Dua Yusuf

Yusuf putra Yakub dan Yusuf dalam injil matius:

But while he thought about these things,
Indeed, an angel of YHWH brings
A message to him in a dream,
Saying, “Joseph, not what things seem,
You son of David, do not fear
To take Mary your wife and dear,
For that which is conceived
(Matthew 1: 20, The Beloved and I vol.7)

Mukadimah 

Tokoh bernama Yusuf muncul beberapa kali dalam Alkitab. Yang paling terkenal tentunya adalah Nabi Yusuf (as) dan Yusuf (ra) ayah ‘sambung’ bagi Kanjeng Yesus (as).

Mungkin dari segi makna, nama Yusuf memiliki maksud dan tujuan dalam peranan dua orang terkemuka tersebut. Dari bahasa Ibrani, Yusuf berasal dari kata kerja “untuk menambah”, “meningkatkan” dan atau “melakukan lagi.” Lebih jauh lagi, “Yusuf” adalah kata kerja yang biasa digunakan jika sesuatu secara sederhana ditambahkan, dan juga bisa berarti “melakukan sesuatu di atas sesuatu yang lain” atau “memuji beberapa kali, kemudian memuji lagi dan lagi.” Maka, nama “Yusuf” mungkin diberikan kepada seorang anak dengan harapan atau doa, “Semoga Tuhan menambahkan” atau berarti “seorang yang meningkatkan” atau juga “seorang yang akan paling memuja Allah.”

Nama “Yusuf” bagi kedua tokoh tersebut mungkin dapat memberi petunjuk awal bagi melihat kedua Yusuf tersebut, sebelum kita melihat dan berfokus pada peranan keduanya pada zaman dan tempat masing-masing.

Kisah nabi Yusuf (as) dalam PL (Perjanjian Lama) amat kaya akan tamsil, hikmah moral dan politik, pelajaran strategi ekonomi, dan tentu saja mengenai pentingnya mimpi. Tentu saja, akan lebih banyak hal yang bisa dikatakan tentang Nabi Yusuf (as) dari PL daripada Yusuf (ra) dalam Injil Matius.

Sebelum kita menitikberatkan pada Yusuf dalam Injil Matius, kita bisa sedikit menjauh melihat Injil-Injil selain Matius memberi gambaran yang lebih kurang sama singkatnya tentang Yusuf (ra). Injil Yakobus (Infancy Gospel of James) menggambarkan Yusuf sebagai seorang bangsawan Yahudi yang sudah tua dengan beberapa anak lelaki dan menceritakan sedikit lebih detail mengenai  dirinya dengan Bunda Maria (as) dan kehamilannya. Injil Thomas (Infancy Gospel of Thomas) merekam Yusuf sebagai figur penting bagi masa kanak-kanak dan pendidikan Kanjeng Yesus (as). Sementara itu, Injil Matius memaparkan Yusuf (ra) lebih lengkap daripada Injil-Injil yang resmi bagi hampir seluruh Gereja Kristen, yang jumlahnya empat itu (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes).  Kendati begitu, Injil Lukas dengan niat tertentu, memberikan silsilah yang lebih lengkap bagi Yusuf (ra).

Selanjutnya kita akan melihat bagaimana kaitan antara kedua Yusuf tersebut – sehingga muncul pertanyaan apakah kunci untuk memahami Yusuf dalam Injil Matius dapat ditemukan dalam Yusuf dalam PL? Apakah benang  merah di antara mereka? Setidaknya terdapat sepuluh tema atau topik yang sama-sama terdapat dalam kisah Nabi Yusuf (as) dalam PL dan Yusuf (ra) dalam Injil Matius.Angka Empatbelas

  1. Mimpi
  2. Bintang
  3. Mesir
  4. Kekuasaan (politik)
  5. Judah
  6. Bersujud sebagai tanda menghormati
  7. Penindasan
  8. Perjuangan akan kemerdekaan
  9. Kesucian (dalam kaitan dengan hubungan seksual)

Angka “Empatbelas” 

Munculnya angka “empatbelas” dalam cerita nabi Yusuf (as) maupun Yusuf (ra) pada mulanya tidaklah memberi kesan yang cukup kuat untuk direnungkan. Kita mengetahui bahwa numerologi Alkitabiah lazim digunakan oleh para sarjana dan peneliti Alkitab untuk menafsirkan teks-teks Alkitab. Kendati angka empatbelas bukanlah angka yang lazim memikat perhatian para peneliti Alkitab, tidaklah mengejutkan bagi saya menemukan angka empatbelas ditemukan dalam kedua kisah Yusuf tersebut terkait dengan ‘generasi’.

