Agama Institusional: Agama Missionaris dan Kabiliyah

muslimah berjilbab chador

Hari itu, saya duduk membuka inbox akun facebook saya dan terkejut menemukan dua pesan dari sahabat baik saya tentang proyek SaveMaryam baik dari youtube maupun dari webpagenya untuk menanyakan pendapat saya soal itu.  Yang satu orang Indonesia dan satu orang Bosnia.  Keduanya sama-sama Muslim taat, dan mengajarkan agama Islam. Kemudian, saya menemukan tidak cuma dua sahabat saya itu yang sedang memperbincangkan proyek tersebut.

Saya belajar 8 tahun di Sekolah Muhammadiyah karena kakek buyut, kakek, nenek saya, juga bapak saya,  pengikut Muhammadiyah. Karena itu, kata “Kristenisasi” sama sekali tidak asing bagi saya sejak saya masih sangat muda. Kendati keluarga besar saya terdiri dari berbagai penganut agama, Islam, Kristen, Katholik, Buddha dan Hindu semuanya ada, tetapi saya tahu: kalau ada orang Islam menjadi Kristen orang Islam akan sedih, dan kalau orang Kristen menjadi orang Islam, orang Kristen pun akan kecewa.

biarawati ortodoks berjilbab

Kata “Islamisasi” menjadi hal yang baru akrab bagi saya, ketika saya berada di Italia. Seorang pendeta, belum mengetahui bahwa saya seorang Muslim, bicara berapi-api menyiratkan kekhawatirannya akan Islamisasi di Eropa di dalam kelas, meskipun dia sendiri seorang Asia.

Islam dalam makna agama institusional, dan Kristen dalam makna agama institusional, sama-sama meyakini bahwa hanya penganut agamanya sajalah yang akan diterima oleh Tuhan. Keduanya juga sama-sama meyakini bahwa dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika semua orang menganut agama yang sama. Maka, keduanya sama-sama percaya bahwa mengajak orang masuk ke institusi mereka, menjadi bagian dari mereka, adalah sebuah berkah, dan keberuntungan baik secara duniawi maupun secara akhirati. Sebaliknya, jika ada yang keluar dari institusi mereka, keduanya sama-sama percaya bahwa mereka yang murtad telah meninggalkan jalan keselamatan. Di samping ada rasa kasihan karena saudara lama mereka telah meninggalkan jalan menuju surga, juga ada rasa kehilangan, sekaligus kekhawatiran, bagaimana jika rumah ibadah ini lima hingga sepuluh tahun ke depan menjadi kosong karena semuanya sudah pindah ke rumah ibadah tetangga?

seorang imam Muslim di sebuah Gereja Katholik Roma, di belakangnya seorang imam Ortodoks dan imam Anglikan

Sementara itu, Islam sebagai agama jalan hidup dan Kristen sebagai agama jalan hidup, terefleksikan dalam individu-individu penganutnya yang mampu melihat bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah sumber satu-satunya dari segala rahmat, taufik, hidayah dan pencerahan. Seberapa keras seorang Kristen melakukan misi, seberapa keras seorang Muslim melakukan dakwah, betapa pun banyak biaya dikeluarkan, berapa banyak pun rumah ibadah dibangun, mereka sadar bahwa Tuhan sajalah yang berkehendak akan segala sesuatu.  Karena itu, ada dari mereka seperti Ayatullah Muthahhari yang membahas tentang Keadilan Illahi, atau Karl Rahner yang menyebut Anonymous Christian. Bagi mereka, Islam adalah agama yang dianut oleh orang-orang yang benar-benar berserah diri kepada Tuhan, dan karena itu disebut Muslim. Bagi mereka, Kristen adalah agama yang dianut oleh orang-orang yang berserah diri menerima Yesus Kristus dan mengikuti jalannya.

Agama institusional yang mula-mula adalah agama Kabil atau Kain dan agama Habil atau Abel. Kitab Kejadian bab 4 mengungkapkan seluruh cerita tentang agama institusional dan agama jalan hidup ini. Apabila pandangan antropologis antara lain melihat perselisihan Habil dan Kabil sebagai persaingan antara petani dan peternak semata, Thomas McElwain melihatnya sebagai keseluruhan sejarah tentang agama (yang tersembunyi) dalam tempurung.

