Berbagi Suami

Status-status saya di facebook mengenai poligami

1234
I.

BERBAGI SUAMI. Saya tertarik menulis ini karena membaca status sahabat saya yang gendeng bin edan Muhammad Amin tentang para petinggi suatu partai Islam yang kata si Amin pada waktu muda culun dan beristri dengan wajah standar, lalu begitu jadi kaya dan pejabat mereka kawin lagi dengan perempuan-perempuan yang lebih muda dan lebih cantik. Ah, pokoknya, baca saja deh statusnya si Amin.
Ada teman saya perempuan yang beragama Katholik dulu kaget dan bingung mengetahui bahwa saya tidak anti-poligami. Dia masih terus protes walau sudah saya jelaskan panjang lebar. Kemudian, teman saya perempuan seorang Protestan membela saya dan mengatakan bahwa menerima saya sama artinya dengan menerima keberagaman dan merayakan keberagaman itu sendiri.
Bagi saya yang terpenting itu bukan poligami atau monogami, menikah atau bercerai atau selibat, tetapi yang pertama adalah keadilan dan kebahagiaan, dan kedua adalah sikap saya sebagai seorang Dekalog yaitu tidak berzina.
Saya membela beberapa bentuk poligami seperti yang dilakukan oleh para darwis perempuan yang memilihkan istri untuk suaminya atau menyuruh (kata yang digunakan “menyuruh” pula hehehe) suami mereka mencari istri lagi sebagai bentuk kesadaran sepenuhnya mereka sendiri dan suatu jalan spiritual pilihannya yang mungkin tidak mudah dipahami oleh orang lainnya. Atau, bentuk poligami seperti dua orang sahabat yang mencintai satu pria dan pria itu pun mencintai keduanya karena agaknya mereka justru bahagia kalau hidup bersama-sama. Jadi saya harus bersikap “fair”, kalau memang ada orang yang bahagia dalam perkawinan poligami (semuanya dalam perkawinan itu, bukan hanya si suami atau si istri kedua) mengapa saya harus menentang dan melawan mereka? Akan tetapi bentuk-bentuk poligami yang seperti ini agaknya hanya 1% saja dari 100% yang ada.
Biasanya para suami seperti yang diceritakan Si Amin mengalami puber lagi di usia ketika mapan sehingga merasa bangga jika bisa mendapatkan perempuan yang lebih muda atau lebih cantik, atau membiarkan dirinya direbut oleh perempuan lain, dan lain sebagainya, yang pada intinya melakukannya di belakang istrinya atau tanpa sepengetahuan istrinya, kemudian menghamili perempuan itu supaya bisa kawin lagi, atau kawin lagi diam-diam, atau hal-hal lain yang membuat sang istri terkejut, sakit hati, menderita, dst dst.
Perkawinan itu adalah antara keduabelah pihak, jadi bukan soal setuju atau tidak setuju, tapi katanya kan dalam perkawinan itu harus bisa saling membahagiakan satu sama lain, jadi kalau model poligaminya sudah berselingkuh, menyakiti dan tidak melibatkan pihak yang lain (istri pertama) sejak awal, itu sudah bentuk ketidakadilan sejak awal.
Haji Bektash Wali bilang kejujuran adalah pintu bagi persahabatan, sedangkan perkawinan itu konon kata para pakar bukan hanya soal cinta atau romantisme, tapi juga persahabatan.