Menurut John Nolland, angka empatbelas adalah dua kali lipat dari tujuh, yang merupakan simbol dari penyempurnaan dan perjanjian, dan juga gematria dari Nabi Daud (as). “Empat belas” juga mengingatkan kita pada suatu ayat dalam Kitab Enoch (kitab apokripa PL yang hanya diakui oleh Gereja Ortodoks Ethiopia) tentang empat belas pohon istimewa yang akan tetap hijau dalam segala musim sepanjang tahun (3:1).

Tamsil “pohon” dapat memberi banyak penafsiran, tetapi secara khusus dalam perihal kedua Yusuf ini, pohon dapat dikaitkan dengan asal-usul dan atau regenerasi keluarga. Tak sedikit cendekiawan Alkitab yang meyakini bahwa penulisan “empatbelas generasi” ditulis dengan tujuan tertentu oleh pengarang Injil Matius kendati ia tidak akan dengan segera mengingatkan pembaca tentang Kitab Kejadian 46: 22 mengenai Yusuf putra Yakub, dan jumlah keturunan dari putra-putra Yakub dari Rachel, isteri kesayangannya.  Lebih jauh lagi, pengarang Injil Matius menyebutkan, “Yakub ayahanda dari Judah dan saudara-saudaranya” yang dapat membuat kita berasumsi bahwa ia ingin mengingatkan kita pada kisah nabi Yusuf (as) dan saudaranya Judah/Yehuda. Jika kita menelusuri lebih jauh lagi kepada jumlah empatbelas dalam Kitab Enoch, kita sebelumnya telah mengetahui bahwa Alkitab memunculkan banyak tamsil pohon. Di antaranya adalah pohon kehidupan.

Menurut Syaikh Ali Haydar, pohon Kehidupan menurut adalah pesan utama dalam Alkitab. Dalam Kitab Kejadian 2 dan 3 ia lambang kebergantungan kepada Tuhan akan pengetahuan yang benar dan yang salah, sedangkan pohon mengenai pengetahuan yang buruk dan yang jahat melambangkan hasrat untuk menentukan yang benar dan yang salah bagi diri sendiri. Ungkapan pohon kehidupan dalam bahasa Ibrani, ‘etz hakhayim, tersusun dari huruf-huruf yang merupakan awal dari nama-nama duabelas Imam. Pohon Kehidupan membentuk pendahuluan terhadap kitab-kitab Mazmur dalam Mazmur 1:3, sedangkan seluruh buku tersebut mengandung referensi demi referensi tentang keimamahan. Injil (Matius 7) menunjuk kepada pohon yang diketahui oleh buah-buahnya, dan Kitab Wahyu pasal 21 pada akhir Alkitab menghadirkan 12 buah dari pohon kehidupan.

Bagaimana pun, kita tahu bahwa keimamahan kelak merupakan tema sentral dalam perjalanan keturunan dari Nabi Yakub (as) dan seakan hendak mengingatkan tentang hal itu, kisah Yusuf (ra) dalam Injil Matius mengingatkan kembali tentang “Judah” salah satu saudara Nabi Yusuf (as).

