Ke Mana Kita Pergi Sekarang?

Yasin1.jpg

Sudah beberapa hari terakhir aku tidak bisa tertidur kendati sangat mengantuk dan badan telah dibaringkan di atas ranjang empuk, berselimut hangat dan lampu kamar telah dipadamkan. Mereka bilang, bukankah kadang-kadang engkau mendapat pencerahan justru dalam kegelapan? Ah, entahlah. Akhir-akhir ini terbenak akan suatu pertanyaan teologi, yang belum sanggup aku sampaikan di ruang bebas terbuka hijau ini (hehehe). Lalu, aku memutuskan menghubungi RMPG menceritakan masalah ini. kemarin dini hari setelah kembali dari rapat untuk persiapan acara Pantekosta di gerejaku (GKA-Reformed Baptis). Aku selalu berusaha melarikan diri dari pertanyaan itu dengan menulis isu-isu lain, terutama yang sedang kekinian.

Sekitar jam enam, sesudah keponakanku dijemput mobil sekolahnya, ibuku tiba-tiba membangunkanku. Aku sebetulnya agak malas karena masih begitu mengantuk dan kelelahan karena rapat semalam berlangsung pada malam hari sekali sampai tengah malam, dan ibuku juga biasanya tahu jadi membiarkan aku tidur pulas sampai siang atau sore kalau aku sudah berkegiatan begitu. Tapi, aku bangun juga, dan ibuku bilang dia membaca status facebook salah satu kerabat kami, tante saya, tentang wafatnya sepupuku. Aku tak percaya, sumpah, demi Rasulullah! Aku langsung menyambar telepon selulerku dan mencoba membuka akun facebooknya (bahkan malah sempat terpikir untuk menghubungi whatsapp-nya!).

Innalillahi wa inailaihi rojiun. Kupandangi buku tahlil eyang kami RA Soetarni Njoto Soemasoetargio yang selalu kuletakkan di samping bantalku. Eyang Tarni adalah bibi dari ibu sepupuku itu, yang wafat, Mbak Tya, dan adalah sepupu dari nenekku RA Soemartiyah Muthari Djojosoepadmo. Kami terhubung langsung dari garis kakek buyut yang sama, dan istrinya yang garwo ampil yang sama. Aku menangis, tentu saja. Dan, tetap, sampai saat kutulis status ini, masih belum percaya. Mbak Tya itu punya penyakit lupus yang cukup ringan, bahkan sudah remisi (tidak minum obat) beberapa tahun. Status FB-nya yang terakhir kubaca adalah bahwa dia berdoa dia ingin sehat, yaitu kira-kira minggu lalu.

RMPG menjawab pertanyaanku, tetapi aku sudah tidak sanggup membaca apapun, kecuali menelepon tanteku yang lain, yang tinggal di Jakarta, untuk pergi melayat. Rumah Mbak Tya begitu jauh dari rumahku, dan aku diberitahu kalau Mbak Tya dimakamkan di TPU Karet Bivak jam 10. Jadi, aku langsung meluncur ke sana, dan alhamdulillah karena ternyata tak macet, maka tiba jam 9, di saat tenda baru saja dipasang. Jadi, aku orang yang berada pertama kali di taman pemakaman.

Jujur, ini adalah pengalaman pertamaku melayat ke pemakaman sesama odapus, dan lebih-lebih lagi, dia masih sepupuku, yang selalu membangkitkan semangatku dan mengajakku bercanda kalau lupusku kambuh. Aku bilang pada diriku sendiri, kamu berani banget hari ini. TPU-nya pun luas sekali, bahkan mobil yang mengantarku diparkir terlalu jauh dari lubang kuburannya. Chen, kamu berani sekali mau melihat seseorang yang sama menderitanya denganmu dimakamkan, dan berusaha juga untuk tidak menangis. Mbak Tya pasti nggak mau melihatku menangis, iya kan Mbak? Melihat begitu banyak kuburan, aku lihat nisan-nisan orang lain, minta permisi kalau melangkahi, dan juga melihat di kiri kanan kuburan Mbak Tya nanti itu orang-orang asing, kecuali beberapa kuburan di dekatnya adalah kuburan ayahnya. Aku bilang pada diri sendiri, aku mungkin nggak mau di tempat penuh orang asing begini. Tetapi, aku ingat guyonanku dengan ibuku, orang mati tidak akan bisa protes akan dimakamkan di mana walaupun dia sudah wasiat begini dan begitu.

