Kehidupan adalah Kuburan yang Indah

SejarahMalam ini Ibu merebus daun sirsak untuk diminum kami bertiga. Di rumah ini ada tiga orang yang menderita sakit yang kambuhan, tetapi akulah yang termuda dan paling merepotkan.

Aku baru keluar dari ruang praktek dokter, dan duduk terdiam di depan apotek menunggu obat, tetapi tidak kuasa menahan air mataku. Setelah dari rumah sakit, aku pulang sebentar ke rumahku, rumah yang baru kutempati. Aku mencoba merapikan, menyusun tumpukan buku-buku yang selama ini selalu menjadi kekasihku. Setelah semuanya rapi, tetanggaku yang biasa membantuku mencuci dan menyapu, muncul dan kukatakan kepadanya aku masih harus kembali ke rumah orangtuaku. Penyakitku sedang kambuh. Waktu kami duduk, kulihat rumah yang sudah kutata dengan perasaan bahagia. Aku selalu suka rumah yang rapi;  buku-buku terkasihku di lemari berderet maupun bertumpuk anggun; suvenir kenang-kenangan dari sahabat-sahabatku; dan lukisan goresan ibuku. Aku tiba-tiba ingat aku sudah memesan seekor kura-kura kepada sahabatku, sambil memikirkan akan kuberi nama Picasso, Gogol, atau Debussy.

Aku menulis kali ini sangat personal…tetapi sungguh aku tidak bermaksud untuk mengglorifikasi dan membagi derita-derita yang telah kualami, sebab takaran cawan penderitaan setiap orang berbeda-beda. Tetapi, aku menulis untuk mereka yang mungkin sedang mengalami apa yang pernah kulalui, supaya siapa tahu kalau mereka membaca, mereka akan segera keluar dan mengambil keputusan terbesar dalam hidup mereka sehingga tidak harus jatuh dalam penyakit seperti yang kuderita – atau kebanyakan perempuan yang kukenal derita.

 Sepanjang perjalanan pulang ke rumah orangtuaku, melewati jalan kampung, sawah, dan kuburan di depan mesjid, perasaan iri hati menyelinap jauh di dalam kalbu. Aku tidak tahu harus marah dan menyalahkan siapa. Aku sudah pernah berkata “Tidak”, “Tidak Lagi”, “Cukup Di Sini”; tetapi seakan-akan suaraku seperti bisikan atau bahkan rengekan anak kecil yang manja dan rewel. Ketika aku rapuh, ketika aku berada di titik nadir, orang yang sepatutnya menopang dan menjadi tempatku bersandar justeru menjatuhkan dan membantingku. Ketika aku hanya membutuhkan sebuah pelukan atau sebuah bahu, aku justeru didorong dan dibiarkan berjalan terseok-seok sendirian. Ketika aku memutuskan pergi, dan jauh berlari, aku justeru dianggap berkhianat. Ketika aku menemukan sahabat-sahabat tempat berbagi, mereka malah memanfaatkan ketulusan dan kepolosanku, mendorongku jatuh ke dalam jurang. Mereka semua yang mana hatiku pernah begitu tulus mencintai, mereka berkata aku hanya pergi untuk mencari kebebasan dan mendapatkan pria-pria lain dalam hidupku. Mereka bergunjing di ruang-ruang rahasia membicarakan betapa aku perempuan nakal yang tidak tahu malu dan tidak tahu bersyukur.

Sekarang lihatlah aku, betapapun cantik menarik yang kalian lihat di foto dan di gambar-gambar, aku hanya seonggok tubuh penuh luka di dalam maupun di luar. Kemungkinan aku harus bergantung dengan obat-obatan seumur hidupku, entah obat-obatan kimia modern, entah obat-obatan tradisional. Aku tidak boleh capek sedikit, aku tidak boleh stress sedikit, kalau tidak penyakitku kambuh. Aku bahkan tidak ingin anak-anakku melihatku keadaanku yang lemah, rapuh dan ringkih ini.

