Standar Ganda

gayaParsi3Saya mempunyai seorang sepupu bermazhab manhaj salafi. Sepupu garis pertama. Putri dari almarhumah bibi saya, adik perempuan ibu saya. Dia seusia dengan salah satu adik perempuan saya. Ketika kami sangat muda dulu, kami biasa tidur bersama seranjang jika saya pulang berkunjung menginap di rumah kakek dan nenek kami. Semua anggota keluarga dalam keluarga kakek dan nenek kami ini Muslim. Kakek saya ini pensiunan dinas tenaker yang juga dikenal sebagai Javanolog, seorang pengagum bahkan sepertinya pengikut setia (falsafah) Sosrokartono, sesepuh “Setia Hati Teratai,” pencinta buku, dan seterusnya, dan seterusnya yang intinya beliau seorang filsuf yang sangat “Njawani” di mata saya. Nenek saya sendiri seorang priyayi Tuban yang cukup “santri” sehingga ada keseimbangan antara spiritualitas dengan religiusitas yang menekankan fikih-fikih dalam keluarga besar ini.

Ketika sepupu saya menjadi seorang salafi, saya yang masih penuh dengan gejolak dan baru saja kuliah pascasarjana jurusan Filsafat Islam di ICAS-Paramadina, sering “menyerang”nya. Maka, kami mulai sering berdebat, bahkan kemudian dengan suaminya. Jujur dalam hati saya waktu itu saya patah hati. Namun, semua itu sekarang sudah berlalu. Saya belajar mengikhlaskan bahwa di dunia semesta luas ini, Allah telah menetapkan begitu banyak keragaman dalam berkeyakinan.
Satu-satunya hal yang bagi saya yang penting dalam kaitannya dengan hal ini adalah “Zero Intolarance” kepada “Intolerance” atau nol toleransi kepada yang tidak bertoleransi. Artinya, jika siapapun, termasuk saudara saya sendiri, “menabrak” saya maupun siapapun saja untuk berpindah keyakinan, mengubah apa yang kami anut, bahkan sampai melakukan pelecehan, kekerasan, dan semacamnya, saya tidak akan berdiam diri – meskipun tubuh saya begitu lemah dan rapuh, saya’kan masih bisa menulis.

Saya menghormati pilihan iman yang dianut oleh sepupu saya ini. Mungkin saya mengkritiknya. Mungkin saya tidak suka dia mengenakan niqab atau cadar. Mungkin saya tidak suka begini dan begitu. Yang pasti saya tidak setuju dengan alirannya sehingga saya tidaklah menganutnya. Namun, saya akan membela dia jika dia disakiti, keluarganya disakiti, anak-anaknya disakiti, dst terutama jika berkaitan dengan pilihan keyakinannya. Apakah karena dia sepupu saya? Tidak juga. Faktor itu pasti ada. Tapi, bukan karena itu. Karena saya tahu apa rasanya “disakiti” dan “dibuli” karena keyakinan dan iman yang saya anut hari ini.
Semalam saya sengaja dengan cepat menterjemahkan secara bebas sebuah laporan dari Israel dari seorang ayah yang anaknya dipenjara karena menolak wajib militer, bagaimana mereka diperlakukan, terutama juga karena faktor keyakinan dan asal-muasal mereka yang bukan “mainstream” Yahudi di Israel itu sendiri, yang di dalamnya mencoba melawan rezim Zionis itu sendiri. Ajaib, bagi saya, responnya sangat sedikit. Beda jika saya berbagi tentang Palestina, Yaman, Suriah, atau negeri-negeri tempat Muslim memperoleh diskriminasi. Begitu pun jika saya menulis atau berbagi sesuatu tentang korban-korban dari peristiwa 30 September 1965 yang selalu dicap komunis atau atheis.
Jika saya berbagi laporan ada sekian orang Pakistan memperoleh diskriminasi, lalu ketahuanlah bahwa mereka Ahmadiyah, misalnya, pasti tanggapannya sangat sedikit.

