Ya, Allah, jangan jadikan ku seperti Samiri dan pengikutnya…

JALAN YANG KUTEMPUH INI: YA ALLAH, JANGAN jadikan aku seperti SAMIRI DAN PENGIKUT SAMIRI!

~ Amin yra. Chen Chen, hamba-MU yang fakir ~

Jalan yang kutempuh ini, di atas Jembatan, bernama dunia. Nabi Isa as pernah bersabda jangan membangun sesuatu apa pun di atasnya, sebab kita hanyalah berjalan melewatinya, tugas kita adalah menjalani kehendak-Nya dan menjadi hamba-hamba-Nya bukan membangun suatu apapun di atasnya.

Sejak zaman nabi Musa as, Tuhan telah menetapkan sebuah “Criterion” atau “al-Furqan” atau panduan dasar bagi pembeda antara yang benar dan yang salah yang tidak akan lekang oleh zaman dan belum ada suatu dalil pun yang menegaskan bahwa ketetapan pertama ini telah dicabut  pada wahyu-wahyu berikutnya melainkan Allah terus-menerus memperingatkan atau memfirmankan demi mengingatkan manusia kembali akan “Criterion” ini. (Lihat alBaqara:51-53, Ali Imran: 2-3,  Araf: 144-145, al-Anbiya: 48-50, al-Furqan: 1)* Ini artinya suatu konsistensi Wahyu Illahi yang terwahyukan dan terekam dalam jejak peradaban manusia.

  1. Tuhan Maha Esa.
  2. Jangan menyekutukan Tuhan.
  3. Jangan sembarangan menyembah atau menyebut nama Tuhan.
  4. Mengingat hari ke-tujuh (Sabat/Sabtu) (Meliburkan para pekerja, berlibur kerja dari 6 hari kerja dan banyak beribadah pada hari libur ini)
  5. Menghormati orangtua
  6. Jangan membunuh
  7. Jangan berzina
  8. Jangan mencuri
  9. Jangan berdusta/memfitnah
  10. Jangan menginginkan hak dan kepunyaan orang lain

Kisah Samiri yang tertuang baik dalam Taurat maupun al-Qur’an memberikan hikmah luarbiasa bagaimana bani Israil yang diberikan begitu banyak cobaan dan Tuhan selalu mengabulkan doa serta permohonan mereka supaya dibantu dan diberkati. Tetapi apa yang terjadi? Begitu Allah menetapkan bahwa Musa mesti pergi ke Gunung Sinai dan sebagai pengganti kepemimpinannya atau keimamannya adalah nabi Harun as, sebagian kelompok dalam umat nabi Musa as menganggap keputusan tersebut berbau nepotisme karena putra dari bani mereka tidak  mendapat kedudukan yang pantas. Maka, diprovokasi dan dipimpin oleh Samiri yang disebut Musa as sebagai saudara (tapi sayang nya berkhianat), mereka mengacuhkan keimaman Harun as, membuat patung lembu yang bisa bersuara dan memujanya.

Sekarang mari kita lihat Qur’an surah Anfal (94-110) [lihat catatan kaki], bahwa apa yang terjadi pada zaman Musa as bukankah tidak mustahil tidak terjadi juga pada zaman Muhammad saw, karena Allah sendiri yang berfirman dan memperingatkan Rasulullah saw? Betapa banyak yang akan berpaling sepeninggal beliau, bahkan langsung saja terjadi ketika jenazah beliau belum dikafani. Astaghfirullahalaziim!

