Habib, Tabib dan Zabib

baonan

ilustrasi

Alkisah, di sebuah kota kecil di Indonesia hidup seorang habib dan seorang tabib yang bersahabat dan bertetangga. 

Pada suatu hari, sang habib jatuh sakit dan menemui sahabatnya sang tabib.

“Assalamu’alaikum, Bib,” sapa sang habib.

“Wa’alaikumsalam, Bib,” balas sang tabib. “Silakan masuk, Bib.”

Syukron, Bib.”

“Ada apa gerangan, Bib?”

Afwan, ana sakit, Bib.”

Hayyaa, sakit apa sih Bib?”

Ana sakit perut nih, Bib.”

Hayyaa, Bib, wa yakin pasti lu kebanyakan makan zabib!”

“Oh, dari mana ente tahu, Bib?”

Hayyaa, Bib, wa lihat lu terlihat makin manis saja haa… Pasti itu gara-gara zabib haaa…Cuma, itu lu punya perut jadi asem, Bib.” Sang tabib bangun mendekati sahabatnya, “Lai, wa periksa dulu ya, Bib.”

Arakian, maka sang tabib itu pun memeriksa tubuh sang habib dan kemudian mengobati sang habib. “Wa bilang apa kan, benar zabibnya kebanyakan, Bib.”

“Iya nih, Bib. Bagaimana menyembuhkannya ya, Bib?”

Hayyaa…Berhentilah konsumsi zabib berlebihan, Bib.”

“Oh gitu ya, Bib? Ahsan, Ahsan, Bib.”

“Nah….nanti kalau mau makan zabib, biasakanlah dulu minum air bening, Bib.”

“Oh gitu ya, Bib? Syukron, Bib.”

“Iya banget, janganlah makan zabib tanpa disertai minum air bening, Bib.”

“Iya, Bib. Syukron ya, Bib.”

Hayyya…sama-sama…Kamsia haa, Bib.”

Kalakian, akhirnya selesailah juga pengobatan sang habib. Demikianlah kisah kecil antara kedua genre BIB, “mata uang.”

(Bersambung: Antara Habib Sang Penaung Rohani dan Tabib Penaung Jasmani).

(Oleh: Bibi Miryam Dawoodiyya dan Jalu Kaba X)

Comments are closed.