Muslimah di Indonesia sedang menjalankan sholat Eid

Lanjut McElwain, tidak ada petunjuk yang gamblang bahwa Tuhan memerintahkan Kabil maupun Habil untuk memberikan sesembahan (sesajen) kepadaNya. Namun, mereka telah melakukannya, dan dengan melakukannya mereka telah memulai paradigma sektarianisme. Terlibat dalam praktek ritual yang Tuhan tidak pernah perintahkan, syariatkan atau contohkan telah melahiran intoleransi sektarian, yang menjadi bibit kekerasan. Dengan adanya penciptaan agama, maka kita mempunyai penciptaan perang saudara atau pembunuhan saudara.

jemaat wanita Kristen Ortodoks Ethiopia

Kabil meyakini bahwa sesembahan dia tidaklah cukup. Kemudian dia mulai berpikir bahwa untuk memperbaikinya maka dia harus juga menjalankan pengorbanan manusia. Hal ini acap kali telah membantu manusia apabila suatu masyarakat merasa dirinya tertantang melampaui batas-batasnya.

Membunuh saudara sendiri kadangkala agaknya menjadi solusi terbaik dari sudut pandang manusia. Memang hal ini agaknya irasional ketika anda memikirkannya, tetapi itulah alasan atau dasar orisinil dari perang, dan juga kriminalitas, dan setiap institusi agama mentolerir perang “yang adil”.

Iman Kabil, menurut Kitab Kejadian 4, adalah sumber akan banyaknya hal bagus di dunia, seluruh konfigurasi dari peradaban, pertanian, industri, bahkan peternakan, seni dan musik. Dengan seluruh peradaban, kendati ia tidak dapat mencegah kejahatan, sebagaimana pengalaman Lamekh telah menunjukkan hal itu. Pada faktanya, Lamekh bangga dengan kekerasan yang dilakukannya. Dia mencari perlindungan Tuhan pada Kabil dari mereka yang akan membalas dendam kepadanya dalam hal bualan-bualannya. Jikalau hukuman bagi pembunuh Kabil demi perang saudaranya adalah tujuhkalipatnya, maka hukuman bagi mengikut Lamekh tujuh kali lebih besar. Inilah keadilan di dunia mengikuti iman Kabiliyah berjalan, dan seluruh agama institusional adalah Kabiliyah.  Kabiliyah seluruhnya membatasi kekerasan pada elitnya dan menjalankan kekerasan pada yang miskin (malang) dan putus asa. Semua ini berdasarkan pada penemuan Kabil: sesajen manusia.

dua pendeta Kristen Yunani dan seorang biarawati

Pada masa Israel, penyembahan kepada Moloch di Kanaan termasuk memanaskan patung logam berlubang dengan api di bawahnya dan kemudian mengorbankan anak-anak dengan menempatkan mereka di atas lengan panas membara sebuah berhala. Bahkan raja-raja Israel berpartisipasi di dalam pengurbanan ini. Pemujaan kepada Baal juga melibatkan pengurbanan manusia. Nabi-nabi selalu dengan konsisten memberi ceramah menentang sistem pemujaan seperti demikian, tetapi dimana-mana selalu saja ada manusia yang menentang para nabi dan terlibat di dalam pemujaan itu. Kesuburan agama sangat penting, pikir mereka, untuk menjaga agar benih-benih terus tumbuh. Maka, mereka melanjutkannya dengan berpartisipasi dengan ritual-ritual seks dan pengurbanan manusia.

para muslimah di Iran dan foto-foto para ayatullah

Semua bentuk iman yang meletakkan membunuh seorang manusia dan atau anak sebagai pilar utama keyakinan mereka sesungguhnya adalah kepanjangan dari iman Kabil.  Mereka mungkin saja membungkusnya dengan kata-kata indah (begitu pula orang-orang Kanaan), di bawah upacara-upacara yang diselenggarakan dengan sangat elok, dan dengan teologi filosofis yang tinggi bahasanya, tetapi semuanya itu dapat dirumuskan menjadi satu hal yang sama. Teks dalam Kitab Kejadian 4 menunjukkan bahwa Tuhan tidaklah menerima hal-hal semacam itu. Kecuali Tuhan adalah Tuhan yang berubah-ubah, Tuhan pun tidak menerima hal semacam itu pada hari ini. Kanibalisme diritualkan dalam berbagai budaya, tetapi bahwa tanpa ayat-ayat wahyu pun bagian tergelap dalam akal budi manusia mampu mengerti bahwa adalah salah memakan saudaramu sendiri. Akan tetapi, agama institusional dan politik sebagaimana juga ekonomi semuanya berdasarkan tepat pada hal-hal itu semua.

