Tarian Jiwa dan Konspirasi Semesta

OLYMPUS DIGITAL CAMERA5 September 2014. Hujan tiba-tiba menjadi deras sewaktu taksi yang membawa kami meninggalkan Pamulang, Tangerang kembali ke Bojongkulur, Bogor. Sepanjang jalan, padat merayap bahkan juga di tol. Tiga jam di perjalanan. Airmataku masih menitik sewaktu kupandangi tetes hujan yang membasahi jendela di sampingku. Saya tahu saya seharusnya tidak boleh menangis lagi. Sebab, orang yang saya tangisi tidak pernah saya lihat menangis di depan kami. Sebab, orang yang saya tangisi mengajarkan hidup dalam kepedihan dan penderitaan dengan tawa, senyum, dan semangat yang selalu menyala. Tetapi, saya merasa sudah lama tidak menangis. Sewaktu saya memeluk sepupu saya, Rayi, kami jatuh menangis lama sekali.

Apakah engkau pernah melihat sehelai daun berwarna kuning yang hampir rontok pada musim gugur dengan angin yang kencang dan hujan yang deras? Apakah engkau pernah memperhatikan bagaimana daun itu berusaha bertahan pada ranting dengan tangkainya yang telah rapuh, bergoyang-goyang ditiup angin, lihatlah bagaimana ia menari waltz atau tari srimpi? Dan ketika angin bertiup semakin kencang, akhirnya daun itu jatuh juga, tetapi, coba amatilah, bagaimana ia jatuh ke tanah, lalu mulai menari salsa, samba atau tarian Cina yang lemah gemulai, sambil begitu dengarkanlah dengan seksama, bahwa suara angin itu tak lain adalah senandung musik yang merdu.  Jika kau melihat pohon-pohon lain, atau dahan-dahan lain, dengan daun-daun yang rontok bersamaan, perhatikanlah daun-daun itu seperti mabuk dalam alunan musik trans, tiupan seruling ney Mawlawi, permainan saz Bektashi atau tabuhan gendang Qawwali. Amatilah bagaimana daun-daun itu seperti menari bersama dalam lingkaran tarian para darwis. Lalu, ketika daun itu sudah bergabung di tanah, seperti berkerumun, maka ketika musik diputar kembali bersama angin yang bertiup: mereka mulai bergerak rancak, berjoget Melayu, dangdut, India…lalu semakin kencang musiknya, daun-daun itu bahkan berjoget seperti orang-orang di klub mendengar musik cadas, mereka meloncat, menghentak-hentakkan tanah, terbang, naik-turun, begitu lincah lalu akhirnya jauh, semakin jauh diseret senandung rock itu entah ke mana. Aku tak pernah memperhatikan lagi. Ada yang terseret ke sungai, tetapi ke mana sungai itu bermuara aku tak tahu. Ada tukang kebun yang menyapu mereka, tetapi dijadikan kompos atau dibuang begitu sajakah, aku tak tahu. Aku tidak tahu akhir hidup mereka sebagai daun, tetapi aku tahu mereka tidak pernah benar-benar mati. Mereka hanya bergerak, dan berubah maujud.

 5 September 2014. Eyang Tarni dipanggil Tuhan pulang kembali ke rumah-Nya. Sehari sebelumnya, saya seharian bersama putri kelimanya, pada hari ulangtahun saya yang ke-35, saya justru harus bertemu dokter spesialis yang terkenal dan paling ahli sehingga jumlah pasiennya sudah berderet-deret sejak jam tiga sore sampai jam delapan malam. Sebab itulah baru pada siang hari tanggal 5 kami baru sempat meniup lilin kue ulangtahun saya, dan begitu api lilin saya tiup, saya terima pesan dari Tante Ir, putrinya. Eyang Tarni telah menghembuskan nafas terakhirnya. Duh. Ke mana gerangan nyala api lilin yang saya tiup itu pergi?

