1. FOKUS DAWOODIYYA: DEKALOGISME

 

heart candles

Mengacu pada fokus Dawoodiyya yang saya tempuh, maka untuk saat ini, saya masih menganut pandangan Dekalogisme.

Dekalogisme memandang bahwa kita hidup di dunia ini sebagai manusia pada hakikatnya diikat oleh landasan atau dasar norma-norma etika yang terdapat dalam DEKALOG. Dekalog  dapat ditemukan dalam berbagai ekspresi atau istilah dalam berbagai tradisi, agama, dan keyakinan. Dengan fokus itu pula saya menilai atau memandang apakah sebuah perbuatan itu baik atau buruk, benar atau salah.

Dekalogisme sebagai bahasan Wahyu merupakan pandangan bahwa 10 Perintah Tuhan yang diwahyukan oleh Tuhan kepada Nabi Adam (as) dan kemudian ditetapkan kepada Nabi Musa (as) dengan disaksikan oleh seluruh umat Musa,  menjadi satu-satunya wahyu yang unik yang kemudian menjadi penanda sebagai rumusan bagi wahyu-wahyu Illahi berikutnya, yang tercatat dalam setiap hati manusia, yang merentas zaman dan tersimpan oleh benak setiap bangsa di seluruh penjuru dunia. Dalam tradisi Islam, Tuhan menegaskan kembali dalam Qur’an surah 2: 53 dengan menyebutnya sebagai al-Furqan (pembeda antara yang benar dan yang salah).

Sedangkan Dekalogisme sebagai bahasan filosofis merupakan sebuah konsep meta-etika yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apa itu kebaikan, bagaimana mengetahui yang mana yang baik dan yang mana buruk; atau bagaimana mendukung dan menolak suatu penilaian moral. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut Dekalogisme menawarkan sebuah pandangan bahwa dasar-dasar dari apa itu yang baik dan yang buruk dari berbagai tradisi, berbagai agama dan kepercayaan,  berbagai norma hukum, serta hati nurani, sejatinya terdapat dalam Dekalog. Walaupun istilah Dekalog sendiri sangat asing dalam tradisi-tradisi yang ada di dunia, dan hanya dikenal akrab dalam tradisi Yahudi dan Kristen, misalnya — tetapi esensi yang terdapat di dalamnya merupakan hal-hal yang sulit disangkal telah diakui oleh setiap bangsa dan setiap individu yang sadar sebagai hal-hal universal tentang apa itu baik dan apa itu buruk, apa itu benar dan apa itu salah. Dengan demikian, Dekalogisme mencoba untuk menjadi jembatan antar iman, antar agama, antar tradisi dan antar individu yang bisa jadi tampak saling bertolak-belakang.

Masalah interpretasi dan penafsiran dan ekspresi yang keluar melalui istilah dan perbuatannya pasti akan beragam, begitu pun perpanjangan atau penjabaran dari landasan atau dasar-dasar yang termuat dalam Dekalog itu. Misalnya, mengenai meyakini Tuhan dan menjalani Sabbath, saya yakin Anda memiliki pegangan atas sebuah sumber kebenaran dalam diri anda, walaupun anda tidak beragama dan tidak yakin bahwa Tuhan itu ada. Juga soal Sabbath, anda pasti tidak mau hidup bekerja sepanjang waktu dan membutuhkan cuti atau libur serta sepakat dengan saya soal mengurangi/mengendalikan eksploitasi sumber daya alam serta soal hak-hak para pekerja untuk beristirahat dan semacamnya. Saya juga yakin Anda sepakat bahwa kita mesti menghormati orangtua kita, akan tetapi bentuk menghormati dan konsep kita tentang hal itu mungkin berbeda-beda.

