(5) Jalan Yesus

AKU  Tuhanmu.

Tiada-lah aku di dalam AKU.

Lenyap-lah aku di dalam AKU.

Lihat-lah Tuanmu Yesus

Beri-lah nama apapun kepada Tuanmu Yesus

Tuanmu Isa, Tuanmu AlMasih, Tuanmu Kristus

Terpuji-lah Tuanmu Yesus karena tiada memiliki aku

Bagi Tuanmu Yesus hanya AKU

Jauh sebelum Bukit Golgotta menjadi saksi

Palingkan-lah wajah kepada Kekasih-KU Maria

Ibumu Maryam, Ibumu Yang Paling Suci

Ibumu yang senantiasa di dalam mihrab-KU

Dipagari Pamanmu Zakaria yang lebur dalam AKU

AKU selalu bersama Kekasih-KU sebab Kekasih-KU

Telah meninggalkan aku, lenyap-lah aku

Meniada-lah aku dalam AKU sahaja

Tetapi mengapa aku demi aku berkeliaran,

Sedangkan dahulu KU-terbitkan Bapamu Adam

Hanya dari segumpal tanah

Dan KU-keluarkan Ibumu Hawa

Hanya dari tulang rusuk segumpal daging

Sekarang KU-tunjukkan Roh-KU bukan hanya

Daging dibungkus kulit dengan air dan tanah

AKU memiliki begitu banyak Putra dan juga Kekasih

Tetapi Kekasih-ku Maria-lah yang rela menanggung

Derita demi menjadi saksi keangkuhan aku

Selalu hendak mengungguli dan menaklukkan AKU

Namun siapalah aku,  tanpa AKU?

Maka, ingatlah ketika Ibumu Maryam tidaklah meratap

Telah pudar aku dalam cela dan fitnah

Sebab aku tak bisa melihat Kecantikan di balik hijab

Dan aku tak bisa menemukan Kebenaran dalam tumpukan jerami

Tapi Ibumu Maryam telah menyaksikan AKU

Sebab aku tinggal debu terhempas

Kemudian lahir-lah Putra-KU seperti Adam juga Hawa

Goncangkan-lah buah kurma dan dengar-lah

Tuanmu Yesus berbicara sebelum kakinya merangkak

Jika aku hendak mencari kenyang, carilah dalam AKU

Bukan dalam teori, spekulasi dan seribu satu hidangan

Untuk akal yang bergantung pada indra makan dan minum

Dengan lahap, tapi tidak pernah cukup

Dapatkah aku memuaskan aku?

Jauh sebelum Bukit Golgotta menjadi saksi

Telah pun menjadi saksi Bumi bersimbah darah

Tatkala Pamanmu Yahya memilih AKU daripada

Seribu satu aku yang terus merajalela

Kematian aku-lah kehidupan dalam AKU

Betapa panjang Tuanmu Yesus harus menghampar permaidani

Untuk aku-aku membungkuk, menunduk, jatuh dan rebah?

Dari Langit KU-hidangkan berkat

Yang telah tidur panjang KU-bangkitkan dalam nafas-KU

Yang telah buta KU-singkap kembali dalam penglihatan-KU

Yang menderita kusta kini tiada lagi terhina

Dan para murid telah membersihkan permaidani itu

Agar jalan lurus terbentang tidak terhalang

Bagi  membiarkan setiap aku  memudar dan mengikis

Seiring langkah menuju AKU

AKU telah memberikan Kabar Gembira

Dan Tuanmu Yesus, berdiri tanpa seberkas aku pun:

Dengarkanlah, Kabar Gembira-KU!

