(1) Jalan Nuh

AKU  Tuhanmu.

Tiada-lah aku di dalam AKU.

Lenyap-lah aku di dalam AKU.

Lihat-lah Kakekmu, Nuh.

Demikian-lah musim demi musim telah berganti

Masihkah anak-anak Adam dan Hawa mengingat Taman Firdaus?

Gedung-gedung pencakar langit, sungai

Yang mengalir jernih dengan ikan-ikannya,

Kebun-kebun luas tiada bertepi, sepanjang waktu

Siap menerima para aku pulang,

Mengenyangkan perut, memuaskan dahaga,

Menenangkan tubuh yang lelah setelah bekerja

Tetapi apakah para aku mengingat AKU?

Apakah para aku telah lupa, aku-aku tidak-lah nyata?

Telah KU-anugrahi peradaban modern

Tetapi apakah para aku-lah yang membangunnya?

Sebelum sempat menghitung, segala yang

Telah KU-bangun dapat segera KU-hancurkan

Maka, Kakekmu Nuh telah KU-utus

KU-beritahu: “Naiklah Bahtera-KU!”

Bahtera-KU adalah bahtera tempat para aku

Menunduk dan pasrah melenyap dalam AKU

Kakekmu Nuh harus berapa ribu tahun hidup,

Supaya para aku mendengar dan memahami?

Bahtera-KU adalah anugrah dari-KU,

Dan, tidakkah para aku hendak naik dan ikut

Ke dalam Bahtera-KU, melepaskan dari

Bah Keraguan, Kepalsuan, dan Tipu daya?

Telah tergambarkan bagi para aku

Walaupun para aku adalah putra-putra

Dan keluarga Kakekmu Nuh

Tetapi jika tidak naik Bahtera-KU, dapatkah

Kakekmu Nuh menolong, sedangkan hanya

AKU yang dapat menolong?

Dan lihat-lah pengorbanan para hewan

Demi untuk anak-anak manusia

Mengapa mesti sekali lagi dan berkali-kali lagi

Para aku meragukan dan mengingkari

Banjir besar yang pernah KU-kirim

Untuk membuktikan bahwa para aku tidak

Pernah membangun apa-apa, dan tidak

Bisa menghancurkan siapa-siapa, kecuali

Dengan Izin-KU sahaja?

Dan janganlah menyesali doa Kakekmu Nuh,

Sebab Kakekmu Nuh telah melenyapkan dan

Menghancurkan aku supaya bersama dengan-KU

Maka ketika AKU telah memberitahu

Apa yang mesti dilakukan maka aku yang

Menghamba tidak-lah membantah, juga

Tidak-lah dapat menghindar kendati membantah

Tidakkah semua yang pernah terjadi,

Gempa, tsunami, banjir, kebakaran,

Segala kecelakaan yang merenggut nyawa,

Atau menyisakan sedikit nyawa dalam

Penderitaan, kecacatan, dan luka-luka,

Tidakkah dapat para aku mau mengenal siapa

AKU yang sesungguhnya

Yang sementara para aku berusaha merencanakan,

Menghitung, mengira-ngira, dan

Meyakini sepenuh hati arah angin dan

Tinggi gelombang, serta besar goncangan,

Tetap-lah para aku tidak pernah mampu

Menghindari sepenuhnya dari Kehendak-KU?

Maka, duhai para aku yang membaca ini,

Mengapa mengingkari Bahtera-KU, seperti

Mereka yang mentertawakan dan menghina

Bahtera-KU yang dibangun Kakekmu Nuh

Dengan susah payah, derita hina, dan begitu lamanya

Bukankah telah KU-terangi hati Siddharta

Saat melihat tiga penderitaan, sakit, tua dan mati,

Dan telah KU-sinari hati Krishna

Saat semua aku lupa bagaimana hendak bertemu

Dengan-KU dan melenyapkan

Segala aku dan menghancurkan aku supaya

Dapat bersama AKU?

Bahkan telah KU-limpahi jendela dan pintu

Yang terbuka lebar bagi guru-gurumu di kaki

Gunung Olympus, supaya mencari jalan

Di antara seribu satu jalan penuh tipu daya

Untuk mengenal-KU??

