Catatan-catatan Ringkas tentang Sufi

Tradisi dan Tarekat Sufi

“Mereka memupus seribu lilin, namun kerumunan tetap berkumpul.”

(Ujaran Sufi Populer)

Kitab Sufi tidak ditulis dengan tinta hitam dan kata-kata, 

Ia tak lain dari segumpal kalbu putih murni laksana salju.

(Sebuah puisi Sufi terkenal)

Seorang teman FB bernama Kelik Tananto mendadak muncul di puisi saya dan memberikan komentar “iman gado-gado” kepada puisi saya yang lahir dari keyakinan saya sebagai seorang darwis Dawoodiyya.

 nasr2Seyyed Hussein Nasr* menulis:

Kita hidup dalam sebuah dunia tempat dimensi transenden dari sebuah realitas dinafikan oleh banyak filosofi yang muncul pada masa-masa tertentu, dan karena realitas disamakan dengan apa yang ada dalam domain fana dan sementara. Bahkan agama, yang didasarkan pada realitas transenden dan sekaligus imanen, sering direduksi menjadi sejarahnya, dan demikianlah yang kerap terjadi terutama sejak abad ke-19. Pada saat historisisme menjadi dominant dalam filsafat Barat, dan reaksi-reaksi yang terkemudian terhadapnya, seperti fenomenologi Edmund Husserl, tidak dapat menghapuskan dari pikiran sebagian besar orang Barat yang berpendidikan kebiasaan untuk mereduksi klaim kebenaran menjadi sejarahnya dan membuat bukti sejarah satu-satunya kriteria untuk menilai validitas klaim kebenaran itu.

Inilah latar belakang filosofis yang dibawa kebanyakan sarjana Barat ke dalam kajian mereka mengenai Tasawuf, mereduksi realitas Tasawuf ke dalam sejarahnya – bahkan sejarah dalam pandangan mereka yang terbatas lingkupnya, karena hanya berdasarkan dokumen tertulis dan tanpa pengaruh transmisi lisan yang penting.

Akibatnya sejak abad ke-19, ketika Tasawuf mulai dibahas dengan serius di Barat, segala macam teori tentang asal-usulnya pun diajukan. Sebagian menulis bahwa ia hadir sebagai akibat dari pengaruh monastisisme Kristen, yang lainnya sebagai akibat dari Neoplatinistis dan yang lain lagi dari Zoroanistrisme dan Manichaeisme, sementara kelompok lain mencari asal-usulnya di India.

Pandangan mereka ini sama absurdnya dengan mengklaim akar non-Kristen bagi spritualitas Kristen atau akar non-Yahudi bagi mazhab-mazhab spritualitas dan mistisisme Yahudi.

Tentu kemudian seperti Louis Massignon dan David Margoliouth menegaskan bahwa akar Tasawuf harus dicari dalam wahyu Islam itu sendiri. Namun, kebenaran mendasar ini tidak menghapus kemungkinan sebuah tradisi spiritual untuk meminjam simbol, bahasa metafisik untuk perumusan pengalaman spiritual batin dan cara-cara ekspresi dari tradisi lain. Kenyataan bahwa St Teresa dari Avila mendasarkan idenya tentang 7 Kastil Kontemplasi pada karya Sufi Baghdadi Abu al-Husayn al-Nuri tidak membuat dia kurang suci dari orang suci Kristen lainnya, persis seperti cinta al-Hallaj kepada Kristus tidak membuat dia sebagai Kristen secara diam-diam.

Realitas Tasawuf tidak dapat direduksi menjadi sejarah eksternalnya belaka. Kenyataan metahistoris telah menjelma dalam kehidupan banyak orang suci dari berbagai Tarekat Sufi dan para pengikut mereka, dalam khazanah sastra yang luas termasuk puisi-puisi mistik terhebat yang pernah ditulis, dalam tulisan-tulisan metafisik dan filosofi yang sangat penting, dalam musik, dan seni lainnya, serta dalam aspek sosial, ekonomi, dan politik peradaban Islam.

Dalam membahas manifestasinya dalam tradisi dan tarekat Sufi, penting untuk diingat bahwa kita sedang berhadapan dengan sebuah tradisi yang telah menyebar ke wilayah dunia yang lus, mulai dari kota-kota besar seperti Fez, Kairo, Damaskus, Baghdad, Istanbul, Isfahan, Tus, Lahore, dan Delhi hingga desa-desa kecil di Hindu Kush, serta hutan-hutan di Senegal, dari pelabuhan laut dan sungai di Sumatera hingga di tengah gurun di Afrika [saya ingin menambahkan dari Cina sampai Eropa, dan dari Nusantara hingga ke benua Amerika]. Selain itu terdapat banyak tokoh penting Sufi yang tidak pernah menulis sepatah kata pun, tetapi meninggalkan jejak yang tidak terhapuskan di hati para pengikut mereka serta dikenal dan masih dihormati di wilayahnya.

 “Setelah kematian kami janganlah meninggalkan kami di bumi,

Karena kubur kami ada di dalam kalbu ahli makrifat.”

