Kendaraan Cinta

“Cinta yang kau rasakan hanya untuk-Nya.”
“Cinta kepada makhluk itu akan membuatmu kecewa.”

Selama hampir sebulan saya berusaha menghilang dari dunia maya, mengurangi aktivitas saya di dunia maya dan bahkan aktivitas saya di dunia luar. Persoalan-persoalan yang sangat pribadi sifatnya telah mengantar saya kepada situasi ini, yang mana mungkin sangat terkait dengan gejolak-gejolak kegelisahan batin yang saya alami selama beberapa bulan terakhir.

Biasanya saya menghadapi gejolak-gejolak ini sendirian, karena saya sangat sukar untukmenemukan sahabat  sohbet[i] yang cocok, namun seperti ditakdirkan Tuhan saya kali ini saya tidak sendirian. Bahkan, kemunculan mereka ternyata bukan berarti langsung memuluskan semua hal,malah tidak jarang menyeret saya pada hal-hal yang lebih menyulitkan saya.Sebagai seorang pemula di Jalan, saya benar-benar seorang yang belum berpengalaman, meskipun memiliki pengetahuan. Dan, tujuan saya menulis ini dalam catatan saya adalah karena saya berharap ini menjadi pengingat (reminder)kepada diri saya sendiri. Supaya saya tidak lupa.

Saya ingat, dan selalu ingat, kata salah satu guru utama saya, bahwa di Jalan yang saya tempuh, dalam tradisi kami, sebagai manusia yang masih terikat oleh raga, oleh darah dan daging, oleh nafs, maka kita akan sangat sangat mustahil melakukan suatu tahapk etidakmelekatan yang ekstrim. Mendadak mencapai tahap semacam itu menimbulkan banyak gangguan, ketidakseimbangan dan kerusakan yang serius. Kemelekatanmemberikan keseimbangan yang cukup penting bagi setiap pemula seperti saya agar terus fokus menuju tujuan akhir Jalan.

Saya adalah seorang yang jauh dari sempurna. Memiliki begitu banyak kecacatan dankekurangan serta kelemahan. Tetapi, pada saat yang sama saya  terlempar ke dalam takdir di mana saya harus berdiri dan berada pada situasi-situasi dan kondisi-kondisi di mana saya harustampil sempurna, kuat, dan cemerlang.

Selama bertahun-tahun saya berjuang keras menuntut diri saya sendiri untuk menerima setiap kelemahan orang-orang di sisi saya, orang-orang yang saya cintai danorang-orang yang mencintai saya. Mengapa? Karena saya menuntut diri saya sendiri untuk menjadi pribadi yang kuat, tangguh, cemerlang dan sempurna. Namun,sesungguhnya yang saya tidak sadari dan baru terakhir saya sadari, adalah selama bertahun-tahun juga saya berjuang keras menuntut diri saya sendiri untukmenjadi seseorang yang mandiri dan tidak bergantung kepada mereka. Saya,bagaimana pun, menyadari bagaimana saya terlalu bergantung kepada mereka, bahwa saya sangat dipengaruhi oleh mereka, dan saya tidak tahu atau tidak dapat membayangkan sekiranya mereka meninggalkan saya. Saya baru menyadari selama bertahun-tahun saya mencoba menghadapi rasa takut saya akan hal-hal seperti ini.