Jangan-lah kaku dan bersikukuh merasa mengenal

AKU padahal aku-aku di dalam diri masih

Bersemayam begitu mencengkeramnya

Sampai-sampai mengira itu-lah AKU

Lalu, kalau begitu, Mengapa, oh

Mengapa tidak menaiki Bahtera-KU sekarang

Juga, masuk-lah ke dalam Bahtera-KU saat

Ini juga, tanpa ragu-ragu sekali-pun

Dan ketahui-lah Bahtera-KU tidak

Pernah karam dan tidak pernah hancur,

Tetapi, aku-aku saja-lah yang akan

Hancur dan tenggelam, dan tak akan

Ada yang dapat menghindar dari

Menyaksikan pada akhirnya bahwa AKU

Sajalah Kenyataan dan Keberadaan Sejati

Berapa banyak laut, sungai, danau,

Berapa banyak bencana, kecelakaan, penderitaan

Untuk aku-aku lalui tanpa memahami, kecuali

Masuk-lah ke dalam Bahtera-KU sebagaimana

Kakekmu Nuh, tetapi aku harus teguh dan juga

Harus menyerah untuk mengenal AKU dan

Biarkan AKU sahaja yang menguasai sampai

Segala apa pun dan segala aku hilang,

sungguh-sungguh-lah (bukan hanya berucap)

sungguh-sungguhlah

bersaksi: AKU-lah Tuhanmu


 

[Teriring salam sejahtera kepada Nuh, beserta keluarga mereka yang adil. Duhai Tuhan, perkenankanlah hamba ini menapaki setiap Jalan Tauhid yang telah Nuh ingatkan kembali kepada kami, perkenankanlah hamba mengambil setiap hikmah dalam kisah Nuh, nabi-nabi kami sebelumnya, rahmati-lah kami dan bimbinglah kami dari tidak mengingkari-Mu sebagaimana Engkau telah menyelamatkan mereka dari banjir bah di masa Nuh, dan bimbinglah kami masuk ke dalam bahtera-Mu, bahtera Nuh, supaya dapat mengarungi banjir  dan mendapat rahmat-Mu, untuk mengenal-Mu dan mencintai-Mu. Duhai Tuhan, segerakanlah putra terakhir-Mu yang juga berasal dari putra Nuh yang taat untuk mengembalikan dunia dalam arahan satu nakhoda yang adil dan sentosa sebagai penutup zaman di dunia kami hidup saat ini. Bahtera Engkau. Tiadalah kuragukan janji-Mu akan akhir bahagia dunia sebagaimana tiada luput janji-Mu kepada Nuh dan mereka yang menutupi kebenaran, maupun mereka menerima kebenaran. Amin Ya Rabbal Alamiin]


JALAN NUH ADALAH JALAN TAUHID.


Jalan Nuh adalah Jalan Tauhid. Jalan bagi mereka yang berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Tidak ada kekuatan lain dan kekuasaan lain selain dari-NYA.  Diri ini pun hilang dan lenyap dalam Diri-NYA. Berserah sepenuhnya kepada kehendak-NYA. Karena itu berserah sepenuh-NYA kepada perintah-NYA walaupun ia tidak sesuai dengan trend dan kecenderungan populer. Telah dikaruniai bahtera kepada kita sebagai rahmat dari Yang Maha Esa, untuk mengembalikan kita kepada Jalan Tauhid, menjadikan tempat selamat bagi kita dari banjir bah yang dapat menenggelamkan kita dari kekufuran, yaitu dari mengingkari Kebenaran bahkan menutupinya dari orang lain mengetahuinya atau diri sendiri menerimanya. Setiap bencana dan kecelakaan yang telah terjadi dan akan terjadi adalah bukti dari kekuasaan Tuhan dan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan walau akal dan panca indra manusia tak dapat mencerap lagi mencernanya. Maka, Jalan Nuh adalah Jalan Tauhid. Yang disebut tauhid adalah berserah sepenuhnya  kepada Tuhan. Berserah sepenuhnya kepada kehendak Tuhan. Seperti halnya kisah keluarga Nuh yang mengingkari perintah-NYA: Tidaklah berguna kita adalah keturunan siapa atau-kah kita sehebat apapun, pasti-lah kehendak Tuhan lebih kuasa daripada kita, bahkan apapun nama diberikan kepada kehendak Tuhan itu, dan tidaklah berguna semua itu jika kita tidak membangun dan ikut masuk ke dalam bahtera Nuh []


2 responses to “(1) Jalan Nuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s