Perempuan, Wong Cilik, Heterodoksi & Islamisasi ala Bektashiyah

Perempuan, Wong Cilik dan Heterodoksi dalam Mazhab Sufi Bektashiyahh serta peran mereka dalam penyebaran Islam ke Eropa

TULISAN INI TERBAGI ATAS:

  1. MUKADIMAH
  2. HAJI BEKTASH WALI
  3. BEKTASHIYAH
  4. PEREMPUAN
  5. WONG CILIK
  6. HETERODOKSI
  7. ISLAMISASI EROPA ABAD PERTENGAHAN

Tulisan ini dibuat sebagai ringkasan dari berbagai buku mengenai Bektashiyah dan ditulis dengan mengambil jarak maupun tidak mengambil jarak karena penulis bukan seorang Alevi, maupun bukan beraliran Bektashi Albania atau Bosnia, yaitu dua jenis Bektashi yang lebih sering disorot dan dikaji, akan tetapi penulis mengakui Haji Bektash Wali dan banyak menerima pengaruh sufistik dari aliran Bektashiyah. Posisi penulis bukanlah pengkaji ilmiah melainkan seorang pengikut aliran Sufi ini dari cabang Bektashiyah yang selain yang mayoritas.

MUKADIMAH

 Lion-Ali1Seperti kebanyakan mazhab yang terkait dengan keimanan terhadap Sayyidina Ali (sahabat Rasulullah, sepupu dan menantunya serta khalifah ke-4), serta keimanan terhadap 12 Imam penerus Muhammad (saw), mazhab sufi Bektashiyah termasuk mazhab sufi yang paling mudah disalahpahami dan mendapat julukan-julukan yang menunjukkan ia merupakan aliran yang sesat.

 Kita harus memahami situasi dan kondisi di mana para pengikut setia ahlulbayt tidak pernah dapat hidup damai, sering dikejar-kejar, ditindas dan dizalimi oleh penguasa atas nama Islam. Untuk melestarikan ajaran ahlulbayt dan memeliharanya dari generasi ke generasi maka mereka mesti melakukan banyak cara dan siasat, seperti bertaqiyah, mengajarkan dari murid ke murid secara rahasia, mendirikan tarekat-tarekat yang secara di luar tampak “pasifis” terhadap pemerintah setempat, menginfus budaya lokal dengan nilai-nilai/ajaran ahlulbayt sehalus mungkin, dan sebagainya.

 Demikian juga yang dilakukan oleh Haji Bektash Wali yang diwariskan kepada istri spiritualnya Kadincik Ana dan diwariskan kepada murid Kadincik Ana, Abdal Musa. Di kemudian hari baik Bektashi monastik maupun Bektashi urban mereka merahasiakan ajaran dalam tarekat mereka dari generasi ke generasi di lingkaran terdalam mereka sampai kemudian era keterbukaan informasi sekarang ajaran mereka dapat kita ketahui, kendati mungkin sudah banyak terjadi distorsi dan tetap ada hal-hal yang tidak diungkapkan kepada publik. Mungkin kita bisa melihat mereka di youtube menari semah, atau berzikir, tetapi tetap ada hal-hal tersembunyi yang tidak disampaikan secara terbuka. Itulah sebabnya tidak mudah untuk mengikuti bagian dari Alevi atau pun Bektashi yang sangat tertutup.

Di Bosnia, tarekat Sufi Rifai atau Rufai (Rifaiyah) yang merupakan perpaduan antara Bektashiyah dengan Naqsyabandiyah merupakan tarekat yang unik. Di kota-kota ia sangat dipengaruhi oleh Naqsyabandiyah, sedangkan di desa-desa (urban) sangat dipengaruhi oleh Bektashiyah. Secara prinsip, tidak ada perbedaan besar karena guru Naqsyabandi dan Bektashi bertemu di satu tautan jauh setelah Imam Ali. Yang membedakan adalah amalan, wirid-wirid dan disiplin lainnya. Naqsyabandiyah adalah tarekat Sufi yang paling banyak pengikutnya di Bosnia, melampaui pengikut Bektashiyah saat ini yang sudah sangat minoritas di Bosnia, meskipun penyebar Islam terawal di Bosnia adalah kaum Bektashi.

 Sifat tarekat-tarekat Imamiyah adalah jika sudah tiba pada momen yang tepat, mereka tidak akan selamanya menjadi tarekat pasifis terutama terhadap kezaliman dan ketidakadilan. Mereka mempertimbangkan sumber daya dan segala taktik untuk menjadikan pertempuran tidak sia-sia – meskipun tidak selalu terkait kepada kemenangan maupun kekalahan. Ada masanya mereka harus mengikut jalan Imam Hasan, dan ada waktunya menempuh jalan Imam Husein.

