Negeri dengan Syariat Islam yang Ideal

Al-Furqan

Q.s 2: 51-53

2:53

2:51

2:52


Q.s 5: 48

5:48

Q.s 45: 16-18

45:16

45:17

45:18

AlQur’an diturunkan bukan hanya bagi umat tertentu saja, umat yang mengklaim sebagai umat Islam karena menerima kenabian Muhammad, melainkan ia diturunkan bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, ayat-ayat dalam AlQur’an berbunyi seruan kepada umat manusia maupun kepada orang-orang beriman bukan seruan “Wahai orang-orang Islam!”

Ketetapan Allah atas hal-hal yang paling esensial dan paling mendasar sebagai tuntunan menjalani kehidupan yang benar dan lurus menuju kepadaNya, tidaklah mungkin berubah-ubah.  Misalnya, sejak zaman Adam as. hingga Muhammad saw. seruan yang sama yang disampaikan para nabi adalah menyembah kepada Tuhan YME. Al-Qur’an merekam riwayat umat-umat terdahulu dengan menyebutkan cerita tentang pesan yang telah berulang-ulang disampaikan dari dulu hingga masa Nabi Muhammad. Jikalau tidak begitu, untuk apa Al-Qur’an memuat kembali cerita-cerita seperti cerita dalam ayat di atas, apakah hanya sebagai cerita sejarah tanpa hikmah? Maka, patut bagi kita untuk mengetahui apakah Al-Furqan itu dan menghidupkan atau mengukuhkannya kembali dalam kehidupan kita sebagai seorang yang telah menerima ayat-ayat suci-Nya.

Al-Furqan sesungguhnya adalah butir-butir utama Syariat Islam, karena Syariat secara bahasa dapat dimaknai sebagai jalan terang-benderang menuju air (air: sumber kehidupan), yang dengan demikian bermakna jalan terang-benderang menuju Tuhan, yakni Hukum Ilahi (divine law).  Nabi Musa as. dikenal sebagai seorang nabi yang diutus mengajarkan Syariat, Nabi Daud dikenal sebagai nabi yang diutus mengajarkan Tarekat, Nabi Isa dikenal sebagai nabi yang diutus mengajarkan Hakikat, sedangkan Nabi Muhammad dikenal sebagai Nabi yang diutuskan mengajarkan Makrifat. Seseorang tidaklah dapat mencapai tarekat, hakikat dan makrifat tanpa melalui syariat. Oleh karena itu, dalam syariat seseorang haruslah mengenal dengan sebenarnya apa hal yang benar (yang haq) dan apa hal yang salah (yang bathil). Hal-hal mendasar yang benar/haq diajarkan sebagai panduan untuk dilakukan, sedangkan hal-hal yang salah/bathil diajarkan sebagai panduan agar jangan dilakukan.

Dengan menyebut kata Hukum Ilahi, intisari dan fondasi yang disebut Hukum Ilahi sejak zaman Musa as. hingga Nabi Muhammad saw. tidak mungkin berubah-ubah. Terdapat kesinambungan dan konsistensi Wahyu yang tunggal (Unity of Revelation) dari nabi ke nabi dalam mengajarkan Hukum Ilahi, kendati implementasi atau bentuk penjabarannya tidak sama karena berbedanya konteks zaman dan keadaan sosial yang mesti diperbaiki.  Ada nabi yang diutus dalam masyarakat yang menyembah berhala patung-patung, ada nabi yang diutus dalam masyarakat yang keterlaluan dalam mengumbar nafsu syahwat, ada nabi yang diutus dalam masyarakat yang pemerintahannya zalim, dan sebagainya.

Al-Furqan juga menjadi hal-hal mendasar bagi mengatasi perselisihan di antara kaum-kaum, sebagai benang merah dan titik temu dalam berlomba-lomba di jalan kebajikan. Oleh karena Islam adalah Din, atau jalan hidup yang merupakan rahmat bagi seluruh alam (bahkan tidak hanya manusia, tetapi seluruh alam), maka syariat itu sendiri adalah suatu ketetapan Ilahi yang berlaku secara universal, yang secara fitriyah setiap manusia yang waras akal budi dan nuraninya dapat menerimanya dan mampu menjalaninya. 

Al-Furqan pada dasarnya dapat diintisarikan menjadi satu, dua, tiga, lima, sepuluh hingga duabelas butir ringkas dan padat. Jika ia diintisarikan dalam satu butir poin saja, itu adalah tauhid, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, atau Kesatuan Ilahi (Unity of God).  