Sekarang, saya menganggap, dan merasa perlu untuk menyadari, bahwa mereka juga membutuhkansaya. Bahwa kelemahan-kelemahan mereka di mata saya, itu merupakan titik-titikdi mana saya perlu melepaskan keterikatan dan ketergantungan saya kepada mereka. Jika mereka meninggalkan saya, kelak, saya sudah siap untuk menerimar ealitas tersebut. Toh, pada akhirnya, saya harus tiba di tujuan akhir Jalan saya sendirian. Hidup saya bukan untuk mereka. Hidup saya adalah untuk Dia.Mereka hanyalah kendaraan-kendaraan saya menuju Dia. Sering sekali sekali saya melupakan ini. Sering sekali saya kesulitan untuk mengatasi rasa takut saya akan matinya atau mogoknya kendaraan-kendaraan ini. Dan, sering sekali sayajuga lupa bahwa saya juga adalah kendaraan bagi mereka. Jika saya lemah, maka mereka juga tersendat-sendat dan terseok-seok di Jalan. Jika saya kuat, makamereka akan banyak terbantu. Dengan terbantunya mereka, maka itu juga aka semakin menguatkan saya, dan saya sendiri bisa terus berjalan juga.

Bagi seorang darwis Dawoodiya, fokusnya adalah wajah manusia. Pengertiannya adalah lebih kurang, di antaranya, bahwa kita semua adalah kendaraan itu. Saya harusmemahami bahwa jika kendaraan benar-benar buruk mogoknya, saya akhirnya harus kembali ke pangkal jalan untuk mengembalikannya dan menggunakan kendaraan yangl ain. Dan, jika kendaraan rusak, masih bisa diperbaiki di tengah jalan, maka masih bisa dilanjutkan. Dan, bahwa saya sebagai kendaraan itu juga saya tidak ingin menjadi kendaraan yang benar-benar buruk mogoknya. Selanjutnya, sebagai kendaraan saya harus memberikan diri saya kepada yang menggunakan saya betapapun banyak kelemahan dan kekurangan yang saya miliki. Sebagaimana halnya saya bergantung kepada kendaraan-kendaraan saya, mereka juga bergantung kepadasaya sebagai salah satu dari kendaraan mereka. Hanya saja yang patut terusm enerus diingat bahwa jika tiba-tiba di tengah jalan Tuhan menghendaki kendaraan-kendaraan itu tidak lagi dapat saya gunakan, yaitu Dia ambil dari saya, dan bahwa saya harus menggunakan kendaraan-kendaraan lain, maka saya harus benar-benar siap untuk itu.

Oleh karena itu saya juga berharap siapa saja yang menggunakan saya sebagai kendaraan mereka,juga harus siap menerima kenyataan jika saya tidak layak lagi menjadi kendaraan mereka, tidak dapat menjadi kendaraan mereka atas kehendak Allah. Sungguh sulit dan sungguh saya merasa sangat tertekan apabila mereka terlalu menggantungkan diri mereka pada saya, bahkan hal itu sungguh-sungguh dapat merusak saya.Bayangkan jika sebuah kendaraan diforsir sedemikian rupa digunakan. Begitulah kondisi yang acap kali saya hadapi dan harus berjuang keras untuk membuat agar hal itu dapat saya atasi.

Seorang sahabat mengirimkan sebuah status indah kepada saya, tentang kata-kata Shams Tabrizi kepada istrinya Kimya yang melayaninya, kira-kira begini bunyinya: “Cinta yang kaurasakan hanya untuk-Nya. Aku hanyalah pelayan-Nya. Kau harus berhati-hati.”

Bahwa ketergantungan dan kebutuhan saya kepada siapapun, entah ibu, ayah, suami,anak-anak, guru-guru, dan sahabat-sahabat serta saudara-saudari saya sebagai tanda cinta yang saya miliki, harus selalu saya sikapi dengan hati-hati jangan sampai tergelincir menjadi perasaan cinta untuk mereka dan mengubah Dia sebagai nomor dua. Sebab cinta kepada manusia pasti akan selalu mengecewakan. Bahwa cinta yang saya rasakan adalah sesuatu yang mengalir yang dianugrahi oleh Tuhan untuk disalurkan kepada mereka, tetapi bukan untuk mereka, tetapi sesungguhnya hanya untuk Dia. Oleh karena jika suatu saat terjadi keadaan di mana saya lebih menyukai kendaraan yang ini daripada kendaraan yang itu, saya lebih membutuhkan kendaraan ini, dan bukan kendaraan itu, semuanya adalah hal yang sangat wajar dan biasa terjadi.Jika suatu saat saya benar-benar merasa kecewa pada mereka,itu merupakan sebuah tanda-tanda di mana Dia sedang mengingatkan kepada saya bahwa saya telah berjalan terlalu jauh merasakan cinta untuk mereka, bukan untuk-Nya.