Ummi1.jpg

Iya, aku kok berani banget datang pada pagi yang antara hujan dan terik silih berganti begini. Tapi…Aku mau menabur bunga sambil bercanda dengannya. Mbak Tya kan senang bercanda. Bahkan, kemudian aku jadi cemburu karena Tuhan sudah mengabulkan doa Mbak Tya untuk jadi sehat. Iya, Mbak Tya sekarang sudah sembuh, sudah nggak merasa sakit lagi. I know that damn pain, how it hurts… Lalu, kupotret nisan sementara Mbak Tya yang terbuat dari kayu, ternyata aku baru ingat dia cuma setahun lebih tua daripada aku, aduhai… Tapi, aku nggak mau memotret jenazahnya dalam kain kafan (sambil teringat mantan pacarku berutang kain kafan jausyan kabir denganku) karena aku berpikir aku juga nggak akan mau dipotret dalam kain kafan, nggak akan mau dipotret saat masuk ke liang lahat.

Potretlah aku dalam keranda yang indah, dan cukup kenanglah wajahku yang cantik jelita! Jangan biarkan ada kenangan akan wajah burukku atau pun wajahku saat aku sudah terbujur kaku ya! Mbak Tya sangat-sangat cantik, selama hidupnya, sebagaimana yang kukenal dan kulihat, meski aku baru setahun terakhir ini kenal dengannya. Dia memakai baju berwarna-warni, rok yang manis, dan berambut panjang yang bikin aku iri setengah mati ingin punya rambut seindah itu (lagi). Aku mau kalian mengenangku dengan wajah cantikku juga jika takdirku seperti Mbak Tya, ya! No ugly picture! Eyang kami Lukito Asmoro yang jadi istri/garwo ampil/selir itu pasti yang menurunkan kecantikan kepada kami ini. Mbak Tya, aku nggak mau mengingat dirimu yang dalam keadaan jelek, atau yang seperti ini, cuma senyumanmu yang indah dan penuh kasih saja. Karena aku percaya, kita akan dibangkitkan kembali kalau sudah mati di alam ini, dan kita akan dibangkitkan dalam keadaan yang seindah hati kita, secantik jiwa kita.

Suaminya yang ganteng, yang baru menikahinya beberapa tahun terakhir setelah lama pacaran dan konon karena ia khawatir akan lupusnya, luar biasa sekali: dia menguburkan, mengazankan, dan seterusnya.

IMG_20150427_132820.jpg

Mbak Tya menjengukku di rumah sakit.

Lalu, aku jadi teringat pada film Libanon berjudul “Kemana Kita Akan Pergi Sekarang?” yang dalam akhir cerita, di mana setelah segala upaya resolusi konflik dilakukan para ibu rumah tangga di sebuah desa di Libanon agar perang bersaudara Muslim-Kristen nggak merembet ke desa mereka, akhirnya para ibu itu bertukar peran: yang Muslim jadi Kristen, dan yang Kristen jadi Muslim. Ini karena mereka sudah putus asa, dan kyai juga pastor satu-satunya di desa mereka juga putus asa, lalu pergi dari situ dengan mengizinkan para emak itu “berubah agama.” Film itu diawali dengan adegan para emak berpakaian serba hitam berok dan berhijab menepuk-nepuk dada seperti orang Arab atau Syiah yang berduka ke pemakaman; dan ditutup dengan rombongan pemakaman seorang Ibu Kristen yang anaknya terbunuh di desa sebelah dan Ibu itu “pindah agama” lalu memakai hijab, seperti semua emak Kristen lainnya yang ikut dalam rombongan. Di TPU, para bapak yang mengusung keranda pun jadi bingung: keranda ini mau dibawa ke blok Muslim atau blok Kristen, padahal TPU-nya kecil dan hanya dibelah jalan kecil antara kedua blok.

