Tentang Tubuh

Haji Bektash Wali (ra) berkata tentang jiwa dan tubuh, “Jiwa bagaikan burung dalam sangkar.”

Pada suatu ketika, setelah terlelap lama sekali, aku terbangun dan mengingat semuanya dengan jelas dan jernih sekali. Aku ingat tentang ibuku yang didiagnosa menderita sindrom Takayasu sebelum ia mengandungku. Denyut nadinya tidak dapat didengar, dan hal-hal lain berkait dengan jantung. Sejak muda ibuku selalu mudah jatuh sakit, begitu pun sampai hari ini.  Aku dilahirkan dengan bantuan dokter-dokter paling ahli di bidangnya pada masa itu, di sebuah rumah sakit paling tua di ibukota. Aku disusui selama kurang lebih enambulan, pernah suatu malam aku ditemukan berada di bawah tempat tidur, dan pernah suatu saat aku ditemukan mencuci wajahku dengan kotoranku sendiri.

Aku ingat sekali pernah berada dalam gendongan ayahku, pada suatu gelap, mereka berdua mengetuk-ngetuk pintu dokter dengan cemas. Aku ingat sekali bagaimana kami sekeluarga kemudian menjadi langganan ia dan istrinya yang dokter gigi. Sepasang dokter beragama Kristen.

Aku ingat sekali berada dalam gendongan ayahku setiap pulang dari TIM, Balai Budaya, pameran, pertunjukan film atau teater, naik bus atau bajaj.  Aku  masih ingat sekali aroma rokok pada tubuhnya, suara mesin tiknya waktu malam, dan malam-malam di mana sebenarnya aku lamban sekali terlelap, hanya memandang langit-langit dari ranjangku yang kasurnya dibeli oleh kakekku sambil membayangkan banyak sekali hal agar aku bisa segera terlelap. Aku masih ingat masa-masa sekolah dasar di mana aku begitu lamban berlari, tak pernah bisa menaiki sepeda, dan sering sekali absen untuk mengikuti olahraga karena berbagai sakit, demam, luka-luka pada kulitku, batuk dan flu. Aku masih ingat waktu berumur empat tahun melewati bangsal rumah sakit tempat pakdeku seorang dokter bekerja, orang-orang korban kerusuhan/konflik besar sedang dirawat, dan aku di sana untuk dirawat karena penyakit typus. Penyakit yang kemudian beberapa kali kuderita.

Aku ingat masa-masa sekolah menengah di mana aku selalu menghadapi hari olahraga yang diadakan di sekolah setahun sekali dengan takut dan penuh harapan sekaligus – tetapi tetap saja aku tak pernah memenangkan satu lomba apapun. Tidak lari, lempar peluru, loncat jauh, atau apapun. Aku ingat masa-masa paling tidak menyenangkan saat haid, sakit perut yang luarbiasa, dan darah yang seakan terus mengalir. Aku ingat harus selalu absen sekolah dan kuliah karenanya, datang terlambat ke kelas karenanya, dan bahkan jatuh pingsan di kampus karena haid. Aku ingat ketika tanganku dioperasi karena sebuah benjolan kecil, bau ruang bedah, teman sepasien yang tangannya juga dibedah seperti aku pada saat yang sama, dan papan doa dalam huruf Arab di ujung tempat tidurku yang membantu menenangkanku sebelum dibius. Aku ingat bagaimana ibuku membersihkan luka-luka yang sering kuderita pada kulitku karena berbagai alergi. Aku ingat tentang benda-benda bukan emas yang bisa membuat kulitku merana, dan setiap gigitan nyamuk yang membuat kulitku sengsara.