The fourteen holy ones in every age
Bear on their shoulders, page by shining page,
The burden of the world, without their right
The universe would sink into the night
Of nought, instead of being shimmering screen
Where is reflected beyond space and seen
Your golden image. We who slumber on
Are kept in peace until the ruddy dawn,
No retribution comes, for their dear sake
Who pass the loving cord along and make
The circle close around the whirling feet
Of forties and fourteens, where masters meet.
Beloved, look on the generations’ dance
And give the rising dancers glance for glance.
(The Beloved and I vol.7, hal. 29)

 

Mimpi 

Tema “mimpi” mungkin adalah tema yang paling dengan segera terlihat ketika pembaca hendak menemukan satu tema yang dikandung oleh cerita kedua Yusuf tersebut.  Melalui mimpi, Tuhan membimbing dan memimpin kedua Yusuf. Lazimnya, kaum mistik (para sufi, rahib, dsb) mempercayai mimpi-mimpi, betapa di dalamnya terdapat bimbingan-bimbingan dan kebijaksanaan yang hadir kepada manusia pada saat malam hari ketika mereka jatuh terlelap. Menurut Llewellyn Vaughn-Lee: “beberapa mimpi adalah jendela kepada dunia yang paling dalam, yang kita dapat melihat sekilas jalan bagi jiwa, mengalami keajaiban dari diri kita yang tak terbatas.”

Pada Nabi Yusuf (as) maupun Yusuf (ra), Allah menyingkapkan firman-firman-Nya dan perintah-perintah-Nya melalui mimpi-mimpi yang mereka peroleh. Lebih jauh lagi, dalam kisah Nabi Yusuf (as), melalui mimpi, Allah memulihkan nama baik Yusuf dan berkat menafsir mimpi sang raja ia menjadi wazir bagi firaun (atau maharaja) Mesir pada masa itu. Sementara itu, Allah meyakinkan kemuliaan Bunda Maria (as) kepada Yusuf (ra) melalui mimpi, dengan memastikan bahwa ia adalah seorang perawan suci dan mengabarkan status kudus putera yang dikandung tunangannya tersebut. Maka, dengan kata lain,  pada dua cerita tersebut, mimpi adalah bentuk dunia lain (realm) tempat seseorang dapat menyingkap tabir atau hijab antara dirinya (sebagai manusia) dengan Tuhan.

Bintang

Dalam kisah Yusuf (ra), terdapat bintang yang membimbing orang-orang kapan dan di mana gerangan Sang Messiah dilahirkan. Dalam kisah Nabi Yusuf (as), bintang juga-lah yang membimbing orang-orang kepada siapa seseorang seharusnya menghormati dan menaati (atau mengikuti). Tampak jelas bahwa Alkitab menggunakan “bintang” sebagai suatu perlambang penting. Pada permulaan PL, bintang merupakan lambang dari ilmu pengetahuan, pemandu dalam kegelapan (Kejadian 1: 16). Dengan kata lain, bintang juga adalah pemandu untuk mengetahui yang benar dan yang salah.

Dalam kisah Nabi Yusuf (as),  kita menemukan bintang-bintang tersebutlah yang menuntun kita untuk mengenali kebenaran dan kebathilan, dalam hal ini saudara-saudara Nabi Yusuf (as), mengajarkan kita untuk menaati kebenaran (dalam hal ini Yusuf as. adalah wakil atau kebenaran itu sendiri), dan dengan mereka sendiri, dosa-dosa mereka telah mengajarkan kita tentang kebaikan dan kejahatan dari sudut pandang akhlak.

Bintang-bintang ini muncul dalam mimpi. Sebaliknya, dalam kisah Yusuf  (ra), sang bintang tampil di alam zahir. Dari pendekatan mistik (‘irfan), alam semesta sesungguhnya sangatlah peka, sebab mereka mempunyai indera mereka masing-masing dan bahwa mereka selalu dengan jelas bereaksi dan merespon tidak hanya untuk firman-firman Allah sendiri – tetapi juga kepada firman-firman Allah sendiri – dalam hal ini diwakili oleh Sang Messiah. Sebagai contoh, Mazmur 19: 1-4 mengingatkan kita akan indera yang dipunyai alam semesta.  Itulah mengapa dalam hal kelahiran para nabi dan kehidupan mereka tak jarang dijumpai peristiwa-peristiwa alam semesta yang mengiringi (yang lazim disebut pertanda alam, mukjizat serta keajaiban-keajaiban lainnya), karena alam semesta juga bereaksi dan merespon dengan caranya sendiri.