Denny's

II.
Bung Denny Siregar,
Semakin alim seorang pria itu maka ia akan semakin jauh memikirkan dari memiliki istri kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.
Terutama sekali untuk zaman sekarang.
Walaupun saya bukan anti-poligami, saya juga bukan pro-poligami.
Hidup pada zaman sekarang itu jangankan untuk menafkahi dua istri, menafkahi satu istri saja para pria sudah kehabisan banyak sekali waktu sehingga sering tidak sempat memperhatikan satu istrinya dengan anak(-anaknya).
Belum lagi waktu kemudian akan habis untuk beristirahat, bersosial/bergaul di media sosial, dll selain beribadah ritual.
Kenapa sih umat Islam ini yang para prianya sepertinya hanya sibuk memikirkan bagaimana bisa mendapatkan istri kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya? Kalau skenarionya persis seperti kisah Nabi Muhammad sih dapat dimengerti, yaitu mengawini istri-istri yang benar-benar janda, miskin, dan lebih tua bahkan sudah menopause.
Semakin alim seorang pria maka dia akan fokus membina kehidupannya bersama istri pertama dan anak-anaknya.
Dalam hikmah perkawinan poligami para nabi, Sarah yang meminta Ibrahim menikahi Hajar, Yakub tertipu mengira akan menikah dengan Rachel lalu baik Leah maupun Rachel-lah yang memberikan pelayan mereka kepada Yakub, baik Daud maupun Sulaiman adalah raja-raja yang melakukan perkawinan politik demi kekaisaran, dan Muhammad baru berpoligami setelah Khadijah partner selevel dengannya meninggal dunia.
Kecuali pria-pria Muslim yang menggebu-gebu mau menikah lagi itu menganggap istri pertamanya tidak selevel dengannya, maka pantas jika istri pertamanya menolak dipoligami. Sedangkan dalam kasus Ibrahim dan Yakub justru para istrinya yang menyodorkan istri lain untuk suaminya.
Selain itu hanya kaum bangsawan yang melakukan poligami karena itu tuntutan pewarisan tahta dan aturan zaman dulu yang misalnya kalau istri pertama atau kedua bukan putri bangsawan maka dia tidak akan dapat posisi dalam istana atau negara, jadi disebut garwo ampil.
Apakah zaman sekarang semua pria Muslim mendadak jadi pria bangsawan semua yang bakalan punya peluang untuk mendapatkan tahta kerajaan seperti dalam cerita Abad Kejayaan atau Jodha Akbar ya, karena itu bernafsu sekali dengan poligami?

3 gadis cantik

III.

(Jawaban untuk https://www.facebook.com/denny.siregar.50/posts/10154035368784256)

Dear Bung Denny Siregar,
Ketika saya menulis status yang lebih kurang bernada, “Semakin alim seorang pria, maka dia akan semakin jauh memikirkan untuk berpoligami,” maka tentu saja saya melakukannya atas reaksi (bukan respon) atas status yang Anda tulis. Pada umumnya pria seperti Anda (muballigh-fesbukiyah) akan memberikan hujah atau argumentasi sebagaimana yang Anda tandai baru-baru ini. Padahal, alangkah lebih pantas jika Anda sebagai seorang muballigh-fesbukiyah lebih banyak menasehati sesama pria tentang keutamaan mereka sebagai seorang kepala rumah tangga, hamba Allah, dan seorang manusia.Saya menggarisbawahi kata “semakin jauh memikirkan” dan saya tidak menulis “tidak melakukan” karena keduanya adalah hal yang berbeda.

Untuk hal ini, saya pikir saya tidak perlu mengutip-ngutip sabda Imam Ali yang indah. Saya bisa saja mengutip sabda Imam Musa Kazim tentang keutamaan mengurus keluarga setara dengan berkali-kali naik haji. Atau, saya bisa saja memberi link tentang kisah dan humor Sufi-Bektashi yang telah saya adaptasi sedemikian rupa dalam salah satu blog saya.(https://gayatriwedotami.wordpress.com/2015/07/07/kashkul-and-the-ben-i/)

