Belajar dan Berlatih Menjadi Kesatria Cahaya (Bagian 2)

~ Kutipan-kutipan dari buku “Kesatria Cahaya” karya Paul Coelho (bagian kedua) ~

Kesatria cahaya adalah setiap orang, setiap orang biasa, yang melakukan kesalahan-kesalahan, mengalami kemenangan juga kekalahan, kegagalan dan bangkit, dan jatuh, melemah, dan menguat, terus-menerus demikian menuju tujuannya dengan teguh tapi mengalami banyak paradoks dan kontradiksi. Tetapi dia percaya: Cahaya adalah Tuhan. Cinta adalah Tuhan.  Tuhan adalah Cahaya. Tuhan adalah Cinta. Kita semua mengetahui hal ini. Tetapi, kesatria cahaya tidak memilih kehidupannya, dia mengetahui Jalan, dia ditemukan, dan bertahan dengan ketidaktahuan dan ketidakpastian dalam perjalanan, petualangan-petualangan dan pertempuran-pertempurannya. Bagian kedua akan mengupas hal-hal baik tentang dan dari kesatria cahaya menyangkut peta, strategi-strategi, dan pengingat-pengingat bagi semua kesatria cahaya.

Seorang kesatria cahaya tidak mencoba untuk konsisten; dia telah belajar untuk hidup dengan pelbagai kontradiksi yang menyertainya. (hal. 149)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

100 HAL BAIK TENTANG DAN DARI  KESATRIA CAHAYA 

1. Kesatria cahaya harus mematuhi perintah-perintah dari Yang Esa, sebab untuk Dia-lah sang kesatria mempersembahkan perjuangannya. (Halaman 148)

2. Saat mulai menyusurinya, sang kesatria cahaya mengenali Jalan itu. (Halaman 31)

3. Seorang kesatria tahu bahwa tujuan tidak menghalalkan segala cara. ~ Jika dia hanya berpikir tentang tujuan, dia tidak akan bisa memberikan perhatian kepada tanda-tanda di sepanjang jalan yang dilaluinya. Jika dia memusatkan perhatian hanya pada satu pertanyaan, dia akan kehilangan jawaban-jawaban yang telah ada bersamanya. Itulah sebabnya sang kesatria berserah diri (Halaman 146)

4. Kesatria cahaya sejati tahu bahwa setiap kebun mempunyai misterinya masing-masing, yang hanya dapat disingkapkan oleh tangan sang tukang yang sabar. ~ Dia tahu bahwa orang pandir yang memberikan nasehat tentang kebun orang lain tidak memelihara tanamannya sendiri. (Halaman 144).

5. Kesatria cahaya bukanlah pengecut (Halaman 143)

6. “Jadilah kehendak-Mu.” Beginilah cara sang kesatria cahaya berdoa. (Halaman 139).

Sang kesatria cahaya jarang mengetahui hasil pertempuran setelah pertempuran tersebut usai (Halaman 103).

7. Kadang-kadang, di tengah pertempuran yang sedang berkecamuk dan tampak tak berkesudahan, sang kesatria memiliki sebuah gagasan dan dia berhasil menang hanya dalam hitungan detik. (Halaman 138)

Kesatria cahaya harus selalu ingat kelima aturan pertempuran yang ditetapkan oleh Chuan Tzu tigaribu tahun lalu ~ Iman, Sahabat, Waktu, Ruang dan Strategi ~ (Halaman 102).

MASALAH KESEDIHAN BUKANLAH HAL BURUK:

8. Ketika sang guru melihat sang kesatria tenggelam dalam kemurungan yang hebat, dia pun berkata,

“Engkau bukanlah seperti apa yang tampak dalam masa-masa kesedihan. Engkau jauh lebih baik daripada itu.”

“Banyak orang telah pergi – untuk alasan yang tak pernah bisa kita pahami – tetapi engkau masih di sini. Mengapa Tuhan membawa pergi semua orang yang mengagumkan itu dan meninggalkanmu?

“Sekarang ini jutaan orang sudah menyerah. Mereka tidak marah, mereka juga tidak menangis, mereka tidak melakukan apapun; mereka sekadar menunggu waktu berlalu. Mereka telah kehilangan kemampuan untuk memberikan reaksi.

“Namun demikian engkau bersedih. Itu membuktikan bahwa jiwamu masih hidup.”

(Halaman 137)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

9. Kesatria cahaya memberikan perhatian mendalam pada wejangan: “…Simpanlah selalu dalam ingatanmu, selama sia hidupmu, hal-hal baik yang muncul dari kesulitan-kesulitan yang engkau alami.” (Halaman 134)

Tatkala saat-saat bertempur kian dekat, kesatria cahaya bersiap-siap untuk segala kemungkinan yang tidak menyenangkan. (Halaman 98).