Tauhid

roses12Ketika Nabi Isa as. ditanyai oleh para muridnya, apakah hukum Ilahi yang utama, Nabi Isa as. menjawab bahwa hukum yang utama adalah mencintai Tuhan dan yang kedua adalah mencintai sesama makhluk-Nya. Nabi Muhammad saw. mengukuhkan kembali dua poin penting ini tidak hanya dengan ajaran-ajarannya, tetapi juga melalui setiap teladannya. Al-Furqan yang telah tertera terdapat pada Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as. pada dasarnya memang hanya memuat dua pokok penting ini. 

Jikalau tauhid harus dijabarkan menjadi tiga butir utama, maka mencintai Tuhan itu juga berarti harus mencintai utusan-Nya, dalam hal ini kita menyebutnya para Nabi dan Rasul-Nya. Bagaimana kita tahu cara untuk mencintai sesama tanpa melihat contoh dan petunjuk dari orang yang ditunjuk langsung oleh-Nya? 

Lebih jauh lagi, tauhid dapat juga dijabarkan kepada pancasila (lima butir utama) yakni, (1) cinta/tunduk kepada Tuhan; (2) cinta/tunduk kepada Nabi; (3) cinta/tunduk kepada washi’ dari Nabi (imam)/ahlulbaitnya; (4) menjalankan setiap perintah dan anjuran-Nya dalam kehidupan sebagai hamba-Nya, masyarakat, sebagai khalifah di muka bumi; (5) menjauhi setiap larangan-Nya dalam kehidupan sebagai hamba-Nya, masyarakat dan khalifah di muka bumi. 

Keterangan mengenai pancasila tersebut terjabar dengan lengkap sebagai Al-Furqan dalam Taurat dan dikenal sebagai 10 Perintah Allah, atau Dekalog, yang dikenal dengan jumlah sepuluh-nya. Ia dapat dipandang sebagai meta-etika universal yang terdapat dalam tiap-tiap agama dan bangsa, disebabkan sifatnya yang oleh Tuhan sendiri telah dipatrikan dalam hati nurani setiap manusia: bahwa ada hal-hal mendasar yang secara universal dianggap baik maupun buruk. 

Dalam Al-Furqan terdapat petunjuk untuk menghormati dan mencintai orangtua, sedangkan bagi seorang Muslim Nabi Adam as. adalah orangtua bagi seluruh umat manusia, juga Nabi Nuh as, bahkan Nabi Ibrahim as [mengingat setiap sholat seorang Muslim memberikan shalawat kepada baginda Ibrahim dan keluarganya].  Petunjuk untuk menerima dan tunduk kepada Tuhan, disertai dengan menghormati orangtua adalah petunjuk penting bahwa setiap manusia   semestinya menerima Kenabian, sebagai otoritas Ilahiyah dalam mengenal Tuhan dan menerima berkah-Nya melalui mereka (para nabi), karena para nabi terdahulu adalah orangtua-orangtua kita juga. Pada masa-masa kemudian, ketika Tuhan tidak mengutus nabi-nabi, dan juga  setelah Nabi Muhammad saw diutus sebagai nabi penutup zaman, wewenang Ilahiyah dalam memahami ajaran para Nabi tetap diberikan kepada pemimpin-pemimpin yang ditunjuk langsung oleh-Nya. Oleh karena itu, 10 butir juga penting ditambah satu butir mengenai Kenabian dan Imamah. Dan, menjadi duabelas butir dengan tambahan bahwa kesaksian “La ila ha ilallah Muhammad dur Rasulullah” tidak berarti apa-apa tanpa suatu bukti, yaitu pengorbanan yang tulus ikhlas di hadapan-Nya, di jalan-Nya.

Sepuluh butir Al-Furqan inilah yang menjadi penilaian penting mengenai hal-hal yang benar dan salah, sementara dua butir tambahannya merupakan dua hal penting yang memberitahu secara daging dan darah tentang ke-10 hal itu. Apa maksudnya? Dari Sepuluh butir tersebut kita dapat mendapat petunjuk akan nabi-nabi dan pemimpin-pemimpin yang mengklaim menerima tahta suci Ilahi yang ternyata palsu dan dusta, dan dari Sepuluh butir tersebut kita mengetahui pengorbanan mana yang perlu dilakukan dengan tulus ikhlas di hadapan dan di jalan-Nya. 