Berbeda dengan pada umumnya pria yang menulis dengan sedapat mungkin memisahkan antara domain privat dengan domain publik, lazimnya perempuan menulis apa yang terjadi dalam ranah domestik dan dalam beberapa aliran feminisme hal ini karena ranah domestik sebenarnya sangat berpengaruh bagi ranah publik. Saya ingin mengambil contoh jika seorang pejabat memiliki tiga istri dengan sembilan orang anak, kita sebagai rakyat tentu harus tahu apakah pejabat itu menggunakan uang negara dengan jujur dan bersih, sama seperti rekannya sesama pejabat yang selevel dan bergaji sama tapi hanya memiliki seorang istri dengan tiga orang anak. Jadi, masalah poligami bisa sangat berpengaruh kepada urusan negara dan kepentingan rakyat.
Seperti yang sudah saya tulis, saya menggarisbawahi kata “semakin jauh memikirkan” dan saya tidak menulis “tidak melakukan” karena keduanya adalah hal yang berbeda. Hal ini karena banyak contoh kasus poligami yang baik adalah justru ketika para pria merasa khawatir untuk melakukannya, tetapi oleh karena berbagai sebab dia akhirnya harus melakukannya.

Poligami bukan hanya dipraktekkan orang Islam saja, misalnya orang Cina juga melakukannya, tetapi yang menyedihkan adalah bagaimana ia sekarang dikampanyekan sebagai bentuk perkawinan yang membawa para pelakunya ke Surga. Hal ini antara lain dengan mendoktrin kaum perempuan untuk bisa bersikap ikhlas, rela, pasrah, dsb sedangkan para pria tidak pernah didoktrin tentang berbagai efek buruk poligami.
Saya ingin mengatakan, karena saya tidak akan menutupi ranah privat saya dalam konteks ini. Saya tidak anti poligami, sebab saya pernah mengizinkan suami pertama saya menikah lagi. Sekarang, setelah bercerai, dan saya sudah punya pacar lagi, prinsip saya belum berubah, bahwa saya sudah memberikan lampu hijau mengizinkan dia berpoligami. Akan tetapi, saya tidak merasa diri saya alim sedikit pun, dan ini bukan soal rela atau tidak rela, bagi saya. Maqam kesiapan manusia dalam ketidakmelekatan itu sangatlah berbeda-beda. Saya pernah mengalami masa ketika saya begitu takut kehilangan suami pertama saya itu karena kematian atau kecelakaan (pesawat). Saya pernah mengalami banyak pelecehan seksual, “perkosaan”, melahirkan normal, keguguran, penderitaan sakit karena haid sejak masa remaja, dan kemudian sekarang saya hidup dengan lupus (odapus – orang dengan lupus), yaitu suatu jenis penyakit yang 9 dari 10 penderitanya adalah perempuan. (Saya sudah sering menulis tentang penderitaan para odapus).

Maka, jika Anda berbicara tentang kehilangan dan penderitaan, belajarlah dari perempuan. Pada umumnya lelaki hanya mampu menelan dan menyimpan rasa sakitnya sendiri, lalu merasa kuat dan gagah, tetapi jiwa mereka hancur sehingga berakibat menghancurkan orang-orang di sekeliling mereka. Sedangkan para perempuan ketika menghadapi penderitaan, sebenarnya mereka lebih kuat daripada laki-laki. Jadi, sungguh keliru mengajarkan perempuan untuk menjadi ikhlas atau rela atau pasrah dengan penderitaan. Dalam banyak kasus bunuh diri, lelaki lebih cenderung berpotensi melakukannya, dan mereka pun melakukannya dengan cara-cara yang paling mengerikan seperti lompat dari gedung, menikam tubuh, dll, sedangkan perempuan biasanya minum racun.

Saya sering melukiskan penderitaan saya sebagai odapus sebagai “Auschwitz” yang saya bawa dalam diri saya dan saya ada di dalamnya. Ini saya ambil dari konsep psikologi Viktor Frankl dari bukunya “Man’s Search for Meaning.” Dalam Kristen, analoginya adalah setiap orang memikul salib mereka sendiri-sendiri. Jika mau memakai term Syiah, karena Anda orang Syiah, maka setiap orang menghadapi Karbala-nya masing-masing dalam dirinya – pergumulan-pergumulannya.