Sifat lain yang utama adalah mengenai perempuan atau kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Kultus kepada Fatimah az-Zahra adalah puncak faktornya. Kaum Alevi-Bektashi termasuk yang cukup ekstrim dalam mengamalkan kesetaraan antar laki-laki dan perempuan dibandingkan banyak mazhab Islam lainnya. Misalnya, dalam segi berpakaian sangat longgar, dalam hal semah tidak ada segregasi, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama berpartisipasi dalam semah atau tarekat; batasan gender nyaris tidak ada kecuali pada tingkat dede dan rehber sebab keduanya adalah representasi Nabi Muhammad, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husein – di mana jika ada seorang murshid perempuan adalah representasi Fatimah az-Zahra namun tersembunyi sebagaimana halnya beliau  sendiri.

Struktur Bektashi monastik dengan Bektashi urban terdapat perbedaan di antara keduanya, dan sedikit lebih kompleks, jika dibandingkan dengan Bektashi-lone-dervish system atau related-to-Bektashi order yang sangat sederhana.

Seperti lazimnya mazhab sufi, guru dari pendiri mazhab sufi ini adalah seorang darwis pengembara biasa, bukan seseorang yang pernah mempelajari ilmu agama, fikih, dll. Hampir tidak ditemukan seorang tokoh fikih di antara para walinya, melainkan orang-orang yang semula adalah wong cilik, seperti Yunus Emre yang menggunakan bahasa rakyat jelata dalam puisi-puisinya.

Perayaan Alevi-Bektashi di Istanbul

Perayaan Alevi-Bektashi di Istanbul

Tidak seperti kebanyakan mazhab sufi yang dipandang muktabar dan ortodoks, mazhab Sufi Bektashiyah selalu mendapat label “Islam heterodoks” mirip dengan para penganut atau pengikut tarekat-tarekat lokal di Jawa yang berpangkalkan ajaran dari Syaikh Siti Jenar, yang kerap disebut “Islam abangan” atau Kejawen istilah lain untuk “heterodoks.” Kaum Bektashi – kendati tidak semua – acap kali dikenal tidak mengamalkan fikih atau syariat seperti tidak melaksanakan sholat, minum minuman beralkohol dan menjalankan kehidupan selibat di dalam biara-biara, bahkan tidak menganggap perlu rukun naik haji ke Mekkah, cukup berziarah ke makam para wali setempat. Variasi mazhab Sufi Bektashiyah sangat beragam disebabkan setidaknya ada dua sampai tiga model dan masing-masing model melahirkan keragaman. Untuk menggeneralisasi – seperti kebanyakan peneliti Barat – bahwa seluruh pengikut mazhab Sufi ini tidak melaksanakan syariat sebagaimana para Muslim ortodoks adalah tidak adil; dan lagi pula ada sejarah politik yang panjang mengapa muncul label “heterodoks” itu sendiri; serta bahwa mereka terpaksa dan harus merahasiakan ritual-ritual mereka.

Akibat dari generalisasi yang dibuat ini bahkan menimbulkan perdebatan di kalangan para pengikut mazhab Sufi Bektashi sendiri sehingga mengklaim bahwa pondok, aliran, atau kelompok mereka-lah yang layak disebut “Bektashi” dan yang lain hanya mencatut nama Haji Bektash Wali. Dapat dipahami, karena, sejarah Sufi lebih banyak mengandalkan sejarah lisan daripada sejarah tulisan, ditambah model sejarah lisannya dibumbui mitos dan legenda yang tidak masuk kriteria dalam penulisan sejarah modern ala Barat.

HAJI BEKTASH WALI

 hajibektashwaliTord Olsson menyalin kembali catatan sejarawan abad ke-15 M yang bernama Ashikpashazade, yang merupakan keturunan Baba Ilyas, salah satu pemimpin utama Pemberontakan Baba’i yang telah mengguncangkan Kekaisaran Seldjuk. Ashikpashazade menggambarkan Haji Bektash sebagai seorang murid dari leluhurnya tersebut (Baba Ilyas). Hal yang serupa dilaporkan oleh Elvan Çelebi yang menulis pada abad ke-14 M dan juga merupakan cucu dari Baba Ilyas. Kita juga dapat menyebutkan kesaksian lain dari abad ke-14 M, dari Eflaki, yang menyatakan bahwa Haji Bektash al-Khorasani adalah seorang Khalife-i, seorang murid favorit dari Baba Rasul, alias Baba Ilyas.

