SAUJANA KITAB KEJADIAN 19* PADA RUANG DAN MASA KITA

 (Catatan Ketiga**)

(tulisan-tulisan saya mengenai seks dan seksualitas)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Saya dan seorang pastor Xaverian di Cremona, 2011

Juni, 2015. Malam itu, saya duduk makan malam dengan seorang pria yang sangat tampan di sebuah restoran Amerika. Kami hanya berdua saja. Saya seorang perempuan. Pernah menikah dan punya dua anak. Saya tidak mengatakan ini untuk menyombongkan diri atau sebaliknya berusaha rendah hati: sejak kecil hampir semua orang mengatakan bahwa saya cantik. Sedangkan di depan saya adalah seorang pria keturunan Italia. Saya suka menonton sepakbola untuk melihat pria-pria yang tampan terutama dari negara-negara seperti Italia, Spanyol, dan Portugis, sama seperti ketika saya suka sekali menonton dansa ice-skating dengan atlet perempuan mereka yang begitu anggun dan molek di atas arena salju. Banyak teman perempuan saya yang bilang pria-pria Italia itu banyak yang tampan. Saya tidak meragukannya, jika itu yang dimaksud adalah ketampanan secara badani. Ke mana pun saya pergi ketika saya berada di Italia, saya selalu menemukan pria yang tampan, yang secara seksual sangat menarik. Mungkin tidak semuanya pria Italia, sebab untuk membedakan antara pria Rumania, yang banyak sekali, dengan pria-pria Balkan dan atau keturunan lainnya, tidaklah begitu mudah jika saya hanya melihat dan melintas di jalanan dan kerumunan. Ya, menurut saya memang pria-pria Italia tidak sedikit yang tampan – menurut selera saya tentunya –  termasuk pria yang ada di depan saya sekarang. Jadi, ini adalah kencan yang sempurna. Kami sudah lama kenal, bahkan saya mengenal akrab ibunya, adiknya, kakaknya, dan pernah tidur di rumahnya, bahkan tidur di dalam kamarnya – tentu saja sendirian, karena di kamarnya hanya terdapat satu tempat tidur berbentuk dipan sebesar ranjang di rumah sakit. Saya mengaguminya sejak pertama kali bertemu dan saya kira juga sebaliknya.

Kami berdua bicara tentang banyak hal. Dari mulai hal-hal yang begitu ringan sampai yang begitu berat, dari hal-hal yang sangat personal sampai kepada hal-hal yang sedang mendunia. Imigran. Itu salah satu topik pembahasan kami. Negaranya dan negara saya punya satu kesamaan, yaitu menghadapi gelombang imigran gelap yang menjadikan negara kami sebagai wilayah yang harus dilewati untuk sampai ke negara tujuan. Imigran-imigran gelap yang ditampung di Italia umumnya ingin menuju ke Perancis, sedangkan yang di Indonesia umumnya ingin menyeberang ke Australia. Sejak saya bertemu dengannya, serta mengenal keluarga serta kaum kerabatnya, lalu tinggal selama beberapa bulan di jantung kota Roma, saya mendapati bahwa karakter bangsa Indonesia dengan bangsa Italia punya banyak kemiripan, kalau tidak bisa dianggap sebagai kesamaan atau persamaan. Pada waktu itu, saya adalah seorang musafir di negaranya, dan saat ini dia adalah musafir di negara saya.  

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Paus Benekditus XVII dalam Hari Imigran Sedunia, 2011, koleksi pribadi

Sambil menikmati pizza ala Amerika, ia menceritakan tentang puluhan demonstran di wilayah Sisilia yang menyatakan, “Kami bukan rasis, tapi jangan menambah masalah kami” menghadapi ribuan imigran gelap. Saya lalu teringat bahwa saya dicap rasis karena saya mengatakan, “Saya membenci hampir semua habib,” sebagai suatu pernyataan saya yang amat personal, kendati saya tak sedikit pun menyinggung atau mengatakan keburukan para habib, yang saya harus pula menambahkan dengan keterangan yang sangat personal bahwa jika pun saya memang rasis, lalu mengapa saya saat ini mencintai seorang habib? Rasisme, adalah masalah besar yang kembali mencuat di “belahan dunia” yang lain, di negara-negara tetangga Italia maupun Indonesia dan di Amerika Serikat. Paus akan langsung memberi sikap terhadap pelecehan atas Nabi Muhammad, sama seperti ulama NU dan Muhammadiyah di Indonesia akan memberi sikap terhadap pelecehan atas simbol-simbol Kristen (Catatan: Paus juga adalah Uskup Agung Roma. Dan, sesekuler apapun Italia, masyarakatnya ternyata tak pernah bisa melepaskan akar dan ketergantungannya terhadap nilai-nilai dan pandangan-dunia Kristen sama seperti di Indonesia dengan Islam).     

Kalau saya menulis paragraf pertama saya tentang cerita itu tanpa saya lanjutkan lagi, tentu setiap orang akan memiliki persepsi yang begitu berbeda tentang hubungan saya dengan pria tersebut, tentang kencan kami malam itu, dan tentang kekaguman-kekaguman kami terhadap satu sama lain. Tetapi, mengapa kemudian saya malah melanjutkannya dengan membahas topik yang seakan-akan tidak ada hubungannya dengan “seks dan seksualitas”?

Dari diskusi bedah buku “Cakalang Pampis sampai Cabe-cabean” karya Baby Jim Aditya, saya mendapati pelajaran yang bisa saya ringkaskan dalam satu kalimat. “Kita hidup dalam ruang dan zaman yang dapat kita temukan jejak bayang-bayangnya dalam Kitab Kejadian 19.”

Ketika kami berdua kencan, topik yang sedang hangat di Indonesia adalah “Angeline” gadis kecil yang sejak bayi diadopsi lalu dibunuh, kemungkinan besar oleh ibu angkatnya sendiri. Mengapa dia harus diadopsi? Mengapa ibubapaknya tidak merawatnya sendiri? Apakah murni karena kemiskinan? Apakah murni karena ketidakmampuan membayar biaya rumahsakit? Bertahun-tahun lalu, saya mempunyai kerabat yang membayar biaya persalinan seorang ibu di sebuah klinik bidan demi mengadopsi seorang anak. Mengadopsi atau mengangkat anak di Indonesia, menurut saya, tidak harus sama seperti di negara-negara maju. Tetapi, yang terpenting, apapun prosedurnya, adalah bagaimana merawat dan dapat mengasihi anak itu. Kakek dan nenek saya mempunyai delapan orang anak, dan mengadopsi keponakannya yang menjadi yatim karena Revolusi 1945. Kakek dan nenek saya bukan orang kaya raya, sudah punya anak banyak pula, tetapi mereka dapat membesarkan keponakannya tersebut.

Saya mengeluh kepada pria itu, “Sekarang saya melakukan semua hal begitu lamban karena penyakit saya.” Saya ingat dia pernah cerita tentang “penderitaan” ibunya ketika ayahnya, yang seorang arsitek terkemuka, mendadak sakit sehingga tak mampu melakukan apapun sehingga segalanya harus dibantu, dan ibunya dengan setia merawatnya. Ini berlangsung selama bertahun-tahun. Bagi seorang ibu, apa yang saya alami saat ini, adalah suatu perjuangan dimana saya tidak bisa lagi mengasuh dan merawat anak-anak saya seperti ibu-ibu lainnya. Saya sering menangis dan terluka melihat status ibu-ibu lain yang menceritakan, hari ini saya mengantar anak saya ke sekolah, atau hari ini saya memasakkan untuk anak saya makanan favorit mereka, atau saya sakit hati jika ada yang menulis, bagaimana sih ibu itu yang menelantarkan anak-anak mereka diasuh pembantu? Di lain pihak, saya sangat suka menyendiri. Saya tidak bisa menulis atau membaca atau bekerja dengan kehadiran anak-anak saya, atau siapa pun, di ruangan saya. Dulu, waktu masih tinggal bersama mereka, saya biasa  menunggu mereka pergi ke sekolah, atau menidurkan mereka dulu, baru mulai bekerja (menulis, dll di rumah). Ibu saya adalah ibu rumah tangga “murni” tapi saya juga dibesarkan oleh para pembantu. Seperti yang pernah ditulis oleh Komnas Perempuan dalam salah satu laporannya, perempuan itu tidak homogen, bisa dari kelas yang berbeda-beda, berpendidikan tinggi atau rendah, bangsawan atau pelayan, kaya atau miskin, dsb. Begitu pula ibu saya, walaupun bukan berasal keluarga kaya, tetapi berasal dari keluarga priyayi. Dalam keluarga priyayi, saya kira adalah lazim seorang anak diasuh oleh seorang pembantu, inang atau “mbok mben” semacam itu. Tetapi apakah itu mengurangi kasih sayangnya, mereduksi keibuannya atau semacam itu? Tidak sama sekali.