Banyak orang melihat suatu nubuat tentang Yesus dalam Kitab Kejadian 3:15.  Namun, McElwain menjelaskan: ia melihatnya lebih sebagai refleksi terhadap apa yang terkandung dalam Kitab Kejadian 4. Menjadikan sebuah iman dari pembunuhan/perang saudara adalah sungguh-sungguh salah.

Kitab Kejadian 4 memberikan alternatif ketiga, yaitu iman Seth. Iman Seth sangat sederhana. Yaitu, menyebut (berzikir) kepada nama YHWH (Allah) untuk memohon kepadaNya.

Alternatif ketiga yang disampaikan oleh McElwain tersebut adalah iman orang-orang yang menganut agama sebagai jalan hidup, bukan agama sebagai institusi.

seorang muslimah di gereja saat pembukaan tahun ajaran baru sebuah universitas di Roma, menunggu sementara jemaat Katholik menerima hosti

Pada dasarnya, nabi-nabi, atau orang-orang Suci, atau Guru-guru Suci, menyerukan dan mengajarkan akan agama sebagai jalan hidup, bukan agama sebagai institusi. Akan tetapi, para pengikutnya, bahkan para pengikut setianya, terperosok dalam sektarianisme yang menyebabkan kelahiran sebuah agama baru atau institusi baru. Nabi Muhammad bukan pendiri agama Islam. Yesus juga bukan pendiri agama Kristen. Bahkan Buddha Gautama dan Khrisna bukanlah pendiri agama Buddha dan Hindu. Ketika seseorang telah mencapai Kesadaran, kendati dia berada dalam agama institusional tertentu, dia akan menjalankan agamanya sebagai jalan hidup. Menyebarkan ajaran Injil sebagai cahaya yang menerangi hidup umat manusia tidak mesti berarti semua orang harus mengakui Injil dan menjadi orang Kristen. Menyebarkan ajaran AlQur’an sebagai panduan yang membimbing hidup umat manusia tidak mesti semua orang mesti bersyahadat dan menulis di KTPnya sebagai Islam. Dan, ketika seorang Dawoodiyya seperti saya mengutip semua kata-kata dari Taurat, Zabur, Injil serta AlQur’an, tidak berarti setiap orang mesti sama-sama seperti kami mengakui setara keEmpat Kitab Suci mulia itu. Seseorang telah mengamalkan agamanya sebagai jalan hidup ketika agama institusional yang dibawanya ketika lahir yang didapat dari orangtuanya dipelajarinya kembali, dikritisinya, dan kemudian diterima atau ditolaknya sesuai dengan sejauh mana tingkat kemampuannya, serta semua itu berdasarkan kehendak Tuhan juga.

sebuah kaligrafi Islam di kantor dekanat di sebuah universitas pontifikal di Roma

Banyak sarjana Muslim belajar di kampus-kampus pontifikal milik Vatikan tetapi tidak menjadi Katholik. Banyak pendeta Katholik yang kuliah di kampus-kampus Islam belajar ilmu kalam dan fikih tetapi tidak menjadi orang Islam. Banyak orang menonton TBN dan Tzu Chi tiap hari juga tidak tertarik menjadi orang Kristen Protestan atau Buddha. Kalau suatu agama institusional melakukan misionarisme dengan cara tidak sehat dan berhasil bukankah itu berarti karena ada celah dan kesempatan? Mengapa kita justru menjadikan agama kita sebagai agama instusional baru? Kampanye melawan dakwah agama lain hanya akan melahirkan jenis Kabiliyah baru, balas dendam, yang di masa mendatang bukan tidak mungkin akan melahirkan kekerasan. Lebih baik berfastabiqul khairat. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Dalam bahasa bisnisnya: bersaing secara sehat. Saya jual kecap, anda jual kecap. Saya bilang kecap saya kualitas nomer satu, anda bilang kecap Anda kualitas nomer satu, saya jual murah, dia jual murah juga. Dia percaya sama saya atau percaya sama Anda, beli kecap saya atau beli kecap Anda, itu semua kehendak Tuhan.  Tetapi, jangan sampai, saya bilang kecap Anda busuk, dan Anda bilang kecap saya palsu. Bukan cuma kedelai hitam, tetapi kampanye hitam, akhirnya saling lempar botol kecap.🙂

Salam damai.

wallahualambissawab.

Sumber bacaan: Holy Fratricide, catatan facebook Thomas McElwain.

Comments are closed.