Perempuan, Darah dan Rahim

 “Dia benar-benar perempuan pemalas! Sudah pagi masih terlelap.”

***

Sains mengatakan bahwa manusia pertama di muka bumi sesungguhnya adalah perempuan. Dalam kajian ilmu hayati (biologi) dan kajian ilmu genetika, hal-hal semacam rantai DNA, mitokondria, sel dan sebagainya itu ternyata bermula dari seorang perempuan, bukan laki-laki. Sebagai orang yang beriman kepada Empat Kitab Suci, saya entah bagaimana justru meyakininya. Manusia yang dimaksud mungkin bukanlah homo sapiens yang disebut sebagai bani Adam. Dan, mungkin itulah sebabnya disebut sebagai bani Adam, bukan bani Fulan atau bani John Doe. Hal ini mengingatkan saya pada suatu hadis yang menyatakan bahwa sesungguhnya seluruh alam semesta diciptakan untuk ahlulbayt (keluarga suci para nabi) dan tidaklah ahlulbayt diciptakan untuk Fatimah az-Zahra; yang dalam pandangan saya bahwa Dialah Sang Ibu, Logos, dan atau sosok yang bukanlah historis, fisikal, atau terkait dimensi ruang dan waktu belaka – yang di masa, ruang dan waktu lain ia adalah Bunda Maria, atau yang lainnya. Seperti dalam filosofi Hindu, Parvati adalah juga Saraswati, Laksmi, dan Shakti.

berber111Perempuan dikaruniai rahim, yang dengannya ia mempunyai potensi melahirkan satu hingga  banyak sekali keturunan. Mengandung dan melahirkan merupakan suatu hal yang sangat berat dan besar. Ia dapat mengantarkan kepada kematian dan berbagai penyakit. Pada masa dahulu, di berbagai sukubangsa dan tradisi, ketika orang-orang masih memaknai kehidupan selaras dengan alam semesta, ibu yang sedang mengandung diberikan begitu banyak pantangan untuk menjaga dirinya dan bayi dalam kandungannya. Setelah melahirkan, sang ibu akan dirawat dengan sungguh-sungguh agar  beristirahat dan makan minumnya diperhatikan secara khusus, supaya tidak menjadi lemah, dapat menyusui bayinya dan kelak dapat merawat anaknya dengan baik. Pada masa kini, angka kematian ibu melahirkan masih cukup banyak. Termasuk di Indonesia, masih sangat tinggi.

***

Penyakit paling berbahaya adalah malas,” Pepatah Tibet.

Sebagian perempuan  tidak berkesempatan merasakan melahirkan dan menyusui. Sebagian yang lain bernasib  buruk karena kondisi tubuh mereka yang berbeda dengan umumnya perempuan lain yang jika cukup makan dan istirahat, meskipun beraktivitas berat dan sibuk, maka dia akan segera pulih dan aktif kembali. Perempuan-perempuan ini terkadang tidak mengetahui atau belum menyadari penyakit apa yang mereka derita sehingga mereka harus melakukan berbagai pekerjaan ganda dengan stigma, cemoohan dan rasa bersalah dalam diri mereka yang menjadi pergumulan batin mereka sehari-hari. Pergumulan batin ini acapkali menimbulkan tekanan batin, stress, bahkan sampai berujung kepada depresi. Mereka yang memiliki akses kepada dunia kesehatan modern mungkin akan lebih mudah  mengetahui kelainan-kelainan pada tubuh mereka. Sedangkan, sebagian yang lain mungkin akan menyepelekannya, atau menganggap hal biasa – seperti saat haid menjadi begitu lemah, atau kelelahan biasa. Iklan-iklan di televisi yang mempromosikan suplemen vitamin penambah darah, susu penguat tulang, dan jamu penambah tenaga dijadikan solusi, yang padahal belum tentu cocok untuk semua orang.

Para perempuan yang menderita  berbagai macam penyakit autoimun yang belum mendeteksi dirinya, seperti lupus, atau kelainan-kelainan darah seperti thalasemia,  sangat rentan oleh penderitaan semacam ini. Mereka acapkali dianggap sebagai perempuan-perempuan malas. Mereka sulit sekali bangkit di pagi hari, mudah jatuh sakit, menderita insomnia tapi juga banyak tidur, dan sebagainya. Gaya hidup, pola makan, dan kondisi lingkungan serta cara kehidupan berkeluarga dapat memperburuk situasi. Sementara itu, sang pasien sendiri merasa frustasi dengan keadaan pada dirinya. Misalnya, saya pernah merasa begitu frustasi karena tidak sanggup melihat matahari selama berminggu-minggu tanpa mengerti kenapa, dan hanya bisa duduk sepanjang malam terjaga tak dapat memejamkan mata. Yang lain, merasa frustasi karena cemoohan keluarganya sebab ia tidak berdaya menggendong bayinya sendiri. Apalagi, perempuan selalu mudah dihinggapi rasa bersalah, sehingga menyalahkan dirinya karena tidak mampu dengan sempurna menunaikan suatu pekerjaan, entah itu pekerjaan domestik atau pekerjaan karirnya – yang tak jarang merekalah yang justru merupakan tulang punggung keluarga itu sendiri. Frustasi-frustasi dalam diri ini makin memperburuk penyakit yang dideritanya.

