TANGAN FATIMAH dan FOCOLARE

Simbol "Tangan Fatimah" merupakan oleh-oleh adik spiritual saya dari Afrika.

Simbol “Tangan Fatimah” ini merupakan oleh-oleh adik spiritual saya dari Afrika.

Pada suatu malam, ketika saya membaca legenda ini, saya teringat ketika saya begitu kesakitan di rumah sakit: ketika saya mengalami keguguran putra ketiga saya yang saya beri nama Kesatria Cahaya, ketika saya menjerit-jerit karena salah satu kaki saya kemudian kedua kaki saya bagai ditarik-tarik dari ujung jempol ke pangkal paha jauh selama hampir enam jam dan betapa lebih menyakitkan daripada ketika saya mengejan melahirkan putri-putri saya. Saya hanya menggenggam turbah, berzikir dan saya bertawassul memanggil nama Sang Bunda. Saya menangis dan menjerit sejadi-jadinya, bahkan saat melahirkan saya tidak menjerit seperti ini. Saya menderita lupus, suatu penyakit autoimun yang kebanyakan penderitanya adalah perempuan (9 dari 10 penderita) dalam usia produktif mereka (15-45 tahun). Karena itu, saya sering tergoda untuk mempersoalkan kepada Tuhan, mengapa penyakit seperti ini justru ditimpakan kepada kami kaum perempuan yang telah cukup menderita oleh karena haid, kehamilan, melahirkan, dan menyusui? Saya begitu ketakutan berprasangka buruk pada Tuhan. Saya hanya ingat Az-Zahra, berulang kali mengingat Sang Bunda, dan menyadari apalah saya ini, siapalah saya ini dalam rasa sakit ini. Saya hanya ingat bagaimana mungkin saya tidak diuji sejak saya mengambil kaul saya sebagai seorang kalendar dalam tekke Daudiyah, dengan pelecehan seksual, perkosaan, keguguran, kesakitan menjelang dan saat haid, serta kesakitan sebagai odapus ini?

Guru-guru kami saat ini adalah para dede, dan seperti semua kalendar Daudiyah, kami dibebaskan membentuk model tekke kami sendiri sesuai tradisi kami. Maka, saya merasa terpanggil memberikan corak “para ibu” pada tekke yang saya jalani dan jalankan, dan ini bukanlah tanpa alasan. Salah satu guru utama yang mewariskan kepada para dede kami tak lain hanyalah seorang pegawai kebersihan di sebuah hotel, yang seorang perempuan; mata rantai yang hampir saja putus pada tekke rahasia yang dijalani dan dijalankannya. Patron kami adalah Haji Bektash Wali, yang sebenarnya tak pernah mendirikan tarekat, tetapi ajaran-ajarannya disebarluaskan oleh murid satu-satunya (yang kemungkinan besar adalah istrinya) yaitu Fatma Nuriyah yang mendapat panggilan Kadincik Ana yang mempunyai murid-murid yang kemudian melahirkan mazhab sufi Bektashi. Selain itu, saya juga seorang Focolarini, pengikut Focolare, sebuah organisasi spiritual yang dilahirkan dalam Gereja Katholik, yang arti harafiahnya adalah “perapian” atau “pendiangan” tempat berkumpulnya keluarga dalam rumah pada musim dingin. Focolare dilahirkan oleh seorang perempuan bernama Chiara Lubich dengan spiritualitas Maria dengan maksud seluruh anggotanya menyatu sebagai keluarga yang menghidupi ajaran Sayyidina Isa al-Masih yaitu cinta kasih. Focolare yakni perapian atau pendiangan merupakan poin fokus spiritual dalam tradisi berbagai tarekat sufi di Turki. Tidak terkecuali dalam Daudiya, yaitu Dekalog yang tertera dalam Qur’an surah 2 ayat 53.

Legenda ini merupakan asal-muasal tradisi pengobatan dari orang-orang yang mengelilingi perapian atau api unggun. Mereka adalah para dukun dari suku Islam-Shaman di Asia Tengah dan Turki. Mereka memusatkan ritual pengobatan di sekeliling api, melelehkan dan menggunakan abu untuk pengobatan. Dan di sekeliling Bunda Fatimah azZahra, putri Nabi Muhammad. (Para pengikut mazhab Sufi Bektashi, seperti orang-orang Alevi misalnya, juga adalah termasuk suka-suku Shaman di pedesaan yang memeluk Islam dengan tetap menjaga tradisi Shaman mereka dalam berbagai hal, seperti ritual menari spiritual mengelilingi api menyebut nama Allah, Muhammad, dan Ali).

Tentu saja ini merupakan legenda, bukan riwayat yang sesungguhnya terjadi, tetapi di balik legenda ini terdapat hikmah yang sangat penting.

Konon, Rasulullah membuat api, dan dari abu api tersebut dengan air, Baginda dapat menyembuhkan yang sakit. Maka, Rasulullah mulai menyembuhkan yang sakit, akan tetapi, karena kelelahan setelah bertahun-tahun berlalu, Rasulullah mewariskan seni pengobatan ini kepada putrinya Fatimah, memberikan ijazah kepadanya untuk mempraktekkan seni pengobatan ini. Maka, Fatimah pun mengambil tangannya, lalu mulai mengobati. Lalu, karena Fatimah pun merasa kelelahan, beliau pun mengajarkan seni pengobatan ini kepada tetangga dan sahabatnya Lukman (tokoh terkenal yang namanya menjadi judul Surah 31 dalam alQuran). Lalu, Lukman mengajarkan seni pengobatan ini kepada orang-orang di berbagai tempat, membangun tradisi “focolare” atau “pendiangan” (sebagai pusat fokus spiritual).

