Pelajaran dari Ibunda Ning Surachman

Lifetime Achievement Award for Ning Surachman from Sahabat Darwis

Ning SurachmanInnalillahi wa inailaihi rojiun. Selasa tanggal 17 Desember 2013 sore sahabat dan anggota grup fesbuk SAHABAT DARWIS yang bernama Sri Utami Ningsih atau ibu Nining atau akrab di dunia maya dikenal sebagai ibu Ning Surachman meninggal dunia. Tepat pada sore itu saya baru selesai menjalani pemulihan di rumah sakit karena keguguran yang saya alami pada Senin tanggal 16 Desember 2013. Pada Senin yang sama ibu Ning memberikan komentar terakhirnya untuk status twitter saya mengenai “Sebentar lagi akan ada orang memeluk Islam karena ingin bergaya hijab modis dan jalan-jalan shopping ke Mekkah.” Komentarnya sederhana, bahwa sudah ada peragawati yang bergaya hijab untuk bergaya modis belaka.

Ketika saya memasang foto cover untuk fesbuk saya, itu saya lakukan setelah membaca saran Ibu Ning. Saya baru saja mengandung dan mengharapkan seorang anak lelaki. Komentarnya segar, sederhana tetapi mencerahkan. Setelah beliau meninggal saya mendapati beliau juga sangat berkesan dan berpengaruh kepada tokoh-tokoh di dunia maya yang saya kenal seperti ibu Rosmadewi, teh Dina Y.Sulaeman, Muhsin Labib, Jalu Kaba X, Mukhtar Mukti Ali, bahkan oleh teman-teman Kristiani kami di grup fesbuk Sahabat Darwis.

Saya pertama kali dan terakhir kali bertemu dengan ibu Ning di diskusi Sekolah Agama, di ICRP. Penampilannya sederhana tapi anggun, kerudungnya sederhana tapi bergaya, dan dia mengenakan rok batik. Saya lihat dalam beberapa foto beliau senang mengenakan rok atau sarung batik. Dia memeluk saya dengan hangat dan bicara banyak hal penuh antusias. Saya kemudian sering chatting dengannya di fesbuk, bahkan mengajak beliau ikut ke beberapa acara komunitas kami (Komunitas Sekolah Agama) tetapi sayang beliau bilang belum bisa ikut karena kondisi kesehatannya – sedih sekali membacanya padahal beliau sangat antusias dengan semua undangan saya. Begitu menjadi anggota grup Sahabat Darwis, dia langsung aktif, banyak memberikan pencerahan dengan komentar-komentarnya.

Dari komentar-komentar beliau ke status teman-teman yang lain, khususnya ke teh Dina Y. Sulaeman, dan bagaimana respon-respon dia terhadap aktivitas saya, saya belajar satu hal penting.

Usia Ibu Ning kalau dibilang masih muda juga tidak bisa, dan sudah terlalu tua juga tidak, tetapi siapa sangka beliau begitu cepat dipanggil oleh Allah SWT? Ya begitulah takdir. Saya kira Ibu Ning adalah sosok seorang perempuan sederhana yang berani melihat kenyataan dunia, realitas dunia, dengan segala problematikanya walaupun dengan segala kekurangan dan kelemahan yang menyertai dirinya. Dia berani untuk memberi respon berdasarkan kapasitasnya dan beraksi sesuai dengan apa yang dia bisa, tidak bisa hanya diam, cuek dan tidak berbuat apapun. Minimal dengan aktif di fesbuk, menyemangati dan memotivasi para aktivis yang mempunyai akun fesbuk seperti teh Dina Y.Sulaeman, serta memberikan inspirasi dengan komentar-komentar sederhananya.

Menurut saya hanya pengecut dan egois akut yang takut menghadapi dunia dengan segala kebobrokan, kehancuran dan konfliknya sedangkan dia memiliki kemampuan berpikir dan kesanggupan berdoa serta daya untuk berbuat walau dalam skala kecil dan lokal untuk menghadapinya (apapun caranya). Kalau hanya sebentar untuk menyepi, merenung dan bertapa itu tidak apa-apa karena itu tetap penting dilakukan, tetapi heran saja kalau tidak segera kembali ke masyarakat membuka tangan kepada dunia, mau memandangnya dengan gagah berani, dan tidak takut berbuat sesuatu. Melakukan kesalahan itu adalah potensi yang ada pada setiap manusia, kenapa mesti takut berbuat sesuatu karena takut akan melakukan kesalahan? Jika sudah pernah tahu berbuat salah, tentu tidak akan diulang, dan kalau belum pernah melakukan kesalahan bagaimana mungkin bisa mengetahui cara yang lebih baik untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kapasitas kita? Bu Ning bahkan pernah mengutip kata dari sebuah novel, ketika terjadi kezaliman di depan mata, bersikap netral adalah sebuah kejahatan.

