Kristen Telah Berkembang Karena Islam

(DAN, PROTESTAN LAHIR KARENA ISLAM?)

 

foto1

Menjelang ibadah Jum’at Agung di GKA-RB


Pada hari Sabat Hening ini biarlah saya menulis sesuatu yang sifatnya sedikit provokatif. Tulisan ini saya tulis sebagai seorang sejarawan amatir (hanya karena saya lulusan atau sarjana sejarah abal-abal dari Universitas Padjadjaran, yang sejak SD memang menyukai mata pelajaran berkaitan Sejarah).

Sebagai seorang yang mendaku sebagai pengikut aliran sufistik Daudiyah, yaitu seorang Muslim-Kristen, yaitu seorang mengklaim sebagai penganut Agama Ibrahim sesungguhnya (ya, boleh dong, mengklaim, kan hanya mengklaim ini), pada hari raya Jum’at Agung  (24/3) lalu saya berencana untuk ikut hadir dalam perayaan tersebut yang diselenggarakan oleh gereja saya (GKA-Reformed Baptist) dan ikut ibadah di suatu gereja Katholik Roma (GKR). 

Ketika saya mendengar khotbah Pendeta Suar Budaya di GKA-Reformed Baptis hari ini, ingatan saya tentu saja melayang jauh, membenak kepada hal-hal lain di antaranya adalah sejarah aliran atau gereja Baptis, dan berita kekinian dari GKR, tentang Paus Fransiskus. 

Pada waktu Subuh, sebelum berangkat ke gereja, saya membaca tentang Paus Fransiskus membasuh kaki tiga imigran Muslim dengan juga mencium kakinya sebagai bagian dari tradisi Kamis Putih, yaitu menjelang Jum’at Agung yang semula sebelum masa kepausannya, tradisinya hanya 12 laki-laki Katholik yang terpilih dicuci kakinya, tetapi kini perempuan, dan juga yang berbeda agama pun terpilih dalam ritual seremonial itu. Dalam kitab kecil yang ditulis Sufi yang terkenal di Barat, Idries Shah, mengenai Sufisme untuk para pemula, ada disebutkan secara singkat bahwa ada tradisi juga oleh para darwis Sufi di masa lalu untuk mencuci kaki sesama darwis, murid, atau tamu yang singgah di khanaqah, zawiyah, tekke atau pondok mereka. 

 

Saya bercanda dengan teman di samping saya bahwa saya berharap bahwa pendeta di gereja kami akan melakukan hal itu kepada kami semua. Saya berpikir, kemungkinan besar kami bukan menangis terharu, tetapi akan terjadi banyak gurauan atau keluar sisi humor kami, karena jemaat di gereja kami memiliki kecenderungan karakter untuk menggumuli penderitaan dengan narasi-narasi humor daripada tangisan atau keseriusan ala gereja-gereja ortodoks lain. 

Sebagai seorang yang mengklaim sebagai Ana*, karena mendapat ijazah dari Daudiyah untuk mendirikan pondok Daudiyah sendiri, saya yang dengan gembira ingin belajar untuk membuka hati saya kepada semua orang, tentu akan senang juga melakukannya untuk siapapun, apalagi orang-orang berbeda agama dengan saya (terutama sih ya untuk Raden Mas Pendeta Ganteng tercinta [RMPG], untuk membuktikan apapun itu, tidak perlu menunggu kakinya menginjak telor, lalu saya bersimpuh membersihkannya gitu [ oiiii…, eling, eling, nduk, memangnya adat perkawinan Jawa opo😛 ] ) 

Pada waktu Subuh, sebelum berangkat ke gereja juga, saya sedang mempelajari kembali sejarah gereja-gereja Baptis, termasuk Reformed-Baptist, aliran dari GKA yang akan saya datangi pada Jum’at Agung ini. Saya kemudian membaca kembali sebuah tulisan dalam blog seorang yang menyebut namanya sebagai Harper McAlpine Black,* yang berjudul “A Battle Raging in a Single System-discussion.”

Harper McAlpine Black menyebutkan bahwa  (berdasarkan gaya psikologi Freudian) dalam alam bawah sadar bangsa Eropa (baca: dunia Kristen) pada abad pertengahan dulu, mereka memandang Islam sebagai “The Other“, yang meskipun ada pada masanya atau pada titik tertentu dibenci, bahkan mungkin berusaha dihindari atau dilepaskan, tetapi ternyata tetap begitu berpengaruh kuat, sehingga secara tidak sadar “The Other” itu memicu perubahan, merespon hal-hal yang mungkin tampaknya untuk self-critic, atau self-content, dan seterusnya, akan tetapi sebenarnya merupakan suatu tindakan meng-counter sang “The Other” itu sendiri. 

Ya, you know, seperti kalau saya melihat RMPG sebagai “The Other” yang sebenarnya nggak ganteng-ganteng amat dibandingkan Engin Akyurek, Ali Syariati atau bahkan romo Matteo, tetapi alam bawah sadar saya berhadap-hadapan dan bergumul dengan pikiran dimana saya mau menyangkal eksistensinya dan perasaan saya untuknya, namun ia (pikiran saya) tak mampu mematahkannya. Setiap kali saya berhasil tidak mengingatnya, saya justru bertubi-tubi mendapat mimpi tentang dia. Oke, mungkin terdengar analogi ini terkesan personal. Menurut sohib saya, Mariana Amiruddin dari Komnas Perempuan, beginilah cara umumnya perempuan berbicara, selalu merelasikannya dengan sesuatu yang bersifat personal dan domestik. Namun, kembali ke persoalan “The Other” itu, Barat atau Kristen itu diam-diam terpesona oleh Islam, dalam pengertian apapun itu, ingin menolaknya, bahkan kalau perlu bersikap (amat) galak, kejam dan membenci Islam, akan tetapi jauh di lubuk hatinya dia penasaran sekali dengan Islam, yaitu ingin merengkuh, memiliki, mempelajari Islam. Bahwa Kristen tak hanya ingin hidup damai, bahkan kalau perlu kawin dan bercinta di balik selimut dengan Islam.

