Nabi Daud dalam The Beloved and I

Nabi Daud (as), Bathseba dan Uriah menurut The Beloved and I 

Dalam sejumlah versi khususnya dalam pandangan Kristiani yang lazim saya baca atau saya dengar, Nabi Daud (as) dipandang melakukan dosa besar yaitu berzina dengan seorang wanita yang merupakan istri orang lain (Uriah). Sementara itu dalam pandangan umat Islam, Nabi Daud tidak melakukan zina melainkan hanya bersalah mengambil tunangan orang lain dan menjadi tamak karena memilliki banyak isteri.

Dalam Alkitab, nama perempuan yang disebut telah memikat Nabi Daud (as) itu adalah Bathseba dan nama nabi yang mengingatkan Nabi Daud adalah Nathan. Beberapa orang Kristen yang saya kenal menganggap yang merupakan nabi sesungguhnya adalah Nathan (as), bukan Daud (as) sebab beliau hanyalah raja.

Namun, The Beloved and I yang merupakan karya gubahan pengasuh pada suatu tekke (pondok sufi/zawiyah) yang disebut Dawoodiyya, tentu saja memberikan penghargaan tinggi kepada nabi Daud (as). Dawoodiyya atau Daudiyah sendiri secara harafiah berarti pengikut Nabi Daud (as) yang mengaji Mazmur. Allah swt menganugerahi bakat musik yang luar biasa kepada Nabi Daud (as) di antara nabi-nabi lainnya. Dapat dikatakan, baginda (as) bukan hanya seorang nabi-raja yang paling terkemuka, melainkan juga beliau adalah seorang nabi-musisi dan nabi-penyanyi mula-mula sekali mengajarkan dengan sistematis bagaimana menyenandungkan ayat-ayat Illahi dengan indah. Di dalam Mazmur terdapat rahasia mengenai kunci-kunci nada yang dapat digunakan untuk menyenandungkan Mazmur dan ayat-ayat suci lainnya. Yang sangat unik, nada-nada untuk menyenandungkan Mazmur tidaklah jauh berbeda dengan nada-nada untuk menyenandungkan Al-Qur’an misalnya.

Saat membaca 2 Samuel 11-12, amat menarik mendapati persoalan Batsheba dan Uriah dengan Nabi Daud (as) direspon oleh sang penulis.

1. Perbuatan zina adalah dosa terbesar atau melanggar peraturan yang paling mendasar. Sang penulis (yang memiliki prinsip bahwa Dekalog atau 10 Perintah Allah merupakan syariat dasar atau fondasi yang menjadi al-furqan atau penentu yang benar dan yang salah) tentu saja sangat ketat dalam memberikan komentarnya maupun dalam menerjemahkan ayat-ayat berima-nya dalam kasus ini.

2. Pengarang memelihara prinsip (serupa seperti Syiah Imamiyah) bahwa seluruh Nabi dan para Imam (para pemimpin atau pembimbing Illahiyah yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri) adalah maksum atau terlindung dari perbuatan dosa dan tidak pernah melakukan dosa.  Tentu saja ada alasan utamanya yaitu bahwa karena memperoleh mendapat mandat dari Tuhan maka mereka mestilah pertama-tama dan paling utama dapat dipercaya dan bersih dalam menjadi perantara pesan atau penyampai pesan-pesan Illahiyah.  Di samping itu, Alkitab sendiri menjamin hal tersebut.

3. Oleh sebab itu, Nabi Daud (as) tidak pernah melakukan zina. Jadi apa yang terjadi sesungguhnya menurut sang penulis? Nabi Daud (as) mengambil tunangan Uriah, yang mana pada masa itu tunangan itu, agaknya dalam tradisi atau kebiasaan orang di tempat itu, tak jarang sudah disebut sebagai istri seseorang hanya saja belum boleh digauli (ingat kisah Maria (as) ibunda Yesus (as) dan Yusuf (ra)?) Dalam hal ini, Nabi Daud memiliki hak untuk mengambilnya sebagai istri karena bahkan seorang istripun berhak menikah lagi apabila diabaikan atau ditinggalkan suaminya setelah beberapa bulan menurut syariat.

Bagaimanakah Daud berpikir ada hak baginya

Untuk menikahi tunangan dalam pendapatnya?

Sederhananya, Kekasih, sebab Engkau mencipta hukum

Bagi Musa yang senantiasa ditaati dengan begitu kagum,

Bahwa keadaan seketika itu seorang pria mesti kehilangan tunangan

Jikalau dalam tahun itu ia menjadi tentara dalam peperangan .

Uriah memilih untuk mengembangkan karirnya,

Dan itulah sebabnya Bathsheba menjadi bebas dari ikatannya.