Saya menulis gambaran tersebut untuk mengantarkan ke cerita-cerita berikutnya: saya pernah mendampingi seorang gadis yang memutuskan melahirkan bayi di luar pernikahan dan merawatnya betapapun tertekannya dia; saya pernah mempunyai pembantu yang begitu miskinnya karena suaminya tidak bekerja tetapi hampir setiap tahun dia melahirkan anak bahkan yang terakhir saat dia masih bekerja melahirkan di kamar mandinya lalu tiga hari kemudian langsung datang bekerja karena takut kehilangan pekerjaannya; saya pernah mempunyai tetangga yang menikah tapi karena KB-nya gagal akhirnya hamil lalu menggugurkan kandungannya; saya pernah mendatangi sebuah panti asuhan yang di dalamnya tinggal dua kakak beradik berbeda ayah (dan mereka berbeda kebangsaan pula), yang untuk pertama kalinya membuat saya tercenung. Saya pernah punya sahabat pria yang tak kalah tampannya dari pria Italia di hadapan saya itu, seorang pria Cheko dan juga atlet yang memberikan nilai tambah bagi aspek ketampanannya. “Di negara kami, semua rumah sakit menyediakan ruang kosong yang terbuka lebar yang isinya adalah ranjang-ranjang untuk para bayi.” Pada waktu itu kami semua di asrama, di ruang makan, terlibat percakapan serius tentang “Apakah punya anak itu adalah hak atau hak istimewa (privilege)?” Seperti memberikan kondom gratis, mengusulkan ide ini pasti akan ditentang oleh kaum religius sebagai memberikan ruang kepada perzinahan. Namun, persetan dengan semua itu, toh perzinahan tetap terjadi di mana-mana, dan akan dikemanakan bayi-bayi hasil perzinahan atau bayi-bayi yang tidak diinginkan sekalipun dari perkawinan yang sah? Apakah ke tong sampah?  

Bahkan, kita belum membicarakan tentang bayi hasil perkosaan maupun berbagai hubungan seks yang tidak diinginkan. Saya pernah mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, walaupun bukan di luar perkawinan, jadi setidak-tidaknya saya mengetahui pergumulan batin yang harus dialami para perempuan yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.

Hamil dan melahirkan anak adalah satu hal, tetapi merawat dan membesarkan mereka adalah lain hal pula. Dalam catatan saya yang sebelumnya, saya menceritakan kembali bagaimana Emon sang pelaku sodomi sekian puluh anak itu justru didukung oleh anak-anak yang menjadi korbannya. Anak-anak itu yang merasa mendapat kasih sayang dari Emon yang tidak mereka dapatkan dari orangtua mereka dan orang lain. Jadi, bagi mereka, Emon pantas mendapatkan “upah” atau “ganjaran” dalam bentuk seks sebagaimana yang Emon inginkan karena Emon telah memberikan apa yang tidak mereka dapatkan; lebih kurang mirip dengan para perempuan yang hidup dengan para pria sebagai gundik-gundik atau istri-istri gelap mereka dan hidup bergelimang kemewahan. Sebaliknya Emon mungkin tidak merasa bersalah karena telah memberikan “segalanya” kepada anak-anak itu; lebih kurang mirip dengan para pria dalam tradisi-tradisi tertentu yang merasa telah berhak “melakukan apapun” terhadap istri-istri mereka karena telah memberikan mahar yang besar.

Bukan hanya masalah kehamilan. Namun, juga penyakit menular seksual (PMS). Dari diskusi bedah buku itu, saya diberitahu bahwa justru para ibu rumah tangga baik-baik yang lebih banyak menderita HIV/AIDS dan PMS karena mereka tidak tahu cara melindungi diri mereka – sedangkan para pekerja seks yang melayani suami-suami mereka dalam keadaan baik-baik saja karena lebih tahu melindungi diri mereka. Misalnya, mereka tidak mau berhubungan seks tanpa memakai kondom. Seorang guru, misalnya, mengatakan sudah rahasia umum bahwa hubungan seks biasa dilakukan oleh murid-murid di rumah atau di sekolah, bahkan murid-murid sekolah agama termasuk aliyah ataupun tsanawiyah. Jika saya menonton film porno pertama kali pada usia 20 tahun saat di bangku kuliah, maka usia generasi di bawah saya pasti lebih muda lagi saat mereka pertama kali terdedah oleh film porno. Anda mungkin ingat kasus “Bandung lautan asmara” yang mana saudara saya adalah teman baik dari “pemain” film porno itu. Film porno itu begitu fenomenal, karena diburu oleh banyak teman kampus saya ketika itu, termasuk teman-teman aktivis Islam saya (karena kami kuliah di Unpad). Apakah saya kemudian terkejut mendengar berita tentang tokoh HMI dan anggota DPR dalam video seks dengan seorang artis? Tidak sama sekali. Sebelum menikah dengan seorang aktivis HMI dan waktu itu ia hendak terjun di bidang politik, saya bertanya kepadanya, “Apa yang akan kamu lakukan jika kamu ditawari perempuan dan ia dibawa ke dalam kamar hotelmu, lalu kamu terjebak di dalamnya?”

Saya dan keluarga teman kencan saya

Saya dan keluarga teman kencan saya

Kembali ke Juni 2015. Di akhir kencan, kami sedikit berdebat, karena dia cukup konservatif dalam masalah “perkawinan”, sementara saya bersikeras, “tidak semua perkawinan itu baik” sama seperti “tidak semua perceraian itu buruk”. Ada banyak kasus yang menunjukkan perkawinan kedua lebih berhasil (maksud saya tentu lebih awet sampai ajal memisahkan keduanya). Artinya, sebagai Muslim, saya bersyukur bahwa dalam tradisi Islam secara umum membolehkan perceraian dan membolehkan terjadinya perkawinan lagi. Misalnya, ini dicontohkan dalam perkawinan Zainab al-Jahisy, yang walaupun ditentukan Nabi Muhammad, tetapi akhirnya tidak berhasil dan Nabi mengizinkan perceraian mereka, lalu ia menikah lagi dengan Nabi. Satu-satunya hal yang kami sepakati, paling tidak dalam tema “matrimonial” atau “rumah-tangga” adalah apapun yang kita tolak dan kita anggap salah dalam keyakinan kita, dunia tetap berjalan demikian adanya. Kita mau menolak atau mendukung hal-hal yang secara tradisi kita dipandang keliru, tetapi perzinahan tetap terjadi di mana-mana, orang-orang bercerai (termasuk saya, bukan?), kontrasepsi digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan bukan untuk menjaga jarak kelahiran (persis seperti yang saya lakukan!), dan kaum homoseksual tetap akan ada. “Gereja ditinggalkan karena menghukum dengan ekskomunikasi, dan mereka menganut agama-agama yang lain.” Sementara itu, “Islam lambat laun juga akan kehilangan dayatariknya jika terus-menerus sibuk mengkafirkan dan menyesatkan jemaat mereka sendiri, walaupun para muallaf juga bertambah.”

Beberapa hari lalu, jagad maya dipenuhi oleh bendera pelangi, dan dunia dengan segera terbelah antara kubu yang menentang dan mendukung perkawinan LGBTIQ. Penentangan dan pendukungan sering kali tidak menjadi jelas antara menolak atau menerima perilaku seks, orientasi seks, perkawinan, dan atau individu/kelompok dengan orientasi seks LGBT.

Menurut saya, akar atau asal-muasal dari pertentangan ini antara lain karena ada dua kubu penafsiran dan pemahaman yang berbeda terhadap kisah kaum Nabi Luth sejak dulu kala.

Pertama, kita yang menganut agama-agama yang disebut agama samawi ini, dalam hal ini, tidak lain sebenarnya hanya mewarisi apa-apa yang datang dari nenek-moyang kita saja, apakah itu yang mainstream, yang mayoritas, yang minoritas atau yang paling minoritas dalam minoritas – tak peduli apakah yang paling minoritas itu 2000 tahun lalu diakui atau tidak oleh otoritas agama pada masa itu.