snape loves lily.jpg

Sebuah foto sederhana dari teman facebook saya bernama Simon Chen, hari ini telah membantu saya untuk menerangkan analogi ini. Foto ini memuat meme dengan ungkapan “I love you like Snape loves Lily” yaitu dua tokoh yang ada dalam serial novel Harry Potter karya JK Rowling. Kata sastrawan Perancis Guy De Maupassant, “Hanya perempuan yang tahu caranya mencintai” lewat cerpen tragisnya tentang cinta seorang perempuan miskin yang tak pernah ditanggapi oleh seorang kaya yang justru memanfaatkan cintanya dan ia malah beruntung dapat warisan dari harta tabungan perempuan itu setelah mati. Namun, pengarang perempuan JK Rowling justru mematahkan ungkapan itu lewat kisah Snape yang mencintai Lily, yang meskipun tidak berbalas, ia tetap mencintai Lily dengan diam-diam melindungi Harry, putra Lily. JK Rowling justru memberikan gambaran real tentang cara lain perempuan dalam mencintai, yaitu Hermione kepada Ron. Hermione si gadis jenius, cantik, dan kelihatannya angkuh itu justru diam-diam mencintai Ron, yang tampaknya bodoh, naif dan pemalas, tetapi sebenarnya pemberani dan setiakawan, sehingga dapat diandalkan. Cara mencintainya adalah dengan bersikap “kejam” yaitu, nyinyir, suka mengkritik, “meneror dengan contoh ideal tertentu”, dan penuh ekspektasi (penuh tuntutan) kepada Ron. Jadi, dalam kaitan dengan artikel ini, Barat atau Kristen ternyata tanpa sadar mencintai Islam dengan paling tidak tiga cara, yaitu sebagaimana yang diungkapkan Guy de Maupassant dalam cerpen tragis itu, dan juga sebagaimana Snapes mencintai Lily (suatu bentuk cinta yang menurut saya unik dan aneh), dan juga sebagaimana Hermione mencintai Ron (bahkan, juga sebaliknya, dimana Ron pura-pura membenci Hermione, selalu menyindir atau mengejeknya, tapi ternyata sangat mencintai Hermione dan sempat cemburu dengan kedekatan Hermione dengan Harry). 

Ketika saya membaca tulisan Harper McAlpine Black itu yang terkesan over-acting banget membaca sejarah Barat itu, saya teringat catatan sejarah mengenai Andalusia ketika kesultanan Islam berkuasa. INI SESUNGGUHNYA SUATU PEMERINTAHAN YANG SEKULER NAMUN TAMPAK RELIGIUS…, seperti yang pernah disitir Ulil Absar dalam diskusi Reboan Komunitas Pengajian Djohan Effendy di PGI pada Rabu (23/3) lalu. Orang Kristen terbelalak menemukan praktek homoseksualitas secara permisif di kalangan sultan dan bangsawan, sepanjang ia dilakukan di bilik-bilik privat, sedangkan Gereja Katholik Roma (GKR) yang waktu itu masih merupakan kekuasaan singular, satu-satunya di Eropa, mengecam praktek ini secara terang-terangan.

Islam sejak awal (pada masa itu, bukan masa ini ya) telah begitu cerdas memisahkan ruang publik dengan ruang privat. Polisi syariah tidak punya hak atau tidak boleh menghukum karena menggebrek ke ruang-ruang privat, seperti menggerebek saya  kalau sekamar dengan RMPG, menanyakan akta nikah kami, atau langsung menggiring kami ke gelanggang untuk dirajam ataupun dicambuk karena zina, karena syarat-syarat jatuhnya hukuman zina itu hampir mustahil diterapkan sehingga dapat terjadi vonis hukuman. Tidak hanya hukum nikah mut’ah (temprorer) pada beberapa sub-mazhab fikih Ja’fari, malah hukum nikah daim (permanen) menurut Maliki saja konon tak mensyaratkan adanya saksi dan wali. Jadi, kalaulah saya berdua-duaan dengan RMPG di kamar tanpa akta nikah, atau apapun yang sifatnya formal-yuridis, bisa saja kami bersumpah kami sudah melakukan akad dengan menggunakan sandaran mazhab fikih itu. Nah, di Andalusia, KARENA SIFAT ISLAM YANG SEKULER DAN LIBERAL untuk ukuran masa itu, ia malah menarik minat orang-orang untuk berkeinginan masuk Islam. Apatah lagi pada zaman itu gairah keilmuan demikian meningkat, sedangkan suasana Eropa dengan GKR-nya tampak lesu dalam bidang keilmuan, seperti adanya tim-tim proyek penterjemahan buku-buku keilmuan, dan diskusk-diskusi kaum inteletual lintas agama yang marak pada masa itu. Ini benar-benar membuat ketar-ketir GKR yang khawatir akan kehilangan kuasa, pengaruh dan jemaat-jemaat tajir pemberi uang perpuluhan dan jemaat-jemaat dari kalangan penguasa-penguasa digdaya.