Daud melihatnya di kolam dan memikirkan

Keelokannya yang selama ia dambakan,

Dan semenjak Uriah telah meninggalkannya

Demi hukum ia berhak untuk mendapatkannya.

Segala sesuatu sahih adanya, rasul Paulus berkata,

Tetapi belum tentu bijaksana, demikian seingat saya.

4. Maka karena itu, kesalahan Nabi Daud (as) adalah mengambil tunangan Uriah, tapi bukan kesalahan secara syariat karena menurut syariat hal itu dibenarkan, dan kemudian mengirim Uriah ke garis depan medan perang di mana Uriah sendiri tidak menolak amanat tersebut.  Sebagai seorang maksum, para nabi adalah para pemimpin yang adil. Itu pun digambarkan dengan jelas oleh sang pengarang tentang Uriah yang tidak menolak perintah Nabi Daud (as).

Maka Daud dan Bathseba jatuh dalam pertengkaran

Siapa dari mereka yang memberitahu Uriah untuk keterangan

Tentang berakhirnya pertunangan mereka, Daud telah

Menjadikannya sebagai isteri. Keadaan tampak susah.

Tak seorang pun yang berani mengatakan sepatah kata,

Yang menunjukkan betapa hati bergejolak sedemikian rupa

Dalam keadaan ta bersalah karena mengikuti hukum,

Secara harafiah, sementara Uriah telah membuat kagum

Akan karirnya dalam bidang militer.

Kekasih, aku tiada memiliki cita-cita seperti dia

Sehingga meninggalkan tunangan demi masuk tentara,

Tak juga berhasrat untuk memiliki isteri lagi,

Tak juga mempunya pesan terpotong bagai belati,

Aku hanya berhasrat menemukan pohon-Mu.

5. Jadi Nabi Daud (as) tidak melakukan dosa besar yaitu berzina maupun membunuh (Uriah). Uriah lebih memilih mengejar karirnya dan tidak mengajukan permintaan untuk menikah sebelum perang, di mana dalam syariat hal itu dianjurkan. Hanya saja, Nabi Nathan (as) mendatangi Nabi Daud (as) untuk mengingatkan walaupun hal itu bukanlah dosa dan masih pada tataran syariat, ada hal-hal yang tetap melukai dan menyakiti perasaan orang lain.

Nabi Nathan tidaklah datang dengan sabda

Dari hukum sebelum setiap hati bergejolak,

Tetapi dengan amsal yang membangkitkan rasa

Dan mengabarkan Daud akan gagasan lainnya.

Tindakannya berdasarkan hukum kata per kata.

Sang wanita merupakan ujian bagi cengkraman tahta

Semenjak suaminya pergi ke medan perang

Sebelum mengakhiri pernikahan di atas ranjang.

Dia tidaklah membunuh dengan tangannya sendiri.

Sesuai sabda syariat, Daud tetap berkedudukan tinggi.

Ia adalah persoalan hati dan kemauan

Untuk berbuat yang benar dan bukan menyakitkan.

Berapa banyak hari ini yang taat masih menyimpan

Hati yang buruk dan mencuci tangan dalam bilasan.

6. Jadi, dalam syariat, Uriah memiliki hak untuk kembali ke rumah dan menikahi Bathseba, tetapi ia memilih menuju medan perang untuk mengejar karirnya dan menunda haknya tersebut (yang merupakan hak bagi Batsheba juga yang mesti ditunaikan Uriah Hittite). Maka ini adalah pelajaran yang sangat mahal. Syariat atau hukum tidak mengenal perasaan, dalam arti kata, walaupun Uriah mencintai Bathseba dan Bathseba masih memiliki perasaan terhadap Uriah, tetapi keduanya dapat kehilangan hak untuk menikah apabila Bathseba sendiri-lah yang bersedia dipanggil kepada Nabi Daud (as) dan Nabi Daud (as) melakukannya bukan karena tidak mengetahui status Batsheba.

Jalan Engkau, Kekasih, berliku-liku kendati tampaknya

Tak sesuai susunan dan pikiran sebagaimana rencana

Seputar istana dan medan perang di muka bumi.

Hidup di sini kejam oleh tipu muslihat dan oleh nilai.

Kulihat si bebal Hittite mencapai takdirnya

Mengharap ketenaran di perang daripada pasangannya

Dan melaikan waktu yang diberikan Tuhan baginya

Untuk menikahi tunangannya, secara tidak bijaksana.

Sampai skandalnya memaksa tangan maka sang raja

Tak berhak menodai untuk mengotori cincinnnya.

Dan kini dua orang pria bersalah atas satu kematian.

Kedukaanku, Kekasih, nyanyianku dan hembusan

Napasku padaMu masih mengingat betapa

Berbuat dengan ambisi akan membahayakan segalanya.