Perkawinan adalah hubungan antara dua individu dan bahkan dua pihak (dua keluarga). Jika pria melakukan poligami, yang berarti menambah individu lain dalam perkawinan itu, maka yang ideal itu adalah seluruh individu yang berhubungan harus bisa menjalin hubungan yang baik. Kalau Anda menyaksikan sinetron Abad Kejayaan atau Jodha Akbar, Anda bisa melihat betapa rumitnya jika perkawinan berisi individu-individu yang saling berhasad dengki, dendam, dan saling menyakiti. Sekarang, Anda, para pria, di zaman kebebasan memilih dan berpendapat ini, apakah sudi menikah dengan perempuan yang tidak Anda cintai? Saya kira tentu saja tidak. Anda menginginkan suatu “chemistry” dengan istri Anda itu, tidak hanya sekedar seks karena itu bisa kalian dapatkan dengan para pekerja seks komersial. Begitu juga ketika Anda membawa seorang perempuan “asing” dalam kehidupan perkawinan Anda. Sepasang sahabat perempuan saja bisa saling bermusuhan jika salah satu sahabatnya merebut pacarnya, atau tunangannya, apalagi suaminya. Ini karena belum tentu dua perempuan itu walaupun sama-sama Anda cintai memiliki “koneksi” yang sama dalam satu hal, walaupun mereka bersahabat. Rasa cemburu, iri hati, dll itu masih ada, bahkan terutama dengan saudara kandung kita sendiri juga demikian.

Kalaupun saya berbaik hati menyetujui suami saya nanti menikah lagi, belum tentu madu saya kelak tidak akan menyingkirkan saya sebab siapa yang dapat mengendalikan perbuatan orang lain? Jika suatu saat Anda mati, istri pertama Anda dan istri kedua Anda akan tetap ada hubungan jika di antara mereka terlahir anak-anak. Oleh sebab itu, selama Anda hidup, bagaimana Anda bisa membina sebuah keluarga sebagaimana yang disabdakan Imam Musa Kazim, sedangkan Anda sebagai kepala keluarga justru yang menanam benih kerusakan itu sendiri ketika Anda yang awalnya tidak pernah berkomitmen apapun dengan istri pertama Anda tentang poligami, lalu berpoligami; atau ketika Anda diam-diam menikah lagi di belakang (bukan masalah benar atau salah); atau Anda menikah lagi dengan seorang perempuan yang sama sekali tidak akan cocok bersahabat dengan istri pertama Anda meskipun dia telah siap berpoligami? Itulah sebabnya dalam Empat Kitab Suci terdapat banyak sekali riwayat tentang poligami, maupun monogami, dan mengapa ia harus diceritakan, bukan masalah detail historisnya, tetapi hikmahnya apa bagi kita masa kini.

Kembali ke status saya di atas, dimana saya menggarisbawahi kata “semakin jauh memikirkan” dan saya tidak menulis “tidak melakukan” karena keduanya adalah hal yang berbeda, maka itu tidak ada bedanya dengan status yang Anda tandai saya itu sebagai konsep tauhid dan ketidakmelekatan juga. Kecuali Anda terlalu mencintai istri Anda sampai Anda lupa kepada Tuhan, maka apa salahnya dengan memandang dia sebagai “tajalli”Nya yang sangat agung, yang telah melahirkan anak-anak Anda dengan segala penderitaannya, dan menjadi tugas Anda untuk menjaga serta memperlakukannya sebaik-baiknya sementara Anda tahu bahwa jangankan memperhatikan dua perempuan, memperhatikan satu perempuan saja Anda harus berani menghabiskan seluruh perhatian dan hati Anda untuknya ketika dia berduka, kesakitan dan bersedih. Bukankah ini konsep tauhid? Tentu saya berulangkali menulis kata “Anda” bukan bermaksud ad hominem, tetapi untuk semua pria lain yang membaca ini. Jika seorang pria mampu bermonogami, memelihara dirinya dari menanam sperma ke rahim para perempuan selain istrinya, walaupun matanya masih tetap melihat yang seksi, hatinya masih berdesir dengan perempuan lain yang cantik, dan masih memiliki imajinasi-imajinasi tentang 72 bidadari seelok para Miss Universe, bukankah itu juga latihan ketidakmelekatan, latihan tauhid?