 Dari sini kita mengetahui bahwa Haji Bektash “berasal dari Khurasan”, mengikuti Baba Ilyas. Istilah “berasal dari Khurasan” merupakan suatu ungkapan klise, yang lazim digunakan dalam kronik-kronik kuno dan hagiografis. Ia sebenarnya merujuk kepada konsep migrasi. Suku-suku Turki [Turkmen] mulai datang ke Anatolia pada akhir abad ke-11 M. Migrasi mereka menjadi sangat intensif pada abad ke-12, dan terutama sepanjang abad ke-13 M ketika mereka harus menyelamatkan diri dari serangan Mongol. Jalan yang harus dilalui para migran tersebut berasal dari Asia Tengah atau Transoxiana, melewati Khurasan, dan menyusuri sepanjang pantai Kaspia ke dalam wilayah Azerbaijan sekarang. Ia merupakan jalan yang ditempuh untuk menghindari padang gurun Iran. Jadi ungkapan “berasal dari Khurasan” tersebut berarti mereka adalah orang-orang yang terlibat bukanlah orang asli melainkan para imigran.

Haji Bektash, seorang darwis Turki, datang ke Anatolia menjelang tahun 1230, kemungkinan dalam rombongan para Kharezmian yang sedang mencari suaka perlindungan setelah penaklukan Kharezmi dari orang-orang Mongol.

Dinasti Seldjuk yang memerintah Anatolia [ketika itu] adalah pemerintah yang toleran dan pengertian. Mereka harus demikian disebabkan negara mereka dihuni oleh berbagai ras dan agama. Kota-kota dikuasai Seldjuk adalah pusat-pusat budaya dan kemakmuran. Akan tetapi suku-suku Turki adalah mereka yang cenderung suka berkonflik dan mencari ribut bagi kedamaian kota dan orang-orang teratur di kota-kota. Mereka menguasai tanah-tanah di mana mereka dapat menemukan padang rumput untuk ternak-ternak mereka dan menjadi semakin merepotkan ketika jumlah mereka meningkat. Haji Bektash pernah terlibat dalam pemberontakan Baba’i ketika saudara laki-lakinya Mintash terbunuh demi berperang atas nama Baba Ilyas. Namun, Haji Bektash tidaklah mengambil bagian dalam fase terakhir pemberontakan, yang berakhir dengan pembantaian di dataran Malya. Setelah beberapa tahun bersembunyi, ia muncul kembali di sebuah desa yang sekarang disebut dengan namanya, tetapi saat itu disebut “Soluca Kara Öyük” atau “Karayol.” Daerah ini kemudian diduduki oleh suku Oghuz dari Çepni. Meskipun ia bukanlah seorang Çepni, tetapi ia disambut baik oleh satu dari tujuh rumah di desa tersebut, di mana tinggal Kadincik Ana dan suaminya [Hoja] Idris.

new bektashi pictureDi sanalah, ia memimpin sebuah kehidupan dalam kekudusan dan perenungan. Ia tidaklah mendirikan satupun tarekat dan tidak memiliki murid. Menurut Ashikpashazade, tarekat yang membawa namanya didirikan setelah kematiannya oleh seorang perempuan, Kadincik Ana yang sama, yang entah adalah putri angkatnya, berdasarkan para sejarawan, atau istri spiritualnya, berdasarkan Vilayatname, kehidupan hagiografis sang wali. Kadincik Ana mendirikan Tarekat ini dengan bantuan muridnya, Abdal Musa.

 Meskipun sumber-sumber sejarah nyaris sangat sedikit, seluruhnya menggambarkan Haji Bektash sebagai seorang Sufi yang berasal dari suku-suku Turki. Lingkungannya sama dengan orang-orang Turki Usmaniyah yang berasal dari suku Oghuz di Kayi. Inilah yang mungkin dapat menjelaskan hubungan antara orang-orang Turki-Usmaniyah dengan para Bektashi perdana. Mereka berasal dari latar belakang sosial yang sama.

Dalam kehidupan hagiografis Baba Ilyas, Elvan Çelebi mengatakan bahwa Haji Bektash berhubungan dekat dengan Edebali, yang menjadi bapak mertua dari Osman Ghazi. Ia menyebut Edebali sebagai sahabat Haji Bektash. Walaupun kita tidak dapat menduga bahwa Haji Bektash mengenal Osman Gazi, sebab yang pertama telah wafat sebelum yang sesudahnya muncul di dunia pada akhir abad ke-13 M. Akan tetapi, pada periode Gazi berikutnya, di antara sahabat-sahabat Orhan Gazi, kita akan menemukan sejumlah darwis, termasuk Abdal Masa, pendiri dari tarekat pertama Bektashi. Para darwis ini ikut serta dalam penaklukan Thrace dan Balkan. Mereka telah menjadi para “ghazi”, para pahlawan perang Islam. Mereka memperoleh tanah-tanah di negeri-negeri taklukan. Mereka mendirikan zawiyah-zawiyah dan tekke-tekke, pondok-pondok darwis, yang kemudian menjadi pusat-pusat kebudayaan Turki dan pusat pengajaran agama.