6. Maka, Nabi Daud (as) tidaklah membunuh apalagi berzina karena beliau seorang maksum, dan dalam beberapa hal, kemaksuman Daud (as) dilindungi pula oleh kedatang Nathan (as) yang mengingatkannya tentang perbuatannya yang tampak tamak dan dapat menggiringnya pada perbuatan dosa (tentu saja masing-masing nabi dan imam dilindungi oleh Tuhan dari berbuat dosa dengan cara-cara yang berbeda satu sama lain). Jadi, walaupun segala yang baginda lakukan itu masih dalam tataran syariat, belum tentu segala sesuatu menggembirakan semua pihak, yang itu bisa jadi merupakan suatu kesalahan di mata orang lain yang menilainya. Oleh sebab itulah, Nabi Daud (as) memohon ampun kepada Allah atas perbuatannya yang telah melukai perasaan orang lain dan atas penggunaan wewenang atau hak pada dirinya yang ternyata tidak selalu menggembirakan semua orang.  Baginda (as) langsung memohon ampun dan itu menunjukkan kebesaran dirinya.

Ah Kekasihku, betapa cepat yang baik dan luarbiasa

Berubah jadi hasrat dan dosa dan menghadapi takdirnya,

Sebab berdosa itu melangar syariat Illahiyah-Mu,

Dan gagal hidup sesuai dengan tujuan-Mu.

Ah kekasihku, betapa cepat yang baik dan luarbiasa

Sang raja dan nabi Daud, sesuai yang semestinya,

Menyimak seruan-Mu untuk bertaubat dan dengan sepatah kata

Mengakui kesalahannya lalu mendengarkan dengan imannya

Betapa Engkau, tanpa suatu pengorbanan yang melebihi

Hati yang bertaubat, dalam kemurahan hati-Mu memberi

Menjamin pengampunan atas dosa-dosanya.

Ah Kekasihku, aku pun akan datang ke dalam

Rangkulan lengan-Mu demi mendamba kemurahan hati kuasa-Mu

Dari hari ke hari bahkan dari waktu ke waktu.

Singkat kata, dalam bagian cerita ini, The Beloved and I hendak menggambarkan akan kenyataan bahwa dalam pergumulan hidup manusia harus memilih. Nabi Daud (as) telah memilih untuk merealisasikan perasaan cintanya kepada Bathseba kendati hal itu dapat melukai perasaan Uriah melalui wewenang dan haknya sesuai tradisi pada masa itu. Batsheba telah memilih untuk menerima panggilan Nabi Daud (as) – yang kalau kita renungkan dan pikirkan kembali, perempuan mana pada masa itu yang tidak mau diperistri oleh seorang raja, seorang nabi dan seorang imam besar? Sementara itu, Uriah telah memilih untuk  mengejar cita-citanya, karirnya, daripada menunaikan kewajibannya sebagai seorang kekasih dan atau tunangannya terlebih dahulu (menikahinya).

Di dunia ini, kita banyak sekali menemukan hal-hal seperti ini terjadi.  Seorang laki-laki yang mabuk cinta akan seorang perempuan yang telah menjadi kekasih orang lain tetapi berusaha untuk mendapatkannya dengan cara-cara yang legal (apalagi yang tidak legal, tentu lebih banyak), seorang perempuan yang memilih menikah dengan laki-laki yang lebih mapan sekaligus lebih tegas dalam komitmennya daripada laki-laki yang tidak jelas akan komitmennya, dan laki-laki yang takut akan komitmen pernikahan tetapi justeru sibuk mengejar karirnya. Cinta lebih sering “tidak buta” daripada “buta”…Karena cinta bukan sekadar kata benda, tetapi juga kata kerja. Hanya saja, pastinya sangat sedikit yang seperti Nabi Daud (as) yang menyadari dengan segera betapa perasaan cinta yang cenderung possesif telah melukai hati baik Bathseba maupun Uriah. Dan, betapa masyarakat sekitar kemudian mengira sebab cinta itulah baginda (as) mengirim Uriah ke medan perang agar lekas gugur di tangah musuh. Kita juga belajar bahwa sering kali kita tergesa-gesa berprasangka buruk dalam mengambil keputusan atau berkesimpulan terhadap suatu peristiwa. Nabi Nathan (as) mengingatkan Nabi Daud (as) tentang pelajaran berharga ini. Hati manusia tak dapat ditebak. Pikiran manusia benar-benar bebas. Karena itu, kita belajar juga bahwa seorang pemimpin harus selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan, kendati keputusan tersebut telah memenuhi syariat atau hukum, tetapi belum tentu rakyat menerimanya dengan pandangan positif atau bersukacita dengan hal itu.

Wallahualam bissawab.

Comments are closed.