Berhala Bernama ‘aku’

AGAMA, IMAN, dan BERHALA.

Oleh Gayatri W. Muthari

Yunus, say one last thing about the power of words — Only the word “I” divides me from God. (Yunus Emre)

“Sa’di, if you destroy an idol, ~Then destroy the idol of the self.” (Sa’di)

Mukadimah

Kitab Enokh yang diakui Gereja Ethiopia

Sepanjang sejarah, para nabi tidak diutus untuk merekayasa dan menciptakan atau menginovasi sesuatu yang baru sama sekali. Tidak agama, tidak ilmu pengetahuan, tidak pula ajaran (filosofi/teologi). Semuanya telah ada, dan tersedia, dihamparkan oleh Tuhan di alam semesta bagi seluruh anak cucu Adam, hanya kebanyakan manusia lupa dan tidak ingat sama sekali sehingga perlu untuk mencarinya, mengkajinya, dan diingngatkan kembali. Kita memerlukan kearifan dan ketelitian untuk menemukan hakikat ini. Berhala ke-aku-an sudah ada sejak  ibu bapa kita Adam (as) dan Hawa (as) menghuni Taman Eden. Iblis adalah guru atau mursyid tarekat  ke-aku-an ini. Kejatuhannya ke dalam neraka atau  ke dalam  lembah kutukan Illahi bukan karena dia mengingkari adanya Tuhan, sedangkan dia mengenal Tuhan. Kejatuhannya adalah karena ke-aku-an dalam dirinya, yang menolak kehendak Tuhan untuk menghormati manusia. Adam (as) dan Hawa (as) untuk sesaat terpikat oleh tarekat Iblis ini, dan dengan segera menyadari pula tipu daya sang mursyid palsu.

Tuhan Yang Maha Pemurah merahmati keinsafan Adam dan Hawa (as),  dan dalam masa yang sama memberikan kesempatan bagi Iblis menjadi mursyid bagi anak cucu Adam yang berkenan. Namun, pada saat yang sama juga, Tuhan Yang Maha Pengasih, berjanji untuk selalu mengirimkan petunjuk akan adanya Jalan untuk menghancurkan berhala-berhala ke-aku-an ini, yaitu dengan mengutus citra-citra sempurna-Nya untuk mengingatkan tentang  Jalan menuju Tuhan ini. Mereka diutus untuk mengabarkan akan tarekat yang sejati ini dan melalui dimensi syariat yang manakah yang mesti dilalui untuk sampai ke dimensi tarekat ini. Di samping melalui utusan-utusan-Nya, Tuhan juga  menjelaskan sendiri dalam ayat-ayat-Nya dari sejak dulu sampai sekarang, yang tercatat dalam kitab-kitab maupun pada firman-firman-Nya dalam alam raya. Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia, dan selalu membimbing manusia  bagaimana berjalan lurus menuju Dia.  Dari abad ke abad Tuhan menjaga dan mewariskan panduan ini kepada setiap umat dan setiap zaman sebagai suatu bentuk keadilan dan kasih sayang-Nya yang tiada bandingan.

1. Intisari Iman

Para darwis wanita di Assouria

Dalam perjalanan keimanan, dikenal adanya Empat Dimensi atau tingkatan yaitu: (1) Syariat, (2) Tarekat, (3) Hakikat, (4) Makrifat. Tahap pertama amatlah penting  karena merupakan syarat utama bagi seorang hamba supaya dapat melanjutkan perjalanan keimanan dan spiritualnya.   Tanpa syariat (law), seseorang tidak dapat sampai pada tarekat (path) yang benar. Dapat dikatakan, intisari iman terdapat dalam syariat pokok. Dengan kata lain, intisari iman merupakan rukun-rukun syariat yang paling fundamental dan mendasar.

1.A. Kata Kunci: “Pada mulanya”

Yesus dan Khrisna

Melampaui pembatasan agama, sekte, atau aliran keyakinan apa pun,  intisari iman seharusnya telah dapat merangkul semua orang dan akan selalu merangkul seluruh orang dari seluruh zaman. Nabi Isa (as) menegaskan kebenaran ini dalam sabdanya (Mat 19:8) “Ia berkata kepada mereka, “(nabi) Musa memberi izin kepadamu untuk menceraikan istrimu sehubungan dengan kekerasan hatimu, tetapi pada mulanya tidaklah demikian.” (MILT, 2008).  Dalam ayat ini beliau menegaskan kekalnya keabsahan “pada mulanya” dan adanya sifat yang dilaksanakan dengan bersyarat pada tradisi-tradisi berikutnya, yang kemudian kerap kali dan pada banyak tempat ia menjadi diperlukan karena mengerasnya hati umat manusia (McElwain, 2011).

Istilah “pada mulanya” merupakan suatu istilah yang berkenaan dengan kehidupan manusia yang menyejarah, yang terbatasi oleh ruang dan zaman. Pada beberapa pandangan filosofis, terdapat kecenderungan meletakkan syariat sebagai lapisan luar dalam lingkaran empat dimensi tersebut, sehingga sisi eksoteris yang berbeda-beda antara satu tradisi agama atau tradisi iman yang satu dengan yang lain dipandang sebagai suatu keniscayaan sejarah dan untuk itu, kesatuan yang dapat ditemukan adalah filosofi  yang sama satu sama lain.

Baba Mondi, seorang darwis Bektashi di Balkan

Penekanan “pada mulanya” menunjukkan adanya suatu ketetapan yang tetap kekal dan tidak berubah dalam keadaan yang menyejarah. Jadi di sini, kecenderungannya adalah meletakkan bahwa sisi eksoteris maupun sisi esoteris tidak ubahnya seperti dua sisi mata uang, dan sesuatu yang telah ditekankan dan disyariatkan pada mulanya tidak berubah sebagai syarat untuk tetap berada dalam tarekat, hakikat dan makrifat masing-masing sesuai sejauh mana seseorang telah mencapainya.

Pendek kata, karena syariat adalah syarat utama bagi tetap terpenuhinya dimensi-dimensi spiritual lainnya, maka ketetapan mengenai syariat pokok mestilah ajeg (tidak beruba-ubah) dalam kondisi yang menyejarah. Seseorang mungkin hanya memiliki dua dimensi, tiga dimensi, bahkan satu dimensi saja, tetapi tidak mungkin memiliki dimensi apapun tanpa dimensi syariat. Para nabi dan washinya dan para waliullah telah mencapai empat dimensi ini. Oleh karena itu, ada intisari yang terus-menerus dipertahankan dan dipelihara dan diwariskan oleh para nabi dan washinya dalam perjalanan spiritual yang menyejarah di dunia ini sebagai syarat untuk mencapai dimensi-dimensi lainnya yang dapat melampaui ruang dan zaman.