Mereka yang mengenal para imam, amat beruntung mengetahui bahwa sesungguhnya kembalinya Imam Zaman as (semoga Allah mempercepat kembalinya), tidak lain untuk memulihkan serta merestorasi (restore) dunia dalam satu hukum Musa, satu tarekat Daud, dan satu umat yaitu umat Ibrahim as; menjadi satu Kerajaan Ilahi yang dipenuhi keadilan lagi damai sejahtera (Islam). Ini sendiri merupakan janji Allah kepada Ibrahim as. yang disebut dalam Taurat, dan disebut kembali dalam Al-Qur’an. Dengan catatan, kita tidak dapat memahami hal ini secara dangkal bahwa hukum Musa identik dengan apa yang sekarang dijalani oleh umat Yahudi ortodoks, atau tarekat Daud adalah identik dengan apa yang dilakukan oleh kaum Judeo-Kristen hari ini. Akan tetapi, kita tahu, bahwa Nabi Muhammad saw selalu berseru kepada kaum ahli kitab untuk kembali kepada ajaran bapa mereka, Ibrahim as.; dan bahkan Nabi Isa as. menyatakan kepada para rabbi bahwa dia menyerukan ajaran yang sama dengan apa yang Tuhan ajarkan serta perintahkan kepada bapanya Ibrahim as.

Oleh karena itu, Kerajaan Ilahi ini adalah sebaik-baiknya negeri dengan syariat Islam, negeri yang ideal, yang dinanti-nantikan oleh banyak umat manusia dengan nama yang berbeda-beda, tetapi dengan pengharapan yang lebih kurang serupa. Negeri ideal ini menghancurkan bentuk agama-agama institusional yang memecah belah, bahkan sudah pasti agama-agama yang mengklaim sebagai Islam itu sendiri, dan memulihkan apa yang disebut Islam dan bukan.

Al-Furqan yang 10 dapat disingkat sebagai berikut: (1) Tauhid, menyaksikan keesaan Tuhan; (2) Tauhid, memberi kesaksian dalam perbuatan akan keimanannya kepada Tuhan; (3) Tauhid, mencintai Tuhan, selalu mengingat-Nya dengan cara yang baik.  (4) Tauhid, menyisihkan hari ketujuh untuk libur dari hal-hal duniawi untuk mengingat Tuhan; termasuk memberikan libur kepada sesama manusia, hewan dan alam raya untuk “nyepi” (5) menghormati orangtua. (6) tidak membunuh. (7) tidak mencuri. (8) tidak berzina. (9) tidak bersaksi dusta/palsu. (10) tidak merebut dan menginginkan milik orang lain.

Apakah Mungkin Negeri dengan Syariat Islam yang Mendekati Ideal?

background-rose-garden-1988Sekarang Anda tahu apa yang saya maksud dengan Syariat (Islam) dan pertanyaan penting apakah negeri dengan Syariat Islam yang mendekati ideal dapat diusahakan? Tentu saja! Dalam keadaan kekosongan atau keghaiban Pemimpin Ilahiyah, maka segala bentuk implementasi penjabaran Syariat sebenarnya  merupakan suatu bentuk ijtihad atau pentafsiran seorang manusia biasa sekali pun seorang pemimpin mengklaim telah menerima mandat dari Pemimpin Ilahiyah.  Oleh sebab  itu,  dapat terjadi di satu masa namun di banyak tempat mereka yang mengaku telah menerima mandat dari Sang Imam menetapkan jurisprudensi (fikih) yang berbeda satu sama lain, kendati intisarinya sama-sama dapat ditemukan dalam satu Hukum Ilahi atau Syariat itu. (hal ini bukan berarti niscaya terjadi kesalahan penafsiran) Misalnya, peraturan dasar dilarang membunuh adalah butir pokoknya, namun, bisa jadi sanksi bagi pembunuh diterapkan berbeda-beda, apakah hukuman mati, hukuman seumur hidup, dan sebagainya.

Dalam NKRI kita mengenal Pancasila sebagai pilar negara kita, dan kita mengetahui sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini adalah perwujudan dari tauhid dan harus dimaknai bahwa ia bukan diberlakukan agar setiap orang di bumi NKRI harus beragama tertentu apalagi beragama Islam, melainkan bahwa keyakinan kepada Tuhan adalah keyakinan yang menjiwai kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, tepat kiranya Ketua MK Mahfudz MD menyatakan bahwa bahkan kaum atheis pun memiliki hak yang sama sebagai WNI di NKRI ini, sebab jiwa bangsa yang meyakini Tuhan haruslah dapat merangkul setiap makhluk ciptaan-Nya dengan adil dan penuh cinta kasih. WNI yang atheis sekalipun adalah mereka yang diciptakan oleh Tuhan, dan karena itu hak-hak mereka sebagai manusia, apalagi sebagai WNI harus dijunjung dan dihormati.