Sementara itu, menurut tradisi lisan di kalangan pengikut Bektashiyah, nama lain Haji Bektash Wali (1248-1337) adalah Hunkar yang akrab dikenal sebagai Haji Muhammad Bektash Wali. Beliau lahir di Naishapur, Khurasan, Persia, Iran sekarang. Pada tahun 1209-1271 terutama menyebarkan ajarannya di Anatolia, Turki. Ia dianggap sebagai bapak atau patron tarekat yang kini dikenal sebagai tarekat Bektashi atau mazhab sufi Bektashiyah.

Haji Bektash Wali

Haji Bektash Wali

Haji Bektash Wali adalah keturunan dari Rasulullah Saw. Nasab lengkapnya adalah Hunkar bin Ibrahim al-Thani bin Musa bin Ishaq bin Muhammad bin Ibrahim bin Mahdi bin Muhammad bin Hassan al-Mujab bin Ibrahim al-Mujab al-Mukarram bin Musa al-Kazim bin Ja’far as-Shodiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Hussain bin Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

Silsilah spiritualnya secara lengkap ada dua jalur yaitu (1) Haji Bektash Wali kepada Syaikh Lukman Parende kepada Khwaja Ahmad Yesevi kepada Khwaja Yusuf al-Hamadani kepada Syaikh Abu al-Farmadi kepada Abu al-Hassan Kharkani kepada Abu Uthman Maghribi kepada Junayd al-Baghdadi kepada Imam Ali al-Riza kepada Imam Musa Kazim kepada Imam Muhammad Baqir kepada Imam Jafar as-Sodiq kepada Imam Muhammad Baqir kepada Imam Ali Zainal Abidin kepada Imam Hussayn kepada Imam Ali ibn Abi Thalib.

Jalur (2) adalah sebagai berikut yaitu Haji Bektash Wali kepada Syaikh Lukman Parende kepada Khwaja Ahmad Yesevi kepada Khwaja Yusuf al-Hamadani kepada Syaikh Abu al-Farmadi kepada Abu al-Hassan Kharkani kepada Abu al-Kasim Gurgani kepada Abu Uthman Maghribi kepada Syaikh Abu Ali Khatib al-Misri kepada Abu Ali Rudbari kepada Junayd al-Baghdadi kepada Syaikh Sariy as-Saqati kepada Ma’ruf al-Kharki kepada Dawud at-Ta’iy kepada Habib al-Ajami kepada Hasan Basri kepada Imam Ali ibn Abi Thalib.

Haji Bektash Wali meninggalkan sedikit catatannya dalam Sohbet-Sohbet (percakapan-percakapan spiritual) yang mengandung setidaknya lima karya: yang terbesar berjudul Maqalat. Karya-karyanya yang lain adalah Kitab al-Fawaid (Buku tentang Moral), Sharah al-Basmallah (Syarahan tentang Bismillah), Hurdenamah (The Small Treaties), dan Shatahiyyah (the Ecstatic Utterances).

BEKTASHIYAH

Para wali dalam aliran Bektashi

Para wali dalam aliran Bektashi

Mazhab Sufi Bektashi berkembang menjadi beberapa golongan. Dari dua bentuk yaitu tekke-tekke (pondok-pondok) yang terorganisasi yang terpecah kepada bentuk monastik dan semi-monastik; maupun Kizilbas yaitu mereka yang berpatronkan Haji Bektash Wali dalam tarekat mereka yang terpecah kepada kelompok Alevi dan kelompok para darwis pengelana atau para Kalendar.

 (1)  Bentuk monastik (kehidupan biara). Pada mulanya penyebaran Islam di Eropa, terutama di Balkan, seperti Bosnia, peranan para Bektashi sangatlah besar, terutama melalui akulturasi budaya Kristen yang kental dengan kehidupan monastik. Segera setelah perubahan politik dalam Turki Usmaniyah yang menghapus Janisseri (pasukan khusus tentara Turki Usmani), maka mereka menekan kaum Bektashi sehingga aliran-aliran Sufi lain berkembang sangat pesat di Balkan, khususnya Bosnia dengan hampir nyaris tidak meninggalkan jejak monastik ini lagi. Walaupun demikian, bentuk monastik (atau semi monastik, lihat nomer berikutnya) ini masih dapat ditemukan di Albania.