Seorang teman menulis Imam Ali pernah berkata, kira kira sebagai berikut: dunia adalah ibu kandung anak manusia, wajar jika manusia mencintai dunia. Dan kita ditakdirkan ke dunia bukan untuk diam, menjadi pengecut dan egois akut. DIA bukanlah Tuhannya para pengecut dan penakut. Ketika Nabi Musa as memukul tongkatnya ke Laut Mati, ketika Rasulullah saw berhijrah, bani Israil dan pengikut Muhammad dipermudah oleh Allah dalam hijrahnya setelah mereka berani untuk berjalan dan menyebrang apapun resikonya. Apakah tokoh-tokoh cinta kasih seperti Bunda Theresa, Master Cheng Yen, Chiara Lubich, Dalai Lama, serta para Sufi agung adalah orang-orang pengecut atau mereka orang-orang yang mengharapkan diri mereka terkenal dan dipuja. Tidak, tetapi mereka tahu mereka diberi kesempatan hidup di dunia oleh Tuhan untuk berbuat sesuatu. Begitu pula ibu Ning Surachman. Meskipun beliau hanya seorang perempuan biasa bukan tokoh apapun juga. Dan kata “hanya” ini pun sulit diterima oleh kita. Nyatanya, semua teman fesbuknya mengagumi beliau.

Ada kisah seorang pria yang memutuskan hidup membiara karena takut berbuat dosa, dia akhirnya hanya mengurung dan menjaga dirinya di dalam biara di puncak gunung. Dia hanya berdoa, berkebun untuk menghidupi dirinya, sembahyang, berzikir dengan rosarionya, dan melakukan pekerjaan di dalam biara. Dia takut bertemu dan berkenalan dengan orang-orang kecuali jemaat yang datang ke dalam biara. Namun, pada suatu sore terjadi hujan lebat dan si pria yang tinggal di dalam biara kebetulan sedang sendirian. Kemudian, tiba-tiba muncul seorang perempuan muda yang datang untuk berlindung ke dalam biara itu. Pendek cerita, karena si pria belum pernah bertemu dan berbicara akrab dengan seorang perempuan muda yang cantik jelita, dia jatuh cinta dengannya sehingga dia akhirnya berbuat zina dengan si perempuan muda itu dengan kondisi cuaca yang tepat pada masa itu. Menyadari dia telah berbuat zina, dia merasa sangat ketakutan, kemudian dia tidak sanggup menerima kenyataan itu, lalu memutuskan untuk membunuh perempuan itu. Begitulah seterusnya, satu demi satu kejahatan dia perbuat. Kisah ini mengingatkan kepada saya nasehat penting dari Paulo Coelho dalam salah satu bukunya, ada anjuran berbahaya yaitu untuk menjaga kemurnian diri adalah dengan sepenuhnya menjadi vegetarian atau vegan. Paulo Coelho mengatakan ini sama seperti tanaman yang hidup di rumah kaca, atau sama juga dengan orang asing yang tiba-tiba jajan di Indonesia, tidak kebal terhadap berbagai penyakit di luar. Jadi, kalau tidak ada larangan dalam agama yang kita anut untuk mengkonsumsi daging merah tertentu, atau makanan apapun, yang penting bergizi, maka makanlah. Kemurnian diri tidak tercapai dengan hal-hal semacam ini.

Jadi, keluarlah, tataplah dunia dengan gagah berani, hadapilah dengan berani, rangkullah setiap orang yang juga berani, dan saling memotivasi… Inilah pelajaran berharga yang saya dapat dari almarhumah Ning Surachman. Saya tahu beliau pasti sangat berharap saya berbuat sesuatu dengan berani sesuai dengan kemampuan saya, selama saya masih punya kesempatan dan waktu hidup di dunia.

Dan dengan ini, saya mewakili seluruh keluarga besar Grup Sahabat Darwis dengan sukacita mengapresiasi setiap keberanian dan keteguhan hati bunda Ning dengan Lifetime Achievement Award sederhana dari kami: Doa dan Doa dari kami sepanjang hayat untuk beliau. AlFatihah dan Shalawat.

Semoga Allah berkenan mempersatukan beliau dengan Ibunda Fatimah Zahra dan Ibunda Maryam… Amiin. Dari Bu Ning, saya melihat kekuatan dan bimbingan dari dua bunda agung tersebut kepadanya – senyumannya, kehangatannya, komentar-komentarnya, motivasi-motivasinya… Semoga kita semua bisa meneladani beliau.

Salam Rindu teriring untuk Bu Ning tercinta dan komen-komennya di fesbuk,

Gayatri Wedotami

Sekretaris Umum Komunitas Sekolah Agama

Pendiri dan Presiden Grup FB Sahabat Darwis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s