Para penderita menjerit, “Kami ingin mengatakan bahwa kami bukan malas. Kami bukan tidak mau melakukannya. Kami juga bukan menuntut perhatian (cari perhatian) untuk mengada-ada.”

Di tempat-tempat umum kita lihat bagaimana orang menjadi semakin egois, tidak peduli kepada penderitaan orang lain. Kalau yang terlihat cacat, uzur atau lemah saja tidak digubris, bagaimana dengan para penderita ini yang terlihat sehat-sehat saja, padahal tubuh mereka menahan rasa sakit kronis sepanjang hari?

***

Pada malam hari menjelang saya masuk rumah sakit, saya memutuskan mampir ke sebuah supermarket untuk membeli susu dan keju. Saya sebenarnya sudah sangat kelelahan. Tetapi, saya harus membeli susu dan keju itu untuk besok pagi. Saya memilih kasir dengan antrian pendek sesegera mungkin. Tiba-tiba, seorang perempuan berumur kira-kira 60 tahun dengan tubuh bungkuk meminta saya mundur satu antrian. Dia begitu memelas, dan saya katakan padanya bahwa kasir di samping juga sudah pendek antriannya. Tapi, saya memarahi diri saya sendiri, lalu mengalah. Mengapa saya begitu egois? Saya bisa bertahan. Saya mungkin sakit, tetapi saya masih cukup kuat. Sesudah saya membayar belanjaan saya yang hanya sedikit itu, saya keluar menuju mobil yang menunggu saya. Saya lihat perempuan itu tidak bungkuk dan berjalan biasa saja. Namun, entah mengapa saya justru tidak menyesal.

***

“Sungai darah mengalir ketika perempuan melahirkan peradaban melalui rahimnya.”

Dalam sejarah, kita telah melihat ada beberapa perempuan hebat yang gugur karena penderitaan darah yang dialaminya. RA Kartini mungkin salah satunya.  Sekiranya dia terus hidup, tak terbayang berapa banyak karya tulis yang bisa dilahirkannya. Di desa-desa terpencil, angka kematian ibu melahirkan yang cukup tinggi sangat mengkhawatirkan, sedangkan gaya hidup dan pola makan sudah berubah mengikuti zaman. Begitu pun pola hubungan atau relasi antara individu yang mulai tergerus sikap tak selaras dengan alam semesta dan sesama makhluk hidup.

***

yahudi aljazairBahwa kita berlomba-lomba menghasilkan penemuan terbaik: jamu, herba, suplemen, vitamin dan lain-lain untuk mengatasi berbagai penyakit kita, tetapi ternyata tidak hanya bahwa semuanya harus dikonsumsi dengan hati-hati sekali dan bahwa tidak selalu cocok untuk setiap orang, hal ini menunjukkan betapa Tuhan menciptakan setiap individu itu unik. Unik meskipun dengan penyakit yang sama – yang berarti tidak harus selalu diobati dengan cara yang sama persis. Perempuan sama-sama memiliki darah dan rahim. Tetapi, setiap dari kami adalah unik. Ada yang dilahirkan ke dunia dengan misi sebagai sebagai bidan, yang lain dilahirkan ke dunia dengan misi sebagai ibu rumah tangga, yang lainnya sebagai perempuan-perempuan seperti Bunda Theresa, Chiara Lubich dan Master Cheng Yen.

Semua rasa sakit adalah setara. Akan tetapi,  tidak ada rasa sakit yang sama. Darah kita setara, berasal mula dari sumber yang satu: murni dan tak tercemar. Tetapi , bagaimana mengalirnya, gelombangnya, riaknya, geraknya, kandungannya, gradasi warnanya, dan menghanyutkannya tidaklah sama. Begitu pula rahim, rahim yang satu, yang dapat melahirkan satu hingga berbilang tiada berbatas; eksistensi mereka setara, tetapi setiapnya adalah unik.
***

“Terpujilah Engkau wahai Bunda Agung kami, yang membimbing dan mendoakan kami selama sakit karena darah dan rahim pada tubuh kami.”
***

Gayatri WM, 10 April 2015

 

 

 

 

 

 

Comments are closed.