3. JANGAN BERZINA DAN HOMOSEKSUALITAS


merak
Perkataan “zina” atau berzina hanya ada dalam agama atau tradisi kepercayaan. Ranah sains dan filsafat tidak membahas atau mengenal apa itu zina, melainkan yang dibahas adalah hubungan seksual.

Hubungan seksual itu ada bermacam-macam. Ada hubungan antara manusia dua   jenis kelamin, antara manusia satu jenis kelamin, antara manusia dengan hewan, atau antara antara manusia dengan jin (atau mungkin juga manusia dengan alien seperti dalam film-film fiksi-ilmiah).

Dalam fokus Dawoodiyya, istilah “Jangan Berzina” itu adalah dasar bagi segala norma pergaulan antara sesama manusia. Setiap agama dan tradisi menterjemahkan tentang apa zina itu berbeda-beda. Akan tetapi, ada satu hal yang sama yaitu bahwa yaitu pada dasarnya zina adalah hubungan seksual di luar perkawinan atau pernikahan. Bagaimana bentuk perkawinan atau pernikahan itu-lah yang membedakan.

Namun, perlu diingat bahwa dasar dalam norma ini bukan: Menikahlah! Yang ditekankan adalah perbuatan jangan melakukan hubungan seksual yang dinamai zina. Apa itu zina? Mari kita lihat terlebih dahulu contoh-contoh hubungan seksual yang disebut pernikahan bagi sebuah masyarakat, tetapi zina bagi masyarakat lainnya.

Walking marriage ala suku Mosuo di China bisa jadi sebuah bentuk pernikahan tak lazim. Ia bisa dianggap sebagai bentuk pelacuran terselubung oleh tradisi lain, dan dengan demikian ia dapat dianggap sebagai suatu perzinaan.  Begitu pun pernikahan mut’ah atau sistem mihsyar dalam suatu mazhab Islam bisa jadi dianggap bentuk pelacuran terselubung oleh mazhab lain dalam Islam, yang berarti tidak lain adalah perzinaan juga.  Atau juga pernikahan poligini di-mana seorang suami menikahi kakak-adik perempuan seperti yang terjadi dalam gereja Mormon. Di suku-suku tertentu, poliandri harus terjadi karena kekurangan lelaki dan ini dilakukan dengan suatu kesepakatan dan sistem yang telah menjadi bagian dari tradisi mereka. Ini tak lebih mirip dengan sistem Walking Marriage-nya suku Mosuo, di mana bisa terjadi poliandri dan poligini sekaligus. Lalu bagaimana menarik garis benang merah semua ini?

Sebelum saya menjawab hal itu, saya akan kembali menulis tentang apa yang telah saya tulis di artikel kedua:

Dilarang berzina, dari segi bahasan agama, sejatinya ia bermakna untuk mengusahakan kebahagiaan bersama karena hubungan manusia dengan manusia lain bahkan dengan makhluk seluruhnya mewakili bagaimana sesungguhnya hubungannya dengan Tuhan. Bunda Theresa pernah mengatakan yang intinya adalah setiap perbuatan baik kita terhadap manusia pada akhirnya sebenarnya adalah hubungan baik kita dengan Tuhan. Lalu mengapa digunakan kata “Jangan” dan “Berzina”? Karena ini ada kaitannya jangan menyakiti atau menzalimi manusia lain, karena menyakiti atau menzalimi manusia lain sama dengan menyakiti atau menzalimiTuhan, betapapun kenyataannya Tuhan tak dapat disakiti dan dizalimi, tetapi Tuhan bersemayam dalam diri setiap individu, dan pada akhirnya setiap individu saat menyakiti dan menzalimi orang lain sedang menyakiti dan menzalimi dirinya sendiri.

Oleh karena itu, dari segi bahasan agama dilarang berzina berarti melibatkan Tuhan dalam setiap hubungan dengan sesama manusia dan makhluk hidup yang lain sehingga tidak terjadi saling menzalimi. Solusi untuk mencegah hal itu terjadi maka agama-agama dan budaya-budaya mengatur apa yang disebut sebagai perkawinan. Perkawinan acap kali muncul dalam berbagai pandangan mistisme Islam dan Hindu sebagai simbol bersatunya manusia dengan Tuhan yang mana bersatunya tidak bercampur, demikian pula suami dengan istrinya yang walaupun bersatu tetap berbeda dan berdiri sendiri-sendiri. Hubungan seksual antara Radha dan Khrisna tidak lain merupakan simbol kesatuan Illahiyah, begitu pun sesungguhnya hubungan seksual sepasang suami istri. Maka, berzina bisa bermakna melakukan hubungan seksual di mana satu atau kedua individu yang melakukannya sedang melakukan kezaliman terhadap pasangan seksualnya serta dirinya sendiri dengan menyingkirkan kendali Tuhan atau sumber kebenaran yang diterima oleh imannya dan membiarkan dia sendiri mengendalikan kemauan, nafsu syahwat dan kesenangannya. Pemerkosaan misalnya, adalah bentuk zina di mana korban sedang dizalimi, dan pelaku menzalimi korban serta dirinya sendiri. Bagaimana dengan berselingkuh antara mereka yang telah menikah berarti keduanya sedang saling menzalimi, dan kemudian menzalimi pihak lain yang mereka telah terikat perkawinan dengannya.

