Masalah Dunia Modern dan Sepuluh Perintah Tuhan

Oleh: Gayatri WM

“We grasped the mystery of atom, but we rejected the Sermon of the Mount,” General Omar Bradley.

Kita telah menjangkau misteri tentang atom, tetapi kita telah menolak Khotbah di atas Gunung,” Jendral Omar Bradley.

Tanggal 27 Januari 2011 lalu saya berkesempatan untuk menghadiri acara ”Building Bridges of Peace Through Interfaith Leadership” yang diadakan dalam rangka Minggu Keharmonisan Antar-Iman yang digalakkan oleh PBB. Ungkapan Jendral Omar Bradley yang dikutip dalam acara tersebut menggugah saya untuk menulis hal ini.

Dunia tempat kita hidup saat ini dilimpahi oleh perang, penindasan, kemiskinan, kriminalitas, korupsi, kekacauan, dan seterusnya dan seterusnya. Dari manakah akar kerusakan dan kekacauan semua ini?

Sejarah telah mencatat Nabi Musa AS memperoleh Wahyu yang kini dikenal sebagai Sepuluh Perintah Tuhan. Salinan-salinan Wahyu itu kemudian menjadi di antara dokumen tertulis yang tertua di antara dokumen-dokumen wahyu lain yang ada di muka bumi ini. Peristiwa ini tercatat dalam Alkitab maupun AlQur’an (QS. 2: 53). Maka, bukanlah hal yang aneh apabila kita mengamati ketiga agama pecahan dari Agama Ibrahim, yaitu Judaisme, Kristen, dan Islam, masih menjalankan apa yang terdapat 10 Perintah Tuhan tersebut dengan menyesuaikan kepada setiap detail yang Tuhan sempurnakan pada wahyu-wahyu kepada nabi-nabi setelah Musa AS.

Apabila kita mampu mencermati 10 Perintah Tuhan ini, maka sesungguhnya ia menjadi begitu mendasar dan menjadi benang merah antar ketiga iman agama Ibrahimik tersebut, bahkan kepada agama-agama lain yang ternyata mengajarkan sebagian besar dari 10 Perintah Tuhan itu sebagai dasar-dasar kebajikan mereka.

Malangnya, 10 Perintah Tuhan ini, bahkan oleh mereka yang menjadikan Alkitab (Bible) – di mana di dalam Perjanjian Lama, 10 Perintah  Tuhan ini termuat dengan jelas – sebagai sumber pedoman hidup mereka, acapkali justru diabaikan.

Begitu pula, dengan kaum Muslim yang menganggap Nabi Muhammad SAW sebagai penyempurna ajaran-ajaran nabi-nabi dari kalangan bani Israel, tanpa sengaja gagal mencermati kandungan 10 Perintah Tuhan sebagai “rukun beragama” yang sama sekali tidak bertentangan, malah sesuai dengan AlQuran dan Alhadist (atau Sunnah Rasulullah dan para imam maksum).

Seandainya para penganut ketiga agama besar ini mampu menjalankannya dan mampu pula menemukan bahwa umat-umat lain juga menjalankan ajaran-ajaran dasar agama mereka sesuai dengan 10 Perintah Tuhan, baik seluruhnya secara harafiah maupun substansi perintah itu, maka apa yang kita lihat hari ini, di dunia ini, nyanyian-nyanyian Beatles “Imagine” atau White Lion, “When The Children Cry” atau Michael Jackson, “Heal the World”, dan sebagainya, bukan lagi angan-angan. Sebab, dari 10 Perintah Tuhan inilah kita akan menemukan akar dari segala permasalahan kita sebagai individu maupun masyarakat.

~ Sepuluh Perintah Tuhan ~

1. ”Akulah ALLAH, Tuhanmu...” ~ Keluaran 20:3; Qur’an 47:19 ~ Ini berarti Bersaksi atau bersyahadat bahwa Dia, Allah, adalah Tuhan kita, menerima Kebenaran, menyadari Hakikat Sejati. Dalam kehidupan kita sebagai individu maupun masyarakat, kita telah diperintahkan untuk menjadikan Tuhan sebagai pemimpin kita, pemandu kita.

2. Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku, Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun …(Jangan mempersekutukan Allah) ~ Keluaran 20:4-6; Qur’an 14:35 ~ Ini berarti Ketuhanan Yang Maha Esa, yang berarti kita diperintahkan untuk tidak menyembah tuhan-tuhan palsu, seperti uang, kekuasaan, wanita/pria, dan bahkan diri kita sendiri, dan menyerahkan diri kita sepenuhnya hanya untuk Tuhan yang Sejati, The True-Self.

3. Jangan menyebut nama Allah dengan sembarangan …(Sebutlah nama-nama yang Allah ajarkan kepada manusia dalam ayat-ayatNya/Asmaul Husna & Jangan bersumpah dengan nama Allah) ~ Keluaran 20:7;  Qur’an 2:224; Qur’an 2:152. ~ Ini berarti bahwa kita hidup sehari-hari dalam liturgi (ibadah), selalu mengingat Tuhan dan menyebut nama-Nya dengan cara yang baik dan untuk tujuan yang baik, bukan mempermainkannya, atau bersikap munafik/hipokrit, dsb.

4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat ~ Keluaran 20:8-11 dan AlQuran S. 2: 65,66; QS 4: 47-58, QS 62: 10 154; QS 7: 163; QS. 16: 124 ~ Mengkuduskan hari Sabat berarti meninggalkan pekerjaan duniawi sementara untuk memulihkan perangkap materi dan duniawi, dengan melakukan kegiatan spiritual, kembali ke Jalan, mengingat Tuhan. Tubuh kita, masyarakat kita dan alam tempat kita hidup ini tidaklah untuk dieksploitasi demi kepentingan duniawi/pribadi kita belaka:

Perintah Sabat ini kemungkinan sekali bagi kaum Muslim dianggap hanya berlaku bagi bani Israil saja.  Kaum Muslim saat ini kemungkinan besar tidak menangkap substansi dari pengkudusan Hari Sabat oleh karena melihat pengkudusan Sabat yang dilakukan kaum Yahudi fundamental dan para penganut Judeo-Kristen saat ini, yang juga kemungkinan besar tidak dapat menangkap substansi pengkudusan ini.  Padahal jelas-jelas dalam alQuran telah dijelaskan substansi mengkuduskan Sabat, bahkan untuk menyempurnakannya alQuran dan Hadist mengingatkannya dengan memuliakan hari Jumat.

Umat Islam misalnya telah diperintahkan untuk melaksanakan solat Jumat berjamaah, kemudian setelah ini menyebar untuk mencari rahmat Allah SWT. Imam Ja’far As-Sadiq AS berkata, ”Berhati-hatilah berbuat dosa pada Jumat sore (awal mulanya Sabat), sebab hukumannya jauh lebih besar, sama seperti pahala untuk kebaikan (yang dibuat pada hari Sabat) juga lebih besar.”[1]

Perintah mengkuduskan Sabat sesungguhnya diberlakukan untuk memberikan satu hari dalam seminggu bagi manusia untuk melepaskan kegiatan duniawinya dan berkonsentrasi kepada kegiatan spiritual. Tidakkah Anda membayangkan apa yang terjadi jika satu minggu kita terus-menerus melakukan pekerjaan duniawi semata – mengeksploitasi tubuh kita sendiri, tubuh orang-orang lain dan tubuh alam semesta ?

Di dalam AlQuran juga dijelaskan ujian kepada bani Israil saat Sabat tiba yaitu ikan-ikan justru muncul di perairan dan akan lebih mudah ditangkap.