“Agama” Islam yang mapan (established) sebagai agama telah meletakkan “AlQur’an” sebagai yang menyinari kitab-kitab sebelumnya, sebagai yang sudah sempurna, dan hanya sedikit sekali komunitas Islam yang menerima Al-Quran adalah pelengkap, penyempurna, dan bukan satu-satunya kitab suci yang dapat diterima dan diakui sebagai petunjuk Ilahi. Sementara “Agama” Kristen yang mapan juga pada umumnya meletakkan “Injil” sebagai yang menyinari Perjanjian Lama, sebagai yang sudah sempurna, dan hanya sedikit sekali komunitas Kristiani yang menerima Injil dengan memahaminya sebagai kelanjutan tradisi dari Perjanjian Lama. Kedua komunitas tradisi ini sama-sama menolak yang sebelumnya, tapi tanpa sadar melanjutkan apa yang berasal dari sebelumnya – yaitu yang diceritakan dan disampaikan dalam Taurat dan Zabur. Misalnya ada kubu mayoritas atau kubu penguasa dan kubu minoritas. Kubu mayoritas atau kubu yang berkuasa ini tentu telah menanamkan makna-makna dan maksud-maksud atau tafsir ayat-ayat Kitab Suci sebagai yang baku dan mapan kepada jemaat mereka, sedangkan yang minoritas acapkali ditindas jika memberikan alternatif makna atau pengertian yang lain, sehingga mereka bersembunyi dan bertaqiyah (menyembunyikan iman). Jika dalam ayat-ayat lain ini terjadi, bukan tidak mungkin terjadi pada ayat-ayat tentang Sodom dan Gomorah ini. Itulah sebabnya orang-orang Yahudi menolak Injil dan orang-orang Kristen menolak alQur’an, lalu orang-orang Islam menolak yang sebelumnya karena dianggap terkorupsi atau telah diubahsuai. Tapi, apakah firman Allah, Allah yang Maha Digdaya, bisa begitu mudah diubahsuai dan dikorupsi?

Penafsiran dan pemahaman yang berkembang terhadap kisah kaum Nabi Luth (Sambil saya juga membuka-buka Kitab Yobel dan Kitab Enokh yang tidak diakui hampir semua Gereja, kecuali Gereja Ethiopia) secara arus utama menyatakan bahwa kaum Luth diazab karena mereka homoseks. Tetapi, tunggu dulu. Apakah yang dimaksud adalah mereka berorientasi homoseks, atau berprilaku homoseks? Sebab, jelas-jelas jika memang demikian, yang terdapat dalam ayat-ayat itu adalah bentuk perbuatan, bukan sifat (orientasi) mereka. Selanjutnya, saya terpaksa mengulang-ulang apa yang sudah banyak ditulis orang lain, apakah mereka diazab karena perbuatan homoseks itu berbentuk pemaksaan (sodomi/perkosaan) atau karena menolak tawaran Nabi Luth yaitu menikahi putri-putrinya?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

— Koleksi pribadi —

Dalam kisah Nabi Luth, dalam Alkitab, yang menarik, bahwa ada digunakan majaz seperti istrinya yang menoleh kembali dan menjadi garam. Apakah ini harus dipahami secara harafiah? Dan, orang-orang Kristen maupun Yahudi menafsirkan dan memahami surah-surah berikutnya bahwa Nabi Luth meniduri putri-putrinya sendiri (inses), padahal dalam keyakinan Islam, dan terkhusus dalam keyakinan saya yang minoritas, seorang nabi dilindungi dari perbuatan dosa (maksum), sementara hukum “inses” antara ayah dan anak atau ibu dan anak sudah berlaku sejak Adam dan Hawa. Sementara dalam tradisi saya, yang sangat minoritas (ya, saya harus berulang-ulang menegaskannya), meyakini bahwa yang dimaksud “dua putri” Luth adalah dua jemaat perempuan Luth yang dengan sengaja menawarkan diri atau mendatangi Luth untuk memperbesar kongregasi mereka, memabukkan Luth dengan kekuasaan dan kebesaran jemaat, kemudian mereka melakukan pernikahan mut’ah. Saya harus bisa “berimajinasi” untuk menyadari bahwa baik Ibrahim maupun Luth bukanlah hidup dalam tenda berdua-duaan atau berempat-empatan saja seperti kita dalam rumah-rumah sempit kita dengan keluarga inti di zaman kita, padahal Ibrahim disebut sebagai bapaknya bangsa ini, dan Luth juga bapaknya bangsa itu. Pastilah dalam kompleks tenda mereka terdapat pembantu-pembantu dan pengikut-pengikut, walaupun sangat sedikit, yang tak perlu diceritakan semuanya dalam ayat-ayat. Dan, sudah seharusnya saya yang mengikuti suatu tarekat dan hidup dalam keluarga besar mengerti bahwa ada panggilan-panggilan seperti Bapak, Ibu, Paman, Bibi, Putra-putri, dll yang tidak harus selalu berarti memiliki hubungan darah langsung dan atau begitu dekat secara pertautan darah (seperti dalam tradisi Jawa ada istilah dulur katut).

Kedua, perkembangan zaman telah menunjukkan penemuan-penemuan sains, yang bagi para penganut agama sains telah menunjukkan kekeliruan Alkitab maupun AlQur’an. Misalnya, dalam kasus ini, bagaimana kita bisa menyatakan keharmonisan keyakinan bahwa orientasi seks kaum homoseksual itu penyakit atau kelainan sedangkan penemuan sains terbaru menunjukkan bahwa orientasi homoseksual terdapat dalam 1500 spesies makhluk hidup lain?

Di sini muncul pertanyaan tentang, jadi sebenarnya homoseksualitas itu nature atau nurture? Bukankah manusia begitu kompleks? Alamiah atau rekayasa kultur-sosial sepertinya sangat sulit dipisahkan. Jika dari 1000 orang homoseks, sepuluh di antaranya melakukan pernikahan dengan lawan jenis seperti kaum heteroseks, lalu mempunyai anak dan bahagia, apakah itu dapat memberikan jaminan yang sama kepada 90 persen yang lain? Pertanyaan ini benar-benar keluar dari rasa penasaran saya, karena dunia kaum homoseks masih cukup asing bagi saya. Sementara itu, saya sendiri yang dianggap sebagai kaum heteroseks, tidak bahagia dengan perkawinan, tidak menganggap seks itu penting, dan merasa khawatir jika terjadi kehamilan bukan hanya akan menyebabkan penyakit saya memburuk tetapi juga  bahwa penyakit saya akan diwarisi oleh anak saya. Walaupun sebagai orang yang mengimani takdir, saya tahu tidak dapat melawan takdir, saya cukup “mainstream” dalam hal, saya tidak ingin anak-anak saya juga menderita Lupus SLE seperti saya, dan ini pula saya harus menambah populasi dunia dengan penderita Lupus SLE. [Catatan, Lupus SLE bukan penyakit keturunan, tetapi sekitar 5% dapat diwarisi secara genetik, atau bahwa sesama saudara dapat sama-sama mengalaminya, dan siapa saja yang anggota keluarganya adalah odapus harus lebih waspada agar potensi Lupus SLE yang ada pada dirinya tidak teraktualisasi].

Jadi, semua ini kan masih spekulasi saja. Seperti ketika saya menyatakan diri saya bahwa bisa jadi, setelah sekian puluh tahun ini mengira saya adalah heteroseks, ternyata saya adalah seorang aseksual. Seseorang yang aseksual juga bisa dianggap sebagai “bentuk yang tidak seimbang.” Padahal, aseksualitas dalam diri saya dengan kondisi saya yang sekarang justru sangat bermanfaat bagi saya. Jadi, dalam masyarakat kita hari ini, tak peduli Muslim atau Kristen, seolah-olah menikah itu selalu menjadi sumber dari segala kebahagiaan dan seks adalah satu-satunya cara untuk mendapat kebahagiaan itu. Sama seperti kebanyakan Muslim, Yahudi dan Protestan yang mengatakan bahwa selibat itu melawan fitrah. Oh, well, fitrah yang macam apa? Untuk situasi dan kondisi seperti yang sekarang saya alami, selibat adalah solusi dan jalan keluar untuk berbagai kerumitan dan kehirukpikukan masalah seks. Selibat atau berpuasa seks itu tidak mudah dilakukan bahkan bagi mereka yang aseksual, karena yang aseksual juga memiliki dorongan seksual dalam dirinya sekalipun dia tidak pernah tertarik kepada siapapun dan apapun secara seksual (saya tulis apapun karena bisa diplesetkan kepada tertarik secara seksual kepada hewan atau tumbuhan atau batu akik, misalnya). Itu sebabnya orang-orang seperti saya mengatakan, ada apa dengan melarang pemberian kondom gratis? Apakah kita ingin membiarkan suami-suami yang telah terpapar HIV/AIDS dan PMS menularkannya kepada istri-istri mereka? Baik keduanya itu, suami dan istri, yang heteroseksual dan aktif secara seks, apakah mungkin menjadi selibat atau berpuasa seks?

