Catatan Idul Adha 2014

~ Tentang “Hormati Ayah dan Ibu” dan “Jangan Membunuh”  ~

Idul Adha selalu membawa ingatan kita tentang sejarah para nabi. Dekalogisme memandang kisah Idul Adha merupakan kisah yang mungkin saja kontroversial dipandang dari sudut letterlijk “10 Perintah Allah” karena melanggar aturan “Jangan Membunuh.” Pada dasarnya Dekalog telah diwahyukan kepada Adam, diteruskan kepada Ibrahim, sehingga ditetapkan sebagai perjanjian dengan umat Musa, kemudian terpatri ke dalam hati setiap anak manusia, tetapi sering dilupakan, dilanggar atau diabaikan sehingga Muhammad diutus ke tengah umat manusia.

Dari sudut pandang sejarah kenabian, pada mulanya umat manusia tidaklah memakan daging hewan, melainkan biji-bijian dan sayur-sayuran, baru setelah banjir Nuh manusia diberikan aturan mengenai hewan apa saja yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan – serta bagaimana menyembelihnya. Kalangan Noahide meletakkan fondasi filosofi “pluralisme” mereka dari sini, agak berbeda sedikit dengan Dekalogis, karena meletakkan “aturan makanan” sebagai bagian yang inheren dari butir pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima dalam 10 Perintah Allah. Oleh sebab itu, misalnya, ada umat yang berpantang makan daging seumur hidup, dan pada hari-hari tertentu, serta hewan-hewan tertentu.

Oleh karena itu, norma “Jangan Membunuh” menjadi gugur dalam kasus-kasus tertentu jika ada perintah Allah terkait itu, sebab yang paling utama adalah mendahului butir yang lebih dulu, yaitu menyembah Tuhan. Dalam hal ini, tentu saja menaati perintah Allah adalah termasuk menyembah Tuhan.

Ibrahim merupakan simbol patriarkat, atau dapat dikatakan bahwa ia merupakan titik tolak penting lahirnya budaya patriarkat dalam bangsa-bangsa Semit seperti bani Israil dan bani Ismail. Ia hidup pada suatu masa dimana secara antropologis masyarakat di sekelilingnya mempunyai tradisi mengorbankan putra pertama mereka. Tidak hanya Ibrahim, tetapi juga Sarah maupun Hajar memperoleh “Wahyu” atau mendengar perintah Tuhan langsung. Sarah dijanjikan oleh Tuhan bahwa ia akan diberi keturunan, tetapi karena kekurangsabarannya, ia meminta Ibrahim menikahi pelayan hadiah dari Raja Mesir untuk mereka, yaitu Hajar. Mengingat kondisi masyarakat di sekelilingnya pada masa itu, tidak dapat dipungkiri betapa pentingnya seorang pewaris keluarga serta penerus kepemimpinan suatu suku. Hajar juga memperoleh “Wahyu” dengan diperintahkan mencari air dan menemukan mata air Zam-zam untuk Ismail.

Tidak dapat dinafikan cerita-cerita kenabian yang sampai kepada kita hari ini lebih banyak dipengaruhi oleh budaya patriarkat para penulis atau penyalinnya atau penyampainya. Kendati demikian, kita bersyukur masih menemukan Kitab Yobel, yang memberitahu tentang silsilah pihak perempuan dari tokoh-tokoh perempuan di zaman kenabian sebelum Nuh dan sesudahnya. Artinya budaya bilateral yang mengakui patriarkat dan matriarkat secara setara itu juga ada walaupun tidak populer. Sebagian sejarawan bahkan menduga bahwa masyarakat awal kenabian sebelum zaman  Ibrahim berbudaya matriarkat atau pun bilateral, dengan antara lain indikasi bahwa Adam meminta pendapat Hawa untuk mengambil keputusan dalam mengambil buah khuldi, dan budaya matriarkat ini masih dilestarikan di beberapa suku pedalaman agraris seperti Jino dan Mosuo di China, Minangkabau di Indonesia, atau sukubangsa di Finlandia.

Baik Sarah maupun Hajar hidup di dua tempat yang berbeda, dan sangat jauh terutama apabila kita mempertimbangkan keadaan dan situasi pada masa itu dimana transportasi belum secanggih sekarang. Hal ini – tinggal berpisah – terjadi sesudah Sarah merasa cemburu melihat Hajar telah dikaruniai anak sedangkan dirinya belum. Polemik mengenai siapa yang dikurbankan dalam wacana dialog atau sebenarnya debat antar agama selalu muncul menjelang Hari Idul Adha. Dekalogisme sering melihatnya pada konteks “Jangan Membunuh” dimana pada masa itu, seperti yang telah dikemukakan sebelum ini, masyarakat di luar suku Ibrahim terbiasa memberikan persembahan kurban putra pertama. Ini merupakan pelanggaran besar terhadap “Jangan Membunuh.”