Harper McAlpine Black malah bilang kalau lahirnya tarekat Fransiskan yang mistik sekali itu, [dan jangan lupa St Francis itu “korban” dari Perang Salib, dimana ia yang dari Barat akhirnya berjumpa dengan Islam di Yerusalem, yaitu Timur, berikut Kristenitas Timur yang berbeda dari Kristenitas Barat] adalah counter terhadap sufisme Islam, atau para-Islam… Pernyataan dia ini terkesan romantisme Islam ya, tetapi baru-baru ini saya membaca buku tentang Abu Said al-Khayr yang lahir 200 tahun sebelum Francis itu merupakan pendiri mazhab Sufi Khurasan yang untuk kali pertama mengembangkan etika khanaqah yang menjadi dasar bagi etika zawiyah, tekke, atau pondok-pondok Sufi selanjutnya. Misalnya, etika khanaqah ini ialah darwis-darwis dilarang menanyakan keadaan-keadaan yang sifatnya privasi dari para sufi atau musafir yang mampir dan bermalam, tidak boleh kepo urusan pribadi melainkan hanya boleh bertanya keadaan para guru suci dan tarekat-tarekat secara umum. Mereka harus melayani manusia dan menciptakan surga bagi satu sama lain sebagai esensi dari segala peribadatan. Mazhab sufi ini gabungan dari metode malamatiyah (jalan menyalahkan diri atau menganggap diri salah dan memberi citra diri sebagai pendosa), tetapi mazhab ini sekaligus merupakan pendorong lahirnya organisasi-organisasi dagang dari para perajin seni.

Dalam tulisan tersebut, Harper McAlpine Black menyatakan, REFORMASI GEREJA TAK AKAN ADA TANPA ISLAM.

Mtt19

Aku Haus, salah satu ucapan Yesus yang terkenal di kayu salib

Apakah Anda pernah mendengar ungkapan, “Tanpa Muhammad, tak’kan ada Charlemagne?” Islam yang berkembang luas mempengaruhi Eropa sejak kejayaan Andalusia dan Ottoman, adalah “The Other” bagi Kristen untuk memperbaiki dan mengubah dirinya — ia (Islam) itu gelap, misterius, sekaligus ternyata membebaskan dari satu sistem yang singular….Dalam Sunni Islam atau juga Syiah dalam pengertian luas untuk “Ahlusunnah wal jamaah“, bahwa Rasulullah Muhammad adalah contoh manusia sejati (ingat ungkapan terkenal Ibn Arabi, Insan Kamil atau Manusia Sempurna?). Kesalehan Islam selama ini selalu berdasarkan pada menirukan contoh teladan Nabi Muhammad (saw).  Maka, Kristen merespon untuk meng-counter ini. [Mungkin, kalau kita juga ingat bahwa St Thomas Aquinas konon dipengaruhi juga filsuf-filsuf Muslim dan St John of the Cross pendiri tarekat Karmelit yang juga dipengaruhi para darwis Muslim, melahirkan karya “The Darkness of the Soul” yang sangat bernilai tauhid ala Sufisme bagi saya]. Harper mengatakan bahwa counter Kristen terhadap konsep Islam ini antara lain bahwa umat Kristen diharapkan untuk: Mengimitasi Kristus. Kristus menjadi contoh manusia sejati. Spiritualitas Fransiskan adalah “counter” bagi popularitas Sufi. Kristenitas diciptakan kembali sebagai “counter” terhadap Islam. Secara langsung maupun tak langsung, Islam telah mentransformasi Kristen. Kita tak dapat memahami Barat tanpa Islam.

Harper mengatakan, bahkan, meskipun tak pernah disebutkan sebagai faktor terjadinya Reformasi dalam Sejarah Eropa (Kekristenan), bahwa sesungguhnya ada peranan tersembunyi pengaruh eksistensi Turki (Muslim) di dalamnya. Sebagaimana halnya perubahan-perubahan dalam diri saya ketika misalnya jatuh cinta kepada RMPG, ada peranan tersembunyi terhadap eksistensi RMPG yang mengubah saya dalam banyak hal, counter-counter saya terhadap Kristenitas, Trinitas, Alkitab, dll, misalnya.
Jadi,  menurut Harper, PROTESTANISME ADALAH RESPON KRISTEN TERHADAP ISLAM. atau bahkan kita bisa mengatakan bahwa PROTESTANISME ADALAH KRISTENITAS YANG DIISLAMISASI SEDEMIKIAN RUPA.

Harper yang mengaku sebagai pengamat yang unfashionable dalam menganalisis sejarah, filsafat dan studi keagamaan tidak sedang mengada-ada dalam hal ini. Mari kita mengingat-ingat doktrin kaum Protestan yang dirangkum dalam tiga ekspresi populer: sola fide, sola scriptura dan sola gracia…  Kaum Protestan yang awalnya amat menolak apa yang disebut sebagai tradisi Bapa-bapa atau konsensus ulama awal (ijma’ dan jumhur pendapat yang ditradisikan oleh bapa-bapa Kristiani perdana) mengkampanyekan untuk sepenuhnya beriman kepada Yesus Kristus sebagai basis atau fondasi segala keyakinan dan kebenaran, untuk kembali kepada Alkitab (Alkitabiah saja), dan sepenuhnya meyakini anugrah Ilahi (ridho Allah dan rahmat-Nya).

Untitled999

 

Saya kemudian ingat mengenai soteriology Calvin yang oleh mentor saya (Thomas Mcelwain*) katakan “Muhammad (saw) adalah seorang Calvinis” dalam salah satu volume The Beloved and I: New Jubilees Version maha karyanya. Yang dimaksud McElwain adalah pandangan-pandangan dalam al-Qur’an yang disampaikan Muhammad (saw) dalam beberapa isu keagamaan atau keimanan sebenarnya adalah pandangan Calvinis. 

