Sepuluh Cahaya Cinta Ilahi

Kyai Haji Husein Muhammad* berkata untuk salah satu buku sahabatnya,

“Spiritualitas itu sekali lagi adalah cinta, asal dari segala eksistensi, yang di dalamnya terhimpun segala kebaikan (“al-Birr”), keadilan, kebersamaan, kearifan dan kasih-sayang.”

Ketika saya diminta memberi komentar kepada beliau, saya menjawab,
“Segala kebaikan, keadilan, kebersamaan, kearifan, dan kasih-sayang sesungguhnya hanya dapat tercapai jika kita berusaha memenuhi janji-janji keselamatan Ilahi yang terkandung dalam intisari al-Furqon sebagaimana yang terdapat dalam ayat ke-53 al-Qur’an dalam surah al-Baqarah, yang telah lama ada sejak para nabi sebelum baginda Rasulullah, dan dibatukan pada masa Musa as, yang kita kenal sebagai 10 perintah Allah. Tiga pokok pentingnya dari situ hanyalah berusaha berjalan dalam tauhid, memelihara alam semesta beserta seisinya, serta memperjuangkan dan memelihara kemanusiaan. Jika diringkas lagi menjadi tauhid saja. Al-Ikhlas.”

Kata para guru arif kami, al-Furqon (Dasasila) sejatinya adalah tauhid. Segala sesuatu di dunia adalah manifestasi dari Cinta belaka. Fuzuli berkata, segala pengetahuan di dunia ini hanyalah gosip belaka. Yang benar, yang nyata hanyalah Cinta. Tiada aku, melainkan hanyalah Sang Tercinta. “There is no I, but The Beloved.”

Rasulullah (saw) diutus sebagai nabi dan rasul akhir “zaman” untuk mengingatkan tauhid dengan tiga pokoknya itu. Begitupula Sang Bunda dan para imam yang telah dipilih untuk membimbing umat manusia. Bahkan, kalau kita mau menelaah lebih jauh, Rasulullah mengatakan bahwa dirinya diutus untuk memperbaiki akhlak manusia, itu ada kaitannya dengan pokok atau intisari kedua. Sementara itu, Sayyidina Ali, sang washi, misalnya, sangat banyak memberi teladan dalam hal perjuangan untuk kemanusiaan – beliau seorang humanis sejati.

Para arif bijak bistari berkata, kita yang terdiri dari tubuh serta jiwa adalah alam semesta kecil yang kudus, yang agung, yang harus kita pelihara dan jaga sebab di dalamnya terdapat kuil tempat segala yang suci, segala yang murni dan segala yang indah berdiam dan bersemayam. Bagaimana mungkin dapat menjaga alam semesta yang luas dengan segala isinya, tetapi tidak dapat menjaga diri sendiri, mengenalinya, memenuhi keperluannya yang merupakan alam semesta kecil itu? Rasulullah banyak sekali memberikan ajaran dan teladan bagaimana memperbaiki, menjaga, memelihara dan mengenali alam semesta kecil ini yang dahsyat ini.

Itulah sebabnya pula, setelah sila-sila tentang tauhid dalam al-Furqon (Dasasila) perintahnya adalah “Kuduskanlah Hari Sabat.” Ini bukan semata-mata mengenai hari “Sabtu.” Tapi, lebih luas daripada itu. Sebab, hari Sabat diperuntukkan bagi manusia, bukan sebaliknya. Begitu sabda Isa Al-Masih (as) dalam Injil. Ada sedikitnya lima ayat mengenai Sabat dalam al-Qur’an, dan tak ada satupun ayat dalam al-Quran memansukkhkan atau menghapuskan untuk mengkuduskan Sabat.

Kita telah melihat dalam kehidupan kita ini betapa manusia pada satu sisi begitu mengeksploitasi alam raya, dan pada masa yang sama begitu ketakutan dengan segala dampak lingkungan yang dialaminya. “Kita hidup pada zaman ketika kita mengkonsumsi dan mengenakan segala sesuatu begitu berlebihan, tetapi pada yang sama kita begitu ketakutan dengan segala yang kita konsumsi dan kenakan,” kata Kashkul Ana. . Industri-industri besar yang seolah-olah melahap kita dan kita makan buah simalamakama. Manusia membutuhkan pekerjaan dan uang, serta seakan-akan tak punya pilihan lain selain berada dalam perutnya, dan mengkonsumsi maupun mengenakan apapun yang tersedia baginya.