Oleh karena itu, NKRI pada dasarnya memiliki harapan untuk menjadi sebuah Negeri dengan berlandaskan Syariat Islam yang mendekati ideal, tetapi lagi-lagi dengan catatan: bahwa ini bukan persoalan jurisprudensi yang dapat ditemukan pada empat atau lima mazhab fikih Islam.

Ciri-ciri negeri dengan Syariat Islam yang ideal adalah sederhana saja, yaitu lima poin utama sebagai berikut:

  1. Bangsa dan negara yang dijiwai oleh keyakinan kepada Tuhan kendati sekuler memisahkan Agama dan Negara atau pun tidak menyatakannya dengan harafiah terlihat dalam fondasi negara dan UUD-nya. Ia  memberikan dan menjamin hak bagi warganegaranya untuk menjalankan agama dan keyakinannya masing-masing. Toleransi dan kerukunan antar umat beragama akan muncul secara otomatis dengan keberadaan negara dan pemerintah yang memberi keadilan bagi setiap warganegaranya untuk menjalankan keyakinannya – seperti kemudahan sarana rumah ibadah, dan kemudahan untuk melakukan ziarah serta ibadah-ibadah lainnya.
  2. Negara memberi dasar dan fondasinya; sedangkan Pemerintah memenuhi kewajibannya dalam menjaga prinsip-prinsip kesetaraan manusia (misalnya hak-hak pekerja/buruh, hak anak, hak orang-orang cacat, dsb), menjaga alam lingkungan hidup, menghargai sejarah dan khazanah historis yang dimilikinya (bab: menghormati orangtua), misalnya dalam bidang pendidikan, bahasa,  seni budaya, dsb.
  3. Negara memberi dasar dan fondasinya; sedangkan Pemerintahnya memenuhi kewajibannya untuk mencegah terjadinya pencurian (termasuk korupsi), pembunuhan (termasuk kekerasan dan terjadinya bencana maupun kecelakaan), dan perzinahan (baca: perkosaan dan penelantaran terhadap istri dan anak-anak) dengan memberikan lapangan pekerjaan, menyediakan sarana dan prasarana seperti jalanan dan rumah yang baik, serta memberdayakan masyarakat terutama kaum perempuan serta kaum ekonomi lemah, dan seterusnya.
  4. Menegakkan supremasi hukum dengan menerapkan sanksi yang tegas dan adil bagi tindakan pencurian termasuk korupsi, pembunuhan termasuk kekerasan, perkosaan, dsb.
  5. Menjalin ukhuwah Islamiyah, yaitu persaudaraan dengan semangat yang dijiwai keyakinan kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Menjalin persahabatan dengan negeri-negeri lain untuk mencapai perdamaian dan kerjasama di berbagai bidang dan jalan kebajikan.

Puasa, Jilbab, Minuman Keras, dan Zina

vas bungaEmpat hal ini menjadi sorotan saya bagi negeri-negeri yang selama ini mengklaim tengah menjalankan syariat Islam. Di samping tentu saja isu lain adalah soal murtad atau keluar dari agama Islam.

Berpuasa pada bulan Ramadhan merupakan ibadah yang istimewa karena ia merupakan ibadah yang secara spiritual adalah ujian langsung yang diberikan oleh Allah untuk melepaskan kemelekatan manusia kepada makanan dan minuman, yaitu hal-hal material yang acap membuat kita lupa kepada-Nya. Oleh karena itu, sebaik-baiknya aturan yang dijalankan pada bulan Ramadhan bukanlah menutup restoran-restoran dan menyidak orang-orang Muslim yang kedapatan tidak berpuasa di dalamnya. Kaum non-Muslim adalah berhak juga untuk dapat makan dan minum pada bulan Ramadhan karena tidak semua dari mereka bisa selalu makan dan minum di rumah masing-masing, bahkan orang-orang Muslim yang musafir, sedang uzur, dan haidh, serta anak-anak juga berhak makan dan minum pada bulan Ramadhan. Mereka berhak membeli bahan makanan di pagi maupun siang hari, bahkan siapapun berhak melakukannya karena belum tentu setiap orang memiliki kemampuan untuk menyiapkan makanan berbuka langsung menjelang waktunya, sehingga harus membeli dalam perjalanan di siang hari. Mengatur pemberian tirai, atau hijab kepada restoran-restoran adalah pilihan yang arif. Sekolah maupun kantor seharusnya dijalankan sebagaimana biasa pula. Apa yang berat dijalani jika orang yang menjalankan puasa justru dapat berlibur atau bersantai-santai, dan di jalanan tidak menemukan orang lain menikmati makanan?

