Tuhan dan Dua Cangkir Kopi

Percakapan antara seorang atheis dengan seorang theis di sebuah kafe.

Alkisah, dua orang sahabat lama berjanji untuk bertemu setelah lama mengobrol di dunia maya. Yang pertama telah menjadi atheis, dan yang kedua kini semakin yakin akan adanya Tuhan. Arakian, setelah memesan kopi kepada pelayan kedua orang teman yang sudah lama tak bertemu ini mulai bercakap-cakap tentang TUHAN.

Berikut ini percakapan mereka:

Atheis: Keberadaan Tuhan tidak dapat dibuktikan, karena itu dapat disimpulkan bahwa Tuhan tidak ada.

Theis: Apakah kamu sudah pergi ke kolong langit, ke dasar Bumi, dan ke laut terdalam untuk menemukan Tuhan yang kamu cari-cari?

Atheis: Tidak perlu. Kalau memang Tuhan ada Dia ada di sini saat ini dan sekarang ini. Aku mestinya bisa melihatNya. Paling tidak aku mestinya bisa merasakan kehadiranNya.

Theis: Kalau begitu pernahkah kamu pergi memasuki pikiranmu sendiri, maksudku bukan otakmu, dan melihat isi pikiranmu, atau masuk ke dalam perasaanmu sendiri, dan melihat isinya untuk mencari Tuhan.

Atheis: Untuk apa? Seharusnya jika Tuhan memang ada Dia menampakkan dirinya di hadapanku.

Theis: Kamu yakin Dia tidak menampakkan diri di hadapanmu? Atau jangan-jangan kamu yang tidak bisa melihatnya?

Atheis: Maksudmu?

Theis: Kamu tidak bisa membuktikan kepadaku bahwa Tuhan itu tidak ada. Kalau begitu, karena ketiaadaan Tuhan juga tidak dapat dibuktikan, maka dapat disimpulkan bahwa Tuhan itu ada.

Atheis: Apa yang kamu katakan hanya menunjukkan bahwa aku belum berhasil membuktikan bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh tidak ada karena aku belum pernah sampai ke tempat-tempat yang kamu katakan untuk mencarinya dan membuktikannya kepadamu.

Theis: Nah, kalau begitu walaupun aku juga belum berhasil membuktikan bahwa Tuhan itu benar-benar ada kepadamu, bukan berarti Tuhan itu tidak ada.

Atheis: Jadi, kamu tidak keberatan kalau aku bersikukuh bahwa Tuhan tidak ada?

Theis: bagaimana denganmu, apakah kamu keberatan aku bersikukuh bahwa Tuhan itu ada?

(Pelayan kopi datang dan menyuguhkan kopi pesanan masing-masing menyela percakapan mereka sejenak)

Atheis: Well, kurasa kopi ini yang lebih nyata. Tapi rasa cappucinoku dengan latte kamu tentu berbeda.

Theis: setuju. kopi kita memang nyata. tapi kukira tak perlu kan repot-repot memberitahumu di mana letak biji kopi, gula, krim dan perisa dalam komposisi kopi ini? Mari kita nikmati saja kopi kita.

Atheis: Ya. Itu terlalu ribet! Mari minum!

Hatta, terdengarlah kemudian bunyi slurrp dua orang yang sedang menghirup kopi.

Dua cangkir kopi telah menjadi saksi, berakhirnya percakapan tentang TUHAN. Keduanya lalu membicarakan hal-hal seperti pekerjaan, keluarga dan anak-anak yang mereka banggakan dan sayangi.

Hati-hati kafein berbahaya bagi kesehatan: Dapat mengganggu pola tidur Anda dan menyebabkan Anda ketagihan dan menyebabkan jantung berdebar-debar serta perut keroncongan. Menurut ahli pengatur finansial: Hati-hati, ketagihan kafein dapat menguras kantong Anda karena Anda jadi sering ke Kafe. ^_^

*Credit: Cerita ini terinspirasi oleh riwayat-riwayat percakapan Imam Ja’far as-Shodiq as dengan  atheis.

3 responses to “Tuhan dan Dua Cangkir Kopi

  1. tuhan itu tak dapaat dibuktikan setelah dunia tercipta

  2. gayatri wedotami

    rydwan, soalnya itu seperti sate yang kamu hidangkan di icrp, kita langsung makan.

  3. we will find a way to face TUHAN no matter we refuse it, becouse we keep HIM in our soul…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s