Haji Reshat Badi, salah seorang rehber, kepala dari para baba di Albania

Haji Reshat Badi, salah seorang rehber, kepala dari para baba di Albania

(2)  Bentuk semi-monastik. Untuk menghilangkan sepenuhnya peranan pendeta Ortodoks atau pastor Katholik di sepanjang wilayah Eropa yang pernah dikuasai Turki Usmani – yang merentang sampai ke Bulgaria dan Rusia – saat itu tampaknya hampir mustahil tanpa menerapkan sistem monastik. Akan tetapi, bentuknya telah diubahsuai. Tekke-tekke atau pondok-pondok banyak yang melepaskan bentuk biara untuk menjadi pondok-pondok model sufi pada umumnya. Akan tetapi, fungsi pemimpin mereka lebih kurang mirip dengan para pendeta Kristen. Baik semi-monastik maupun monastik keduanya dipimpin seorang kyai yang disebut Baba, yang kepala dari para Baba itu disebut Rehber.

sah_hatayi_portre_by_uluozanlar-d4beg50

Shah Ishmail, pendiri dinasti Safawiyah

(3)  Sebelum lahirnya “kaum Alevi” yang cikal bakalnya adalah golongan Kizilbash yang acap dituduh bid’ah, rafidah, penyembah Ali, pemberontak dst; telah terdapat sekelompok murid-murid penerus Abdal Musa yang menyebut diri mereka sebagai Abdal, Torlak, Ishik, dst yang kemudian dikenal sebagai Kalendar. Mereka mempunyai wali mereka yang sendiri yang namanya berbeda-beda tetapi sebenarnya adalah tokoh yang sama yaitu Haji Bektash Wali. Golongan Kalendar dikenal sebagai darwis-darwis pengelana, yang dikenal tidak suka terikat pada tekke-tekke yang terorganisasi dan formal. Ciri-ciri mereka adalah mengenakan pakaian sederhana bahkan acap compang-camping dan berkalung bintang segi-12 yang dikenakan oleh hampir semua darwis Bektashi yang telah diinisiasi, baik di “biara-biara” maupun tekke-tekke terorganisasi maupun kalangan Alevi.

simbol  bektashiGolongan Kizilbash merupakan cikal bakal Alevi. Mereka adalah pengikut setia pendiri dinasti Safawiyah, Syaikh Haydar (1460-1488), bapak dari Shah Ismail, raja pertama Safawiyah (Dinasti Syiah Imamiyah pertama di Iran). Setelah itu mereka mengganti nama sebagai Alevi, karena Kizilbash mempunyai konotasi buruk sebagai pelakon bid’ah dan sesat. Kizilbash sendiri berarti harafiah topi merah karena topi yang mereka kenakan atau surban mereka berwarna merah (lihat wajah Shah Ismail); sedangkan Alevi di sini berbeda dengan pengertian Alevi di Iran, sebagai keturunan Imam Ali, melainkan sebagai pencinta Imam Ali [meskipun mereka tetap mengklaim untuk pemimpin mereka – yaitu seorang Dede – haruslah seseorang yang terkait dengan keturunan Imam Ali*, akan diceritakan lebih jauh].

 alevis(4)  Urban-Bektashi. Kaum Alevi adalah kaum urban Bektashi. Dapat diparalelkan dengan orang-orang pedalaman Jawa yang menerima Islam melalui Syaikh Siti Jenar dan murid-muridnya, demikian pula orang-orang pedalaman Turki menerima Islam melalui murid-murid Haji Bektash Wali. Mereka memiliki tradisi atau sistem tarekat yang berbeda dari bentuk-bentuk monastik Bektashiyahh yang di beberapa wilayah mereka masih memeliharanya. Kaum Alevi dulunya orang-orang nomad suku-suku Turki yang menganut keyakinan Shamanisme, dipengaruhi Buddhisme, Judaisme dan Kristiani, sehingga dalam banyak aspek ritual dan liturgi ala Bektashiyah mereka sangat kental nuansa Shamanisme.

 Kitab rujukan Alevi adalah Buyruk yang sesungguhnya merupakan tradisi lisan yang disyarahkan dari Dede (pemimpin kelompok Alevi) kepada Dede yang ada kalanya dicatat dan ditulis dikitabkan. Buyruk merupakan kitab mengenai hadis-hadis Imam Ja’far as-Shodiq yang kemudian diberi syarahan dari guru kepada guru seperti para imam berikutnya, dan wali-wali mereka seperti Haji Bektash Wali, Safiuddin Ardabili (pendiri tarekat Safawiyyah), Shah Ismail (pendiri Kesultanan Safawiyyah), dan Pir Sultan Abdal.