Musim Semi yang Selalu Kembali, Hutan Rathambore di India

Jika intisari iman ini (dalam bahasa lain adalah intisari syariat) berubah-ubah dan tidak ajeg, manusia akan mengalami kebingungan, seperti suatu warganegara yang bingung setiap kali ganti pemerintahan berganti pula ketetapannya. Ini sama seperti susunan atau hukum-hukum di alam semesta, misalnya sejak dua ribu tahun lalu terdapat apa yang sekarang disebut gaya gravitasi, matahari beredar pada porosnya, sebuah komet melintasi tatasurya sehingga akan terlihat di bumi 76 tahun sekali, musim yang ajeg silih berganti, atau hukum bernafas di laut berbeda dengan hukum bernafas di darat, dst. Jelaslah, bahwa dasar ketetapan itu tidak ada yang berubah sejak duaribu tahun lalu hingga hari ini.

Di samping itu, ketetapan yang ajeg ini merupakan ukuran atau kriteria penting dalam menentukan apakah seorang pembawa ajaran itu adalah orang yang mengajarkan kebenaran, atau justru sebaliknya. Karena itu kata “pada mulanya” merupakan kata kunci untuk menentukan sejauh mana dimensi pertama dan utama yaitu dimensi syariat telah terpenuhi.

Wahyu kepada nabi Adam (as) dapat ditemukan dalam berbagai kedudukan yang terpelihara dalam seluruh tradisi keagamaan di dunia. Dalam Taurat, ia disebut “pada mulanya” dan dalam bagian yang dibaca mingguan pada bagian awal kitab tersebut (Kitab Kejadian), kekalnya hukum ini diungkapkan dalam bentuk narasi yang cukup komprehensif dan memadai serta ringkas (Kitab Kejadian 1:1-6:8).

Candi Prambanan

Bagian ringkas ini merupakan hal yang bernilai bagi perenungan yang ajeg. Bahkan, seluruh syariat yang disampaikan kembali ke dalam kitab-kitab Suci berikutnya mesti dilihat sebagai penjelasan terhadap bagian ini, selalu ditafsirkan dalam cahaya wahyu yang turun kepada Adam (as), pada mulanya, fondasinya, dan prinsip-prinsip yang pertama (McElwain, 2011).  Jika kita mau mengkaji secara mendalam di seluruh tradisi keagamaan serta isi kitab suci masing-masing, maka kita akan menemukan intisari iman ini, dan tidak terkecuali dalam AlQur’an juga.

Al-Qur’an sendiri telah menyebut beberapa ayat mengenai Al-Furqan, atau Criterion, yaitu pokok-pokok  ajaran untuk membedakan suatu ajaran sebagai benar atau salah. Dalam hal ini, pertanyaannya adalah: “Apakah mungkin kita mengetahui kebenaran Islam dan AlQur’an selain mengetahuinya dari AlQur’an dan Hadist sendiri?” Pertanyaan berikutnya adalah, kalau kita bisa mengetahui bahwa AlQur’an dan Islam benar dari sumber-sumber di luar Islam, bagaimana kita bisa menerimanya kalau sejak semula kita sudah meragukan dan tidak menerimanya sebagai suatu sumber yang berkata benar? Maka ini juga berlaku dengan tradisi-tradisi keagamaan lain. Saya mengambil contoh Al-Qur’an karena saya (penulis) adalah seorang Muslim yang mengakui dan menerima Al-Qur’an.

Nabi Isa (as) dan Buddha Sakyamuni

Al-Qur’an surah al-Baqara (51-53), Ali Imran (2-3). Araf (144-145), dan Al-Anbiya (48-50) menyatakan tentang Nabi Musa (as) yang telah dianugrahi  wahyu Illahi dan perjanjian di hadapan umatnya dan Al-Furqan (1) mengenai wahyu Illahi yang turun kepada hamba-Nya yakni petunjuk untuk mengetahui hal mana yang benar dan yang mana salah. Kita tahu bahwa para nabi sejak Adam (as) hingga Muhammad (saw) tidak diturunkan untuk membentuk suatu agama baru yang berbeda dari kakek moyangnya, melainkan masing-masing saling mengukuhkan kebenaran ajaran sebelumnya dan mereka diutus untuk mengingatkan kembali umat manusia kepada Tuhan, kepada jalan yang Benar. Oleh karena itu, walau pun diutus pada zaman dan umat yang berbeda-beda satu sama lain, pengokohan satu sama lain terhadap ajaran yang pokok adalah suatu keniscayaan. Karena itu, ajaran pokok ini terangkum dalam intisari iman sebagai suatu prinsip mendasar yang terus-menerus diulang dari satu nabi kepada nabi berikutnya, di antaranya dilakukan karena kealpaan manusia dari waktu ke waktu.

Beberapa dari prinsip mendasar yang diungkapkan di dalamnya adalah sebagai berikut (McElwain 2011):

