Ketika Muhammad Bertemu Yesus

[*Tulisan ini merupakan terjemahan dari “What Really Happened When Muhammad met Jesus” oleh Dr. Kemal Argon, salah satu mentor Dawoodiyya, cendekiawan Islam dan studi lintas agama. ]

Umat Kristen secara langsung sangat peduli dan tertarik akan riwayat hidup Yesus Kristus. Kaum Muslim secara langsung sangat berminat terhadap riwayat hidup Nabi Muhammad (saw) dan mengikuti teladannya. Kaum Muslim meyakini bahwa kedua Nabi, Muhammad dan Yesus, sesungguhnya telah bertemu satu sama lain.

Riwayat berbeda-beda terdapat dalam perjalanan Isra’ Mikraj Nabi Muhammad (saw). Salah satu versi yang cukup padat diberikan oleh Imam Dr. Usama al-Attar, yang menggambarkannya dari sumber-sumber klasik sebagaimana berikut.

Ia menceritakan, pada suatu malam tatkala Nabi Muhammad (saw) sedang beristirahat di rumah sepupunya di Mekkah, malaikat Jibril datang kepadanya dengan seekor hewan surgawi yang disebut Buraq. Nabi Muhammad (saw) menunggang sang Buraq di atas punggungnya dan kemudian ia membawanya terbang menuju Masjid al-Aqsa di Yerusalem, di situlah baginda berkata, “Aku berjumpa Ibrahim, Musa, Yesus, dan banyak nabi lain yang berbaris bersaf untuk melaksanakan sholat. Aku mengumandangkan iqamat, dan malaikat Jibril memintaku untuk mengimami sholat, maka aku pun melakukannya.”

Dari situ, Sang Nabi menunggang Buraq lagi, terbang mencapai langit demi langit duniawi, di mana di situ baginda berjumpa seorang pria tinggi. Jibril mengatakan padanya ia adalah Adam (as). “Aku berkata kepadanya, Assalamu’alaikum, dan ia menjawab salamku. Kemudian aku berdoa untuk memohon ampun baginya dan ia pun berdoa untuk memohonkan ampun bagiku dan ia berkata, Selamat datang wahai putra yang mulia, nabi yang mulia, yang dikirimkan kepada zaman yang mulia.”

(Deskripsi yang lengkap dari doktrin-doktrin Islam mengenai seluruh Nabi terlalu banyak untuk dimasukkan ke dalam artikel pendek ini. Namun, Imam Dr. Usama Al-Atar memberikann syarahan berikut ini: Salah satu keyakinan fundamental dari kaum Muslim adalah kemaksuman bagi seluruh nabi, yaitu termasuk bahwa mereka tidak melakukan perbuatan dosa apapun, kealahan atau kekhilafan apapun. Ketika para nabi berdoa untuk meminta pengampunan, ini bukan karena mereka telah melakukan perbuatan dosa, melainkan karena mereka merasa masih kurang cukup beribadah kepada Tuhan sebagaimana Dia selayaknya disembah).

Sang Nabi (saw) kemudian mencapai ke langit kedua, di sana baginda berjumpa dua orang pria yang tampak mirip satu sama lain. Baginda menyapa mereka dan diperkenalkan bahwa mereka adalah dua orang sepupu yaitu Yesus (Isa) (as) dan  Yohanes  Sang Pembaptis (Yahya) (as).  Baginda mengucapkan salam kepada mereka dengan, “Assalamu’alaikum,” dan mereka pun menjawab salamnya. Baginda berdoa untuk memohon ampun bagi mereka, dan mereka pun berdoa hal yang sama dan berkata, “Selamat datang O Saudara Mulia, dan Nabi Mulia!”

Lebih jauh lagi, dan dengan cara yang sama, Nabi Muhammad (saw) juga bertemu dengan nabi-nabi besar lainnya. Sang Nabi (saw) kemudian dibawa tingkat tertinggi di Surga-surga, sebuah tempat yang disebut Sidratul Muntaha, kemudian di sanalah baginda ‘berjumpa’ dengan Allah.  (Perjumpaan dengan Allah di Sidratul Muntaha akan dibahas di artikel lainnya).