10. Sang kesatria bertanya pada dirinya sendiri, “Bagaimana hal ini akan berdampak pada keturunanku sampai generasi kelima?” (Halaman 131)

11. Kesatria cahaya tidak mempunyai penyesalan, sebab penyesalan bisa membunuh. (Halaman 129)

12. Kesatria cahaya mencoba menikmati hal-hal kecil sehari-hari dalam hidupnya ~ Para kesatria yang menghabiskan seluruh waktu mereka untuk berlatih justru kehilangan spontanitas dalam pertempuran. (Halaman 124)

KEKUATAN SEMESTA

13. Sang Kesatria cahaya tahu akan hal ini: Saat seseorang menginginkan sesuatu, seluruh Semesta bekerja sama untuk mewujudkannya. (Halaman 117).

Mulai saat ini — dan hingga ratusan tahun mendatang — Semesta akan menolong para kesatria cahaya dan menghalangi orang yang berburuk sangka. ~ Agar tetap berteguh hati pada jalannya sendiri, dia tak perlu membuktikan bahwa jalan yang ditempuh orang lain itu salah. (Halaman 32).

Kesatria cahaya kadang-kadang berpikir, “Jika aku tidak melakukan sesuatu, maka hal itu tidak akan pernah dilakukan.” ~ dia harus bertindak, tetapi dia juga harus menyediakan ruang bagi Semesta untuk bertindak. (Halaman 43).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

14. Setelah belajar cara menggunakan pedang, kesatria cahaya menyadari bahwa peralatannya belumlah lengkap — dia memerlukan baju zirah (IMAN). (Halaman 108)

15. Kadang-kadan sang kesatria merasa seolah-olah dia sedang menjalani dua kehidupan sekaligus. (Halaman 105)

16. Para kesatria cahaya sering bertanya kepada diri sendiri, apa yang sedang mereka lakukan di sini. (Halaman 99). 

17. Seorang kesatria cahaya tidak berteman dengan orang-orang yang ingin mencelakainya (Halaman 89)

MENGENAI KEBERANIAN

“Kekuatan spiritual dari sang Jalan memanfaatkan keadilan dan kesabaran untuk mempersiapkan rohmu.”

“Inilah Jalan sang kesatria: jalan yang mudah sekaligus yang sulit, sebab orang dipaksa mengesampingkan hal-hal sepele dan mempertaruhkan persahabatan. Itulah sebabnya pada mulanya banyak orang ragu-ragu mengikuti jalan tersebut.”

“Inilah ajaran pertama Para Kesatria: kau akan menghapus segala sesuatu telah kautulis hingga sekarang dalam buku kehidupanmu: kegelisahan, ketidakpastian, kebohongan. Dan di tempat yang telah kauhapus itu, kau akan menulis kata KEBERANIAN. Dengan memulai perjalananmu dengan kata itu, dan terus menerus berimankan pada Tuhan, engkau akan mencapai tempat mana pun yang perlu kau capai.”

(Halaman 97).

19. Kesatria cahaya tahu, banyak hal yang patut disyukurinya. (Halaman 16).

20. Semua jalan di dunia mengarah ke jantung sang kesatria; tanpa ragu sedikitpun dia menceburkan diri ke dalam sungai-sungai hasrat yang senantiasa mengalir di dalam hidupnya. (Halaman 17)

21. Kesatria cahaya tidak mengandalkan kekuatannya semata-mata, dia  memanfaatkan kekuatan lawannya juga. (Halaman 18)

Yakinkan musuhmu bahwa sedikit sekali keuntungannya kalau dia menyerangmu; ini akan membuyarkan semangatnya. (Halaman 20).

22. Kesatria cahaya tak pernah menggunakan tipu muslihat, akan tetapi dia tahu cara mengalihkan perhatian lawannya. ~ Kesatria cahaya tahu apa yang diinginkannya. Dan dia merasa tak perlu menyia-nyiakan waktunya dengan memberikan penjelasan. (Halaman 19)

23.  Sang kesatria memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengajari dirinya sendiri. (Halaman 21)

Sebelum memulai pertempuran penting, kesatria cahaya bertanya pada dirinya sendiri, “Seberapa jauh aku telah mengasah dan mengembangkan kemampuan-kemampuanku?” ~ Halaman 23

24. Kesatria cahaya tak bisa ditebak ~ Seorang kesatria tidak menghabiskan hari-harinya dengan menjalani peran yang dipilihkan orang lain untuknya. (Halaman 26)