  1. Tuhan Sang Pencipta adalah berdaulat (atau berkuasa penuh) atas segala ciptaan-Nya, dan manusia sebagai makhluk ciptaan mesti hidup dalam ketaatan kepada-Nya, Dia (Yang Maha Esa) adalah satu-satunya yang berhak menentukan yang benar dan yang salah (Kejadian 1:1,26; 2:16,17).
  2. Kemahakuasaan Tuhan menunjukkan definisi diri, supaya umat manusia, diciptakan untuk mengartikan dan menamai, memiliki kewajiban untuk mempelajari dan menamakan segala ciptaan, untuk menahan diri [atau menjauhkan diri] dari menetapkan suatu definisi tentang Tuhan melampaui ungkapan-ungkapan wahyu itu sendiri. (Kejadian.2:19,20).
  3. Tugas utama manusia dalam menyembah dan mengenal Sang Pencipta adalah menyebut nama-Nya, yang ditentukan sebagai Yehuwa (YHWH) kemudian Ælohim, yang kemudian ini merupakan kata yang seasal dengan kata Arab Allahumma  (Kejadian.2:4; 3:8-9; 4:26).
  4. Keberadaan manusia terdiri oleh enam hari kerja untuk memperoleh sesuap nasi, dan satu hari istirahat, hari ketujuh yakni Sabbath [sabbath artinya hari ketujuh]. Waktu jeda istirahat kerja ini merupakan intisari pembatasan sosial bagi yang berkuasa atas bawahannya. (Kejadian.2:1-3; 2:8,15). Senarai bawahan yang termasuk memperoleh pembebasan atau cuti dibatasi kepada anak-anak (anak laki-laki maupun anak perempuan), pekerja laki-laki maupun perempuan, tetamu, dan binatang domestik [seperti keledai dan kuda] (Keluaran.20:10).
  5. Menghormati orangtua [ayah dan ibu] merupakan hal yang mutlak. Orangtua tidak perlu memperoleh penghormatan dasar anak-anak mereka. Namun, ini merupakan hak alamiah (fitrah) mereka, sebagaimana halnya wewenang mereka terhadap anak-anak mereka mempunyai batasan-batasan alamiah sebagaimana yang diungkapkan dalam persoalan sebelum ini. Hal ini tidak pernah boleh ditafsirkan sebagai membenarkan kekerasan orangtua terhadap anak, dan ukuran-ukuran yang dibutuhkan untuk memperbaiki dan menjauhkan penyalahgunaan ada pada ungkapan itu sendiri mengenai penghormatan yang sepatutnya terhadap orangtua (Kejadian.1:28; 3:16).
  6. Manusia tidak memiliki hak untuk mengambil nyawa sesama manusia (Kejadian 4.10).
  7. Manusia tidak mempunyai hak dalam melakukan aktivitas seksual secara sembarangan, melainkan untuk menghormati secara mutlak kesucian hubungan pernikahan (Kejadian 2:22-25).
  8. Tidak seorang pun berhak untuk melanggar hak-hak kepemilikan atau kekayaan pribadi orang lain, atau mengambil keuntungan pribadinya dalam aset-aset yang dipunyai masyarakat secara keseluruhan (Kejadian 2:15).
  9. Setiap orang berhak untuk mengharapkan bahwa tidak ada laporan palsu (atau dusta) yang muncul menentang dirinya, sebagai mana halnya juga suatu kewajiban untuk tidak sekali-kali terlibat dalam menyebarluaskan suatu kebohongan (Kejadian 3:12-13).
  10. Setiap orang berhak atas sarana dalam memenuhi nafkahnya dan keberadaannya tanpa rasa takut bahwa yang lain akan mencabut haknya atas rumahnya, mencabut haknya atas pernikahannya, berhak dalam mempekerjakan pegawai demi keuntungan, sarana dalam produksi dan transportasi dan segala sesuatu yang merupakan kebutuhannya. Dengan hak yang sama ini, maka setiap orang memiliki kewajiban dalam menghindari dari mencoba merebut kepemilikan satu sama lain. (Kejadian 4:15).

Sholat di Kairo, 1865

Dengan demikian, Dekalog (Sepuluh Perintah Tuhan) dalam Keluaran 20:1-17 mengikhtisarkan sifat pokok dalam hukum Illahi yang fundamental dan universal. Prinsip-prinsip dasar keadilan tersebut menjadi fondasi spesifik dalam perjanjian (bai’at) bani Israil. Hukum ini, kendati spesifik terhadap bani Israil dalam bentuknya yang dicatat pada batu, ia juga dicatat ke dalam hati manusia dalam tiap-tiap perjanjian baru. Yang demikian, bahwa prinsip-prinsip tersebut merupakan pokok-pokok logis yang tak dapat dinafikan (Yeremia 31:31-34).

Kaca Patri berlukiskan Yesus & Maria di suatu gereja

Poin menarik mengenai “hukum hari Sabbath”, istri tidak termasuk dalam catatan sebagai dia yang diberi libur, oleh karena itu “pada mulanya” istri memang bukanlah sub-ordinat atau bawahan dari seorang laki-laki atau suami. Dan, dengan melihat ketentuan intisari syariat berikutnya,  yaitu menghormati ayah dan ibu, maka sejak mula laki-laki maupun perempuan memiliki kedudukan setara. Al-Qur’an sendiri tidak pernah sekalipun bertentangan dengan intisari syariat mengenai Sabbath. Ada sejumlah ayat mengenai hukum Sabbath yang  di antaranya terdapat cerita pelanggaran Sabbath yang mendapat murka serta kutuk dari Tuhan. (QS. 2: 65,66; QS 4: 47-58, dan 154; QS 7: 163; QS. 16: 124). Tentu, pada prakteknya, umat Islam tidak menjalankan Sabbath sebagaimana umat Yahudi, tetapi pada intinya bukan kepada detail syariat yang dipenuhi oleh umat Yahudi dalam menjalankan Sabbath, melainkan kepada substansi hari ketujuh sebagai hari untuk berlibur dari pekerjaan duniawi dan meliburkan para bawahan atau pegawai, yang dalam dunia modern saat ini digantikan kepada hari Minggu atau hari Ahad, atau hari pertama dari sudut bahasa dan hari ketujuh menurut Gereja Katholik Roma. Justeru, dengan menerapkan Hari Jum’at sebagai hari setengah hari dan hari Sabtu adalah hari libur sesudah sholat Jum’at berjamaah,  kita akan semakin melihat bahwa intisari iman ini senantiasa berlaku ajeg.

Misalnya, dalam al-Qur’an surah Al-Jum’ah atau 62:9. Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. 62:10. Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. 62:11. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).  Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.

Perayaan Alevi-Bektashi di Istanbul

Sedikit, kalau tidak bisa dikatakan banyak, dari sekelompok umat Islam memiliki tradisi-tradisi khusus menghormati hari Jum’at maupun hari Sabtu. Misalnya para darwis Bektashi tertentu tidak memakan ikan pada hari Sabtu dan tidak berhubungan seks pada hari Sabtu. Pada waktu remaja saya mendengar anjuran untuk tidak berpuasa sunnah pada hari Sabtu dari ustazah saya seorang Sunni. Secara luas di kalangan darwis Bektashi dari berbagai alirannya, memotong kuku, mengadakan upacara pemakaman dan pernikahan juga dihindari pada hari Sabtu, yaitu menghindari hal-hal yang tidak ingin terulang kembali. Sebaliknya hal-hal yang ingin terus berulang lazim dilakukan pada hari Sabtu: Baik malam Jum’at maupun malam Sabtu dihiasi dengan banyak-banyak membaca al-Qur’an, doa dan berzikir, dan segalanya diawali pada malam Jum’at dengan mandi wajib bahkan mandi kembang, sesuatu yang lazim dianjurkan di kalangan umat Syi’ah maupun tradisi-tradisi sufi lainnya. Ada sebuah riwayat yang menceritakan nabi Muhammad melakukan shalat Dhuha hanya pada hari Sabtu pagi, tidak pada hari-hari lain. Kaum Sunni memandang shalat Dhuha adalah shalat sunnah, sedangkan kaum Syi’ah menganggap tidak ada ketentuan sunnah shalat pagi atau shalat dhuha. Kesahihan riwayat ini mungkin bisa dipertanyakan, tetapi benar atau tidaknya tidak mengubah makna kekudusan Jum’at (Tuhan menciptakan alam dalam enam hari, hari keenam selesai) maupun Sabbath sejak dulu sampai sekarang.

