Laki-laki dan Perempuan

danya laki-laki dan adanya perempuan masing-masing memiliki dimensinya masing-masing yang lebih menonjol satu kepada yang lain, dan saling melengkapi serta saling menyempurnakan. Dalam simbol Tao, adalah yin dan yang. Hitam tidak lebih kuat daripada putih, demikian pula sebaliknya. Hitam tidak berarti buruk, begitu pun putih tidak berarti baik, tetapi keberadaannya masing-masing saling diperlukan. Di sini berarti sangat luas, tidak hanya dalam konteks suami istri tetapi juga konteks masyarakat luas di mana ada para perempuan dan para lelaki yang berinteraksi dalam kehidupan sosial, keluarga, dan seterusnya. Putih tidak harus selalu berhasil menerima atau pun memahami keberadaan hitam, begitu pun sebaliknya. Dan demikian pula dalam konteks laki-laki dan perempuan. Perempuan mengatakan, laki-laki sangat sulit dipahami. Laki-laki juga mengatakan, perempuan itu sangat membingungkan.

Mencermati kasus-kasus relasi antara lelaki dan perempuan akhir-akhir ini yang sedang ramai dibicarakan, menarik juga saya melihatnya dari kealpaan kita untuk melihat bahwa sebagai sesama manusia pada dasarnya kita dilahirkan sebagai makhluk sosial adalah untuk saling membantu, saling melengkapi dan saling mengisi satu sama lain. Bahkan saling memimpin dan saling membimbing, sesuai konteks, kondisi dan situasi masing-masing.

Persoalannya adalah

Sering kali seorang lelakimerasa lebih kuat daripada perempuan yang ada di hadapannya; dia merasa lebihberhak untuk menilai dan menafsirkan perempuan yang ada di hadapannya; secaratradisi dia merasa lebih berhak memimpin perempuan di hadapannya, sampaiseringkali dia tidak sadar dia telah mendominasi perempuan tersebut danperempuan itu pun terlambat menyadarinya. Yang saya maksud kuat dan lemah disini adalah dari segi batin, dari segi kejiwaan. Dimulai dari batin atau jiwakemudian termanisfestasi kepada fisik atau lahiriyyah. Ini bukan pembahasanfeminisme atau semacam itu. Ini adalah pola relasi lelaki-perempuan yang lazimterjadi di negeri ini. Para ibu pun lazim membesarkan anak-anak lelaki mereka dengancara seperti ini. Dan, sebaliknya, melalui teladan ia kepada suaminya, para ibumembesarkan anak-anak perempuan mereka dengan cara membiarkan lelaki sepenuhnyamengendalikan. Kesalahannya – atau kekurangannya – juga terletak pada perempuanyang membiarkan dirinya menerima penilaian bahwa dia lebih lemah daripadalaki-laki yang sedang dihadapinya, dan bahwa dia harus selalu berada di bawahkendali atau dipimpin laki-laki di hadapannya, walaupun dia tahu ada banyakkeadaan di mana para lelaki itu berada dalam keadaan yang lemah.

Kesetaraan menyangkutmasalah pembagian tugas, fungsi dan peran sesuai kondisi-kondisi dansituasi-situasi yang diperlukan. Kesetaraan juga menyangkut masalah potensi.Tidak penting siapa yang memimpin. Pemimpin tidak selalu berada di atas yangdipimpin, selalu lebih baik, selalu lebih tinggi. Ini cara pandang yang keliru.Semua manusia memiliki potensi kepada kebaikan dan keburukan yang sama –kecuali tentu saja manusia-manusia yang suci (maksum). Pemimpin tidak selalubenar, dan oleh karena itu ia harus selalu terus dikoreksi. Lemahnya pemimpinakan melemahkan pula yang dipimpin, tetapi begitu yang dipimpin berani untukmengkoreksi dan tampil lebih kuat, maka si pemimpin juga akan terkoreksi dankembali kuat. Begitu pun laki-laki maupun perempuan, potensi menjadi lebihlemah dan menjadi lebih kuat adalah sama.

Inilah yang menyebabkanmodus-modus operandi para lelaki untuk mendapatkan perempuan sampai sesuaidengan kemauannya menjadi lebih mudah; daripada sebaliknya. Sementara itu,budaya masyarakat kita sama sekali berbeda dengan Barat. Tetapi, kita jugatidak bisa terus-menerus membela (semua) perempuan. Perempuan harus terusdiingatkan akan potensi-potensi kekuatannya, terutama secara batin ataukejiwaan, dan pada akhirnya termanifestasikan kepada tubuhnya yang kuatmengandung selama 9 bulan kemudian melahirkan dan membesarkan anak-anaknya,kadang-kala tanpa campur tangan laki-laki secara utuh.

Perempuan sering kali lupaapa yang dipandang sebagai kelemahan oleh laki-laki, mungkin adalah sumberkekuatannya, dan begitu pula sebaliknya apa yang dipandang sebagai kekuatanlaki-laki sesungguhnya adalah sumber kelemahan laki-laki. Dan, sering sekalilaki-laki tidak mau mengakui ini. Dia menganggap inilah kelebihannya, dan diaberhak untuk membiarkannya. Sementara perempuan sering kali menyerah dan terusmenerus mengakui kelemahannya. Dia menganggap dia tidak berdaya dan terusmembiarkannya. Jika perempuan tidak bangkit untuk bersikap tegas, maka dia yangakan menjadi korban. Bahkan, lebih baik terlambat sesudah menjadi korban untukmenyadari, daripada tidak sama sekali. Karena bagaimana pun ini pada akhirnyaadalah untuk membantu laki-laki tersebut juga. Bukan untuk memeranginya.Membantu perempuan-perempuan lain yang dihadapi laki-laki tersebut juga. Karenaprinsipnya bukan untuk mengalahkan atau menjatuhkan, tetapi sebaliknya.

Semua manusia pernah jatuhdan melakukan kesalahan. Meskipun sudah diantisipasi, sekuat mungkin, ia akanterus terjadi. Semakin mencapai puncak, semakin besar potensi untuk jatuh danmelakukan kesalahan, dan semakin besar luka atau sakit yang ditimbulkan ketikajatuh. Seharusnya manusia dapat saling membantu untuk saling mengantisipasi,dan saling mengulurkan tangan ketika jatuh dan melakukan kesalahan. Ketikaperempuan menjadi kuat, dia bukan hanya sedang membantu dirinya sendiri tetapijuga dia sesungguhnya sedang membantu laki-laki yang ada di hadapannya. Jikadia terus menerus lemah, dia sedang tidak membantu siapapun, bahkan merusakdirinya sendiri. Di waktu-waktu yang lain, yang akan terjadi adalah sebaliknya,karena demikianlah kehidupan. Manusia biasa tidak selamanya lemah, dan tidakpula selamanya kuat. Ini terjadi pada laki-laki maupun perempuan.

Comments are closed.