(Puisi Sufi lainnya)

[Sumber: The Garden of Truth: Mereguk Sari Tasawuf, bab 4; karya *Seyyed Hussein Nasr, guru besar studi Islam di Univ. Georgetown AS]

Tradisi Sufi pada dasarnya adalah suatu upaya menempuh perjalanan spiritual yang melampaui fikih dan syariat literal dan  makna-makna zahir dari alQuran dan alHadis. AlQuran dianggap juga memiliki makna-makna batin dan esoterik, dan itulah yang dipelajari, diamalkan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Umumnya tradisi Sufi mengambil hadis-hadis Qudsi (baca bab tentang Qur’an dan Hadis).

Tradisi Sufi mengenal adanya yang disebut dengan “rantai silsilah”, dan wilayah atau walayah yang dianugrahkan Allah kepada Nabi dan yang diteruskannya kepada kalangan tertentu di antara para sahabatnya. Silsilah kaum Sufi seluruhnya kembali kepada Nabi. Walau amalan sufisme atau mistisme telah ada di masa Nabi, istilah tasawuf dan sufi baru dikenal satu abad setelah Nabi.

Legenda juga menyebutkan konon sebuah kelompok pengembara spiritual mendengar adanya seorang Nabi di Jazirah Arab, maka mereka pun pergi untuk menemui Nabi Muhammad. Begitu melihat wajahnya saja, para pengembara itu sudah menerima kenabian baginda. Nabi Muhammad menjamu mereka dan memberikan berbagai intisari ajarannya. Kemudian, kelompok ini mengundurkan diri dan melanjutkan perjalanan mereka. Kelompok ini termasuk dari banyak kelompok Sufi awal, yang mungkin tidak dikenal karena sifat mereka yang nomaden, tidak mewariskan kitab hanya transmisi lisan.

Kaum Sufi Perdana

 a. Generasi Sahabat

Lion-Ali1Tokoh kedua dalam rantai silsilah yang sangat penting bagi ahli waris utama ajaran esoterik adalah Imam Ali kw (w. 661 M). Beliau dipandang sebagai sumber penting rantai walayah/wilayah. Bagi kalangan Sufi ia dipandang sebagai seorang Imam pertama, sedikit berbeda dari kalangan Syiah yang memaknainya sebagai Imam pertama tidak hanya sebagai yang sifatnya esoterik sekaligus juga eksoteris. Jika seorang Sunni bersyahadat, bersaksi tiada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya, maka seorang Syiah juga harus menambah kesaksian walayah/wilayah secara esoterik maupun eksoteris yaitu bahwa Ali adalah imamnya. Sedangkan bagi kalangan Sufi, Ali merupakan Imam pertama terutama dalam hal eksoteris, sesudah Nabi Muhammad saw.

Alkisah, Ali ditanyai oleh seorang prajurit, “Apakah kebenaran itu?” Mendapat pertanyaan itu Ali menjawab bahwa beliau akan segera menjawabnya karena justru soal kebenaran seperti itulah membuat mereka pergi berperang. Peristiwa ini juga akan mengingatkan kita pada tanggapan Khrisna kepada Arjuna di medan perang seperti yang terekam dalam Bhagavad Gita. Wacana, khotbah, dan surat-surat Ali kemudian dikumpulkan dalam sebuah kitab yang disebut Nahjul Balaghah (Alur Kefasihan).

Tokoh ketiga adalah Abu Bakar ra (w. 634 M) yang merupakan khalifah pertama, kendati demikian tidak semua tarekat Sufi memiliki rantai silsilah kepadanya.

Sahabat-sahabat Nabi lain yang juga dikenal sebagai pewaris esoterik antara lain adalah:

  1. Abu Dzar al-Ghifari (w. 652/53) dikenal sebagai perawi hadis dan orang yang hidupnya sangat zuhud (asketik).
  2. Salman al-Farisi (w.656), seorang Muslim Persia yang merupakan salah satu pendiri Tasawuf dan Keksatriaan Spritual (futuwwah).
  3. Uways al-Qarani.

Imam Hasan dan Imam Husein yang merupakan kedua cucu Rasulullah saw dianggap juga sebagai ahli waris esoterik.

b. Generasi tabi’in (generasi paska-sahabat)

Hasan al-Bashri (w. 728) yang berasal dari Madinah dan kemudian ke Basrah, Irak ini adalah seorang leluhur Tasawuf yang terkemuka. Beliau dikenal memperkenalkan cara hidup asketik dan berpaham tasawuf yang sederhana yaitu “ketaatan kepada Allah”.

imam jafarImam Ja’far as-Shodiq cucu Imam Husein, yang telah disebut pada bab sebelumnya, merupakan rantai silsilah tarekat Sufi dari kalangan tarekat Sunni maupun Syiah, baik Syiah Ismailiyah maupun Imamiyah. Salah satu cucunya, Imam Ali Al-Ridha atau Imam Reza, yang diimani kalangan Syiah Imamiyah sebagai imam ke-8 sebagai rantai penting dalam gnosis Syiah (irfan-i-syi-i). Misalnya dalam lambang-lambang Syiah dan beberapa tarekat terdapat bintang bersegi delapan, sebenarnya artinya antara lain adalah karena para guru mereka adalah keturunan dari imam ke-8.

Orang pertama yang menyebut istilah jalan spiritual itu sebagai tasawuf konon adalah Abu Hasyim (w.767). Ada berbagai pendapat mengenai asal muasal kata ‘sufi’.

