Sabda Kehidupan Bulan Juni 2011

Roma 12:
(2) Dan janganlah memperturutkan ini dunia
Tetapi berubahlah dengan terbentangnya
Pembaharuan akal budimu, supaya kamu
Dapat membedakan mana yang baik, yang berkenan
Lagi sempurna sesuai kehendak Allah
(diterjemahkan  dari The Beloved and I, vol.4)

Banyak orang bertanya apakah bisa seseorang mengetahui baik dan buruk tanpa melalui agama? Apa yang dimaksudnya, melalui agama sebagai institusi ataukah melalui ajaran agama?

Yang pertama, manusia tidak memerlukan agama yang institusional karena ia memiliki sejumlah kelemahan, seperti sebagai faktor pemecah-belah umat manusia, karena adannya sifat hendak menonjolkan diri dan menganggap diri sendiri yang paling benar atau pada akhirnya akan muncul klaim-klaim atas kebenaran agama.

Namun, yang kedua, ajaran agama itu pada umumnya pastilah bersifat universal, melampaui institusi agama, yang sebagaian besar adalah sesuatu yang telah diketahui oleh seorang anak manusia yang waras dan sehat tentang mana yang baik dan yang buruk bagi dirinya, dan ajaran-ajaran tersebut disampaikan dan dikukuhkan lagi oleh para nabi dan para imam – sebab manusia biasa terlena dan lupa akan hakikat sejatinya sehingga hatinya mengeras dan enggan melunak.

Dan, tentu-lah ada hal-hal dalam ajaran agama yang manusia benar-benar membutuhkan bimbingan bagi mengenali yang benar dan yang salah, maka dengan demikian ia mengetahui apakah yang dimaksud dengan kehendak Allah.

Baru-baru ini sahabat dunia maya saya Phillip Voerding, menyarankan untuk membaca tulisan-tulisan St. Paul dalam Alkitab dengan cahaya Injil, dan bukan sebaliknya, sebagaimana yang lazim dilakukan oleh umat Kristiani dalam menyampaikan argumen-argumen teologis mereka, yang dogmatis dan bersifat mendoktrin yang pada akhirnya melahirkan “klaim kebenaran agama” itu sendiri.  Ini sangat menarik karena selama ini sarjana Muslim meragukan sosok St Paul, sebagai pribadi yang bersih dan jujur dalam mengikuti ajaran Yesus,  yang ikut-ikutan membaca tulisan-tulisan St Paul sebagai sesuatu yang mencahayai Injil, bukan sebaliknya. Belum lagi, ditambah dengan kritikan para sarjana Kristen sendiri terhadap ajaran-ajaran St Paul dari Tarsus ini sebagai memunculkan banyak bid’ah dan mengakibatkan bentuk-bentuk Kristenitas awal lain dianggap tidak sahih, seperti jemaat-jemaat St Yakobus, dan St Peter.

Terimakasih kepada Phillip Voerding, seorang muallaf di jalan Ahlulbayt, karena dengan demikian saya semakin dapat memahami Sabda Kehidupan Bulan Juni 2011. Lebih jauh lagi, sesungguhnya seluruh kitab suci mesti dibaca dengan cahaya dari Wahyu Pertama yang turun kepada Adam as. Dengan demikian, potensi konflik akan klaim kebenaran atas agama dapat menjadi berkurang.

Hal ini sesuai yang disampaikan Thomas McElwain:

Wahyu kepada nabi Adam (as) dapat ditemukan dalam berbagai kedudukan yang terpelihara dalam seluruh tradisi keagamaan di dunia. Dalam Taurat, ia disebut “pada mulanya” dan dalam bagian yang dibaca mingguan pada bagian awal kitab tersebut (Kitab Kejadian), kekalnya hukum ini diungkapkan dalam bentuk narasi yang cukup komprehensif dan memadai serta ringkas (Kitab Kejadian 1:1-6:8).

 Bagian ringkas ini merupakan hal yang bernilai bagi perenungan yang ajeg. Bahkan, seluruh Kitab Suci berikutnya mesti dilihat sebagai penjelasan terhadap bagian ini, selalu ditafsirkan dalam cahaya wahyu yang turun ke atas Adam, pada mulanya, fondasinya, dan prinsip-prinsip yang pertama. Beberapa dari prinsip mendasar yang diungkapan di dalamnya adalah sebagai berikut:

 Tuhan Sang Pencipta adalah berdaulat (atau berkuasa penuh) atas segala ciptaan-Nya, dan manusia sebagai makhluk ciptaan mesti hidup dalam ketaatan kepada-Nya, Dia satu-satunya yang berhak menentukan yang benar dan yang salah (Kejadian 1:1,26; 2:16,17).

