BAGAIMANA KALAU ANAK, SUAMI, ISTRI, IBU, AYAH ATAU SAUDARA KANDUNG SAYA ITU NON-MUSLIM?

“Nggak Semua Orang Seberuntung Kamu, Beib.”

41-45

But in my heart submit my will to You, And leave the rest to sing in their own pew. I do not care if Torah or the Psalms Or Gospel or Qur’an bring me Your calms.

Gayatri Wedotami Muthari

Tidak jauh dari kampus Universitas Kepausan Laterano di Basilika Laterano, Roma, terdapat pula kampus kecil Universitas Kepausan Antonianum. Karena tidak jauh dari asrama saya, saya sering melewatinya kalau hendak hang-out ngopi di kafe-kafe tidak jauh dari Laterano. Ini adalah kampus kepausan yang dikelola oleh kaum Fransiskan (tarekat yang dipelopori Fransiskus dari Assisi).
Dari sanad silsilah tarekat ini kemudian ada seorang santo lain yang sangat terkenal, yang menurut saya ikon-ikon dan patung-patungnya dibuat sangat tampan, yaitu St Antonio dari Padua.

Hari ini, saya memahami salah satu ucapan waliullah Katholik tersebut sebagai suatu syafaat kepada siapapun yang beriman kepada Isa al-Masih. “Al-Masih berbuat bagai seorang ibu yang pengasih. Untuk membimbing kita agar mengikutinya. Dia memberikan dirinya sebagai contoh teladan dan berjanji kepada kita akan ganjaran dalam kerajaannya.”
Ibu yang ideal itu akan selalu menerima dan mengampuni bahkan lebih dulu merangkul serta memeluk anak-anaknya yang meninggalkannya dan mengabaikannya tetapi mau berlari atau berjalan kembali kepadanya.
Syafaat itu selalu bergantung kepada sang pemberi syafaat, bukan kepada sang penerima syafaat, meskipun dua penerima syafaat mungkin saja yang satunya lebih dulu banyak beribadah dan baru mengimaninya, dibandingkan yang lainnya. Siapa yang bisa menentukan dan memastikan kepada siapa saja gerangan syafaat Muhammad, Yesus, Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Maryam, Yahya, Musa, Daud, Sulaiman, Hasan, Husain dan seterusnya diberikan?

Dulu ada seorang ustadz habib Syiah terkenal di sebuah majlis Sunni dan Syiah-nya mengajarkan kepada kami bahwa kita semua kalau diridhoi Allah dan menerima surga, bisa memberi syafaat untuk orang-orang yang kita cintai dengan ridho dan izin Allah. Sejalan dengan spiritualitas Focolare yang percaya bahwa setiap orang bisa menjadi santo atau waliullah (bukan wali kelas apalagi wali murid dan wali kota ya). Jadi, ketika ada yang bertanya bagaimana kalau bapak saya Non-Muslim, suami saya masih Kristen, anak saya masuk Buddha, dst, bagaimana agar mereka bisa ikut ke surga dengan saya? Dijawab oleh ustadz itu, marilah kita jadi orang baik yang selalu minta ridho Allah dalam semua amal ibadah kita, sehingga nanti di alam akhir itu kita bisa memberi syafaat kepada mereka yang kita cintai dan kita bisa berkumpul dengan mereka di surga, “ngopi dan ngebakso” bareng. [Tentu jawaban semacam ini lebih memotivasi daripada jawaban ustad/ustadzah semacam Mamah Dedeh, bukan?]

1720

Comments are closed.