EVA MULLINS dan MURTAD

The void is a mirror; the creation is the image in it. Man is the eye of the image reflected in the mirror; the One who is reflected in the image is hidden in the pupil of that eye; thus He sees Himself. Then: ‘He is the One who sees: He is the eye. He is the One who is seen.’ (Shabistari). Only the one who has the eyes of his heart open will understand these words.” ~ Ibn Arabi.

Pada suatu malam, pernah karena saya tidak bisa tidur, saya berusaha untuk membaca alQur’an seperti membaca novel, dari halaman ke halaman, dan mencari perbedaan yang nyata daripada Alkitab. Jika saya tidak puas dengan satu terjemahan, saya pergi memeriksanya ke terjemahan-terjemahan lain. Walaupun tidak bisa berbahasa Arab seperti sahabat-sahabat saya para kyai muda dan ustadz dan ustadzah yang lulusan pondok pesantren, saya merasa beruntung bisa berbahasa Inggris untuk memeriksa dalam berbagai terjemahan bahasa Inggris.

095

Saya tidak tahu mengapa tidak bisa tidur, mungkin karena kesakitan, atau karena terlalu banyak tidur sebelumnya. Hari-hari itu saya sedang merindukan sahabat saya seorang pastor yang berada di Mentawai dan sedang ingin curhat sesuatu dengannya. Saya teringat dia pernah berkata kepada saya bahwa dia akan mengKristenkan saya, dan saya pun membalas saya akan mengIslamkan dia.

Sebetulnya hari-hari itu saya agak terganggu oleh ucapan sahabat saya, yang setelah sekian lama menjadi seorang pencari (seeker) akhirnya memutuskan untuk mengambil posisi tidak beragama dan tidak yakin apakah Tuhan ada ataupun tidak ada – mereka mungkin menyebutnya atheis. Tetapi, dia adalah salah satu sahabat terbaik saya, yang bahkan merawat saya ketika saya berada dalam keadaan terburuk saya sebagai odapus (orang dengan lupus) di rumah sakit. Kami sama-sama kuliah pascasarjana filsafat (Islam) dan mendalami konsep-konsep keren Mulla Sadra tentang asholatul wujud (realitas adalah eksistensi bukan mahiyah atau esensi), gradasi wujud (gradasi eksistensi), sampai kepada gerak substansi, yang kesemuanya merupakan konsep-konsep untuk mendukung Tauhid, serta konon untuk memecahkan berbagai persoalan terkait kenabian, keimaman, buruk-baik, dan lain-lain. Selain itu juga belajar konsep keren pendahulu Mulla Sadra, seperti Suhrawardi dan Ibn Arabi, serta filsuf-filsuf Muslim lain dan para Sufi. Saya ingin sombong sedikit di sini (eh banyak ding). Karena kampus kami dulu punya kebijakan untuk memberi beasiswa kepada mahasiswa dengan IPK terbaik di angkatan, dan karena saya anak salah satu dosen di kampus itu (atau ini), saya selalu belajar hidup-hidup sampai mendapat IPK terbaik dan tidak keluar uang sepeserpun untuk membayar SPP. Padahal, saya tidak fasih sama sekali bahasa Arab, apalagi bahasa Persia.

Jadi, sahabat saya itu mengatakan sesuatu tentang hal-hal yang dilanggar oleh orang-orang yang malah mengkhotbahkan atau mengajarkan kepada kami atau orang-orang lain sebagai sesuatu yang sesat, dosa, salah, dan atau tidak sebaiknya dilakukan. Persis dengan cerita ini. Pada suatu ketika, sewaktu saya masih di Roma, bruder di biara asrama kami mengantar saya keliling ke kampung tempat Paus biasa berlibur musim panas dengan seorang pastor pengajar STF yang sedang mengambil S3. Saat sorenya kami makan malam dengan seorang pastor yang lain, mereka bercanda tentang para pastor pengajar studi Moral yang malah berbuat amoral. Misalnya, ada yang ketahuan berselingkuh dari kaulnya dengan pacaran dengan seorang janda. Lalu, pastor pengajar yang sedang mengambil S3 dalam studi moral itu pun diguyoni dan mengguyoni dirinya sendiri. “Semoga ini tidak terjadi pada saya.”