Aku ingat setiap detik masa-masa ketika aku mengandung. Aku tidak pernah mual, tidak pernah mengidam hal-hal yang aneh kecuali makanan-makanan yang kurindukan. Aku ingat rasa sakit dan rasa perihnya saat mengeluarkan bayiku dengan normal — tanpa menjerit atau berteriak. Dan, aku ingat bagaimana aku tertawa saat dokter harus menjahitku, dan bagaimana aku merasa begitu kuat. Aku ingat setiap rasa pedih pertama kali meneteki bayiku, setiap kelelahan saat menyusui mereka, kenikmatan tidur di samping mereka, setiap keletihan dan keindahan sekaligus saat menggendong mereka…Dua kali aku melaluinya – dan merasa sempurna. Aku tiba-tiba ingat dengan semua saudara yang pernah kulihat saat-saat terakhir hidup mereka – budeku dengan senyumannya, tanteku dengan gurauannya, pakdeku dengan banyolannya. Aku tiba-tiba ingat pada kawan sekampusku yang meninggal dalam usia muda setelah beberapa bulan keliling Indonesia untuk pertunjukan teaternya.  Aku tiba-tiba ingat dengan saudara sepupu lelaki yang pernah menikahiku, yang menderita penyakit aneh di usia sangat muda; dan aku ingat bagaimana dia telah melaluinya dengan keindahan yang tak pernah bisa kupahami. Aku tiba-tiba ingat adik sepupuku yang menderita penyakit aneh ketika berumur enambelas tahun dan aku entah bagaimana mengapa merasakan hal yang sama — dan ternyata serupa apa yang kami derita — dan bagaimana kami sekarang dapat makan, minum, bercanda dan bergurau lagi.

Aku ingat suatu ketika tak seorang pun percaya aku benar-benar sakit, bahwa aku berpura-pura lemah, atau mengada-ada tentang rasa sakitku: ibuku datang dan menyelamatkanku. Dua kali ibuku datang dan menyelamatkanku. Dunia mengira aku bersikap lebay, manja dan cara hidupku mengerikan. Aku ingat ketika aku merasa berada di puncak kelelahan dan benih tiba-tiba tertanam di dalam rahimku yang merapuh dan melemah. Aku ingat keletihan yang menelanku, airmataku, kemarahanku, kegalauanku, dan putra ketigaku yang terlahir sebelum waktunya — aku ingat bagaimana waktu itu seluruh dunia menyalahkanku, dan aku menyalahkan diriku sendiri, dan kami semua memaksaku untuk berubah. Berubah menjadi kuat seperti yang lainnya sebagaimana cara yang lainnya biasa menjalani hidup…

Aku ingat dengan semua kelelahan luarbiasa yang tak pernah kumengerti, dan energi yang muncul ketika aku menulis dan membaca. Malam-malam yang dingin dan sunyi di Roma saat mengalami haid dan sama sekali tak bisa bangun, atau siang-siang yang panjang di Jakarta di mana aku sama sekali tak bisa menikmati cahaya matahari seperti orang-orang lain. Aku ingat bagaimana dunia di sekelilingku menyalahkan aku waktu itu, memintaku berubah untuk sesuatu yang tak bisa kuubah karena tak kupahami, dan aku tetap bersikeras menemukan malam, kegelapan, keheningan, buku-buku dan waktu untuk menulis dapat membuatku hidup, dan bugar kembali.

Ya. Malam, kegelapan, keheningan, buku-buku dan waktu untuk menulis. Tak seorang pun sepertinya (mau) mengerti bagaimana aku mendapat kekuatanku dari mereka. Aku tak tahu bagaimana menjelaskan bahwa aku bahagia bersama mereka.

Pada suatu ketika aku terbangun dari tidur panjangku, tiba-tiba semuanya menjadi jelas dan jernih sekali.

Aku ingat aku terlahir pada suatu malam, 35 tahun yang lalu, ke dalam sebuah tubuh yang mahaluas dan mahakudus. Lalu, aku diam.

Aku diam di dalam sangkarku.
Bojong Kulur, 14 September 2014

Keterangan *Penulis didiagnosis menderita lupus/SLE tepat pada hari ulangtahunnya yang ke35 tahun.

Comments are closed.