Jangan lupa, ketika seorang perempuan mengandung, dia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Apakah dia akan selamat sesudah mengejan mengeluarkan bayinya? Apakah dia tahu dia akan begitu kelelahan dan atau mengidam yang aneh-aneh? Tetapi, betapa anehnya, kebanyakan perempuan meskipun hamil adalah sangat berat dan melahirkan adalah proses yang sangat menyakitkan, mereka masih saja ingin tetap punya anak, hamil dan melahirkan lagi. Bahkan, bagi para perempuan odapus seperti saya. Nah, renungkanlah hal ini, Bung.

Baju lebaran3

IV.
Jilid ketiga ini saya tulis sebagai pembukaan untuk jilid keempat, karena mungkin saya yang menulis ini dianggap bersikap emosional anti-poligami, feminis ala Barat, dan bla-bla lainnya.

#CeritaPertama
Beberapa tahun lalu sewaktu saya masih menjadi seorang istri, saya mempersilakan suami saya untuk menikah lagi karena saya ingin memenuhi undangan tak terduga kepada saya untuk studi di luar negeri. Mantan suami saya ini mengenal saya bertahun-tahun lalu di HMI, dimana umumnya kami kaum perempuannya cenderung menjadi feminis dan anti-poligami. Dia tidak mau melakukannya, bahkan ketika saya kembali ke Indonesia, saya lagi-lagi menawarkan padanya untuk berpoligami ketika kondisi perkawinan kami sedang berada di ujung tanduk. Dia lagi-lagi menolak.
Dan, puji Tuhan bahwa kami bercerai bukan karena poligami.

#CeritaKedua
Beberapa hari lalu, ketika saya dan seorang pria membuat komitmen untuk berhubungan, karena kami sudah agak lama bersahabat jadi saya sudah cukup kenal dia yang biasa punya banyak pacar sekaligus, maka saya katakan padanya bahwa saya tidak keberatan jika dia punya pacar lagi. Dia tahu bahwa saya pribadi tidak keberatan dipoligami. [Anggaplah karena saya orang yang anti-maintream, bukan karena saya hijaber alim, salehah, ikhlas, bla-bla…]. Beberapa hari kemudian, ketika kami sedang membahas cerita-cerita tentang nenek moyangnya, tiba-tiba dia melihat saya dan mengkhawatirkan saya. “Apa benar kamu nggak apa-apa kalau aku punya pacar lagi?” Bukannya menanggapi dengan serius, saya malah tertawa kecil menggodanya. “Wah, jangan-jangan kamu sudah punya pacar ya?”

#Bangsawan_Noblemen (Nobility)

Kalau ada orang yang mengkritik eyang putri RA Kartini karena mau dipoligami, padahal dia pahlawan emansipasi bla bla bla… saya mungkin akan menjadi salah satu orang yang paling keras membela beliau.
Kalian tak tahu apa rasanya menjadi Mehidevran, Hurrem, Gulfem, Jodha, Rukayyah, Salima, Nurbanu, bahkan apa rasanya menjadi Mumtaz Mahal yang dibuatkan Taj Mahal yang indah, tak tahu apa rasanya hidup sebagai para perempuan di harem dan putri-putri yang dilahirkan di harem yang dipersiapkan sebagai garwo-garwo padmi itu… Bahkan, sekalipun hidupnya telah dikondisikan dan dilatih dalam harem, dimana seorang putri dilahirkan di dalamnya, tidaklah semua putri sanggup menerima nasibnya untuk kelak dipoligami seperti tidaklah semua pangeran sanggup berpoligami ((Karena itu kami putri-putri Jawa berterimakasih pada RA Kartini karena isu poligami ini.))

