanlah hamba ini menapaki setiap Jalan Tauhid yang telah Muhammad ingatkan kembali kepada kami, perkenankanlah hamba mengambil setiap hikmah dalam kisah Muhammad dan Khadijah, guru-guru kami, bimbinglah kami kembali kepada-Mu sebagaimana Engkau telah membimbing umat dari kalangan keturunan dan kerabat Bani Ismail kepada-Mu pada masa Muhammad, dan bimbinglah kami sebagaimana Engkau telah membimbing ibu kami Khadijah dalam menaati setiap Wahyu-Mu, teriring doa kami bagi kedua orangtua Muhammad, kakek Muhammad, paman-pamannya, terutama Abu Thalib, dan bimbinglah kami dalam setiap ujian sebagaimana Engkau membimbing sahabat-sahabat terbaik Muhammad untuk kembali mengenal-Mu dan mencintai-Mu. Duhai Tuhan, segerakanlah putra terakhir-Mu yang juga berasal dari keluarga Muhammad, kembali sebagai penutup zaman di dunia kami hidup saat ini. Umat  terakhir Engkau. Tiadalah kuragukan janji-Mu akan akhir bahagia dunia sebagaimana tiada luput janji-Mu kepada seluruh utusan-Mu dan imam yang Engkau pilihkan, sejak dari Nabi Adam hingga Imam Mahdi. Bimbing-lah kami masuk ke dalam bersama bahtera mereka dan hilangkanlah keraguan kami hanya untuk menaati dan menerima setiap kehendak serta ketetapan-Mu. Amin Ya Rabbal Alamiin[]

 

 


JALAN Muhammad ADALAH JALAN TAUHID.


Jalan Muhammad adalah Jalan Tauhid. Jalan bagi mereka yang berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Tidak ada kekuatan lain dan kekuasaan lain selain dari-NYA.  Diri ini pun hilang dan lenyap dalam Diri-NYA. Berserah sepenuhnya kepada kehendak-NYA. Karena itu berserah sepenuh-NYA kepada penilaian-NYA, analisis yang bukanlah menurut ukuran manusia, teori atau konsep apaun, atau hasil kesepakatan bersama para cendekiawan, pemimpin, atau pemuka agama manapun. Telah dikaruniai AlQur’an, Bacaan Mulia dari Yang Maha Esa, untuk mengingatkan kita kepada Jalan Tauhid, membenarkan yang telah lalu (seperti Hukum, Nyanyian, dan Kabar Gembira) menyingkapkan kepada kita masa depan dan adanya akhir bahagia yang dapat dicapai setiap orang yang hanya menginginkan bersama Tuhan. Sementara sejauh ini perjalanan tauhid kita, masih-lah kita mengekori akal sempit kita untuk menyangsikan kemuliaan Ibrahim, Musa juga Daud dengan membesarkan sesuatu yang gelap dari sejarah menjadi skandal-skandal murahan.  Kemudian sekarang kita berdebat tentang kematian Yesus di salib, berdebat tentang penebusan dosa, berdebat tentang Anak Tuhan dan Trinitas ataukah Unitarian.  Sementara itu Kabar Gembira yang Yesus beritakan langsung dari-Nya terus abadi sepanjang zaman, membiarkan lembar demi lembar, kata per katanya, supaya terbaca bagi kita untuk memahami masa depan sekaligus masa lalu dalam kesatuan yang utuh, bukan separuh-paruh, bukan parsial, bukan di wilayah atau bagian bumi tertentu saja.  Adalah hal yang paling aneh dan mengusik apabila seseorang menghujat Muhammad, mengangap Wahyu yang Allah berikan kepadanya bukan bagian dan kesatuan dari wahyu-wahyu sebelumnya, bahkan kemudian menolak Wahyu sebelum Muhammad hanya menerima wahyu kepada Muhammad saja? Bahkan kemudian kita mengingkari itu semua sehingga tidak banyak tahu siapakah Muhammad sesungguhnya, melainkan cela dan fitnah kepadanya sebagaimana fitnah kepada nabi-nabi sebelumnya. Akhirnya malah kita berujung mengingkari segala ketetapan Tuhan yang ada di tangan Muhammad.  Mari-lah kita serahkan segala kebingungan kepada-Nya dan biarkan-lah perdebatan kita berakhir hanya kepada penyerahan diri total kepada-Nya. Maka, Jalan Muhammad adalah Jalan Tauhid. Yang disebut tauhid adalah berserah sepenuhnya  kepada Tuhan. Berserah sepenuhnya kepada kehendak Tuhan – dan pada ketetapan Tuhan. Seperti halnya kisah Khadijah yang memegang dan percaya kepada setiap kata dan janji Tuhan, serta kehidupan keluarga Muhammad semasa Khadijah hidup dan bagaimana Fatimah beserta Ali dan Hasan serta Husein hidup dalam  didikan beliau, serta bagaimana para sahabat yang setia rela akan memenuhi ketetapan-Nya, semua itu mengajarkan kepada kita: Tuhan mengasihi kedua putra Ibrahim sejak semula hingga saat ini tanpa sedikit pun Tuhan pilih kasih sehingga dari keduanya Tuhan mengangkat pemimpin-pemimpin Illahiyah yang adil bagi setiap umat untuk setiap zaman. Rahmat dan berkat Allah berserta orang membiarkan Allah saja-lah yang menetapkan siapa yang berhak menjadi pembimbingnya.  Maka di akhir Jalan Tauhid yang dituntut adalah sepenuhnya memegang bahwa Aku Allah adalah Tuhanmu dan karena itu kita harus rela tunduk kepada ketetapan-Nya, bukan sekenanya setuju atau menolak siapa yang DIA tetapkan bagi kita sebagai pemimpin dan pembimbing di Jalan Tauhid. Pada akhirnya kita harus BERSAKSI. Bukan sekadar berucap  dan mengimani dengan taklid buta. Semoga saya serta kita semua termasuk dari mereka yang terus berharap kepada Rahmat Allah dan tidak putus asa pada janji-janji-Nya dan berpegang teguh kepada ketetapan-Nya dahulu, saat ini dan nanti.  Amin ya rabbal alamiin.[]










 






Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s