Saya juga teringat Pdt Joas, rektor STT Jakarta,  ketika membaca tulisan Harper ini dalam bagian bahwa Islam tidak mempunyai satu kekuasaan terpusat, seperti halnya GKR dan dunia Kristen berubah drastis begitu Reformasi berlangsung. Joas pernah mengatakan bahwa dosa terbesar Protestan adalah menyebabkan Kristen menjadi pecah kepada teramat banyak gereja. Jadi, tampaknya, para waliullah Protestan seperti Martin Luther, John Calvin, John Weasley, John Smyth, Menno Simmons, kaum pelopor Baptis, bahkan mungkin juga kaum Unitarian, Puritan, Dissenters, Nonconformists itu — melalui akta-akta atau kesepakatan-kesepakatan untuk menghendaki kebebasan beribadah atau bergereja, toleransi dan kerukunan antar umat gereja dan lain-lain semacam itu – tampaknya bukan hanya bergolak karena faktor internal kegerejaan, melainkan merupakan rentetan panjang dari memandang Islam sang “The Other” itu. Sebab, dalam Islam tidak ada “komando di bawah satu gereja” (bahkan meskipun dalam Syiah Imamiyah, kecuali versi Iran kontemporer yang dikenal hierarkis seperti GKR, dengan sistem taklid marjaiyah sekaligus wilayatul faqih. Sistem marjaiyah dalam taklid merujuk kepada para ayatullah ini sepertinya baru beberapa abad belakangan ini populer, dan wilayatul faqih juga baru-baru saja ketika akhirnya Revolusi Iran 1979 berhasil menggulingkan suatu dinasti Islam Syiah, sedangkan sebelumnya model keIslaman Syiah itu pun Akhbarian yang tidak mempercayai ulama-ulama sebagai wakil-wakil tunggal Imam Mahdi untuk menjadi rujukan spiritual dan keagamaan, apalagi politik).

kangen.jpg

Menurut Harper McAlpine Black, dalam PROTESTANISME ada beberapa hal yang akan mengingatkan kita kepada ajaran-ajaran Muhammad (saw) atau Islam, misalnya:
Pertama, bahwa setiap orang adalah pendeta (utusan Yesus), misalnya dalam bagian akhir kebaktian Protestan, seperti dalam gereja Baptis, semua jemaat diutus oleh Tuhan Yesus untuk berdakwah (ingat hadis bahwa Muslim diminta untuk mendakwahkan setidaknya satu bait saja dari kitab suci?), jadi posisi pendeta-pendeta Protestan pada dasarnya atau sejatinya tidaklah sama dengan pastor-pastor Katholik, yaitu mereka punya hak dan tanggungjawab setara dengan para diaken, panatua, dan jemaat-jemaat mereka. — semua ini akan mengingatkan kita kepada Islam yang tak punya “Satu Uskup Agung Yang Di Roma” itu.

Kedua, menolak monastisisme, yaitu menolak kehidupan kebiaraan dan kerahiban. Kita  tahu bahwa secara umum Islam tidak mengenal monastisme. Tetapi, dunia Sufi memberikan wajah lain monastisisme dalam Islam, yang bisa jadi membuat iri atau mempesonakan kaum Kristiani, dilihat dari banyaknya Kristen yang kemudian konon masuk Islam dengan menjadi darwis-darwis Sufi. Misalnya, kita bisa melihat bahwa pada zaman Ottoman, mazhab Sufi Bektashiyah telah mengadopsi bentuk monastik Kristen dengan caranya sendiri, yang sedemikian longgar, dengan meneruskan etika khanaqah mazhab Sufi Khorasan (jangan lupa Haji Bektash Wali berasal dari Khorasan), dimana ada model gabungan untuk merangkul kaum urban pedagang maupun penduduk desa yang agraris, darwis-darwis yang boleh memilih selibat tetapi boleh berubah pikiran dengan seizin mursyid-mursyidnya tanpa mengubah posisi mereka dalam biara (bandingkan dengan GKR dan gereja-gereja Ortodoks di sekitarnya baik pada masa itu maupun pada masa kini dimana hanya gereja-gereja Timur membenarkan pernikahan para pastornya sebelum pentahbisan), gabungan antara kehidupan asketik dan duniawi, serta memberikan hak-hak keistimewaan (privilege) kepada para baba dan atau dede (pemuka Bektashi) namun mereka punya kedudukan hak dan tanggungjawab yang setara dengan para darwis, ashik, atau masyarakat  yang bersama dengan mereka. Dalam hal ini, kita bisa melihat bagaimana Martin Luther yang semula adalah seorang rahib Augustinian dan Menno Simmons, salah satu tokoh utama dari Anabaptis (versi kaum Baptis dari negara-negara dalam wilayah yang kini adalah Jerman, Belanda, Swiss, Austria, dll, sedangkan Baptis itu dari Inggris dan sekitarnya), yang tadinya seorang pastor GKR, bagaimana keduanya kemudian menikah dan memperbaharui model kegerejaan yang tadinya monastik itu. Menurut Harper, Kristenitas klasik adalah agama monastik kaum agraris.

Ketiga, menolak ikon-ikon. Tentu saja, hal ini amat mengingatkan kita pada khususnya Islam Sunni yang menentang gambar-gambar dari ahlulbayt dan nabi-nabi, khususnya Muhammad (saw).  Pada mulanya di gereja-gereja Protestan tak ada lagi ikon-ikon Yesus, Bunda Maria, dan para bapa Perdana serta santo-santo, kemudian salib-salib tak lagi ada corpus christi-nya, dan seterusnya. Kendati kini gereja-gereja Protestan tidak lagi alergi dengan foto-foto Yesus dan ikon-ikon itu, tetapi mereka tetap tidak menganggap penting, sebagai simbol, maupun untuk dekorasi yang bersifat sakral di dalam arsitektur gereja-gereja dan kapel-kapel mereka. Malahan, kita bisa melihat bagaimana gereja-gereja Protestan itu barangkali semacam mengadaptasi gaya Muslim dalam membuat gereja mereka dengan dekorasi yang kadangkala berkesan minimalis, tetapi ada kalanya berkaligrafi atau pun bergaya arabesque dengan melukis tanpa ikon-ikon suci itu lagi. Jika ada lukisan-lukisan, yang tampak sakral, mereka berusaha memberikan kesan-kesan yang real, yang humanis, sebagaimana citra awal itu, imaji Kristus yang manusia sempurna itu harus diimitasi, yang fully human itu… Ini, lagi-lagi, kok ya malah mengingatkan saya pada lukisan-lukisan Persia-Mongol tempo dulu maupun lukisan Persia kontemporer.