Kembali kepada pertanyaan apakah benang merah dari segala macam bentuk perkawinan pada tradisi-tradisi itu? Definisi paling mendasar dari sebuah perkawinan adalah sebuah ikatan di mana keduabelah pihak melakukan kesepakatan atau perjanjian dengan mengikuti undang-undang, aturan, tradisi, dan atau hukum yang mengikatnya.

Sebuah hubungan yang disebut ‘kumpul kebo’ misalnya oleh orang Indonesia ternyata tidak selalu bisa disebut sebagai sebuah perzinaan jika ini berlangsung di negara tertentu di Barat di mana pada kenyataannya dua pihak hidup bersama dalam sebuah perjanjian atau kesepakatan yang dilindungi oleh undang-undang, di mana anak-anak yang terlahir dalam hubungan tersebut berhak atas kedua orangtua biologisnya, kedua pasangan boleh memiliki satu kartu keluarga, dan seterusnya dan seterusnya.

Kalau kita berbicara soal hubungan seksual antara dua anak manusia yang hidup bersama-sama dengan kesepakatan di antara keduanya tanpa ikatan perkawinan formal, maka  menilainya masing-masing kembali kepada apa yang kedua anak manusia itu anut: apakah dia Muslim, Kristen, Atheist, atau apa. Sebab jika Muslim, di samping syarat-syarat tertentu mesti dipenuhi (seperti bukan saudara kandung), ijab kabul dan kesaksian tetap diperlukan hatta dalam bentuk perkawinan mut’ah dan mihsyar sekalipun. Dan, begitu pun dalam hal urusan kenegaraan,  hukum hidup bersama antara di Belanda dengan di Indonesia pasti berbeda sehingga bisa saja hidup bersama tanpa ikatan perkawinan formal dihukumi atau dinilai zina oleh UU di Indonesia.

Dekalog14

jangan berzina

Pada fokus Dawoodiyya dan Dekalogisme sebagai pembahasan filosofis, sebuah ikatan perkawinan bisa terjadi dalam bentuk yang paling non-formal sekalipun, tetapi apa yang berlangsung sebagai bentuk kezaliman dalam suatu hubungan seksual baik kepada pelaku maupun eksesnya itulah yang disebut sebagai perzinaan. Misalnya, apakah berhubungan seks dengan pelacur itu berzina? Jawabannya, tegas ya berzina. Karena, ia hanya berdasarkan sebuah hubungan seksual yang tidak ada kesepakatan kecuali dalam soal uang dan hubungan seksual itu sendiri. Begitu pun hubungan seksual antara dua anak manusia yang masih ABG yang masih menyebut pacaran karena ia terjadi atas dasar hubungan seksual itu sendiri.  Hubungan seksual lain yang bisa disebut zina adalah perkosaan (walaupun korbannya tidak disebut melakukan zina), hubungan seksual inses, dan hubungan seksual dengan binatang. Jadi garis besarnya, zina adalah hubungan seksual an sich di mana satu atau kedua pihak yang melakukannya sedang melakukan kezaliman kendati mereka tidak menyadari atau mengakuinya. Sedangkan perkawinan berusaha mengikat kedua belah pihak untuk tunduk dalam kesepakatan bersama walaupun bisa terjadi kezaliman di dalamnya, tetapi masing-masing telah mengetahui dan menerima atau mengakui akan konsekuensinya.  Dua hal ini tentu saja dikembalikan kepada masing-masing tradisi dan agama bagaimana menjabarkannya. Dalam perkawinan juga bisa terjadi tidak ada hubungan seksual sama sekali. Oleh karena itu, yang diperintahkan bukanlah MENIKAH, melainkan JANGAN BERZINA, sebab hatta dalam menikah pun bisa timbul kezaliman antar sesama manusia

Bagaimana fokus Dawoodiyya dalam memandang pernikahan antara sesama jenis kelamin?

Adam dan Hawa adalah contoh tentang perkawinan di mana Tuhan sendiri yang menetapkan dan memberkati keduanya. Ini adalah fokus Dawoodiyya, di mana sangat penting untuk kembali kepada contoh yang mula-mula dan paling awal.  Bagaimana sebuah pernikahan sesama jenis kelamin dapat memberi argumen bahwa mereka tidak sedang berzina? Tidak sedang saling menzalimi? Jika ada sebuah tradisi dan aliran agama yang mampu memberi argumen untuk jawaban ini, maka Dekalogisme sebagai pembahasan meta-etika dapat mengakomodasi bahwa sepanjang dilakukan berdasarkan hukum yang mengakuinya dan mengikatnya, maka ia bukan berzina.