Konsekuensi menjalankan satu hari penuh bagi kegiatan spiritual dari tujuh hari seminggu adalah juga untuk keseimbangan alam. Ini sama seperti Hari Nyepi, atau Hari Tanpa Listrik, dsb. Saya dapat membayangkan jika setiap manusia menjalankan Sabat sebagai hari khusus untuk kegiatan spiritual mereka, dan meninggalkan kegiatan duniawi, maka akan terjadi pemulihan terhadap individu, masyarakat maupun alam sekitar yang telah lelah dieksploitasi selama seminggu lamanya untuk dikembalikan kepada kegiatan mengingat Tuhan.

5. Hormatilah ayahmu dan ibumu ~ Keluaran 20:12 dan AlQuran 17: 23 ~ Menghormati kedua orang tua di sini sesungguhnya dapat berlaku sangat luas. Kakek, nenek, paman, bibi, guru, dan orang tua dari sahabat, tetangga, dan orang lain juga adalah ayah dan ibu kita. Penghormatan kepada mereka yang telah lebih dulu lahir kepada kita di sini adalah suatu bentuk penghormatan yang selaras dengan keyakinan kita kepada Tuhan. Bagi umat Islam, para nabi AS, Rasulullah SAW, para imam AS, para sahabat dan tabi’in yang setia, serta para wali juga adalah ayah dan ibu kita. Bagi umat Kristen, para pendeta, atau para biarawan/biarawati adalah ayah dan ibu mereka. Begitu pun umat-umat agama lainnya. Pemimpin di kantor, di rumah, di sekolah, di desa, di kota, di negara, mereka semua juga adalah ayah dan ibu kita. Selama mereka masih berjalan dalam koridor 10 Perintah Allah maka mereka wajib kita hormati. Di sinilah bentuk ”Cinta-Kasih” pertama yang diperintahkan langsung oleh Tuhan. Semua agama mengajarkan mencintai dan menghormati orangtuanya.

6. Jangan membunuh ~ Keluaran 20: 12 dan AlQuran S. 5: 32 ~ Perintah Allah ini mengingatkan kita kepada peristiwa pembunuhan pertama yang terjadi di muka bumi yaitu terbunuhnya Habil oleh Kabil (Kain).  Perintah ini adalah untuk menghormati kehidupan. Perintah ini adalah bentuk ”Cinta-Kasih” kedua yang diperintahkan langsung oleh Tuhan. Ia dapat bermakna sangat luas. Bukan hanya bermakna menghindari peperangan. Tetapi juga sebagai individu maupun masyarakat kita berupaya untuk mencegah suatu pembunuhan terjadi.  Anak-anak harus diajarkan sejak dini untuk menghormati hak hidup semua orang. Juga ”pembunuhan secara tidak langsung” seperti kelaparan. Kita harus tidak membiarkan orang-orang terbunuh hanya karena kelaparan. Sebab, menghormati kehidupan bermakna sangat luas, bukan sekedar slogan klise Hak Asasi Manusia.

 

Pernikahan Suku Shui

7. Jangan berzinah ~ Keluaran 20: 14 dan Al Qur’an 17:32 ~ Perintah Tuhan yang ketujuh sangatlah jelas. Kita bisa melihat bagaimana akar dari persoalan modern saat ini? Perzinahan menjadi hal yang dianggap urusan individu atau pribadi dan bukan urusan masyarakat. Anak-anak yang terlahir di luar nikah menjadi korban sepanjang hidup mereka karena hukuman masyarakat justru menimpa mereka, padahal yang melakukan perbuatan adalah orang tua mereka. Pornografi dan pornoaksi menjadi sesuatu yang akrab dengan kehidupan masa kini – baik melecehkan laki-laki maupun perempuan secara khusus, sebab manusia hanya dijadikan sebagai objek serta subjek seks belaka.

Ini adalah bentuk Cinta-Kasih ketiga yang diperintahkan langsung oleh Tuhan. Itu berarti seorang istri harus setia kepada suaminya, begitu pula suaminya harus setia kepada istrinya. Seorang pemuda dan seorang gadis harus dapat menjaga diri mereka, dan dengan kemurahan hati Tuhan-lah memberikan bentuk perkawinan bagi mereka untuk dapat memenuhi kebutuhan biologi mereka.