Ya, perasaan iri tiba-tiba menyelinap dalam hatiku, mencoba membusukkan hatiku yang sudah berdarah-darah ini. Mereka yang pernah menahan, mengusir, menghina, memanfaatkan dan menyakitiaku – mereka bisa makan dan minum apapun yang mereka suka dan mereka mau. Sementara aku, menjadi begitu cerewet dalam makanan. Sering aku merasa kasihan dengan tukang penjual makanan jika aku harus makan di luar rumah: Tolong jangan pakai ini, itu, anu dan entah apa lagi. Kalau salah sedikit saja, aku sama sekali tidak bisa memakannya. Makananku jadi mubazir, dan itu sering sekali terjadi. Kadang tak sengaja ada merica. Kadang terlalu panas. Benar-benar cerewet, padahal aku dulu terbiasa makan apapun selama halal – bahkan saat di negeri orang sulit makanan halal pun kuturunkan standar halalku. Ya, perasaan iri menyelinap menjalari hatiku. Mereka bisa bekerja melakukan pekerjaan yang mereka sukai maupun pekerjaan di mana mereka bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk bersenang-senang, sedangkan aku, capek sedikit aku harus berbaring, keluar rumah harus berpikir panjang di mana makan dan minumnya. Uang tabunganku sudah habis sama sekali, dan aku kembali seperti anak kecil yang bergantung kepada orangtuaku untuk hidup sehari-hari. Ya, bahkan mereka bisa menemukan perempuan cantik dan menarik mana pun yang mereka mau dan mereka sukai. Sementara aku, berpura-pura tertarik, berpura-pura tersenyum, tetapi jauh di dalam diri,  aku benar-benar tahu diri.  Aku bukan lagi gadis 17 tahun dengan wajah halus, kulit mulus dan tubuh segar. Aku pelanggan setia seorang dokter tampan, dan konsumen setia obat-obat yang diraciknya. Jika bercermin dengan tubuh telanjang atau menatap jari-jemari dan kulitku yang keindahannya direnggut oleh penyakitku, airmataku pun tak akan dapat membasuhnya agar kembali seperti dulu.

Kemudian, aku mulai menyalahkan diriku sendiri. Mengapa aku menunda, mengapa aku dulu tidak bersikeras dan bersiteguh sebelum aku sampai jatuh sakit seperti ini? Bukankah aku percaya dengan kata-kata Ilahi lewat hatiku, bukankah aku waktu itu aku masih punya cukup banyak kekuatan? Sekarang lihatlah, betapa pun aku telah memaafkan mereka, bagaimana pun mereka telah mengasihani aku, atau jika mereka membiayai pengobatanku sekali pun, sakit dan derita ini juga yang harus kutanggung sendiri. Ah…Aku mulai bersikap keras kepada diriku sendiri.

Lalu, aku teringat Sayyidina Yesus alaihissalam pernah bersabda, “Cintailah musuhmu.” Sebaiknya aku harus mulai berusaha mencintai musuhku itu, yaitu diriku sendiri. Apa gunanya penyesalan ini? Apa gunanya iri hati itu? Karena melukai diriku sendiri, aku kehilangan banyak hal. Karena pernah membenci diriku sendiri – dengan melakukan sesuatu yang melukai diriku sendiri, aku kehilangan hidup yang seharusnya dapat kunikmati. Aku harus berdamai dan berhenti menyalahkan diriku sendiri. Aku harus berhenti menyesali. Aku berkata kepada diriku sendiri, aku mesti kembali mencintai, mengasihi, menyayangi diriku sendiri. Aku harus berulang kali jatuh bangun, jatuh cinta pada diriku sendiri. Aku harus terus-menerus merindukan diriku sendiri. Sebab di dalam keadaan seperti sekarang, menyalahkan orang-orang yang dulu tak mau mendengarku, menyalahkan mereka yang menghina aku, bahkan menyalahkan diriku sendiri sama sekali tak berguna. Aku sendiri juga yang akan menanggung penyakitnya, merasakan perih dan pedih sakit yang kuderita ini.