Keempat, dalam banyak varian gereja-gereja Protestan: Menolak alkohol, baik yang bersifat seluruhnya, atau hanya ada alkohol dalam liturgi perjamuan kudus. Dalam sejarah Protestanisme, kita mengenal teetotalisme dan gerakan-gerakan Temperance yang populer di Amerika Serikat, terutama banyak digerakkan oleh perempuan-perempuan saleh Kristen yang  sebagian adalah janda-janda dari pria-pria yang mati karena alkoholik. Gereja milenaristik (akan dibahas nanti) semacam Adven Hari Ketujuh bahkan mengharamkan alkohol sama sekali. Gerakan-gerakan Temperance ini bahkan sangat politis, yaitu berusaha memberlakukan undang-undang untuk melarang penggunaan alkohol atau peredarannya dalam masyarakat.

Kelima, Kristen kini menjadi agama bagi kaum pedagang kota, merespon Islam yang populer juga bukan hanya kepada kaum agraris juga karena perdagangannya, karena gilda-gilda para Sufi yang mempunyai organisasi-organisasi dagang berjejaring luas yang mendunia (bayangkan dari Andalusia dan Tatar sampai ke Jalur Sutera dan Nusantara), bahkan termasuk bank-bank atau sistem perbankan teramat awal. Bahkan, menurut saya, teologi kemakmuran ala kaum Kharismatik (evangelikal Kristen yang separalel dengan aliran Wahabi dalam Islam) akan mengingatkan kita pada hal ini, dimana dalam beberapa organisasi dagang Islam ada keyakinan bahwa semakin banyak memberi maka kita akan semakin makmur. (Memberi di sini entah itu khumus – semacam perpuluhan atau tithe dalam Syiah khususnya — atau zakat atau infaq dan sedekah – yang akan ingatkan saya kepada kata tzedeq, dalam bahasa Ibrani, dimana Imam Ja’far as-Shodiq, yang dikenal sebagai sang tzedeq karena contoh dari righteousness dan bapak keadilan sebab banyak menyumbang baik materi maupun ilmu pengetahuan, serta dikenal sebagai imam yang berpakaian bagus atau mewah untuk ukuran masanya). Di sisi lain, beberapa gereja menolak tithe atau perpuluhan (seperti orang-orang Sunni yang tak lagi membayar khumus yaitu duapuluh persen penghasilan menjadi serupa pajak kepada para ayatullah dan selain didistribusikan kepada umat, juga untuk sayyid-sayyid dan syarifah-syarifah yang tak boleh menerima zakat dan sumbangan). Etos Calvinis misalnya konon telah dikenal telah membuat Swiss menjadi makmur dengan inovasi dan perdagangan jam, dan Etos Protestan dikenal dengan disiplin “Mengejar kekayaan dunia” dalam menghayati Kristus, penderitaan Yesus, Kristologi, dan seterusnya. Lagi-lagi ini akan mengingatkan saya pada para Sufi yang tetap bekerja menumpuk kekayaan, meskipun tidak melekat kepadanya.

Harper tidak memberikan tiga hal atau tiga poin dari saya ini: Keenam, mengenai bertumbuhnya gereja-gereja milenaristik, termasuk karena pembacaan Kitab Wahyu, atau hal-hal yang apokaliptik, seperti Mormon, Advent Hari Ketujuh, dan Kesaksian Yehova (KY), dimana ini mirip banyak gerakan dalam Islam seperti beberapa tarekat Sufi yang kemudian memisahkan diri dari agama Islam kaarena percaya bahwa gurunya adalah nabi atau imam Mahdi itu, atau terpecahnya Islam Syiah menjadi berbagai sekte. Gereja-gereja ini pada awalnya, dan bahkan masih sampai hari ini, dianggap tidak Kristen sama sekali, sesat, bidat, dan lain-lain. Mereka misalnya punya banyak kemiripan juga dengan beberapa hal dari dunia Islam, seperti Mormon yang membolehkan poligami, KY yang menolak Trinitas ala Konsili Nikea, dan Adven yang menerapkan kashrut atau konsep diet halal ala Yahudi yang mirip juga dengan Syiah, dan bahkan Adven awal konon, Ellen White salah satu pendirinya atau nebiahnya itu pengikut Neo-Arianisme, yaitu menolak Trinitas ala Konsili Nikea yang mengikat baik GKR maupun mayoritas Protestan.