Jilbab memang adalah peraturan yang baik yang selaras dengan norma “jangan berzina” tetapi ia sepatutnya diimplementasikan menurut kebiasaan berpakaian setempat sejak dahulu kala sebagai ukuran kesopansantunan. Indonesia dan Malaysia misalnya tidak perlu mencontoh Arab Saudi dan Iran. Adalah lebih arif menganjurkan daripada mewajibkan jilbab bagi kaum Muslimah, termasuk dalam bentuk, warna dan modelnya. Turis-turis yang masuk ke gereja-gereja di Italia tidak tersinggung saat diminta untuk tidak mengenakan rok atau celana pendek dan baju singlet atau kaos youcansee. Oleh karena itu, mengatur bentuk, model, dan bahkan warna pakaian sopan tertentu di negara seperti Indonesia yang sangat heterogen ini tidak boleh sampai menyinggung sukubangsa-sukubangsa yang telah mempunyai pakaian tradisional mereka sendiri.

AS yang sangat liberal pun menetapkan peraturan ketat terhadap kadar alkohol seorang  saat mengemudi. Oleh karena itu, poin utama pelarangan minuman keras adalah pada efeknya dalam hal membahayakan keselamatan manusia. Misalnya, baik Non-Muslim maupun Muslim perlu diatur agar tidak boleh mengemudi dengan kadar alkohol tertentu. Ini adalah bab dasar larangan jangan membunuh. Begitu pun pemerkosa karena mabuk. Regulasi penjualan minuman keras untuk orang dewasa di atas 17 tahun, tidak dijual bebas, pajak dan cukai yang mahal dsb memang harus diatur sedemikian rupa. Sanksi tegas terhadap pengedar narkoba juga karena poin dasar “jangan membunuh” ini.

Zina adalah persoalan kontroversial, di mana kaum liberal menggugat mengapa orang berzina saja harus dihukum cambuk bahkan hukum mati? Hukum Taurat bagi pezina adalah hukuman mati, sedangkan dalam Al-Quran mendapat cambukan atau rajam. Namun, hukuman zina sejatinya tidak dapat diadili dengan kesaksian-kesaksian belaka. Riwayat-riwayat bahkan menceritakan Nabi Isa as. mengampuni para pezina yang bertaubat, dan demikian pula Nabi Muhammad saw. tidak serta merta menerima pengaduan malahan menyuruh seorang pezina menutup aibnya. Video mesum sekalipun tidak dapat dijadikan alat bukti karena ia bukan saksi mata, dan saksi mata harus dapat membuktikan kesaksiannya bersama dengan tiga orang yang lain – jika ini menurut jurisprudensi yang terkenal. Aturan yang paling arif misalnya adalah memberi sanksi setiap suami yang berselingkuh karena telah menelantarkan istrinya (dan keluarganya); begitu pula istri yang berselingkuh, tetapi mengembalikan sanksi perzinaan sebagaimana hukum Taurat atau AlQuran kepada pengadilan di hari akhir yang maha adil karena bisa saja terjadi kesaksian palsu, apakah hakim-hakim sanggup menanggungnya? Jikalau para nabi saja mendahulukan kesempatan untuk bertaubat bagi para pezina, maka manusia biasa sebagai hakim-hakim juga seharusnya memberikan kesempatan itu. Sedangkan bagi para bapak yang menghamili seorang bukan istrinya (bukan karena perkosaan ya!), misalnya, seharusnya dikenai sanksi memberi kewajiban nafkah bagi putra biologisnya itu dan jika mungkin menikah dengan perempuan yang dihamilinya dan keduanya diwajibkan untuk membesarkan anak mereka. Jika keduanya dihukum dan sakit, siapa yang mengurus anak itu?