 Untuk membedakan Alevi dengan Bektashi adalah, seorang Alevi pastilah seorang Bektashi sedangkan seorang Bektashi belum tentu seorang Alevi. Seseorang dapat menjadi Bektashi, apabila dia layak dan bersedia menerima Haji Bektash Wali; akan tetapi untuk menjadi seorang Alevi seseorang haruslah lahir dari orangtua Alevi.

para dede

para dede

Kaum Alevi biasanya dipimpin oleh seorang yang disebut Dede, yang diangkat harus dari seseorang yang merupakan keturunan Imam Ali – serta keturunan dede-dede sebelumnya – yang juga merupakan keturunan Haji Bektash Wali. Tetapi, tidak semua keturunan Dede bisa menjadi Dede. Ia juga harus mempunyai “karomah.” Karomah adalah “daya tarik” Islamisasi awal di antara suku-suku nomad Turki maupun Eropa. Oleh sebab itu, “karomah” tetap menjadi signifikan di kemudian hari bagi komunitas Alevi. Akan tetapi kaum Alevi sekalipun suatu komunitas kecil dan tertindas, tidak menerapkan endogami yang ketat. Mereka tidak melarang perkawinan dengan luar Alevi – dan itu tidak dianggap keluar dari Alevi – begitu pun dari sisi garis keturunan. Ini karena secara prinsipal mazhab Sufi Bektashiyahh menekankan kesetaraan laki-laki dan perempuan.

images (2) (5)  Para Gazi (Ghazi) Turki Usmaniyah berikutnya dan tentara Janisseri mendapatkan pengaruh Bektashiyahh – mirip para pendekar kanuragan Jawa yang senantiasa memiliki kaitan dengan spiritualitas Walisongo dan Syaikh Siti Jenar. Walaupun hubungan mereka sebagai seorang Bektashi dapat dipastikan lebih kurang dalam kaitan “martial mysticism” atau ilmu bela diri secara spiritual dengan melalui inisiasi dan perantaraan “berkah” Haji Bektash Wali.

 (6)  Related to-Bektashi Order. Diaspora kaum Kizilbas/Alevi, masih terdapatnya kalangan Kalendar yang tidak tercatat dalam sejarah tulisan, telah melahirkan tarekat-tarekat yang tidak tersentuh tangan sejarawan Barat yang skeptis, maupun penganut Bektashi yang melanglangbuana, mengembara dan melebur dalam masyarakat tanpa label-label agama. Mereka memiliki ikatan yang sangat longgar terhadap mazhab Bektashiyah kecuali dalam hal tradisi yaitu berwalayah kepada 12 imam, nonkonformis terhadap mazhab-mazhab besar Islam, kendati secara tradisi lisan turun-temurun mewariskan “Buyruk” dan hal-hal ke-Alevi-an dan ke-Bektashi-an kepada penerus mereka.

para darwis pengelana Bektashi

para darwis pengelana Bektashi

PEREMPUAN

alevi-wedding

Pernikahan kaum Alevi

Perempuan dalam mazhab Sufi Bektashiyah mendapatkan posisi yang sangat istimewa terutama di kalangan kelompok Alevi dan kelompok related-to-Bektashi order.

 Ajaran Haji Bektash Wali mengenai perempuan dapat disarikan sebagai berikut:

“Jika kamu mengira terdapat perbedaan antara laki-laki dengan perempuan, maka kamu keliru.”

(Maka) “Dalam bahasa suatu percakapan (persahabatan), janganlah kamu mendiskriminasi antara laki-laki dengan perempuan.”

“Jika sebuah bangsa tidak mendidik kaum perempuan, maka bangsa itu tidak akan maju.”

(Maka) “Berikanlah pendidikan kepada putri-putrimu.”

Kita harus mengingat ketika Haji Bektash Wali mengatakan hal ini ajaran Islam yang sedang berkembang waktu itu telah diinfus oleh ajaran-ajaran kuno dari tradisi Arab maupun Persia yang diskriminatif sehingga mengalami distorsi besar dalam hal mendiskriminasi dan mendiskreditkan kaum perempuan. Haji Bektash Wali tentu saja merasa hal tersebut bukanlah esensi ajaran Islam yang mengedepankan keadilan dan kesetaraan manusia. Satu-satunya murid langsung Bektash Wali adalah Kadincik Ana. Ana adalah sebutan kehormatan bagi seorang perempuan dalam tradisi orang-orang Alevi, lebih kurang artinya adalah “Lady” dan Kadincik seperti artinya lebih kurang adalah “Berjenis kelamin Perempuan.” Nama sebenarnya adalah Fatma Nuriyah. Vilayetname, kitab yang menceritakan sedikit sejarah mengenai Haji Bektash Wali menyebutnya sebagai istri spiritual Haji Bektash Wali, sementara para sejarawan ada yang menyebut bahwa ia tadinya adalah istri dari Hoja Idris yang diangkat sebagai putrinya, atau putri Hoja Idris yang menikah dengan Bektash Wali.