Mesir

Mesir memainkan peranan penting sebagai suatu tempat yang istimewa dalam Alkitab. Sangat mungkin sang pengarang Injil Matius memiliki maksud saat menyebutkan dengan jelas nama tempat ketika Yusuf (ra) dan Bunda Maria (as) membawa Yesus Kristus, dengan mengutip Hosea 11:1. Dari kisah Nabi Yusuf (as) kita mengetahui bahwa Mesir adalah sebuah negeri yang makmur sejahtera, tempat baginda (as) terjual sebagai hamba sahaya, sekaligus menjadi orang merdeka dan bahkan menjadi seorang wazir terkemuka bagi seorang fir’aun yang adil.

Mengingat kisah tersebut, ia memberikan kesan kuat bahwa pengarang Injil Matius dibayang-bayangi oleh ayat-ayat dalam PL untuk mengukuhkan bahwa Yesus adalah Sang Messiah dan juruselamat bangsa Israil yang dinanti-nantikan. Ini seperti halnya Nabi Yusuf (as) yang membantu mengatasi wabah kelaparan pada zamanya, dan untuk mengingatkan ketika Musa (as) membawa bani Israil dari Mesir agar terbebaskan dari perbudakan.

Ketika Injil Matius mengutip Hosea 11: 1, ia mengajak kita untuk berpikir bahwa perlambang Kristus keluar dari Mesir sebagaimana halnya bani Israil dibawa keluar dari Mesir ketika Allah menyelamatkan mereka, memberi petunjuk misi Sang Messiah untuk menyelamatkan setiap jiwa yang tersesat. Sang pengarang Injil Matius agaknya hendak mengatakan bahwa Tuhan telah memenuhi janji-Nya atau menggenapi petunjuk tersebut, betapa Sang Messiah juga telah keluar dari Mesir, sebagaimana halnya bani Israil nenek moyang mereka dahulu keluar dari Mesir, tatkala Tuhan menyelamatkan mereka, dan Sang Messiah kini telah dikirim-Nya untuk menyelamatkan dan mencari mereka yang tersesat.

Politik (Kekuasaan) 

Kisah Nabi Yusuf (as) maupun Yusuf (ra) memberikan pelajaran politik yang sangat berharga. Dalam kisah Nabi Yusuf (as), terdapat pelajaran mengenai politik dan strategi ekonomi. Pelajaran politik dalam cerita Nabi Yusuf (as) bermula dalam keluarga Nabi Yakub (as) sang patron keimamahan dalam tradisi Bani Israel. Kisah kecemburuan kakak-kakak Yusuf (as) terhadap ia (dan juga Benyamin) untuk memenangkan hati sang ayahanda sehingga melahirkan rencana jahat  untuk menyingkirkan saingan mereka, sesungguhnya menggambarkan prototipe dunia politik yang paling sederhana. Machiavelli pernah mengatakan kira-kira begini, “seseorang dapat dengan segera melupakan kesedihan atas kematian ayahnya, tetapi tidak dapat dengan mudah menerima kehilangan atas hak warisannya. “

Kisah Nabi Yusuf (as) juga memberikan contoh mengenai seorang pemimpin yang baik, seorang fir’aun yang bijaksana. Ia menerima saran dari Nabi Yusuf (as), seseorang yang pernah berada di penjara karena fitnah, dan malah mengangkatnya sebagai seorang wazir, meletakkan “seorang yang tepat pada posisi yang tepat” dalam pemerintahan.