Zina atau perbuatan seksual di luar pernikahan dapat dicegah dengan pendidikan seks kepada remaja mengenai bahaya melakukan hubungan seksual sebelum menikah dan dengan banyak pasangan. UU perkawinan juga semestinya diatur sehingga dapat mencegah penyelewengan-penyelewengan. Pendidikan tentang perkawinan yang sehat sudah sepatutnya diberikan sebelum pernikahan. Malah, yang harus benar-benar dikenai sanksi tegas adalah zina dalam bentuk perkosaan baik perkosaan terhadap perempuan maupun sodomi.

Terakhir, keluarnya seorang dari agama Islam tidak sepatutnya dijatuhi hukuman sebab beragama apa pun adalah hak asasi setiap manusia. Yang mengetahui iman seseorang hanya Tuhan. Jatuhnya hukuman kepada seseorang bukan karena dia tidak mempercayai Tuhan, tidak meyakini Nabi Muhammad dan alQur’an dst, sebab hal-hal itu bersifat di dalam batin, dan hanya Tuhan yang mengetahui yang terkandung di dalam batin. Bisa saja seorang menulis di KTP nya beragama Islam, tetapi itu ia lakukan karena terpaksa. Tidak ada paksaan dalam agama, begitulah ajaran Islam yang dikenal. Jatuhnya hukuman kepada seseorang haruslah semata-mata dilihat kepada perbuatan lahiriyahnya, apakah membawa mudharat dan melanggar poin-poin seperti jangan mencuri, jangan membunuh, jangan merebut harta milik orang lain, dst atau tidak.

Penutup

xxxMemandang bahwa jalan hidup Islam adalah rahmat bagi segala alam, Negeri dengan Syariat Islam yang mendekati Ideal tidak terlihat pada hal-hal artifisial, hal-hal kulit dan melulu aturan jurisprudensi yang bisa saja berbeda-beda di antara lima mazhab fikih terkenal. Al-Furqan menjadi obor di dalam kegelapan tentang apa sejatinya Syariat. Al-Furqan tidak dirumuskan oleh siapapun, tetapi Tuhan sendiri yang mewahyukannya kepada para nabi, bahkan mematrikannya dalam hati nurani setiap anak manusia sehingga dapat mengetahui mana yang benar dan yang salah secara mendasar. Karena itu Al-Furqan sangat sederhana. Orang dengan IQ pas-pas pun akan mengerti. Anak kecil yang belum tahu apa-apa akan langsung mengatakan, bukankah itu jahat? bukankah ini tidak baik?

Bahkan, oleh karena itu,  misalnya Swedia dan Finlandia bisa jadi negeri yang lebih Islami daripada Pakistan dan Arab Saudi, mengapa? Karena orang Muslim pun bebas beribadah di sana, dan hukum ditegakkan dengan baik, serta kesejahteraan warganegaranya terjamin, juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup. Orang-orang bahkan berbondong-bondong menjadi migran ke sana karena rasa aman yang diberikannya.

Mereka yang mengenal para imam pasti mengetahui bab Keadilan Ilahi, mereka tahu tidak selalunya pemerintah Muslim itu adil, sebab di masa lalu para pendahulu mereka telah mengalami penindasan pemerintah yang mengakui bersumber kepada Islam, dan menjadikannya sebagai alat legitimasi untuk menekan dan menindas mereka. Hal-hal yang berkait dengan “darah dan daging” tidak selalu mudah menjadi hujjah bagi menyadarkan umat manusia tentang ketidakadilan dan kezaliman. Para imam telah gugur syahid demi menunjukkan kepada kita tentang hal itu.

Tetapi, harinya akan tiba, karena Tuhan telah menjanjikannya, dan telah tercatat di dalam AlQur’an, maupun kitab-kitab sebelumnya. Walaupun kita belum tentu akan mengalaminya, usaha-usaha untuk menyiapkannya telah dimulai oleh para pendahulu kita, sebab itu adalah bekal bagi penerus mereka, yaitu kita, dan penerus kita, kelak. Kerajaan Ilahi yang dicita-citakan tidak mungkin segera tersongsong, apabila kita masih terbelenggu oleh ketidakpedulian (ignorance) dan tidak menyadari kezaliman yang terus merajelela, bahkan di negeri-negeri Muslim ia dibiarkan terjadi atas nama Tuhan dan agama.

Saatnya menyambut panggilan al-Hussain, dalam konteks kekinian.

Allahumma shalli ala Muhammad wa ali Muhammad wa ajjil faraja Al Mahdi wa Isa Al Masih ba’dah. 

Comments are closed.