1.B. Kepemimpinan Illahiyah

Yesus dan Konfusius

Suatu tema pokok wahyu setelah (hal-hal) yang awal itu, juga ditegaskan oleh Kitab Kejadian adalah: tema mengenai penunjukan atau pengangkatan Illahi. Pemimpin-pemimpin yang diangkat atau ditunjuk secara Illahiyah sebagaimana halnya para nabi menjelaskan wahyu sejak awal hingga akhir. Bunda Hawa (as) mengakui wahyu Illahi dalam Kejadian 3:3. dan mendengar suara Tuhan disebutkan lagi dalam Kejadian 3:8. dan beberapa kali berikutnya. Janji mengenai penerus kepemimpinan yang diangkat Tuhan demi mengalahkan kejahatan telah masyhur dalam Kejadian 3: 15, dan kendati penafsiran sektarian telah menyebabkan perselisihan dalam hal yang spesifik yang mana teks ini merujuk kepadanya, namun sudah barang tentu janji Tuhan telah digenapi sebagiannya dalam setiap satu (umat dan zaman) yang Tuhan kirim untuk memimpin manusia sesuai jalan Illahi. (McElwain, 2011).

Tidak sedikit para rasul besar didampingi oleh para washi’ , wali atau imam, yang mereka semua itu ditunjuk langsung oleh Tuhan. Kita mengetahui bahwa Tuhan sendiri-lah yang menunjukkan kepada Musa (as) bahwa washi’nya adalah Harun (as)  (Keluaran 7: 1) Demikian pula Yesus atau Isa (as) telah mengangkat Petrus  atau Simon (as) sebagai washi’ beliau (Markus 3: 16). Demikian juga dalam riwayat-riwayat mutawattir tentang pengangkatan Ali (as) sebagai washi’ Muhammad (saw) yang sesudah itu turun wahyu yang berbunyi “Akmaltu lakum dinakum,” – (Qs.Al-Maidah,5) yang artinya: “pada hari ini telah Ku-sempurnakan agamamu. “

Sajadah Umat Kristen Ortodoks Timur

Dari sini kita mengetahui bahwa sejak semula tidak ada suatu inovasi atau pembaharuan apapun dalam suatu Jalan menuju Tuhan yang dibentangkan oleh para nabi atau para utusan Illahi. Selama ini kita sibuk mempertentangkan atau mengklaim bahwa umat Nasrani mengimitasi ajaran Yahudi, dan selanjutnya umat Islam meniru ajaran Nasrani, yang satu meng-copy-paste ajaran atau kitab suci sebelumnya atau yang satu memperbaiki ajaran yang lain dst. Suatu bentuk ajaran yang begitu mirip, katakanlah kosher (diet atau pola makan halal) yang dianut umat Syi’ah mirip dengan umat Yahudi, cara sembahyang antara umat Islam dengan Katholik Ortodoks yang mirip, atau mengajikan Qur’an dengan menyenandungkan Mazmur dalam bahasa Ibrani yang mirip, dst dianggap sebagai suatu peniruan satu kepada yang lain atau bahwa pendiri ajaran baru ini tidak lain adalah penganut agama sebelumnya sehingga agama yang dipandang benar adalah agama yang paling terlihat berbeda daripada yang sebelumnya  atau agama yang baru dst. Padahal, dalam ke-bahasa-an saja misalnya, kita mengetahui, semakin dekat suatu bahasa dengan bahasa yang lain menunjukkan kesatuan rumpun dan asal-muasal induk bahasa yang sama. Terlebih lagi dalam hal keagamaan yang sudah pasti ada tradisi yang kekal yang diturunkan dari nabi ke nabi berikutnya baik nabi-nabi yang terkait secara biologis langsung maupun jauh secara biologis namun dekat secara spiritual.  Akibatnya, satu sama lain saling mengklaim kebenaran dirinya dari sumber-sumber yang terdapat dari dalam dirinya sendiri, sementara saat hendak mengklaim bahwa sumber-sumber lain juga mengatakan kebenaran dirinya, ia justru menjadi hipokrit, karena sejak semula metodenya adalah meragukan sumber-sumber di luar dirinya sendiri.  Kita akan melihat mengapa hal ini bisa terjadi pada mulanya.

1.C.  Kurban dan Liturgi (Tata Cara Ibadah)

Gambar Tua Ka'bah Tempo Dulu

Banyak tradisi kepercayaan (atau agama) menetapkan kurban dan berkurban disebutkan dalam Kejadian 4: 3-5. Alkitab tidak menyatakan perintah dari Tuhan untuk melakukan kurban, atau bahkan menunjukkan secara tidak langsung tentang hal itu, tetapi ayat tersebut menunjukkan bahwa Tuhan menerima kerelaan manusia untuk memberikan kurban bagi-Nya. Pada saat yang sama, kurban tidak mengubah penilaian Tuhan mengenai dosa. Perundangan berikutnya akan membatasi berkembangnya praktek-praktek berkurban, melarang mengurbankan manusia, dan mengambil alih kepada institusi sebagai perangkat pendidikan. Sementara itu amalan-amalan kurban telah membentuk inti dari agama mula-mula yang manusiawi adanya, peribadatan kepada Tuhan, bertumpukan pada menyebutkan nama YHWH, pada mulanya, adalah dijalankan dengan nama Tuhan dan mengharap ridha dari-Nya. (Kejadian 3:8, 5:22, 6:9). [McElwain, 2011].

Habil (Abel) dan Kabil (Cain) - kini menjadi tamsil yang abadi.

Tradisi berkurban yang kelak kemudian melahirkan tradisi-tradisi keagamaan yang berbeda satu sama lain dapat dilacak sejauh Habil dan Kabil (Cain) dalam Alkitab. Oppenheimer dalam bukunya “The Eden in the East” memberikan gambaran tentang mitos-mitos yang berkembang di wilayah pedalaman-pedalaman Papua dan kepulauan Austrolenesia mengenai kisah serupa dengan  perseteruan Habil dan Kabil dalam Alkitab, kendati suku-suku di pedalaman tersebut belum pernah mendengar kandungan Alkitab.