Beberapa tahun lalu, ketika saya mengetahui berbagai kasus kekerasan seksual dan skandal-skandal amoral yang dilakukan oleh orang-orang yang saya anggap keren, karena ilmu pengetahuan mereka dan sederet gelar mereka, belum lagi jika mereka adalah apa yang orang-orang dan mereka klaim sebagai keturunan Nabi Muhammad, serta bagaimana semuanya ditutupi, kepercayaan saya terhadap para pemuka Islam hancur lebur. Tetapi, lucunya, saya tidak mau menjadi seperti sahabat saya itu, padahal saya sendiri kemudian mengalami masa-masa yang sangat kelam sampai saya menderita sakit berkepanjangan. Lucunya, saya malah menjadi semakin yakin dengan aliran yang saya anut dan semakin jauh mendalaminya, dan mungkin saya akan menjadi semacam penyebarnya yang paling bernafsu, lalu men-santa-kan atau me-wali-kan guru-guru saya. Karena biasanya justru guru-guru itu tidak bermaksud untuk mendirikan agama maupun aliran baru, melainkan untuk melakukan rekonsiliasi atau menyerukan kembali ke ajaran pendahulunya, tetapi ini, saya malah akan melakukan perpecahan baru.

Saya teringat ketika mantan pacar saya – yang juga sahabat saya sebelumnya – menjelek-jelekkan orang Kristen, mengkritik sahabat saya yang atheis, marah-marah tentang seorang selebritis yang murtad serta menjelek-jelekkan saudara-saudara se-trah saya yang Kristen, maka saya “kehilangan” kesabaran saya. Saya bilang padanya sebagian kira-kira begini, “Kamu dulu sahabat saya, tetapi selama empat kali saya dirawat di RS sampai berminggu-minggu kamu tidak pernah menjenguk saya. Sedangkan Fulanah (sahabat saya yang atheis) itu menjaga saya bahkan di saat saya nyaris mati. Dan, orang pertama yang selalu menanyakan kesehatan saya juga selalu menjenguk saya di RS adalah si Fulan (sahabat saya yang di Mentawai itu).  Dulu sebelum pulang ke rumah ibu saya, saya punya tetangga sebelah yang Islamnya sangat taat, dan selalu menjenguk tetangga-tetangga lain yang sakit, tetapi yang menjenguk saya malah tetangga dua rumah dari saya yang Katholik.  Jadi, kamu tidak perlu menghina-hina orang Kristen dan atheis seperti itu.”

Malam itu, malam ketika saya tidak bisa tidur itu, saya telah memutuskan bahwa saya tidak ingin menganut agama hanya karena orangtua dan kakek nenek saya menganutnya. Kalau saya mau, sudah sejak dulu saya memeluk agama Kristen, menganut agama Buddha, atau menjadi orang Hindu supaya sesuai dengan nama saya. Di rumah bapak saya, sejak dulu saya punya akses terbuka dan bebas untuk membaca Alkitab, Bhagawad Gita, buku-buku Buddhisme, Konghuchu, Taoisme, Kejawen, dan lain-lain karena ayah saya adalah dosen untuk studi Filsafat dan Mysticism Timur.

Saya mau sombong lagi. Ketika di Roma, di kampus Angelicum, saya mendapat nilai yang cukup bagus untuk mata kuliah “The Mystery of the Living God” yang berbicara tentang Trinitas (ujiannya ujian lisan dan tulisan lho) – 89. Padahal dosen-nya suka sekali menyinyiri agama Islam, dan agama-agama lain juga agama Hindu padahal dia orang India, serta menyinyiri pandangan-pandangan teolog lain di luar Katholik. Agak berbeda dari guru utama kami di Daudiyah, atau teman saya yang muallaf dari Katholik, saya tidak punya masalah serius dengan Trinitas, walaupun saat saya belajar saya pusing tujuh keliling dengan berbagai istilah yang baru bagi saya. Teman Muslim saya dari Mesir pada awal-awal perkuliahan biasa melakukan pertanyaan yang mungkin menyinggung bagi pak dosen, itu pun karena pada perkuliahan pertama dan kedua dia menyinggung konsep tauhid Islam dan menyinyiri Muslim di Eropa, tidak tahu bahwa ada dua mahasiswa Muslim di kelasnya (oh iya, penyamaran saya seakan saya suster Katholik sangat baik ya?) sehingga membuat kami berdua agak kesal, dan yang lucu yang lebih kesal adalah teman-teman sekelas kami yang Katholik sampai-sampai sahabat seasrama kami berdua yang sekelas dengan kami di situ menulis surat protes ke dekanat.