Namun, dalam pembahasan ke dalam, di mana saya sebagai seorang murid Dawoodiyya yang terikat oleh sederet ketentuan yang saya yakini berasal dari Sumber Kebenaran, yang terdapat dalam Kitab-kitab Suci terutama yang Empat, maka saya tidak setuju untuk mengatakan bahwa pernikahan sesama jenis itu dibenarkan. Mengapa saya memahami bahwa dalam Dawoodiyya perkawinan antara satu jenis kelamin itu tidak ada dan merupakan bentuk perzinaan?

Mula-mula saya ingin menegaskan bahwa saya memisahkan tentang “hubungan seksual” dan “potensi” atau “kecenderungan seksual” yang ada pada diri tiap-tiap individu. Sebab, banyak orang lupa bahwa homoseksualitas sebagai potensi atau kecenderungan seksual berbeda dengan perbuatan hubungan seksualnya itu sendiri. Termasuk ulama-ulama sendiri ketika menyatakan homoseksualitas itu haram. Yang diharamkan tentunya adalah perbuatannya itu sendiri – yaitu hubungan seksual antara dua anak manusia sejenis kelaminnya. Bagaimana bisa mengharamkan potensi? Karena potensi diberikan oleh Tuhan sendiri. Potensi untuk suka makan babi, kecenderungan berminat pada arak, dan seterusnya.

Mengambil fokus Dawoodiyya, saya tidak akan terlibat pada pemaknaan apa kecenderungan atau potensi homoseksualitas adalah penyakit atau berdasarkan ilmu-ilmu seksualitas dan sains terbaru bahwa ia adalah genetika atau bawaan sejak lahir yang merupakan ciptaan Tuhan itu sendiri.

Untuk lebih jauh saya akan mengatakan bahwa di dalam diri setiap manusia ada potensi untuk berbuat kejahatan, ada potensi untuk mencuri, membunuh, menginginkan hak orang lain, melanggar Sabbath, berhubungan seks dengan siapa saja yang kita sukai, dst. Apakah ini penyakit? tentu saja bukan. Fokus Dawoodiyya tidak pernah menganggap ini semua adalah penyakit. Tetapi, penambahan-penambahan peraturan yang mendukung Dekalog bagi Dawoodiyya adalah sebuah ketetapan yang memang ada, suka atau tidak suka, yang ditemukan dalam setiap tradisi agama dan budaya. Adalah hak bagi seseorang hendak mengikutinya atau tidak, karena Tuhan sendiri telah memberikan anugrah kehendak bebas kepada manusia.

Lebih jauh lagi adalah apakah setiap anjuran dan larangan yang diatur oleh Tuhan dalam kitab-kitab Suci harus dirasionalisasi, dinalar atau diselidiki dalam sains? Makan babi mungkin baik bagi kesehatan, begitu pun minum Wine, minum bir, berhubungan seks saat istri haidh ternyata di kemudian hari ditemukan baik, tidak khitan ternyata lebih menyehatkan, malah lebih jauh lagi ternyata ditemukan bahwa gerakan solat ternyata bisa membuat cedera dan rematik, membayar zakat ternyata membuat orang miskin semakin malas, berwudhu ternyata bikin jerawatan, dan seterusnya, dan seterusnya.

Pembahasan beragama bukanlah pembahasan sains, di mana yang satu adalah sebuah jalan yang ditempuh  menuju Tuhan, Kebenaran, ataupun Kebahagiaan Hakiki (Surga?), dan yang satu lagi adalah jalan untuk memberi penjelasan-penjelasan tentang alam semesta dan segala isinya. Bisa saja dalam ranah sains untuk mengakhiri semua penjelasan dikatakan ini semua ciptaan Tuhan, tapi ini bukan sains lagi namanya. Sains  hendak menjelaskan mengapa benda-benda jatuh dari atas ke bawah dalam kecepatan sekian perdetik dan kemudian bagaimana untuk mengendalikanya, mengapa seorang bisa memiliki dua jenis kelamin sekaligus dan kemudian bagaimana untuk mengharmonikannya, bahkan dalam hal psikiatri, sains hendak menjelaskan mengapa orang bisa menjadi psikopat dan kemudian bagaimana menyembuhkannya. Alkitab, AlQur’an, Bhagawad Gita tidak perlu saintifik, tidak perlu menjelaskan alam semesta sebagaimana sains, dan seterusnya dan seterusnya. Alkitab, AlQur’an, Bhagawad Gita, Tripitaka dan kitab-kitab suci lainnya yang dipenuhi oleh mitos, dan legenda menurut ilmu sejarah modern dan sains modern, tidak bertujuan untuk menghidangkan sesuatu yang empiris semata, tetapi mereka hadir untuk memberitahu bahwa ada Jalan menuju Kebenaran, Kebahagiaan, dan atau Keselamatan. Untuk berada di Jalan itu ada rambu-rambunya, ada aturan-aturannya kendaraan yang macam apa, dan melaluinya bagaimananya.