  1. Ahli al-shuffah, yaitu orang-orang yang sering duduk di beranda mesjid Nabi di Madinah mereka adalah para sahabat Nabi
  2. shaffa – suci
  3. shuf – wol karena kaum Sufi awal biasanya memakai pakaian wol panjang yang mirip dengan jallabah Maroko jaman sekarang dan konon sering dikenakan para Nabi dan leluhur Israel
  4. sofia dari kata Yunani – kebijaksanaan

Tokoh Sufi terkenal lain pada era ini adalah Rabiah al-Adawiyah (w.801) seorang perempuan, bekas budak yang dibebaskan karena konon tuannya melihat kesalehannya dan beliau merupakan murid (ada yang bilang langsung ada yang bilang tidak) kepada Hasan al-Basri. Rabiah adalah pelopor Mazhab Cinta dalam Sufi, yaitu menekankan pada doktrin bahwa Allah adalah Cinta, Kekasih, dan seterusnya. Beliau mempunyai beberapa murid seperti Shufyan al-Thawri dan Syaqiq al-Balkhi.

Tokoh-tokoh Mazhab Cinta lain adalah Tsawban bin Ibrahim, dan Dzu al-Nun al-Mishri. Al-Mishri seorang darwis, filosof dan alkemis yang selain dikenal dengan mazhab cintanya tetapi juga sufi pertama yang memperkenalkan teori peniadaan (al-fana’) dan kekekalan (al-baqa’).

c. Mazhab-mazhab Sufi sesudahnya

 (i). Mazhab Baghdad

Dua kutub Tasawuf yaitu:

Abu Qasim al-Junayd (w.900), yang paling terkenal dan

AbdjaelaniAbdul Qadir al-Jailani (w.1166), yang makam besarnya mendominasi kota bersama makam Imam Syiah ke-7 yaitu Imam Musa al-Kazim.

Abdul Qadir al-Jailani juga merupakan rantai silsilah hampir di banyak tarekat Sufi dan kebatinan Islam di Nusantara.

Kutub Tasawuf adalah istilah yang diperkenalkan kemungkinan oleh Ma’ruf al-Karkhi (w.815) murid Imam Reza (w. 814) yang berarti bahwa dalam Tasawuf merujuk kepada tokoh sentral dalam hierarki spiritual esoterik yang mengatur domain spiritual setiap generasi.

Muridnya Sari al-Saqati (w. 867) mengembangkan teori mengenai keadaan (hal) dan kedudukan (maqom) serta makna Kesatuan (al-tawhid) dan keponakannya Junayd mengembangkannya lebih lengkap. Murid lain Sari adalah Kharraz yang mengembangkan teori mengenai Kebenaran (al-Haqq) yang mana ia juga adalah guru dari Junayd. Doktrin ini dikembangkan dengan lebih kontroversial oleh murid Junayd yang sangat terkenal, Mansur al-Hallaj.

Pengaruh Hasan al-Bashri masih memainkan peranannya, terbukti pada al-Harits al-Muhasibi (w.857) yang juga seorang teolog dan ia dikenal dengan metode muhasabahnya.

Saint_Theresa_of_Avila_by_natamonSalah satu teman Junayd adalah Abu Husayn al-Nuri (w. 907) yang menulis Maqamat al-Qulub (Stasiun-stasiun Hati) menganalissis keadaan psikologis jiwa dalam kaitannya dengan hati manusia. Ia menggambarkan berbagai maqam jiwa dalam kontemplasinya tentang Allah sebagai tujuh benteng, sebagai simbolisme, serta menulis juga tentang taman hati atau taman batin. Karya ini menginspirasi salah satu tokoh spiritual Katholik favorit saya, St Teresa dari Avila dengan karyanya Interior Castles.

Murid Junayd yang kontroversial dan sangat terkenal adalah al-Hallaj yang dihukum mati karena keyakinannya yang saat itu dipandang ekstrim. Dalam dunia sufi, Al-Hallaj bukan satu-satunya martir yang mengalami nasib seperti itu, di Indonesia ada Lemah Abang atau Syekh Siti Jenar, Hamzah Fansuri, sementara itu selain al-Hallaj yang paling terkenalnya adalah Pendiri mazhab filsafat iluminasi (Syihabudin Suhrawardi, w.1191) Suhrawardi atau Syaikh al-Isyraq dihukum mati di Aleppo, Suriah. Selain beliau juga ada Sayyid Ali Imaddudin Nasemi (w.1417) yang juga dihukum mati dikuliti di Aleppo, Suriah.

Mabuk dan Tenang

Dalam tradisi Sufi adalah istilah darwis-darwis “sober” yaitu darwis-darwis yang menyembunyikan “maqom”nya dengan ketenangan, dan tetap terlihat kesalehan syariat dan fikihnya. Namun ada juga darwis-darwis “drunken” atau darwis-darwis mabuk, dalam artian mabuk akan kecintaannya kepada Allah dan tidak segan-segan menampilkannya walaupun terkesan melawan dogma dan doktrin syariat. Mazhab Bahgdad dikenal dengan aliran ketenangan (shahw) dan Khurasan dengan aliran kemabukan (sukr) walaupun sesungguhnya semua darwis pasti mengalaminya.

