“ENGKAU-lah satu-satunya!”

Renungan Sabda Kehidupan

Focolare  Mei 2011:

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu (Matius 22: 37).

Renungan pribadi:

Artikel ini terinspirasi saat suatu malam saya sedang mengikuti kelas teologi saya seperti biasa di STF Driyakara. Dosen yang mengajar pada malam itu sangat menarik dalam memberikan pengajarannya, namun ulasannya masih kurang memuaskan bagi saya. Setiap orang juga memanggul atau memikul Salib (baca: penderitaan) dan kelas hari itu membicarakan sejauh manakah kita dapat meringankan penderitaan itu, menolong sesama, dan semacamnya. Bagi seorang pencinta Ahlulbayt, mudah-mudahan saya tergolong di dalamnya, ia dapat juga dibaca: orang-orang lain juga mengalami Karbala (Setiap hari adalah Karbala, setiap bumi adalah Karbala) dan sejauh manakah kami pencinta dan pengikut Imam Huseyn dapat menghayati Karbala dalam kehidupan sehari-hari, bagaimanakah sikap dan tindakan kami kepada mereka yang mengalami Karbala (Baca: kezaliman, penderitaan, dsb).

Renungan Chiara Lubich (semoga Tuhan merahmati jiwanya) yang disarikan untuk bulan Mei tahun 2011 ini, telah mengingatkan saya.  Pada malam Sabbath beberapa hari setelah kelas teologi tersebut, saya menemukan dua baris kata-kata dari renungan Sang Guru terhadap Mazmur 7 dalam The Beloved and I karyanya, dua baris kata mirip dengan apa yang hampir-hampir saja pada kelas teologi itu ingin saya sampaikan kepada sang dosen.  Betapa sulit membiarkan ke-aku-an hilang pada saat hendak menolong, mengasihi dan mencintai orang lain. Mengapa kaum agamawan terkadang melupakan kata kunci ini? Dalam soal Cinta: Yang pertama-tama adalah Tuhan, baru kemudian sesama manusia.  Itulah yang terdapat dalam Injil Matius ini. Dan inilah pula intisari Dekalog (10 Perintah Allah). Dalam Islam, lazim dikenal istilah: habluminallah lalu habluminannas. Dalam tradisi sufi, mereka yang telah mengenal-NYA (makrifat) baru dapat mengenal tajalli-Nya.

Hajji Bektash Wali pernah mengatakan “The best book of all is the human being.” Tetapi, untuk dapat memahami buku yang terbaik ini tentu saja sukar tanpa melalui Dia yang menyebabkan adanya manusia itu sendiri. Bahkan, sebenarnya, tak seorang pun dapat menghindar dari interupsi atau pun campurtangan-Nya dalam membaca dan memahami buku ini (baca tulisan saya sebelumnya: “Aku bergantung pada-Mu“).  Jikalau kita telah sungguh-sungguh berserah kepada-Nya, secara “otomatis” telah seharusnya kita mampu mencintai orang lain seperti dirinya sendiri. Jikalau itu belum terjadi, bagi saya, dan itu termasuk diri saya sendiri, karena saya belum sungguh-sungguh mencintai-Nya, maka saya belum dapat dengan sungguh-sungguh mencintai orang lain sebagaimana saya mencintai diri saya sendiri. Pagar-pagar ke-aku-an masih kuat menancap dalam diri ini!

BAGAIMANAKAH…?

Bagaimanakah gerangan diri-ku hendak benar-benar mengenal orangtua, suami, anak-anak, saudara, sahabat, tetangga, dan siapa saja, jika aku tidak mengenal-MU?

Bagaimanakah gerangan diri-ku dapat memahami kehendak orangtua, suami, anak-anak, saudara, sahabat, tetangga, dan siapa saja, jika aku tidak memahami kehendak-MU?

Bagaimanakah gerangan diri-ku sanggup benar-benar menghargai orangtua, suami, anak-anak, saudara, sahabat, tetangga, dan siapa saja, jika aku tidak menhargai-MU?

Bagaimanakah gerangan diri-ku rela  menerima “apa adanya” orangtua, suami, anak-anak, saudara, sahabat, tetangga, dan siapa saja, jika aku tidak ikhlas menerima “apa adanya” diri-MU?

Bagaimanakah gerangan diri-ku tulus mengakui orangtua, suami, anak-anak, saudara, sahabat, tetangga, dan siapa saja, jika aku tidak tulus mengakui-MU?