Seringkali peraturan Tuhan memang tidaklah kita sukai, tetapi baik Alkitab maupun AlQuran mengatakan apa yang kita pikir baik belum tentu baik, begitupun sebaliknya. Artinya jika minum Wine itu menyehatkan sekali pun menurut Sains, seorang Muslim yang memegang kepada salah satu dari 5 mazhab fikih populer tidak akan meminumnya. Begitu pun seorang biksu misalnya, dalam perjalanan spiritualnya dia menghindari makan daging hewan, walaupun daging hewan tidak membahayakan bagi dirinya. Lebih jauh lagi, bagi seorang Yahudi, Syiah, dan Adventist, memakan ikan patin itu enak dan menyehatkan menurut sains, tetapi mereka tetap tidak akan memakannya.

Perlu pula digarisbawahi bahwa ada perbedaan antara anjuran dengan larangan dan dengan sanksi… Terlalu sering pembicaraan kita menjadi tidak fokus dengan membahas aturan jangan berzina dikaitkan bahwa hukuman bagi para pezina tidak lagi relevan bagi masa kini. Fokus Dawoodiyya menemukan bahwa Taurat, Injil dan Qur’an masing-masing memberikan model sanksi yang berbeda-beda dalam setiap pelanggaran norma dalam Dekalog, tetapi model ini bukanlah tujuan utama ia disebutkan dalam ke-4 kitab suci, melainkan ia hanya sebagai contoh yang diterapkan pada masa itu. Tetapi, bukan berarti larangannya itu sendiri tidak ada. Apakah lantas kita bisa membiarkan orang memperkosa? Apakah hukuman bagi para pemerkosa yang adil? Keempat kitab suci memberikan contoh-contoh sanksi, tetapi pada kenyataannya setiap ahli fikih masing-masing agama dan masing-masing mazhab memberikan interpretasi dalam mengimplementasikan penerapan sanksi-sanksi tersebut.  Fokus Dawoodiyya tidak hendak terjebak pada extension atau kepanjangan dari aturan dasar itu sendiri.

Maka, sekarang kita kembali ke soal homoseksualitas. Dalam fokus Dawoodiyya, contoh pertama selalu dianggap sebagai menerangi contoh-contoh berikutnya bukan sebaliknya. Wahyu kepada Adam selalu menerangi bagi memahami Wahyu kepada nabi-nabi berikutnya sampai kepada Nabi Muhammad saw. Contoh jangan membunuh ada pada Habil dan Kabil, misalnya. Contoh pernikahan itu seperti apa, ada pada Adam dan Hawa. Dan, seterusnya.

Dalam Kitab Kejadian, Tuhan sejak semula telah menciptakan dua jenis kelamin. Dan, belum pernah sekali pun dalam kitab-kitab suci yang 4 (Taurat, Zabur, Injil, dan alQur’an) yang diimani oleh para penempuh Dawoodiyya, bahwa Tuhan memberi contoh tentang pernikahan sesama jenis di antara nabi-nabi dan nabiah-nabiah serta imam-imam baik lelaki maupun perempuan. Bisa saja orang menafsirkan peristiwa di Sodom dan Gomorah bukan soal pelarangan homoseksualitas melainkan pelarangan terhadap pemerkosaan dan kemerosotan moral karena korupsi dan menyembah berhala. Tetapi, Nabi-nabi dan nabiah-nabiah sendiri tidak ada yang mencontohkan tentang perkawinan sesama jenis. Taurat, Zabur, Injil dan AlQur’an memberi contoh-contoh lengkap tentang berbagai bentuk perkawinan, mulai dari monogami, poligami, perseliran, permanen, dan temporer, sehingga kepada bentuk perceraian, dan sistem kekerabatan.

Lalu, apakah ini artinya Tuhan payah, kenapa kok baru diciptakan orang berpotensi homoseksual di zaman sekarang?
Tentu saja tidak. Tuhan menciptakan orang-orang dengan potensi homoseksual bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai anugrah bagi dirinya sama seperti orang-orang lainnya yang sama-sama punya potensi berbuat dosa. Ini adalah merupakan kecenderungan yang diberikan Tuhan sama seperti Tuhan memberikan kecenderungan kepada seorang yang heteroseksual untuk mampu melawan kehendak egonya dan berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Karena, sesungguhnya, bahkan mereka yang heteroseksual pun dianugrahi potensi sama dalam hal untuk berbuat zina.

Maka, ini soal sesungguhnya soal kendali ego dan pikiran, karena aspek biologis itu bisa dikendalikan. Itu mengapa aturannya bukan MENIKAHLAH, melainkan JANGAN BERZINA. Artinya orang tetap bisa hidup selibat kalau dia mau dan mampu. Maka, jika pikirannya telah ditetapkan bahwa dia tidak akan berhubungan seks, maka dia bisa melatih untuk itu. Pun, jika berpikir dia tidak akan suka lawan jenisnya, maka dia akan bertahan dengan pikiran itu selamanya.  Seorang pria yang telah beristri bisa tiba-tiba tertarik pada gadis di depannya, teman sekantornya yang cantik, atau siapa saja selain istrinya. Tetapi, apakah dia bisa mengendalikan keinginannya untuk tidak berhubungan seks dengan wanita selain istrinya? Tentu saja bisa.