Bukankah Allah bersemayam di dalam diri ini, maka mula-mula sebelum mencintai yang lainnya, aku harus kembali belajar mencintai Allah yang bersemayam di dalam diri ini. Bukankah tubuh ini adalah kuil agung-Nya? Bukankah hati ini adalah rumah-Nya?

Lagipula mengapa aku harus takut mati, jika memang kematian menjemput usia mudaku. Aku ingat perjalananku yang menyenangkan bersama pakde, bude, paman dan bibiku ke Taman Pemakaman Citrosoman, taman pemakaman orang-orang ningrat di Tuban. Aku pernah bertanya, jika aku mati nanti, apa aku boleh dimakamkan di sana? Walaupun sekarang, setelah kupikir-pikir, apa aku pantas aku dimakamkan di taman pemakaman yang indah dan asri itu bersama kakek, nenek, dan para bangsawan keren di sana? Juga pengalamanku menziarahi taman pemakaman keluarga di Pasongsongan, taman pemakaman yang tidak terawat, walaupun sudah sangat tua usianya, aku bahkan merasa tetap tidak layak dimakamkan di sana bersama para leluhurku yang mulia, luhur, dan agung sepanjang hidup mereka itu.

IMG_20140628_175529Kehidupanku sekarang mungkin adalah kuburan indah, seperti taman pemakaman para bangsawan dan orang-orang kaya… malam maupun siang tiada bedanya, ramai hanya pada hari-hari tertentu, tetapi pohon, bunga, dan angin semilir tetap selalu sama dalam kesunyian dan keheningan mereka. Kesendirian adalah kekasihnya, walaupun batu-batu nisan begitu banyaknya, roh-roh berkumpul pada tempatnya masing-masing, dan penjaga kuburan rajin membersihkan daun-daun yang rontok dan memangkas rumputnya.

Aku berharap tidak perlu lagi ada yang menderita seperti aku, seringan apapun deritaku ini – ada yang melalui hal-hal lebih buruk atau lebih ringan daripadaku aku lalu harus menderita kanker, menderita penyakit ginjal, jantung dan liver, serta entah apa lagi. Aku berharap mereka bisa keluar sebelum terlambat. Aku berharap mereka tahu, jauh lebih baik dihina, dicaci dan dimaki daripada tubuh kehilangan kekuatan dan dayanya untuk menopang hati yang sudah terluka dan jiwa yang sudah dihancurleburkan.

Aku berharap mereka menyadari sebelum terlambat, bahwa masih ada sahabat-sahabat yang benar-benar tulus dan selalu siap untukmu. Aku berharap mereka tidak terlambat menyadari, sebagaimana aku terlambat menyadari ada seseorang — bahkan orang-orang — yang selalu menelepon menanyakan kabarku dengan cemas, memintaku meneleponnya (atau mereka) jika aku mengalami suatu masalah apapun, menatap kedua mataku dalam-dalam tanpa menginginkan apapun dariku kecuali keadaan yang terbaik bagiku dan yang paling aku sukai; dan dia/mereka yang diam-diam selalu mendoakanmu kendati tidak seagama dan seiman denganmu.

Dan…dia…dan atau orang-orang itu….di dalam mereka bersemayam juga Allah. Melalui mereka, Allah juga ingin menjangkauku, menginginkan aku bangkit, hidup dan bersemangat mengenal-Nya kembali.

Semoga saja.

Sebab pohon-pohon berbunga pun bisa tumbuh begitu indah di taman-taman pemakaman orang-orang biasa sekalipun. Bunga-bunga mereka dapat menjadi parfum, dan daun-daun mereka yang gugur dapat menghiasi makam-makam yang gersang. Bahkan, rumput-rumput yang tumbuh menjadi ilalang, jauh lebih indah daripada seorang perempuan yang menangis di dalam hatinya selama bertahun-tahun dan menumpuk airmatanya menjadi penyakit abadi. Kuburan yang indah.

Mungkin juga kehidupanku sekarang ini.

Bojongkulur, 19 Agustus 2014.

Comments are closed.