Dengan begitu pula, jika kesetiaan dapat dipertahankan, maka perceraian kemungkinan kecil dapat dihindari, begitu pula poligami (baik poligini maupun poliandri) yang masing-masing adalah suatu bentuk perkawinan yang dapat melukai pasangan kendati dalam hukum fikih dibenarkan.

Perintah ketujuh ini bermakna sangat luas, lebih dari sekadar larangan berhubungan seks sembarangan, tetapi juga menghormati lembaga perkawinan, melindungi keluarga dan masyarakat dari berbagai persoalan psikologi dan sosial, serta menjaga kehormatan serta kesetaraan antara laki-laki dengan perempuan dan sebaliknya.

Sudan kelaparan!

 

8. Jangan mencuri ~ Keluaran 20: 15 dan AlQuran 5: 38 ~ Perintah Allah Jangan Mencuri adalah bukan suatu larangan semata. Ini mencakup makna yang sangat luas. Tuhan memerintahkan manusia bekerja, mencari nafkah dengan halal, serta menghormati hak serta harta benda orang lain.

Kita dapat membayangkan seandainya manusia tidak melakukan perbuatan mencuri. Tidak ada koruptor di muka bumi. Tidak ada kekhawatiran terhadap rampok, copet atau pun maling: saat kita berjalan di tengah keramaian maupun di tengah malam sunyi atau saat tidur atau meninggalkan rumah.

Ini juga berarti kita harus mencegah orang lain dari melakukan pencurian. Ini berarti bentuk Cinta-Kasih keempat yang diperintahkan Tuhan. Memberikan sedikit dari harta dan uang kita kepada yang kekurangan dari kita. Mengadakan lapangan pekerjaan. Dan juga mengajarkan kepada anak-anak kita hidup harus bekerja keras dengan memberikan makanan, harta benda, serta membayar uang pendidikan bagi mereka dari pekerjaan yang halal. Tidak ada satu agama pun yang membenarkan perbuatan mencuri.

9. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu ~ Keluaran 20: 16 dan AlQur’an 24:7 ~ Perintah kesembilan ini memuat suatu perintah yang sangat luas mengenai bentuk cinta kasih kelima yang diperintahkan kepada manusia.

Berbohong, fitnah, bersumpah palsu dan melakukan propaganda tipu daya serta perbuatan munafik atau hipokrit lainnya adalah perbuatan yang telah lazim terjadi di dunia sejak dahulu kala.

Kebohongan yang terus-menerus bahkan berlangsung begitu lama akhirnya menjadi kebenaran.

Lagipula kebohongan kemudian ditutupi dengan kebohongan lainnya. Fitnah ditutupi dengan fitnah lainnya.

”Tiada dusta di antara kita”, lirik lagu ini sangat universal. Tidak ada satu agama pun yang membenarkan dusta.

Dunia pasti akan tenteram karena para pemimpin bersikap dan berkata jujur kepada rakyatnya, begitu pula rakyatnya kepada para pemimpinnya.

10. Jangan mengingini rumah sesamamu (Jangan mengingini milik sesamamu) ~ Keluaran 20: 17 dan AlQuran 4: 36. ~ Perintah Tuhan yang kesepuluh ini adalah pembungkus bagi perintah nomor enam sampai nomor sembilan. Sebab Tuhan tahu bahwa pada dasarnya larangan nomor enam sampai nomor sembilan akan dilanggar karena hasrat dan nafsu seorang manusia saat menginginkan apa yang bukan haknya.

Berapa banyak dari kita iri dan dengki kepada orang lain? Berapa banyak dari kita yang tertarik kepada suami, istri, atau kekasih orang lain? Berapa banyak dari kita yang menginginkan barang-barang yang lebih bagus daripada barang-barang yang kita miliki? Berapa banyak dari kita yang menginginkan sesuatu yang ada pada orang lain, seperti kesuksesannya, pangkatnya, pamornya, dan kekuasaannya?