Saya punya ungkapan yang perlu dipahami secara tidak letterlijk, meskipun ia berasal dari perenungan saya terhadap kisah kakek-kakek buyut saya yang berpoligami di balik tembok istana:
“Poligami itu bukan untuk rakyat jelata, tapi untuk kaum bangsawan.”
Jadi, tak perlulah mengkampanyekan atau memasyarakatkannya, karena tak semua orang dilahirkan sebagai ningrat, dan tak semua orang juga ditakdirkan sebagai bangsawan sekalipun ia terlahir sebagai bangsawan


big love

V.

BERBAGI SUAMI (jilid IV)
Ada sebuah fenomena baru tentang poligami yang sedikit mengagetkan buat saya ketika mendengarnya. Tetapi, sebelum saya ceritakan fenomena ini, saya ingin menulis beberapa fenomena lain sebagai pengantarnya.
 
(1) MAN-MOBILE-MONEY. Dalam buku Baby Jim Aditya “Dari Pampis Cakalang sampai Cabe-cabean” yang mengupas banyak hal mengenai masalah seksualitas dalam masyarakat ada salah satu fenomena yang dikupasnya yang sangat menjijikkan dan mengerikan buat saya. Jauh sebelum facebook ada, jauh sebelum telepon seluler ada, para pria yang memang berbakat untuk poligamus sudah melakukan berbagai cara lihai untuk mengelabui istri mereka tentang perselingkuhan maupun perkawinan kedua mereka. Jadi, please, jangan salahkan Mark Zuckerberg yang menciptakan facebook, jangan salahkan telepon seluler berSIM 3, sebab semua itu cuma alat dan teknologi baru yang kalau pun tak ada di zaman kita, para pria ini tetap saja punya cara untuk berselingkuh dan atau kawin lagi. Pernah dengar cerita ketika seorang pria mati tiba-tiba istri keduanya muncul dengan membawa anak/anak-anaknya? Itu cerita yang tidak aneh bukan? Menurut Baby Jim, pria-pria ini semakin “mobile” dan semakin punya duit, maka pasti mereka pasti akan menggunakan segala cara dan kesempatan untuk melakukan aksinya, lalu ditutupi sebaik-baiknya supaya tidak ketahuan istrinya seperti contoh-contoh yang ditulisnya dalam buku tersebut. Taktik-taktik dan tipuan-tipuan mereka.
 
(2) APAKAH HARUS MENIKAH? Baru-baru ini saya menulis komentar di status KH Husein Muhammad, kira-kira intinya sebenarnya adalah apakah memang seorang Muslim harus menikah? Saya menulisnya sebagai komentar untuk buku tentang beberapa Muslim terkenal yang memilih menjomlo. Ya, apakah salah memilih membujang/melajang? Apakah salah bila seorang janda memilih tidak menikah lagi? Kalau masih menjaga kesucian diri dari berzina saya kira tidak. Tetapi, apa nyana masyarakat kita masih suka kepo dengan pertanyaan “Kapan nikah?” Sehingga tak jarang perkawinan hanyalah untuk status dan pernyataan, “Woi, saya sudah laku!” Stigma buruk lebih-lebih lagi kepada perempuan yang menjadi perawan sampai tua atau janda yang masih muda, cantik pula (seperti saya😛 ) tapi tak mau menikah lagi, dibilang tidak laku, dibilang kasihan, dan lain-lain yang membuatnya akhirnya risih atau stress, dll, sehingga bertambah stress karena demi tuntutan itu akhirnya mencari pasangan juga. Menurut saya, memang ada orang-orang yang tidak cocok menikah dan hidup berumahtangga, ada yang tidak akan pernah bisa menjadi istri atau suami yang baik. Tuntutan masyarakat yang seperti inilah yang menimbulkan fenomena perempuan-perempuan yang akhirnya mau menjadi istri kedua, ketiga, keempat dst tanpa mempertimbangkan perasaan perempuan lain – sama seperti ketika Hurrem berusaha merebut hati Sulaiman demi sebuah status dalam harem tanpa mempertimbangkan perasaan Mehidevran.
 