Kisah Kabil (Cain) dan Habil dalam kasus “kurban” memberi hikmah kepada beberapa hal sebagai berikut:

(1) Manusia sendirilah yang pada mulanya menginginkan melakukan persembahan kepada Tuhan sebagai naluri atau fitrahnya sebagai makhluk yang hendak bersyukur kepada Sang Penciptanya.

(2) Persembahan yang paling ikhlas dan menunjukkan ketundukan yang dalam kepada Tuhan itu yang diterima (yang mengharapkan keridhaan Tuhan saja), bukan besar atau banyaknya atau bagusnya.

(3) Sifat iri hati manusia telah ada sejak masa awal bani Adam, yang merasa ketetapannya dalam memberi persembahan kepada Allah adalah yang terbaik, inilah berhala “aku” pertama yang diciptakan manusia setelah sampai di dunia atau setelah keluar dari Taman Eden.

(4) Kabil ingin menunjukkan juga kepada Tuhan bahwa ia lebih kuat daripada saudaranya, dan dia lebih patut dipilih oleh Tuhan dalam segala hal apapun. Oleh karena itu, dia membunuh Habil untuk membuktikan hal ini.

(5) Habil tidak melawan saat akan dibunuh karena sepenuhnya meyakini Tuhan sajalah yang berhak mencabut nyawa manusia [larangan mengambil nyawa manusia]. Karena itu, pada kemudian hari turun wahyu Illahi bahwa melakukan kekerasan di kemudian hari dibenarkan dalam rangka mempertahankan diri atau melindungi nyawa lain yang berada dalam penindasan.

(6) Sejak peristiwa Habil dan Kabil inilah manusia mulai berlomba-lomba memberikan persembahan kepada Tuhan menurut liturgi, tatacara, atau ritual masing-masing dan di antara mereka ada yang menganggap apa yang dikerjakannya adalah yang paling benar dibandingkan saudara-saudara lainnya.

Kurban anak kepada tuhan sesembahan bangsa Kanaan

Seseorang membunuh saudaranya kadang-kadang tampaknya seperti solusi yang terbaik dari sudut pandang manusia. Tampaknya  tidak masuk akal ketika Anda berpikir tentang itu,  tetapi itulah alasan di balik  setiap perang serta kejahatan, dan bahkan setiap gereja (baca: institusi agama) yang mapan menerima atau menyetujui perang atas nama agama baik di masa lalu maupun di masa kini.
Iman  Kabil,  menurut Kitab Kejadian 4,  adalah sumber dari banyak hal baik di dunia, seluruh konfigurasi  peradaban, pertanian, industri, bahkan peternakan, seni dan musik.  Dengan semua kemajuan peradaban itu, yang sekilas menunjukkan kemajuan umat manusia, meskipun demikian tetap tidak dapat mencegah kekerasan,  sebagaimana pengalaman sejarah telah menunjukkannya pada   Lamekh.  Bahkan,  Lamekh bangga dengan kekerasannya.  Dia menarik perhatian bagi  perlindungan dari Tuhan [atas pengampunan Tuhan kepada Kabil] dari mereka yang  hendak membalas dendam pada dirinya dalam perihal bualannya.  Jika  hukuman  pada orang yang membunuh Kabil karena pembunuhan saudaranya adalah tujuh kali lipat,  hukuman untuk Lamekh menjadi sebelas kali lebih besar. Begitulah keadilan di dunia ini menurut cara pandang iman Cainish, dan semua agama yang mapan adalah Cainish [atau dalam bahasa saya adalah Kabiliyah].  Ianya mengizinkan kekerasan pada tingkat elit [jenderal, raja, dll] dan membatasinya  atau mengharamkan kekerasan pada tingkat orang-orang miskin dan  putus asa. Ini semua didasarkan pada penemuan  Kabil:  pengorbanan manusia [baca: mempersembahkan kurban berwujud manusia kepada Tuhan].
Selama masa bani Israel, menyembah atau memuja dewa Molokh di Kanaan itu  merupakan liturgi yang termasuk pemanasan  patung  logam berongga  dengan lidah api  di bawahnya dan kemudian  memberi kurban anak-anak   dengan menempatkan mereka pada lengan berhala yang merah lagi menyala itu.  Bahkan beberapa raja di Israel berpartisipasi di dalam ibadah kurban ini. Ibadah kepada Baal meliputi adanya upacara kurban manusia.  Para nabi  selalu konsisten berkhotbah melawan  sistem  ibadah tersebut, tetapi  selalu ada orang-orang yang bersikeras menentang para nabi [yang mendukung segala bentuk tidak kekerasan, termasuk terutamanya kurban manusia] dan  terlibat  di dalamnya. Bagi mereka, Kesuburan  agama  itu perlu untuk menjaga jumlah umat mereka (baca: supaya tetap banyak pengikut mereka).  Jadi, mereka terus berpartisipasi dalam ritual seks dan pengurbanan manusia. (McElwain, 2011).

Skema Umum Cabang-cabang Umat Ibrahimiyah

Nabi Ibrahim (as) misalnya dihadapkan pada situasi dan zaman yang menuntut suatu agama yang benar adalah adanya suatu kurban manusia. Allah hendak memperingatkan manusia tentang kesalahan ini. Baik dalam tradisi di mana Ismail maupun di mana Ishak berada, Allah mengutus Ibrahim untuk menunjukkan kesesatan sistem berkurban ini. Oleh karena itu, baik dalam Alkitab maupun AlQur’an terdapat dua versi yang berbeda mengenai siapa yang dikurbankan.  Jika kita mau tidak bertikai meributkan detail historisnya, melainkan kepada makna dan maksud dari peristiwa ini, maka akan kita temukan bahwa baik dalam masyarakat dan zaman tempat Ishak (as) maupun tempat Ismail (as) berada, Ibrahim dan anak-anaknya alahissalam dibimbing oleh Tuhan untuk menunjukkan kesesatan pengurbanan manusia ini.