2. Mazhab Khurasan

zikr-semaKhurasan,Iran.

Ibrahim bin Adham seperti Siddharta (Buddha Gautama) adalah seorang pangeran yang memilih hidup zuhud menjalani kehidupan spiritual. Junayd bahkan menyebut beliau sebagai kunci ilmu-ilmu esoterik dan Ibrahim menjadi prototipe asketik Sufi yang paling populer.

Tokoh dari mazhab Cinta pada mazhab Khurasan ini yang paling terkenal adalah Bayazid Basthami (w.874). Kendati Bayazid sangat kontroversial juga (jika al-Hallaj mengatakan, ana al-Haqq//Akulah Kebenaran, Bayazid mengatakan, subhani subhani//maha suci Aku maha suci Aku)tetapi dia dapat dihormati oleh kalangan eksoteris.

Guru mazhab Khurasan yang terkenal adalah Tustari yang juga sahabat al-Hallaj.

Muridnya Hakim Tirmidzi adalah salah satu darwis pertama yang mendiskusikan Tasawuf doctrinal (irfan) yang menjadi begitu sentral dalam ajaran Ibn Arabi (Syaikhul Akbar dalam tasawuf).

Pada masa ini di Mesir juga muncul tokoh yaitu al-Niffari (w.965) seorang Sufi terkenal.

3. Periode Konsolidasi dan Sintesis

imam-ghazaliPada masa selanjutnya tasawwuf berkembang dengan lebih sistematis dan doctrinal sekaligus telah menyebarluas. Dua karya besar yang banyak dibaca hingga sekarang sebagai rujukan kaum Sufi di berbagai tarekat adalah Risalah Qusayry karya al-Qusayry (w. 1074) dan Kasyf al-Mahjub karya al-Hujwiri (w.1049).

Kemudian muncul dua tokoh Sufi adik-kakak al-Ghazali yaitu Abu Hamid Muhammad al-Ghazali (w. 1111) dan adiknya Ahmad al-Ghazzali (w.1126). Yang kakak dikenal sebagai Imam al-Ghazali dan pengarang buku Ihya Ulum al-Din (kebangkitan ilmu-ilmu agama) dan Kimia Kebahagiaan, juga Misykat al-Anwar (Ceruk Cahaya). Sementara adiknya tidak terlalu produktif melahirkan karya tetapi juga meninggalkan sejumlah risalah Sufi seperti Sawanih (Ilham dari dunia Ruh).

(Catatan: silsilah di sini yang saya maksud adalah silsilah transmisi ajaran. Dalam Sufi juga dikenal adanya ijazah yaitu seorang murid setelah belajar pada seorang mursyid dan mendapat ijazah boleh menjadi mursyid dan mengembangkan tarekatnya).

Mulai dari abad ke-12 merupakan abad berkembang pesatnya tassawuf dan lahirnya banyak sekali darwis. Yusuf Hamadani (w.1140) yang silsilahnya sampai ke Bayazid Basthami dikenal sebagai guru besar yg menggabungkan tasawuf klasik dengan tarekat Malamatiyyah. Murid utamanya adalah Ahmad Yasawi (w.1166) dari Asia Tengah.

Ruzbahan Syirazi (w.1209) dari Shiraz, Iran dikenal dengan karya monumentalnya Kasyf al-Asrar (Membuka Tabir Rahasia).

ibN-arabi'sIbn Arabi (w.1240) merupakan seorang filosof dan darwis dari Spanyol, Andalusia, yang digelari sebagai Guru Besar (Syaikhul Akbar) yang dikenal mengembangkan konsep filosofis tentang Kesatuan (Tawhid) dan Wahdat al-Wujud (Oneness of being) [catatan: berbeda dari Wihdat al-Wujud]. Beberapa karyanya yang terkenal adalah Fusus al-Hikam dan Futuhat al-Makkiyya.

Karya beliau sangat mempengaruhi seorang guru besar filosof dan darwis Syiah dari Iran Sadruddin Muhammad Shirazi yang dikenal sebagai Mulla Sadra (w.1640) yang mazhab filsafatnya kini dikenal dengan mazhab Sadrian, dan bahkan Neo-Sadrian, terutama berkembang pesat di Iran. Mulla Sadra sangat tertarik seperti Ibn Arabi dan Suhrawardi dalam mengintegrasi antara filsafat dan ‘irfan. Beliau merupakan bapa Transendent Teosofia atau aliran “Hikmah al-Muta’liyah”, berhasil mensintesiskan problem filsafat yang dihadapi Ibn Sina, Suhrawardi dan Ibn Arabi. Beliau mengarang kitab integrasi filsafat dan irfannya antara lain : Al-Hikma al-muta‘aliya fi-l-asfar al-‘aqliyya al-arba‘a, dan beberapa puisi juga. Konsepnya yang paling terkenal sebagai pengembangan dari Wahdat al-Wujud antara lain adalah Ashalatul Wujud.