Sebagian Muslim juga masih mengatakan, “Seharusnya Ahmadiyah tidak bilang bahwa Ghulam Ahmad Reza adalah bla..bla… supaya tetap dianggap Islam atau kalau tidak memilih saja sebagai agama selain Islam.” Saya tentu akan mengatakan, “Baiklah, Anda meyakini mereka bukan Islam. Saya hormati itu. Tetapi, mereka tetap merasa sebagai Muslim. Mereka menjalankan rukun Islam. Fikih mereka sama dengan fikih kaum Sunni. Dan seterusnya, dan seterusnya. Bisakah kita membiarkan mereka hidup bahagia? Bisakah kita hidup bahagia dengan keyakinan yang kita anut dan melakukan yang terbaik untuk apa yang kita yakini tanpa mengusik, mengancam nyawa dan jiwa orang lain? Ada kalanya ada orang-orang yang bahagia tidak melakukan taqiyah (menyembunyikan iman) karena mereka memang merasa yakin benar dengan yang diimani, sampai rela mati karenanya.”
Sebagian Muslim yang lain, yang minoritas, berharap sekali bahwa mereka dibela dan dilindungi. Akan tetapi, dinding-dinding tidak tuli. Kuping saya masih cukup bisa mendengar. Apa yang telah kalian lakukan untuk ikut membela diskriminasi yang terjadi kepada berbagai minoritas lain di seluruh dunia, tak hanya di Eropa, Amerika, Afrika dan Timur Tengah, tapi juga dalam negara yang mungkin kita benci seperti Israel? Bukankah kita tak pernah bisa memilih kita terlahir menjadi orang Jawa di Suriname atau orang Yahudi di Israel?

pantirome2012

Dua anak berbeda bangsa di sebuah panti di Roma

Saya gagal paham dengan paham kemanusiaan yang semacam ini. Sebagai seorang penganut (dan agaknya penyebar) falsafah Dekalogisme, dasar dan landasan saya sangat jelas dan baku, yaitu Dekalog atau Dasasila sebagai al-Furqon (al-Qur’an surah 2: 53), dalam segala sendi kehidupan dan pemikiran saya saat ini.

Hafiz, Sang penyair Sufi, pernah berkata, manusia bagaikan satu anggota tubuh, jika ada satu manusia yang disakiti, anggota tubuh lain akan merasa sakit. Ah entahlah, tetapi setidaknya itulah yang saya alami ketika tiba-tiba kedua kaki saya tiba-tiba mendapat serangan pada suatu dini hari menjelang kepulangan saya dari rumah sakit. Serangan yang belum pernah kaki saya alami. Serangan itu membuat saya terbangun lalu terjaga sejak pukul tiga pagi hingga sepuluh pagi tak dapat memejamkan mata. Saya merasa sangat sehat pada malam sebelumnya. Saya sudah siap untuk pulang. Tubuh saya mendadak lemas. Saya mendadak demam sangat tinggi. Saya mengalami sesak nafas. Dan seterusnya, dan seterusnya. Begitu pun saat seminggu kemudian, sesudah menikmati makan malam, kencan dengan kedua permata hati saya, saya mengalami serangan serupa. Kaki-kaki yang sakit, juga dirasakan oleh kepala, tangan, dada, dan sekujur tubuh saya yang lain.
Kepada kedua kaki saya yang mendadak lumpuh, apakah tangan saya harus berkata, “Saya Kristen”? Apakah saat bernafas, dada saya harus berkata, “Saya Muslim”? Apakah airmata saya yang mengalir harus berkata, “Saya orang Jawa”? Apakah saat saya berteriak kesakitan, bibir saya harus berkata, “Saya orang yang beriman kepada Tuhan?” Tidak, tidak. Mereka – anggota-anggota tubuh saya – tahu betapa sakitnya kedua kaki saya ketika itu meskipun mereka tahu bahwa kedua kaki saya mungkin yang kiri adalah Komunis dan yang kanan adalah Muslim Progesif. (Kulit saya sepertinya Agnostik, hehehe). Akan tetapi, (Hati) saya berkata, “Mari kita makan, minum, menikmati obat, dan menidurkan serigala nakal dalam tubuh ini, kita semua bersaudara… Ayo kita belajar berjalan lagi!” Lalu, Perut (sepertinya Perut ini sangat Sekuler) berkata, “Ya, ayo kita belajar menjadi odapus* yang sehat!”

Gayatri WM. 7 Mei 2015.
[*Odapus: orang dengan lupus]

Comments are closed.