Bisa jadi saya ini seorang aseksual secara alamiah, lalu saya direkayasa menjadi seseorang yang seksual, lalu muncul lagi sebagai alam bawah sadar saya karena ternyata saya juga dibesarkan menjadi aseksual: Saya ingat bagaimana guru agama saya melarang saya mendekati zina dengan menakuti-nakuti saya jangan memandang pria begini, jangan berpakaian begitu, dst; ketika kecil ibubapak saya menyuruh saya menutup mata jika melihat dua orang berciuman dalam film; dan saya dibesarkan dengan “kualitas seseorang tidak dilihat dari fisiknya, melainkan dari intelektualitas dan spiritualitasnya.” Sehingga, dari kecil, saya terbiasa melihat orang yang cantik atau tampan sebagai pakaian mereka, dengan kata lain mengagumi kecantikan dan ketampanan mereka sebagai pakaian mereka. Bagi saya semua orang di dunia ini cantik dan tampan dengan gradasi masing-masing, jadi apakah saya tiba-tiba jadi hiperseksual karena mengagumi mereka semua? Dalam hal ini, lagi-lagi hanya spekulasi saya. 

Ketiga, Alkitab maupun AlQur’an, jika memang sesuai dengan pandangan umum melarang homoseksualitas, sepertinya sama-sama tidak memberikan solusi kepada mereka yang mempunyai orientasi seks homoseksual, kecuali perkawinan, yang pada kisah ini Nabi Luth hanya mempunyai anak perempuan (yang belum menikah).

Iran, sebuah negara republik Islam, konon memfasilitasi kaum transgender untuk mengubah jenis kelamin setelah melalui prosedur yang ketat dan semacamnya untuk menjadi solusi atau jawaban bagi persoalan homoseksualitas. Akan tetapi, Iran adalah negara dengan mayoritas penganut mazhab Syiah, dan sebagian, kalau tidak semua, atau tidak sebagian besar, penganut Sunni menolak operasi jenis kelamin. Suatu sikap yang juga dianut sebagian penganut Kristen dari berbagai gereja. (Saya lupa posisi Gereja Katholik dalam hal ini).

Saya mempunyai seorang sahabat, yang saya tidak terlalu yakin apakah dia gay, biseks atau queer (Dan, saya tidak peduli, sebab saya sangat menyayanginya). Yang saya tahu dia mempunyai pacar seorang transgender. Siapapun yang pernah mengenalnya tidak akan menyangka dia seorang gay, jika memang dia disebut demikian. Karena kita mempunyai konstruksi-kontruksi pemikiran tentang feminin dan maskulin, dan persoalan patriarki, pria-pria gay acap digeneralisasi dari penampilan yang feminin, sedangkan ada yang mengatakan bahwa dalam komunitas homoseksual, pria-pria gay yang menjadi “suami” bagi para “istri” mereka, harus menjadi se-maskulin mungkin sehingga akan bersikap lebih kasar, misalnya. Tetapi, sahabat pria saya ini jauh sekali dari sifat-sifat feminin dan maskulin semacam itu.  Dia sama sekali tidak pernah bersikap kasar, atau juga tidak pernah “melambai” dan dia juga bukan berasal dari “tipologi” umum yang biasa disematkan kepada kaum gay, seperti dari keluarga berantakan, pernah disodomi, atau hidup di lingkungan yang juga gay, dsb.

Jika langkah Iran yang baik itu saya tawarkan kepadanya, sekalipun dia bukan Muslim, apanya yang mau dioperasi? Saya sebetulnya bingung. Alih-alih, saya memang pernah bilang, apakah pacarmu mau dioperasi? Tapi itu kan pacarnya. Dan, mereka baru pacaran. Bisa jadi, sahabat saya itu kemudian putus, lalu pacaran dengan yang lainnya, gay lain, bukan transgender. Jawabannya juga menarik: pacarnya itu benar-benar ingin memastikan bahwa melakukan operasi memang merupakan merupakan hal yang tidak akan disesalinya di kemudian hari.

Dalam pandangan Dekalogisme-Daudiyyah (yang saya anut), perkawinan adalah salah satu solusi bagi melindungi diri dari melangggar dharma atau sila “Jangan Berzina.” Bagi Dekalogisme-Daudiyyah, bukan AlQuran yang menyinari tiga kitab sebelumnya, bukan Injil yang menyinari dua kitab sebelumnya, sehingga segala sesuatu untuk melihat Taurat dan Zabur dilihat dari Injil atau AlQuran belaka. Yang menjadi penyinarnya adalah apa yang terdapat dalam Taurat, yaitu 10 Perintah Allah, yang bahkan dikukuhkan kembali oleh AlQuran dan Injil dengan terang, yang satu bahkan mengatakannya sebagai AlFurqon, pembeda antara yang haq dan yang bathil. Dan, ternyata, di luar dugaan saya, pembeda itu sangat sederhana, sangat ringkas dan tidak rumit bertele-tele sehingga orang sendableg, sebodoh dan seliar saya mampu tunduk menerima dan memahaminya.  Dari sinilah saya dengan percaya diri mengajukan Dekalogisme sebagai landasan filsafat saya, di luar saya sebagai seorang Dawoodiyya.

Solusi lain agar tidak melanggar dharma “Jangan Berzina” adalah selibat dan atau berpuasa seks. Solusi ini bukan hal yang mudah, tapi banyak yang telah berhasil melakukannya. Semua orang bisa menikah kalau mereka mau. Semua orang juga bisa selibat kalau mereka mau. Banyak janda dan duda yang tetap bahagia walau tidak menikah lagi (baca: tidak pernah berhubungan seks lagi). Tapi, banyak juga yang tetap bahagia ketika menikah lagi. Apa bedanya?

Kalau memang semua orang LGBTIQ dianggap berdosa baik karena orientasi seks mereka ataupun perilaku seks mereka, maka mereka hanya punya dua pilihan untuk tidak berdosa yaitu selibat/puasa seks, karena mereka berdosa jika menyalurkan orientasi seks mereka,  atau melakukan operasi ganti kelamin – suatu pilihan yang tidak ada pada masa dahulu karena teknologi operasi yang canggih baru ditemukan saat ini.

Jika semua orang LGBTIQ dianggap berdosa dan atau mengalami kelainan, maka saat mereka diwajibkan terapi, saya membayangkan mereka harus berselibat atau berpuasa seks, sebab “seks dan seksualitas” mereka itulah yang menjadi masalah mereka. Tetapi apakah jika demikian ada terapinya, apakah obat-obatan yang mereka konsumsi mengurangi dorongan seksual mereka? Ini benar-benar membingungkan untuk saya, karena jika yang satu pihak mengkonsumsi viagra untuk menjadi kuat dalam “seks”, yang satu pihak lagi harus diberikan “penekan seks.” Ini persis seperti orang-orang sakit umumnya diberikan obat, vitamin dan herbal penambah daya tahan/imunitas tubuh, sebaliknya saya dkk yang odapus justru diberikan obat, vitamin dan herbal untuk menekan imunitas tubuh kami. Itu pun, obat-obatan yang diberikan kepada kami bukan hanya tak selalu berhasil, karena lupus dalam diri kami tetap bisa kapan pun menggila dan membunuh, tetapi juga memberi efek samping yang melemahkan tubuh kami.

Kaum LGBTIQ merupakaan kenyataan historis tidak hanya pada zaman Luth. Maksud saya, kita berada pada zaman ini, ruang ini, dan kita menciptakan sejarah ruang dan zaman kita sendiri. Jadi, tak peduli apakah isu LGBTIQ adalah upaya Zionis dan Tatanan Dunia Baru seperti beberapa orang menggulirkannya, toh ia ada di sekeliling kita dari sejak dahulu kala sampai hari ini di depan mata kita. Kalau tidak begitu, untuk apa KamaSutra menyebutkan tatacara berhubungan seks dengan sesama jenis kelamin, yang itu menunjukkan gay sudah ada sejak zaman dulu, bukan hanya isu ini budaya Barat atau ini bukan budaya Timur. Jadi, sungguh-sungguh dibutuhkan kearifan untuk siapapun yang waras dalam menyikapinya.