4. Tarekat-tarekat Sufi:

Qadiriyah pendirinya adalah Abdul Qadir al-Jailani yang menulis karya Futuh al-Ghayb (Penyingkapan Ghaib). Tarekat ini berkembang dari Irak sampai ke Nusantara.

skopje dervishesRifaiyah pendirinya adalah Ahmad ibm Ali Rifai (w.1182) berkembang dari Irak sampai ke Suriah, Mesir dan bahkan Eropa seperti Bosnia. Karena keunikan ritual mereka di Mesir, orang Eropa menyebut para darwisnya sebagai Darwis Melolong.

Malamatiyyah, kaum Pencela Diri. Nama mereka diambil dari kata malamah, yang secara bahasa berarti “celaan”, malamah mengandung arti bahwa mereka tidaklah menganggap pendapat orang dalam tingkah peribadatan mereka terhadap Tuhan. Kaum Malamati sengaja menjalani kehidupan hina, dengan tujuan untuk menyembunyikan hakikat pencapaian spiritual mereka.. Pendiri kaum Malamatiyyah ini, adalah Hamdun al-Qashshar, sufi abad ke-3 H/9 M, yang berasal dari Naisyapur di Khurasan. Kaum Malamatiyyah mengikuti teladan dirinya, yaitu hidup secara batiniah dalam kebersatuannya dengan Allah, sementara secara lahiriah, mereka bertindak seolah-olah terpisah dari Tuhan.

Thariqa yi khwajagan (tarekat sang guru). Pendirinya Ghujduwani (w.1220). Cikal-bakal tarekat Naqsyabandi.

Syaikh BahauddinNaqsyabandiyyah adalah tarekat ke-3 setelah Qadiriyah dan Rifaiyah yang sebarannya sangat luas. Pendirinya adalah Bahauddin Naqsyaband (w.1389). Di Asia Selatan dan Asia Tenggara, Naqsyabandiyah berkembang pesat, juga di Rusia dan Balkan. Di India, tokoh terkenalnya adalah Ahmad Sirhindi (w.1624).

Naqsyabandiyah-Haqqani adalah cabang dari tarekat ini yang sekarang dipimpin oleh Syaikh Hisham Kabbani, yang sudah sering diundang ke Indonesia dan tarekatnya juga berkembang pesat di Indonesia.

Seperti Chistiyah, di India, tarekat Naqsyabandiyah cabang Mujadidiyah mengambil murid-murid Hindu dan non-Muslim. Contoh sufi Amerika dan Eropa terkenal dari cabang ini adalah Irina Tweedi (w. 1999) dan Llewellyn Vaughan-Lee, yang terakhir adalah seorang darwis psikolog yang terkemuka.

Suhrawardiyah didirikan oleh Abu Najib Suhrawardi (w.1168) dari kotaSuhraward, Iran. Ia merupakan sebuah tarekat keksatriaan spiritual yang merupakan tarekat yang didasarkan pada aktivitas bahaduri atau kriya. Penyair Persia terkenal seperti Sa’di (w.1292) terinisiasi ke dalamnya dan juga Multani (w.1262) guru dari penyair terkenal Fakhrudin al-Iraqi (w.1284). Dua murid Abu Najib menjadi guru dari pendiri tarekat berikut ini:

Tarekat Kubrawiyah, didirikan oleh Najmudin Kubra

Tarekat Khaksar adalah cabang Tarekat Jaliliyah dari Suhrawardiyah juga.

Tarekat Kubrawiyah berkembang pesat di Persia. Mereka dari tarekat ini yang terkenal antara lain adalah penyair Fariduddin Attar, dan bapak dari pendiri sufi terkemuka Jalaluddin Rumi.

Salah satu murid kontemporer dari tarekat ini, Wahid al-Awliya (w.1955) merupakan pendiri tarekat Dzahabiyah yang masih hidup di Persia. Selain itu cabang dari tarekat Kubrawiyah lain adalah Tarekat Firdawsiyah di India.

 beggarsbowl_542Tarekat Qalandariyah pendirinya Jamaluddin Sawaji (w.1223) menyebar ke India dll. Qalandar atau kaum kalendar berarti para darwis pengembara yang biasanya berpenampilan kasar dengan janggut tak rapih.

Mangkuk kemelaratan Sufi (kasykul) secara khusus dikaitkan kepada tarekat ini.

Tarekat Ni’matullahiyyah, pendirinya Shah Ni’matullah Wali  (w.1367) yang lahir di Aleppo, Suriah tapi belajar di Shiraz, Iran dan berkelana sampai Samarkand, Asia Tengah, dan kembali ke Kerman, Iran. Meskipun Shah Ni’matullah konon seorang Sunni, tetapi tarekat ini berkembang menjadi suatu tarekat Syiah.

sah_hatayi_portre_by_uluozanlar-d4beg50Tarekat Safawiyah. Sejaman dengan pendiri tarekat Naqsyabandiyah, berdirilah tarekat Safawiyah oleh Syah Ismail (w.1524) sebuah tarekat beraliran Syiah kemudian bahkan berhasil mendirikan dinasti kerajaan Persia. Di tangan dinasti ini, negeri-negeri yang takluk dalam emporium mereka, dibawah satu negara dengan mazhab resmi Syiah Imamiyah.