25. Kesatria cahaya memilih sendiri musuh-musuhnya. (Halaman 29)

Sang kesatria berhati-hati dalam menggunakan pedangnya, dan hanya menerima lawan yang pantas untuknya. (Halaman 147)

26. Kesatria cahaya mempelajari secara cermat sasaran yang hendak ditaklukkannya. (Halaman 33)

27. Kesatria cahaya mengetahui kekurangan-kekurangannya sendiri. Namun dia juga mengetahui kelebihan-kelebihannya. (Halaman 34)

28. Kesatria cahaya tahu bahwa tiada seorang pun yang bodoh, dan bahwa kehidupan mengajari setiap orang — seberapa pun lamanya pengajaran itu berlangsung. (Halaman 35)

29.  Sang kesatria cahaya tinggal menerima tantangannya. (Halaman 37)

30. Kesatria cahaya tidak menunda-nunda dalam membuat keputusan. ~ Kalau keputusannya tepat, dia akan memenangkan pertempuran, kendati pun pertempuran itu berlangsung lebih lama daripada yang diharapkan. Namun jika keputusannya salah, dia akan kalah dan harus memulai dari awal lagi – hanya saja kali ini dia melakukannya dengan lebih bijaksana. (Halaman 38)

31. Sang kesatria tahu bahwa guru-guru terbaik baginya adalah orang-orang yang berjuang bersamanya di medan tempur. (Halaman 39)

32. Kesatria cahaya membukakan dunianya kepada orang-orang yang dia kasihi.  (Halaman 40)

33. Kesatria cahaya melakukan meditasi. ~ Kesatria cahaya tahu bahwa dalam keheningan kalbunya dia akan mendengar perintah yang akan menuntunnya. (Halaman 42)

Kesatria cahaya membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Dan dia memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat, berkontemplasi, dan menjalin hubungan dengan sang Jiwa Dunia. (Halaman 106) 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

34. Ketika sang kesatria menjadi korban ketidakadilan, biasanya dia menyepi sendirian agar kepedihannya tak terlihat orang lain. ~ Sang kesatria menjaga keseimbangan antara kesendirian dan ketergantungan. (Halaman 44)

35. Kesatria cahaya membutuhkan cinta ~ Kesatria cahaya memanfaatkan kesendirian, namun tidak dimanfaatkan oleh kesendirian itu. (Halaman 45)

36. Kesatria cahaya kadang-kadang berperilaku seperti air, mengalir memutari penghalang-penghalang yang dijumpainya. (Halaman 48)

37. Kesatria cahaya menghargai ajaran utama I Ching: Lebih baik bersiteguh (Halaman 24).

Kesatria cahaya memiliki kualitas sebagai batu karang yang teguh. (Halaman 50)

38. Kesatria cahaya tahu, kapan musuhnya lebih kuat daripada dirinya. (Halaman 52)

39. Kesatria cahaya tak pernah abai pada ketidakadilan. ~ Kesatria cahaya berada di dunia ini untuk menolong sesamanya, bukan untuk menghukum mereka. (Halaman 53)

40. Kesatria cahaya tak pernah berlaku seperti pengecut. (Halaman 54).

41. Kesatria cahaya tak pernah tergesa-gesa. ~ Kesatria cahaya tak pernah memetik buah yang masih hijau. (Halaman 55)

42. “Sang Jalan mengharuskan adanya rasa hormat terhadap semua hal yang kecil dan sepele. Belajarlah mengenali saat yang tepat untuk menunjukkan sikap yang diperlukan.” ~ (Halaman 41)

43. Kesatria cahaya selalu menjaga hatinya dari segala rasa benci. ~ Manakala dia memasuki medan tempur, dia selalu teringat pesan Kristus, “Kasihilah musuh-musuhmu.” Dan dia pun mematuhinya. Tetapi dia tahu bahwa tindakan memaafkan tidak berarti dia harus menerima segala sesuatu apa adanya… (Halaman 58)

44. Kesatria cahaya memahami pentingnya intuisi. (Halaman 60)

45. Kesatria cahaya duduk mengelilingi api unggun bersama sahabat-sahabatnya. (Halaman 61)

46. Kesatria cahaya membuat keputusan. Jiwanya bebas laksana awan-awan di langit biru, namun dia berpegang teguh pada mimpinya. (Halaman 62)

47. Kesatria cahaya mendengarkan. ~ Dan dia tetap tak dapat diyakinkan oleh orang-orang yang, karena tak mampu mencapai hasil apapun, berkhotbah tentang penyangkalan diri. (Halaman 63).