Tentu, menyekutukan Tuhan pada zaman umat Muhammad saw menjadi lebih canggih bukan lagi memuja berhala seperti lembu. Berhala yang bernama Kekuasaan dan Harta Benda. Menguasai sebanyak mungkin tanah, wilayah, bangsa-bangsa dan negara-negara. Belum lagi, dengan bangga justru mengklaim apa yang telah dibangunnya sebagai diberkati Allah swt (nauzubillahiminzalik!), berikutnya dengan bangga menganggap “membantai” musuh-musuhnya adalah jihad dan perbuatan mulia, memfitnah ke sana ke mari dan akhirnya merampas hak-hak orang lain (hak berbudaya dan bertradisi sesuai asal-muasal nenek-moyang mereka, bahkan hak menjalankan  ibadah sesuai keyakinannya sebagaimana Allah telah menjaminnya dalam alQur’an).

Roh memang penurut (kuat), tetapi daging itu lemah (mudah kalah), sabda nabi Isa as dalam Injil. Betapa sering kita merasa kita telah menjadi seorang beriman, menganggap agama yang kita anut paling sempurna dan paling benar, mazhab yang kita taati paling sesuai salafus-sholeh atau kita merasa sudah mengikuti teladan ahlulbayt dengan baik.  Lihat saja banyak orang berada di jalan mazhab cinta pun masih terperosok,  menjadi zalim lebih zalim daripada laknatnya kepada kaum zalim pada saat Ashura, apalagi yang bebal seperti para pengikut Samiri yang sedang tren saat ini: betapa mereka diagung-agungkan sebagai yang paling saleh, seolah mereka bersih seperti malaikat.  Astaghfirullah…Astaghfirullah…Astaghfirullah…Di kalangan bani Israil tidak sedikit yang alim mengaji Taurat dan Mazmur, tetapi sebagian mereka itu hatinya tetap keras membatu; di kalangan kaum Nasrani tidak sedikit yang alim mengaji Mazmur dan Injil, tetapi sebagian mereka itu hatinya tetap keras membatu, begitu pun mereka yang telah menerima kenabian Muhammad saw, tidak sedikit yang alim mengaji Qur’an  tetapi sebagian dari mereka ini justru hati mereka begitu dingin, begitu keras, dan begitu bebal. Naudzubillahi min zaliik.

Di tangan siapakah gerangan ketetapan itu berasal, dari Tuhan sajakah atau juga dari manusia?

Jalan yang kutempuh ini, bukan berdiri atas suatu bangunan di atas jembatan sementara ini, itulah agama yang lurus: agama Ibrahim adalah agamaku, agama Musa adalah agamaku,  agama Daud adalah agamaku, agama Yesus adalah agamaku, agama Muhammad adalah agamaku. Taurat, Zabur, Injil dan Qur’an  bahkan kitab-kitab Hindu menyebutnya agama yang tunduk dan damai dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan YME: Islam bahasa singkatnya. Bukan sekedar Islam suatu omongkosong, suatu bangunan, suatu masjid, suatu organisasi, atau suatu mushaf alQur’an, suatu pakaian berjubah berniqab dan berpendek di atas mata kaki, suatu suara azan, suatu ritual di mesjid-mesjid, atau suatu apapun yang sekedar materi! Melainkan sepenuhnya suatu jalan meliputi materi, esensi, substansi, dan yang lebih penting adalah yang berada dalam kalbu: ketundukan itu sendiri. Betapa hatiku, jiwaku, rohku dapat menggebu-gebu saat mendengar firman-Mu dan ingin segera menaati lagi menjalankannya, tetapi hawa-nafsuku seringkali menguasaiku – kekuasaan, uang, melihat orang-orang secara umum dan secara mayoritas tidak berada dan tidak mendukung dan tidak bersamaku di Jalan ini (padahal Engkau seringkali menegaskan di Jalan ini hanya sedikit sekali orang yang mau mengikuti) . Betapa keegoisanku, dan keinginan tetap meng-aku-kan segala sesuatu dst itu  akhirnya mengalahkan hatiku yang cenderung kepada-Mu dan segala ketetapan-Mu. Oh!

Ya, Allah jangan jadikan aku seperti Samiri, dan jangan jadikan aku seperti para pengikut Samiri, tatkala Muhammad saw telah tiada dari hadapan mataku bahkan aku belum pernah berjumpa dengannya, aku justru semena-mena kepada ketetapan-Mu yang disampaikan kepada sabda baginda saw.