Sementara itu, kisah Yusuf (ra) memberikan contoh mengenai raja yang zalim, Raja Herod. Raja Herod juga menerima saran orang bijaksana, seperti fir’aun zaman Nabi Yusuf (as) tetapi ia menggunakan saran itu untuk tujuan yang buruk.  Hikmahnya sangat terang, betapa ilmu pengetahuan adalah suatu alat, yang dapat digunakan untuk tujuan yang baik, maupun tujuan yang merusak.  Baik Raja Herod maupun kakak-kakak Yusuf (as) mengetahui tentang kebenaran, tetapi tidak mau menerimanya. Raja Herod mengetahui peranan penting seorang Messiah, sedangkan kakak-kakak Yusuf (as) mengetahui bahwa adik mereka dikaruniai keistimewaan oleh Tuhan. Namun, kebenaran tak jarang memang menyakitkan, dan sulit diterima dengan ikhlas apabila ia bertentangan dengan apa yang kita inginkan dan pikirkan selama ini. Kekuasaan atau kekuatan politik adalah salah satu anugrah yang dipunyai seseorang; manusia sebagai makhluk yang dikaruniai kebebasan kehendak. Dengan kebebasan kehendak yang dimiliki setiap manusia, dan ditambah dengan kekuasaan yang dimiliki oleh orang-orang tertentu, orang-orang tertentu ini mempunyai kekuasaan pula untuk menentukan bagi orang-orang lain di bawah kekuasaannya, apakah itu hal-hal baik atau hal-hal buruk serta apakah ia untuk tujuan baik maupun tujuan buruk.

Pada pendekatan mistik (tasawuf), anugrah yang para penguasa itu miliki dapat dibedakan menjadi dua jenis keimanan: “Tidak ada aku kecuali Tuhan,” atau “Tidak ada Tuhan kecuali aku.”  Kedua kisah Yusuf tersebut memberikan pelajaran penting termasuk yang manakah para penguasa dan para pemimpin tersebut.

Judah (Yehuda)

Pengarang Injil Matius secara eksplisit memberikan genealogis Yesus Kristus (as) dengan antara lain menyebutkan “Yehuda dan saudara-saudaranya.” Disebutkan,  Yehuda adalah ayah dari Perez dan Zerah, sedangkan Tamar adalah ibu mereka. Hal ini memberikan suatu kesan tersndiri bagi pembacanya. Siapakah mereka? Sejumlah sarjana menyatakan bahwa tujuan pengarang Injil Matius meletakkan Nabi Ibrahim (as) sebagai yang pertama dalam genealogi adalah untuk menekankan bahwa Yesus (as) adalah sang Messiah yang telah dinubuatkan dalam PL, terutama bagi para pembaca dari kalangan Bani Israil dan atau Yahudi (dan kata “Yahudi” sendiri  berasal dari puak atau bani Yehuda).

Jadi, hal ini bukan semata-mata ditujukan bagi nubuat akan datangnya Sang Messiah dari keturunan Raja Daud (as) tetapi juga bahwa Sang Messiah ini benar-benar juga seorang keturunan Judah, seorang Yahudi sejati.  Kemudian, pembaca seakan didorong untuk membaca Kitab Kejadian (37-38) yang menceritakan siapakah gerangan Judah dan Tamar. Dalam cerita tersebut dikatakan bahwa Yehuda melakukan zina (atau sebenarnya pernikahan mut’ah?) dengan menantu perempuannya sendiri, Tamar.  Tampaknya ada tujuan pengarang Injil Matius untuk memberitahu bahwa Tuhan adalah Sang Maha Pengampun yang memberikan rahmat pengampunan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tanpa batas mengampuni dosa-dosa anak manusia dan bahkan tetap melimpahi mereka dengan berkat.

Dari semula, pengarang Injil Matius telah menyatakan bahwa kelahiran dan kedatangan Yesus Kristus (as) adalah untuk mengabarkan berita baik tentang hal ini. Ketika itu banyak rabbi Yahudi yang membuat agama menjadi begitu eksklusif, hanya untuk orang-orang tertentu, dan kaum elit mereka seakan bersih dari dosa, kemudian sang pengarang Injil Matius mengingatkan bahwa begitu banyak nenek moyang orang Yahudi yang telah berbuat dosa, tetapi Tuhan masih tetap mencintai mereka dan memberkati mereka dengan mengutus Putera Tunggal-Nya kepada mereka. Yesus Kristus (as) seorang anak manusia yang dilahirkan dengan istimewa, dari tiupan Roh Kudus, ke dalam rahim Bunda Maria (as) seorang gadis perawan, seorang perempuan paling suci dan mulia pada masa itu.