Ketujuh, berkenaan paham Tritunggal atau Trinitas, dimana ada bentuk-bentuk Neo-Arianisme, atau Arianisme, atau paham-paham serupa itu, muncul dan populer lagi, penggalian kembali atas doktrin-doktrin Trinitas, dan hal-hal semacam itu, termasuk lahirnya Unitarianisme dalam berbagai versi. RMPG pernah cukup lama untuk menjawab saya ketika saya bilang bahwa ada kecenderungan bahwa Menno pendiri mazhab gerejanya itu”Unitarian” yang menurut saya sih nggak khas Menno doang, sebab menurut pembacaan historis saya, ya sebetulnya tidak sedikit tokoh Baptis yang “Trinitariannya” itu “Unitarian” — kalau boleh saya bilang, abu-abu, tidak seperti Trinitarian-nya orang-orang Ortodoks atau GKR pada zamannya – meskipun kaum Yesuit masa kini dan para teolog GKR cukup canggih membahasakan kembali Trinitas — dan ini pun lagi-lagi antara lain juga untuk merespon populeritas tauhid Islam. Edward Elwall si Jew Elwall yang merupakan jemaat gereja Yard Mill Sabbatarian Baptist di Inggris, yang juga kami percaya sebagai salah satu darwis Daudiyah awal, pada abad ke-18 telah menulis surat kepada raja Inggris mengenai paham Unitarian-nya, yang mengakui ketaklidan kepada Yesus Kristus tetapi menolaknya sebagai oknum dari tiga dalam Trinitas itu.

Kedelapan, Protestanisme bergerak menuju kesetaraan gender kendati mereduksi kesakralan peranan kaum santo perempuan, terutama Bunda Maria (as). Perempuan-perempuan di berbagai gereja Protestan boleh bahkan digalakkan menjadi pendeta dan pemimpin-pemimpin atau pemuka-pemuka gereja. Hal ini hanya bisa kita lihat dalam tarekat-tarekat Sufi dimana sesungguhnya para perempuan bisa mejadi mursyid-mursyid, menjadi para pengkotbah, ikut dalam pertemuan tanpa segregasi, menari atau menyanyikan lagu-lagu elahi (nasyid), ikut mengambil keputusan polutik maupun  sosial lainnya, bahkan mengimami sholat jama’ah — sesuatu yang kerap sengaja dilupakan untuk disampaikan oleh para sejarawan Muslim, apalagi para ulama Muslim yang teramat fikihis atau yurisprudensial.

museum vatikan1.jpg

“Aku menemukan Aku Pada kayu salib yang kupanggul, dari aku menuju Aku, melaui aku dan bersama Aku.” penggalan puisi saya, dan foto sebuah patung yang menggambarkan Yesus yang menderita di Museum Vatikan

Maka, menurut Harper McAlpine Black  PROTESTAN MEMBENTUK KEMBALI KRISTENITAS DENGAN CITRA ISLAM. Sehingga ia kemudian bisa bersaing dengan Islam. Dapat dengan angkuh dikatakan bahwa, Islam telah memicu kebangkitan Kristen dan lahirnya Reformasi atau Protestanisme.

 

Kalau kita berkaca pada masa kini, yakni bahwa Kristen tetap menjadi agama yang paling unggul secara kuantitas (sekitar 2,2 milyar, sedangkan Islam hanya nomer kedua dan belum mencapai angka milyar), ia tetap berusaha terus merespon Islam meskipun Islam tampaknya mencuekkan dia, atau bahkan menyerang dia bertubi-tubi dan enggan menjadi kekasihnya.

Masa-masa kolonial dan pasca kolonial juga paling tidak juga sedikit banyak membuktikan itu. Kita akan ingat bagaimana upaya-upaya Barat merebut hati mereka yang dijajahnya. Kasus Snoeck van Hurgonje, atau bagaimana mereka mempengaruhi Kartini, atau sekolah-sekolah modern pertama di Penang dan di Nusantara, dengan kebijakan politik etis mereka, dan sebagainya. Ratu Elizabeth I sebagai pionir penjajahan sudah pasti, bukan sekedar mengikuti jejak Ratu Spanyol yang geram dan ingin balas dendam terhadap  Ottoman, tapi  juga iri dengan kekuasaan dan monopoli dagang kaum Muslim (baca: termasuk para Sufi) di wilayah-wilayah yang mampu memberikan kebutuhannya, dan kemudian Revolusi Industri untuk menjadi pangsa pasar utamanya. Ini termasuk pelayaran kaum penjelajah Portugis dan Spanyol awal.

Gagasan-gagasan Barat seperti sosialisme, komunisme, kapitalisme, liberalisme, atau paham filsafat-filsafat semacam positivistik, eksistensialisme, dan lain-lain itu, bahkan pada akhirnya ketika Kristen mencoba mengungkit humanisme, dalam bahasa HAM, Dunia Islam memberi respon melalui kaum Muslim inteleknya dengan gagasan yang dalam bahasa kekinian kita mengatakan, “Woi ntar dulu, gue juga puya sendiri neh…” atau dengan kata lain: Kami punya juga, seperti Averroes, Avicenna, al-Biruni, Ibn Arabi, Suhrawardi, Sadra,  dan bahkan kami punya Iqbal, Ali Syariati, juga Soekarno dan Tan Malaka. Kaum Inteletual Muslim kontemporer telah berhasil baik menentang atau malah mengawinkannya dengan nilai-nilai Islam atau filsafat-filsafat buah karya filsuf-filsuf Muslim pendahulunya, sehingga ada gairah tak tertahankan dari Barat untuk terpukau, dan menjerit: “Aih, alamak, sialan, apa lagi yang bisa gue lakukan untuk menaklukkan hatimu, wahai Muslim? Aku sungguh-sungguh kepengen merebut hatimu, hai Muslim!” Ketika imigran Muslim membanjiri Eropa, dunia Kristen pun tahu inilah saatnya untuk bangkit kembali, baik GKR maupun Protestan. Sesuatu yang mungkin tak disadari oleh kaum Muslim bigot yang memuja kemurnian ala mengArabkan segalanya sebagai murni mengimitasi Muhammad menjadi sedemikian dangkalnya, sebagai yang historis belaka. 