Kemahakuasaan Tuhan menunjukkan definisi diri, supaya umat manusia, diciptakan untuk mengartikan dan menamai, memiliki kewajiban untuk mempelajari dan menamakan segala ciptaan, untuk menahan diri [atau menjauhkan diri] dari menetapkan suatu definisi tentang Tuhan melampaui ungkapan-ungkapan wahyu itu sendiri. (Kejadian.2:19,20).

 Tugas utama manusia dalam menyembah dan mengenal Sang Pencipta adalah menyebut nama-Nya, yang ditentukan sebagai Yehuwa (YHWH) kemudian Ælohim, yang kemudian ini merupakan kata yang seasal dengan kata Arab Allahumma. (Kejadian.2:4; 3:8-9; 4:26.)

Di samping itu, untuk mengetahui dengan pasti kehendak Allah, bukan dengan mengira-ngira, bagi saya pribadi harus dengan membaca firman-firman-Nya sendiri. Cahaya dari puncak di mana Musa as dan umatnya melakukan perjanjian langsung dengan Allah swt, itulah cahaya paling terang yang terus bersinar membimbing umat manusia dalam setiap firman berikutnya, baik di  dalam hati maupun dalam bentuk tulisan (loh atau kitab). Seluruh agama telah turun kepada kita dari cahaya wahyu pertama ini dan perjanjian asal mula berikutnya itu. Sejauh mana tradisi-tradisi berikutnya mempertahankan hal-hal yang fundamental itulah, sejauh itu pula mereka telah memenuhi kehendak Allah. Sejauh mana mereka berselisih dengan hal-hal mendasar itu, sejauh itu pula mereka mengingkari kehendak Allah. Sejauh mana mereka menambahkan yang fundamental itu, (secara lebih mendetail) mereka melakukannya karena kekakuan (atau mengerasnya) hati umat manusia. Selama hati umat manusia keras (lagi kaku), sabda-sabda para nabi berikutnya dan para pembimbing Illahi berikutnya masih akan diperlukan.

Sabda Kehidupan Bulan Juni 2011 yang dikutip dari perenungan Chiara Lubich yang sentiasa menekankan pentingnya memenuhi kehendak Allah, mengatakan “ya” kepada-Nya dan segala firman-Nya, muncul tepat pada bulan Sya’ban bulan yang entah bagaimana dan dimana saya pernah mendengar bahwa pada bulan ini banyak yang akan dipanggil oleh Allah (sebab itu belum tentu akan merasakan ramadhan berikutnya). Siang itu, menonton film tentang Chiara Badano, gadis muda pengagum Chiara Lubich yang menderita kanker ganas, dengan sepenuh hati mengatakan “ya” kepada panggilan Illahi, menyiapkan rencana kematian dan pemakamannya bagaikan sebuah pesta perkawinan, saya merasa Tuhan sedang menegur saya. “Dan sekarang, maukah kau juga selalu mengatakan ya pada-Ku?”

Tidak. Saya lebih banyak mengatakan tidak kepada-Nya. Saya terlalu banyak menuntut pada-Nya. Saya terlalu banyak mengeluh di hadapan-Nya. Masih ada “Kau” dan “aku” sehingga “ya” itu begitu berat sekali untuk diberikan dengan sepenuh hati. Ada dua macam keyakinan atau kepercayaan manusia. Yang Pertama: “tiada Tuhan melainkan aku.” dan Yang Kedua: “tiada aku melainkan Tuhan”. Tampaknya, saya adalah golongan manusia yang pertama!!

Hmm!!!

Chiara Lubich

Chiara Lubich (22 January 1920 – 14 Maret  2008) seorang wanita Katholik taat, pendiri pergerakan Focolare  dari Italia. Pergerakan ini berusaha untuk menghidupi ayat-ayat Injil dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang awam; berkumpul dalam pertemuan untuk berbagi pengalaman dan perenungan hidup sesuai ayat-ayat yang dikutip ke dalam Sabda Kehidupan. Pergerakan  yang kini berkembang menjadi pergerakan lintas iman ini terdapat di 128 negara. Para focolarini dan focolarina bercita-cita untuk mewujudkan perdamaian dunia dengan mengamalkan hidup rukun dalam persatuan walau berbeda-beda, demi memenuhi kehendak Tuhan: cinta kasih antar sesama umat manusia. Bahkan di Italia, mereka membangun sebuah kota komunitas mereka sebagai laboratorium hidup masyarakat majmuk yang rukun… (catatan: salah satu sahabat Chiara Lubich, adalah seorang sarjana Islam perempuan dari Iran yang dulu sempat menulis Sabda Kehidupan dengan kutipan ayat alQuran bagi focolari Muslim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s