Bersujud Sebagai Tanda Menghormati

Dalam kisah Nabi Yusuf (as), dalam mimpinya, bintang-bintang bersujud kepadanya. Kemudian, kakak-kakaknya bersujud di atas tanah kepadanya di istananya. Dalam kisah Yusuf (ra), para bijak bistari bersujud di hadapan bayi Yesus Kristus. Maka, kedua cerita tersebut memberi gambaran bagaimana seseorang seharusnya menghormati seorang utusan pembawa kebenaran.

Dalam banyak tradisi, orang-orang memberikan penghormatan kepada raja-raja, para tetua, orangtua, pemimpin, dll nya dengan membungkuk bahkan bersujud di atas tanah di hadapan mereka. Yesus Kristus bukanlah manusia pertama yang seseorang bersujud kepadanya sebagai tanda kehormatan yang kudus. Alkitab mengajarkan bagaimana tubuh mesti bergerak untuk menghormati sang pembawa kebenaran, Kalimatullah, Sabda Yang Kekal. Ini tidak lain adalah stasiun  (maqam) pertama seorang yang beriman. Maqam ini menunjukkan seseorang telah menerima ketentuan Allah bahwa Dia telah mengutus Firman-Nya kepada umat manusia. Alkitab sendiri mengajarkan bagaimana tubuh harus bergerak dalam menyembah Tuhan. Bersujud, dan juga membungkuk. Menyembah Allah mestilah dengan segenap jiwa sekaligus segenap perbuatan badaniah. Agaknya, pengarang Injil Matius hendak mengingatkan para pembacanya sejak semula. Alkitab mengajarkan cara-cara sholat, di samping itu, menghormati para utusan kudus sebagai suatu pengkultusan bukanlah perbuatan syirik, melainkan tanda seorang mukmin menerima ketetapan Illahiyah itu sendiri, bahwa mereka adalah Wakil-Nya yang mesti ditaati dan tunduk kepada mereka sebagai ketundukan kita kepada-Nya.

Penindasan

Dalam kisah kedua Yusuf, terdapat cerita-cerita mengenai perbuatan-perbuatan penindasan atau zalim. Misalnya, kisah tentang kakak-kakak nabi Yusuf (as), kisah tentang isteri Potiphar dan Potiphar, dan kisah tentang dua teman nabi Yusuf (as) dalam penjara. Dalam kisah Yusuf (ra), terdapat cerita seorang penindas bernama Raja Herod.

Penindasan yang dilakukan oleh manusia kepada sesama manusia yang diceritakan dalam keduanya, memberikan pelajaran bagaimana seorang manusia semestinya hanya selalu bergantung kepada Tuhan, bukan kepada sesama manusia, baik dalam hal ia sendiri yang terperangkap dalam keadaan tersebut, maupun ketika ia berusaha untuk menolong orang lain yang tertindas. Secara implisit, pengarang Injil Matius memberikan petunjuk di awal mula bagaimana kezaliman Raja Herod, betapa sang Messiah akan datang untuk mereka yang tertindas, untuk menyelamatkan mereka. Dia datang dengan munculnya orang-orang bijaksana, seperti dalam kisah Nabi Yusuf (as), Yusuf (as) datang untuk menyelamatkan warga Mesir bersama orang yang bijaksana yaitu sang fir’aun.

Perjuangan Akan Kemerdekaan

Seringkali, baru dalam keadaan tertindas-lah orang menyadari betapa berharganya dan pentingnya kemerdekaan. Namun, apakah sejatinya kemerdekaan itu? Cerita Nabi Yusuf (as) mengingatkan kepada kita bahwa kemerdekaan sejati, mungkin saja terdapat dalam penjara, bukan di dalam istana yang nyaman dan megah. Cerita Yusuf (ra) dan Bunda Maria (as) mengingatkan kepada kita bahwa keduanya memperoleh kemerdekaan kendati berada dalam pengungsian, melarikan diri dari Raja Herod. Lebih jauh lagi, cerita mengenai meninggalkan Mesir, dan keluar dari tanah air, demi mengikuti perintah Allah swt, tidak lain sesungguhnya perjuangan akan kemerdekaan itu tidak didapatkan di mana pun atau darimana pun kecuali hanya dalam Tuhan. Seperti kata-kata para darwis agung, “Hanya ketika aku menjadi budak Tuhan, aku menjadi bebas merdeka.”