Dua minggu terakhir ini saya sering membenak seorang perempuan yang tidak pernah saya kenal seumur hidup, tetapi tanpanya aku, ayahku, Tante Ir, Eyang Tarni, Eyang Martiyah, adik-adik saya, mungkin kami bukanlah kami yang sekarang. Perempuan itu bernama Lukito Asmoro (tertulis: Lukitaasmara; dibaca: Lukito-asmoro), entah siapa dia, mungkin itu pun bukan nama lahirnya, namun nama pemberian setelah ia mendapat gelar Mas Ajeng, dan nama pemberian yang melekat kepadanya sungguh indah. Keluhuran, kewelasasihan Cinta… Apakah ini bukan nama yang kebetulan? Saya sering membayangkan seperti apakah wajahnya. Apakah dia memiliki bentuk mata Eyang Tarni, apakah dia memiliki bentuk dagu Eyang Martiyah, ataukah yang terpenting dari semuanya dia memiliki ketabahan dan kekuatan cinta yang diwariskan kepada para keturunan perempuannya?

Eyang Putri Lukito Asmoro. Nama ini kelihatan begitu anggun. Saya seperti begitu sering melihat dia akhir-akhir ini. Pada perempuan-perempuan aktivis sahabat saya yang diam-diam harus melalui penderitaan sebagai isteri: entah dikhianati, entah disiksa, entah ditelantarkan, entah diabaikan, dan sebagainya. Saya sering melihatnya saat bercermin, atau saat salah satu adik perempuan saya tiba-tiba menangis… Di jalan-jalan, di mana saya melihat ibu bakul jamu bersepeda menjajakan jamunya, ibu penjual nasi uduk, atau pembantu rumah sibuk bekerja, maka saya lihat pula Eyang Putri Lukito Asmoro seperti ikut datang, dan ingin berbicara pada saya.

“Siapa dia, tanyamu?” Sekitar seratus tahun lalu, biar ini menjadi semakin misterius bagi saya, seorang perempuan (Apa kata adjektif yang harus saya tambahkan: cantik, muda, menarik dan atau cerdas? Saya rasa itu tidak perlu. Bukan saya pikir. Tapi, saya rasa begitu ) dipersunting oleh seorang pangeran dengan gelar Raden Mas Aryo yang juga menikah dengan salah satu putri Pakubuwono IX. Perempuan yang “tak dikenal” ini menikah dengan salah satu dari cucu Mangkunegaran III dari 23 putranya yang memberi keturunan (beliau mempunyai 42 orang putra). Maka, kemudian dia mendapat gelar Mas Ajeng, mungkin karena kastanya lebih tinggi, saya tidak tahu pasti tetapi namanya sejak itu adalah Mas Ajeng Lukito Asmoro. Mungkinkah dia selir kesayangan sang pangeran? Mungkin saja. Apakah itu penting? Tuan pangeran, Eyang Kakung, mempunyai empat orang isteri, tiga orang garwo ampil, dan seorang garwo padmi serta dikaruniai 15 orang anak. Dan, Lukito Asmoro melahirkan lima orang anak: tiga laki-laki dan dua perempuan.

Pernahkah engkau membaca “Gadis Pantai” karya Pramoedya Ananta Toer? Kadang-kadang saya membayangkan Eyang Putri Lukito seperti Sang Gadis Pantai, hanya saja nasibnya jauh lebih baik. Saya dengar, istana Mangkunegaran adalah istana yang sangat hangat kepada kaum perempuan. Meskipun secara pewarisan tahta sangat patriarkis, saya dengar dari pembicaraan para sesepuh, kerajaan kecil ini sangat menghormati garis matrilineal. Pendirinya, Eyang Sambernyowo, barangkali adalah feminis pada zamannya ketika dia mendirikan laskar perempuan untuk kerajaannya. Putri-putri Mangkunegaran di kemudian hari mendapat pendidikan yang memadai menurut zamannya, dan menikah dengan pria-pria terbaik pada zamannya pula.

Tetapi, pernahkah engkau membayangkan: karena leluhurmu seorang raja, dengan banyak selir, dan banyak sekali anak, dan sekarang kamu berada di zaman republik, tiba-tiba kamu duduk di sebuah mall mewah dan melihat orang melintas lalu-lalang sambil bertanya-tanya jika ada yang mirip wajahnya denganmu, apakah mungkin dia sepupu tingkat ke-4ku? Apakah kami punya kakek yang sama? Lalu….beberapa tahun berlalu: kau bertemu dengan seorang perempuan yang memiliki keanehan-keanehan, kegilaan-kegilaan serta kekuatan-kekuatan persis denganmu. Kau terkejut mengetahui kalau dia adalah sepupu tingkat ke-13mu.