Imam Dr Al-Atar menyandarkan pada riwayat-riwayat dan tafsir/syarah yang sebenarnya cukup akrab di kalangan Muslim yang mengetahui dengan baik kisah Isra’ Mikraj. Mereka biasanya akan memperingatinya setahun sekali di mesjid. Namun, saya lebih menyarankankan untuk kali ini merupakan waktu yang baik bagi melihat teladan Kenabian lain dan membiarkan kebijaksanaannya dapat lebih jauh lagi bermanfaat bagi kita. Para Nabi (as) telah menunjukkan teladan terbaik dalam pertemuan dan persaudaraan di antara seluruh kemanusiaan yang telah maju berkembang. Ini adalah suatu contoh yang perlu diingat dan direnungi sebagai kaum Muslim dalam komunitas yang lebih luas yang terbelah menjadi berbagai kelompok. Ia (riwayat ini) menggambarkan contoh terbaik bagaimana kita saat berjumpa satu sama lain. Umat Sunni dan Syiah, sebagai contoh, mestilah mengambil contoh dari riwayat Isra’ Mikraj ini, untuk melayani satu sama lain dengan sebaik-baik yang dicontohkan. Implikasi luas dari hubungan yang lebih baik ini dalam  kemajmukan (pluralisme) umat Islam: Sunni, Syiah, dan selainnya (Ukhuwah Islamiyyah — penterj).

Implikasi tambahan dari kisah Isra’ Mikraj dapat diperluas lagi dalam cara penuh kebaikan dengan memelihara hubungan yang baik antara kaum Muslim dengan non-Muslim yang menjadi pengikut Para Nabi lainnya. Kita dapat menganggap hal ini sebagai contoh dalam pertemuan dan persaudaraan terbaik di antara seluruh umat manusia yang terbaik, contohnya meluas sampai kepada hubungan Kristen-Muslim. Teladan mereka dapat dimaklumatkan kepada warga awam bagaimana untuk berpikir dan bertindak sesuai cara Para Nabi. Siapa saja yang memikirkan di mana dialog Kristen-Muslim akan berpunca, mesti mengambil pandangannya dari kandungan teladan kenabian ini sebagai inspirasi.  Teladan kenabian yang luarbiasa melimpah ini ada untuk setiap orang untuk mengambilnya demi niat-niat kebajikan dan memperbaiki hubungan di antara komunitas dan di antaara setiap individu.

Catatan penulis: untuk artikel ini, saya ingin menyatakan ijin dari Imam Dr.  Imam Dr. Usama al-Atar dari Edmonton, Alberta, dalam menggunakan serangkaian seleksi dari dan mengutip karya kontemporernya yang berkenaan dengan Isra’ Mikraj Nabi Muhammad saw dan syarah tafsir yang terdapat didalamnya. Terimakasih teristimewa bagi David Goa seorang pakar di bidang  hubungan lintas iman dan juga Direkur  Chester Ronning Center for the Study of Religion and Public Life di University of Alberta.

Sumber: http://www.huffingtonpost.com/kemal-argon/what-really-happened-when-muhammad-met-jesus_b_1412030.html

Tentang Penulis:

Kemal Argon merupakan spesialis di bidang studi Islam dalam dunia modern. Ia mendapat MA di bidang Islam dan Hubungan Kristen-Musli dari Seminari Hartford, Doktor di bidang studi Arab dan Studi-studi Keislaman dari Universitas Exeter di Inggris Raya. Ia juga menekumi Islamisme, hubungan antar iman dan dialog antar agama. Selain itu, ia juga salah seorang pembina/mentor Dawoodiyya kontemporer di Inggris.

(http://www.huffingtonpost.com/kemal-argon/)

Comments are closed.