Kesucian (Dalam Hal Hubungan Seksual) 

Novel Yusuf (as) dalam PL termasuk menceritakan kisah mengenai perzinaan yang dilakukan oleh Judah dan percobaan zina oleh isteri Potiphar. Yusuf (as) sendiri memelihara kesucian  dirinya dengan memohon perlindungan dari Allah swt agar tidak terjatuh dalam dosa. Dalam Kitab Keluaran 20, salah satu bunyi 10 Perintah Allah adalah “jangan berbuat zina”. Hal inilah yang menyebabkan Yusuf (ra) hendak menceraikan Bunda Maria (as) sebagai tunangannya karena mereka belum berhubungan sebagai suami-isteri tetapi baginda (as) telah mengandung. Dalam situasi dan kondisi masyarakat yang sangat memegang teguh tradisi pada masa itu, kehamilan di luar nikah adalah suatu aib.

“Kesucian” (dalam hal hubungan pernikahan atau seksual) adalah tema yang dikongsi oleh kedua Yusuf.  Agaknya, penting juga mencermati mengapa pengarang Injil Matius tidak sekadarnya saja mengatakan tentang kelahiran dalam keperawanan (virgin birth) tetapi juga hendak mengingatkan bahwa kemuliaan atau kesalehan seseorang adalah juga karena menjaga kesucian dirinya dari perbuatan zina, sebagaimana yang diteladankan oleh Nabi Yusuf bin Yakub (as).

Penutup 

Dalam bab-bab pertama, pengarang Injil Matius tidak dapat diragukan lagi  dipengaruhi Kitab Kejadian,  tentunya karena ia sangat akrab dengannya. Setidaknya ada duabelas kunci yang saling mengkaitkan, paling tidak saling berbagi di antara keduanya, dalam hal usulan bahwa kisah Yusuf pertama memberi pengaruh untuk memahami kisah Yusuf kedua. Seperti pepatah yang berbunyi, “Di dunia ini tidak ada kebetulan.”

  1. Nama Yusuf yang memiliki makna tertentu. Kendati Yusuf (ra) disebutkan dalam genealogi Yesus Kristus (as) dan turun dari Judah, mestilah diingat Yusuf (ra) bukanlah bapak kandung Yesus (as). Namun, mengapa harus “Yusuf”?
  2. Angka-angka tertentu muncul dalam Alkitab, tentunya dengan maksud-maksud tertentu pula. Angka 14, duakali lipatnya dari angka tujuh, muncul dalam kedua Yusuf.
  3. Mimpi tampaknya adalah jembatan antara manusia dengan Tuhan, atau sebuah dunia tempat manusia memperoleh Firman-Nya dan perintah-Nya.
  4. Bintang adalah simbol penting dalam Alkitab. Kira-kira, mengapa ia menjadi pondasi teologis maupun filosofis dari banyak ideologi di dunia?
  5. Mesir muncul beberapa kali dalam Alkitab. Apakah peranan Mesir di masa lalu dan apakah signifikannya di masa kini jika kita merenungkannya dari Alkitab?
  6. Tentang raja-raja yang baik dan buruk dalam Alkitab. Dan beberapa nabi sendiri adalah para raja. Bagaimana seorang belajar politik dari mereka?
  7. Adanya kesan kuat tentang pentingnya puak-puak bani Israil dan keimamahan – Lewi, Yusuf, Yehuda, dst – dan peranan mereka dalam Alkitab. Di sini, dalam genealogi Yesus (as), puak Judah/Yehuda mendapat kedudukan yang istimewa.
  8. Bersujud kepada Tuhan dan Wakil-Nya. Mengapa gerakan tubuh juga sedemikian pentingnya? Sejauhmanakah efektifnya ia bagi hati orang-orang beriman?
  9. Penindasan merupakan tema yang lazim dijumpai dalam Alkitab. Kita bisa belajar dari perjuangan kedua Yusuf tesebut.
  10. Bagaimanakah kedua Yusuf tersebut dapat menginspirasi kita akan kemerdekaan sejati?
  11. Pentingnya hukum yang paling mendasar dari Dekalog muncul dalam kisah kedua Yusuf. Salah satunya adalah “Jangan berzina.” Orang yang saleh dan terhormat adalah mereka yang menjaga kesuciannya.
  12. Bukan hanya kisah Yusuf (as) dalam PL membayang-bayangi kisah St Yusuf tetapi juga bagaimana Yusuf (ra) tidaklah melakukan hal-hal yang menentang hukum Allah swt sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Ini mungkin aspek yang penting yang diniatkan oleh pengarang Injil Matius. Bagaimana kita dapat merefleksikan dari kesinambungan dan keabadian Firman-firman Allah ini?