Sila-sila berikutnya adalah intisari mengenai kemanusiaan, yaitu belajar menjadi manusia yang manusiawi, yang mengusahakan nilai-nilai kemanusiaan kita,  yang terkait dengan hubungan kita dengan sesama manusia, dan seterusnya. Semua ini akan terejawantahkan dalam segala pekerjaan yang kita jalani, sebagai petani, nelayan, politisi, guru, dokter, ibu rumah tangga, pedagang, pejabat, dan sebagainya.

Sebagaimana kata Haji Bektash Wali, manusia adalah kitab yang agung. Bahwa beliau juga mengingatkan, tidak ada bedanya antaranya lelaki dengan perempuan, jika kamu mengira ada bedanya, maka kamu telah keliru. Bahwa dalam percakapan persahabatan, janganlah sampai mendiskriminasi percakapan dengan perempuan. Beliau juga yang mengatakan bahwa janganlah mendiskriminasi agama-agama; betapa agama telah memecah-belah manusia, padahal seluruh agama sejatinya bertujuan menyediakan persaudaraan. Yang dimaksud beliau mengenai agama-agama kiranya adalah agama-agama institusional yang telah melahirkan kelompok-kelompok manusia yang berpotensi baik saling berseberangan, saling berperang, maupun saling berdamai, hidup rukun dan bekerjasama dalam bidang kemanusiaan.

Itulah sebabnya cahaya pertama mengatakan menghormati ibubapak, karena ibubapak kita adalah keturunan para leluhur kita yang juga ibubapak, dan kita memiliki banyak sekali saudara di dunia ini. Kita kemudian diharapkan untuk menjaga diri kita dari melakukan pembunuhan, pencurian, berzina berkata atau bersaksi dusta, merampas bahkan menginginkan hak milik orang lain. Ya, bahkan “menginginkan” milik orang lain. Seperti pepatah yang mengatakan, “rumput tetangga lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri.” Betapa pada masa kini, kita melihat bagaimana para tetangga saling melirik kepada satu sama lain, membeli kendaraan, furnitur atau isi rumah terbaru, terbaik, tercantik dan seterusnya, tidak mau kalah satu sama lain. Tentu saja, sila terakhir termasuk sila yang tidak terlalu mudah dijalani pada masa kita hidup saat ini.

Ya, kita telah melihat bahwa pada zaman kita ini hidup betapa semakin canggih pelanggaran terhadap al-Furqon. Perbuatan tidak menghormati ibubapak yang semakin kejam, pembunuhan yang semakin sadis, pencurian yang semakin licik, perzinaan yang membabi buta, fitnah dan dusta yang semakin merajalela, serta perampasan hak maupun kampanye untuk menginginkan hak milik orang yang semakin mewarnai dunia. Iklan-iklan berbagai produk telah menjadi keseharian kita – bagaimana kita ingin tampil secantik, sesegar, sebugar, sebaik dan semenarik orang lain, atau ingin mempunyai barang-barang dan kekuasaan yang orang lain miliki. Peraturan-peraturan dan hukum-hukum di dunia pun lambat laun menjadi melampaui dasar-dasar Dasasila, mengabaikan intisari dari butir-butir cinta yang terpancar di dalamnya. Misalnya, hukuman mati yang berlebihan dan bahkan keliru sampai mengorbankan yang tidak bersalah, penerapan aturan berpakaian yang berlebihan, peraturan bagi perempuan yang diskriminatif, atau undang-undang yang memiliki celah untuk melakukan sebanyak mungkin praktek pencurian – korupsi, manipulasi, dan lain sebagainya!

Al-Furqon adalah dasar yang sangat sederhana jika ia dilihat sebagai janji-janji keselamatan Ilahi dalam menjalani kehidupan. Ringkasan, rumusan, dan atau poin-poin yang setiap individu dapat jabarkan, lakoni, laksanakan, dan hayati dengan caranya masing-masing. Apapun agama, keyakinan, mazhab, aliran, atau sekte kita… Jika semuanya berjalan dalam sepuluh Cahaya Cinta Ilahi ini… meskipun sepuluh lilin ini bersinar redup dalam kegelapan dunia, insyaAllah kita akan menemukan Sang Cinta-lah yang membimbing kita ke tempat terindah, paling terang, dan teragung. Spiritualitas kita tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari. Demikianlah kata para guru arif bijak bistari kepada kami.
*** 12 Mei 2015 ***

*KH Husein Muhammad, Pendiri Fahmina Institute, pengasuh sebuah pondok pesantren di Cirebon, pernah menjadi komisioner Komnas Perempuan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s