Dapatkah kita memahami secara sempurna?

Oleh: Gayatri W. Muthari

Berawal dari sebuah pembahasan sederhana mengenai “Kemanakah kita pergi setelah mati?” kemudian kepada, “Apakah pemahaman tentang Kebenaran itu selalu bersifat subjektif, tidak bisa sepenuhnya objektif?” maka kita bisa bertanya “Dapatkah kita memahami secara sempurna?”

Para ibu (seperti saya) biasanya merasa paling mengetahui dan paling paham akan anaknya. Tapi, apakah pemahaman kami sebagai ibu sempurna adanya?

Sebagai manusia biasa yang diliputi oleh banyak dosa dan banyak salah, saya tidak bisa mengatakan bahwa saya sepenuhnya memahami sesuatu seperti “alam setelah kematian” dan juga sesuatu seperti “kehidupan sebelum saya lahir di dunia ini.” Pemahaman saya mengenai hal-hal ini bersifat spekulatif.  Dan, saya meyakini bahwa pemahaman orang-orang sebagai manusia biasa secara keseluruhan mengenai hal ini juga bersifat spekulatif, tidak peduli apakah dia seorang filsuf yang jenius ataukah dia seorang ulama yang warak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, spekulatif yang saya maksud adalah dalam definisi yang (1) dengan pemikiran dalam-dalam secara teori. Sedangkan teori, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti (1)  pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi; (2) penyelidikan eksperimental yang mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu pasti, logika, metodologi, argumentasi; (3) asas dan hukum umum yang menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan. 

Untuk membicarakan lebih lanjut, saya ingin mengutip terlebih dahulu pengalaman seorang sahabat yang saleh, ketika ia pergi menunaikan umrah. Dia mengakui bahwa sebelum berangkat dia merasa dirinya telah mengetahui segala sesuatu soal agama dan ilmunya sudah benar-benar cukup. Tetapi, begitu ia sampai di Tanah Suci, dia tiba-tiba menyadari dirinya tidak mengetahui apa-apa, ibarat sebuah gelas berisi air penuh, ternyata gelas itu sebenarnya kosong.

Seorang ulama yang warak mengimani dengan sepenuhnya ayat-ayat dalam AlQuran dan hadist, tetapi apa yang ia pahami belum tentu mencapai seratus persen mengenai apa tertulis dan terlebih lagi ketika apa yang ia pahami sampai kepada kita, apa yang sampai kepada kita juga belum tentu mencapai seratus persen sesuai pemahaman beliau. Misalnya sebagai berikut:

(sepatah ayat al-Qur’an) —> Ulama X (99%) —> saya (40% dari ulama X, bukan dari Ayat).

Menurut riwayat, Rasulullah (saw) berkata: “Sesungguhnya setiap ayat al-Qur’an memiliki sisi lahir dan sisi batin. Dan, dari setiap sisi batin ini memuat 70 sisi batin yang lain.”

Dalam riwayat bahkan disebut bahwa Al Quran mempunyai sisi batin 700 bahkan hingga 7000 sisi batin. Wallahu’alam. Hadist ini sendiri memerlukan  pemahaman atau penjelasan tentang apa itu sisi lahir dan sisi batin. Maka, ia bisa pula dipahami melalui riwayat Imam Muhammad al-Baqir (as) yang menjelaskan apa yang dimaksud dengan lahir dan batin dalam al-Quran, “(sisi) lahir al-Quran adalah tanzilnya, sedangkan (sisi) batinnya adalah takwil.” Namun, sejauh ini, tidak semua mazhab dalam Islam menerima takwil sebagai metode memahami al-Quran.

Suami-istri seumur hidup perkawinan mereka selalu berusaha untuk dapat menafsirkan satu sama lain dengan baik walaupun tidak pernah selalu sempurna.