Sebagai Dekalogis yang berusaha menarik benang merah, tentu Dekalogisme bisa menawarkan solusi lain, jika bukan orientasi seks kaum homoseksual yang dianggap dosa, dan jika mereka mau melindungi diri mereka dari melanggar dharma “Jangan Berzina” (sebab mereka tidak bisa selibat) maka mereka masih ada pilihan lain yaitu menikah. Tentu saja saya mengerti dan sangat menghormati seluruh orang dan seluruh pihak yang menentang pernikahan sejenis, sebab bagi mereka ini dianggap perzinahan. Dan, ini antara lain timbul karena berasal dari penafsiran dan pemahaman ayat yang sudah saya tulis itu. Bagi golongan penentang, pernikahan sejenis adalah sama dengan perzinahan. Hanya saja Dekalogisme tidak berpihak kepada keduanya, dan bukan untuk mendefiniskan perkawinan, perzinahan dan selibat secara mendetail sehingga seperti mazhab fikih, atau ketentuan gereja-gereja. Dekalogisme sebagai filsafat yang saya ajukan memberikan ruang bagi setiap tradisi, agama, budaya, aliran, sekte, dan individu-individu dalam memahami dan meyakini apa itu tauhid, apa itu kekudusan Sabat, apa itu ibubapak, apa itu pembunuhan, apa itu pencurian, apa itu dusta, apa itu zina, apa itu mengambil hak orang lain. Sedangkan “definisi semua itu” dalam Dekalogisme-Dawoodiyya sebagai aliran “agama” yang saya anut tidak akan saya paksakan kepada siapapun dan biarlah hanya mereka yang menerima dan diinisiasi di dalam Dawoodiyya yang menjalaninya.

pantirome2012

— koleksi pribadi —

Pertanyaan saya bagi yang menolak perkawinan sesama jenis kelamin sebagai dapat menimbulkan masalah budaya dan sosial adalah bukankah perkawinan berbeda jenis kelamin juga sama, telah menimbulkan masalah yang tidak kurang buruknya pada hari ini? Seperti kata teman saya, kaum heteroseks melakukan perzinahan di mana-mana, membuang sperma merata-rata, dan membuang bayi-bayi juga…Dan, apakah perkawinan hanya berarti reproduksi? Bahkan, bagi seorang yang sedang belajar spiritualitas seperti saya, apakah perkawinan itu hanya berarti rekreasi? Apakah seks sebegitu penting? Apakah seks harus selalu bermakna salah satu atau di antara keduanya, yaitu untuk reproduksi dan untuk rekreasi? Apakah tidak ada makna artifisial selain yang itu?

Saya jijik kepada beberapa  kaum LGBTIQ yang melecehkan kaum religius yang menentang mereka, dan saya jijik kepada sikap beberapa kaum LGBITQ yang melakukan pelecehan dan kekerasan seksual. Tapi, saya juga jijik kepada beberapa kaum religius yang menentang LGBTIQ yang mereka itu – saya tahu – mengakomodasi, menerima atau bahkan merayakan pelecehan dan kekerasan seksual dalam kelompok mereka. Azab siapa kepada siapa yang sedang kalian semua bicarakan? Sementara dunia terus berjalan demikian adanya, kezaliman dan ketidakadilan terus berlangsung, dan orang-orang yang berseberangan dengan keyakinan kita terus akan tetap ada seumur hidup kita.

Saya, misalnya, sudah cukup kenyang dianggap mendapatkan kutukan karena penyakit Lupus SLE saya ini, tetapi bagaimana mungkin saya bisa menganggap Tuhan sedang mengazab saya, sedangkan melalui penyakit saya ini saya bisa merasakan sakit dan penderitaan yang luarbiasa, berlatih banyak hal seperti sabar, disiplin, detachment/ketidakmelekatan, mencari makna hidup dan hal-hal lain yang malah mendekatkan saya kepadaNya, yang tidak akan saya dapatkan ketika saya masih dianggap  dalam situasi “sehat” dan “normal.”   

Betapa semua dari kita hari ini berfokus pada masalah seksualitas dalam kisah Nabi Luth. Memang terdapat benang merah antara keyakinan mayoritas dengan keyakinan minoritas tentang seksualitas itu, yaitu hikmah tentang kekerasan seksual yang terjadi pada zaman Nabi Luth. Isu yang harus sama-sama menjadi perhatian kita hari ini. Kekerasan seksual yang terjadi kepada semua jenis kelamin dan semua usia. Tetapi, lucunya, kita semua gagal bekerjasama karena dibatasi oleh tembok-tembok faham akan seksualitas kita dan semuanya bicara tentang melawan kezaliman, sambil menzalimi satu sama lain.   

Namun, ada tema lain, tema lain yang banyak dilupakan orang yaitu tentang budi pekerti, tentang adab kesantunan yang tidak dimiliki umat Luth terhadap tamu-tamunya, tentang persaudaraan dan tentang cinta kasih yang tidak perlu dikaitkan dengan seks dan seksualitas. Cerita cinta yang diangkat dalam kisah Luth yang terlalu sering dilupakan. Apakah mereka malaikat yang menyamar, atau justru sebaliknya karena keindahan mereka bagaikan malaikat, sepertinya tidak penting. Yang terpenting, bahwa mereka orang asing, musafir, dan tamu di rumah Luth dan Luth berusaha menjamu mereka sebaik-baiknya serta melindungi mereka pun sebaik-baiknya dari segala bentuk kekerasan.  Tema atau cerita ini tidak pernah menjadi perhatian kita karena dunia kita sepertinya sedang penuh dengan gaung “seks, seks, seks.” Keanggunan kita dalam masalah seksualitas adalah kedok belaka. Lihatlah hari ini, bagaimana budi pekerti dan adab kita kepada satu sama lain terutama kepada yang asing, yang berbeda, yang mengunjungi kita?   Sepertinya ini mengingatkan saya pada arti harafiah nama Nabi Luth sendiri dalam bahasa Ibrani, yaitu hijab. Dan, tampaknya apa yang diceritakan dalam Kitab Kejadian 19 telah terjadi kembali di zaman kita.

kupu kupu

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa sangat sedih harus berpisah dengan teman kencan saya itu. Suatu level kesedihan yang berbeda dengan ketika saya dulu harus berpisah dengan teman-teman kencan saya yang lain. Saya tidak bisa menggambarkannya. Saya hanya tiba-tiba merasa saya tidak akan bisa bertemu lagi dengannya dan duduk berdua membicarakan semua hal sambil melompat keluar dari tembok-tembok agama yang menghalangi kami – tanpa gaung “seks, seks, seks” itu. Saya terus-menerus dibayang-bayangi alarm kematian dari penyakit saya. Saya sedang mencintai seorang pria lain, yang tinggal berbatu-batu di seberang pulau yang yang jauh, yang tak lagi mau bicara dengan saya seperti teman kencan saya ini. Apakah airmata mengandung garam? Saya tak ingin berakhir menjadi seperti istri Luth, tentu saja. Namun, saya pulang, merebahkan diri saya dengan kaki saya yang nyaris lumpuh, dan seluruh tubuh yang sakit luarbiasa, lalu menangis sejadi-jadinya. @30 Juni – 3 Juli 2015

* Syarahan untuk Kitab Kejadian 19: 1-8 (Tentang Kisah Nabi Luth)

“Dalam perenungan ayat-ayat ini  dengan cinta kasih, betapa hati yang jahat tidak akan membimbing diri terhadap syahwat sehingga syahwat mendorongnya untuk melakukan kekerasan, buah terakhir dari segala kekerasan (yaitu kekerasan seksual) yakni perkosaan. Betapa banyak hal-hal yang agung dan beradab direduksi ke dalam nafsu birahi dan kekerasan, menenggelamkan iman sebagai debu-debu yang hina. Hati (kita) selalu membayangkan bahwa iman yang bersinar terang adalah kualitas dasar dan utama yang membedakan daripada segala kualitas akhlak yang bobrok. Akan tetapi, kemurnian “aku” tetaplah wujud Ketuhanan (yang ada dalam diri yang) melewati segala bentuk cara (untuk) melanggar hukum sebagaimana kehendak dan kebiasaan (banyak orang atau orang-orang lain pada umumnya).  Hamba meninggalkan perenungan yang penuh cintakasih dariMu ini dan menemukan bagaimana ilusi yang tidak menarik perhatian orang banyak ini (karena membosankan/rumit/melelahkan/dll) memenuhi hati yang kosong tanpa mengingatnya lagi. 

(Betapapun), hukum-hukum mengenai perkawinan selalu tegak berdiri dan keharusan bagi keramahtamahan untuk menolong setiap musafir (orang/tamu/orang asing) dalam perjalanan mereka itu tetap ada.  Semua saudara harus berbudi pekerti sebagaimana mereka seharusnya, tak peduli  tingkat kekuasaan mereka, derajat kekayaan mereka atau jam (masa/zaman) atau  pandangan (ruangan) tentang kejayaan-Mu saat itu. Keadaan spiritual (mistik/batin)mu tidaklah membebaskanmu dari menjalankan hukum Ilahi. Sebagaimana seorang mahaguru aljabar (matematika) tidak akan melepaskan (dasar matematika) yang semudah penjumlahan dua ditambah dua. Hamba membungkuk kepada etika bahkan dalam bangku tarekat sufi (persaudaraan mistik). Kekasihku, atap (dariMu) menghamparkan bayang-bayang akan (yang mana) teman dan (yang mana untuk diberi) jarak.