Namun, yang terpenting adalah penerapan norma bersama dalam masyarakat yang mana ditekankan dalam butir-butir Dekalog berikutnya. Kita tahu setiap masyarakat memiliki norma, begitu pun negara. Tidak ada negara yang tidak memiliki hukum dan undang-undang. Jika tidak ada landasan dan kesepakatan bersama, maka akan terjadi kekacauan, kacau-balau; Bapak boleh mengawini anaknya, Pejabat boleh mengambil kas negara seenaknya, orang boleh menembak kapanpun dia sedang marah, atau saya boleh menduduki rumah tetangga saya kalau dia sedang mudik. Betapapun beragamnya penafsiran dan pemahaman kita akan Dekalog, semua ini harus diatur, dikelola dan ditengahi agar tak terjadi chaos. Apa itu mencuri, membunuh, berzina, mengambil hak-hak orang lain, semuanya pasti telah diatur dan jika belum maka harus diatur.

Contoh sederhana adalah Jangan Mencuri. Jika ada tradisi mengatakan Robinhood tidak benar-benar mencuri, tetapi mengembalikan apa yang dicuri, maka saya bisa menerima argumen tersebut. Bagaimana dengan UU dan hukum setempat? Maka itu, hukum sebuah negara misalnya harus dapat mengatur definisi apa itu Mencuri, dan Membunuh, misalnya. Apakah jika saya membela diri menikam perampok yang tiba-2 menyergap saya dirumah pada malam hari adl membunuh dan patut mendapat sanksi?

Contoh rumit adalah Jangan Berzina. Jika ada tradisi, agama, atau mazhab membolehkan Poligami, Mihsyar, Mut’ah dan atau bahkan Pernikahan antara sesama jenis, dan tidak mengatakannya sebagai zina, maka saya bisa menerima (menghormati) pemahaman itu. Bahkan termasuk model Walking Marriage ala suku Mosuo di China.  (Ini akan saya jelaskan lebih lengkap dalam bagianl ke-3)

Suku Mosuo, RRC.
Suku Mosuo, RRC.

Namun, tentu saja belum tentu yang anda pahami dan yakini sama dengan apa yang saya yakini, atau orang lain yakini atau sebuah institusi agama atau denominasi agama tetapkan terhadap penjabaran masing-masing butir dalam Dekalog itu. Misalnya dalam hal Jangan Berzina, Sunni mengatakan mut’ah haram, Syiah mengatakan halal. Katholik melarang poligami, Mormon membolehkan poligami. Jika mut’ah haram, poligami terlarang, maka yang terjadi jika dilakukan oleh penganutnya dan atau yang terikat oleh hukum itu, maka  ia dianggap telah berbuat zina.

Maka, negara yang masyarakatnya heterogen atau majmuk harus dapat mengelola dan mengakomodasi perbedaan pandangan aliran-aliran ini, termasuk aliran-aliran yang lahir belakangan seperti aliran yang dianggap liberal oleh agama masing-masing. Bagaimanapun kita semua telah berusaha menafsirkan Dekalog dengan cara kita masing-masing. Pada dasarnya kita semua sepakat bahwa secara garis besar dan universal membunuh itu salah, mencuri itu salah, berzina itu salah, dan seterusnya.

Saya pribadi menyerahkan sepenuhnya kepada apa yang saya yakini bahwa Tuhanlah satu-satunya yang akan menilai dan menghakimi pada akhirnya (tentang penafsiran dan penjabaran pemahaman kita).

Akan tetapi, di dunia ini ,dalam masyarakat ini, hukum dan undang-undang setempat sangat dibutuhkan, karena ialah yang mengikat dan mengatur kita semua supaya tak terjadi chaos sehingga setiap orang bebas melakukan apa yang ia bisa, mau, ingin, cita-citakan, merasa mesti, dan kebelet untuk lakukan. Sedangkan dalam kehidupan saya pribadi, aliran atau mazhab yang saya anutlah yang menjadi garis panduan bagi saya untuk memutuskan mana yang mesti saya ikuti dan mesti saya hindari atau saya tolak dengan selalu selaras dengan hukum dan UU setempat. Jika saya menolak UU tertentu atau menginginkan perubahan UU atau aturan, supaya keyakinan saya dapat terakomodasi, saya mesti memperjuangkan lewat jalur politik, parlemen, dan semacamnya.