Tarekat Syaththariyyah. Namun, pada masa Turki Utsmani, tarekat ini dikenal dengan sebutan Tarekat Basthamiyyah, dan, di Persia dan Turki, tarekat ini dikenal dengan sebutan tarekat Isyqiyyah. Syaththariyyah mendapatkan inspirasi mereka dari karya-karya tafsir mistis tentang ke-Tuhan-an, yang dinisbahkan kepada Imam Ja’far al-Shadiq, yaitu Imam Syi’ah yang keenam. Selain itu, tarekat ini juga banyak terpengaruh oleh kisah-kisah mistis dari kehidupan Abu Yazid al-Basthami. Syaikh Abdullah, sang pendiri tarekat ini, pindah ke India pada awal abad ke-9 H/15 M, setelah menyelesaikan latihan mistisnya. Nama tarekat ini, yang artinya adalah mereka yang bergerak cepat, diambil karena kecepatan tarekat ini dalam memecahkan paradoks ke-Esa-an dalam kemajemukan. Dalam karyanya, Latha’if-i Ghaibiyyah, ia membagi hamba-hamba spiritual musim yang tekun ke dalam tiga kategori, yaitu, Akhyar (orang-orang yang terpilih), abrar (orang-orang yang patuh), dan syaththay (orang-orang yang bergerak cepat). Dan, dari ketiga kategori tersebut, menurutnya, Syaththariyyah-lah yang paling unggul, karena mereka memproleh latihan langsung dari arwah para wali besar masa lalu, serta mampu menempuh perjalanan kenaikan sufi dengan cepat.

MitribsTarekat Chistiyyah, adalah tarekat yang namanya di ambil dari suatu wilayah di Afganistan, didirikan oleh Mu’in al-Din Chisti (w.1236). Namun, meskipun nama tarekat ini diambil dari nama suatu wilayah di Afganistan, tarekat ini hanya terkenal di India. Chistiyyah memiliki silsilah spiritual yang jejaknya dapat ditelusuri sampai kepada Hasan al-Bashri dan Abu Said al-Khayr (w.1049). Mereka meyakini bahwasanya Hasan al-Bashri adalah merupakan murid dari Ali bin Abi Thalib, sebuah klaim yang validitasnya mereka temukan secara spiritual. Tarekat ini menekankan kepada kemiskinan dan berbeda dari Naqsyabandiyah dan Suhrawardiyah, menjauh dari otoritas politik. Mereka dikenal menerima murid-murid orang Hindu dan intens melakukan dialog dengan orang Hindu. Mereka dikenal karena musik mereka. Qawalli merupakan musik yang mereka mainkan dengan sitar mereka..

Tarekat Syadiziliyah didirikan oleh Abu Hasan al-Syadzili (w.1258). Berkembang pesat di Afrika (Tunisia, Maroko, Aljazair, Mesir) sampai ke Cina dan Asia Tenggara. Tokoh-tokohnya yang terkenal antara lain adalah Ibn Ataillah al-Iskandari (w.1309) dengan karya al-Hikamnya. Juga, Mawlay al-Arabi ad-Darqawi (w. 1823) di Maroko yang kemudian murid-muridnya mendirikan tarekat:

Tarekat Darqawiyah. Atau Syaziliyah-Darqawiyah.  Tarekat ini kemudian bercabang lagi kepada Tarekat Alawiyah yang didirikan oleh murid mereka bernama Syaikh Ahmad al-Alawi (w.1934). Salah satu muridnya yang terkenal adalah Fritjhof Schuon (Isa Nuruddin Ahmad) (w.1998).

Rene Guenon and Frithjof Schuon

Rene Guenon and Frithjof Schuon

Tarekat Maryamiyyah. Schuon adalah pendiri mazhab filsafat Perennial juga pendiri cabang dari tarekat Shadziliyah yaitu Tarekat Maryamiyyah yang bersentral pada Bunda Maryam as. Murid Schuon adalah Martin Lings (Abu Bakar Sirajuddin, w.2005) pengarang Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources.

Selain itu, salah satu murid tarekat Syadziliyah yang terkenal adalah Ivan Agueli (w.1917) seorang darwis pengelana asal Swedia. Tahun 1911 bersama Rene Guenon (Syaikh Abdul Wahid Yahya) mendirikan Al-Akbariyyah suatu komunitas Sufi rahasia pada masa itu. Rahasia karena segala yang terkait dengan Islam ketika itu bisa dipandang sebagai mata-mata Turki Usmaniyah. Murid Rene Guenon yang terkenal antara lain adalah Syaikh Abdul Wahid Pallavcini dari Italia, pendiri masjid raya pertama di Milan, Italia.

Abdul Wahid Pallavcini dan Sri Paus Yohanes Paulus II

Abdul Wahid Pallavcini dan Sri Paus Yohanes Paulus II

Tarekat Sanusiyah dan Tarekat Tijaniyah berkembang pesat di Afrika. Tarekat Sanusiyah didirikan oleh Muhammad ibn Ali al-Sanusi (w.1859) yang mendapat ijazah juga dari Tarekat Sadziliyah, dan belajar juga pada Ahmad Tijani (w.1815) pendiri Tajiniyah, walaupun ia tidak ikut Tijaniyah.

ahmad tijani

Shaykh Ahmad Tijani

Selain itu juga berkembang Tarekat Muridiyah yang didirikan oleh Amadou Bamba dari Senegal. Di Afrika sub Sahara seperti Mali, Senegal, Somalia dan Sudan: qadiriyah, rifaiyah, syadziliyah dan tijaniyah berkembang pesat. Konon menurut sahabat saya dari Pantai Gading, Pantai Gading hampir semuanya dipengaruhi oleh ajaran Sufi.