Bagaimanakah gerangan diri-ku dapat sungguh-sungguh mencintai orangtua, suami, anak-anak, saudara, sahabat, tetangga, dan siapa saja, jika aku tidak mencintai-MU?

ENGKAULAH SATU-SATUNYA.

Para Nabi, para Rasul, para Imam maksum, para Wali (para santo), para “Buddha” (Yang Tercerahkan) mereka yang telah mencapai maqam “makrifat” karena mereka telah mengenal-Nya, yang mengetahui Hakikat dan Realitas Mutlak, tidaklah mengherankan apabila mereka mampu mencintai sesama umat manusia melampaui akal pikiran dan kesanggupan umat manusia secara umum… Dan, untuk itu, yang terbaik bagi saya sebagai manusia awam, harus dengan sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan bahwa: TUHAN, Engkaulah satu-satunya!!!

Menyadur lagu lawas dari Dewa 19, “Kamulah Satu-satunya,” kira-kira beginilah saat dijadikan sebuah kalimat:

Tuhan, ENGKAU-lah satu – satunya, yang ternyata mengerti aku. Maafkan aku selama ini, yang selalu melupakan-Mu.

Tuhan, laras hati, alirkan diri kembali membujur tubuhku, (betapa) sejuk (dalam) pangkuan diri-Mu. Tak ingin (ku) terbungkus, terbungkus penyesalan.

Tuhan, puing – puing janjiku, kupugar kembali (hanya) untuk-Mu. Segala denyut nadi memanggil: Engkau-lah satu – satunya!

Sang Guru mengatakan,

“…..One cannot love the neighbour as oneself                                Until one knows there is but that one Self…” *

(“….Seseorang tidaklah dapat mencintai sang tetangga sebagai mana dirinya sendiri                                                                               Sampai seseorang mengetahui bahwa yang ada tidaklah lain kecuali hanya Sang Diri.”)*

(* Commentaries on Psalms 7. Page 26. The Beloved and I, Zabur Part 2)

♥♥♥♥

Matius 22

(34) Namun, saat mereka mendengar ia membungkam lidah                         Orang-orang Saduki , maka orang-orang Farisi berkumpullah                           Bersama pada anak tangga di bawah

(35) Dan seorang dari mereka, ahli syariat, tiba                                                               Untuk bertanya padanya serta mencobainya juga,                                                         Dan katanya (36) ”Guru, Rukun manakah yang terutama                                          Pada Syariat menurut pandangan Anda?

(37) Jawab Yesus kepadanya, ”Haruslah engkau mencinta                                     Tuhan Allahmu dengan mempersembahkan segala                                                  hatimu, segenap jiwa dan akalmu dari segalanya-segalanya.

(38) Inilah rukun yang pertama dan terutama.                                                                 (39) Yang kedua, yang seperti itu, dinyatakannya:

Kasihilah sesamamu sebagaimana dirimu sendiri.                                                                (40) Pada kedua rukun yang dipaparkan ini                                                             Bergantung seluruh Syariat dan ajaran para Nabi,                                                      Firman-firmanNya dengan suatu suara akbar sekali.

Cinta untuk-Mu dan bagi sesamaku                                                                                           Tak mengecualikan perempuan, kutahu.

Akan tetapi baik lelaki maupun perempuan menggugat                                                      Karena cinta telah menggenapi segala syariat

Tidak perlu kupelihara Sabbath sama sekali.                                                                   Cukuplah cinta kasih atas kegaduhan duniawi.

Jikalau itu benar, maka membunuh bolehlah kulakukan                                                Juga boleh mencuri, bila cintalah yang mempengaruhi pelan-pelan                      Niatku pada keduanya. Bolehlah untuk menewaskan                                                  Siapa saja sesama manusia jika aku bisa memperdengarkan

Bahwa aku mencintai setiap dan semua yang kugorok                                  mengangakan tenggorokan atau jantung atau tempat mereka duduk.

Aku juga boleh berzina, apabila                                                                                                    Aku cinta si cewek, tak hanya karena kubersikeras saja.

(Diterjemahkan secara bebas oleh Chen Chen Muthari, dari karya sang guru, Thomas McElwain, “The Beloved and I: New Jubilees Version” vol. 4)

2 responses to ““ENGKAU-lah satu-satunya!”

  1. grazie Gayatri!

  2. tuhan itu sama dengan yang dipikirkan manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s