(3) Darimana datangnya istilah suami-suami takut istri?
 
Saya punya beberapa cerita yang mungkin lucu. Saya pernah berkencan dengan seorang pria yang ternyata sudah punya tunangan, yang saya tidak tahu sampai saya menyelidikinya secara tak sengaja. Lalu, sampai terjadi sesuatu entah kenapa dia tidak pernah lagi menghubungi saya padahal saya tahu pasti kencan kami sudah ketahuan tunangannya itu. Saya pernah mengujinya, tapi saya rasa dia (takut?) dan tetap berusaha menjaga perasaan tunangannya ini, tidak lagi mengajak saya bicara. Kejadian ini mengingatkan saya pada pria yang sekarang menjalin hubungan dengan saya, ketika dia dulu masih bertunangan dan fotonya sedang bersama salah satu kawan kami, seorang janda, di kampus kami terlihat oleh tunangannya. Tunangannya itu marah besar dan entah berapa lama kemudian teman pria saya putus dengannya (lalu berbalikan, lalu putus lagi). Ada juga seorang pria yang tak pernah menghubungi saya lebih dulu sama sekali, tiba-tiba menghubungi saya dan melarang saya mengobrol lagi dengannya, karena dia sudah mau menikah kira-kira beberapa hari atau beberapa minggu dari waktu itu. Ini juga tipe pria yang sama brengseknya, jadi mau berapa banyak mengkoleksi “cadangan” sampai hari-H perkawinan tiba, sedangkan para perempuan selalu dituntut setia sejak hari pertama dilamar atau bahkan dipacari? Dengan caranya itu seolah-olah mengasihani saya. Saya bilang saja, memang kita pernah punya hubungan apa selain berteman, walaupun saya mencintai kamu, tapi saya tahu etika berteman (ah apakah dia pikir saya macam akhwat-akhwat itu ya?) toh kan selama ini saya sudah menanyakan apakah saya mengganggu, dsb… Kok jadi semacam menyalahkan saya ya? Sambil saya tertawa dalam hati, bahwa don juan seperti dia pun bisa ketakutan seperti ini, padahal saya kira dia tidak pernah menyukai saya lho.
 
Sebenarnya saya mendapatkan suatu ajaran dari kakek saya, kakek lho, bukan nenek, yang marah besar ketika tahu tunangan almarhumah bude saya yang marinir berselingkuh. Kakek saya bilang, baru bertunangan saya bisa begitu, bagaimana nanti kalau sudah menikah? Bude saya pun tak jadi menikah dengannya. Bahkan dia selibat sampai akhir hayatnya walaupun pernah menjalin beberapa hubungan yang serius. Kakek dan nenek saya pun seingat saya tak pernah lagi terlalu memusingkan status lajangnya. Gara-gara ini, ayah saya pun terpaksa menyembunyikan kisah poligami ayahnya dari ibu saya sewaktu mereka pacaran, sampai beberapa tahun setelah menikah dibongkar oleh paman saya. Lalu, terdengar oleh nenek saya dari sebelah ibu, yang bilang, “Kok, Jeng Martiyah secantik itu masih dipoligami?” Lalu, ibu saya cerita, paman menunjukkan istri kedua kakek saya, seorang janda nelayan, berkulit gelap, gemuk dan intinya menurut mereka tidak cantik. Nenek saya yang Raden Ayu itu, bukan hanya trah Mangkunegaran III, tapi juga berkerabat dengan RA Kartini sampai pernah “purik” pulang ke “istana” ayahnya di Solo karena dimadu begitu.
 