makam para wali keturunan Haji Bektash Wali

makam para wali keturunan Haji Bektash Wali

Banyak kisah yang menyebutnya sebagai istri spiritual Haji Bektash Wali tanpa penjelasan mengenai hubungannya dengan Hoja Idris. Banyak asumsi yang bisa saya ambil dari sini.

Pertama, karena berkembangnya legenda seorang perempuan sholeh mendatangi Bektash Wali, diangkat sebagai muridnya, lalu diberkati untuk diberi keturunan, kemudian tak lama kemudian setelah kembali ke rumahnya, ia mengandung. Dari sini tidak menjadi jelas apakah Kadincik Ana adalah istri Hoja Idris, mantan istri Hoja Idris atau putri Hoja Idris, tetapi berkat Haji Bektash Wali ia mengandung, tanpa penjelasan apakah telah terjadi perkawinan fisik di antara keduanya atau yang dimaksud diberkati adalah karena karomah Haji Bektash Wali dengan doa-doanya.

Baba Mondi dkk dengan seorang pastor Katholik

Baba Mondi, Rehber Reshat, ulama Sunni, dengan dua orang pendeta Kristen, Albania

Kedua, Bektashiyah yang berkarakter monastik atau kehidupan biara dalam coraknya memang sangat banyak mengadopsi tradisi Kristiani – dalam hal ini Katholik Roma dan Kristen Timur – termasuk dalam hal kehidupan selibat. Biara-biara Bektashi  mempunyai tradisi selibat bagi mereka yang sudah terinisiasi hidup di dalamnya, akan tetapi tidak seperti dalam tradisi Kristen hari ini, para biarawan Bektashi kemudian dapat berubah pikiran dan menikah dengan seizin mursyid mereka masing-masing. Mereka yang menerima tradisi selibat meyakini Haji Bektashi tidak pernah menikah, dan meyakni bahwa Kadincik Ana adalah murid serta putri angkat dan bukan istri Haji Bektash.

Ketiga, tradisi Kristiani yang meyakini Yesus tidak pernah menikah barangkali masih diyakini oleh sebagian besar Muslim Bektashi awal yang merupakan muallaf dari Kristiani, sehingga kemudian berkembang keyakinan walaupun begitu Yesus memiliki istri (atau istri-istri) spiritual seperti Maria Magdalena dan atau Martha, maka begitu pun juga “santo” Muslim mereka yaitu Haji Bektash Wali.

111018_je0fa_alevis_8

para wanita Alevi

Keempat, keyakinan bahwa Haji Bektash Wali dan Kadincik Ana menikah diyakini kebanyakan oleh mereka yang berasal dari tradisi Judaisme, dan tampaknya ini jauh lebih meyakinkan dari sudut pandang pribadi saya karena beberapa wali di kalangan Bektashi sendiri adalah anak dan cucu keturunan Haji Bektash Wali. Jika asumsi ketiga diambil, maka mereka bukanlah anak dan cucu kandung melainkan anak dan cucu angkat saja. Pernikahan di antara keduanya tidak pula mengubah kedudukan Kadincik Ana sebagai istri spiritual Haji Bektash Wali karena ia merupakan satu-satunya sanad penerus ajaran spiritual Haji Bektash Wali secara langsung. Saya tinggalkan pula keburaman tentang posisi Hoja Idris, di sini.

Dari sini kita mengetahui bagaimana posisi perempuan diletakkan dalam aliran Bektashiyah, penyebutan Kadincik Ana sebagai istri spiritual dan bahwa dia adalah satu-satunya murid langsung Bektash Wali – sekalipun kemasyhuran dinisbahkan kepada Abdal Musa.