Di Afrika Selatan, seorang Syaikh kontemporer terkenal yang mendapat ijazah baik dari tarekat Shadziliyah-Darqawiyah, Rifaiyah maupun Chistiyah, adalah Syaikh Fadlallah Haeri.

jalaluddinrumi5Tarekat Mawlawiyah didirikan Jalaluddin Rumi (w.1312) dikenal dengan whirling dance-nya (tarian darwis berputar) dan musik serunainya (ney) yang mendayu-dayu menyayat hati, sedikit berbeda dengan cara qawalli memainkan musik mereka yang cenderung riang-gembira. Setelah lama darwis-darwis Mewlewiyyah ditindas, Jalaluddin Rumi menjadi ikon kebanggaan Turki kendati puisi-puisinya dan karya-karyanya berbahasa Persia seperti Mathnawi (bait bersajak) dan Diwan-i-Kabir (dewan agung). Rumi adalah murid dari Syamsudin Tabrizi (w.1248).

Salah satu syaikh terkenal kontemporer adalah Kabir Helminski dan istrinya Camille Helminski dengan organisasi mereka Threshold Society.

tiga santo Bektashiyyah

tiga santo Bektashiyyah

Tarekat Bektashiyyah didirikan oleh Haji Bektash Wali (w.1338) dari Khurasan. Menurut tradisi beliau adalah keturunan dari Imam Reza, Imam ke-8 Syiah. Tarekat ini adalah tarekat Syiah Imamiyah. Beberapa cabang dari tarekat ini sering disalahpahami sebagai kelompok yang menuhankan Imam Ali kw. Khususnya pada cabangnya, tarekat Hurufiyah. Bahkan Seyyed Hussein Nasr dalam bukunya The Garden of Truth kurang berhasil memberikan apresiasi positif kepadanya karena memang kerahasiaan di dalam tarekat ini acapkali menimbulkan kesalahpahaman serius. Pada dasarnya, berdasarkan kajian saya sendiri, tarekat Bektashiyyah terbagi kepada tiga bentuk, selain daripada cabang-cabangnya.

Pertama, kelompok rakyat jelata seperti kaum Alevi (bukan Alawite seperti di Suriah); Kedua, kelompok di tekke-tekke (pondok-pondok) yang mengamalkan sistem monastik dan berakulturasi dengan budaya Eropa sehingga ada tradisi berselibat di kalangan darwisnya, dan ada pula kelompok-kelompok sistem darwis sendirian (lone-dervish system)

alevi-2e5Di kalangan rakyat jelata (kelompok Alevi) ajaran kesetaraan gender amat terlihat pada tiadanya segregasi dalam pertemuan-pertemuan yang disebut semah dengan whirling dervish mereka yang berbeda dengan tarekat Mewlewiyah. Kaum perempuannya juga tidak diwajibkan mengenakan penutup kepala dalam kehidupan sehari-hari, yang wajib adalah berpakaian sopan menurut kebiasaan setempat. Haji Bektash Wali mengajarkan bahwa anak-anak perempuan harus mendapat pendidikan sama seperti anak-anak lelaki. Kaum perempuan Alevi memperoleh pendidikan yang baik, dan bebas menentukan karir mereka. Di kalangan rakyat jelata, saat semah, kaum perempuan biasanya boleh menari bersama laki-laki, jika sudah menikah dengan pasangannya, dan jika belum dengan yang haruslah satu lingkaran dengan yang masih bujangan juga selain dengan yang mahrom dengannya seperti bapak, paman atau saudara laki-lakinya. Selain tarian menari berputar bersama yang berdiri melingkar, juga ada tarian seperti tarian saman, duduk sambil menepuk-nepuk dada.

babagan

seorang baba bektashi

Di kelompok tekke-tekke, seperti kebanyakan established-religion, kaum perempuan tidaklah terlalu kelihatan perannya. Belum ada terdengar rehber maupun baba atau pemimpin tekke perempuan. Beberapa tekke menerapkan tradisi seorang darwis yang telah diinisiasi boleh memilih untuk hidup selibat, dan jika ia berubah pikiran maka dia harus meminta persetujuan dari mursyidnya. Fungsi darwis-darwis dari tekke-tekke ini lebih kurang seperti para pastor dan pendeta bagi rakyat jelata, dan hal ini tentu wajar karena akulturasi dengan budaya Eropa dan tradisi Kristen yang berkembang di sekitar lingkungan mereka. Maka itu tekke-tekke itu hanya diikuti oleh para pria. Ritual dan amalan yang mereka lakukan juga sangat rahasia dan tidak banyak orang bisa mengetahuinya kecuali bergabung dengannya. Alasannya sebenarnya terkait ke sejarah masalalu di mana itu merupakan cara keamanan untuk menjaga tekke-tekke pada masa Usmaniyah dan Kemal Attaturk. Beberapa orang Barat yang pernah melihat bagaimana liberalnya para darwis Bektashi umumnya mengira jika bergabung ke dalam tekke tidak perlu mengikuti sejumlah aturan syariat yang ketat, tetapi ternyata itu sama sekali salah di sebagian tekke. Misalnya dalam minuman beralkohol.