~ Shaykh Ali Haydar dalam kitab The Beloved and I: New Jubilees Version ~

(** Catatan Kedua)

The Sunlight Even Mingles with the Rain.

O my Beloved, the things we find to deal
A wall of separation and to seal
One party from another are all vain.
The sunlight even mingles with the rain.
Give me the patience, Lord, to save the sum
Of differences of faith till that day come
When You judge all, not by the things they think,
But by the things they say and do and drink!
And let me not be certain that day’s now,
Nor try to tell the others what and how.
That day is like a lightning and a flash,
It bursts upon the heart with thunder crash.
When everyone removes the mask and role,
Then there is nothing to divide the soul.***


gayaParsi3
Ada begitu banyak pertanyaan yang mencuat di beranda saya. Ada begitu banyak pernyataan mengemuka di beranda saya. Beberapa hari terakhir ini penuh dengan pertanyaan dan pernyataan berkaitan dengan perkawinan. Perkawinan beda agama. Perkawinan sejenis kelamin. Dua topik yang sedang jadi tema yang menarik untuk saya cermati. “Apakah Anda setuju?” atau “Apakah Anda menolak?”

Sebagai seorang Dekalogis, ini mudah saja bagi saya untuk menjawabnya. Kalau Anda meyakini bahwa perkawinan yang anda lakukan itu bukan zina, saya akan mengucapkan selamat dan mendoakan Anda. Saya tidak peduli keyakinan Anda apa – agama Anda, aliran Anda, atau sekte Anda, juga dari tradisi budaya mana Anda berasal.

Kalau Anda tidak setuju dengan perkawinan beda agama, beda etnis, beda ras, atau perkawinan sejenis kelamin, dan menganggapnya sebagai zina, saya akan mengatakan saya akan mengucapkan hal yang sama. saya akan mengucapkan selamat dan mendoakan Anda. Saya tidak peduli keyakinan Anda apa – agama Anda, aliran Anda, atau sekte Anda, juga dari tradisi budaya mana Anda berasal.

 “Saya telah bersumpah untuk selibat” kata yang lain. Ya, saya akan mengatakan hal yang sama kepada Anda. saya akan mengucapkan selamat dan mendoakan Anda, semoga Anda setia kepada sumpah Anda. Saya tidak peduli keyakinan Anda apa – agama Anda, aliran Anda, atau sekte Anda, juga dari tradisi budaya mana Anda berasal.

Anda tidak perlu tahu apakah saya menolak atau mendukung perkawinan heteroseksual atau homoseksual, dan menolak atau mendukung selibat. Yang pasti, sebagai Dekalogis saya hanya akan mendukung keyakinan yang menolak “Jangan Berzina” karena berzina adalah salah bagi Dekalogisme. Apa itu zina, itu saya kembalikan kepada keyakinan Anda masing-masing, dan bagaimana ia diaplikasikan tanpa melanggar sila-sila yang lain seperti: Apakah Anda melakukan kekerasan di dalamnya? Mencuri? Membunuh? Mengambil hak orang lain? Sebab sila-sila itu berkaitan dengan kemanusiaan, berkaitan dengan hubungan kita dengan sesama manusia dan perwujudan yang paling bisa dilihat dari hubungan kita dengan Tuhan.

Sedangkan pertanyaan semacam “Apakah sudah menerima sepenuhnya sila tauhid/Ketuhanan?” biarlah masing-masing diri yang menilainya, sebab hanya Tuhan pula yang bisa menilai hubungan kita denganNya.

Dan, tentu saja bisa jadi walaupun saya mengatakan hal yang sama kepada tiga atau empat perkara itu, bisa jadi keyakinan saya sebenarnya bertentangan dengan apa yang diyakini oleh kelompok yang saya ucapkan selamat dan saya doakan. Tidak perlu sama‘kan? Tidak perlu jadi homoseksual untuk menerima dan mencintai mereka bukan? Tidak perlu jadi heteroseksual untuk menerima dan mencintai heteroseksual bukan? Tidak perlu selibat untuk menerima dan mencintai mereka bukan? Bahkan jika Anda mengatakan zina itu oke-oke saja kok, saya toh tidak perlu mengasingkan dan mengucilkan Anda, cuma perlu mengatakan bagi saya itu salah, sebagaimana orang-orang yang tidak mengakui kekudusan Sabat, yang juga salah bagi saya, tapi saya tetap bisa menerima dan mencintai mereka sebagai makhluk-Nya — sebab itulah cara-cara bagi saya untuk mengaplikasikan Dekalog bagi diri saya sendiri.

AKULAH TUHAN.

Mendadak sekarang semua orang menjadi Tuhan, termasuk saya. (Eh, sepertinya tidak mendadak, tetapi sejak dulu begitu).

Sejak dulu, udara adalah udara. Apakah Adam menghirup udara yang berbeda dengan udara yang sekarang kita hirup? Apakah ia menghirup nitrogen lebih banyak daripada oksigen, ataukah karbondioksida, untuk tetap bisa bernafas dan hidup? Sejak dulu air adalah air – laut adalah laut, dan sungai adalah sungai. Apakah yang disebut tanah pada zaman Nuh berbeda dengan tanah pada zaman Muhammad? Apakah yang disebut api berbeda pada zaman Musa dengan Zaman Pencerahan? Saya percaya tidak. Akan tetapi, kita sama-sama, entah bagaimana, sependapat bahwa di dalam udara, air, api, dan tanah terjadi perubahan-perubahan atau dinamika, pergerakan terus-menerus, sehingga tumbuhan-tumbuhan menjadi begitu bervariasi, demikian pula dengan makhluk hidup lainnya. Itulah sebabnya saya menerima Dekalog (yang dikukuhkan dalam Qur’an surah 2:53) sebagai penerang bagi benar dan salah, tes litmus sederhana kalau kata teman sealiran dengan saya, dan lilin bagi seorang filsuf seperti saya untuk berjalan dalam kegelapan dan kerumitan (aih keren banget). Keberadaan udara, air, api dan tanah yang semacam itu menunjukkan bahwa intisari wahyu serta fondasi syariat dari segala syariat memiliki sifat yang sama. Pohon zaitun tumbuh subur di Mediterania, sedangkan di Nusantara berlimpah pohon kelapa dan di Afrika tumbuh subur pohon argan – kedua-duanya sama-sama menghasilkan minyak yang berguna untuk melembabkan kulit saya (kulit Anda juga?).

Saya menulis panjang lebar begini sebagai kelanjutan dari status saya sebelumnya yang berjudul “Jangan Berzina.” Seseorang menasehati saya bahwa sebaiknya memperingatkan orang lain agar tidak melakukan perbuatan menyimpang kaum Luth daripada mendukungnya. Yang lain, menulis bahwa homoseksualitas adalah penyakit, sedangkan yang lain menulis homoseksualitas adalah alamiah karena manusia bukan spesies satu-satunya yang melakukannya. Ada yang mengatakan bahwa pelaku LGBTIQ adalah serupa pengguna narkoba sehingga jangan ajak-ajak yang lain untuk ikut, dan yang lain bilang tunggu sebentar lagi bahwa perkawinan inses dan perkawinan anak di bawah umur akan dilegalkan. Teman-teman aktivis HAM dan pembela hak minoritas pun saya kira terpecah dalam menanggapi isu ini.

 Sepertinya ini tidak mudah. Namun, kalau saya bisa melihat bahwa dalam Dekalog ada tiga sila utama yang berkenaan dengan tauhid, dan bagaimana dunia bisa begitu terpecah-belah dalam menafsirkannya sehingga melahirkan ribuan agama, mazhab, sekte dan aliran, lalu satu sama lain saling membunuh untuk membuktikan kebenaran masing-masing, karena menganggap satu sama lain saling merusak akidah, maka apa lagi yang tidak mengejutkan dalam menanggapi sila-sila di bawahnya? Sebagian besar umat Islam bahkan menganggap bahwa kekudusan Sabat telah digantikan kepada kekudusan Jumat, yang di mana-mana pun dalam alQuran tidak saya temukan landasannya, bahkan lima atau enam ayat mengunggulkan kekudusan Sabat, maka saya bisa dengan berani mengatakan bahwa pendapat ini salah dalam pandangan saya – bahwa kemuliaan hari Jumat tidaklah mengubah kekudusan Sabat itu sendiri.