48. Sang ksatria tahu bahwa tak seorang pun bisa hidup sendirian. (Halaman 64)

49. Kesatria cahaya tahu bahwa setiap orang takut akan orang lain. (Halaman 68)

50. Bagi sang kesatria, tidak ada cinta yang mustahil. (Halaman 69)

51. Kesatria cahaya mengenal keheningan yang mendahului pertempuran penting. (Halaman 70)

52. Kesatria cahaya adalah seorang yang percaya. (Halaman 71)

53. Kesatria cahaya telah mempelajari bahwa yang paling baik dilakukan adalah mengikuti cahaya.

~ Dia pun mendongak dan memandang ke Langit. Dan terdengar suara yang berkata, “Anakku setiap orang berbuat kesalahan. Engkau pasti dimaafkan, tapi Aku tak dapat memaksakan pemberian maaf itu padamu. Itu pilihanmu sendiri.” ~ Ksatria cahaya yang sejati menerima pemberian maaf itu.

(Halaman 72)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

54. Kesatria cahaya selalu berupaya untuk berkembang. (Halaman 73)

55. Kesatria cahaya dapat diandalkan. (Halaman 74)

56. Kesatria yang bertanggungjawab adalah orang yang telah membuktikan bahwa dia mampu melakukan pengamatan dan belajar. (Halaman 81)

57. Sang ksatria membiarkan keputusan itu terungkap dengan sendirinya. (Halaman 83)

58. Kesatria cahaya menerima Legenda Pribadinya secara penuh. (Halaman 84)

59. Para kesatria cahaya tak pernah menerima hal yang tidak layak diterima. (Halaman 85)

60. Kesatria cahaya selalu siaga. ~ Seorang kesatria tidak mencoba menonjolkan diri, dia tampil apa adanya. (Halaman 88)

61. Pada awal perjuangannya, sang kesatria cahaya menyatakan, “Aku memiliki impian.” (Halaman 90)

62. Kesatria cahaya memiliki pedang di tangannya. (Halaman 91)

63. Kesatria cahaya tidak pernah jatuh ke dalam perangkap kata “kebebasan.” ~ kesatria cahaya selalu teguh setia. Dia adalah budak dari impiannya dan dia bebas bertindak. (Halaman 92)

64. Kesatria cahaya tidak terus-menerus mengulang-ulang perjuangan yang sama, khususnya ketika tidak ada kemajuan maupun kemunduran. (Halaman 93)

65. Derita masa lalu menjadi kekuatan sang kesatria cahaya. (Halaman 94)

66. Kesatria cahaya selalu memiliki kesempatan kedua dalam hidup ini. (Halaman 95)

67. Seorang kesatria cerdik seperti ular, tulus seperti merpati. (Halaman 96)

68. Setiap kesatria cahaya menyimpan percikan Tuhan di dalam dirinya. (Halaman 104)

69. Kesatria cahaya waspada kepada orang-orang yang merasa tahu Jalan. (Halaman 105)

70. Seorang kesatria percaya pada orang, pertama dan terutama, karena dia percaya pada dirinya sendiri. (Halaman 109)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

71. Kesatria cahaya memandang kehidupan dengan kelemahlembutan dan ketetapan hati. ~ Ya hidup ini gila. Tetapi kebijaksanaan terbesar dari sang kesatria terletak dalam kearifan memilih kegilaannya secara cermat. (Halaman 110)

72. Kesatria cahaya mengamati dua pilar di kiri-kanan pintu yang hendak dibukanya. (Halaman 111)

73. Kesatria cahaya menjalankan latihan yang penuh daya untuk pertumbuhan batinnya. (Halaman 112)

74. Kesatria cahaya mengetahui kuasa di balik kata-kata. (Halaman 113)

75. Kesatria cahaya mengerti nilai ketekunan dan keberanian. (Halaman 114). Sang kesatria cahaya terus mengarahkan perhatiannya pada pertempuran dan tetap bertekun, bahkan ketika segala sesuatu tampak tidak ada gunanya. (Halaman 120)

76. Sang ksatria tahu kapan sebuah pertempuran layak diperjuangkan. ~ Kesatria cahaya yang sejati selalu memilih medan pertempurannya sendiri. (Halaman 115)

77. Kesatria cahaya tahu cara menerima kekalahan. (Halaman 116)

78. Sang kesatria membuat komitmen dan berpegang teguh pada janjinya ~ Kadang-kadang dia juga mengucapkan komitmen bodoh, yang entah bagaimana bisa mendatangkan kerugian baginya. Dia tidak mengulang-ulang kekeliruan ini, namun dia tetap setia pada kata-katanya dan membayar harga atas tindakan gegabahnya. (Halaman 118)