Dong-Xiang-BBagaimana kalau kita menguji seorang gay dan seorang lesbian hidup bersama-sama di sebuah pulau terpencil di mana mereka hanya hidup berdua, selama beberapa tahun, dan tidak ada orang-orang lain selain mereka saja? Apakah mereka masih bisa mengatakan tidak akan ada potensi atau kemungkinan bahwa keduanya akan timbul perasaan saling menyayangi dan saling membutuhkan sampai kemudian berhubungan seks? Dua orang yang sudah menikah dengan orang lain dan terjebak dalam situasi semacam itu pun pasti akan mengatakan ya potensi atau kemungkinan dua orang yang tidak saling mencintai bisa terjadi apa saja di saat itu. Begitupun dua orang yang telah memutuskan untuk selibat. Terjebak dalam situasi semacam ini, apakah mereka mampu melawan naluri mereka? Bisa saja tidak jika mereka bertapa selama bertahun-tahun itu tanpa saling bertemu. Tetapi kalau keduanya orang biasa, tetap selalu ada kemungkinan, bukan tidak ada kemungkinan untuk terjadi hubungan seks itu, walaupun tetap ada kemungkinan tidak. Artinya: ini kembali kepada potensi dan kemungkinan. Dan, ingat, kita tidak sedang berada dalam keadaan terjebak di sini. Kita memiliki kebebasan dan kesempatan serta banyak ruang untuk mengendalikan.

Seorang rahib/pastor dan seorang biarawati bisa saling mencintai tapi bisa saling mengendalikan diri untuk tidak berhubungan seksual kalau mereka mau.  Banyak sekali contohnya yang saya temui. Contoh yang paling menarik adalah St Francis Assisi dan St Claire Assisi. Mereka telah mengubah perasaan dan keinginan mereka dalam bentuk yang lain.

Coba kita tanyakan kepada orang yang selibat, bagaimana mereka bisa melakukannya. Saya pernah bertanya bagaimana orang selibat bisa mampu tidak menyalurkan keinginan biologis mereka? Ada yang menjawab, bahwa pada dasarnya jika hal itu tidak dipikirkan dan lama-kelamaan tidak pernah dilakukan, akhirnya tak ada keinginan dan juga tak mampu melakukan. Tetapi, jika pikiran dan tubuh tak dapat dikendalikan, baru itu mesti diobati. Misalnya, psikopat yang pikirannya dipenuhi keinginan terus-menerus untuk membunuh, atau kleptomania yang dirinya secara sadar ingin selalu mencuri. Apakah orang itu secara kecenderungan seksual adalah straight, gay atau lesbian, tidak mungkin di jalan menemui seseorang dan tertarik pada orang itu langsung ingin disetubuhi saat itu juga kan? Artinya ada hal-hal yang masih bisa dikendalikan dari kecenderungan seksual seorang manusia yang sehat dan normal.

Maka… Dengan fokus Dawoodiyya, saya tidak menolak adanya orang-orang dengan kecenderungan seksual seperti homoseksual. Hanya saja, apa itu perkawinan itulah yang menjadi pertanyaan, dan menemukan jawabannya pada contoh-contoh yang telah tersedia dalam kitab-kitab suci. Contoh perkawinan yang mula-mula perkawinan seperti Adam dan Hawa. Perkembangan berikutnya mengizinkan poligami (poligini maupun poliandri dalam kasus-kasus tradisi tertentu), atau juga mengizinkan mut’ah (pernikahan temporer). Bahkan pada mulanya pernikahan inses itu dibenarkan, lalu kemudian dilarang, juga pernikahan dengan wanita-wanita kakak-beradik. Mengapa? YA, karena Tuhan telah mempersiapkan berbagai bentuk kelonggaran untuk manusia dalam urusan mengatur diri agar tidak jatuh dalam perzinaan. Dan, Empat Kitab Suci telah memberikan segala contoh yang diperlukan bagai beragamnaya kebutuhan  manusia. Karena setiap pribadi itu unik dengan kebutuhan, kecenderungan, kemampuan dan minatnya masing-masing. Bahkan segenap aturan-aturan mengenai bagaimana seseorang harus berpakaian diatur dalam berbagai tradisi agama dan tradisi budaya adalah pada dasarnya terdapat dalam pencegahan dari terjadinya perbuatan zina.

Namun, sayangnya, belum ada contoh perkawinanan dari para nabi maupun nabiah tentang perkawinan satu jenis kelamin. Karena Nabi dan Nabiah adalah utusan Illahi, yang menjadi contoh bagi umat manusia, sekaligus simbol atau tajalli sempurna Illahi. Kecenderungan homoseksualitas itu lagipun sudah ada sejak zaman dahulu, walaupun tak banyak, tetapi kenyataannya banyak literatur klasik yang menegaskan tentang keberadaan kaum homoseks. Juga tentang adanya golongan mukhannath, atau semacam waria, serta sida-sida yang aseksual (tidak memiliki keinginan seksual karena dikebiri). Namun, sayangnya, lagi-lagi, dalam Alkitab maupun AlQuran tidak ada  contoh tentang perkawinan homoseks itu sendiri.