Di Bukit Sinai aku-aku telah mati

Tetapi, di masa Rajamu Daud aku-aku bangkit lagi

Berpesta pora, mabuk, dengan pedang dan tahta

Di puncak Kuil Sulaiman aku-aku telah menggelepar

Tetapi, sekarang di atas mimbar aku-aku bangun

Begitu gagah, begitu lancang mewakili AKU

Demikian-lah tidak cukup Hukum

Tidaklah cukup Nyanyian

Tapi baiklah KU-kabarkan Berita Gembira

Kemudian, cemas-lah aku-aku dengan jubah

Kebesaran meragukan AKU (sekali lagi, sekali lagi)

Duh, celaka-lah semua aku yang menyangsikan AKU

Sehingga dunia mesti menyaksikan

Tuanmu Yesus disalib

Dan separuhnya lagi menyangsikan

Tuanmu Yesus-lah yang memikul salib itu

– Tapi biarlah Bukit Golgotta yang berbicara –

Tuanmu Yesus-lah yang terpancang di salib itu

Bukan demi aku-aku, bukan! bukan!

Tiada yang harus ditebus selain aku-aku sahaja, sebab

Tuanmu Yesus pergi menjemput AKU

Dan AKU pun datang menjemput Tuanmu Yesus

Namun, setiap aku pasti tidak mudah mengerti

Lupakah pada kisah Ayahmu Ibrahim

Bukankah AKU tidak hangus terbakar?

Dan AKU juga tidak-lah mati tersalib

Salib yang terpancang hanya-lah petunjuk

Seperti juga api yang membara

Juga kelak pedang yang menebas

Kekasih-KU Ali dan Husain

Jika aku tidak menangis saat membaca ini

Bagaimana hendak AKU mengalir dan menenggelamkan aku?

Penderitaan ini demi KABAR GEMBIRA

AKU menerima aku-aku yang mengerdil dan menipis

Yang akhirnya lenyap tiada berbekas

Tidakkah aku mengerti mengapa air mata dan darah

Harus mengalir bagai Sungai dan Mata Air?

Air mata Dua Maria itulah sungai-KU

Baru-lah akan mengerti air mata Bundamu Fatimah

Baru-lah akan mengerti Darah-KU pada

Salib, Pedang dan Racun,

Supaya aku-aku hanyut, tenggelam di dalam-KU

Maka ingatlah Tuanmu Yesus yang selalu menemani

Bagi setiap aku yang hendak pergi

Pergi mengikis dan memudarkan aku

Bagi setiap aku yang hendak pulang

Pulang menghancurkan-leburkan aku

Ikut-lah menemukan AKU

Dalam Kabar Gembira-KU pada darah dan daging

Juga Kalimat Tuanmu Yesus

Jangan-lah mencari nama, Nama yang tidak

KU-ajarkan, Nama yang aku-aku buat

AKU tidak pernah kemana-mana

Hanya aku saja yang tidak ingat dan hendak

Mengira-ngira mengapa penderitaan dan harapan

Menjadi satu dalam kenikmatan bersama-KU?

AKU bersama aku-aku yang memanggil,

Mencari AKU, supaya aku melenyap dan menghilang

Meneguhkan apa yang sempat meragukan-KU

Dalam Kabar Gembira

Maka, mari-lah membaca Kabar Gembira

Untuk menemukan janji-janji-KU

Dan akhirnya menemukan AKU

Supaya tidak meragukan lagi AKU

Walau dua ribu tahun harus menanti

Berapa berapa banyak salib mesti ditanggung,

Berapa banyak darah,berapa banyak pedang mesti menebas,

Untuk memahami jalan berbilur Tuanmu Yesus,

Tetapi aku harus berbahagia dan juga

Harus menderita untuk mengenal AKU dan

Biarkan AKU sahaja yang menguasai sampai

Segala apa pun dan segala aku hilang,

sungguh-sungguh-lah (bukan hanya berucap)