Namun, menarik juga, bahwa seorang cendekiawan Alkitab, seperti Giovani Garbini mengatakan bahwa ada kecenderungan dari penulis Kitab Kejadian untuk menghina pribadi Yusuf (as), menggambarkan dia sebagai orang yang pemalu dan banci ketika pada saat di antara kakak-kakaknya, yang menggambarkan ia seakan-akan bukanlah karakter seorang agung. Kemudian, datanglah dari suku Yehuda, meskipun Yehuda pernah melakukan dosa besar, Allah masih memberkati dia dan kemudian berjanji kepadanya sebagai bapak dari kaum yang agung. Agaknya, penulis Matius mungkin telah mencermati ini dengan seksama. Ketika dia menempatkan nama-nama seperti “Tamar” dan “Istri Uriah” (dalam silsilah Yesus as.), maka akan segera mengingatkan pembaca tentang perzinahan Yehuda dan Daud (as) – kendati untuk kasus Nabi Daud masih dapat dibantah – untuk beberapa alasan. Namun, pengarang Injil Matius tetap menggarisbawahi kesucian Yusuf (ra) dan Bunda Maria (as); betapa ia dengan ketat menekankan hukum “janganberzinah”, karena kesucian seperti ini penting untuk mensahihkan kelahiran Sang Mesias, yang ditunggu-tunggu.

“bagai pinang dibelah dua”

Maka, kendati terdapat beberapa kunci atau penghubung yang memungkinkan bagi memahami kisah Yusuf (ra) dari kisah Nabi Yusuf (as), kita haruslah ingat bahwa keduanya adalah dua tokoh dengan karakter yang berbeda yang mempunyai peranan yang berbeda dalam kenabian dan misi Illahiyah. Agaknya cukup aman mengatakan bahwa tidak semua kunci terdapat dalam kisah Nabi Yusuf (as) dalam PL.  Namun, adalah metode yang baik untuk membaca dan merenungkan kisah-kisah Nabi Yusuf (as) dalam PL untuk memahami dan merenungkan kisah St Yusuf dalam Injil Matius – bahkan dalam Injil-Injil lainnya. Pendek kata, yang pertama dapat menerangi yang kedua, tetapi yang kedua tidaklah serupa dengan yang pertama. 

Wallahualam bissawab.

[1] Love is a Fire, p.78.

(* Tulisan ini semula adalah tugas mata kuliah teologi di departemen missiologi di Gregoriana berjudul “The Key to Understanding Matthew’s Joseph is the Old Testament Joseph “novel?” di bawah bimbingan professor Felix Koerner, SJ ~ disunting kembali untuk blog ini. )

Bibliography

Garbini, Giovanni. Myth and History in the Bible Sheffield: Sheffield Academic Press, 2003.

Ska, Jean-Louis. Introduction to Reading the Pentateuch, Eusenbraum, 2006.

New Jerome Biblical Commentary. Penguin-Putnam, 1990.

Vaughan-Lee, Llewellyn. Love is a Fire. California: The Golden Sufi Centre, 2000.

The Book of Enoch. A Modern English Translation of the Ethiopian Book of Enoch with introduction and notes by Andy McCracken. http://www.forbiddengate.com/BookOfEnoch.pdf

Nolland, John and Daniel M. Gartner (ed). Built Upon the Rock: Studies in The Gospel of Matthew. Cambridge: Eerdmans, 2008.

Mc, Elwain. Thomas. The Beloved and I.

Comments are closed.