Gerak maujud-maujud dalam lingkaran gradasi. Kalau kita mau melihat lingkaran gradasi dengan warna-warna. Konspirasi semesta menyebabkan maujud-maujud itu hanya bergerak menari bersama dalam satu kumpulannya dengan musik yang sama, jiwa-jiwa itu ditarik ke dalam lingkaran warna yang sama, ketika ia rela ditarik ke musik lain yang baginya lebih kuat dia akan bergerak ke sana, terus-menerus demikian. Secara sederhana, kita menyebutnya sebagai takdir pertemuan dan perpisahan. Saya dan pria yang dulu telah menikahi saya selama sebelas tahun dan memberikan kepada saya dua putri manis barangkali adalah sepupu tingkat ke-10.

Begitulah takdir yang telah memisahkan cucu-cucu Eyang Putri Lukito Asmoro yang berjumlah 21 orang – sekaligus mempertemukan mereka kembali.  Di antara mereka adalah Eyang Sumartiyah, perempuan yang telah melahirkan ayah saya. Beliau adalah putri bungsu dari Raden Ajeng Soemarni/Raden Ayu Djojosoepadmo. Tepat ketika Jepang datang sampai ke tanah Jawa, beliau dipersunting oleh seorang saudagar peranakan Tionghoa-Madura — suatu kelompok kekerabatan unik yang berkerabat jalin-kelindan dengan bangsawan Jawa dan Madura sejak lama yang bahkan telah mengadopsi sistem bilineal sukubangsa Jawa dan Madura. Eyang Martiyah menolak hidup di dalam istana menjadi pelayan Gusti Nurul, dan lebih memilih hidup jauh di sebuah kecamatan kecil dan sepi di pesisir utara Madura bersama kekasihnya, Abu Muthar. Dia hidup sederhana sebagai seorang istri pengusaha, sekaligus menantu seorang pengusaha dan tokoh perintis Muhammadiyah setempat.

Kira-kira sepuluh tahun kemudian, perkawinan cucu yang lain dari Eyang Putri Lukito Asmoro berlangsung lebih meriah. Maklum sudah zaman merdeka, dan yang menikah, Soetarni, adalah salah satu dari 13 putra Raden Mas Soemasoetargija. Dia dipersunting oleh seorang tokoh muda yang cemerlang, dan sedang menanjak cemerlang, Njoto, putra pertama dari Raden Mas Sosro Hartono, seorang pengusaha batik, yang sebenarnya diberinama Koesoemo Digdojo. Jadi, tentu, sebuah pesta perkawinan bangsawan yang meriah untuk masanya, dan kedua mempelai berdiri menatap masa depan yang cerah. Mereka lalu hidup di Jakarta, dan Njoto menjadi pemimpin  dewan redaksi koran beroplah terbesar di Indonesia, lalu juga menjadi salah satu menteri muda yang terkemuka.

Takdir! Kadang-kadang saya membayangkan takdir adalah gerak tari mengikuti senandung lagu di mana alam semesta ikut berkonspirasi ketika mendengar doa-doa, mimpi-mimpi dan harapan-harapan yang kita ucapkan di dalam hati, lalu alam semesta memutar musik dan jiwa-jiwa bergerak, tertarik dan atau terlempar ke lingkaran tarian dan musik yang lain.

Ketika sahabat-sahabat mulai mengenal lebih jauh tentang saya: mereka tidak akan menyangka saya berkerabat dengan siapa saja. Dulu saya ingat, waktu disuruh salah satu sepupu ibu saya memegang sebuah tamu di sebuah rumah sakit ketika salah satu sepupu ibu saya yang lain dalam keadaan koma. Tamu-tamu yang datang hampir semuanya saya kenal sebagai sahabat dan teman-teman ayah saya. Banyak dari mereka yang tidak tahu bahwa saya juga keponakan pasien yang sakit, hanya tahu saya ya anaknya ayah saya saja. Bahkan saya dapat merasakan keheranan mengapa sayalah yang ditugaskan meminta mereka mencatat ke dalam buku tamu. Siapa yang mengatur bagaimana ibu saya, yang bersepupu dekat dengan Umar Kayam, akhirnya menikah dengan ayah saya yang juga seorang sastrawan? Karena pada masa itu sudah bukan zaman menikah dijodoh-jodohkan dalam kehidupan para priyayi Jawa modern. Maka… Inilah tarian jiwa yang bergerak mengikuti senandung lagu itu!