Melanggar Sabat (yang arti sesungguhnya konon yang terikat kepadanya) tidaklah kalah menyebabkan kerusakan yang sangat-sangat nyata di muka bumi ini. Lihatlah bagaimana manusia begitu sibuk mengeksploitasi tanpa menyisakan waktu sehari untuk mencari rahmat Allah (dalam pengertian yang sangat spiritual) sesudah sembahyang Jumat sebagaimana bunyi ayat alQur’an yang menyebutnya. Budaya kapitalisme saat ini, misalnya, jelas-jelas telah menyebabkan pelanggaran Sabat dianggap baik-baik saja, yakni rahmat Allah berarti rezeki dalam bentuk uang dan semacamnya.  Bahwa mengkuduskan Sabat itu harus seperti orang Farisi, Samaritan dan Saduki dari bani Israil, sudah dibantah oleh Isa al-Masih sendiri. Rasulullah juga telah mencontohkan hal yang sangat sederhana untuk mengukuhkannya. 

Namun untuk memaksakan “Ketuhanan saya” dalam memahami Sabat kepada sekalian umat manusia, saya bersyukur dilindungi oleh lilin penerang sila-sila berikutnya yaitu jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berdusta,  jangan mengambil hak orang lain, dll. Setidaknya saya tidak punya jemaat, umat, dan tidak memimpin apapun untuk mengangkat senjata atau menyerang atau menindas siapapun kecuali menindas diri saya sendiri sebagai anggota pondok yang saya hanya sendirian sebagai sang Kalandar kesepian (dan kurang kerjaan pula menulis ini panjang lebar padahal pasti hanya dibaca sambil lalu).

Dan…belum lagi, banyak yang memahami atau menafsirkan dharma “menghormati ibubapa” adalah ansich menghormati ibu dan bapak saja, tanpa melibatkan makna yang lebih jauh seperti persaudaraan, menghormati leluhur, nenek-moyang, sejarah, bangsa, dan termasuk menghormati anak cucu kita. Dan, ini pula sila yang agaknya paling menonjol dari masa ke masa yaitu “Jangan berzina” di mana ada yang memahami “wajib menikah”, atau “menikah itu harus yang seperti ini”, belum lagi tidak memaknainya lebih jauh seperti saling menghormati antara pasangan suami istri, menghormati cinta kasih, menjaga pandangan dan hati, dan seterusnya. Jadi, kalau hanya memahami dharma-dharma yang sederhana dalam Dekalog yang hanya 10 sila itu manusia bisa begitu beragam dan bisa saling membunuh, apatah lagi ayat-ayat tentang peristiwa Sodom dan Gomorah dalam kitab-kitab  itu. Masalahnya, kita tidak mau mencari benang merahnya (sebentar, “kita” itu siapa ya?) dari semua keberagaman itu. Ada yang menyebutnya “cinta kasih”, seperti kaum perennial, tetapi saya kira itu harus diperkuat dan dipertegas lagi, dan untuk itulah saya menggunakan Dekalog.

(A): dosa kaum Luth karena hubungan seks homoseksualitas

(B): dosa kaum Luth karena terjadi pemaksaan kehendak (perkosaan/sodomi) alias kekerasan termasuk kekerasan seksual – kekerasan/kekasaran terhadap tamu/sesama makhluk.  

(A) maupun (B) sama-sama menerima dharma “Jangan berzina”, sama-sama meyakini bahwa pemerkosaan, sodomi dan kekerasan apa pun itu termasuk kekerasan seksual itu salah.

Nah, jika logika ini tidak dapat digunakan karena misalnya

  • Tidak masalah jika berzina
  • Berzina itu salah
  • (A) bukan Tuhan tapi makhluk Tuhan; (B) juga bukan Tuhan dan masih makhluk Tuhan
  • Maka bagi keduanya masih ada sila-sila lain yang harus diamalkan untuk melindungi diri sendiri daripada melanggar dharma-dharma lainnya menurut keyakinan, agama, aliran dan kepercayaan masing-masing

Dan, saya menggaris bawahi “melindungi diri sendiri” berarti harus siap menerima pihak lain yang mempunyai keyakinan, agama, aliran, paham dan kepercayaan yang berbeda – yang siapa tahu di mata atau pandangan yang lain adalah sebagai perusak akidah, atau bahkan sekaligus perusak alam semesta. Karena, kalau bagi saya, jika saya sudah bisa menerima keberadaan orang-orang yang tidak percaya tauhid sebagaimana tauhid yang saya yakini, sesama saudara saya yang tidak mengakui kekudusan Sabat walaupun sama-sama menerima rukun Islam dan rukun Iman, bagaimana mungkin saya tidak bisa menerima keberadaan orang-orang yang menafsirkan sila “Jangan berzina” yang berbeda dengan yang saya yakini?  Saya harus sekonsisten air, udara, api dan tanah, dong. Salah adalah tetap salah – menurut yang paling mendasar itu – begitupun benar, ya benar . Seperti, “Iya, itu air, benar itu air. Tapi air yang kauminum itu air dari pabrik Aqua, sedangkan yang air kuminum itu air yang sudah di-KanGen-isasi. Dan, air yang mereka minum adalah air dari sungai itu…” Lalu Anda dan saya berseru, “Itu air tak layak minum, karena sungai kalian kotor!” [Padahal mereka sudah berabad-abad minum dari air sungai itu… ]

Terimakasih Tuhan sudah menjadikan saya tuhan setidaknya hari ini – syukurlah Engkau tidak bilang dalam Dekalog, “Jangan jadi aseksual” atau “Jangan mengambil duren di kebun orang” atau “Berdaganglah sekalian pada saat Sabat sebagai mendapatkan rahmatNya.” Well, sebab orang bodoh seperti saya ini akan mengira tidak boleh melakukan selibat, padahal menjanda atau menduda bisa jadi termasuk selibat, atau saya mengira duren yang di kebun orang itu adalah duda keren yang sudah punya pacar atau tunangan, atau saya yang kurang bakat dagang itu jadi terpaksa jualan batu akik juga deh… Sudah susah sekali menerimaMu sebagai “Akulah Tuhanmu” masih disuruh pula jualan pada waktu akhir pekan enak-enak leyeh-leyeh  dan  dilarang pula mendapatkan duren yang janur kuningnya belum dipasang… @_@#

*** Syarahan untuk AlQuran surah 7: 80-87 tentang kisah kaum Luth; The Beloved and I: New Jubilees Version

(** Catatan Pertama)

CINTA DAN SEKSUALITAS

Parsi stylePada Malam Jumat dan Malam Sabat lalu, dua orang sahabat pria saya masing-masing mengucapkan kata “cinta” kepada saya. Tetapi, jangan salah sangka! Seorang arif bistari berkata, mencintai memberimu keberanian, sedangkan dicintai memberimu kekuatan. Dan, betapa itu selalu benar terjadi dalam pengalaman hidup saya. Dengan kata-kata yang diikuti oleh pertolongan mereka kepada saya, saya merasa mendapatkan kekuatan saya untuk hidup dan bersemangat menjadi berlipat-lipat. Betapa kikirnya kita mengucapkan kata “cinta”, “kasih”, “sayang” dan puji-pujian kepada orang-orang yang kita cintai, yang kita kasii dan sayangi seperti pasangan, saudara, sahabat, guru, dan terutama kepada anak dan orangtua kita. Meskipun kita telah merasa telah melakukan perbuatan dan tindakan mencintai kepada mereka, tetapi kata-kata juga adalah kekuatan apabila dibarengi dengan perbuatan yang konkrit. Karena adakalanya perbuatan tidaklah cukup. Karena adakalanya kita melakukan kekerasan verbal yang menyakitkan atau melukai. 

Mengapa kita begitu kikir mengucapkan kata, “Ya, Cinta!” atau “I love you?”   Marylin Monroe pernah menulis beberapa hari sebelum dia bunuh diri (dari buku Baby Jim Aditya), memberi pesan kepada orangtua bahwa jangan pernah pelit untuk memuji anak-anak kalian… Hal ini berdasarkan pengalaman hidupnya yang tak pernah dipuji oleh ayahibunya, terutama sebagai anak perempuan oleh ayahnya. Akibatnya, dia mengaku karena itulah dia pergi dari pelukan pria ke pria lain demi mendapatkan pujian mereka… 

Alkisah, ketika Anne Boleyn disingkirkan dari istana yang nyaman, lalu difitnah berselingkuh, dan dihukum mati oleh Henry VIII karena sedang tergila-gila pada Jane Seymour, dia berkata, “Putrimu akan menjadi maharaja yang lebih hebat daripada engkau!” Kata-katanya menjadi kenyataan karena kemudian Elizabeth I menjadi maharani yang berhasil menguasai dan menjajah separuh dunia, meskipun dia seorang perempuan dan Henry VIII begitu berambisi mempunyai anak laki-laki sebagai penerusnya. 

