KEMATIAN, WASIAT TERAKHIR, dan AGAMA

“Apakah Punya KTP berkolom Islam Benar-benar Penting?”

 IMG00159-20140610-0903.jpg

Aku dan ibuku — yang baru dioperasi lututnya tahun lalu — akhir-akhir ini karena kami penyakitan, sering sekali bercanda tentang kematian. Ibuku bercerita, pernah dulu adiknya (adik angkat yang juga sepupunya) berkata kepada ibunya yang sedang sakit dan memberi wasiat (bapaknya syahid dalam perang revolusi),
“Ibu tenang saja, lagipula ibu mau dimakamkan di mana, semua itu kan bergantung kepada yang hidup, karena ibu toh sudah tidak bisa ngapain-ngapain lagi.”
Adik ibuku ini memang senang sekali bergurau, sehingga ibunya pun malah menjadi tertawa. Lha iya dong, bagaimana orang mati bisa protes mau dimakamkan bagaimana, kan? Hahaha.

Aku juga, karena aku tahu penyakitku yang mematikan ini, bisa membuat daftar panjang wasiat seperti berikut ini:

(1) Jangan makamkan aku pada hari Sabat, yaitu jatuh sejak Jum’at maghrib sampai Sabtu maghrib — maghribnya terserah mau versi Sunni atau Syiah, wkwkwk, [😛 ]
(Ini karena aku darwis Daudiyah fanatik, yeah, wkwkwk).

(2) Aku ingin dikafani dengan kain kafan jausyan kabir, terserah yang made in Iran atau made in Indonesia, wkwkwk, di alam kubur emang penting nasionalisme atau emang imam-imam ahlulbayt nasionalis getu?
(Ini karena aku masih percaya kalau siapa tau aku dapat syafaat dari para imam ahlubayt dengan kain kafan ini, lho, ya ampun, biarin deh terkesan ndeso dan Syiah bingit.]

(3) Tak usah ribut menyolati aku dengan fikih Ja’fari atau fikih Syafii, pokoknya mah semua orang Sunni, Syiah, Ahmadiyah, Kristen, Yahudi, Buddha, Hindu, Sikh, agama lokal, atheis, cewek, cowok, transgender, kalau mau menyolati aku silahkan…
(Maklum, aku’kan pluralis sejati wkwkwk.]

(4) Aku sudah punya surat wasiat dan pesan-pesan untuk anak-anakku dan sahabat-sahabatku dan siapa yang mau melanjutkan pemikiran-pemikiranku serta pondokku.
 
(5) kalau bisa aku ingin dimakamkan di tempat dimakamkannya orang-orang yang tidak asing bagiku. Nah, ini tercetus gara-gara kemarin ikut memakamkan mbak Tya di TPU Karet Bivak, meskipun sejak dulu berkhayal kalau bisa sih ya dimakamkan di Astana Bibis Luhur, Tjitrosoman Tuban atau di Pasongsongan di samping eyang dan engkongku.
Aku bilang pada ibuku, “Mom, lumayan rek Mbak Tya, bapaknya dimakamkan cuma beberapa batu nisan dari situ, lha yang lainnya kan orang asing. Gimana kalau aku ya, ogah dimakamkan di TPU orang asing semua gitu.”
Jawab ibuku, “Yo nanti kenalan dulu tho, bisa jadi temen-temen (baru)mu.”

Lha, terus aku pikir-pikir juga itu nomer (1), (2) dan (3) itu ya pasti terserah dengan orang yang masih hidup. Aku sudah nggak bisa protes kalau sudah terbujur kaku. Kalau aku disemayamkan di gereja, terus diberi gaun pengantin dan didandani cantik sekali seakan-akan seperti masih hidup, juga aku nggak akan rugi thoh, lalu setelah dimasukkan ke dalam peti aku malah dikremasi, terus abuku disebar di laut, juga bukan aku yang rugi, keles, toh jiwaku kan sudah nggak bergantung lagi dengannya, apa iya bisa merasa panas kena bakaran api dan apa perlu berenang di lautan getu?
(Aku jadi teringat sahabatku seorang Katholik HongKong yang percaya kebangkitan setelah mati, mengeluh karena di HongKong hampir semua mayat sekarang digalakkan pemerintahnya untuk dikremasi karena lahan kuburan sudah habis).

Hari ini salah satu pamanku dari kekerabatan Mangkunegaran (RM Daradjadi) menulis status yang menurutku juga lucu:
“AGAMA DAN MAKAM …… hari ini saya melayat teman yang akan dimakamkan di suatu pemakaman umum di Jakarta. Aku datang duluan sebelum jenazah tiba. Karena aku tidak tahu di blok apa ia akan dikubur, aku bertanya pada petugas kantor makam :”Pak dimana nanti jenazah ibu S dari Manggarai mau dimakamkan ?” Dijawab:” Apa agamanya?”
Ganti aku jawab::”Wah gak tahu aku gak pernah tanya.”
Aku tersadar bahwa makam di sini lain dengan makam keluargaku, makam Kerabat Mangkunegaran ” Astana Bibis Luhur” Surakarta. Di situ semua jenazah berdampingan tanpa batas menurut agama mereka ….”

Nah, ini kan seperti wasiatku no (1), (2), (3) dan (5), kalaupun aku dimakamkan di blok Kristen, tetapi pas ditanya malaikat yang agamanya Islam, ya pasti aku tetap dapat rumah baru sebagai orang Islam di alam kubur’kan? Emangnya malaikat kubur bisa disuap/menerima korupsi?

Misalnya, seperti kuburan yang aku kunjungi di foto ini. Ini adalah Asta Panaongan (*Asta adalah bahasa halus orang Madura untuk taman pemakaman) yang terletak di tanah warisan leluhurku di suatu hutan jati dan tepi laut Pasongsongan. Asta ini baru ditemukan beberapa tahun lalu, dengan berbagai versi cerita. Dan,karena diyakini penduduk setempat di situ ada makam seorang syaikh yang juga santo, eh waliullah, ya jadi tempat perziarahan. (Maklum, orang Madura yang Sunni ini mirip orang-orang Syiah yang hobi ziarah kubur).
Lha, kuburan saja bisa hilang terkubur selama ratusan tahun baru ketahuan lagi… Kok yao kita pusing-pusing amat soal makam blok Islam, Kristen, Hindu atau Buddha ya? Emang kalo diriku dimakamkan di blok orang Islam, sahabatku yang pastor ganteng, pacarku yang pendeta ganteng, atau guruku yang biksu ganteng, nggak boleh datang untuk melayat, menziarahi dan mendoakanku?

Hmm.. malaikat kubur juga mungkin pas menanyakan, “Siapa nabimu?”, nanti akan kujawab semua nabi yang kuingat di Alkitab dan Al-Qur’an, itu juga kalau aku ingat dan nggak kena brain fog (wkwk, emang pas aku mati aku masih punya lupus yak)…
Pas mereka bertanya apa kitabku, ya kujawab saja Taurat, Zabur, Injil, alQur’an juga semua mushaf yang terserak dalam kitab-kitab lain…
Malaikat kubur mungkin akan bingung akan kasih aku KTP dengan status agama apa ya…
Tetapi, kalau aku ditanyai “Siapa Tuhanmu” aku maunya sih menjawab,
“Di sini sudah nggak ada aku, yang ada cuma Tuhan.”

***

Comments are closed.