Adanya bentuk-bentuk lain setelah pernikahan model Adam dan Hawa, bukan berarti memansukhkan model pernikahan ideal yang awal dan mula-mula itu. Oleh karena itu dalam fokus Dawoodiyya, pernikahan sebaik-baiknya adalah pernikahan antara dua jenis kelamin, monogami, dan dalam kesepakatan permanen. Betapa pun kunonya konsep ideal ini, ia adalah contoh yang paling mula-mula yang selalu menjadi pijakan dalam fokus Dawoodiyya. Jika ia tak mampu, tak mau, tak bisa, atau belum dapat dilakukan, ia tidak menjadikan kita berdosa, sampai kita berbuat zina itu sendiri (baca: melakukan hubungan seksual di luar perkawinan).

IslBGDi dalam menempuh Jalan, Dawoodiyya tidak sedang bicara soal penemuan-penemuan sains, maupun  definisi-definisi filosofis, melainkan hal-hal sederhana saja. Ada hal-hal yang dicontohkan dan ada yang tidak dicontohkan. Pada hal-hal yang tidak ada atau belum ada contohnya kita perlu mengambil titik tolak atau dasar-dasarnya dari apa-apa yang sudah dicontohkan; dan fokus Dawoodiyya selalu kembali pada wahyu-wahyu yang terawal atau yang mula-mula sekali. Kita melihat Nabi Muhammad saw melakukan pernikahan monogami bersama Khadijah as sampai akhir hayat istri pertamanya; begitu pun Imam Ali as dengan Fatimah as. Kita melihat bagaimana Nabi Zakaria as dan istrinya Elizabeth ra tetap setia pada bentuk pernikahan monogami sampai usia senja kendati belum dikaruniai anak.  Begitupun Imran ra dan Anna ra, ibu dari bunda Maria as.  Artinya, walaupun Nabi Ibrahim as melakukan poligami, Daud as  memiliki banyak selir, dan Sulaiman as juga memiliki banyak istri, bahkan ada kemungkinan besar bahwa nabi Yahya as dan Isa as belum menikah atau berselibat, contoh teladan model pernikahan Adam dan Hawa yang menggambarkan monogami dan kesetaraan hak serta sistem kekerabatan yang bilineal tetap dilestarikan dan dipelihara, menjadi model yang ideal dan terus relevan hingga hari ini.

Ada banyak hal yang bisa menjadi carut marut dalam isu ini:

1. Pemisahan fokus pembahasan antara potensi atau kecenderungan seksual seseorang dengan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya.

2.  Pemberian contoh perkawinan Adam dan Hawa bukanlah untuk mengembalikan kepada konsep Kristiani tertentu terhadap hakikat kemanusiaan bahwa ada dua yaitu lelaki dan perempuan. Sejatinya baik Taurat, Zabur, Injil maupun Qur’an memandang hakikat kemanusiaan itu satu. Perempuan dan lelaki adalah realitas perbedaan fisik atau biologis semata. Perbedaan fisik atau biologis ini kemudian di dalam beragam masyarakat di kemudian hari melahirkan konsep gender karena berkaitan dengan pembagian tugas dan pekerjaan dalam rumah tangga.  Sebaliknya secara spiritual, tak ada laki-laki maupun perempuan, yang ada mungkin hanyalah sifat feminin dan maskulin, yang mana sifat-sifat ini terdapat dalam diri setiap orang berbeda-beda kadar porsinya. Oleh karena itu, Dawoodiyya meyakini bahwa terdapat nabiah-nabiah yaitu perempuan-perempuan yang menerima wahyu dari Allah swt sebagaimana halnya para nabi.

3. Larangan berzina yang jelas merupakan norma agama maupun norma banyak budaya dunia memang tidak akan dapat dibahas secara filosofis dan sains, karena zina itu bukan hubungan seksual an sich sebagaimana yang dipahami banyak orang.

4. Jikapun harus dirasionaliasi, Larangan berzina tetap tidak akan dapat dipahami dengan utuh secara ilmu sains, sebagaimana halnya larangan minuman wine yang beralkohol. Seseorang dapat minum arak dan tidak jatuh mabuk hingga hilang kesadaran, tetapi toh ia tetap haram dalam hampir seluruh mazhab Islam misalnya. Begitu pun makan babi, bagi umat Islam dan Yahudi, atau makan ikan lele dan sotong bagi umat Syiah, Yahudi Ortodoks dan Kristen Advent Hari Ketujuh.  Pada akhirnya, bila ada yang menafsirkan secara literal mengenai peristiwa yang terjadi pada zaman Luth (as) dan umatnya, dan menyatakan perkawinan sejenis kelamin itu haram, maka harus dipahami pula bahwa mazhab-mazhab klasik yang berpendapat demikian belum tentu berarti mereka tidak mau tahu dengan perkembangan sains, bagaimana memahami seksualitas dan sebagainya. Larangan jangan berhubungan seksual dengan sesama jenis kelamin lebih kurang demikian juga dengan larangan minum arak, adalah suatu bentuk  pengendalian diri yang disyariatkan dalam pandangan mazhab-mazhab Islam klasik — dan karena itu tidak perlu relevan dengan penemuan sains mana pun.