Maka, aku berpikir apakah pentingnya kelak aku dikafani atau dipakaikan baju pengantin, dikremasi atau dikuburkan dengan cara Islam, Yahudi, atau Kristen, dan kalau dikafani apakah berkain kafan seperti orang Sunni, seperti Syiah (jausyan kabir), atau kain kafan Turin ala Yesus dan atau tradisi umat samawi di Timur Tengah lainnya.

Aku bahkan cemburu melihat suami Mbak Tya begitu setia, dan begitu tulus serta begitu tangguh mengerjakan seluruh prosesi pemakaman untuk kekasih hatinya. Selalu ada pria-pria keren seperti ini untuk seorang perempuan seperti Mbak Tya!

Ketika pulang, tanteku dan aku lapar. Aku memutuskan makan McD karena aku ingin makan ikan dan tak ingin makan pedas. Aku juga ingin makan es krim. Lalu, sambil makan es krim, aku berimajinasi aku akan WA Mbak Tya, Eh…aku makan es krim, yuk makan es krim, Mbak! Haduh, di sana pasti kamu sudah bisa makan es krim rasa apapun ya Mbak, gratis dan enak, pun nggak merasakan sakit lagi seperti sekarang, aku makannya sambil lidahku merasa agak perih, dan gigiku semriwing. Jiwamu sudah merdeka dari tubuhmu. Seperti kata Haji Bektash Wali, “tubuh adalah sangkar bagi jiwa”

Mbak Tya juga wafat pada hari Jum’at dan dimakamkan pada hari Jum’at, duh indah sekali, itu’kan impian banyak Muslim. Aku apalagi, nggak mau kalau dimakamkan pada Sabat, tapi apa aku nanti bisa protes kalau dimakamkan pada Sabat karena cuma aku yang meyakini ini dalam keluargaku dan dalam masyarakatku? Hehehe. Kumembayangkan kalau dimakamkan pada Jum’at, lalu ikut perjamuan kudus di Surga pada Sabat!

Ah. Sudah, sudah. Airmataku sudah tumpah ruah. Ini karena aku sedih karena kehilangan teman curhat lupus. Padahal seharusnya aku ikut bahagia untuk Mbak Tya yang sudah kembali kepada Sahabat-nya, yang lebih tahu sejauh mana Dia sanggup berpisah dari Mbak Tya dan sanggup merasakan penderitaan Mbak Tya selama ini.

I love you, Cousin. I will miss you so much, Mbak.
Sabbath Shalom.
Seluruh rahmat Allah semoga berlimpah pada ruhmu yang cantik banget. Amin.


https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10209023311441668&set=rpd.1283854047&type=3&theater

~I curse and bless by my own name~

Gayatri damn it, 
Who had killed our cousin, today, 
Is this battle too hard, or our swords 
that were too weak, or that 
Life just being very generous to her? 
Bless those who die young, yet live forever!

Oh my Wedotami, 
Who is this angel pipping through pains, 
what is this kiss that smiles as death so sexy,
and why are those wolves cannot be friendly? 
Bless those who live eternally in every soul 
and every heart.

Our Beloved Friend had replied her prayers:
We have lupus, but lupus does not have us, 
And so I continue her path to hug life. 
An Ode to Ummi Setyaningsih
my brave, beautiful Lupus Warrior Cousin
who died yesterday, and alive, yet live forever..

 

irina6.jpg

Berfoto di McD, setelah melayat, dengan tante Irina

Comments are closed.