Beberapa perempuan tidak bersikap seperti nenek saya yang akhirnya “ikhlas”, dan malah merawat kakek saya di akhir hidupnya bersama istri keduanya. Ada salah satu pakde saya yang seorang seniman terkenal, terkenal pula banyak fans perempuannya, lalu selingkuh, dan bude saya hanya bilang, pilih dia atau saya. Inilah juga yang dialami oleh salah satu teman saya, seorang akhwat, dan janda, yang dikejar-kejar oleh seorang pria beristri, dan mereka akhirnya menikah setelah si suami minta ijin dari istrinya. Tapi, hanya dalam beberapa hari, istri pertamanya merasa sangat cemburu, atau tak sanggup “berbagi jadwal”, lalu dalam beberapa minggu memberi ultimatum, pilih dia atau saya. Kedua pria dalam cerita ini memilih istri pertama mereka, tentu saja.😉
 
Penyakit Menular Seksual?
 
Selain karena tuntutan pertanyaan kepo “Kapan nikah?” bagi para lajang, fenomena yang di awal tulisan ini saya ingin sampaikan adalah terkait dengan fenomena (1). Dan, yang menceritakan pun adalah seorang kyai muda (mungkin karena dia sering didekati para akhwat atau para ibu untuk diangkat jadi menantu). Para akhwat dan para perempuan yang aktif di pengajian dan biasanya mandiri, punya penghasilan sendiri, dan secara finansial sebenarnya cukup mampu, justru mencari pria-pria para ustadz (atau yang soleh-soleh semacam di partai Islam) walaupun mereka sudah beristri, karena mereka takut jika menikah dengan sembarang pria, ternyata mereka adalah pelanggan lokalisasi, tidak bersih secara seksualitas, dan semacamnya. Hello, Mbak, hello ukhtiy, apakah ada jaminan pria yang kelihatan soleh itu tidak hidung belang? Apakah ada jaminan bahwa penyakit menular seksual bisa tidak terjadi dalam hubungan seksual poligamus – meskipun sah?
 
Kepada sesama perempuan, saudariku, ya ukhtiy, sebelum mau dijadikan sebagai istri kedua, ketiga, dst, coba posisikanlah dirimu dulu sebagai istri pertama, apakah mau diperlakukan sama, bertahun-tahun berkorban dan menghabiskan hidup bersama suami dalam suka duka lalu datang perempuan lain apalagi ketika sudah sukses, kaya, dll? Kedua, apakah awalnya yang mendatangimu adalah si suami untuk melamarmu atau si istri itu sendiri yang mengajakmu sebagai saudarinya? Karena keduanya akan menimbulkan efek yang berbeda dan biasanya pun konteksnya berbeda sekali… Tapi…. Jangan lupa, sekalipun Sarah yang memberikan Hajar untuk Ibrahim, dia tetap cemburu dan meminta Ibrahim mengirimnya jauh-jauh. Jangan lupa, sekalipun Leah dan Rachel kakak-beradik tetapi keduanya tetap saling cemburu dan saling merebut hati Ya’kub. Ini’kan pula diam-diam dinikahi di belakang, atau tiba-tiba muncul di hadapan seorang perempuan yang di awal pernikahan mereka sang suami mengatakan “hatiku hanya untukmu” ternyata oh ternyata… Apakah “anti” mau diperlakukan begitu juga?
 
Foto: Serial HBO, “Big Love” tentang pria LDS (sekte Mormon) yang melakukan poligami. Sekte Kristen ini memang membolehkan, bahkan agaknya menganjurkan, poligami. Dalam serial ini, setiap istri punya peran berbeda untuk suaminya yang politikus: istri pertama sebagai pendamping dalam setiap kegiatan politik, kampanye, filantropi dll; istri kedua sebagai ibu rumah tangga pengasuh para anak dll (pakaiannya sangat tradisional); istri ketiga, yang paling asyik, menjadi mata-mata bagi suaminya jadi dia biasa berpakaian seksi, menggoda, dll. Bob sebenarnya selingkuh lagi, tapi ketika istri pertamanya mendatangi si perempuan untuk dijadikan istri keempat, demi alasan religius, perempuan itu tak mau. Hehehe.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s