Pada masa itu di tahun 1964, ayah saya sebagai mahasiswa muda dan penyair bergabung dalam gerakan Manikebu. Dan, sebagai cucu dari seorang perintis Muhammadiyah di kampung halamannya, ia ikut merintis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah bersama Amin Rais, Slamet Sukirnanto, dll, sekali pun telah menjadi anggota HMI. Ayah saya tumbuh menjadi  sastrawan yang karya-karyanya sangat bercorak Islam, khususnya tasawwuf, meskipun tetap aktif dalam Muhammadiyah. Ia bersahabat baik dengan Gus Dur, Kuntowijoyo, Taufik Ismail, dan kaum intelektual serta seniman/budayawan dari kelompok Islam tradisional dan modern.

Sementara masa-masa pasca September 1965 dilalui dengan baik oleh keluarga Eyang Martiyah, masa-masa itu dilalui dengan sangat pahit dan menyakitkan oleh keluarga Eyang Tarni. Bersama lima anaknya yang masih kecil, bahkan si bungsu baru lahir, beliau dipenjara – sedangkan suaminya diambil paksa, dan dibunuh entah di mana. Kesalahan Eyang Tarni adalah karena ia menjadi istri yang setia dan penuh cinta kepada Eyang Njoto, tokoh PKI yang penuh talenta dan kecerdasan luarbiasa, serta dicintai Soekarno. Statusnya sebagai putri Mangkunegaran – sama seperti Ny. Tien Soeharto – tidak dapat membebaskannya dari penjara. Bayangkan, keduanya sesama canggah Mangkunegaran III (dan saya masih ingat bagaimana ibu saya bisa ikut pertemuan keluarga besar MN III di Istana pada zaman Orba).  Meskipun seorang putri, dari kekerabatan yang sama, Eyang Tarni tetap dipenjara selama 13 tahun sekalipun ia mengatakan tidak pernah mendapatkan kekerasan dalam bentuk apapun. Tujuh anaknya dibawa dan diadopsi oleh saudara-saudara yang lain.

Tetapi…takdir punya cerita yang indah tentang bagaimana jiwa seharusnya menari mengikuti senandung lagu yang kautertarik dan tenggelam di dalamnya. Daun-daun yang telah ditakdirkan rontok pada musim gugur, menari dengan indah dalam hujan dan angin yang datang silih berganti menghiasi musim itu. Kekasih-kekasih bertemu dengan sangat romantis, berciuman dan berpelukan di bawah pohon yang daun-daunnya sedang menari; atau kekasih-kekasih berpisah di antara derai hujan dan payung-payung yang terlepas terbawa oleh angin kencang.

Pada tahun 1980an tak lama sesudah adik kedua saya lahir, ayah dan ibu saya menyewa sebuah rumah kecil di daerah Jati Rawamangun. Beberapa meter dari situ, Eyang Tarni yang baru keluar dari penjara hidup bersama putri pertamanya dan beberapa anaknya yang lain. Mereka bergaul akrab sebagai tetangga. Saya yang masih kecil dan adik saya yang masih balita menggemaskan bagi mereka. Sampai situ, apakah kami tahu bahwa kami adalah sama-sama cucu Eyang Putri Lukito Asmoro, cucu Eyang Kakung Puspingrat? Tidak, belum. Pada suatu pesta pernikahan, ketika ayah dan ibu saya datang dan melihat keluarga mereka juga ada di situ, barulah terungkap semuanya.

Beberapa puluh tahun terpisah, saya tidak tahu dengan pasti dan tidak mau menghitungnya, Eyang Martiyah bertemu dengan saudara sepupunya Eyang Tarni. Saya tiba-tiba membayangkan ini dengan salah satu dari enambelas orang sepupu dari sebelah ibu saya (karena dari sebelah ayah jumlah kami cuma enam orang). Di satu masa entah kapan, dua puluh tahun lagi mungkin cucu-cucu kami saat tak sengaja bertemu di sebuah kafe di sebuah kota di Praha, baru mengetahui mereka bersepupu ketika mereka menelusuri akun facebook kami sambil menunjukkan bahwa nenek mereka sama-sama pernah ke kota itu. “Eh, ternyata nenek kita bersaudara sepupu ya!”