Demikianlah Tuhan telah sejak awal menyatakan, jangan menginginkan apa yang bukan milik kita. ”Menginginkan” itu adalah nafsu atau hasrat yang tidak pernah akan terpuaskan kecuali jika kita mampu mengendalikan diri dari keinginan-keinginan kita.

Bagaimana caranya? Caranya adalah kembali kepada Perintah Tuhan  dari nomor satu sampai nomor lima! Apakah artinya? Artinya adalah kembali kepada Jalan. Jalan Spiritual. Jalan Kebenaran. Jalan Hakikat. Semua Agama mengajarkan kepada kita bagaimana mengendalikan nafsu dan diri ini…

Oleh karena itu, seandainya kata-kata Jendral Omar Bradley dapat kita cermati, manusia saat ini telah membedah rahasia atom, tapi justru mengabaikan 10 perintah dasar yang disampaikan Tuhan langsung melalui Musa AS. Ribuan seminar dan jutaan hasil karya mencoba untuk menguraikan benang kusut persoalan dunia saat ini dengan berbagai filosofi dan teori. Namun, ternyata, semuanya berpangkal dari pengabaian terhadap 10 Perintah ini, 10 Perintah langsung dari Tuhan, salah satu yang terawal yang terdokumentasikan dengan baik dalam banyak kitab suci. Wallahu’alam bissawab.

5 responses to “Masalah Dunia Modern dan Sepuluh Perintah Tuhan

  1. Ciao Gayatri. Terima kasih atas tulisan ini. Saya terbantu untuk menyadari bahwa 10 perintah Allah, selain menjadi dasar untuk memajukan dunia, merupakan juga salah satu titik temu dalam dialog antara ketiga agama Abrahamitik.
    Baru2 ini satu refleksi muncul di hati saya, dan terpancing kembali ketika membaca tulisan Gayatri.
    Kita sering tergoda untuk membandingkan agama2 kita untuk menentukan siapakah yang memiliki agama yang paling benar, yang paling tepat teologinya, yang paling mendukung damai dan seterusnya.
    Seharusnya kita menghakiri persaingan ini. Pertanyaan paling mendasar bukan apakah agamaku lebih baik dan benar dari agamamu, melaikan kita seharusnya bertanya kepada diri sendiri apakah kita sejujur-jujurnya rela membiarkan diri diubah oleh agama kita masing-masing untuk menghidupi kasih yang diinginkan Allah, yakni menjadi orang yang beriman sesungguhnya. Memiliki Ferrari (agama terbaik) sangat relatif: jika saya tidak mampu menyetir (tidak menghayatinya), orang yang punya sepedapun (agama lain) akan berjalan lebih cepat dari diri saya. Mari kita coba menjadi lebih konsisten dengan iman kita masing-masing. Saya yakin dunia akan mulai berubah.

    Grazie

    Gong Xi Fat Chai

    Matteo

  2. Wah..uraiannya bagus dan lengkap….menarik untuk dibaca…
    Awalnya saya kaget karena rumusan sepuluh perintah itu beda dengan rumusan yang sering saya baca. Tetapi mungkin sumbernya berbeda…. Mungkin rumusan itu sama dengan rumusan yang digunakan oleh teman-teman dari Gereja Kristen Protestan seperti salah satu GKI di Jakarta. Tetapi ini tidak mengurangi esensi uraiannya. Inti rumusan sama. Trims….

  3. gayatri wedotami

    Dear Matteo and Gordy,
    Terimakasih banyak atas apresiasinya.
    Ini adalah refleksi atau rumusan kontemplasi dari inti ajaran Dawoodiyya yang menekankan 10 Perintah Tuhan sebagai dasar bagi Jalan spiritual yang kami tempuh, sekaligus sebagai titik temu antara berbagai agama….

  4. Jelas sekali maksudnya…

  5. Pingback: Pakaian, Citra Diri dan Komitmen Hidup | Jurnal Dasasila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s