5.  Namun, sesuai dengan fokus Dawoodiyya maka untuk mereka yang memilih pandangan yang berbeda dan memandang perkawinan sesama jenis kelamin itu dibenarkan, dan sebagai bentuk penafsiran yang progessif dan relevan untuk masa kini, maka saya pribadi menghormati perbedaan ini.

Apa yang tidak dapat dianggap benar adalah selalu kembali pada dasarnya yaitu Berzina. Dengan fokus Dawoodiyya yaitu Dekalogisme, dua orang (atau beberapa orang sekaligus?) yang melakukan hubungan seksual an sich tanpa ikatan apa pun adalah suatu perbuatan zina — karena dalam Agama manusia diikat oleh seperangkat aturan dan panduan tentang bagaimana cara-cara menghancurkan egoisme, menemukan kebahagiaan sejati, dsb, sehingga mengumbar hawa nafsu syahwat begitu saja sebagaimana halnya binatang, adalah kami pandang bukanlah prilaku manusia lagi. Untuk persoalan apa itu dan bagaimana itu ikatan yang menghalalkan hubungan seksual, fokus Dekalogisme sebagai pembahasan filosofis akan mengembalikan kepada masing-masing pihak: apakah itu sesuai hukum negaranya? apakah itu sesuai dengan agama dan aliran agama yang dianutnya? dsb. Sedangkan di dalam Dawoodiyya, terdapat 5 mazhab besar dalam Islam, dengan marja’-marja’ dan ulama-ulama yang dapat dirujuk untuk para darwisnya memilih dan terikat di dalamnya.

6.  Apakah berzina itu tindakan yang tidak benar? Ya, itulah yang dikatakan oleh kitab-kitab suci agama; karena itu ia dilarang; sama seperti dilarang mencuri dan membunuh serta dilarang mengambil hak-hak orang lain. Tetapi, fokus Dawoodiyya tidak berkepentingan untuk membahas sanksi-sanksi, membahas tentang dosa, serta tidak berkepentingan untuk menghakimi.  Kami meyakini kemurahan hati Tuhan yang maha luas, dan bahwa Tuhan satu-satunya Hakim yang Maha Adil. Kami pun percaya bahwa pintu kasih dan ampunan Tuhan selalu terbuka lebar bagi setiap pendosa.

Walau pun demikian, dalam tataran masyarakat, segala sesuatu yang berkenaan dengan perzinaan ada baiknya diatur demi menjaga atau melindungi hak satu sama lain. Misalnya mengenai perkosaan, berselingkuh dari pasangan yang sah (sehingga menceraikan seenaknya misalnya), usia perkawinan yang layak, syarat-syarat perkawinan itu sendiri dan seterusnya, dan seterusnya. Hak-hak setiap individu baik perempuan maupun lelaki mesti dilindungi dari dizalimi dalam kaitannya hal ini. Ada negara agama yang misalnya sampai detail membuat kode berpakaian, tetapi negara-negara sekuler pun ada yang melarang orang telanjang sembarangan di jalanan.

Jika perkawinan homoseksual dibenarkan oleh negara misalnya, harus ada jaminan pula bahwa bentuk perkawinan ini tidak berbenturan dengan denominasi-denominasi dan mazhab-mazhab agama yang telah ada dan bertahan selama ribuan dan ratusan tahun. Artinya, kaum pendukungnya perlu dengan percaya diri pula berada dalam mazhab progresifnya sendiri tanpa merecoki atau menggoncang-goncangkan aliran/gereja/mazhab yang telah ada. Sebaliknya, mazhab-mazhab dan denominasi-denominasi klasik dan tradisional yang menolak harus dengan percaya diri pula dengan pandangannya  teguh kukuh dan menjalankannya bagi golongannya, tanpa harus menindas dan melakukan kekerasan pada yang berseberangan aliran dengannya.

Apa yang ternyata sangat sulit adalah untuk bisa saling menghormati dan menerima perbedaan satu sama lain dalam memahami sesuatu sehingga terkadang tidak mampu melihat bahwa satu hal yang harus diperjuangkan bersama adalah mengupayakan keadilan dan melawan ketidakadilan. Masing-masing kelompok hanya mengutamakan untuk memperjuangkan haknya sendiri-sendiri, padahal sama-sama berbicara bahwa hakikat  kemanusiaan itu satu. Kadang-kadang timbul pula saling memaksakan secara tidak sadar. Kaum Islamis-literalis yang memperjuangkan syariat Islam versi mereka menginginkan sebuah keadilan di mana hak-hak umat Islam dalam menjalankan sesuai syariat versi mereka dapat diakomodasi, sedangkan kaum Muslim progessif-liberal memperjuangkan sekularisasi dan liberalisasi di segala hal, sembari diam-diam memberi kesan penafsiran dan interpretasi mazhab-mazhab lain yang telah ada tidak lagi relevan. Mungkin tidak relevan bagi golongannya, tetapi bukan tidak mungkin masih relevan bagi selain dirinya. Kita lupa bahwa setiap individu itu unik. Karakter, kebutuhan, kemampuan dan minat setiap individu itu berbeda-beda. Di dalam setiap agama ada banyak aliran yang menampung keunikan berbagai individu ini. Sebaik-baiknya adalah yang tidak saling menindas. Bahkan sebenarnya yang sering terjadi adalah kita tampak tidak sepakat pada sesuatu, tetapi pada hakikatnya kita sedang bersepakat pada suatu yang sama.