Kata-kata juga adalah doa. Kata-kata juga adalah mantra. Nenek-nenek kita pernah berkata, jangan pernah memaki anak “Bodoh” atau kata-kata buruk lain karena itu bisa menjadi doa. Memang kata-kata saja tidaklah cukup, bahkan tidak ada artinya tanpa perbuatan konkrit untuk membuktikannya. Tetapi, perbuatan tidak harus selalu yang rumit dan berat untuk menunjukkan cinta, kasih dan sayang kita. Tidak harus dengan membeli, mengeluarkan uang banyak atau tenaga yang besar. Sebuah pelukan. Sebuah senyum. Sebuah “like” pada status facebook sahabat kita. Sebuah “emoticon” atau “sticker” pada whatsapp saudara kita. Tatapan yang hangat dan ramah. 

Alkisah, ada seorang perempuan yang menikah dengan seorang pelaut. Dia selalu lebih dulu mengucapkan kata cinta kepada suaminya sebelum suaminya pergi berlayar atau sesudah dia kembali dari pelayarannya. Kata-kata yang sering diucapkannya adalah kata-kata sederhana saja seperti, “Aku mencintaimu” sambil menatap mata suaminya dalam-dalam. Akan tetapi, sang suami tidak pernah lebih dulu mengucapkannya. Dia hanya membalasnya dengan ucapan yang sama, lalu ketika malam tiba sesampainya di kamar mereka setelah anak-anak  mereka terlelap, sang suami mengucapkan satu-satunya kalimat romantis, “Aku merindukanmu” untuk memulai hubungan intim suami-istri. Begitulah yang terjadi selama bertahun-tahun, sampai terjadi suatu peristiwa di mana ketika sang suami pergi berlayar lebih lama daripada biasanya, dan terjadi kerusuhan di kota mereka tinggal. Perempuan yang baik hati ini menolong tetangga-tetangganya yang mendapatkan masalah dan sering tak sanggup melihat penderitaan mereka karena dia tidak bisa banyak membantu, kecuali sedikit uang, sedikit pakaian atau sedikit hiburan dan saran. Ketika suaminya pulang, tidak berapa lama kemudian terjadi keributan di antara mereka oleh karena suatu hal yang sangat sepele. “Carikanlah malam ini juga selendang yang dihilangkan Carol (anak bungsu mereka) yang kaupakaikan padanya tadi,” pinta istrinya. Akan tetapi, sang suami tidak bergeming.  Dia memilih duduk mengobrol dengan kawan-kawan dan tetangga-tetangga prianya seperti biasa jika kembali dari pelayaran. “Aku akan duduk menunggumu di depan gereja. Di tempat tadi kau dan Carol pergi misa dengan selendang merah itu.” Namun, sang suami sama sekali tidak peduli sampai akhirnya pecahlah tangis istrinya di depan gereja, di mana pastor, suster dan para jemaat sedang tidak ada di sana, sampai seseorang mendapatinya di sana dan memberitahu kepadanya. Maka, dari situlah dimulailah segala keributan. Dan, perempuan itu mendapatkan tak hanya kekerasan verbal tapi juga kekerasan fisik.  Pada pelayaran-pelayaran berikutnya, perempuan itu tak pernah lagi mengucapkan kata “Aku mencintaimu”. Tak pernah lagi menatap mata suaminya. Dia hanya melakukan tugas dan kewajibannya, sebagai rutinitas belaka selama beberapa waktu, sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang hermit (pertapa) yang tidak beralas kaki, yang sudah sangat tua.  Kepada pertapa itu, dia memberikan sedikit makanan dan minuman, juga tempat bermalam di peternakannya. Ketika pertapa itu hendak pulang, pertapa itu berkata, “Terimakasih Anak Perempuanku. Aku mencintaimu.” Mendengar kata-kata itu, mengalirlah airmata perempuan itu teringat akan ayahnya yang masih hidup, yang begitu mencintainya, yang menggendongnya setiap saat ketika dia masih kanak-kanak, yang sering memeluknya dan menciumnya, menatap matanya dalam-dalam, lalu membisikkan kata “Aku mencintaimu, Putriku.” Tidak lama kemudian, perempuan itu jatuh sakit, berbaring berbulan-bulan, selama beberapa kali pelayaran suaminya, sampai akhirnya kedengaran oleh ayahnya khabar akan sakit putrinya itu. Ayahnya lalu datang, dan pergi membawa putrinya yang tiba-tiba menjadi sehat saat melihat ayahnya datang. Ayahnya yang begitu mencintainya tidak sanggup melihat penderitaan putrinya di situ. Maka, sebelum kembali ke rumah ayahnya, perempuan itu menuliskan sebuah surat untuk suaminya yang masih berada dalam pelayaran,”Apakah kaulupa kaulah yang telah memberikan padaku selendang merah itu,yang kaubeli dari kota tempat kita berencana untuk pergi berdua saja pada musim panas berikutnya?Jika saja kaudatang dan memelukku di depan gereja, walaupun kautak mengucapkan apapun, dan tak pula menemukan selendang merah itu,aku akan berhenti menangis dan tidak beranjak dari sini.”Hatta, ketika suaminya memutuskan pergi menjemput istrinya di rumah ayah mertuanya itu, perempuan itu telah meninggal dunia karena penyakitnya. Namun, dia meninggal dengan bahagia pada pangkuan ayahnya, yang memeluknya, sambil menatapnya dalam-dalam berkata, “Aku mencintaimu, Putriku.”

Dalam buku “Dari Cakalang Pampis sampai Cabe-cabean” Baby Jim Aditya dengan gamblang, vulgar, dan terang-benderang menceritakan tentang prilaku para pria, para suami dan atau para ayah yang menjijikkan, yang memperlakukan istri mereka seperti boneka atau pajangan belaka, yang membuang hajat mereka di tempat-tempat sampah, lalu menularkan penyakit kepada anggota keluarga mereka, atau “mewariskan” penyakit-penyakit lain kepada anak-anaknya – kepermisifan dalam urusan seks, seks bebas, pornografi, pelecehan dan kekerasan seksual. Ini bukan fenomena 2000an saja ketika sudah ada berbagai jenis gadget. Atau tahun 1990an ketika televisi menjadi candu. Baby Jim Aditya turun sendiri ke tempat-tempat tergelap dan terkotor, selain mendapatkan berbagai pengetahuan dari berbagai konseling yang ia lakukan kepada anak-anak yang dikirim orangtuanya. 

Hubungan atau relasi yang timpang dan tidak adil antara lelaki dengan perempuan, baik antara suami dengan istri, antara ayah dengan anak perempuannya, antara ibu dengan anak lelakinya, antara golongan lelaki dan golongan perempuan dalam suatu masyarakat, bangsa, umat dan negara, dan seterusnya, melahirkan pula banyak ketimpangan dan ketidakadilan lainnya yang tidak hanya dirasakan oleh kaum perempuan. Relasi dan fenomena dalam satu lalu banyak keluarga, yang ternyata begitu massif, begitu banyak semacam wabah yang menular, akan menyebabkan seluruh komunitas menjadi rapuh dan lemah.   

Seorang ibu yang juga guru berkata dalam acara bedah buku itu, “Apa yang kita tidak tahu belum tentu tidak terjadi.”

Apakah sang suami yang pelaut itu seorang yang setia? Yang tidak meniduri perempuan-perempuan di tempat persinggahan pelayarannya? Apakah istrinya hanya pelayan di ranjang dan ruang makan saja? Apakah perkawinan hanyalah urusan reproduksi dan rekreasi seksual semata? Apakah perkawinan harus dipertahankan hanya demi anak-anak belaka, ataukah definisi kesetiaan tidak termasuk hubungan seksual tanpa cinta di luar perkawinan?

Perempuan dalam cerita itu beruntung mempunyai sosok seorang ayah yang begitu mencintainya, tulus dan begitu memperhatikannya. Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika justru para ayahlah yang melahirkan para Marylin Monroe baru — yang merasa tak dicintai dan berakhir bunuh diri — atau melahirkan para ayah baru yang menduplikasi diri ayahnya itu? Atau bahkan para ayah yang melakukan inses, sodomi, dan seterusnya??? 

Zaman berkembang dan berubah begitu cepat… Apakah kita sudah up-to-date dengan pengetahuan seksual anak-anak kita? Apakah kita tahu bahwa tempat paling rawan dalam merusak, menyakiti atau melukai anak-anak kita justru adalah sekolah mereka dan rumah kita sendiri? Bahwa kita sebagai orang terdekatlah yang paling lebih dulu dan terutama melukai dan merusak mereka? Bahwa kita menyalahkan televisi, radio, internet, komik, majalah, atau tetangga kita, dan tak mau bercermin? 

Mengapa Emon, sang pelaku sodomi, malah dicintai dan dibela oleh anak-anak yang telah disodominya????

***

WordPress Post

Comments are closed.