Saya haruslah menyadari bahwa saya memiliki sebuah jiwa yang bebas merdeka, dan tak seorangpun boleh serta berhak menguasai jiwa saya siapa pun dia. Demikian pula hatidan perasaan saya. Bahwa meskipun saya terikat oleh segunung aturan syariat yang sangat baik, saya harus ingat bahwa syariat bukanlah beban melainkan bantuan utama bagi saya menempuh Jalan ini. Syariat adalah bahan bakar bagikendaraan-kendaran saya dan saya sebagai kendaraan mereka. Tanpanya saya tidakdapat berjalan. Tetapi saya harus selalu ingat bahwa yang harus gunakan adalah secukup yang saya mampu, sehingga saya tidak merasakan ia sebagai suatu beban yang berat, perlahan-perlahan, ia dapat ditingkatkan sesuai kapasitas mesinnya.  Dan, sekali saja saya merasaj iwa, hati dan perasaan terbelenggu, maka saya menjadi seperti sebuah kendaraan yang berjalan tersendat-sendat, lemah bahkan menjadi sangat membahayakan. Dan kemudian saya akan mulai merasa bahwa setumpuk syariat sebagai beban berat yang luarbiasa. Begitu pula jika saya membelenggu jiwa, hati dan perasaan orang-orang lain.Saya benar-benar harus ingat sebagai kendaraan saya juga sangat bisa: sangat membahayakan jiwa dan keselamatan mereka. Ketakutan saya yang luarbiasa akan hal ini yang selama beberapa waktu terakhir menahan saya untuk menyingkir sejenak dari dunia maya.

Sebagai seorang dekalogis (seorang yang fokus metode Jalannya terdapat dalam Qs.2:53), sayaterus-menerus diingatkan oleh guru-guru saya, bahwa cinta yang saya rasakan adalah untuk-Nya dan disalurkan pun untuk-Nya – sebab itulah intisari Dekalog [ii]. Betapa sering saya mengabaikan dan terlupakan akan hal ini. Para guru dan sahabat sohbet saya mungkin hanya dapat mengantarkan saya kepada pintu demi pintu, tetapi sayalah yang harus membukanya sendiri. Bahwa saya harus sangat bergantung kepada diri saya sendiri, sebab Dia yang bersemayam di dalam dirisaya selalu ada, Dia tidak pernah berubah, Dia tidak pernah meninggalkan saya,dan Dia tidak pernah sekalipun mengecewakan saya. Bahwa, di titik akhir Jalan yang saya tempuh, saya akan benar-benar sendiri. Tidak ada keluarga, tidak adakerabat, tidak ada pula sahabat. Yang ada hanya Dia, hanya Allah, hanya Allah yang harus terus-menerus saya pandang, saya ‘temukan’ dan saya dekati di tempat terdalam, pusat dari segala pusat diri saya.

Dan, saya sungguh-sungguh menulis ini untuk pengingat diri saya sendiri. Mudah-mudahan jika keluarkan ke publik, juga dapat sedikit meringankan beban yang saya rasakan beberapa waktu terakhir. Supaya siap kembali menjadi kendaraan betapapun banyak spesifikasi buruk yang saya miliki.

Wallahu’alambissawab. Segalanya saya pulangkan kembali kepada Allah SWT, semoga tulisan saya ini bermanfaat dan tidak membawa mudharat kepada yang membacanya. Amin yarabbal alamiin.

26 November,2013

Comments are closed.