Jikalau riwayat ini diterima, bahwa ayat-ayat dalam Al-Quran mengandung lapisan-lapisan makna, seperti juga ayat-ayat dalam kitab-kitab suci lainnya, maka bagaimana mungkin kita bisa bersikap arogan dan menyatakan bahwa pemahaman kita tidaklah spekulatif atau sepenuhnya benar atau sempurna? Agaknya, saya bersetuju dengan falsafah Paul Ricoeur bahwa filsafat adalah menafsirkan penafsiran, lebih jauh lagi sesungguhnya hidup kita ini adalah menafsirkan ucapan, pandangan maupun penafsiran orang lain, hatta dalam hal-hal sederhana sekali pun. Ketika ibu saya bilang, “saya ingin pergi ke pasar,” saya yang mendengarkan pun akan segera membenak, melakukan interpretasi, seperti, “ibu mau berbelanja barang-barang kebutuhan pokok.”

Jelas, keimanan atau mempercayai berbeda dengan pemahaman, keduanya merupakan dua bidang pembahasan yang berbeda. Mengapa hal ini saya angkat, sebab, pertama seorang bertanya kepada saya (1) jikalau hal-hal mengenai kehidupan setelah kematian adalah spekulatif apa gunanya kita bersusah payah bersembahyang, puasa dan ibadah lainnya kalau semua itu tidak pasti?;  yang lain bertanya (2) lalu, apakah sesuatu yang dianggap sebagai Kebenaran  hanya merupakan kumpulan kesimpulan dari “saya rasa,” atau “saya pikir” atau “bagi saya”, bukan sesuatu yang (benar-benar) objektif?

Saya mengambil contoh buah kesemek atau buah persik Melayu. Saya mempunyai seorang sahabat di dunia maya, dan dia sungguh-sungguh mempercayai saya sebagai orang yang jujur, walaupun dia berada di benua lain, dan kami tidak atau belum pernah bertemu muka sama sekali. Ketika saya memberitahu kepadanya tentang buah kesemek, di mana di negaranya buah itu tidak ada dan dia belum pernah melihat bahkan memakannya pun belum pernah, dia percaya kepada saya bahwa buah itu benar-benar ada dan segala deskripsi saya mengenai buah itu (rasanya, warnanya, bentuknya, dll) itu benar. Pada tahap ini, persis (walau tidak seratus persen persis) seperti ketika saya percaya bahwa Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad (salam salawat kepada mereka semua) itu benar-benar nyata dan benar-benar jujur walaupun saya belum pernah bertatap muka dengan mereka. Jika saya berkomunikasi dengan teman saya itu melalui facebook, twitter, dan e-mail, maka saya berkomunikasi dengan para nabi melalui membaca sabda-sabda mereka, berzikir, semah (mendengar ayat-ayat suci), membaca shalawat, bertawassul, dsb.

saya selalu ingin tahu bagaimana rasanya salju, saya sudah melihat gambarnya, mengetahui definisinya, tetapi saya belum pernah menyentuhnya. saya percaya salju benar-benar ada, percaya katanya lembut, dan pasti dingin, tetapi tetap saja pemahaman saya belum sempurna sampai saya menggenggam salju.

Tahap berikutnya, teman saya sudah pasti mencoba untuk mengetahui dengan lebih lengkap mengenai buah kesemek. Dia menjelajahi google dan mencoba mencari tahu gambar buah kesemek. Ini serupa seperti ketika saya menjelajahi penjelasan para ulama dalam buku-buku maupun situs-situs untuk melengkapi pemahaman saya mengenai ayat-ayat tentang dunia setelah kematian (atau pun dunia sebelum kelahiran di alam ini). Ketika saya mengetahui dengan lebih lengkap, apakah itu berarti saya memiliki pemahaman yang sempurna? Tentu tidak. Saya masih “berspekulasi” bahwa surga itu seperti begini dan neraka seperti begitu dan alam kubur seperti anu. Tetapi, saya percaya bahwa apa yang dikatakan oleh ulama-ulama itu bukan bohong, melainkan saya lah yang memiliki masalah. Ya, masalah nya terletak pada saya yaitu karena saya belum pernah benar-benar ke alam itu, bagaimana saya bisa yakin apa yang saya ketahui itu benar seratus persen? Begitu pun teman saya itu, dia sudah tahu sekarang tentang buah kesemek, tapi pengetahuan dan pemahamannya belum sempurna sebab dia belum pernah melihat langsung buah itu di hadapannya dan memakannya.