Salah satu hikmah dalam legenda ini adalah bahwa sesungguhnya terdapat “rahasia” atau sejarah yang dilupakan tentang transmisi atau pewarisan seni pengobatan dalam silsilah Sufi dari Sang Bunda, Fatimah az-Zahra kepada seluruh dukun atau tabib Sufi Muslim perempuan. Fatimah Ana, mereka memanggilnya demikian, sebagai tawassul dalam proses pengobatan yang dijalankan. Mereka akan mengatakan,

“Ini bukan tanganku yang mengobati, tetapi tangan Fatimah Ana.”

Banyak legenda-legenda lain berkembang di wilayah-wilayah sekitar Turki dan Asia Tengah mengenai seni pengobatan ini, yang menyebutkan tentang tawassul dan atau melalui tangan Sang Bunda Fatimah.

Sebenarnya ada salah satu hadis Bukhari yang menyebutkan tentang pengobatan yang dilakukan oleh Fatimah dan Ali bin Abi Thalib suaminya ketika mereka merawat luka-luka Rasulullah akibat perang Uhud. “Fatimah biasanya mencuci luka-luka tersebut dan Ali bin Abi Thalib biasanya menuangkan air dari sebuah perisai. Ketika Fatimah melihat betapa air tersebut malah memperparah pendarahan, ia mengambil secabik tikar, membakarnya, dan memasukkan abunya ke dalam luka-luka (Rasulullah) supaya lukanya tergumpal (dan pendarahannya berhenti). [Bukhari 5, 277-8].

Tradisi tawassul ini dapat ditemukan di seluruh Asia Tengah dan bekas wilayah kekuaasaan Ottoman Turki. Di mesjid dan tekke Elmala Baba, Bulgaria, misalnya, yang setiap bulan September diadakan pekan perayaan kaum Alevi di seluruh Bulgaria, terdapat bagian untuk lelaki dan untuk perempuan. Pada bagian perempuan didekasikan untuk Fatimah (atau Fatma dalam bahasa setempat) yang dianggap sebagai matron bagi para ibu dan anak-anak. Di situ terdapat imitasi makam Fatimah yang ditutup kain hijau yang terdapat gambar Tangan Fatimah dengan mata yang diyakini sebagai simbol yang menatap mengusir setan atau keburukan. Para peziarah yang datang percaya bahwa tempat ini merupakan tempat pengobatan dan terdapat kebiasaan pada hari libur para penderita sakit dan perempuan-perempuan yang belum melahirkan anak duduk di sini untuk bertawassul agar mereka didoakan oleh Bunda Fatimah az-Zahra untuk memperoleh kesembuhan atau memperoleh keturunan.

Ya Maria, Ya Fatimah Az-Zahra,

Yang terkandung tanpa noda dan terpelihara dari dosa,

Doakanlah kami putri-putrimu.

Salam bagi engkau para penghulu perempuan di Surga,

Asiah, Khadijah, Maria dan Fatimah.

Salam bagimu para ibu kaum mukminin dan ibu kami:

Hawa, Miryam, Sarah, Hajar, Hulda, Deborah,

Hannah, Elizabeth, Anna, Aminah, Fatimah bt Assad,

Zainab, Shahrabanu, Fatimah bt Hassan,

Farwah, Hamidah, Sabikah, Najmah,

Sumanah, Salil dan Malika Nargis,

Serta seluruh ummul mukminin.

Semoga Allah meridhoi guru dari guru-guru kami

Fatma Nuriyah dan Eva Mullins.

Semoga Allah mencucuri rahmat dan kasihnya

Kepada seluruh ibu dari ibu kami

Semoga Allah membimbing putri-putri kami.

(halaman awal novel Tarian Kabut)

wha_camalti2

Catatan Kaki:

Chiara Lubich merupakan perempuan Katholik pertama di dunia yang memasuki masjid di AS dalam rangka dialog antar-iman dan memberikan pandangannya tentang cinta kasih.

Ana – Ibu.  Dalam tradisi Bektashi merupakan gelar kehormatan untuk perempuan yang merupakan mursyid, istri dari mursyid/pemimpin komunitas, dan keturunan dari syaikh/terkait Sayyidina Ali kw. Gelar ini diletakkan di belakang nama.  

Dede – Kakek. Dalam tradisi Bektashi merupakan gelar bagi pemimpin spiritual kelompok Alevi-Bektashi, yang memimpin semah atau majlis pertemuan spiritual.

Kalendar – sebutan untuk darwis pengelana sendiri (lone-dervish), atau darwis tarekat Qalandariyah, dalam sejarah memiliki kaitan dengan para darwis Bektashi dan Dawoodiyyah; secara harafiah berarti orang yang merapikan alas kaki di depan mesjid; disebut kalendar karena Daudiyah menerapkan lone-dervish system.

Turbah – (batu dari) tanah tempat sujud dalam sholat

Tekke – pondok sufi

Rujukan:

Syaikha Roya Azal dalam:  http://www.theartofislamichealing.com/

Comments are closed.