Lembu Emas Samiri

Semua agama yang menyebabkan seseorang diizinkan untuk membunuh seorang manusia atau seorang anak sebagai pilar kepercayaan mereka hanyalah perpanjangan dari iman Kabil. Mereka mungkin membungkus iman busuk ini dalam kata-kata yang manis lagi indah (begitu pula orang-orang Kanaan) di bawah upacara yang hikmat dan menawan, dan dengan teologi yang amat filosofis. Namun, semua ini bermuara pada hal yang sama. Kabil mencari keselamatan dalam dosa, yang terbentang di pintu, dengan terlibat dalam pengurbanan manusia (dalam bentuk apapun ia pada  masa kini). Teks dalam Kitab Kejadian 4 menunjukkan bahwa Tuhan tidak menerima kurban semacam ini. Kecuali, Tuhan adalah Tuhan yang berubah-ubah.  Maka, pada hari ini pun Tuhan tidak menerima hal ini. Kanibalisme adalah ritual yang bisa dijumpai dalam banyak budaya, tetapi bahkan tanpa teks-teks tertulis Wahyu sekali pun, pikiran manusia tergelap dan batinnya yang mendalam mampu memahami bahwa adalah suatu kesalahan besar apabila memakan saudara sendiri. Namun  sayangnya, institusi agama dan institusi politik serta institusi ekonomi yang mapan berdiri di atas pilar-pilar iman Kabiliyah ini. Banyak orang melihat nubuat Yesus dalam  teks Kitab Kejadian 3:15. Saya (McElwain) cenderung mengambil refleksi dari dalam  teks-teks kitab Kejadian 4.  Menyusun dasar-dasar keimanan atas  pembunuhan saudara (baca: sesama manusia) secara sederhana sudah keliru besar.
Namun, teks-teks dalam kitab Kejadian 4  menyajikan alternatif ketiga,  yakni iman Seth.  Iman  yang sangat sederhana.  Iman Seth adalah iman  yang memohon atau menyeru nama YHWH (menyebut nama Allah) untuk memperoleh pertolongan (yang sejati). [McElwain, 2011].

lukisan Isra' Mi'raj

Ayat-ayat AlQur’an banyak yang menegaskan tentang hal ini, di mana kekerasan hanya dibenarkan sebagai suatu bentuk pertahanan diri, suatu sikap defensif bukan suatu sikap menyerang untuk memperluas empirium atau kekhalifahan Islam, sebagaimana yang diduga dan menjadi fitnah kepada umat Islam. Selama 1400 tahun lebih umat Muhammad dikuasai oleh sejumlah elit yang mengambil bendera ajaran Muhammad di atas pilar-pilar iman Kabiliyah ini. Ini tidak jauh berbeda dari umat-umat lain, apakah itu umat Musa yang mencatut logo bintang Daud sebagai romantika kerajaan digdaya di masa lalu untuk membenarkan  kezaliman demi sebuah negara bangsanya, atau umat Yesus yang berlindung di balik peristiwa salib yang memilukan demi mengumpulkan jemaat sebanyak-banyaknya di bawah gereja-gereja yang megah dan nyanyian-nyanyian yang mengharapkan berkat materi duniawi. Bahkan, umat-umat non-Semit tidak terkecuali, sepanjang “agama” apapun itu  kemudian dijadikan “agama-negara” dan membenarkan pembunuhan, kekerasan, serta pengucilan bagi siapa saja yang menentang agama negara yang dianut. Sebab pemberlakuan agama-negara meniscayakan suatu institusi agama yang mapan yang kekuatannya sebagai penguasa dapat diselewengkan sewaktu-waktu untuk tujuan keuntungan pribadi dan kelompok sendiri. Berhala “aku” menjelma  dalam berhala-berhala baru seperti berhala keselamatan, berhala negara, berhala bangsa, berhala uang, berhala kekuasaan, berhala harta benda, berhala kekuatan, dst. Pada akhirnya itu semua menjadi tujuan utama bagi setiap orang yang jatuh di dalam daya pikatnya dan bagi siapa saja yang mendukung serta mempromosikannya – baik secara sadar maupun tidak sadar.

Seluruh agama telah turun kepada umat manusia dari kepercayaan asal-mula ini (wahyu pertama kepada Adam, pada mulanya). Sejauh atau sepanjang tradisi-tradisi berikutnya mempertahankan hal-hal yang fundamental itulah, sejauh itu pula mereka telah berjalan pada jalan dan arah yang benar menuju Tuhan. Sejauh mana mereka berselisih atau bertentangan dengan hal-hal  yang mendasar itu, sejauh itu pula mereka tersesat (yang justru  semakin menjauh dari jalan menuju Tuhan). Sejauh mana mereka menambahkan yang fundamental itu, mereka melakukannya karena kekakuan serta mengerasnya hati umat manusia dalam hal mematuhi hal-hal yang mendasar sekali pun. Selama hati umat manusia keras lagi kaku membeku, sabda-sabda para nabi berikutnya dan para pembimbing Illahi berikutnya akan terus diperlukan. (McElwain, 2011).

2. Sedikit tentang Hikmah Tarekat para Nabi

Kisah Nuh (as) mengandung beberapa hikmah sbb: (1) Allah memberikan ketetapan kepada umat nabi Nuh jikalau mau selamat agar masuk ke dalam bahtera Nuh. Ini bukan sekedar suatu kisah literal yang materialis, tetapi juga suatu metafora atau tamsil bahwa Allah-lah yang paling berhak dalam menentukan urusan bentuk atau jalan apa yang bisa menjadikan umat di zaman Nuh (as) selamat atau diridhai Allah swt.  (2) Tetapi, apa yang terjadi? Selama ratusan atau bahkan dalam berbagai versi, ribuan tahun, Nuh (as) berdakwah, hanya tujuh orang yang menganggapnya orang yang benar. Bahtera Nuh dianggap suatu ide gila, dan banjir yang bisa jadi merupakan metafora atau tamsil bagi generasi berikutnya sebagai “bencana iman dan musuh-musuh iman yang sejati” merupakan sesuatu yang tidak masuk akal. (3) Ketika Nuh ditetapkan untuk mengumpulkan berpasangan-pasangan sejumlah hewan pun, akal kita saat ini kemudian bermain-main di ranah ”mengapa hanya sepasang? Hewan apa saja? Mengapa hanya hewan-hewan itu?” yang seakan-akan mempertanyakan ketetapan Tuhan YME. (4) Oleh karena itu, umat mayoritas belum tentu selalu benar, karena bahtera nabi Nuh saja hanya diisi sedikit orang dalam sekian ratus atau sekian ribu tahun dakwahnya. Bahkan satu istri lain  nabi Nuh dan anak  nabi Nuh yang lain ada yang tidak termasuk di dalam bahteranya!