Dalam dunia filsafat, ada yang disebut “pengetahuan melalui korespondensi” yaitu ketika objek dan subjek masih terpisah, dan subjek membutuhkan perantara kepada objek. Dalam hal kesemek, saya adalah perantaranya, atau deskripsi-deskripsi saya adalah perantaranya.  Tetapi, ada yang disebut sebagai “pengetahuan yang hadir” yaitu ketika objek dan subjek tidak terpisah atau bersatu, seperti ketika saya memakan buah kesemek dan mengatakan rasanya manis-manis asam, atau saya terjatuh dan terluka saya akan bilang saya sakit. Tapi, ketika ungkapan itu sampai di telinga orang lain, ekspresi saya berubah menjadi pengetahuan yang pertama, bukan yang kedua, yang hadir ini karena subjek dan objek sudah terpisah lagi.

Maka, persoalannya bukan terletak pada pemberi pengetahuan atau pemberi pemahaman, melainkan pada penerima pengetahuan atau orang yang memahaminya. Jika kita mengatakan bahwa kita tidak sepenuhnya mengetahui tentang surga dan neraka, bukan berarti kita mengatakan surga dan neraka itu tidak ada atau tidak pasti keberadaannya. Jangankan demikian, apakah kita sepenuhnya mengetahui tentang Tuhan? Ketidaksempurnaan pemahaman kita akan Tuhan tidak meniscayakan bahwa kita mengatakan bahwa Tuhan tidak pasti adanya.

kita mencoba memahami beban yang dipikul bocah buruh pertanian kapas di uzbekistan ini, membayangkan berat beban yang dipikulnya, jari-jemarinya yang mungkin terluka saat memetik, tetapi kita tidak pernah sepenuhnya mengetahui apalagi memahami apa yang sedang ia derita dan rasakan

Belum lagi, misalnya saya memberi contoh soal “melahirkan”. Kepada laki-laki yang belum pernah mengalami (dan tidak akan pernah mengalami?) untuk menjelaskan tentang rasanya melahirkan kita kaum perempuan membutuhkan ekspresi-ekspresi atau ungkapan-ungkapan yang tak jarang metaforis, tetapi toh pada saat kita menjelaskannya, terkadang dijelaskan jauh setelah selesai kita  melahirkan  sehingga kita sendiri yang mengalami proses itu telah memiliki jarak dengan pengalaman kita itu, bisa jadi dilebih-lebihkan atau ada kurangnya. Ini menunjukkan ketidaksempurnaan kita. Jadi, ini juga bukan semata-mata persoalan empiris, atau relativis, atau apapun istilahnya, dimana kita dituntut secara fisikal, lahir atau materi mengalami sesuatu, untuk membuktikan suatu kebenaran. Adanya jarak antara subjek dan objek merupakan ketidaksempurnaan kita, di mana tidak semua pengetahuan yang kita miliki adalah yang hadir (hudhuri), bahkan para darwis waliullah sekalipun yang Allah anugerahi banyak pengetahuan yang hadir ini. Dan dalam banyak hal sesuatu atau pengetahuan yang hadir dalam diri kita pun sulit terekspresikan atau terungkapkan walaupun itu nyata atau benar (misalnya rasa sakit perut, mungkin kita cuma bisa meringis dan mengaduh, apalagi jika itu soal-soal yang lebih spiritual atau rohaniah sifatnya) sehingga memang benar kata pepatah, dunia ini penuh dengan misteri.