Sikap saya begitu Jawa di dalam kelas ketika itu, yaitu tidak banyak menyanggah atau protes. Satu-satunya masalah saya dengan Trinitas adalah saya tidak akan menerimanya sebagai satu-satunya konsep tentang Tuhan yang absolut, yang mutlak benar. Dan, ini juga masalah saya dengan konsep tentang Tuhan dalam semua agama yang lain, termasuk Islam. Semuanya adalah konsep buatan manusia saja, meskipun yang menyampaikannya begitu cangggih semacam Suhrawardi, Ibn Arabi dan Mulla Sadra. Ya, meskipun yang membuat konsep itu adalah para Sufi idola saya, atau pun konsep Trinitas itu disampaikan dengan begitu romantis dan indah oleh pastor sahabat saya itu atau oleh teolog Protestan ganteng seperti pendeta Anabaptis Mennonite itu. Bagi saya, konsep-konsep mereka dapat membantu saya mengantar saya ke pintu kebenaran, ke pintu hakikat, ke pintu realitas, tetapi yang harus masuk ke dalamnya ya saya sendiri, saya sendiri yang harus membuktikannya, bukan untuk siapapun, tapi untuk diri saya sendiri.

Pada malam itu saya tertidur dengan kitab-kitab berantakan di ranjang saya, laptop yang tak sempat saya matikan, dan segelas kopi yang belum saya habiskan, lalu saya tiba-tiba merasa diri saya seakan-akan adalah Eva Mullins. Beliau adalah nenek dari guru saya yang sepanjang hidupnya kemungkinan kalau di Indonesia akan disebut sebagai orang Kristen dari gereja Baptis – yang darinya kami memperoleh tradisi ini (Daudiyah). Iya, seolah-olah seperti Eva Mullins, yang pekerjaan terakhirnya adalah tukang cuci di rumah-rumah di sebuah kota. Pada suatu ketika di usia 80an beliau pernah mengajak menantunya (istri dari guru kami) mengelilingi kota sambil menunjukkan setiap rumah tempat ia pernah bekerja dan memberitahu di rumah mana saja telah terjadi skandal-skandal (seks) menjijikkan 50 tahun sebelumnya.

Kepada guru kami, dia pernah berkata untuk keduakalinya, “It does not matter what church you belong to, there is an invisible tabernacle made of the Psalms and we have the privilege of being a doorkeeper in the house of God. We need not aspire to religious leadership. The highest office is to guard the shoes of those who go in to pray. The dervish is a dog at the gate, and has the right to wag his tail at those who keep God’s commandments and bare his teeth at those who do not and yet presume to enter. There is no thanks or reward for the task, but only kicks and cuffs and a rare kind word.”

Saya menggarisbawahi kalimat terpenting dari instruksi Eva Mullins tersebut. Ketika bangun saya semakin yakin alQuran menyuruh saya mengaji Alkitab. Ketika bangun saya semakin yakin Alkitab menyuruh saya menerima Muhammad dan para maksumin (para imam dan Bunda Fatimah) – tapi bukan mencari pembenaran Islam dalam Alkitab, ataupun pembenaran Kristen dalam AlQuran. Ya… Ketika bangun, saya merasa saya sudah tidak lagi menganut agama seperti yang diwariskan orangtua saya atau pun kakek nenek buyut saya, yang saya mencarinya sendiri, yang jangkauannya begitu jauh dari saya – agama seperti yang dianut guru-guru saya dari Turki, Amerika Serikat, Finlandia dan Inggris, negeri-negeri yang belum pernah saya kunjungi! You know, sepertinya saya telah murtad!  Saya telah murtad sebab saya mempunyai keyakinan berbeda dari mainstream Muslim tentang Alkitab, dari mainstream Sunni tentang para ahlulbayt, dari Muhammadiyah tentang mazhab fikih Jafari, dari mainstream Syiah tentang para maksumin, dari babagan Bektashi tentang institusi tarekat, dan dari kaum perennial tentang “the common philosophy.”