Hajar dan Ismail

Kisah Ibrahim as memberikan begitu banyak hikmah bagi kita tapi hanya sebagian yang bisa saya sampaikan di sini karena keterbatasan tempat, yaitu sbb: (1) Ibrahim as adalah nabi yang mula-mula melakukan teologi atau filsafat dengan merasionalisasi secara logika tuhan-tuhan yang disembah umat atau bangsanya itu adalah pada hakikatnya Dia YME itu atau sesuatu ilusi atau maya  semata.  (2) Ibrahim (as) melakukan taqiyah saat berhadapan dengan raja Mesir yang menyukai Sarah demi menyelamatkan Sarah. Beliau-lah orang yang mula-mula melakukan taqiyah yakni menyembunyikan imannya dan menutupi kebenaran bahwa Sarah adalah istrinya sebagai suatu jalan yang dibenarkan Tuhan dalam keadaan-keadaan yang dapat membahayakan nyawa orang lain. (3) Allah telah menjanjikan kepada Ibrahim dan Sarah akan berputra. Akan tetapi, Sarah mulai meragukan janji Tuhan dan akhirnya dengan keputusan sendirinya-lah meminta Ibrahim agar memperistri Hajar. Lagi-lagi setelah kisah Nuh di mana para manusia saat itu menganggap ”aku” sudah berlogika benar, dan Kabil yang menganggap ”aku” sudah melakukan hal yang benar, kini Sarah memberi contoh bahwa ujian keimanan juga dihadapi seorang ummul mukminin. (4) Janji Allah kepada Ibrahim (as) kini telah digenapi-Nya. Keturunan ahlulbayt Ibrahim (as) kini telah berada di seluruh muka bumi. Jika ada sisa DNA yang dapat diambil dari jenazah atau bekas benda-benda nabi Ibrahim (as) bukan tidak mungkin kita akan menemukan bahwa sebagian besar penduduk bumi saat ini adalah keturunan beliau baik dari Sarah, Hajar maupun Keturah.

Kisah Musa (as) mengandung di antara banyaknya  hikmah ada satu hikmah yang sangat istimewa. Yang menarik, nabi Musa (as) merupakan nama nabi yang lebih banyak disebut dalam Al-Qur’an dibandingkan nabi-nabi lainnya. Kisah Samiri yang tertuang baik dalam Taurat maupun al-Qur’an memberikan hikmah luarbiasa bagaimana bani Israil yang diberikan begitu banyak cobaan dan Tuhan selalu mengabulkan doa serta permohonan mereka supaya dibantu dan diberkati. Tetapi apa yang terjadi? Begitu Allah menetapkan bahwa Musa mesti pergi ke Gunung Sinai dan sebagai pengganti kepemimpinannya atau keimamannya adalah nabi Harun (as). Namun, sebagian kelompok dalam umat nabi Musa (as) menganggap keputusan tersebut berbau nepotisme karena putra dari bani mereka tidak  mendapat kedudukan yang pantas. Maka, diprovokasi dan dipimpin oleh Samiri; mereka mengacuhkan keimaman Harun (as), membuat patung lembu yang bisa bersuara dan memujanya. Melalui kata kunci pada mulanya, kita mengetahui bahwa kepemimpinan atau keimaman yang berurusan dengan masalah-masalah Illahiyah telah ditetapkan oleh Allah swt, bukan atas dasar musyawarah mufakat, atau pemilihan umum (baca: demokrasi).

 Oleh karena itu, sepanjang sejarah Tuhan melalui al-Qur’an juga kitab-kitab suci lainnya telah menggambarkan bahwa seorang pemimpin Illahi sudah lazim tidak diikuti oleh umatnya, istrinya, saudaranya, keluarganya atau sahabatnya. Ada di antara mereka yang insyaf dan menyadari kekhilafannya, dan ada pula yang mewariskan ”sistem ke-Samiri-an” mereka sepanjang zaman. Dan, di dalam sistem ini, iman Kabiliyah dipelihara dan diwariskan jalin-menjalin mendarah-daging.

Dalam Al-Qur’an, Tuhan berfirman supaya para ahli kitab untuk merujuk dari dalam kitabnya sendiri untuk memperoleh kebenaran tentang ajaran-ajaran yang dibawa Nabi Muhammad (saw) dalam Al-Qur’an. Alkitab mengajarkan bahwa ketetapan Illahi atas kenabian dan keimamahan merupakan jiwa atau roh bagi tegaknya Wahyu mula-mula  itu. Sementara itu, dalam kitab-kitab suci non-Semit, kita menemukan nubuat-nubuat yang berkelindan dengan bahasa mitos dan legenda tentang para avatar, para buddha, atau para boddhisatva, yang bertugas membimbing umat manusia ke dalam keselamatan hakiki.

 Al-Qur’an surah Anfal (94-110) misalnya telah memperingatkan Nabi Muhammad bahwa Allah tidak memberitahu kepada Muhammad (saw) tentang siapa saja di antara orang Arab di sekitarnya adalah kaum munafik. Ini adalah suatu indikasi bahwa tidak semua sahabat beliau itu adil atau selalu berbuat dan bertindak benar. Untuk melindungi umat manusia dari kesesatan manusia-manusia biasa ini,  yang mungkin akan sentiasa ada sampai akhir masa, maka senantiasa dibutuhkan seorang pemimpin di antara seluruh umat yang dijaga dan dilindungi oleh Tuhan dari dosa dan selalu bersikap dan mencerminkan manifestasi sempurna Illahi. Sepanjang mereka tidak atau belum ada, maka  sepanjang masa itu merupakan kesempatan sekaligus ujian untuk mengharapkannya kembali. Agaknya suatu kebingungan jika dikatakan logika ini adalah suatu ciptaan Yahudi, Kristen, atau Islam, atau siapapun, melainkan ia merupakan Rahmat dan Kasih-sayang Tuhan bagi umat manusia pada tiap-tiap zaman. Bisa jadi mereka (para pemimpin itu) adalah para nabi, rasul atau para washi’ dari nabi-nabi itu. Dalam istilah Buddhisme, saya menemukan istilah tatagatha, yaitu adalah mereka yang bertindak benar, berkata benar, berpikir benar dan telah pergi serta mencapai keadaan yang benar (baca: maqam tertinggi manusia, Insan Kamil).