Maka, sejak itulah, kami menjadi sangat akrab. Eyang Tarni menjadi pengganti Eyang Martiyah bagi saya, adik-adik saya, juga ibu saya. Kami sering bermain di sana, makan, minum, tidur, juga didongengkan oleh Eyang Tarni. Eyang Tarni dan putri sulungnya Svetlana menyukai sastra, betapa menyenangkan masa kanak-kanak kami waktu itu… Saya masih ingat tawanya, senyumnya, caranya bercerita, keasyikan dia ketika membaca buku, dan keanggunannya sebagai putri bangsawan. Oh! Tiba-tiba, saja sekarang, sambil menulis, saya menyadari cara Eyang Tarni tersenyum dan cara Eyang Martiyah tersenyum — mungkinkah diwariskan dari Eyang Putri Lukito Asmoro? Tersenyumlah betapapun pahitnya kehidupan!

(Aduh! Kekuatan yang aneh…tiba-tiba sekarang mengalir, tiba-tiba saya merasa Eyang Putri Lukito Asmoro ada di samping saya dan tersenyum kepada saya. — Sebentar Eyang, saya harus makan. Saya harus makan agar bisa tetap tersenyum dan melanjutkan tulisan ini. Nah, Eyang…sekarang sudah kembali.) rome passionisti home

Di zaman merdeka, putri-putri bangsawan Jawa yang telah mengenal akrab gagasan-gagasan Kartini telah mulai menolak poligami, suatu praktek yang pada masa itu memberi andil kepada ketimpangan dan ketidakadilan dalam kehidupan bangsawan Jawa. Para ayah dari bangsawan Jawa pun telah menjadi feminis-feminis baru pada masanya, mereka tidak ingin putri-putri mereka menjadi madu atau dimadu oleh menantu-menantu mereka. Mereka mengirimkan putri-putri mereka ke sekolah yang terbaik: untuk menjadi guru, perawat, bidan, dokter, dan bidang keahlian lain. Itulah sebabnya, sejak mulai itu, para priyayi perempuan mencemooh praktek poligami, dan para priyayi pria beradaptasi dan berevolusi menjadi para monogamis yang manis, setia, dan penuh tanggungjawab. Barangkali itulah sebabnya Ny. Tien Soeharto yang juga canggah Mangkunegaran III dari ibunya (saya tidak tahu silsilahnya) mendorong peraturan dilarang berpoligami bagi semua PNS dan TNI/Polri tanpa izin atasan.

Sewaktu beberapa waktu silam saya membaca kisah perselingkuhan Eyang Njoto dengan seorang agen KGB Rusia yang konon adalah jebakan untuknya, entah bagaimana, walaupun saya sangat terkejut, saya merasa tidak asing…Entah bagaimana saya seperti melihat Eyang Lukito Asmoro…dia sedang membersihkan kaca jendela, samar-samar benar dan saya ingat cerita ibu saya ketika ibunya, seorang Raden Roro dari Tuban, merasa heran waktu berkata, “Diajeng Martiyah itu cantik sekali. Kok bisa ya dimadu?” Lalu ibu saya berkata bahwa ayah saya merahasiakan hal itu bertahun-tahun bahwa ayahnya (yang dulu berkorban melalui kesulitan untuk melamar nenek saya di Solo dari Madura pada saat Jepang mulai masuk Jawa) itu menikah lagi dengan seorang janda – yang saya tidak pernah saya tahu siapa. Dan, saya masih melihat Eyang Lukito Asmoro tersenyum di balik jendela, dengan sanggul, kebaya, dan jarik, tapi jendelanya masih berkabut. Bahwa kisah cinta Eyang Njoto dengan Eyang Tarni diakhiri  dengan tragis, tak tahu di mana rimbanya kadang-kala Eyang Tarni saat pikun sudah merambah usianya bertanya kapan suaminya pulang dan sedang apa…sementara kisah cinta Eyang Martiyah begitu sederhana: dia tampak ikhlas pada apapun yang telah dilakukan oleh suaminya. Semasa akhir hidup kekasihnya dialah yang merawat dan mengurus suaminya. Betapa aneh kalau diingat bahwa Eyang Djojosoepadmo ayah dari Eyang Martiyah hanya beristri satu, sedangkan Eyang Soemasoetargija ayah dari Eyang Soetarni mempunyai dua istri. Tersenyumlah! Apakah itu yang ingin Engkau katakan padaku, Eyang Lukito Asmoro?