Hatta, setiap yang sekuler pun, atau yang menolak kelembagaan agama atau negara yang memisahkan diri dari Gereja, ternyata mengeluarkan aturan-aturan atau norma-norma hukum yang landasannya terdapat dalam Dekalog juga.

Oleh karena itu, dalam hal kepada yang lain saya memang “liberal” atau menjunjung tinggi setiap perbedaan dalam memahami dan mengejawantahkan Dekalog. Namun, bagi yang ikut bersama saya dalam rombongan darwis penyendiri, saya adalah seorang “konservatif”. Lakum dinukum waliadin (Jalanmu adalah jalanmu, jalanku adalah jalanku — dan Jalan adalah Jalan, pada hakikatnya).

Dengan fokus Dawoodiyya ini, Dekalogisme, saya tidak bisa memberi toleransi kepada perbuatan-perbuatan yang mencerminkan definisi paling mendasar tentang apa itu membunuh, mencuri, berzina, dan seterusnya sebagai sesuatu yang benar. Hal ini akan saya jelaskan lebih lanjut lagi. Namun, lebih jauh ketika masuk ke dalam rombongan Dawoodiyya, maka ada definisi-definisi yang lebih luas lagi yang mungkin saja tidak bisa diterima oleh kelompok-kelompok lain agama dan tradisi lain. Misalnya, tentang Tauhid, tentang Sabbath, tentang menghormati orang tua, dan seterusnya. Tentu saja ini hanya berlaku di dalam, dan inilah yang membedakan bahwa fokus Dawoodiyya tidak terjebak dalam konsep-konsep fikih tertentu saja, yang secara spesifisik ia mampu mengikat para penempuhnya di dalam dan mampu melahirkan para penempuhnya dapat menerima dan hidup harmonis dengan segala keragaman yang terdapat di luar. Bagi fokus Dawoodiyya, kita berbeda-beda  dalam menafsirkan dan memahaminya, tetapi pada hakikatnya kita satu jua, betapa kita mengambil secara sadar atau tidak dari satu Sumber yang sama. Bhineka Tunggal Ika.

 

4 responses to “1. FOKUS DAWOODIYYA: DEKALOGISME

  1. Pingback: Dekalogisme, Filosofi Jawa, dan Homoseksualitas | Dunia Chen Chen

  2. yg dpt saya simpulkan dari artikel saudara bahwa saudara menghargai dan dapat menerima berbagai perbedaan tafsir yg ada, dan saudara menganggap kebenaran itu relatif, benar menurut pengikutnya, belum tentu benar menurut aliran lain tetapi hal ini tidak perlu dijadikan alasan perpecahan. koreksi saya bila salah menilai. seandainya semua muslim berpikiran seperti saudara tentu indonesia akan bisa lebih baik.

  3. yg bisa saya simpulkan dari artikel saudara bahwa saudara dapat menerima dan menghargai berbagai perbedaan tafsir. dengan demikian kebenaran itu relatif, benar menurut pengikut aliran tertentu belum tentu benar menurut aliran lain tetapi itu tidak bisa dijadikan alasan pertikaian. mungkin bagi sebagian golongan saudara akan dianggap berpaham “sepilis” koreksi bila saya salah. saya pribadi berpikir seandainya semua muslim berpikir demikian tentu indonesia akan lebih baik.

    • gayatri wedotami

      Saya nggak memandang kebenaran itu relatif. kebenaran itu satu. kebenaran adalah Allah. dan saya bukan Allah. anda dan yang lain2 juga bukan. yang relatif adala pandangan kita mengenai Allah, pemahaman kita mengenai kitab suci, dst… karena kita manusia bukan Allah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s