sebuah tekke di Albania

sebuah tekke di Albania

Ada dua aliran tekke atau Bektashi dalam hal minum minuman alkohol, ada tekke-tekke yang membolehkan minum wine atau minuman beralkohol dalam porsi sewajarnya tidak boleh sampai mabuk; dan ada aliran yang sama seperti mazhab Islam pada umumnya yaitu mengharamkannya. Kadang-kadang orang luar mengira seluruh Bektashi menghalalkan minuman beralkohol. Pada perayaan-perayaan bisa diketahui dua aliran ini, seperti pada Nowruz dan Hidirellez dapat terlihat kelompok Alevi yang menyuguhkan minuman beralkohol, dan yang tidak. Biasanya yang di Albania atau daerah Balkan yang lebih utara menyuguhkannya, sedangkan yang di Turki tidak menyuguhkannya. Ketika Syaikh Ali Haydar (mentor Dawoodiyya) menegaskan dirinya mengharamkan minuman alkohol, beberapa orang menganggap beliau sebagai Bektashi palsu, karena mungkin yang dilihat adalah Alevi atau Bektashi yang ada di Albania dan sekitarnya.

dervis-1800-yillar-dervis-kimdirKelompok ketiga, mirip kelompok Qalandar dan kadang-kadang keduanya saling memberikan pengaruh. Juga kelompok ketiga ini memberikan pengaruh atau terkait kepada kelompok-kelompok seperti kelompok Hurufiyah, Safawiyah, Qizilbash dll. Kadang-kadang sangat sulit untuk membuktikan keterkaitan kelompok ketiga kepada mazhab sufi Bektashiyah: seperti pada Yunus Emre. Pertama, karena mereka berkarakter membebaskan diri dari segala macam bentuk established-religion atau institusi agama, dan berfokus pada devosi spiritual mereka. Kedua, karena ketidakterikatan itu mereka menerima lebih banyak pengaruh dari mazhab-mazhab Sufi lain sehingga dalam ekspresi-ekspresi mereka bisa terlihat hal-hal yang mirip dengan mazhab-mazhab Sufi lain. Salah satu cara untuk melihatnya adalah pada esensi pokok ajaran Bektash Wali dari Maqalat yang terdapat dalam karya-karya para darwis sendirian itu dan penghormatan kepada beliau. Hal ini misalnya terdapat pada karya The Beloved and I. Sistem lone-dervish ini ada pada Dawoodiyyah yang dikembangkan dan disusun kembali oleh Syaikh Ali Haydar sebagai pewaris dari kelompok ini secara turun-temurun.

Tarekat Khalwatiyyah didirikan oleh Umar al-Khalwati (w.1387)  yang berkembang di Turki sampai ke Eropa dan Amerika. Cabangnya seperti Khalwatiyah-Jarahiyyah. Muzaffar Effendi (w.1985) merupakan seorang syaikh kontemporer yang ajarannya sampai ke Eropa dan Amerika dari tarekat ini. Antara lain juga yang terkenal di AS adalah Syaikh Nur al-Jerrahi.

Tarekat Fatimiyyah, merupakan suatu tarekat Sufi kontemporer  yang didirikan oleh Syaikh Nima Wahid Azal yang berfokus kepada spiritualitas Fatimah az-Zahra, putri Muhammad dan istri Imam Ali kw. Syaikh Nima Wahid Azal merupakan murid dari tarekat Syiah yaitu Ni’matullahiyyah.

tgn fatima

Tangan Fatimah, sebuah simbol yg digunakan dalam mazhab Syiah dan tarekat-tarekat Sufi Syiah. Ia tentu juga menjadi simbol tarekat Fatimiyyah. Tangan Fatimah dalam bani Israel dikenal sebagai Tangan Miriam. Miriam adalah saudari Nabi Musa as. Tangan Fatimah disebut juga dengan istilah khamsa (خمسة) atau hamsa yang berasal dari bahasa Arab berarti “lima”. Khamsa ialah semacam jimat berbentuk telapak tangan yang terkenal di Timur Tengah dan Afrika Utara. Khamsa ini biasanya dipasangkan dengan perhiasan atau hiasan dinding yang digunakan untuk melawan mata jahat (evil eye). Selain merujuk pada lima jari pada telapak tangan,khamsa juga diasosiasikan dengan lima rukun Islam dalam kepercayaan suni dan lima orang suci ahlulbait yang diselimuti oleh nabi saw dalam kepercayaan Syiah. Dalam kultur Yahudihand of Fatima disebut dengan Tangan Mariam, saudari Nabi Musa. Khamsa juga merujuk pada lima kitab Taurat bagi kaum Yahudi.

sumber rujukan:

The garden of truth, mereguk sari tasawwuf oleh Seyyed Hussein Nasr.

http://poetraboemi.wordpress.com/2008/05/23/tasawuf-di-india/

http://ejajufri.wordpress.com/2011/04/02/tangan-fatimah-fatimas-hand/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s