Sementara orang-orang Islam, termasuk yang terpelajar dan kaum mantan aktivis semacam di grup-grup whatsapp alumni HMI saya sibuk menjelekkan, mengkafirkan, menghina dan memfitnah Syiah, Ahmadiyah, Sufi, dan lain-lain, dunia Kristen sedang menyerukan kehidupan ekumenikal yang luarbiasa, lebih dari upaya kaum ulama Muslim dalam slogan ukhuwah Islamiyah mereka… Orang-orang Protestan sibuk meggalakkan kegiatan-kegiatan ekumenikal, termasuk merayakan kembali liturgi-liturgi khas GKR yang sempat mereka tinggalkan tetapi dengan versi mereka sendiri, tentunya… Bahkan, mereka  bersukacita merangkul kaum evangelikal atau kharismatik yang bisa saya katakan paralel atau serupa wahabi-nya Islam dalam beberapa narasi utama mereka. Gerakan-gerakan Kristen seperti Focolare dan Tai Ze, bahkan tak lagi sekedar bersifat ekumenikal, tapi mampu merangkul yang non-Kristen, termasuk dan terutama  Muslim. Lalu, GKR dengan Paus Fransiskus melakukan ritual yang ultra-ekumenikal dalam Kamis Putih kemarin (23/3) mencuci kaki Muslim dan Hindu, suatu lompatan yang nggak bakalan kayaknya dilakukan Ayatullah Khamenei kepada saya. (Please dech, Chen, kamu itu bukan mahrom-nya). Dunia Kristen hari ini menawarkan dengan begitu indah sekali  konsep cinta kasih sayang, seperti teologi cinta radikal-nya Romo Matteo, yang misalnya, tidak  akan mengasingkan atau menyerang (umat) gereja-gereja semacam Advent, Mormon dan Kesaksian Yehovhah sekalipun. Atau seperti GKA-Reformed Baptist, gereja yang saya anggap kini juga adalah gereja saya, yang mengadakan “open communion” dalam setiap perjamuan kudusnya tanpa memandang apakah seseorang sudah dibaptis atau belum secara Kristiani, tanpa diskriminasi gender dan SOGIE, ideologi politik, dan lain sebagainya.

shahadah.jpg

SEDANGKAN ISLAM?
Dapat dipastikan Kristen akan terus berjaya, umatnya akan bertambah, KALAU TIDAK KARENA UMAT MEREKA MAU DIBAPTIS (murtad dari klub agama Islam) masuk jadi jemaat gereja (seperti saya yang mau dibaptis jadi Mennonit demi cinta saya kepada RMPG :P  ) ATAU KARENA ISLAM-ISLAM LAIN ITU NGGAK DIANGGAP ISLAM LAGI oleh Muslim-Muslim yang hobi mengklaim sebagai paling kaffah dan paling murni Islam itu… YA KAN, AKHIRNYA JADI TERMASUK KRISTEN, TOH? Mengapa? Karena mainstream Muslim itu juga kepada PERCAYA YESUS KRISTUS sebagaimana yang ada dalam al-Qur’an, PERCAYA BAGINDA AKAN DATANG KEMBALI DI AKHIR ZAMAN sebagaimana yang ada dalam hadis-hadis, dan PERCAYA BAGINDA BISA MEMBERI SYAFAAT…Jangan-jangan Islam yang sesungguhnya hari ini ya ditemukan di kalangan kaum Kristen, sesuai hadis bahwa Islam pada akhir zaman bagaimkan buih di lautan tetapi yang sejati hanya sedikit sekali, yaitu mungkin ya kaum Muslim dan Kristen yang sama-sama mengamalkan menghayati 10 Perintah Allah dalam bahasa/amal ibadah masing-masing, mengamalkan agama cinta yaitu bahwa melayani seluruh umat manusia merupakan intisari dari segala peribadatan kita kepada Allah SWT.

Seperti kata Sa’di, sang Sufi dari Shirazi, yang mungkin terinspirasi atau senada dengan ayat-ayat dari 1 Korintus 12: mengenai umat manusia itu bagaikan satu tubuh, jika tangan merasa sakit, maka anggota lain juga akan ikut merasakan sakit.

Shahadah itu artinya kesaksian. Witnessing. Menyaksikan. Apakah kita benar-benar menyaksikan ketika kita bersyahadat? Ketika bersyahadat kita secara tidak langsung berbaiat kepada Muhammad (saw). Pada zaman itu, ketika zaman Muhammad (saw) itu, menurut saya bukanlah berarti sama seperti kita bersyahadat sekarang, yang menunjukkan kita menerima diinisiasi ke dalam agama besar bernama Islam. Tetapi, kita menerima untuk bertaklid sepenuhnya kepada seorang bernama Muhammad (saw), seorang utusan, imam agung, wali, dan wakil Allah di muka bumi ini. Berbaiat menjadi “convenant of Muhammad” yang juga memiliki makna dan dampak-dampak politis, kendati ia sebenarnya bersifat spiritual.

Kalau saya membaca al-Qur’an, terlalu banyak ayat yang meminta kaum beriman dan ahlulkitab untuk membuka kembali kitab-kitab suci sebelum al-Qur’an dan wahyu-wahyu dari-Nya sebelum Muhammad. Itu artinya “convenant of Muhammad” tidak dimaksudkan untuk meninggalkan kitab-kitab suci itu (Alkitab) sebaliknya kembali bergabung dan menyatu dalam ajaran-ajaran Ilahi bersama ahlulkitab dan orang beriman yang lurus.

Pada hari ini, umat Kristiani merayakan Paskah, suatu pemaknaan baru dari Pesakh-nya umat Yahudi kepada pemaknaan dari kisah seputar haul, penyaliban atau penderitaan dan kebangkitan Yesus Kristus.