Namun, saya tidak akan pernah punya tempat dalam gereja Katholik sekali pun saya sangat menikmati misa-nya, roti hosti-nya dan mencintai pastor-pastor-nya (juga suster-susternya, eaaa….). Iya, saya menikmati misa-misa Ortodoks yang indah itu, apalagi yang berbahasa Arab, apalagi karena jemaat-jemaat perempuannya juga berkerudung, (dan sstt…pastor-pastor Arabnya biasanya ganteng bingit!). Jika harus memilih antara ikut misa dengan ikut kebaktian gereja Protestan, saya pasti akan lebih memilih ikut misa (eaa…kecuali kalau yang memberi khotbah pendeta sekeren dan seganteng yang Anabaptis Mennonite itu), kalau perlu saya menyamar jadi seperti orang Katholik supaya diberi komuni  dan biarlah saya dimarahi oleh orang-orang Katholik apalagi oleh orang-orang Islam. Tapi, apa bedanya ketika saya berada di mushola kakek saya? Ketika rumah almarhum kakek saya di Surabaya sudah laku terjual beberapa bulan lalu untuk terakhir kalinya saya pergi menginap di sana. Rumah besar itu penuh dengan kenangan. Walaupun saya bisa sholat di kamar, apalagi saya sedang tidak bisa sujud naik bangkit seperti normal, saya memutuskan sholat di mushola. Mushola itu hanya muat untuk 2-3 orang dan sejak dulu di dinding menghadap kiblat dipasang kaligrafi “Alif” karena kakek saya adalah pengikut RMP Sosrokartono. Saya sangat suka tempat beribadah seperti ini! Saya menikmatinya. Sendirian. Saya melihat debu-debu pada buku-buku koleksi kakek saya. Saya ingat beliau bukan tipe Muslim seperti kakek sebelah bapak saya yang Muhammadiyah. Beliau seorang Javanolog, sesepuh Setia Hati Teratai dan saya ingat dalam kulkas di rumahnya dulu selalu ada botol bir atau anggur.

Ah, saya selalu punya tempat di rumah saya sendiri! Saya orang Jawa (walaupun kakek sebelah bapak saya adalah peranakan Tionghoa di Madura), betapa beruntungnya. Saya tidak harus menjadi Islam seperti kamu, menjadi Kristen seperti kamu, apalagi tidak mungkin menjadi Yahudi seperti kamu, karena saya orang Jawa. Sekali lagi saya menggarisbawahi kalimat terpenting dari instruksi Eva Mullins tersebut. Sejak 2009 saya telah aktif dalam berbagai dialog antar agama, pada masa-masa yang sama dengan saya diinisiasi dalam tarekat saya; saya les Alkitab privat pada seorang romo Katholik, saya bahkan belajar di fakultas ilmu dakwah di kampus kepausan terbaik di Roma, sementara itu pemuka-pemuka Islam dan orang-orang Islam religius telah begitu sering membuat saya patah hati, terluka dan hancur berkeping-keping (lebay sih, tapi biarin deh). Tetapi, walaupun begitu, sejak dari itu sampai hari ini, saya malah semakin yakin mengikuti agama-nya Eva Mullins: saya masih mencintai alQur’an, masih percaya kepada Imam Mahdi dan saya tidak malu punya Rasul bernama Muhammad yang setelah 25 tahun bermonogami ia berpoligami dengan banyak perempuan. Saya justru malu kalau kamu yang melakukannya, ya kamu yang bilang kamu mengikuti sunnahnya ditambah lagi kalau kamu mengaku sebagai zuriatnya.

Jadi, jangan cemburu dong kalau saya lebih suka datang ke gereja (Baptis) yang mengadakan diskusi tentang ekologi dan HAM, daripada datang ke mesjid-mu yang selalu menyalahkan umat agama lain dan mengajak perang atas nama agama. Mungkin kamu ustad ganteng keturunan Arab, Persia apalagi keturunan Nabi, dan kamu juga biasa mengkhotbahkan keindahan Islam memuja perempuan, tetapi kalau kelakuanmu ternyata merendahkan perempuan, terus salahnya saya di mana coba kalau saya naksir romo Katholik dan pendeta Protestan yang nggak pernah sekali pun bicara mesum dengan saya? Biarpun Omer dalam sinetron Cinta Elif itu menjadi pendeta Kristen dan mengajak saya nikah di gereja, lalu saya terima dengan segenap hati dan saya akan melayaninya dengan setia sebagai seorang istri, tetapi saya tidak akan ikut agama-nya – inikan pula diajak ikut agama kamu. Please dech.

Pada cermin, saat bercermin sendirian, saya tidak melihat siapa pun selain diri saya sendiri.  Tidak manusia lain, tidak jin, atau tidak pula hantu. Ya, diri saya sendiri. Eyvallah!

Desember, 2015

6 responses to “EVA MULLINS dan MURTAD

  1. Terimakasih Chen utk tulisan yang penuh makna. Menyentuh hati dan membangkitkan rasa beriman. Salam

  2. Oh Mbak Chen Chen.. you are inspirational! you dare to say what is right, not what is easy (or wanted from others).. God must have loved you so so much..

  3. Sungguh beruntung mbak Chen Chen punya kesempatan sangat luas untuk belajar dan merasakan pengalaman batin yang luar biasa. Tidak semua orang bisa punya akses untuk mempelajari banyak hal….dan saya sungguh iri….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s