Ibrahim juga diuji apakah mampu melanggarnya, dan apakah mengetahui rahasia di balik perintah Tuhan yang lebih agung dalam perintah mengurbankan putranya. Dekalogisme tidaklah memandang penting apakah Ismail atau Ishak yang diminta untuk dikurbankan, karena keduanya bisa jadi sama-sama diminta untuk dikurbankan sebab keduanya adalah putra pertama bagi ibunya masing-masing – dan keduanya tinggal di dua tempat yang berjauhan dan pada masa yang agak berselisih jauh. Dekalogisme memandang antara lain Idul Adha adalah suatu ingatan penting tentang “Jangan membunuh” dalam hal ini jangan membunuh manusia, dan jika harus membunuh hewan haruslah dengan syarat-syarat khusus, tidak boleh sembarangan membunuh.

Kemudian, perintah berhaji sebagai suatu bentuk ziarah kudus adalah dalam rangka untuk memelihara dan mengingat semua aturan dasar yang telah terpatri dalam sanubari setiap manusia, yaitu Dekalog, terutama tentang jangan membunuh, karena kita semua sejatinya adalah saudara dan saudari seayah dan seibu. Menghormati ayah dan ibu tentu antara lain adalah dengan menjaga kerukunan dengan saudara-saudari kita, berkasih sayang dan akur dalam kehidupan keluarga. Maka Tuhan memberikan aturan kepada suku Ibrahim – supaya dilihat dan dicontoh suku-suku lain – untuk mengurbankan domba atau hewan tertentu dengan cara tertentu dan syarat tertentu, bahkan untuk dibagikan kepada mereka yang kekurangan, miskin atau tidak mampu. Semuanya adalah dalam rangka konteks ini. Secara spiritual yang lebih mendalam, tentu masih sangat banyak lagi yang dapat diungkap. Tentang keikhlasan misalnya, atau tentang ketabahan Hajar, dan sebagainya. Hal ini masih sangat terkait erat dengan tauhid yang ditekankan dalam Dekalog, “Akulah Tuhanmu.” Keikhlasan misalnya sangat erat kaitannya dengan “Tiada aku melainkan Tuhan” (There is no I but God). [Ingat surah al-Ikhlas]

Kalau kita melihat adanya tiga peran utama dalam kisah-kisah kenabian yang sangat mengubah sejarah dunia, kita akan menemukan bagaimana “suara” perempuan tenggelam dan seakan-akan hilang begitu saja, sehingga muncul ketidakseimbangan dan ketidakharmonisan di mana-mana. Ibrahim-Sarah-Ishak dan Ibrahim-Hajar-Ismail, sebagai contoh. Berapa lama Hajar tanpa Ibrahim di padang pasir sendirian dengan putranya, dan para khafilah lewat berlalulalang? Budaya patriarkat memiliki kelebihan maupun kekurangan, begitu pun budaya matriarkat. Namun, pada dasarnya dalam Islam (juga saya pikir dalam Judaisme) jika yang zahir tampak adalah patriarkat, maka secara batin adalah matriarkat. Apabila yang batin diabaikan, dilupakan atau tidak dipelihara, maka tentu saja muncul ketidakseimbangan dan ketidakhormanisan. Dalam kisah Musa, kita melihat “tiga sekawan” yang acapkali dilupakan (jadi hanya duet biasanya) yaitu Musa-Harun-Miryam. Miryam adalah kakak perempuan Musa yang menjaga Musa bayi di Sungai Nil sampai ke istana Firaun, dan juga menerima wahyu atau bimbingan Ilahi. Miryam bahkan pernah ditegur langsung oleh Allah karena memprotes Musa, dengan pertaubatannya, hal ini tidak mengubah kedudukan mulianya sama sekali. Judaisme dengan budayanya dan berbagai variannya sangat merujuk kepada Musa serta relasinya dengan Harun dan Miryam. Untuk terus mengingatkan kita, maka terdapat cerita Maria-Yesus-Yusuf, yang bahkan di sini Maria berperan sangat utama. Kristenitas perdana dan Kristenitas yang dipandang ortodoks memuja Maria, sekalipun demikian Kristenitas pasca reformasi melahirkan gereja-gereja yang memberikan ruang kebebasan dan kesetaraan kepada kaum wanitanya dalam gereja mereka meskipun tak lagi memuja Maria. Dan, pada akhirnya kita menemukan pola dalam masyarakat Islam yang serupa yaitu Muhammad-Fatimah-Ali, di mana Fatimah (pada akhirnya) hanya diingat begitu mulia di kalangan Sunni yang mencintai ahlulbayt, kalangan Syiah dan tradisi Sufi yang merangkul/meliputi kedua mazhab besar itu. Namun, tampaknya, hanya dalam tradisi Sufi saja yang benar-benar memberikan ruang bagi perempuan sebagaimana seharusnya dasar “Menghormati ayah dan ibu.”