Oleh karena itu, kita memang benar-benar membutuhkan mereka yang sempurna memberitahu, menjelaskan dan memahamkan kita sesuatu yang di dalamnya “pengetahuan hadir” itu selalu hadir, sebab Tuhan tidak menghapusnya, sebab Tuhan mensucikan mereka  supaya selamanya mereka dengan pengetahuan yang selalu hadir tidak pernah menjelaskan dalam keadaan dengan pengetahuan melalui korespondensi belaka. Para nabi dan para imam dipercaya oleh umat Islam, paling tidak sebagiannya, mentransfer kepada kita penjelasan akan ayat-ayat al-Quran dan ilmu-ilmu lain yang dari diri mereka sendiri sempurna, seratus persen. Misalnya, maka akan menjadi seperti berikut ini:

(Sepatah ayat dalam al-Qur’an) –> Muhammad saw (100%) –> Imam Ali (100 %) –> ulama X (99%)  –> saya (40% dari 99% ulama X).

Persoalannya terletak pada kita yang mendengar, membaca, atau menerima penjelasan mereka itu. Bukan pada mereka yang memberikan itu (apakah itu kitab-kitab suci, nabi-nabi, atau imam-imam). Pemahaman yang spekulatif itu karena kita manusia biasa. Tetapi, itu bukan berarti kita meniscayakan bahwa itu tidak pasti, apalagi menyatakan itu belum tentu benar.

Keimanan kita pada sesuatu menunjukkan apa yang kita tahu dan apa yang kita pahami itu benar dan pasti bagi kita; tetapi bukan berarti kita bisa memastikan segala sesuatu yang kita pahami itu sesuai dengan apa yang kita pahami (misalnya:  kita tidak bisa memastikan rasa sakit yang kita derita kepada siapapun walaupun  kita memahaminya dan orang bisa melihat lukanya, hanya melihat, tidak merasakannya sendiri; tetapi sampai dia merasakan juga luka, dia memahami rasa sakit itu sesuai pemahamannya juga).– bagian ini jika membingungkan harap ditinggalkan sebab saya sendiri menemukan kesukaran luarbiasa untuk menjelaskannya ^_^.

saya yakin, kita diciptakan untuk saling mengenal perbedaan, mengelola, dan merayakan perbedaan kita untuk menyemarakkan kehidupan di muka bumi.

Pendek kata, kita hanya berusaha bersikap rendah hati dan tidak merasa serba tahu dan paling tahu akan segala sesuatu. Pemahaman yang sempurna hanya dapat diperoleh dengan pengetahuan yang sempurna. Dan pengetahuan yang sempurna adalah pengetahuan yang hadir dan pengetahuan yang hadir ini juga mestinya juga yang selalu hadir. Mungkin memang ada satu atau dua pengetahuan sempurna dan pemahaman sempurna yang kita pasti peroleh,  jumlahnya barangkali seperti setetes air di samudra yang luas, itu karena kita manusia biasa pun dianugrahi karunia khusus dari Tuhan. Tetapi, jangankan seluruh semesta ini, pengetahuan seluas separuh bumi ini saja, atau malahan mengenai tubuh kita sendiri, apakah semuanya bisa dipahami secara sempurna, sepenuhnya dan seutuhnya?

Maka, sikap ini, sikap rendah hati ini, pastinya juga memberi ruang luas bagi  kita terus belajar, berijtihad di ranah masing-masing, saling mengkoreksi, melengkapi, dan mengkritisi satu sama lain, serta sebagai sarana untuk saling menghormati perbedaan pandangan masing-masing: sarana saling mengenal perbedaan, mengelola perbedaan, bahkan merayakan perbedaan itu. Dan, sudah barang tentu, apa yang saya sampaikan ini terdapat kekurangan di sana sini karena keterbatasan bahasa dan pemahaman saya yang hanya seujung kuku. Wallahu’alam bissawab.

“Not a single soul lacks a pathway to You. There’s no stone, no flower — not a single piece of straw — lacking Your existence. In every particle of the world,
the moon of Your love causes the heart
of each atom to glow “
(Muhd Shirin Maghribi)

“Tiada satupun jiwa yang kekurangan satu jalan menuju Engkau. Tiada satu batu, tiada jua bunga — tiada sebatang pun jerami — yang kekurangan dari Keberadaan Engkau. Dalam setiap partikel di dunia, rembulan dari cinta-Mu menyebabkan setiap hati bercahaya.” (Muhd Shirin Maghribi)

from chaikana.com

Comments are closed.