Mungkin karena ada darah bangsa Tionghoa yang mengalir juga pada darah saya, sekarang tiba-tiba saya teringat pada film Disney terkenal Mulan yang datang meminta doa restu para leluhur dari sebelah ayahnya, lalu roh para leluhur itu mengadakan rapat. Pikiran liar dan nakal saya membayangkan bagaimana para leluhur kami mendoakan dan melakukan hal yang sama seperti dalam film tersebut…kemudian alam semesta berkonspirasi ikut memutar musik dan lagu yang sama agar anak dan cucu yang berserakan dapat berkumpul dalam lingkaran yang sama, menari dan berdansa dalam satu lingkaran.

Baru setelah menjadi mahasiswa jurusan sejarah Unpad, saya mengetahui siapakah suami Eyang Njoto. Itu pun masih samar-samar, sedikit demi sedikit informasi saya peroleh tentang siapa beliau, siapa dan bagaimana mereka berdua bertemu, dipertautkan dan melalui semua tarian dalam senandung lagu itu…

Guru pertama bahasa Inggris saya adalah Svetlana Njoto, perempuan yang seharusnya saya panggil Bude karena Eyang Soemasoetargija adalah kakak laki-laki dari Eyang Soemarni – sebab dalam unggah-ungguh atau budi bahasa tradisi Jawa panggilan nama depan dalam kekerabatan mengikuti silsilah, bukan usia. Tetapi, entah bagaimana kami tidak menaati unggah-ungguh itu dan memanggil semuanya dalam panggilan bahasa Belanda, Tante dan Oom. Kami sama-sama mencintai sastera, dan adik perempuannya Risalina mencintai seni lalu menikah dengan seorang pelukis — sedangkan ibu saya seorang pelukis — kemudian adik perempuan saya ada yang menjadi jurnalis seperti ayah saya, dan adik bungsu saya pandai bermain musik — karena seluruh keluarga ibu saya, pandai bermain musik, begitu juga suami Eyang Martiyah, Abu Muthar seperti Njoto, juga mahir bermain biola. Setelah menjadi mahasiswa sastera lalu mahasiswa sejarah, saya suka menjadi aktivis dan lambat laun, saya menjadi sangat dekat dengan puteri Eyang Tarni yang juga aktivis sosial, Irina. Aliran, ideologi, dan bahkan agama yang kita anut bisa begitu berbeda bahkan bisa begitu bersebarangan: tetapi kita justeru dipersatukan dalam sebuah tarian!

Yang lucu, adik sepupu saya yang di Madura – cucu Eyang Martiyah juga – tahun ini akan menjadi sarjana sejarah dari Universitas Negeri Malang, sementara tahun ini putra bungsu Svetlana – cucu Eyang Martiyah – justru baru masuk jurusan sejarah di Sanatha Dharma. Nah yang terakhir, kami juga menderita suatu penyakit yang hampir mirip. Kepada sang calon sarjana dulu sewaktu dia baru masuk pernah saya ejek, “Ngapain ikut-ikutan gue, Dik?” Begitu pun ketika saya dengar adik sepupu yang satu lagi ini memilih jurusan sejarah. Mereka tertawa. Ya, ampun! Apa dalam keluarga ini perlu begitu banyak sejarawan?

Ah…tarian dalam sebuah lingkaran mengikuti senandung lagu yang diputar oleh konspirasi semesta. Malam ini, saya melihat Eyang Putri Lukito Asmoro telah melambaikan tangannya. Dia sedang senang sekali karena cucunya yang hidupnya penuh kepedihan, Eyang Tarni, sudah bertemu kembali dengan kekasihnya. Mungkin besok malam, Eyang Martiyah dan Engkong Abu Muthar akan mengundang Eyang Tarni dan Eyang Njoto makan dan minum-minum. Kedua kakek itu akan beradu bermain biola, walaupun sudah pasti Eyang Njoto jauh lebih mahir, barangkali juga mereka bicara dalam bahasa Jerman atau malah bahasa Madura? Paling tidak mereka tidak akan berdebat antara Masyumi atau Komunis di sana, karena di sana tidak ada politik dan tidak ada pemilu… Sementara itu Eyang Martiyah dan Eyang Tarni sambil bertukar resep masakan, menceritakan tentang kami cucu dan cicit-cicitnya. Beberapa dari kami juga ada yang baru bangkit dari penderitaan karena cinta… dan mereka pasti akan berkata, ayo kita bisikkan agar mereka tersenyum. Tersenyumlah! Nenek kita bernama Lukito Asmoro.