79. Sang kesatria merayakan kemenangannya dalam pertempuran. (Halaman 119)

80. Kesatria cahaya berbagi pengetahuannya tentang jalan itu. (Halaman 121)

81. Kesatria cahaya telah belajar bahwa Tuhan memakai kesendirian untuk mengajar kita bagaimana  hidup bersama orang lain. ~ Tuhan menggunakan kematian untuk memperlihatkan pada kita pentingnya kehidupan. (Halaman 122)

82. Kesatria cahaya memberi sebelum dimintai. (Halaman 123)

83. Ketika dipaksa melakukan tugas yang sama beberapa kali, sang kesatria mengubah pekerjaannya menjadi doa. (Halaman 126)

84. Kesatria cahaya tidak akan masuk ke dalam pertempuran tanpa mengetahui batas-batas kemampuan sekutunya. (Halaman 128)

85. Kesatria cahaya memikul tanggungjawab atas segala sesuatu yang dia lakukan, sekali pun dia harus membayar mahal atas kekeliruan yang telah diperbuatnya. (Halaman 130)

86. Sang kesatria menghargai penderitaan orang lain dan tidak mencoba membandingkannya dengan penderitaannya sendiri. (Halaman 132)

87. Kesatria cahaya memancarkan pikiran-pikirannya melampaui cakrawala. (Halaman 133)

88. Kesatria cahaya memusatkan perhatian pada keajaiban-keajaiban kecil sehari-hari. (Halaman 135)

89. Sang kesatria memiliki kenangan, tetapi dia belajar untuk memilah-milah kenangan yang bermanfaat dari yang tidak perlu, dia membuang sampah-sampah emosionalnya. (Halaman 136)

90. Sang kesatria tahu bahwa kata-kata yang paling penting dalam semua bahasa adalah kata-kata kecil. Ya. Cinta. Tuhan. (Halaman 140)

91. Sebilah pedang mungkin tidak berumur panjang, tetapi kesatria cahaya harus bertahan lama ~ dia adalah tuan bagi pedangnya sendiri. (Halaman 87)

92. Kesatria cahaya itu bijaksana; dia tidak membicarakan kekalahan-kekalahannya. (Halaman 86)

93. Kadang-kadang si jahat mengejar-ngejar sang ksatria cahaya, dan ketika hal itu terjadi, sang kesatria dengan tenang mengundangnya masuk ke kemahnya. (Halaman 78).

94. Bila sang ksatria menghunus pedangnya, dia menggunakannya ~ Pedang tidak dibuat untuk digunakan oleh mulut (Halaman 77).

95. Sang ksatria tahu bahwa malaikat maupun iblis saling berebut untuk menjadi tangan kanannya. ~ Mereka mengatakan hal yang sama ~ Dan dia pun memilih tangan sang malaikat. (Halaman 76)

96. Dalam jeda antara pertempuran yang satu dengan yang lainnya, sang ksatria beristirahat.  ~ Sang ksatria beristirahat dan tertawa. Namun dia selalu waspada. (Halaman 67).

Kesatria tahu dalam pertempuran kadang-kadang ada masa-masa jeda yang singkat (Halaman 75).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

97. Kesatria cahaya membutuhkan kesabaran maupun kecepatan. Ada dua kekeliruan paling fatal dalam hidup yaitu

(i) Bertindak terlalu dini

(2) Membiarkan sebuah kesempatan terlepas begitu saja

(Halaman 56)

98. Kesatria cahaya tahu tidaklah mungkin untuk hidup dalam keadaan istirahat sepenuhnya. (Halaman 46)

99. Kesatria cahaya selalu menjaga keseimbangan antara Ketegasan dan Belas kasihan. (Halaman 47)

100. Kesatria cahaya selalu ingat petikan dari John Bunyan: “Meski telah melalui semua peristiwa yang pernah dialami, tak kusesali sedikit pun segala kesulitan yang kutemui di jalanku, sebab justru peristiwa-peristiwa sulit itulah yang membawaku ke tempat yang ingin kutuju.” (Halaman 30)

***

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

“Banyak hal yang sudah kauceritakan padaku saling bertentangan,” kata laki-laki itu.

Perempuan itu pun bangkit. 

“Selamat tinggal,” katanya. 

***

Kita menemukan perempuan itu sedang mengingatkan laki-laki itu. Tentang lonceng-lonceng di dasar laut.  

Untuk menyelam. Untuk mendengarkan dengan seksama. Memberanikan diri untuk terus menempuh petualangan-petualangan dan pertempuran-pertempuran di Jalan. 

Comments are closed.