Jembatan

Kemana pun aku pergi, hatiku telah terpaut dan tak hendak berpaling. Jikalau mereka mempertanyakan, jawabanku hanya kata-kata seperti jembatan. Karena aku bukan Citra yang Sempurna, batu-batu yang kuambil dari sembarang lembah, batu-bata yang kucetak dengan tergesa-gesa dan tukang-tukang pemalas yang membangun,  jembatanku rapuh!

Celaka! Celaka! Kata-kataku hanyalah jembatan, jembatan yang rapuh, dan aku sendiri merangkak untuk mencapaiNya – mengapakah mesti ada jembatan?

Aku berdiri dan merasakan kemabukan yang menggetarkan dan menakutkan, di setiap saat aku memandang dan kemudian berpikir, lalu tak bisa mencerna dan mengungkapkan seperti Semua Yang Diberkati. Mungkinkah cemas akan diriku semata? Oh, kutahu saat aku hanya memandang-Mu mengharapkan Semua Yang Diberkati merangkul dan menggandeng tanganku. Tak ada gunanya bersilat lidah, ikan tak mungkin berenang di udara, burung tak mungkin terbang di air dan manusia tak mungkin hidup di angkasa luar dengan telanjang saja!

Celaka! Celaka! Kata-kataku hanyalah jembatan, jembatan yang rapuh, dan aku sendiri merangkak untuk mencapaiMu – mengapakah mesti ada jembatan?

Aku perlahan-lahan mengosongkan dari segalanya untuk Engkau, karena ruangan ini menjadi begitu sempit dengan adanya aku, dia dan mereka.

Hati telah kubuka kepada segala sesuatu, segala bentuk, warna, nada dan aroma.  Maka, kutemukan Engkau menyanyi di biara, kutatap wajahMu di kapel dan kucium tanpa keraguan, masjid telah menjadi begitu lapang untuk memelukNya di antara debu Karbala yang kukecup, dan aroma-Mu demikian harum dalam klenteng dan wihara. Sebab bukan mereka tapi aku.  Jikalau ada yang bertanya apakah aku udah gila atau mabuk? Aku akan tertawa dan membiarkan semuanya bertanya-tanya! Pergilah! Pergilah temukan sendiri, kataku karena Kau tahu siapalah aku untuk membentangkan kata-kata tentang Engkau?

Celaka! Celaka! Kata-kataku hanyalah jembatan, jembatan yang rapuh, dan aku sendiri merangkak untuk mencapaiMu – mengapakah mesti ada jembatan?

Seumur hidup aku belum pernah meneguk anggur, tapi kutahu inilah setetes Anggur dari Langit, Engkau senantiasa hadir saat kutatap batu-batu penuh kotoran, kudengar cicit tikus binatang yang masih kubenci hingga hari ini,  seorang anak empat tahun di tengah jalan yang disuruh mencari uang dengan menyanyi sesukanya, saat hidupku terasa sesak dan terhimpit, terkadang begitu kesal oleh nakalnya tingkah anak-anakku dan mencoba merenungi suamiku yang mungkin tidak mengerti. Selalu ada Jendela dan selalu ada Pintu untuk kubuka dan kulewati demi menjumpaiMu.

Namun, di luar dan di dalam aku hanya menemukan-Mu betapapun kuat aku menyangkal-Mu mengingkari-Mu, berteriak ke jalanan: aku ini aku! Engkau tetap menarikku dan aku tetap terpikat dan terjatuh ke dalam pangkuan-Mu. Bunga-bunga yang tersenyum sama manisnya dengan air mata yang mengalir karena gundah gulana hatiku. Tetapi keterpisahan ini tidaklah membuatku menjauh dari-Mu — hanya jika aku berlari dan menghindar, aku terjatuh, berulangkali dan terluka, aku pulang kembali, berlari lebih kencang dan menangis dan meratapi kebodohanku…”Jangan tinggalkan aku! Jangan pergi dariku” Tapi Engkau tak pernah kemana-mana, tak pernah pergi dariku apalagi meninggalkanku. Kini mereka bertanya dan aku tak bisa menjawab sebaik Engkau menjawabku…

Celaka! Celaka! Kata-kataku hanyalah jembatan, jembatan yang rapuh, dan aku sendiri merangkak untuk mencapaiMu – mengapakah mesti ada jembatan?

Bahkan orang-orang yang meragukan-Mu, yang memanjat tangga ke langit-Mu dengan mesin dan hasil ujicoba laboratorium, mereka adalah sahabatku. Bahkan mereka yang meludahiku, menyatakan aku sesat lagi kafir, aku menyayangi mereka seperti aku mengasihani diriku yang berlumur dosa. Siapalah aku berhak untuk menghakimi dan menilai mereka selain Engkau? Duhai, duhai terkutuklah aku yang mencela Ciptaan-Mu. Setiap orang telah memilih dan Engkau telah membebaskan mereka pula untuk memilih dalam perjalanannya menuju-Mu! Aku pun ingin bebas merdeka dalam Engkau.

Celaka! Celaka! Kata-kataku hanyalah jembatan, jembatan yang rapuh, dan aku sendiri merangkak untuk mencapaiMu – mengapakah mesti ada jembatan?

Dunia ini sendiri adalah jembatan menuju-Mu. Tak ada jembatan lain. Tak ada  jalan penyeberangan yang lain.  Saudaraku, Berhentilah bertanya! Temukanlah sendiri, baru akan mengerti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s