IMG00010-20110910-1256Bahwa perintah menghormati ayah dan ibu ada sebelum perintah jangan membunuh, menunjukkan posisinya lebih utama, disebabkan hal itu merupakan benteng atau pelindung utama dari melanggar perintah setelahnya. Sayangnya, menghormati ibu sering kali dilalaikan kendati di berbagai belahan dunia ibu dipuja dan dipuji, tetapi hanya sebatas sebagai fungsi biologis sebagai “manusia yang memproduksi anak.” Nama para ibu acapkali tidak dicatat dalam sejarah dunia.

Idul Adha membawa ingatan kita kepada Ibrahim yang teramat mencintai Sarah, dan Sarah sebagai seorang perempuan yang mempunyai pandangan yang luas jauh ke depan, sehingga memutuskan untuk meminta suaminya menikah lagi. Apakah ada yang ingat bagaimana Sarah melahirkan Ishak di usia renta, apakah ini mudah baginya? Idul Adha membawa ingatan kita kepada Hajar yang tegar, yang kisahnya diangkat kembali dalam AlQur’an lebih detail, oleh sebab Alkitab tidak menulisnya, bahwa dia juga seorang ibu, bahkan bisa dikatakan seorang ibu tunggal yang harus mengasuh dan merawat seorang diri putranya di tengah padang gurun tandus. Jika benar Hajar tadinya seorang budak, tentu dia seorang budak yang istimewa karena Tuhan ingin mengingatkan bahwa siapa saja hamba-Nya dapat mencapai maqam (kedudukan) yang mulia di sisi-Nya sekalipun dia dari keturunan budak. Idul Adha membawa ingatan kita kepada “Jangan Membunuh” sesama manusia, dan bahwa Ibrahim adalah bapak dari dua bani besar, tiga agama besar, dan ratusan ribu mazhab atau aliran keyakinan di dunia. Umat Islam setiap hari membaca sholawat untuk Ibrahim dan keluarganya dalam sholat mereka, artinya umat Islam setiap hari mendoakan semua anak cucu Ibrahim supaya dirahmati dan diberkati Allah, diberi petunjuk untuk berbuat keadilan dan berkasih sayang. Tidaklah penting apakah Ishak atau Ismail yang dikurbankan sebab keduanya adalah bersaudara, dari darah yang sama, dan dari dua ibu yang sama-sama mulia dan dikasihi Tuhan. Dalam sudut pandang Dekalogisme, nilai “Hormatilah ayah dan ibu” terletak pula pada penghormatan kita kepada sesama manusia, sebagai saudara seayah-seibu, bahwa bahwa semua lelaki adalah saudara kita dan semua perempuan adalah saudari kita. Karena kita menghormati dan memuliakan Ibrahim, Sarah, dan Hajar, sebagai ibu dan bapak kita maka kita sudah sepantasnya memuliakan seluruh anak cucu Ismail dan Ishak yang adil, yang tidak zalim, yang menjaga dan memelihara petunjuk Ilahi – lalu berusaha meneladani jejak-jejak mereka.

Melihat kejadian akhir-akhir ini menjelang Idul Adha, tentu sangat menyedihkan. Apakah dengan menganggap diri sebagai putra keturunan Fatimah dan Ali maka terbebas dari aturan “Jangan membunuh” – dan bahwa ia lebih mulia daripada keturunan yang lainnya? Apakah kira-kira Ibrahim bersukacita melihat anak cucunya bertikai dan berperang? Apakah Sarah dan Hajar tidak berduka melihat para perempuan menjadi korban dari semua kekerasan, perang dan kezaliman ini? Domba, kambing, dan sapi-sapi ini hanyalah “reminder” (pengingat) begitu pun ziarah (naik haji), adalah cara untuk mengingatkan kita, menjaga kita, tetapi apakah kita sudah “Menghormati ibubapak” dan “tidak membunuh” dalam pengertian yang sederhana maupun yang luas? Semoga.

Salam Idul Adha, salam cinta kasih.

5 Oktober 2014

Rujukan

AlQuran 2: 53; AlQuran 17: 23; AlQuran 5: 32.

Keluaran 20:

13914

Comments are closed.