3. Menghancurkan Berhala

Sejarawan Kuntowijoyo menyatakan, manusia belajar sejarah, tetapi manusia tidak belajar dari sejarah. Begitu banyak dan berseraknya hikmah kehidupan manusia sejak nabi Adam (as) hingga sekarang yang tertuang dalam kitab-kitab suci maupun legenda-legenda. Banyak sekali yang kita tahu, tapi sedikit sekali yang mau mengambil pelajaran darinya. Berhala bahwa ”aku” yang memiliki wewenang juga selain Tuhan itu jelas suatu penyekutuan terhadap Tuhan YME.

Suatu pendapat yang sulit kami terima bahwa tumbuhnya agama-agama baru adalah meniru agama-agama sebelumnya atau sebalinkya tumbuhnya agama-agama baru karena kekeliruan agama-agama sebelumnya dan untuk meluruskannya kembali ialah dengan cara mengubah semua aturan atau prinsip fundamental wahyu pada mulanya dengan membentuk agama baru.

Yang pertama keliru, karena wahyu Illahi akan selalu terjaga dan akan selalu diwariskan dari zaman ke zaman ,namun lenyap di hati dan pikiran mereka yang bebal dan memberhalakan ”aku” di atas segala berhala lainnya dan di atas Tuhan dari segala-galanya. Untuk itula, untuk mereka yang bebal dan lupa itulah, Tuhan mengutus para nabi-Nya. Jadi, ini lagi-lagi bukan yang satu meniru atau mencomot dari satu kepada yang lainnya, melainkan Tuhan-lah yang menghendaki kekalnya pewarisan wahyu-Nya dari generasi ke generasi   sampai akhir zaman. Apabila dan sepanjang hati manusia masih mengeras lagi membatu, bimbingan Illahiyah masih terus diperlukan.

Umat Wanita Gereja Orthodox di Ethiopia

Yang kedua juga keliru, karena Tuhan tidak pernah mengutus para nabi manapun untuk membangun suatu institusi agama baru, melainkan semuanya menyerukan untuk kembali mengenal dan memuja Tuhan YME.  Dalam keadaan yang menyejarah, yang terlingkup ruang dan zaman, memang suatu keniscayaan tumbuh dan suburnya agama-agama di muka bumi, sebagai suatu kehendak Tuhan juga. Akan tetapi, Tuhan juga berkehendak seluruh umat beriman bersatu, dan mengenal satu jalan yang lurus dan benar menuju Diri-Nya, betapa pun kendaraan yang digunakan berbeda-beda. Di samping itu, Tuhan melalui firman-firman-Nya dan nabi-nabi-Nya serta wali-wali-Nya, mengingatkan tentang adanya tarekat-tarekat di mana  Iblis merupakan mursyid yang sesungguhnya, di mana tarekat-tarekat ini justru menawarkan janji-janji manis berkat duniawi dan rahmat surgawi. Untuk mengenalinya, tidaklah sulit dan tidak pula memerlukan filsafat yang rumit atau teologi yang canggih.

Al-Qur’an turun bagi menerangi dan menegaskan kembali intisari iman dalam wahyu-wahyu sebelumnya (Injil, Zabur, Taurat, dll). Yang dimaksud “jalan hidup” atau “agama” dalam alQur’an bukan suatu institusi agama baru yang ditemukan dan diinovasi oleh Muhammad (saw).  Kata yang seakar dan berarti sama dengan “Islam” telah ada dalam banyak kitab suci dari Alkitab, sampai kepada Bhagavad gita maupun Dhammapada dan bahkan Tao Te Ching, dll.  Jalan hidup yang dimaksud adalah berserah sepenuhnya kepada Tuhan,  kepada Yang Sejati, yang mengikuti wahyu “pada mulanya”, melalui dimensi tarekat yang memehuhi syarat syariat “pada mulanya” dan di dalam tarekat ini, menghancurkan seluruh berhala yang ada, terutama dan pertama-tama adalah berhala “aku”. Dimensi hakikat ini tidak akan pernah tercapai kecuali seluruh berhala ini berhasil dihancurkan.

Umat Muslimah di Indonesia solat

Para nabi, imam, dll  telah mencapai dimensi makrifat ketika mereka telah menghancurkan seluruh berhala ini, bersatu dengan Sang Sejati,  bahkan juga tidak menemukan realitas lain selain Tuhan itu saja yang nyata.   Tuhan adalah Realitas satu-satunya. “There is no I but God”. Karena itu, ketika mereka meninggal dunia, mereka dengan bahagia menyambutnya sebagai suatu pesta perjumpaan kembali dengan-Nya. Pada saat yang sama  para nabi  dan imam besar pasti akan mengingat umatnya dalam detik-detik akhir hidupnya, apakah umatnya dapat memelihara peninggalan tarekat mereka itu supaya dapat berkumpul kembali bersama dengan-Nya.  Mengapa demikian? Sebab, mereka yang dengan sepenuh hati mencintai Dia yang Sejati, maka mereka juga akan mencintai sesama manusia dengan sepenuh hati.  Manusia yang belum dapat mencintai Tuhan yang ‘tak terlihat’ dengan tulus, tidak mungkin akan dapat mencintai sesama manusia yang terlihat dengan tulus.  Manusia mesti mengenal Diri-Nya  dengan baik sebelum mengenal diri-diri yang lain dengan baik. Seluruh kitab suci dari tradisi kepercayaan atau agama mana pun secara tersirat maupun tersurat menjelaskan tentang hal ini.

Penutup

Esensi iman yang pertama hingga keempat adalah mempersembahkan diri secara utuh kepada Tuhan, sedangkan esensi iman kelima sampai ke sepuluh sesungguhnya merupakan pilar-pilar dasar bagi  prinsip etika sepanjang zaman dan tak terbatas oleh umat manusia tertentu yaitu suatu jawaban terhadap baik meta-etika maupun prinsip-prinsip moral universal:”What is goodness?” yang terangkum dalam enam poin ringkas yang dapat dijabarkan sejauh yang mungkin dapat dilakukan terhadap poin-poin tersebut. Namun, poin-poin kelima hingga kesepuluh tersebut, sebagai suatu an-sich prinsip-prinsip  moral-sosial secara universal, tidak akan secara maksimal juga optimal terlaksana tanpa melalui poin-poin pertama yang utama yaitu: memusnahkan berhala “aku” yang kerap sadar maupun tak sadar menyatakan “There is no God but I.” melainkan dengan teguh menemukan dan menyadari realitas hakiki: “There is no I but God.

Sumber-sumber:

Thomas McElwain, 2011. Holy Fratricide: From Cain to Christianity. (http://www.facebook.com/note.php?note_id=249209578427092)

Thomas McElwain, 2011. My Faith. (http://www.facebook.com/note.php?note_id=203388623009188)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s