Tentang Sepasang Kekasih dalam Kabut

 turtle-coats

Kehidupan dan Kematian adalah sepasang kekasih yang bertemu pertama kali dalam kabut di hutan musim gugur. Di antara daun-daun yang rontok, kelopak-kelopak bunga yang melayang, dan angin yang berdesir, dihembuskan cinta kepada keduanya yang saling menatap dalam kabut. Setelah gerimis dan hujan, benih cinta pun tertanam di kedalaman jiwa mereka. Sambil memandang kepada satu sama lain dengan penuh kasih-sayang, Kehidupan meraih tangan Kematian yang dingin dan Kematian menggenggam tangan Kehidupan yang hangat. Dengan perlahan-lahan, mereka berdua bergandengan tangan berjalan ke dalam kabut.

 

Demikianlah, Kehidupan dan Kematian adalah sepasang kekasih yang saling jatuh cinta pada pandangan pertama dalam kabut di hutan musim gugur. Di antara batang-batang pohon yang menggigil, tangkai-tangkai daun yang ringkih, rintik gerimis dan hujan deras datang silih berganti, keduanya mabuk kepayang oleh cinta yang tumbuh subur di kedalaman hati mereka. Namun, angin kencang yang berhembus ketika mereka berdua berjalan menembus jembatan di kedalaman kabut, memisahkan keduanya. Tangan Kehidupan terlepas dari tangan dingin Kematian, dan tangan Kematian kehilangan genggaman erat tangan Kehidupan.

 

Sekarang, Kehidupan dan Kematian adalah sepasang kekasih yang saling merindukan di hutan musim gugur. Di antara dahan-dahan kering, burung-burung yang berhenti menyanyi, dan hujan lebat dari hari ke hari, keduanya mengisi hari-hari yang sunyi sendiri, berharap untuk bertemu. Di tepi danau berkabut, Kematian berdiri menanti Kehidupan dengan seluruh keyakinan tentang surga dan kedamaian. Di tepi sungai berkabut, Kehidupan duduk menunggu dengan seluruh keraguan tentang bahagia dan keabadian. Kematian berlari menelusuri kabut memanggil-manggil Kehidupan dengan putus asa. Kehidupan berjalan terseok-seok menyusuri kabut mencoba menemukan Kematian dengan harapan.

 

Maka, Kehidupan dan Kematian adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, terpisah dan tersesat di hutan musim gugur. Di antara langit yang selalu mendung, malam yang semakin panjang, dan bintang-bintang yang bersembunyi di balik awan, cinta keduanya semakin mendalam. Keduanya semakin hanyut dalam kerinduan, hilang tenggelam di kedalaman rindu yang lebih pekat daripada kabut demi kabut yang setiap detik harus mereka lalui sendirian. Sehingga tibalah saat-saat yang paling senyap, maka Kehidupan berhenti memastikan, dan Kematian berhenti mengharapkan. Mereka lenyap di kedalaman kabut, di kedalaman sunyi, di kedalaman sepi. Pada puncak keheningan, mereka berhenti saling mencari, dan berhenti saling menanti.

 

Kemudian, mendapat sebuah pesan dari langit yang mendadak terik, Kehidupan dan Kematian bangkit sebelum senja, mencapai fajar, pergi meninggalkan hutan musim gugur, melewati hutan musim dingin di balik gunung, lalu menuju hutan musim semi di seberang laut. Menempuh perjalanan sendirian dari kedalaman kabut ke kedalaman kabut, pada akhirnya Kehidupan kehilangan matahari, dan Kematian mendapatkan rembulan. Namun, tidak seorang pun tahu kapan sepasang kekasih ini akan bertemu lagi. 

11 September 2014

Comments are closed.