Karena Imam Hussein

Sejak kanak-kanak aku sudah dikelilingi oleh buku-buku.  Tetapi, tidak pernah ada cerita yang begitu menyakitkan, membekas, dan membayang-bayangiku dengan banyak pertanyaan, kemarahan, serta kepedihan selain cerita tentang Imam Hussein. Tidak ada cerita yang sudah kubaca ratusan kali tetapi tetap menangis dan menyesakkan dada selain cerita tentang Imam Hussein.

Aku terlahir sebagai Muslim, terdidik sebagai Muslim, dari keluarga Muslim yang taat, tetapi baru ketika SMA, aku menemukan dan membaca cerita Imam Hussein. Aku sering didongengkan oleh ustaz dan ustazah di sekolahku tentang kasih sayang Nabi Muhammad kepada kedua cucunya Hasan dan Hussein. Tetapi, rupanya, mereka yang mengklaim sebagai umat Muhammad sendirilah yang membantai Imam Hussein dan anak-anaknya sedemikian rupa, memenggal kepalanya, mengaraknya selama 40 hari, dan sampai hari ini dicitrakan sebagai PEMBANGKANG!

Aku sudah membaca banyak sekali artikel yang menuduh pengikut Imam Husein sendirilah yang membunuhnya, bukan suruhan Yazid, dan juga bukan salah Yazid karena Yazid berhak berijtihad begitu pun Hussain. Aku sudah banyak membaca semua artikel yang menentang, yang menuduh ini pemujaan terhadap Imam Hussein, ini adalah khas Syiah, ini Syiah adalah sesat, ini adalah Judaisme-isasi baru yang dicangkokkan kepada Islam oleh Syiah, dan seterusnya…Silakan engkau berikan ratusan ribu hadist kepadaku, dan segala macam tafsir al-Quran untuk menentangku menangis, menghayati dan merenungi kesyahidan Imam Hussein, silakan engkau mengkafirkan aku, silakan engkau mengeluarkan aku dari pertemanan karena aku mencintainya dengan caraku. Aku hanya menggunakan hati, tak perlu rasionalisasi berlebihan untuk hal ini.

Bagi mereka umat Islam yang belum tahu cerita tentang Imam Husein, aku masih bisa memaafkan, jika masih bersukacita dan berpesta pora pada 10 Muharram, tetapi bagi mereka yang mengetahui ceritanya dan memilih merasionalisasi atau memberikan 1001 alasan bahwa Hussain harus dibunuh atau layak dibunuh oleh siapapun sedemikian rupa: MAAF!! maaf seribu maaf, kalau aku kehilangan hormat kepada engkau sebagai Muslim, dan tak tahu lagi bagaimana hendak menyematkan engkau sebagai pengikut Umat Muhammad. Aku hanya berhenti kepada bahwa engkau juga manusia.  Dan, menyayangkannya.

Aku tak peduli apakah engkau Sunni, Syiah, Ahmadiyah, Sikh, Bahai, Kristen, Atheist,  Sufi, Buddhist, Hindu, Kejawen, Agnostik, atau Yahudi, jika engkau bisa menangis membaca cerita Imam Hussein, jika engkau bisa memberi apresiasi kepada perjuangan Imam Hussein tanpa ‘meributkan detail siapa yang membunuhnya,” ya aku akan menghormati kalian, menghormati kalian lebih daripada ulama-ulama yang bahkan mentertawakan orang-orang yang menangisi Imam Husein, ulama-ulama yang mengatakan ini sesat dan itu kafir dengan mudah hanya karena cerita Karbala didengung-dengungkan kembali dan kepahlawanan Imam Hussein diangkat kembali, atau malah menyangkutpautkannya dengan ritual-ritual tertentu kaum Syiah sebagai kebodohan dan kesesatan hanya untuk mengalihkan isu sebenarnya: Syahidnya Hussein!… Jika anak kalian dibantai, jika bapak kalian dibantai, jika ibu kalian dibantai, dibantai…dan kalian malah merayakannya secara pesta pora, bahagia pula menjadi anak yatim piatu dan tertawa memuji pembunuhnya, aku yakin bahwa kalian menderita sakit jiwa akut.

Aku malu menjadi Muslim jika aku gembira dengan Tragedi Karbala, aku malu menjadi Muslim jika aku mencari pahala di tengah dahaga dan airmata Imam Hussein dan keluarganya di Padang Karbala pada hari Asyura, aku malu menjadi Muslim jika aku membiarkan pembantai Imam Hussein diangkat sebagai pahlawan, aku malu menjadi Muslim jika aku dianggap memuja Imam Hussein hanya karena dia putra Nabi Muhammad dan melakukan syirik karena itu – pertanyaanku, apakah kausenang jika putramu digorok dan disembelih seperti itu?

Aku tak perlu menjadi orang Syiah untuk meratap di Hari Asyura. Saat aku masih aktif menjadi IMMawati (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) aku sudah menangisi meratapi Imam Hussein. Tetapi, dalam sekejap jika aku membekukan hatiku aku bisa saja menjadi seorang yang mengaku-aku sebagai umat Muhammad dan menunjuk-nunjuk, Kau Syiah telah sesat, memuja Ali dan Husein, ini kan hanya soal politik, ini kan hanya ini dan itu…Renungkanlah, mengapa Imam Hussein harus dibunuh, putranya yang masih bayi harus dibunuh???

Maaf jika aku lebih hormat kepada orang Katholik yang menghayati tersalibnya Yesus selama 40 hari bahkan lebih bagi orang-orang Ortodoks, dan maaf juga jika aku malah lebih hormat kepada orang-orang Kristen yang menonton film kisah tersalibnya Yesus sampai menangis tak peduli apapun gereja atau aliran atau mazhab Kristen mereka….

Karena Imam Hussein, aku belajar mengenal siapa yang benar-benar Muslim siapa yang benar-benar bukan. Tak peduli apakah mereka Sunni, Syiah, Sufi, Ahmadiyah, Abangan atau Liberal. Aku tak peduli. Karena Imam Hussein, aku senantiasa diingatkan untuk mengukur diriku sendiri apakah aku telah menjadi Muslim atau belum…Karena Imam Hussein jugalah aku belajar mencintai, belajar hanya membenci kepada kezaliman dan ketidakadilan…Masihkah engkau mau membenciku, menuduhku, menghinaku? Silakan. Dengan cara begitu aku malah berterimakasih karena engkau telah mengajariku cara menjadi pengikut rombongan kecil Imam Hussein yang kelaparan, kehausan, di tengah padang pasir panas, berhari-hari, lalu gugur di tangan kezaliman dan sampai hari ini ada di antara umat kakek mereka malah mencap mereka sebagai pembangkang. Terimakasih banyak!!! 

Sabbath shalom.

Jangan Membunuh/Do Not Murder!

Comments are closed.