Rahayu.

lilin

3 responses to “3. JANGAN BERZINA DAN HOMOSEKSUALITAS

  1. Pingback: Dekalogisme, Filosofi Jawa, dan Homoseksualitas | Dunia Chen Chen

  2. Saya berpikir bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini atas izin Allah SWT, apakah berzina atau yang lain – lainnya. itu atas izin Allah SWT ?
    Jika tidak, berarti tidak ada salahnya dong. Tetapi jika iya… Apa maksud dan Tujuannya ? Kenapa Di Izinkan ? Mungkin pemahaman saya terlalu kampung, bagaimana menurut pemahaman dawoodiyya ?

    • gayatri wedotami

      Di dalam Qur’an jelas disebutkan dua hal yang kelihatannya saling bertentangan yaitu bahwasannya “bukan kamu yang melempar”, dan pada ayat yang lainnya, “nasibmu ditentukan oleh kamu sendiri.”

      Dalam hal pertanyaan filosofis semacam ini (takdir) saya tidak bisa mewakili Dawoodiyya. Saya hanya bisa menjawab bahwa kami meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan, tetapi pada saat yang sama manusia juga diberikan kehendak bebas. Pembunuhan, pencurian, dan perzinaan dapat terjadi atas kehendak Tuhan dalam artian yang luas yaitu Kehendak Tuhan sebagai yang mencakup sunatullah, Hukum Alam, Hukum Sebab-Akibat, dan sebagainya. Tetapi, pembunuhan, pencurian dan perzinahan yang dilakukan oleh manusia yang dianugrahi kehendak bebas oleh Tuhan, merupakan hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan sebagaimana yang terrekam tercatat dalam kitab-kitab suci. Sebaik-baiknya kehendak bebas yang dimiliki manusia itu diberikan kepada kehendak Tuhan bagi manusia; apa itu kehendak Tuhan bagi manusia? yaitu yang disampaikan melalui para Nabi dalam wahyu2 dan firman2 Allah; yang direkam dicatat dalam kitab-kitab suci.

      Begini contohnya untuk kasus ini. Kakak ipar saya bersahabat dengan seorang gadis yang ternyata menikah dengan seorang homoseks. Hal ini suaminya lakukan hanya demi menutupi citranya, sedangkan istrinya sebelum menikah tidak mengetahui. Alih-alih berusaha untuk menyenangkan dan membahagiakan istrinya, dia tetap kembali ke dalam komunitasnya dan malah melakukan tindakan KDRT agar hal ini tidak diketahui oleh keluarganya. Menurut hukum sebab-akibat, si suami bisa saja tetap memiliki kecenderungan homoseks tetapi karena telah menikah dia akan menyalurkan hasrat terlarangnya kepada sesuatu yang diperkenankan dalam ajaran agama yang dianutnya (dan dia bukan seorang penganut mazhab liberal). dan ini dapat melahirkan akibat-akibat yang lain. toh pada malam pertama mereka melakukan hubungan seksual dan mereka dikaruniai seorang anak! alih-alih demikian, lelaki ini tetap berzina dengan melakukan hubungan seks dengan pacar-pacar sejenis kelamin dengannya dan di akhir cerita dia dibunuh dan dikuburkan sampai berbulan2 baru ketahuan (kasus pembunuhannya sangat terkenal di media massa kita). setiap hal yang berlangsung ini adalah sesuai dengan hukum sebab akibat. Tetapi, perbuatan2nya sendiri yaitu: menikah adalah sesuai dengan kehendak Allah untuk menjaga dari perzinaan, dan berzina yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.

      Kita pun diingatkan kembali kepada cerita Nabi Khidir dan Nabi Musa as. Di mana Nabi Khidir mengubah akhir masa depan yang telah direncanakan oleh Tuhan, yang mana ini termasuk dalam hukum sebab-akibat. Apakah nabi Khidir berdosa karena membunuh seorang anak yang mana ini tidak sesuai dengan kehendak Tuhan? Sebagai seorang nabi sekaligus manusia yang dianugrahi potensi kehendak bebas dia harus berijtihad karena dia sudah diberi makrifat atau pengetahuan Illahiyah bahwa anak ini kelak akan membunuh banyak nyawa…Dia membunuhnya demi menyelamatkan lebih banyak nyawa; yang mana ini adalah satu-satunya alasan dibenarkannya bagi suatu pembunuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s