Pada hari-hari ini juga (27 atau 28 Maret) umat Muslim Syiah memperingati Wiladah Fatimah az-Zahra (as). Muhammad (saw) mengatakan bahwa “Barangsiapa menyakiti Fatimah, maka ia juga menyakiti aku.” Bagi saya, ia memiliki makna zahir dan makna batini yang sangat luas. Secara historis sendiri, telah terdapat “overshadow” atau kisah pendahulu untuk mengingatkan kita akan kasus Tanah Fadak, yaitu dalam Kitab Bilangan 27, bahwa sesungguhnya hukum Allah yang sejati, yang asas, bersifat adil dan memberikan kesetaraan kepada perempuan maupun laki-laki.

Penderitaan Fatimah az-Zahra tidaklah kurang ataupun tidak lebih pula daripada penderitaan Maria binti Imran, ibunda Yesus Kristus. KEDUANYA MENGAJARKAN KEPADA KITA UNTUK SUNGGUH-SUNGGUH MENYAKSIKAN Allah SWT dalam wujud “manusia-manusia maksum” (manusia-manusia yang disucikan).

Bhagavad Gita bab 2:12, berbunyi, “Tidak pernah ada saat-saat di mana Aku, engkau dan para raja manusia tidak pernah ada, ataupun akan senantiasa ada nantinya, manakala kita semua berhenti adanya.

Bagian dari ayat ini diberi penjelasan yang menarik oleh I Wayan Maswinara (dari Sanata Dharma Surabaya):
“Tuhan berpribadi sebagai Pencipta Ilahi, sejajar dengan alam semesta empiris ini; dalam pengertian Ia merupakan totalitas dari keberadaan empisis. ‘Tuhan sebagai penguasa makhluk-makhluk berkelana dalam kandungan. Walaupun tak terlahirkan, Ia lahir dalam banyak cara.’

“Sankara berkata, ‘Dari kebenaran Tuhan-lah satu-satunya yang menjalani transmigrasi.’ Bandingkan dengan pernyataan Paschal bahwa KRISTUS AKAN SELALU MENDERITA HINGGA AKHIR DUNIA INI. Ia sendiri akan memikul tanggung jawab penderitaan yang menimpa umat manusia. Ia menderita kondisi dari keberadaan yang diciptakan. Roh-roh bebas menderita pada waktunya dan memasuki kedamaian pada akhir waktu, walaupun mereka ikut serta dalam kehidupan Ilahi hinga kini. Hanya apabila Tuhan Berpribadi secara bebas dibatasi, kita tanpa daya juga terbatasi. Bila Dia merupakan penguasa dari permainan prakirti (ibu yang melahirkan dan bapak/Tuhan dari wujud yang hidup), kita akan menjadi sasaran dari permainannya. Kebodohan akan mempengaruhi roh-roh pribadi, tetapi tidak terhadap Roh Universal.
Kejamakan pribadi-pribadi dengan sifat-sifat khusus mereka tetap ada sehingga proses kosmis ini berakhir. Dengan demikian kejamakan ini tak terpisahkan dari kosmos. Sementara roh-roh bebas mengetahui kebenaran dan tinggal di dalamnya, roh-roh yang belum terbebaskan tetap berkelana dari kelahiran yang satu ke kelahiran berikutnya, yang terikat oleh belenggu karma (kerja).

Nah, ayat-ayat dari Alkitab (Perjanjian Baru) yang senada dengan Sa’di Shirzai bisa ditemukan dalam 1 Korintus 12: 1-31 — dimana kita pun akan mengingat ajaran Protestanisme serta semangat ekumenikal yang kuat yang termotivasi juga darinya:

 

a dry leaf78

Sudah Selesai, salah satu kata-kata Yesus di kayu salib.

Sekarang tentang karunia-karunia Roh. Aku mau, saudara-saudara, supaya kamu mengetahui kebenarannya. Kamu tahu, bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu.
Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus. Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. 

Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.
Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.
Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.
Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.
Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.
Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.

Andaikata kaki berkata: “Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?
Dan andaikata telinga berkata: “Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?
Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman?

Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh.
Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.”

Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.

Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.

Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?

Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.*** (Terjemahan LAI)

SELAMAT MEMPERINGATI JUM’AT AGUNG DAN MERAYAKAN PASKAH SERTA WILADAH FATIMAH AZ-ZAHRA kepada semua saudara dan saudariku yang merayakan dan memperingatinya.
Amitabha, om svasti asthu. Rahayu,
Sr Gayatri WM.

*Ana: sebutan Ibu, atau semacam Nyai dalam pesantren, dalam mazhab Sufi Bektashiyah.
*Lihat artikel Harper Mcalpine Black dalam: http://harpermcalpineblack.blogspot.co.id/2016/01/a-battle-raging-in-single-system.html
*Haji Thomas McElwain atau Syaikh Ali Haydar (nama pemberian kaum darwis Qizilbash dari mazhab sufi Bektashiyah juga), merupakan pensiunan pendeta Strict and Particular Sabbatarian Baptist yang mengklaim meneruskan jejak gereja Sabbatarian Baptist ala Francis Bampfield dan juga penerus Edward Elwall. Ia pun keturunan kaum Quaker, dan memiliki koneksi dengan Eckerlin Brothers yang dikenal membuka Virginia (AS) sebagai wilayah kediaman yang damai bersama kaum etnis pribumi (India-Amerika), yang juga dikenal beraliran Baptis, serta ia seorang etnis Melungeon [seperti Abraham Lincoln dari garis ibunya, yaitu etnis campuran tiga ras]. Selama menjadi pendeta, ia tetap melakukan amalan-amalan mainstream Muslim, seperti sholat, mengaji, sembahyang jama’ah dan naik haji, dsb, serta juga mewakili gerejanya dalam konfrensi sedunia World Alliance Baptists di Zagreb, 1989.

matteo.jpg

 

 

Comments are closed.