sungguh-sungguhlah

bersaksi: AKU-lah Tuhanmu

[Teriring salam sejahtera kepada Isa/Yesus, juga Maria binti Imran,  Zakaria,  Yahya/Yohanes, Maria Magdalena, beserta keluarga dan murid mereka yang adil. Duhai Tuhan, perkenankanlah hamba ini menapaki setiap Jalan Tauhid yang telah Yesus ingatkan kembali kepada kami, perkenankanlah hamba mengambil setiap hikmah dalam kisah Yesus dan Maria, guru-guru kami, bimbinglah kami kembali kepada-Mu sebagaimana Engkau telah merangkul domba-domba yang tersesat kepada gembala-gembala-Mu pada masa Yesus, dan bimbinglah kami sebagaimana Engkau telah membimbing guru kami Yahya dalam menaati setiap Wahyu-Mu, dan bimbinglah kami dalam setiap ujian sebagaimana Engkau membimbing guru kami Yesus, bimbinglah kami dalam setiap zikir dan penyucian diri kami seperti Engkau membimbing Maria dan Zakaria, juga bimbinglah kami sebagaimana Engkau membimbing Maria Magdalena untuk kembali mengenal-Mu dan mencintai-Mu. Duhai Tuhan, segerakanlah putra terakhir-Mu yang juga berasal dari keluarga Yahya dan Yesus, kembali sebagai penutup zaman di dunia kami hidup saat ini. Umat  terakhir Engkau. Tiadalah kuragukan janji-Mu akan akhir bahagia dunia sebagaimana tiada luput janji-Mu kepada seluruh utusan-Mu dan tuan kami, Zakaria, Maria, Yahya, Yesus dan domba-domba yang tersesat dan hendak kembali untuk mengorbankan diri hanya untuk Engkau Yang Maha Esa.  yAmin Ya Rabbal Alamiin[]



JALAN YESUS ADALAH JALAN TAUHID.


Jalan Yesus adalah Jalan Tauhid. Jalan bagi mereka yang berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Tidak ada kekuatan lain dan kekuasaan lain selain dari-NYA.  Diri ini pun hilang dan lenyap dalam Diri-NYA. Berserah sepenuhnya kepada kehendak-NYA. Karena itu berserah sepenuh-NYA kepada penilaian-NYA, analisis yang bukanlah menurut ukuran manusia, teori atau konsep apaun, atau hasil kesepakatan bersama para cendekiawan, pemimpin, atau pemuka agama manapun. Telah dikaruniai Injil, Kabar Gembira dari Yang Maha Esa, untuk mengingatkan kita kepada Jalan Tauhid, menyingkapkan kepada kita masa depan dan adanya akhir bahagia yang dapat dicapai setiap orang yang hanya menginginkan bersama Tuhan. Sementara sejauh ini perjalanan tauhid kita, masih-lah kita mengekori akal sempit kita untuk menyangsikan kemuliaan Ibrahim, Musa juga Daud dengan membesarkan sesuatu yang gelap dari sejarah menjadi skandal-skandal murahan.  Kemudian sekarang kita berdebat tentang kematian Yesus di salib, berdebat tentang penebusan dosa, berdebat tentang Anak Tuhan dan Trinitas ataukah Unitarian.  Sementara itu Kabar Gembira yang Yesus beritakan langsung dari-Nya terus abadi sepanjang zaman, membiarkan lembar demi lembar, kata per katanya, supaya terbaca bagi kita untuk memahami masa depan sekaligus masa lalu dalam kesatuan yang utuh, bukan separuh-paruh, bukan parsial, bukan di wilayah atau bagian bumi tertentu saja. Mari-lah kita serahkan segala kebingungan kepada-Nya dan biarkan-lah perdebatan kita berakhir hanya kepada penyerahan diri total kepada-Nya. Maka, Jalan Yesus adalah Jalan Tauhid. Yang disebut tauhid adalah berserah sepenuhnya  kepada Tuhan. Berserah sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.Seperti halnya kisah Maria yang mana begitu banyak orang menyangsikannya, juga Maria Magdalena yang menunjukkan pertobatan sejati, pengorbanan Yahya, kesetiaan Zakaria dan istrinya Elizabeth memegang janji Tuhan, serta mukjizat-mukjizat Yesus, semua itu mengajarkan kepada kita: Tidak ada yang mustahil bagi Allah, dan kemustahilan hanya berlaku bagi mereka yang meragukan-Nya. Rahmat dan berkat Allah berserta orang membiarkan Allah saja-lah yang membaptis (men-sibghah)-nya, yang membiarkan Allah mengalir dan menguasainya. Dan semoga saya serta kita semua termasuk dari mereka yang terus berharap kepada Rahmat Allah dan tidak putus asa pada janji-janji-Nya. Amin ya rabbal alamiin.[]