Dalam aliran Bektashiyah, tampaknya dimensi batin lebih ditekankan daripada dimensi zahir. Hal ini berlaku dalam segala bentuk penerapan ritual, syariat, interpretasi ajaran agama, dll. Keunikan aliran Bektashiyyah dalam topik perempuan antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Aliran Bektashiyyah merupakan salah satu aliran dalam komunitas Islam yang tidak kaku dalam menerapkan aturan berhijab. Aurat baik laki-laki maupun perempuan lebih dipandang dari dimensi batin. Kendati demikian, menutup kepala atau berkerudung merupakan sebuah tradisi yang tetap dipraktekkan oleh kaum perempuan penganut aliran Bektashi dengan berbagai variasinya. Di sinilah kelebihannya, barangkali, bahwa begitu sebuah aspek atau dimensi batin dikedepankan, mereka yang telah menemukan makna spiritual dari menutup aurat, sesuatu yang dipraktekkan secara zahir pada akhirnya menjadi tradisi dan kebiasaan yang inheren itu sendiri.
Bejan Matur, penyair, jurnalis dan aktivis Alevi di Turki

Bejan Matur, penyair, jurnalis dan aktivis Alevi di Turki

  1. Secara umum aliran Bektashiyyah merupakan salah satu dari sedikit komunitas Islam yang tidak menerapkan segregasi ketat dalam majlis-majlis zikir dan semah mereka. Salah satu cabang aliran Bektashiyyah yaitu Alevi bahkan mempunyai ritual menari yang menggabungkan laki-laki dan perempuan. Pada orang-orang dewasa, pasangan-pasangan suami istri menari dalam lingkaran atau berhadap-hadapan. Semacam training, anak-anak belajar menari dalam lingkaran tanpa membatasi jenis kelamin dan remaja dilatih untuk terbiasa menari berpasangan dalam lingkaran. Pengaturan segregasi yang tidak ketat namun terjaga ini dikarenakan pandangan batiniyah aliran Bektashi yang lebih didahulukan dalam memandang perbedaan jenis kelamin. Bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama-sama makhluk spiritual dan perbedaan keduanya hanya terdapat dalam hal-hal zahir. Sedangkan dalam tradisi Sufi, manusia sebagai makhluk spiritual harus berlatih untuk melampaui hal-hal yang zahir belaka.
  2. Aliran Bektashiyyah merupakan salah satu aliran dalam komunitas Islam yang tidak menggalakkan poligami dan sangat menganjurkan monogami. Hal ini lebih jauh dipraktekkan sebagai budaya orang-orang Alevi sejak dulu kala. Poligami tidak dianggap tercela, sebab ada juga orang Bektashi yang melakukannya, akan tetapi monogami jauh lebih dihormati dan diapresiasi. Prinsip Bektashiyyah didasarkan pada kesatuan Ilahi (tauhid) dan bahwa perempuan dan laki-laki yangtelah berada pada kedudukan yang setara secara ideal, maka keduanya tidak boleh menduakan pasangannya sebagaimana mereka tidak boleh menduakan Tuhan. Hal ini juga mengikut tradisi bahwa Haji Bektash Wali hanya mempunyai seorang istri. Bahkan, seorang pemuka Bektashi yang sembarangan melakukan poligami dapat dianggap melakukan skandal besar dan dicopot hak-hak mereka.
  3. Para pengikut Bektashi, terutama Alevi, sangat menekankan pendidikan bagi kaum perempuan mereka. Hal ini bahkan menjadi prinsip ajaran utama mereka sejak awal.
  4. Tampaknya aliran Bektashiyah merupakan salah satu dari sedikit aliran dalam komunitas Muslim yang menerapkan keseimbangan dan keharmonisan antara patriarki dan matriarkat. Di kalangan Alevi, para Dede – kepala atau pemuka kelompok mereka di sebuah desa atau dusun –       berikut pemain saz atau baglama di sebuah majlis semah adalah laki-laki, akan tetapi setiap perempuan maupun laki-laki berhak memperoleh tugas dan peranan lain yang signifikan dalam sebuah ritual semah, dimana masing-masing tugas dan fungsi serta peranan itu merupakan simbol dari para sahabat Rasulullah yang mencintai ahlulbayt seperti Salman, Abu Zar, Bilal, dll. Bentuk rumah orang-orang Alevi membedakannya dari bentuk rumah orang-orang Sunni pada umumnya di mana perempuan mendapat kebebasan dalam bergerak di rumahnya sendiri. Begitupula dalam peranan mereka di ruang publik, mereka mendapat keleluasan, seperti tidak adanya istilah seksis “untuk menjaga kehormatanmu sebagai perempuan” sebagai istri, ibu, atau anak perempuan melainkan ditekankan bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama-sama wajib menjaga kehormatan mereka.
  5. Meskipun aliran Bektashiyyah adalah penganut Syiah Imamiyah dan baik sedikit atau pun banyak mengamalkan fikih mazhab Jafari, tetapi pernikahan mut’ah atau pernikahan berjangka waktu dapat dikatakan nyaris tidak dipraktekkan oleh kalangan mereka.

BERSAMBUNG

0

Comments are closed.