Di sebuah jalan bukan tidak mungkin saya bertemu dengan satu dari sekian ribu sepupu ke-6, ke-7, ke-8, hingga ke-14 saya, tetapi karena konspirasi semestalah yang memutar musik dan menggerakkan saya, menyeret saya ke dalam lingkaran untuk menari… Bahkan meskipun jarak silsilah antara saya dengan sepupu ke-2 saya lebih dekat, musik dan tarian itulah yang membuat saya bisa lebih dekat dengan sepupu ke-4, ke-8, bahkan sepupu ke-13 saya…. Sampai suatu saat ketika saya berjalan, duduk, dan melihat kerumunan manusia, atau orang-orang yang melintas, saya merasa yakin bahwa mereka kemungkinan besar adalah saudara-saudara saya yang lebih dekat jaraknya dari silsilah ke Nabi Muhammad, apalagi Nabi Adam. Entah bagaimana mereka semua bertaut. Mbok-mbok di pasar  dan naik sepeda, sampai kepada gadis-gadis kaya yang menenteng belanjaan dan naik mobil mewah…Saya melihat Eyang Lukito Asmoro di antara mereka, sesuatu yang tidak boleh saya remehkan! Mengapa saya terus-menerus “dihantui”nya?? Orang Jawa, Cina, Arab, Madura, Batak, Melayu, Minang, Sunda, Makasar, India, Bule, Afro… tiba-tiba semuanya tidak penting lagi karena ternyata tautan-tautan itu begitu jelas seperti dalam buku-buku silsilah yang saya pelajari berjam-jam!

Melalui konspirasi alam semesta
Dengan campurtangan para leluhur,
Musik dimainkan, lagu-lagu disenandungkan.
Jiwa-jiwa yang bergerak terus bergerak
menari, mengikuti irama yang memilihnya,
Irama yang mendorongnya masuk ke dalam lingkaran….
Adakalanya kita ditakdirkan berpisah lama sekali untuk bertemu lagi.
Atau memang sudah saatnya berpisah!
Karena kita sudah tidak bisa menari bersama lagi, 
Karena lagunya sudah tidak menarik menyeret kita terhanyut di dalamnya!
Tapi kita tetap bergerak…
dan tetap tertautkan karena kita semua masih menari!

Saya tersenyum memandang foto Eyang Tarni. Saya tersenyum memandang foto Eyang Martiyah. Senyuman mereka. Lebar-lebar. Tanpa khawatir menunjukkan gigi atau kekurangan pada bibir. Tak ada keraguan sedikit pun. Dilepaskan begitu saja. Dari siapa mereka mewarisinya? Entahlah, itu tidak penting lagi. Sayalah dan saudara-saudara sayalah yang harus tetap mewarisinya karena kamilah yang masih harus mengisi kehidupan sebagai manusia di muka bumi saat ini. Bahkan Anda pun boleh mewarisinya karena siapa tahu…kita sepupu kesekian puluh, tak penting karena tarianlah yang akan mempertemukan kita!

“Saat ini…saat masih hidup di dunia ini: Kita bukan manusia yang sedang berjalan sebagai makhluk spiritual,  tetapi kita adalah ruh (makhluk spiritual) yang sedang berjalan sebagai manusia.”  Karena tak tahu kapan  musim dingin akan dimulai dan kapan akan berakhir: Maka… marilah menari seperti daun-daun rontok musim gugur! Marilah terus menari untuk menjadi manusia! Sebagai manusia!

Bojongkulur, Bogor, 6 September 2014.

eyang1

Eyang Tarni dengan para cucu dan cicitnya

Eyang Tarni dengan para cucu dan cicitnya

 foto-foto jepretan sendiri dan koleksi pribadi

2 responses to “Tarian Jiwa dan Konspirasi Semesta

  1. Daradjadi Hoesodo

    dimanakah Bu Tarni dimakamkan ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s