Ya, Allah jadikanlah aku seperti pengikut nabi Nuh as yang tidak peduli cemoohan dan fitnahan mereka yang mengatakan ini tidak masuk akal, itu sesat, ini gila, itu bodoh, dsb sehingga pada saatnya bencana banjir itu tiba, aku telah berada dalam bahtera-Mu bersama mereka yang Engkau pilih : Duhai, sebab Engkau saja-lah penolongku dan melalui Engkau saja-lah kudapatkan pertolongan. Ridhoi dan bimbinglah aku masuk dan teguh memasuki bahtera-Mu.

Amiin ya rabbal alamiin

Curhat Sabda Kehidupan Juli 2011:

Sabda Nabi Isa alaihissalam:
“Berjaga-jagalah
dan berdoalah,
supaya kamu jangan jatuh
ke dalam pencobaan:
roh memang penurut,
tetapi daging lemah.”
(Matius 26: 41).

CATATAN KAKI:

The Criterion (al-Furqan)

In name of God Most Gracious, Merciful.

(51) Remember We appointed then
For Moses forty nights and men
Took for their worship golden calf
When he had left you not to laugh
In your transgression. (52) Even then
We forgave you to teach you when
You ought to give thanks, (53) and when We
Gave Moses Scripture and the great
Criterion (of love and hate
And right and wrong, the bright Furqan)
So you might be led to the dawn.
(Contemplation on Q.s AlBaqara: 51-53, The Beloved and I vol.5, p. 15)

(2) Allah! There is no god but He,
The Living, One Sustaining me,
(3) He’s sent down the Book with the truth
Confirming the revealed in youth,
And He sent down the Torah and
The Gospel as guidance to stand
Before for humankind, He sent
Also Criterion He meant.
Surely those who defy the signs
Or verses of Allah’s designs,
There’s a strict punishment for them,
Allah’s mighty, vengence in hem.
(Contemplation on Q.s Ali Imram: 2-3, The Beloved and I vol.5, p. 46)

He said “O Moses, I chose you
Above the people with My view
And My words, so take hold of it
As I give to you and be fit
Among the grateful ones with wit.”
We ordained for him tablets writ
With every kind of admonition
And clarifying words’ commision,
So take hold of them and be firm,
Advise your people not to squirm
Of of the best of it. I’ll show
Transgressors’ dwelling there below.
(Contemplation on Q.s Araf: 144-145, The Beloved and I vol.5, p. 126)

(48) In the past We granted to Moses
And Aaron the Criterion
For judgement that indeed discloses
A Light and Message that shines on
For those who would do right, (49) those who
Fear their Lord in their secret thought,
And hold the hour of judgement true
In awe. (50) This blessed message is taught
Which We’ve sent down, don’t set at naught.
(Contemplation Q.s Al-Anbiya: 48-50, The Beloved and I vol.5 p 230)

(1) Blessèd is He Who has sent down
Criterion to His servant,
An admonition without frown
To all creatures that are extant.
(Contemplation Al-Furqan, or The Criterion: 1, The Beloved and I vol.5 p. 256)

Contemplation on Surah (8) or Anfal  [the Spoils of War]: 94-110, The Beloved and I vol.5:

94. They’ll make excuses to you when
You come back to them from the fen,
So say “Don’t make excuses now,
We won’t believe you anyhow,
For God’s informed us of your state,
And God will view your actions’ rate,
And His apostle, then shall you
Be turned back to the Knower true
Of secret and the manifest,
And be informed that you invest
Your actions or not for the best.
95. They’ll swear to you by God, when you
Come back to them, that you in crew
Might turn aside from them. So turn
Aside from them. They are unclean
And their abode is hell unseen,
A right reward is what they glean.
Call none unclean, You said to Peter once,
When he slept on the roof and like a dunce
Saw unclean creatures soil the heavenly sheets.
He would not slay a porker for his treats.
But they are now unclean who try to claim
A share in heavenly kingdom to their blame,
Who have no witness in the heart and tongue
That You’ve sent down the grace on old and young
That is repentance for the sins once slung.
Let me not swear my loyalty to You,
But bow in the repentance that You do
Inspire in heart and hand, and so not be
Among the unclean who join hell with glee,
There to party in luck eternally.
96. They’ll swear to you so you’ll be pleased
With them, but if you’re pleased and sleezed,
God is not pleased with wicked folk,
No matter how they preen and poke.
97. The Arabs are firm in their doubt
And in hypocrisy they’re stout,
And more inclined not to regard
The limits God sent down to guard
To His apostle. God knows all,
And He is wise before their thrall.
98. The Arabs think that what they spend
In charity’s a fine in end,
And they hope for calamity
To fall on you. On them shall be
The force of the calamity.
And God hears all, knows what’s to be.
99. And of the Arabs there are those
Who believe in God and the glows
Of the last day and what they spend
In charity the deem an end
To approach God and the prayers of
The messenger sent down in love.
It shall be means of such approach
For them, and without false encroach.
For soon God shall open to them
His mercy like a precious gem,
God’s oft-forgiving and remains
All-merciful through all earth’s pains.
100. And the first and formost among
The Meccan immigrants unsung,
And the Madinan helpers rung,
And those who followed them in right,
God is well-pleased with them in sight,
And they are well-pleased with His light,
And He’s prepared gardens for them,
Beneath them flow rivers in stem,
There forever they shall abide,
This is achievement great and wide.
101. Of those Arabs around you there
Are hypocrites, and from the share
Of Madina also, and they
Are stubborn in hypocrites’ way.
You don’t know which of them are such,
But We know them and twice as much.
Twice will We punish them and then
They’ll be set in a grievous pen.
102. Others confess their faults, they mix
A good act with their evil tricks.
Maybe God will turn back to them,
God’s oft-forgiving, mercy’s gem.
103. Take their alms from their wealth and so
Clean and purify them to go,
And pray for them. Your prayer indeed
Is an assurance in their need.
God hears all and knows every deed.
104. Don’t they know that God is the One
Who accepts the repentance done
By His slaves and their charity
Of alms, and God is verily
He, the returning ever and
The most merciful in the land?
105. Say “Act as you will, but God sees
Your deeds and His Apostle’s keys,
And the believers. Then you will
Be brought back to the One to fill
All knowing of hidden and seen.
Then He’ll inform you what you’ve been
Doing both in and off the scene.
106. Others stand to wait God’s command
Whether He’ll punish them in band
Or whether He’ll repent and stand:
For them God knows wisdom at hand.
107. Those who built a mosque to cause harm
To the believers with alarm,
To cause unfaithfulness and more
Dissension on the faithful’s score,
And an ambush to him who’d war
Against God and His sent before,
And they’ll swear, “We just meant the good.”
God hears witness they’re liars in flood.
108. Never go there to stand and pray,
A mosque set on piety’s way
Deserves more that you go to pray
There, where men love to be cleansed well,
And God loves the purified swell.
109. Which is the better, one who lays
His foundation on fear that stays
In God and goodwill, or the man
Who lays his foundation on span
Of crumbling hollow bank, and so
It crumbled down with him in tow
Into the fire of hell not slow.
And God does not guide any folk
That is unjust under His yoke.
110. The building they make will continue
To be source of the bone and sinew
Of unrest in their hearts until
Their hearts are cut in pieces’ swill.
God knows and is wise to their pill.

Unduh GRATIS buku renungan al-Quran berima/Download for FREE the book: The Beloved and I: New Jubilees vol.5 (Contemplation  in rhymes of al-Qur’an) at http://www.lulu.com/ThomasMcElwain

Comments are closed.